Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti
p-ISSN 2355-5106 || e-ISSN 2620-6641
http://jurnalilmiahcitrabakti.ac.id/jil/index.php/jil
PENGEMBANGAN BILINGUAL VOCABULARY LEARNING BERBASIS BUDAYA DAERAH LIO UNTUK MAHASISWA
Maria Kristina Ota1), Marselina Wali2)
1)Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Flores
2)Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Flores
1)[email protected], 2)[email protected]
Histori artikel Abstrak
Received:
28 Februari 2022
Accepted:
21 Maret 2022
Published:
25 Maret 2022
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang materi pembelajaran bilingual vocabulary berbasis budaya daerah yang digunakan,dalam pembelajaran bahasa Inggris pada mahasiswa program studi sejarah. Penelitian dan pengembangan atau R&D merupakan desain dari penelitian ini. Subjek penelitian berjumlah adalah mahasiswa berjumlah 15 (lima belas) orang . Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model Borg & Gall (1981) yang sudah disederhanakan yang terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu need analysis, developing the product, validating it with the expert dan trying it out in the field. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah analisi dokumen, angket, wawancara, penilaian ahli dan tes, sedangkan instrumen penelitiannya adalah berupa angket, lembar penilaian ahli, wawancara, lembar observasi dan test. Ahli/pakar yang menjadi validator adalah ahli bahasa dan budaya yang ada pada daerah setempat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) materi pembelajaran yang dikembangkan mendapatkan respon yang sangat baik dari dosen dan mahasiswa; 2) materi yang dikembangkan memperoleh validitas tinggi dari para ahli dengan skor pada interval 0.76 ≤ x
≤ 1.00 dan memenuhi criteria of good material dan 3) hasil belajar mahasiswa meningkat setelah materi diimplementasikan dalam proses pembelajaran dengan mean pada pre-tesnya 71 sedangkan mean pada post-tes meningkat menjadi 77,5.
Kata-kata Kunci: bilingual vocabulary learning, budaya daerah
*Coresponding author: Maria Kristina Ota ([email protected])
Abstract. The research aimed to know the bilingual vocabulary learning-based culture used to learn English to students of the history study program. R&D (Research and Development) as the research design. The subjects of this study were 15 (fifteen) students. Model of Borg and Gall (1981) as the model of this research and it has been simplified into four steps, are need analysis, developing the product, validating it with the expert dan trying it out in the field. The methods used for gathering data were document analysis, questionnaire, interview, expert judgement and test, while the instrument was a questionnaire, expert judgement sheet, interview guide, observation sheet and test. The judges were the expert of local language and culture. The result shows that: 1) learning material developed has a good response from the lecture and the students; 2) learning material developed got high- validity from the expert judge and the interval score was 0.76 ≤ x ≤ 1.00 and it fulfilled the criteria of good material, and 3) students’ achievement increased after implementing the material in learning process. It can be seen on the result of the pre-test was the mean of the pre-test was 71 while the mean of the post-tes was increased to be 77,5.
Keywords: bilingual, vocabulary learning and culture
Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan pesan dari si pemberi pesan kepada penerima pesan.
Dalam kehidupan sosial bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-haripun beragam.
Hal ini dikarenakan pembicaranya berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Bahasa yang ditemukan seperti bahasa daerh, bahasa nasional maupun bahasa asing.
Bahasa asing yang hampir sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Inggris. Selain itu juga, bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar yang digunakan pada saat berkomunikas antar negara, baik itu yang berkaitan dengan bidang pendidikan, ekonomi, teknologi dan sebagainya. Dalam kurikulum pendidikan sekarang ini, bahasa Inggris sudah dipelajari sejak anak duduk dibangku PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan sampai pada jenjang Perguruan Tinggi (PT).
