DAMPAK PERTAMBANGAN NIKEL TERHADAP SOSIAL - EKONOMI - EKOLOGI MASYARAKAT DI KECAMATAN WASILE KABUPATEN HALMAHERA TIMUR
FONIIKE SAMAD
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi - Ekologi Masyarakat Di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juni 2013
Foniike Samad NRP. P052100021
RINGKASAN
FONIIKE SAMAD. Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi - Ekologi Masyarakat Di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur.
Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan ARYA HADI.
DHARMAWAN.
Pertambangan energi dan mineral di Indonesia pada 20 tahun terakhir ini mengalami kemajuan pesat, yang ditandai dengan meningkatnya volume produksi dan perkembangan usaha eksploitasi jenis sumberdaya energi dan mineral. Hasil penyelidikan dan pemetaan geologi yang telah dilakukan di sekitar 90 persen wilayah daratan Indonesia, telah mengidentifikasi wilayah dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi kekayaan berbagai jenis mineral dan energi yang sangat diminati pasar ekspor (Ness,1999), disamping kawasan Timur Indonesia juga memiliki kekayaan sumberdaya mineral dan energi pertambangan yang sangat besar (Katili, 2002). Kontribusi pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 1996 telah mencapai 5,25 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor pertambangan dapat menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian suatu negara (Ness,1999). Tambang dapat memberikan nilai tambah, jika deposit yang tersimpan di perut bumi dieksploitasi secara efektif (Yusgiantoro, 2000) sehingga dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi kesejahteraan rakyat, pembangunan wilayah, pertumbuhan industri dan perdagangan, serta peningkatan pendapatan nasional dan daerah, juga merupakan salah satu landasan terpenting pembangunan nasional Indonesia (Katili, 1998).
Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur salah satu kecamatan yang memiliki sumberdaya tambang nikel, dan memiliki dampak terhadap sosial, ekonomi dan lingkungan kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan adalah untuk menganalisis dampak pertambangan nikel terhadap sosial - ekonomi - ekologi masyarakat di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, karena merupakan salah satu kecamatan yang memilki sumberdaya tambang, dan pada desa yang dekat dan jauh dari lokasi pertambangan nikel, Desa Batu Raja (desa yang dekat) dan Desa Subaim (desa yang jauh). Dengan sampling dalam penelitian ini terdiri dari masyarakat lokal yang berada di sekitar dan yang berada jauh dari kawasan perusahaan pertambangan nikel, namun ikut merasakan dampak dari pertambangan dimaksud. Jumlah sampel yang diambil dari responden yaitu 80 orang yang merupakan 40 orang dari masing-masing desa.
Lapangan dengan menggunakan Kuesioner, Indepth Interview dengan menggunakan analisis Change in Productivity, analisis Chi-Square, dan SWOT.
Berdasarkan hasil penelitian pertambangan nikel di kawasan ini memberikan sumbangan ekonomi terhadap daerah yang signifikan dalam hal : (a) Pendapatan daerah, (b) Perluasan kesempatan kerja dan (c) Pengurangan pengangguran di daerah. Namun secara sosial dan ekologi, dampaknya tidak dirasakan oleh masyarakat.
Hasil SWOT, dengan menghasilkan skor IFE sebesar 3,17 dan EFE sebesar 2,50 yang berada pada garis Grow and Buid dan Houl and Maintain, yang menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Halmahera Timur lemah dalam strategi terhadap dampak negatif dari masuknya pertambangan nikel. Sehingga rumusan kebijakan yang diusulkan adalah : (1) Tidak ada penerbitan ijin baru. (2) Posisi hold and maintain dari analisis SWOT, artinya perusahaan nikel yang sudah ada dapat tetap diteruskan operasinya, namun perusahaan harus memperhatikan dampak sosial dan ekologi yang terjadi pada masyarakat dan lingkungan. Saran kebijakan yang diajukan oleh hasil riset ini adalah memperbesar skema-skema CSR untuk memperbaiki dampak buruk operasi perusahaan tambang di bidang sosial dan ekologi.
Kata Kunci : Tambang nikel, Sosial - Ekonomi - Ekologi, Masyarakat
SUMMARY
FONIIKE SAMAD. Nikel Mining Impact to Sosial - Economic - Community Ecology in East Halmahera District Wasile. Supervised by EKA INTAN KUMALA PUTRI and ARYA HADI DHARMAWAN.
Wasile, one of the East Halmahera district contained nickel mining, and a great influence on the social, economic and environmental life of the community.
Thus this study refers to the theory and previous studies, researchers tried to base it on a frame of mind that the Sustainability of social, economic society strongly influenced by; carrying capacity of the environment, natural resources, human resources, facilities and infrastructure, the financial, social and cultural rights.
The purpose of this study was to analyze the impact of nickel mining on socio - economic - ecological communities in the sub District Wasile, East Halmahera.
The research center is a sample of 2 (two) villages that are near and far away from the mining of nickel, the village of Batu Raja (near the village) and Subaim Desa (village far). By sampling in this study consisted of local people to be around and who are far away from the nickel mining company, yet to feel the impact of the mining question. The number of samples taken from the respondents ie 80 people consisting of 40 people from each village who are near and far away from the mine site consisting of local people actively working. Direct Observation Field Interviews In-depth interviews using questionnaires Change in Productivity analysis or can be referred to as the Productivity method, Chi-square analysis, and SWOT.
Based on the results of mining in the region contribute to the local economy are significant in terms of: (a) regional Revenue, (b) Expansion of employment opportunities, (c) Reduction of unemployment in the area. But the social and ecological impact is not profitable to society. The formulation of the proposed policy are: (1) there was no issuance of new licenses. The hold and maintain the position of the SWOT analysis, meaning that the company's existing nickel can be allowed to continue operations, but the company must pay attention to social and ecological impacts that adversely affect local communities and the environment.
Suggestions policies proposed by this research is to increase CSR schemes to improve the adverse effects of mining companies operating in the fields of social and ecological.
Keywords : Nikel Mining, Social - Economic -Ecology, Community
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2013 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagaian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
DAMPAK PERTAMBANGAN NIKEL TERHADAP SOSIAL - EKONOMI - EKOLOGI MASYARAKAT
DI KECAMATAN WASILE KABUPATEN HALMAHERA TIMUR
FONIIKE SAMAD
Tesis
Sebagai Salah satu Sayarat Untuk memperoleh Gelar Magister Sains Pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Penguji Luar Komisi Pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Basita Ginting, MA
Judul Tesis : Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial – Ekonomi – Ekologi Masyarakat di
Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur
Nama : Foniike Samad
NRP : P052100021
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Eka Intan Kumala Putri, MSc Dr Ir Arya Hadi Dharmawan, MScAgr
Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam
Dan Lingkungan
Prof Dr Ir Cecep Kusmana, MS Prof Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian : 19 April 2013 Tanggal Lulus :
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya atas kasih dan penyertaanNya, maka penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. Tesis dengan judul Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi - Ekologi Di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur, disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains pada program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana IPB.
Penyelesaian penulisan tesis ini, tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Ir.
Eka Intan Kumala Putri,M.Si dan Bapak Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Si. Agr sebagai komisi pembimbing atas arahan dan bimbingannya. Ucapan terima kasih juga, kepada Bapak Dr. Ir. Basita Ginting, MA selaku penguji, dan kepada Prof.