Dalam mempelajari bahasa Inggris, terdapat keterampilan yang perlu dikuasai antara lain keterampilan menulis (writing), keterampilan membaca (reading), keterampilan mendengarkan (listening) dan keterampilan berbicara (speaking). Keempat keterampilan ini saling terhubung antara satu dengan lainnya. Hubungan dari keempat keterampilan tersebut tentunya akan sangat mudah bila didukung dengan menguasai atau memiliki perbendaharaaan kosakata yang cukup.
Berdasarkan observasi atau pengamatan yang dilakukan pada mahasiswa program studi sejarah, sejauh ini belum atau belum memiliki bahkan belum diajarkan pembelajaran kosakata dengan sistem dua bahasa (bilingual) yang berkaitan dengan budaya daerah.
Selama itu, mahasiswa hanya mempelajari bahasa Inggris secara general untuk memenuhi tuntutan akademik mereka.
Vocabulary atau kosakata merupakan kumpulan kata-kata yang memiliki arti dan perlu dikuasai sehingga dapat digunakan untuk membentu sebuah frasa maupun kalimat. untuk mendukung interaksi pembicara dalam berkomunikasi, kosakata merupakan unsur yang sangat penting karena merupakan dasar untuk menyusun sebuah kata menjadi kalimat.
seseorang akam mengalami kesulitan dalam berkomunikasi jika kurang memahami bahasa, sehingga kesulitan untuk mengembangkan bahasanya (Kusuma, 2018). Oleh karena itu, semakin banyak perbendaharaan kosakata maka akan semakin mudah dalam memahami kalimat bahasa Inggris (Arif, 2014; Kusuma, 2018). Selain itu juga, komunikasi yang efektif dibutuhkan perbendaharaan kosakata yang cukup (Susanto, 2017).
Bilingual vocabulary learning merupakan pembelajaran kosakata dua bahasa yang digunakan secara kombinasi. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan kosakata dalam bahasa Indonesia yang berkaitan dengan budaya dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Kosakata-kosakata diambil dari benda-benda budaya yang ada dilingkungan sekitar tempat tinggal mahasiswa. Budaya lokal berhubungan dengan segala ide, kegiatan dan hasil kegiatan manusia dalam suatu kelompok masyarakat (Ismail dan Muhaimin, 2011; Asholahudin, dkk, 2021). oleh karena itu, pembelajaran kosakata berbasis budaya daerah ini bertujuan agar mahasiswa mempelajari kosakata yang berkaitan dengan budaya, mengenal benda-benda budaya yang ada dan sekaligus dapat mempertahankan budaya setempat yang telah ada. Selain itu juga, pembelajaran kosakata ini dilakukan agar budaya daerah yang ada tetap dikenal dan dikenang sehingga bisa terjada kelestariannya, pembelajaran lebih terasa berkesan, interaktif dan materi pembelajaran lebih bersifat otentik.
Untuk memotivasi mahasiswa dalam mengatasi kesulitan mempelajari bahasa target, dosen diharapkan untuk dapat mengembangkan atau menghasilkan materi atau bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, dalam bentuk tertulis atau non tulis yang dapat menciptakan suasana belajar bagi mahasiswa (Hamdani, 2011; Sandiyanti dan M. Rosida, 2018). Bahan ajar yang dikembangkan dapat berupa bahan ajar cetak, bahan ajar dengar, bahan ajar pandang dengar dan bahan ajar interaktif. Sumar dan Razak (2016) juga menambahkan bahwa kegiatan belajar mengajar dapat berjalan semestinya sesuai dengan kompetensi dasar yang diharapkan dengan memperhatikan kelengkapan pembelajaran seperti guru, bahan ajar, serta sarana dan prasana.
Adapun penelitian terdahulu yang menghasilkan bahan ajar bilingual dan game kosakata diantaranya; pengembangan modul bilingual bergambar berbasis quantum learning pada materi peluang (Sandiyanti & M. Rosida, 2018). Selanjutnya adalah Adriani (2020) penelitiannya tentang pengembangan buku bergambar “bilingual” berbasis budaya Yogyakarta untuk mengenalkan kosakata bahasa Inggris pada anak. Penelitian berikutnya
adalah yang dilakukan oleh Rahayu dan Riska (2018) dengan judul pengembangan media pembelajaran game kosakata bahasa Inggris. Selain itu, Syakir (2020) telah melakukan penelitian dengn judul adalah developing students vocabulary at elementary school by using words game. Beberapa penelitian tersebut di atas merupakan penelitian pengembangan namun produk yang dihasilkan berbeda-beda dan juga menggunakan permainan dalam pembelajaran bahasa Inggris sehingga pembelajaran lebih terkesan interaktif dan lingkungan belajar lebih terasa menyenangkan. Sedangkan penelitian ini juga merupakan penelitian pengembangan namun lebih difokuskan pada bilingual vocabulary berbasis budaya daerah.
Produk yang dihasilkan dilengkapi dengan gambar-gambar yang berkaitan dengan budaya daerah sehingga membantu mahasiswa untuk lebih termotivasi unuk mempelajarari kosakata dalam bahasa target.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) yang menggunakan model dari Borg dan Gall (1996) yang telah disederhanakan terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu need analysis, developing the product, validating it with the expert dan trying it out in the field. Model desainnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Model desain Gall dan Borg
Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa program studi sejarah yang berjumlah 15 (lima belas) orang. Analisis dokumen, angket, penilaian ahli, wawancara dan uji lapangan merupakan teknik pengumpulan data sedangkan instrument penelitiannya adalah angket dan lembar penilaian ahli/pakar, pedoman wawancara, lembar observasi dan tes. Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis dengan dua cara yaitu secara deskriptif dan kuantiatif.
Untuk mengetahui validitas dari materi yang dilakukan oleh pakar/ahli akan diukur menggunakan Gregory formula yang dapat terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Inter-rater Agreement Model untuk konten validitas (Adopsi dari Gregory, 2011) Pakar 1
Tidak Relevan Relevan Pakar 2 Tidak Relevan A (- -) B (- +)
Relevan C (+ -) D (+ +)
CV =
Need analysis Developing product Expert Validation Field try out
D A + B + C + D
Keterangan:
CV = konten validitas
A = kedua pakar percaya bahwa item-item sangat tidak relevan
B = jika pakar pertama percaya bahwa salah salah satu item sangat relevan namun pakar kedua merasa tikak relevan
C = jika pakar pertama merasa bahwa item yang tersedia tidak relevan sedangkan pakar kedua merasa bahwa item tersebut sangat relevan
D = jika kedua pkar percaya bahwa setiap item sangatlah relevan Tabel 2. Pengkategorian Hasil Validasi Produk
Interval Kategori
0.76 ≤ x ≤ 1.00 Validitas sangat tinggi 0.59 ≤ x ˂ 0.76 Validitas tinggi
0.42 ≤ x ˂ 0.59 Validitas rata-rata/sedang 0.20 ≤ x ˂ 0.42 Validitas rendah
0 ≤ x ˂ 0.20 Validitas buruk
Untuk melakukan penilaian terhadap kualitas dari materi, dosen pengampu mata kuliah akan memberikan penilaian dengan memberikan skor berupa skala 5 untuk sangat setuju, 4 setuju, 3 kurang setuju, 2 tidak setuju dan 1 sangat tidak setuju. Total skornya akan dianalisa menggunaan formula seperti dibawah ini:
Tabel 3. Kriteria Kualitas dari Materi
Skor Kriteria
X ≥ Mi + 1.5 Sdi Materi sangat bagus
Mi + 0.5 Sdi ≤ X ˂ Mi + 1.5 Sdi Materi bagus Mi - 0.5 Sdi ≤ X ˂ Mi + 0.5 Sdi Ratata-rata/sedang Mi - 1.5 Sdi ≤ X ˂ Mi - 0.5 Sdi Di bawah rata-rata