Dr.Ir. Cecep Kusmana selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Penghargaan penulis sampaikan kepada Bupati Halmahera Barat, Bapak Ir. Namto Hui Roba,SH serta jajarannya dan Kepada Ketua Yayasan STKP Banau Halmahera Barat, Bapak Drs. Ismail Arifin, M.Si, beserta kepengurusannya, atas berbagai dukungannya. Apresiasi disampaikan kepada Ketua STPK Banau Halmahera Barat, Bapak Dr. Ir. Eddy Ch. Papilaya, M.Si atas kontribusi, ide, dan kebijakannya. Terima kasih penulis sampaikan kepada Bupati Halmahera Timur, dan jajarannya yang telah membantu penulis dalam pemberian data-data sekunder sebagai pendukung data penelitian. Ucapan terima kasih penulis sampaikan juga kepada Bapak Drs. Hasan selaku Camat Wasile, Kepala Desa Batu Raja dan Kepala Desa Subaim, buat rekan-rekan seperjuangan (Ine, Mayz, Jemmy, Ethy, Willy) serta Alin dan Ida atas kebersamaan suka dan duka selama masa studi di IPB.
Ungkapan terima kasih dan pengahargaan yang mendalam kepada kedua orang tuaku terkasih almarhum Papa Absalom Samad dan almarhumah Mama Martha The Wowor untuk harapan dan kasih sayangnya, buat sudara-sudaraku terkasih Ko Edy sekeluarga, Ci Eni, Ci Nona sekeluarga dan Adikku Ivan, juga suami dan kedua anakku tersayang Sammy Limahelu Adriana Allda Martha dan Daniel beserta keluaraga besar Samad The Wowor Limahelu atas doa, dukungan dan motivasinya.
Semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk orang banyak
Bogor, Juni 2013
Foniike Samad
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xvi
DAFTAR LAMPIRAN xvi
1. PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Kerangka Pemikiran Ruang Lingkup Penelitian
1 1 4 7 8 8 9 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sumberdaya Alam (Renewable dan Non Renewable Resources) Analisis Dampak Sosial-Ekonomi-Ekologi dari Pertambangan Nikel Analisis SWOT
Persepsi Masyarakat dan Konflik Sosial Penelitian Terdahulu yang Relevan
10 10 11 13 15 15 3. METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian Bahan dan Peralatan
Jenis dan Sumber Data Metode Pengambilan Sampel Metode Analisis Data
Change in Productivity.
Uji Chi-Square Analisis SWOT
18 18 18 18 18 19 19 20 21 4. GAMBARAN UMUM LOKASI
Kabupaten Halmahera Timur
Letak Geografis dan Administrasi Kecamatan Wasile Karakteristik Responden
Jenis Kelamin Umur
Pendidikan Jenis Pekerjaan Tingkat Penghasilan
Lama Tinggal (Penduduk Asli/Pendatang)
22 22 26 29 29 29 30 30 31 31 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran Pertambangan Nikel Dalam Wilayah Kabupaten Halmahera Timur
Tambang Nikel Dan Keberadaan Di Kecamatan Wasile Produksi Dan Sistem Penjualan
32 32 33 35
Dampak Sosial-Ekonomi-Ekologi Pertambangan Nikel Analisis Dan Dampak Sosial Pertambangan Nikel Analisis Dan Dampak Ekonomi Pertambangan Nikel Analisis Dan Dampak Ekologi Pertambangan Nikel
Formulasi Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Timur
Analisis SWOT
Identifikasi Faktor-faktor SWOT Matriks SWOT
Matriks Strategi SWOT
Matriks Internal - Eksternal (IE)
Peran Stakeholder Dalam Penanganan Kerusakan Lingkungan Pertambangan Nikel
36 36 38 43 47 47 47 50 52 53 55
6. SIMPULAN DAN SARAN 58
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
60 63 68
DAFTAR TABEL
1. Produksi Barang Tambang Mineral, 1996-2009 2
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Halmahera Timurdan Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun
2000-2010 (juta rupiah) 4
3. Produksi Pertambangan Menurut Jenis Tambang Kabupaten
Halmahera Timur 2006-2009 5
4. Matriks Analisis SWOT 14
5. Matriks Penelitian Sebelumnya yang Relevan 16
6. Matriks Penelitian 19
7. Matriks SWOT 21
8. Realisasi Produksi/Pengapalan Nikel Tahun 2011 di Kabupaten
Halmahera Timur 23
9. Jumlah Penduduk 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kecamatan Wasile. 26 10. Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut
Lapangan Pekerjaan di Kecamatan Wasile Tahun 2011 27 11. Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut
Lapangan Pekerjaan di Kecamatan Wasile Tahun 2010 27 12. Luas Panen Produksi dan Produktivitas Padi (Padi Sawah dan Ladang)
Menurut Desa Di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur 28 13. Jumlah Tenaga Kerja Usaha Pertambangan Nikel 35 14. Data Eksport Nikel Dari Tambang Di Kecamatan Wasile 35 15. Dampak Sosial dari Aktivitas Pertambangan Nikel di Desa Batu Raja
dan Subaim 36
16. Hasil Uji Chi-Square Dampak Sosial dari Aktivitas Pertambangan
Nikel 38
17. Dampak Ekonomi dari Aktivitas Penambangan Nikel di Desa Batu
Raja dan Subaim 39
18. Hasil Uji Chi-Square Dampak Ekonomi dari Aktivitas Pertambangan
Nikel 40
19. Data Rata-Rata Hasil Produksi Tanaman Padi Petani Desa Batu Raja DanSubaim Sebelum dan sesudah Penambangan Nikel 41 20. Rata-Rata Hasil Produksi Yang Hilang Adanya Pertambangan Nikel di
Desa Batu Raja dan Subaim 42
21. Dampak Ekologi dari Aktivitas Pertambangan Nikel di Desa Batu Raja
dan Subaim 43
22. Hasil Uji Chi-Square Dampak Ekologi dari Aktivitas Pertambangan
Nikel 45
23 Data Kerugian Ekologi Dengan Adanya Pertambangan 45 24. Biaya Pelaksanaan Pengelolaan dsn Pemantauan Lingkungan Di
Kabupaten Halmahera Timur 46
25. Keterangan Faktor Internal Dampak Pertambangan Nikel 47 26. Keterangan Faktor Eksternal Dampak Pertambangan Nikel 47 27. Matriks IFE Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial -
Ekonomi– Ekologi Masyarakat Kecamatan Wasile, Kabupaten
Halmahera Timur 50
28. Matriks EFE Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi – Ekologi Masyarakat Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera
Timur 51
29. Matriks SWOT Strategi Pertambangan Nikel Yang Ramah Lingkungan di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur 52 30. Peran Stakeholder Dalam Strategi Masuk, dan Eksplorasi Tambang
Nikel 56
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Penelitian 9
2. Unsur-unsur Pembangunan Berkelanjutan 10
3. Peta Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur 18 4. Persentase Penududuk Menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten
Halmahera Timur Tahun 2011 24
5. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin dan Lapangan Pekerjaan Kabupaten Halmahera Timur
Tahun 2010 25
6. Persentase Tingkat Pendidikan pada Desa Batu Raja dana Subaim 27 7. Persentase Jenis Pekerjaan Desa Batu Raja dan Subaim 28 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 29
9. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur 30
10. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan 30 11. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan 30 12. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan 31 13. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal 31 14. Kontribusi Sektor Usaha Terhadap PDRB ( Produk Domestik
Regional Bruto) Kabupaten Halmahera Timur Tahun 2006 -2007 33 15. Persentasi Sektor Usaha Terhadap PDRB ( Produk Domestik
Regional Bruto) Kabupaten Halmahera Timur Tahun 2006 -2007 33 16. Jumlah penduduk 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan
Pekerjaan Di kecamatan wasile 2007 - 2011 34
17. Matriks IE Dampak Penambangan Nikel Terhadap Masyarakat Di
Kecamatan Wasile 54
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Gambar Peta Potensi Sumberdaya Alam Kabupaten HalmaheraTimur Tahun 2005 – 2015 64
2.
Gambar Peta Kuasa Pertambangan (KP) Kabupaten HalmaheraTimur Tahun 2005 -2015 64
3.
Daftar Perusahaan Izin Usaha Pertambangan (IUP) KabupatenHalmahera Timur Tahun 2009 - 2012 65
4.
Gambar Proses pengerukan Tanah yang Mengandung Nikel, Kondisi Lahan Pasca Eksplorasi Nikel dan Lahan pertanian Yang RusakKarena Banjir Akibat penambangan Nikel 67
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertambangan energi dan mineral di Indonesia pada 20 tahun terakhir ini mengalami kemajuan pesat, yang ditandai dengan meningkatnya volume produksi dan perkembangan usaha eksploitasi jenis sumberdaya energi dan mineral.
Pertambangan energi dan mineral pada tahun 1970 an belum banyak berkembang di Indonesia. Hasil penyelidikan dan pemetaan geologi yang telah dilakukan di sekitar 90 persen wilayah daratan Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi kekayaan berbagai jenis mineral dan energi yang sangat diminati pasar ekspor (Ness,1999). Disamping itu, kawasan Timur Indonesia juga memiliki kekayaan sumberdaya mineral dan energi pertambangan yang sangat besar (Katili, 2002).
Kontribusi pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 1996 telah mencapai 5,25 persen, kenaikan ini menunjukan bahwa sektor pertambangan dapat menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian suatu negara (Ness,1999). Kontribusi ekonomi usaha pertambangan terhadap pembangunan nasional melalui penerimaan negara sangat besar, namun terhadap pembangunan daerah dan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan, baik melalui program pemberdayaan masyarakat maupun program pembangunan lainnya, belum dapat memberikan jaminan kesejahteraan sosial-ekonomi.
Kegiatan pertambangan pada dasarnya merupakan proses pengalihan sumberdaya alam menjadi modal nyata ekonomi bagi negara dan selanjutnya menjadi modal sosial.
Pandangan yang sama dikemukakan oleh Yusgiantoro (2000), bahwa tambang dapat memberikan nilai tambah jika deposit yang tersimpan di perut bumi dieksploitasi secara efektif sehingga dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi kesejahteraan rakyat, pembangunan wilayah, pertumbuhan industry dan perdagangan, serta peningkatan pendapatan nasional dan daerah, juga merupakan salah satu landasan terpenting pembangunan nasional Indonesia (Katili, 1998).
Sebagai negara penganut paham sumberdaya alam untuk kesejahteraan rakyat, Indonesia cenderung menggunakan prinsip pembangunan berkelanjutan yaitu mengolah kekayaan sumberdaya alam dan energi secara bijaksana agar kondisi lingkungan tetap lestari dan bermutu tinggi. Lingkungan yang lestari, menunjukkan adanya pembangunan yang tetap berlangsung dari generasi ke generasi, dan lingkungan yang lestari hanya dapat dilahirkan dari pola pikir yang memiliki rasa bijak lingkungan yang besar (Naiola,1996).
Perkembangan produksi barang tambang mineral nasional dari tahun 1996 sampai pada tahun 2011 secara nasional ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Produksi Barang Tambang Mineral, 1996-2011
Sumber : Badan Statistik Republik Indonesia (BPS. Tahun 2012)
Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil produksi tambang mineral Indonesia khususnya tambang nikel meningkat dari tahun ke tahun, yang memberi dampak secara ekonomi cukup signifikan tetapi secara lingkungan menimbulkan degradasi dan secara sosial menimbulkan konflik di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini berarti bahwa pembangunan berkelanjutan belum dapat terwujud di Indonesia hingga saat ini.
Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan pertama pada tahun 1987 oleh The World Commission on Environment and Development (WCED) melalui laporan“Our Common Future”(Cicin-Sain et. al 1998). Substansinya, adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membatasi peluang generasi mendatang. Tidak menyebabkan penurunan kapasitas produksi ekonomi dimasa mendatang (Barry, 1997). Keberlanjutan secara ekologis, ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Rahim, 2000). Mengandung prinsip “Justice as fairness” yang berarti manusia dari generasi yang berbeda mempunyai tugas dan tanggungjawab terhadap manusia lainnya seperti yang ada dalam satu generasi (Beller, 1990).
Suatu daerah tidak akan terus menerus berada dalam keadaannya sekarang, namun dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan. Perubahan ini dapat bergerak maju tetapi dapat pula mengalami kemunduran. Demikan pula halnya dengan Maluku Utara, dan lebih khusus lagi adalah Kabupaten Halmahera Timur.
Adanya kegiatan penambangan nikel di Kabupaten Halmahera Timur, yang melibatkan masyarakat secara langsung (direct) atau tidak langsung (indirect)
Tahun Batu bara Bauksit Nikel Perak Granit Biji Besi Konsentrat Tembaga
(ton) (ton) (ton) (Kg) (ton) (ton) (tonmetrik)
1996 50,332,047 841,976 3,426,867 255,404 4,827,058 425,101 1,758,910 1997 55,982,040 808,749 2,829,936 249,392 8,824,088 516,403 1,817,880 1998 58,504,660 1,055,647 2,736,640 383,191 9,662,649 509,978 2,640,040 1999 62,108,239 1,116,323 2,798,449 361,377 8,720,155 502,198 2,645,180 2000 67,105,675 1,150,776 2,434,585 310,430 5,941,370 420,418 3,270,335 2001 71,072,961 1,237,006 2,473,825 333,561 3,976,274 440,648 2,418,110 2002 105,539,301 1,283,485 2,120,582 281,903 3,975,434 190,946 2,851,190 2003 113,525,813 1,262,705 2,499,728 272,050 3,938,915 245,911 3,238,306 2004 128,479,707 1,331,519 2,105,957 255,053 4,035,040 79,635 2,812,664 2005 149,665,233 1,441,899 3,790,896 326,993 4,302,849 87,940 3,553,808 2006 162,294,657 2,117,630 3,869,883 270,624 4,514,654 84,954 817,796 2007 188,663,068 1,251,147 7,112,870 268,967 1,793,440 84,371 796,899 2008 178,930,188 1,152,322 6,571,764 226,051 2,050,000 445,525,932 655,046 2009 228,806,887 935,211 4,863,352 359,451 na 45,610,587 973,347 2010 323,325,793 2,200,00 9,475,362 335,040 2,172,080 8,975,507 993,152 2011 415,765,068 24,714,940 12,482,829 227,173 3,316,813 11,814,544 1,472,238
melalui penyerapan tenaga kerja. Disamping itu, adanya peningkatan pendapatan daerah maka perlu dimasukkan dampak kegiatan pertambangan kedalam Perencanaan Pembangunan Daerah (RAPBD). Sebab, dampak ekonomi yang diberikan dengan adanya kegiatan ini bukan saja pada satu sektor tertentu, namun sangat kompleks yang terkait dengan kegiatan ekonomi yang ada, seperti sektor jasa dan lainnya.