X ˂ Mi – 1.5 Sdi Buruk
(Candiasa, 2010, p.123) Keterangan
Mi : ½ (Skor Max + Skor Min) Sdi : 1/3 (Mi)
Mi : Nilai tengah Sdi : Standar deviasi
Hasil dan Pembahasan Hasil
Analisis Materi Pembelajaran yang Digunakan
Pembelajaran bahasa Inggris yang dilaksanakan selama ini menggunakan beberapa sumber berupa buku seperti English sentence structure (Radford, 2009), understanding and using English grammar (Azar,1999), basic English usage (Swan, 1984), grammar for everyone: practical tools for learning and teaching grammar (Dykes, 2007), dan having fun with English (Ota dan Noge, 2020). Namun, dosen pengampuh belum memiliki materi pembelajaran bahasa Inggris yang spesifik yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mahasiswa sehingga dapat memfasilitasi dan memotivasi mahasiswa dalam pembelajaran bahasa Inggris sesuai dengan latar belakang ilmunya. Oleh karena itu berdasarkan analisis dokumen yang dilakukan maka diambil kesimpulan bahwa dalam mendesain materi pembelajaran baru harus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa untuk mendukung pembelajaran dan pengajaran pada program studi sejarah.
Analisis Kebutuhan
Berdasarkan wawancara dan observasi, ada beberapa hal penting yang ditemukan yaitu ketua program studi, dosen pengampu mata kuliah dan mahasiswa program studi pendidikan sejarah merupakan calon guru yang harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang berkaitan dengan bidang ilmu serta tanggung jawab untuk masa depannya.
Mengingat, bahasa Inggris merupakan bahasa global yang harus dikuasai pada masa ini.
Selain itu juga, ketua program studi dan dosen pengampu menambahkan bahwa mahasiswa harus terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris yang lebih difokuskan pada aspek vocabulary/kosakata. Hal ini sangat penting karena semakin banyak perbendaharaan kosakata yang dimiliki maka dapat mendukung perkembangan kompetensi atau keterampilan bahasa lainnya.
Dosen pengampu mata kuliah bahasa Inggris menambahkan bahwa, materi pembelajaran bahasa Inggris yang diajarkan bersifat general, sama sekali tidak menambahkan materi yang berkaitan dengan budaya sesuai dengan latar belakang ilmu mahasiswa yaitu pendidikan sejarah. Selanjutnya, selama pembelajaran, mahasiswa jarang diperkenalkan dengan kosakata-kosakata baru namun pembelajaran lebih difokuskan pada struktur bahasa. Dari observasi yang dilakukan, strategi yang digunakan selama pembelajaran dan pengajaran adalah konvensional yaitu menjelaskan dan mengerjakan tugas dan latihan-latihan. Hampir setiap pertemuan, materi pembelajaran tentang grammar, kemudian mahasiswa diminta untuk mengerjakan latihan-latihan, membaca teks dan menjawab pertanyaan berdasarkan teks yang tersedia. Keterampiln bahasa lainnya tikak
menjadi priorotas sehingga adanya ketidak seimbangan dalam menguasai setiap keterampilan bahasa yang ada,
Pengembangan Bilingual Vocabulary Learning berbasis budaya daerah
Pengembangan kosakata berbasis budaya daerah yang telah dilakukan adalah sesuai dengan analisis kebutuhan (need analysis) pada mahasiswa program studi sejarah.
Materi pembelajaran pada penelitian ini adalah berupa bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mengenal benda-benda budaya yang berada disekitar lingkungan tempat tinggal dan secara tidak langsung menjaga kelestarian budaya daerah uang ada. Mengingat dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, lama kelamaan benda-benda budaya tersebut bisa saja punah dan tidak diingat lagi oleh anak cucu kelak. Bilingual vocabulary learning berbasis budaya yang diangkat dalam penelitian ini merupakan budaya Lio. Benda-benda budaya didesain menjadi materi pembelajaran berupa vocabulary.