Kemajuan ekonomi tidak terjadi pada waktu yang sama di berbagai wilayah dan apabila disuatu wilayah terjadi pembangunan maka akan terdapat daya tarik yang kuat dan akan menciptakan konsentrasi pembangunan ekonomi di sekitar wilayah tersebut (trickle down effect). Pembangunan tersebut bermula dari terjadinya konsentrasi pembangunan disebabkan oleh faktor-faktor yang timbul di wilayah maju dan mempengaruhi pembangunan di wilayah kurang maju. Untuk tambang nikel di beberapa lokasi di Maluku Utara, kegiatannya dapat memberikan hasil yang besar maka lokasi tersebut menjadi suatu daerah aglomerasi yang dapat mendorong kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya di daerah ini.
Pertambangan nikel dapat dilakukan secara terbuka (open pit mining) dan tertutup (under ground mining) termasuk penggalian, pengerukan dan penyedotan untuk mengambil deposit nikel yang ada didalam tanah (Von Bulow, 1993).
Penambangan nikel dimulai dengan penebangan pohon dan semak-semak selanjutnya dilakukan pemindahan tanah permukaan ke tempat penampungan sementara (Suhala dan Supriatna, 1995). Unit bisnis pertambangan nikel daerah operasi di Kabupaten Halmahera Timur adalah PT. Aneka Tambang Tbk, yang pekerjaan penambangannya dilaksanakan 90 persen oleh kontraktor yaitu; PT.
Minerina Bakti dan PT. Yudistira Bumi Bhakti. Hasil nikel selanjutnya dipasok ke pabrik di Pomala dan sebagian besar di pasarkan ke Jepang dan Australia. Dengan prinsip “kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat” maka bahan tambang perlu diolah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat tetapi tetap menjaga kelestarian lingkungannya.
Menurut Undang-undang (UU) Nomor 04 tahun 2010 tentang pertambangan mineral dan batubara, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2010 tentang pembinaan dan penggunaan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan, dengan jelas dinyatakan bahwa setiap pengusahaan pertambangan harus memiliki ijin penambangan yang disebut Kuasa Pertambangan (KP), dengan tugas melakukan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Untuk mendapatkan KP dilakukan perjanjian Kontrak Karya (KK) antar Pemerintah Indonesia dengan perusahaan yang mengusahakan penggalian tambang. Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.
28 Tahun 2009 Tentang penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan batubara, UU Nomor 22 tahun 1999 mengatur tentang pemerintah daerah dan UU Nomor 22 tahun 2010 mengatur tentang wilayah pertambangan, yang menjelaskan daerah otonomi berwenang mengelola sumberdaya yang terdapat didaerahnya, seperti memberi ijin usaha, penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
Penambangan nikel memberikan penerimaan royalti dari eksploitasi nikel terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Halmahera Timur dan efek positifnya dapat menimbulkan pendapatan masyarakat dari usaha
baru yang muncul dari aktivitas pertambangan nikel di Kabupaten Halmahera Timur. Illustrasinya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Halmahera Timur Dasar Harga Konstan Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2009 (Juta Rupiah).
Sumber : BPS Pusat, PDRB Kabupaten Halmahera Timur, 2010
Tabel 2 menunjukkan bahwa sektor pertambangan nikel memberikan kontribusi ekonomi sebesar 23 persen, suatu nilai yang cukup besar jika dibandingkan dengan kontribusi sektor lainnya. Hal ini berarti bahwa tambang nikel dapat meningkatkan pendapatan daerah di Kabupaten Halmahera Timur.
Perumusan Masalah
Sumberdaya mineral dan energi beberapa tahun ini telah menimbulkan banyak permasalahan terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sekitar.
Permasalahan lingkungan yang memprihatinkan bagi dunia pertambangan beberapa waktu yang lalu adalah pencemaran teluk Buyat di Minahasa Sulawesi Utara, akibat kegiatan penambangan emas oleh PT. NMR, yang limbahnya tidak dikelola dengan baik sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan merugikan masyarakat. Kejadian-kejadian seperti ini kemudian memunculkan kesan bahwa dalam hubungan dengan lingkungan hidup, tidak ada sektor lain yang lebih terpuruk dibanding sektor pertambangan. Masalah yang sering muncul adalah pencemaran terhadap sumberdaya tanah dan kualitas air yang berakibat padaturunnya produktivitas tanah dan turunnya daya dukung lingkungan. Saat ini sudah ada kebijakan untuk pengolahan lahan pasca tambang, yaitu reklamasi lahan. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum dan Keputusan Direktorat Jendral Pertambangan Umum No. 336.K/271/DDJP/1996 tentang Jaminan Reklamasi, merupakan dasar kebijakan implementasi reklamasi lahan pasca tambang.
Diberlakukannya UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 38 ayat (4) menyatakan bahwa pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola tambang terbuka (open pit mining). Pada dasarnya, dengan atau tanpa pemberlakuan UU No. 41 tahun 1999, pertambangan akan selalu bersinggungan dengan kawasan kehutanan. Pertambangan selalu dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan, termasuk kerusakan hutan, jika penambangan dilakukan dengan pola tambang terbuka (open pit mining).
No Laporan Usaha 2008 2009
1 Pertanian 94.702,36 99.184,65
2 Pertambangan dan Migas 51.504,61 59.279,10
3 Industri Pengolaan 10.029,13 11.183,01
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 383,94 401,49
5 Bangunan 5.105,38 5.679,74
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 34.954,05 37.203,21
7 Pengangkutan dan komunikasi 8.493,30 9.024,22
8 Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan 3.490,61 3.881,31
9 Jasa-jasa 10.899,94 11.254,25
PDRB dengan MIGAS dan PERTAMBANGAN PDRB tanpa PERTAMBANGAN
219.563,33 168.058,71
237.090,98 179.027,79
Wilayah penambangan Tanjung Buli awalnya merupakan hutan produksi, namun dalam rencana pengembangan wilayah selanjutnya, lokasi tersebut diarahkan sebagai wilayah penambangan nikel. Mengingat potensi mineral nikel yang terkandung didalamnya bernilai ekonomis, karena mampu menjadi sumber PAD yang lebih besar dibandingkan hasil produksi hutan. Oleh karena perubahan atau konversi hutan menjadi tambang nikel maka kerusakan hutan di Tanjung Buli tidak dapat dihindari. Walaupun perusahaan nikel tersebut hingga Tahun 2007 terus melakukan kegiatan reklamasi pada lahan pasca penambangan.
Reklamasi lahan ini dipertegas lagi dengan UU No. 32 Tahun 2009 pasal 16 menyatakan bahwa setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan, wajib melakukan kegiatan reklamasi pada lahan pasca penambangan. Pengelolaan lingkungan hidup di kawasan pertambangan merupakan upaya untuk menciptakan lingkungan pertambangan yang berkualitas, yang melibatkan baik para perencana, pengambilan keputusan, penegakan hukum, dan pejabat pemerintah, ataupun dunia usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kesamaan persepsi dan sikap semua pihak yang terlibat dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup perlu dibina agar pengelolaan lingkungan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999, pemerintah pusat berhak menentukan hutan negara dan merencanakan penggunaan hutan, serta hanya perlu memberi perhatian terhadap rencana tata guna lahan yang dibuat berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Sementara itu, UU No 22 Tahun 1999 dan No. 32 Tahun 2004 tentang Otanomi Daerah memberikan kewenangan atas berbagai sumberdaya alam kepada pemerintah daerah sebesar 80 persen. Hal ini membuka peluang daerah untuk mengembangkan potensi sumberdaya yang dimilikinya, termasuk potensi hutan.
Tabel 3 Produksi Pertambangan Menurut Jenis Tambang Kabupaten Halmahera Timur 2006 – 2009.
Kegiatan penambangan selalu memunculkan pengaruh positif dan negatif.
Pengaruh positif kegiatan penambangan dapat dilihat kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah, membuka isolasi wilayah, menyumbangkan devisa negara, dan daerah menyediakan kesempatan kerja, serta pengadaan barang dan jasa untuk komsumsi dan yang berhubungan dengan kegiatan produksi disamping itu dapat menyediakan peranan bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya (Mangkusubroto, 1995). Beberapa kejadian sebagai dampak negatif dari kegiatan penambangan dapat dilihat dari terjadinya ancaman terhadap lingkungan fisik, biologi, sosial, ekonomi dan warisan nasional ancaman terhadap ekologi dan pembangunan berkelanjutan (Barton, 1993).
Jenis Barang SatuanUnit 2006 2007 2008 2009
Minyak Bumi Barel 0 0 0 0
Gas Bumi Mscf 0 0 0 0
Timah m.ton 0 0 0 0
Batubara m.ton 0 0 0 0
Bauksit m.ton 0 0 0 0
Biji Nikel m.ton 728 460 8 819 749 7 642 076 6,163,242,25
Emas Kg 0 0 0 0
Perak Kg 0 0 0 0
Pasir Besi m.ton 0 0 0 0
Aspal m.ton 0 0 0 0
Konsentrat Tembaga m.ton 0 0 0 0
Sumber: BPS Kabupaten Halmahera Timur Tahun 2009.
Dampak tambang terhadap sosial, ekonomi sangat terasa pada saat menjelang dan berhentinya operasi perusahaan penambangan, seperti pendapatan masyarakat menurun, tidak ada lapangan kerja, terjadi pemutusan tenaga kerja (Katili, 1998), sehingga menimbulkan perubahan pada lapangan kerja, tingkat dan pola pendapatan, pola produksi dan komsumsi, pendapatan dan penerimaan pemerintah dari pajak tambang dan retribusi menurun, seperti kasus yang dialami oleh PT Tambang Timah Bangka pada tahun 1990. Disana terjadi konflik antar etnis, konflik budaya, konflik tanah, kemiskinan, pengangguran, persepsi negatif terhadap perusahaan, menurunnya kualitas hidup, dan rendahnya partisipasi masyarakat.
Penambangan nikel di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur mulai berproduksi pada tahun 2006. Tidak dapat disangkal lagi telah menimbulkan beberapa dampak positif di bidang sosial dan ekonomi, seperti adanya kontribusi terhadap produksi nikel nasional, kontribusi ekonomi terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan, pengusaha kecil dan koperasi, sarana prasarana umum, serta keterbukaan wilayah.
Namun, perlu juga diakui bahwa sebagai penambangan terbuka, tambang nikel juga telah menimbulkan dampak negatif. Ancaman terhadap dimensi ekologi seperti terjadinya perubahan bentang alam yang cukup luas, perubahan morfologi dan fungsi lahan, penimbunan tanah kupasan, penimbunan limbah pengolahan dan jaringan infrastrukturnya. Seperti halnya yang terjadi pada lahan bekas tambang emas di PT. Newmont Minahasa Raya (PTNMR, 2000). Dampak negatif tambang ini mempengaruhi iklim usaha dalam skala lokal seperti yang terjadi di lokasi penambangan PT. Batu Bara Bukit Asam (1996), dan sebagian mikro organisme dan horizon top soil A dan B menjadi musnah sehingga produktivitas dan stabilitas lahan menurun (Latifah, 2000).
Selanjutnya, Hardianti (2000) dalam penelitiannya di PT Freeport menyatakan bahwa luas wilayah operasi penambangan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan munculnya malapetaka ekologi yang besar setelah masa tambang habis, dimana terjadi pemborosan sumberdaya tambang yang cukup besar dan memusnahkan keanekaragaman hayati yang ada di lokasi penambangan.
Akibat penambangan, banyak komponen ekologi daerah bekas tambang yang mengalami degradasi ekologi seperti tambang emas di Kalgoorie Australia Barat, bekas tambang timah di pulau Dobo Singkep yang menyebabkan air tergenang pada lubang-lubang bekas galian sehingga menjadi sarang malaria dan munculnya hamparan tanah gundul yang tidak produktif (Kasus ANTAM Pomala dan PT.
Inco). Katili (1998) juga menyatakan bahwa dampak negatif tambang menyebabkan menurunnya kualitas tanah dan air, terhadap komponen biofisik seperti terjadinya perubahan sifat tanah dan kualitas air disekitar lokasi tambang.
Dampak negatif di bidang sosial ekonomi, mulai muncul disaat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap Karyawan Perusahaan Operasional (KPO), dan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), sehingga mengakibatkan pengangguran baru. Demikian pula berdampak pada pendapatan petani, nelayan. pedagang, dan usaha informal dan formal mengalami penurunan sebagai akibat di tutupnya usaha penambangan (anonym, 1990). Kelangsungan hidup masyarakat secara sosial dan ekonomi, ketika kegiatan penambangan telah berakhir, perlu adanya campur tangan pemerintah dalam penciptaan mata
pencarian lokal secara lebih intensif untuk kelangsungan sosial dan ekonomi masyarakat.
Sebelum tambang nikel ditemukan, Kecamatan Wasile merupakan kecamatan yang memiliki sumberdaya pertanian dan perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan dan juga tercatat sebagai pengekspor beras lokal ke kabupaten lain, bahkan dapat memenuhi kebutuhan beras bagi masyarakat se Kabupaten Halmahera Timur. Orang mengenal beras cap Gunung Wato-wato itu berasal dari Kecamatan Wasile. Dengan revitalisasi sektor pertanian, upaya ini dapat mengangkat kembali pendapatan masyarakat lokal yang mempunyai ketergantungan hidup dari sektor pertanian dan nelayan, dan dapat mempertahankan hidup masyarakat secara sosial ekonomi baik ada maupun tidak adanya tambang nikel di Kecamatan Wasile, bahkan di Kabupaten Halmahera Timur sekalipun. Umumnya perusahaan pertambangan kurang memperhatikan pembangunan sarana prasarana yang berada di daerah atau lokasi penghasil tambang. Akibatnya, setelah masa penambangan selesai beroperasi, daerah yang ditinggalkan diibaratkan sebagai kota mati karena jumlah penduduk berkurang dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada disekitar tambang menjadi miskin karena hasil dari tambang hanya menjadi manfaat ekonomi jangka pendek (Anwar 1993). Kehidupan masyarakat secara sosial ekonomi, merupakan salah salah satu permasalahan yang selalu muncul pada saat berproduksi dan berakhirnya usaha penambangan. Berkurangnya lapangan pekerjaan menyebabkan ketergantunggan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan di luar dari Kecamatan Wasile atau Kabupaten Halmahera Timur akan semakin besar.
Permasalahan sosial ekonomi lain yaitu apabila perusahaan penambangan ditutup atau tidak lagi beroperasi, akan terjadinya pemutusan hubungan kerja di perusahaan, maka usaha dan jasa sektor informal juga mengalami penurunan dan dapat menimbulkan konflik sosial apabila tidak ditangani secara terpadu.