Setelah materi didesain, draft materinya kemudian divalidasi oleh ahli materi untuk mengetahui apakah materi yang telah didesain telah memenuhi kriteria yang diharapkan.
Validator yang dipilih merupakan ahli bahasa dan budaya pada daerah setempat. Selain memberikan penilaian terhadap materi, validator juga dapat memberikan masukkan yang bermanfaat demi kebaikan dari materi yang dikembangkan. Validator mengisi instrument sebagai pedoman untuk mengecek konten dari materi pembelajaran. Pada bagian ini adalah rubrik analisis yang diberikan kepada pakar/ahli untuk mendapatkan validitas dari produk yang didesain (disajikan pada Tabel 4)
Tabel 4. Hasil Peniaian Pakar/ahli Butir
Validator 1 Validator 2 Relevan Tidak
relevan
Relevan Tidak relevan
1 √ - √ -
2 √ - √ -
3 √ - √ -
4 √ - √ -
5 √ - √ -
6 √ - √ -
7 √ - √ -
8 √ - √ -
9 √ - √ -
10 √ - √ -
11 √ - √ -
12 √ - √ -
13 √ - √ -
14 √ - √ -
15 √ - √ -
16 √ - √ -
17 √ - √ -
18 √ - √ -
19 √ - √ -
20 √ - √ -
Berdasarkan hasil validasi yang tertera pada Tabel 3 di atas, kemudian dianalisis menggunakan inter-rater agreement model (Gregory, 2000). Dari data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa penilaian dari 2 (dua) orang pakar/ahli untuk semua butir angket adalah valid.
Data tabulasinya dapat dilihat seperti Tabel 5 di bawah.
Tabel 5. Tabel Inter-rater Agreement untuk Vocabulary Learning Material
Berdasarkan Tabel 5, maka interval untuk instrumen penilainnya adalah 1.00. Dari kriteria di atas maka skor pada interval 0.76 ≤ x ≤ 1.00 yang berarti bahwa produk yang didesain memiliki validitas yang tinggi. Hal itu berarti ahli/pakar sangat setuju bahwa materi yang dikembangkan telah memenuhi aspek dari evaluasi materi. Hal yang sama terjadi pada Ota, dkk (2018) dan Trianasari (2015) yaitu materi yang dikembangkan dikategorikan memiliki validitas yang tinggi, dengan skor instrumen penilaiannya adalah 1.00.
Pakar/ahli kemudian mengisi instrumen sebagai panduan untuk merevisi atau mengecek format dan isi dari materi. Instrumennya adalah rubric of good material (Tomlinson, 2012) yang terdiri dari 3 aspek yaitu feature of the learning material, content of learning material dan language use. Untuk mengetahui pendapat dari pakar/ahli terkait vocabulary learning material, hasil dari rubrik dianalisa dan dikategorikan menggunakan skala Likert yaitu sangat bagus, bagus, sedang, buruk dan sangat buruk seperti pada Tabel 3. Berdasarkan penilaian tersebut, materi pembelajaran berupa vocabulary learning dapat dikategorikan sebagai materi yang sangat bagus.
Kualitas dari Vocabulary Learning untuk Pengajaran dan Pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Sejarah
Untuk mengetahui kualitas dari vocabulary learning yang telah dikembangkan, yang telah melalui tahap penilaian oleh pakar/ahli, selanjutnya disebarkan angket kepada dosen dan mahasiswa. Selain itu juga, untuk mengetahui efektif atau tidaknya materi, maka dilakukan tes. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6 berikut di bawah ini:
Tabel 6. Hasil dari angket dosen
Pernyataan Jabawan
1 1
2 1
3 1
4 1
5 1
6 1
7 1
8 1
9 1
10 1
11 1
12 0
13 1
14 1
15 1
Pakar 1 Tidak
Relevan
Relevan Pakar
2
Tidak Relevan
A (- -) B (- +) Relevan C (+ -) D (+ +)
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20
Berdasarkan Tabel 6 di atas, diperoleh persentasenya adalah 93,3 %.