Berdasarkan uraian diatas, maka muncul beberapa pertanyaan pada penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana peran pertambangan nikel dalam perkembangan wilayah Kabupaten Halmahera Timur ?
2. Bagaimana dampak sosial-ekonomi-ekologi masyarakat dari pertambangan nikel yang beroperasi di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur ? 3. Apa saja pilihan kebijakan pemerintah daerah untuk menciptakan tambang
nikel yang ramah lingkungan di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur ?
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan diatas, maka tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pertambangan nikel terhadap sosial - ekonomi - ekologi masyarakat di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, sedangkan tujuan secara spesifiknya yaitu :
1. Melihat peran pertambangan nikel dalam perkembangan wilayah Kabupaten Halmahera Timur.
2. Mengkaji dampak sosial - ekonomi - ekologi pertambangan nikel di Kecamatan Wasile di Kabupaten Halmahera Timur.
3. Merumuskan kebijakan pemerintah daerah untuk menciptakan pertambangan nikel yang ramah lingkungan di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur
Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan mampu memberikan manfaat, yaitu :
1. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat di lokasi tambang untuk dapat memahami dan mengetahui dampak dari keberadaan suatu pertambangan.
2. Manfaat bagi penambang, untuk mengetahui bagaimana pengelolaan tambang nikel yang ramah lingkungan dan dapat mengendalikan dampak negatif yang muncul dari usaha pertambangan.
3. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kabupaten Halmahera Timur dalam menciptakan suatu kebijakan untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat di daerah pedesaan.
4. Menjadi suatu tolak ukur kedepan dan sebagai referensi bagi peneliti lainnya yang berminat untuk mengkaji tambang dengan pendekatan dan ruang lingkup yang berbeda.
Kerangka Pemikiran
Pembangunan berkelanjutan dalam menjamin keberlanjutan pemanfaatan dan optimalisasi ruang dan sumberdaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, sangat ditentukan oleh kemampuan penduduknya untuk mempertahankan sumberdaya energi, air dan sumberdaya lain, serta keberlanjutan lingkungannya. Saint dan Knecht (1998) menyatakan bahwa perlu memperhatikan ekonomi, lingkungan dan keadaan sosial, yang berlanjut secara ekologis.
Kecamatan Wasile merupakan salah satu kecamatan yang memiliki penambangan nikel yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan kehidupan masyarakat, dipengaruhi oleh bagaimana kondisi daya dukung lingkungan, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, sarana finansial, dan sosial budaya. Dampak tambang nikel yang dikelola secara open pit mining memberi perubahan terhadap kondisi sosial, ekonomi dan ekologi masyarakat, seperti konversi lahan hutan menjadi tambang nikel, luasan lahan pertanian yang berkurang, terjadinya erosi, kualitas air menjadi tercemar, dan kualitas udara menjadi kotor, terjadi kebisingan, dan sebagainya.
Walaupun demikian, usaha tambang memberikan pendapatan daerah, belanja barang dan jasa meningkat, adanya peluang usaha baru, dan peluang ekonomi lainnya bagi masyarakat. Kerangka pemikiran Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi - Ekologi Masyarakat di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, dapat dilihat pada Gambar 1.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk melihat dampak yang terjadi dari usaha pertambangan nikel terhadap sosial - ekonomi - ekologi masyarakat yang berada di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur. Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini hanya dilakukan di kabupaten Halmahera Timur dan dikhususkan pada masyarakat yang berada di Kecamatan Wasile, yang menerima dampak positif dan negatif dari keberadaan tambang nikel tersebut.
Penelitian difokuskan pada identifikasi akibat adanya tambang di Kabupaten Halmahera Timur. Dan manfaat yang diperoleh masyarakat dihitung dari pendapatan setiap bulan dari kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan pekerjaan, usaha baru dan lain sebagainya.
Gambar 1 Diagram Alir Kerangka Penelitian
2 TINJAUAN PUSTAKA
Sumberdaya Alam (Renewable dan Non Renewable)
Fauzi (2004), sesuatu yang dapat dikatakan sebagai sumberdaya harus: 1) ada pengetahuan, teknologi atau keterampilan untuk memanfaatkannya dan 2) harus ada permintaan (demand) terhadap sumberdaya tersebut, dengan kata lain sumberdaya alam adalah faktor produksi yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi. Secara umum sumberdaya dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok yaitu :
1. Kelompok Flow (Renewable)
Jenis sumberdaya ini jumlah dan kualitas fisiknya dapat berubah sepanjang waktu.
Beberapa jumlah yang dimanfaatkan sekarang, bisa juga mempengaruhi atau tidak bisa mempengaruhi ketersediaan sumberdaya di masa mendatang. Sumberdaya dikatakan dapat diperbaharui (renewable) yang regenerasinya tergantung dan tidaknya pada proses biologi.
2. Kelompok Stok (Non Renewable)
Sumberdaya ini dianggap memiliki cadangan yang terbatas, sehingga eksploitasinya akan menghabisan cadangan sumberdaya. Sumber stok dikatakan tidak dapat diperbaharui (non renewable) atau terhabiskan (exhaustible).
Masalah utama usaha pertambangan adalah menaksir jumlah kandungan sumberdaya alam yang dimiliki. Menurut Sahat (1997), jumlah kandungan sumberdaya alam merupakan suatu hal yang sangat berharga. Pendugaan stok tambang tembaga ternyata lebih banyak kandungan emasnya dari pada tembaga, salah satu contahnya di Tembagapura Timika. Eksploitasi sumberdaya mineral berlanjut (economically sustainable), dapat menjadikan sumber pemasukan yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam pembahasan ini adalah upaya untuk menemukan cadangan baru sumberdaya mineral yang lebih dan menggantikan jika sumberdaya habis. Pembangunan berkelanjutan diarahkan untuk mencapai tiga tujuan mencakup tiga dimensi yaitu: tujuan ekonomi, tujuan sosial dan tujuan ekosistem. Hubungan ketiga tujuan dan unsur-unsur penting harus diperhatikan untuk mencapai tujuan. Uraian tersebut diatas dapat dilihat pada Gambar 2.
Analisis Dampak Sosial - Ekonomi - Ekologi dari Pertambangan Nikel Nikel merupakan sumberdaya alam yang mengandung logam tergabung dengan tanah dan bebatuan. Nikel umumnya terdapat pada kedalaman sampai 10 meter dari top soil dan sup soil (Sukandarrumidi, 1998). Jenis nikel ekonomis yaitu nikel Saprolit dan Limonit. Nikel saprolit berada pada daerah pegunungan, dimana pembentukan zona saprolit yang berkualitas tinggi dan banyak dipengaruhi struktur batuan dibandingkan morfologinya (Darijanto, 1999). Usaha tambang dapat memberikan nilai tambah, jika deposit yang berada di perut bumi dieksploitasi secara efektif (Yusgiantoro, 2000), sehingga memberikan manfaat secara ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat.
Penambangan meliputi pengambilan dan persiapan pengelolaan lanjutan dari benda padat, cair dan gas (Yusgiantoro, 2000). Usaha yang dilakukan untuk mengambil bahan galian dengan tujuan pemanfaatan lanjut untuk kepentingan manusia (Boegel 1976). Penambangan nikel dimulai dengan melakukan penebangan pohon dan semak-semak, selanjutnya pemindahan permukaan tanah dengan melalui proses pengerukan dan selanjutnya dipindahkan ke tempat penampungan sementara (Suhala dan Supriatna, 1995). Penambangan nikel dilakukan dengan cara mengeruk pelapukan batuan ultra basa (peridotite), sehingga praktis seluruh tanah diambil (Sudrajat, 1999). Bagian permukaan tanah ditampung pada tempat tertentu sebagai tanah penutupan kembali saat rehabilitasi.
Pengusaha pertambangan, harus mendapatkan ijin penambangan yang disebut dengan IUP (Izin Usaha Pertambangan), dengan tugas melakukan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Izin usaha pertambangan berisi hal-hal penting meliputi letak dan luas wilayah pengusahaan tambang, yang disertai dengan peta dan batas-batasnya (Sukandarrumidi, 1998). Pemerintah pusat menentukan kebijakan makro perencanaan, pendayagunaan sumberdaya tambang (pasal 7 ayat 2 UU. No. 22 Tahun 1999). Peran pemerintah pusat sebagai instrumen optimalisasi pendayagunaan sumberdaya tambang, Sujana (1996). Peran pemerintah pusat dalam penyusunan rencana makro pengelolaan tambang harus secara detail, efektif dan sistematik. Mangkusubroto (1995) menyatakan bahwa perlu perencanaan sistematik terhadap perusahaan pertambangan berskala operasi antara 25 – 30 tahun bahkan lebih dari 50 tahun. Salah satu penyebab kerusakan lingkungan di Indonesia yaitu kegiatan pertambangan.
Penambangan yang dilakukan PT. Freeport di Papua telah menimbulkan pengaruh terhadap suatu wilayah yang sangat luas, mulai dari lokasi pertambangan di ketinggian sekitar 300 meter dipermukaan laut membujur ke selatan hingga ke daerah pesisir dan laut Arafura (Purwadhi, 2002).
Dampak pertambangan terhadap sumberdaya tanah seperti : 1. Kerusakan bentuk permukaan bumi.
2. Menumpuknya ampas buangan.
3. Polusi udara.
4. Erosi dan sedimentasi.
5. Terjadi penurunan permukaan bumi.
6. Kerusakan karena transportasi yang diakibatkan mobilisasi alat-alat berat.
Penambangan juga menyebabkan permukaan tanah runtuh, lahan pasca penambangan menjadi gersang dan sulit untuk dihijaukan kembali (Katili, 1998), sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi, pemadatan tanah, terganggunya flora dan fauna disekitar wilayah tambang, dan terjadinya perubahan iklim.
Kegiatan penambangan mengakibatkan : 1. Perubahan fisik dan kimia tanah.
2. Pengurangan sejumlah spesies tumbuhan maupun hewan.
3. Kanopi/tajuk tumbuhan menjadi terbuka, sehingga suhu tanah naik.
4. Faktor mikroklimat berubah (klimat disekitar daerah tumbuh aktif).
5. Terdorongnya water table lebih mendekati permukaan tanah.
Ekonomi yang dijadikan pedoman dalam penelitian ini didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita riil penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Ekonomi merupakan suatu proses yang terjadi terus-menerus dan bersifat dinamis. Apapun yang dilakukan, hakikat dari sifat dan proses mencerminkan adanya terobosan yang baru, bukan gambaran ekonomi suatu saat saja. Ekonomi juga berkaitan dengan pendapatan riil, yaitu aspek penting yang saling berhubungan yaitu pendapatan total atau yang lebih banyak dikenal dengan pendapatan nasional. Orientasi ekonomi Indonesia lebih menekankan pada pertumbuhan antara desa dan kota.
Dampak ekonomi kadang-kadang tidak terduga, misalkan pembagunan irigasi, diharapkan menghasilkan manfaat berupa kenaikan produksi dan pendapatan kepada petani. Dampak ekonomi selanjutnya mungkin berupa kepemilikan lahan dan atau pendapatan para petani yang makin tidak merata. Jika pembangunan dinilai kelayakan hanya dari perbandingan manfaat langsung dan biaya langsung, seperti pada analisa finansial maka dampak sesungguhnya dari pembangunan itu tidak tergambarkan, tidak semua dampak ekonomi suatu pembangunan bersifat merugikan. Proyek irigasi dari contoh diatas, yang sama memungkinkan derajat penggunaan lahan yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan kesempatan kerja yang meningkat.
Pertambangan nikel yang berada di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, mempunyai dampak/pengaruh ekonomi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan dampak tidak langsung berupa timbulnya hubungan antara berbagai kegiatan lingkungan ekonomi masyarakat seperti ada kegiatan ekonomi baru. Dampak sosial dapat dibagi dalam variabel sosial, demografi, dan dampak pada pelayanan sosial. Penggolongan dampak sosial berupa nilai-nilai sosial dan sikap sosial. Untuk setiap pembangunan, pembagian tertentu bervariasi bobotnya. Namun perlu diingat beberapa penambangan tidak sedikit mengubah tingkat sosial, ekonomi masyarakat akibat tambang tersebut.
Perubahan pendapatan masyarakat, tenaga kerja, pembebasan tanah, perpindahan penduduk, dan sosial masyarakat. Keadaan ini dapat juga terjadi pada penambangan nikel di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur dimana sebagai obyek penelitian penulis, dari suatu pengalaman membuktikan apabila pembangunan yang kurang mengindahkan lingkungan hidup dapat menyebabkan kerusakan sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan hidup. Dalam analisis dampak lingkungan manusia tidak hanya dianalisa pada fisik, kimia, dan biota disekitar manusia saja tetapi juga termasuk sosial dan ekonomi dari manusia.
Analisis dampak lingkungan bermaksud untuk mengkaji (melalui suatu analisis), kemungkinan-kemungkinan perubahan pada lingkungan fisik, kimia, biologi, lingkungan sosial budaya, dan sosial ekonomi manusia. Namun pada penelitian dampak lingkungan, penelitian akan dipusatkan pada lingkungan sosial ekonomi, dengan demikian perlu dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan lain misalnya dengan mengkaji apa yang terjadi dengan sumberdaya, termasuk sumberdaya manusia disekitar tambang, bagaimana penggunaan tenaga kerja disana, apakah terjadi proses realokasi sumberdaya ketaraf yang lebih tinggi atau tidak, apakah terjadi perubahan menjurus kepada pemusatan penguasaan ditangan sejumlah kecil penduduk, sehingga akan menyebabkan pola pembagian pendapatan yang timpang, karena dampak sosial.
Analisis SWOT
Analisis SWOT (Strength Weaknesses Opportunities Threats), analisis yang melihat empat faktor strategis yaitu Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Ancaman, keempat faktor tersebut digunakan secara bersamaan. Keempatnya merupakan dua faktor internal dan dua faktor eksternal. Faktor-faktor internal adalah kekuatan dan kelemahan, dan dua faktor eksternal adalah kesempatan dan ancaman. Dari sisi lain dua faktor, kekuatan dan kesempatan dipandang sebagai faktor-faktor yang positif sedangkan kelemahan dan ancaman sebagai faktor- faktor negatif. Analisis SWOT merupakan salah satu bentuk alat analisis terhadap situasi yang tengah dihadapi. Dalam pembangunan pedesaan, alat ini mampu menyediakan kerangka analisis terhadap situasi yang dihadapi, untuk menggali masukkan dari masyarakat, membangkitkan dan menggodok solusi serta kendala- kendala potensial, sekaligus mengumpulkan informasi yang berguna dalam aktivitas evaluasi nanti. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan serta sebagai perencanaan strategis.