Tabel 7. Hasil dari angket mahasiswa
Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1 100% 0%
2 100% 0%
3 100% 0%
4 100% 0%
5 100% 0%
6 100% 0%
7 100% 0%
8 100% 0%
9 100% 0%
10 100% 0%
11 100% 0%
12 100% 0%
13 100% 0%
14 100% 0%
15 100% 0%
Dari tabel 6 dan 7 di atas, terlihat dengan jelas bahwa respon dari dosen pengampu mata kuliah dan mahasiswa pada program studi pendidikan sejarah sangat baik terhadap materi pembelajaran berupa bilinguall vocabulary learning yang dikembangkan.
Tabel 8. Hasil dari Pre-tes dan Post-tes
Kode Mahasiswa Pre-tes Post-tes
1 70 80
2 72 85
3 68 75
4 68 78
5 75 82
6 65 73
7 75 80
8 75 85
9 75 85
10 75 80
11 70 80
12 65 72
13 70 80
14 70 80
15 70 82
Dari Tabel 8, terdapat hasil pre-test dan post-test dari mahasiswa pada program studi pendidikan sejarah. Pre-test dilakukan sebelum bilinguall vocabulary learning digunakan dalam proses pembelajaran sedangkan post-test adalah sebaliknya. Setelah implementasi dari bilinguall vocabulary learning, hasil belajar dari mahasiswa terlihat lebih baik daripada sebelumnya.
Pembahasan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah untuk mahasiswa program studi pendidikan sejarah, Universitas Flores. Layak atau tidaknya produk yang dihasilan adalah dengan mendapatkan penilaian dari pakar/ahli. Selain itu juga, efektif atau tidaknyapun dapat diketahui setelah diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut berarti bahwa objektif dan praktis tidaknya produk yang dihasilkan dapat diwujudkan secara otomatis, jika produk tersebut telah memenuhi kebutuhan peserta didik, tujuan dan efektif diimplemntasikan dalam pembelajaran (Ellis, 1992; Ota, dkk, 2018). Warmadewi, dkk (2021) juga menambahkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris yang berkaitan dengan budaya sangat membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuannya serta dengan melibakan budaya sebagai daya tarik daerahnya sangat memberikan efek yang baik bagi peningkatan kompetensinya dalam berbahasa Inggris. Budaya lokal yang diikutsertakan dalam pembelajaran bahas Inggris merupakan salah satu cara untu melestarikan budaya setempat.
Hal ini mengingat banhwa dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat, budaya sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda (Dewi dan Batan, 2015).
Hasil yang diperoleh dari penilaian terhadap materi yang dilakukan oleh pakar/ahli adalah 1.00 dari interrater formula. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang dihasilkan memiliki validitas yang tinggi dengan skor intervalnya yaitu interval 0.76 ≤ x ≤ 1.00. Disisi lainpun, rubrik penilaian menunjukkan hasil yang serupa. Kharisma dan Arvianto (2019) dalam penelitian mereka tentang pengembangan aplikasi android berbentuk education games berbasis budaya daerah juga memperoleh persentase yang baik yaitu memperleh presentae lebih dari 75% terhadap produk aplikasi yang dikembangkan yang diperoleh dari hasil penilaian pakar/ahli. Ningsih dan Kara (2021) dalam riset yang dilakukanpun memperoleh hasil yang hampir sama dengan penelitian ini yaitu berupa hasil uji valdisari produk berupa teks bacaan bahasa Inggris berbasis kearifan lokal Ende-Lio oleh pakar/ahli mendapatkan kategori baik dengan skor 90%.
Selanjutnya, hasil yang diperoleh dari angket yang didistribusikan kepada dosen pengampu mata kuliah bahasa Inggris pada tabel 5 adalah 93,3%, yang berarti bahwa kualitas dari materi sangatlah bagus dan membuktikan bahwa materi yang dihasilkan berupa bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah telah memenuhi aspek penilaian dan memiliki kualitas yang sangat baik. Hasil yang hampir sama adalah pada angket yang didistribusikan kepada mahasiswa untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap materi tersebut. Berdasarkan angket yang didistribusikan kepada mahasiswa pada tabel 6 terlihat bahwa materi yang telah dikembangkan mendapatkan respon yang baik dari mahasiswa pada program studi sejarah. Materi yang dikembangkan merupakan bilingual vocabulary
learning berbasis budaya, yang sangat sesuai dengan latar belakang bidang keilmuan dari mahasiswa itu sendiri. Selain itu juga, konten budaya lokal pada materi sangat berkontibusi dalam meningkatkan mutu pendidikan (Baka, Laksana dan Dhiu, 2018; Lawe, dkk 2021).
Materi pembelajaran berupa bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah juga dilengkapi dengan gambar-gambar budaya sehingga terkesan lebih menarik, memancing rasa ingin tahu dan mahasiswa merasa tidak jenuh untuk mempelajari vocab. Antusiasme untuk belajar dari mahasiswa cukup tinggi karena materi dikaitkan dengan unsur budaya daerah, serta menghadirkan berbagai hal yang terdapat pada situasi nyata siswa (Laksana, Seso dan Riwu, 2019; Samri, Rewo dan Laksana, 2020; Wini, Laksana, dan Awe, 2020;
Lawe,dkk, 2021). Akfif dan tidaknya mahasiswa selama proses pembelajaran juga sangat bergantung dari materi pembelajaran yang disiapkan (Makrifah dan Widiarini, 2019). Oleh karena itu materi pembelajaran yang disiapkan juga perlu memperhatikan keterlibatan mahasiswa.
Tes yang dilakukan pada mahasiswapun mendapatkan hasil yang baik. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 7. Dari hasil post-test, mean atau nilai tengah yang diperoleh adalah 77,5. Skor tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan skor pada pre-test yaitu 71. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Hal serupa dialami oleh Kawi, dkk (2013) yang juga melakukan penelitian pengembangan dengan menghasiilkan produk berupa bahan ajar bahasa Inggris kreatif terintegrasi yang mana terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar peserta didik saat sebelum dan sesudah menerapkan bahan ajar yang dikembangkan.
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh, penelitian ini dapat memberikan jawaban dari rumusan dari masalah penelitian yang ada dan mencapai tujuan dari penelitian ini.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1) produk yang dikembangkan adalah dalam bentuk bilingual vocabulary learning berbasis budaya daerah yang didesain untuk mahasiswa program studi sejarah. Produk tersebut didesain dengan melalui beberapa tahapan atau prosedur pada penelitian dan pengembangan (R&D) serta produk yang didesain mengikuti criteria of good material (Tomlinson, 2012) sehingga telah memenuhi criteria of good material dan memiliki validitas yang tinggi yaitu 0.76 ≤ x ≤ 1.00 ; 2) dari angket yang didistribusikan kepada dosen dan mahasiswa menunjukkan bahwa materi yang dikembangkan mendapatkan respon sangat baik dari mahasiswa; dan 3) materi yang dikembangkan telah memberikan dampak yang baik pada hasil belajar mahasiswa.
Daftar Pustaka
Adriani, G. K. (2020). Pengembangan buku bergambar “bilingual” berbasis budaya yogyakarta untuk mengenalkan kosakata bahasa inggris pada anak. Pendidikan Guru PAUD S-1, 9(1), 69-76.
Arif, D. (2014). Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Sekolah Dasar Menggunakan Media Gambar. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 14(2), 1-5.