Analisis SWOT menyediakan sebuah kerangka pikir untuk lebih fokus melihat masalah. Umumnya analisis ini banyak ditujukan untuk penerapan dalam aktivitas bisnis. Analisis SWOT merupakan sebuah alat analisis yang cukup baik, efektif, dan efisien, serta cepat dalam menemukenali kemungkinan serta dapat melihat seluruh kemungkinan perubahan masa depan sebuah institusi dangan pendekatan yang sistematik melalui proses introspeksi dan mawas diri ke dalam, baik yang bersifat positif dan negatif. Makna dan pesan yang paling mendalam dari analisis SWOT adalah, bahwa apapun cara-cara serta tindakan yang diambil, dalam proses pembuatan keputusan harus mengandung dan mempunyai prinsip;
kembangkan kekuatan, minimalkan kelemahan, ambil kesempatan, dan hilangkan ancaman.
Analisis SWOT harus fleksibel, karena situasi dan kondisi yang cepat berubah. Analisis serupa harus sesering mungkin dibuat dan disesuaikan. Langkah pertama dalam membuat analisis SWOT adalah membuat sebuah lembaran kerja dan bentuk empat kuadran, masing-masing kotak berisi satu untuk kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Langkah berikutnya adalah membuat daftar item spesifik yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi di bawah topik masing-masing. Daftar dibatasi misalnya 10 poin saja, untuk menghindari
generalisasi yang berlebihan. Analisis SWOT dapat dilaksanakan secara individu atau sekelompok orang. Teknik secara kelompok lebih efektif khususnya dalam menggambarkan struktur, objektivitas, kejelasan dan fokus untuk diskusi mengenai strategi, sehingga tidak akan ngelantur. SWOT sangat praktis dan tidak boros terhadap waktu serta efektif karena kesederhanaannya, dan dapat digunakan secara kreatif, sehingga dapat membentuk serta membangun fondasi, yang sehingga dapat diciptakan sejumlah rencana strategis untuk pengembangan program-program baru. Keunggulannya lain, dari Analisis SWOT adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga dapat digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan-kebijakan. SWOT tidak mempunyai akhir, artinya ia akan selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman, karena itu analisis SWOT sering dilakukan. Beberapa keuntungan atau kelebihan menggunakan analisis SWOT adalah :
1. Analisis SWOT adalah suatu alat yang mudah untuk menerangkan, mudah dalam menggunakan, mudah pula untuk dipahami oleh anggota komunitas sampai kepada level intelegensi yang rendah sekalipun.
2. Alat ini dapat digunakan untuk membuat analisis masalah (problem analisis), memonitor, dan juga untuk mengevaluasi kegiatan yang sedang berjalan.
3. Alat ini menyediakan kerangka pemahaman yang seimbang antara faktor- faktor kekuatan dan kelemahan yang dimilki.
4. Terbuka, dan terfokus, karena kegiatan diskusi akan difasilitasi jika menerapkan metode ini.
5. Memungkinkan bahwa seluruh ide dari satu masalah didiskusikan secara seimbang.
6. Dapat merekam perubahan dalam sikap dan presepsi suatu masyarakat jika analisis dilakukan secara fokus dan konsisten.
Hasil analisis SWOT biasa berupa profil SWOT (SWOT profile), yaitu berupa sebuah tabel dengan kotak, dimana masing-masing berisi point-point yang termasuk sebagai S,W,O dan T. Alat yang biasa dipakai adalah matriks SWOT, yang menggambarkan bagaimana menggabungkan antara faktor internal dan eksternal, sehingga menghasilkan empat bentuk strategi yang dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Matriks Analisis SWOT
Eksternal Internal
Strenythness (S):
Tentukan faktor-faktor yang merupakan kekuatan internal
Weaknesses (W):
Sebutkan berbagai faktor yang menjadi kelemahan organisasi
Opportunities (O):
Indikasi berbagai faktor eksternal yang bersifat positif untuk organisasi
S-O
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang yang tersedia
W-O
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan organisasi sehingga mampu memanfaatkan peluang
Threats (T):
Tentukan berbagai faktor eksternal yang bersifat negatif bagi organisasi.
S-T
Ciptakan strategi yang menggunakan kelebihan organisasi namun sekaligus mengurangi pengaruh negatif dan ancaman eksternal
W-T
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman
Sumber: Matriks SWOT yang akan dipakai sebagai alat analisis
Kelebihan menggunakan SWOT informal sehingga menggali partisipasi lebih baik. Partisipasi juga mendorong, karena informasi yang digunakan adalah berupa informasi kualitatif, sehingga menjadi keterlibatan semua orang. Analisis SWOT adalah tahap pertama dari perencanaan dan membantu pengambilan keputusan untuk berfokus pada isu-isu kunci dan tahap selanjutnya.
Persepsi Masyarakat dan Konflik Sosial
Persepsi merupakan suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognetif yang sangat dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Menurut Sarwono (1999) persepsi merupakan proses pencarian informasi untuk dipahami, pandangan seseorang terhadap suatu fenomena dapat bersifat konotatif dan denotatif, menolak atau menerima, suka atau tidak suka terhadap obyek yang dihadapinya. Menyatakan persepsi masyarakat terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan pendidikan. Seseorang akan memberi persepsi positif terhadap lingkungan, apabila lingkungan tersebut memberikan kesejahteraan kepadanya, sebaliknya jika lingkungan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan, ia cenderung memberi nilai negatif terhadap lingkungan yang dihadapinya. Kegiatan penambangan nikel di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur, menimbulkan implikasi pada terjadinya perubahan lingkungan sosial masyarakat yang bersifat positif dan negatif. Faktor-faktor menyebakan munculnya konflik di dalam suatu masyarakat karena adanya perbedaan individu, perbedaan budaya, perbedaan kepentingan, dan terjadinya perubahan sosial di dalam masyarakat.
Perbedaan individu terjadi karena perbedaan lingkungan yang membentuk kedua belah pihak yang melahirkan prinsip-prinsip nilai kebiasaan atau tatacara yang berbeda (Soekanto, 1982).
Konflik dapat terjadi jika masing-masing pihak tidak dapat menerima atau menghormati prinsip atau sistem nilai yang dimiliki pihak lain. Bila kedua unsur yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan masyarakat ini semakin terpolarisasi antara unsur dominan dan yang dipinggirkan, maka konflik dapat mengarah menjadi tindak kekerasan (Turner, 1998). Ketidak merataan distribusi faktor- faktor produksi, umumnya dirasakan oleh masyarakat lokal yang bermukim di sekitar wilayah lingkar pertambangan, padahal penduduk asli yang bermukim disekitar wilayah lingkar tambang selalu mengharapkan program pengembangan masyarakat yang dapat meningkatkan kehidupan masyarakat setempat (Tomagola, 2000). Salah satu faktor terjadinya konflik di Maluku Utara tahun 1999, adalah konflik sosial akibat gap sosial antara pendatang dan penduduk asli, akibat terjadi ketimpangan program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan PT. NHM.
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Siregar (2007) melakukan penelitian dengan judul: Persepsi Masyarakat Terhadap Pembukaan Pertambangan Emas di Hutan Batang Toru (Studi kasus di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan). Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif, pada tingkat persepsi menggunakan skala likit dan untuk melihat hubungan sosial-ekonomi terhadap persepsi masyarakat setempat