Schrampfer Azar, B. (1999). Understanding and using English grammar. Published by Binarupa Aksara.
Asholahudin, M., Hufad, A., Leksono, S. M., & Hendrayana, A. (2021). Literasi peserta didik melalui pengembangan bahan ajar bahasa inggris berbasis budaya lokal dalam konteks kurikulum bahasa inggris sekolah menengah pertama. MEDIA BINA ILMIAH, 16(2), 6405-6410.
Ellis, R. (1992). Second language acquisition & language pedagogy (No. 79). Multilingual Matters Limited.
Dewi, E. S., Ni, L. P., & Batan, I. G. (2016). Pengembangan Karakter Bangsa melalui Muatan Budaya Lokal dalam Suplemen Perangkat Pembelajaran Bahasa Inggris. Seminar Nasional Riset Inovatif IV, Tahun 2015
Dykes, B. (2007). Grammar for everyone: Practical tools for learning and teaching grammar.
ACER press.
Gall, M. D., Borg, W. R., & Gall, J. P. (1996). Educational research: An introduction.
Longman Publishing.
Gregory, R. J. (2011). Validity and test development. Psychological Testing; History, Principles and Applications 6th Ed. Boston: Allyn & Bacon, 109-51.Longman Publishing.
Hamdani, S. B. M. (2011). Strategi belajar mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Howard, J., & Major, J. (2004). Guidelines for designing effective English language teaching materials. The TESOLANZ Journal, 12(10), 50-58.
Ismail, N., & Muhaimin, A. G. (2011). Konflik umat beragama dan budaya lokal. Lubuk Agung.
Kawi, I. G. A. K., Santyasa, I. W., & Rasana, I. D. P. R. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Untuk Pembelajaran Bahasa Inggris Kreatif Terintegrasi Bagi Siswa Kelas IX SMP Semester Enam. Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia, 3(1).
Kharisma, G. I., & Arvianto, F. (2019). Pengembangan aplikasi android berbentuk education games berbasis budaya lokal untuk keterampilan membaca permulaan bagi siswa kelas 1 SD/MI. Premiere Educandum: Jurnal Pendidikan Dasar Dan Pembelajaran, 9(2), 203-213.
Kusuma, S. (2018). Pengembangan Media English Vocabulary Card Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas V SD/MI (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
Laksana, D. N. L., Seso, M. A., & Riwu, I. U. (2019). Content and flores cultural context based thematic electronic learning materials: teachers and students’perception. European Journal of Education Studies.
Lawe, Y. U., Noge, M. D., Wede, E., & Itu, I. M. (2021). Penggunaan bahan ajar elektronik multimedia berbasis budaya lokal pada tema daerah tempat tinggalku untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 8(1), 92-102.
Makrifah, I. A., & Widiarini, W. (2019). Pengembangan Materi Ajar Bahasa Inggris Berbasis Project Based Learning untuk Siswa Jurusan Usaha Perjalanan Wisata. Briliant:
Jurnal Riset dan Konseptual, 4(3), 388-393.
Ningsih, N., & Kara, Y. M. K. (2022). Pengembangan Bahan Bacaan Bahasa Inggris Berbasis Budaya Lokal Ende-Lio untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 4(1), 289-297.
Ota, M. K. (2018). Developing communicative learning materials for teaching english as a foreign language to students of elementary teacher study program of flores university of East Nusa Tenggara. Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris Indonesia, 6(1).
Ota, M. K., & Noge, M. D. (2020). Having fun with English for students of elementary teacher education. Uwais inpirasi Indonesia.
Rahayu, W. A., & Riska, S. Y. (2018). Pengembangan media pembelajaran game kosakata Bahasa Inggris. Jurnal Ilmiyah Pendidikan, 37(1), 85-96.
Radford, A. (2009). An introduction to English sentence structure. Cambridge university press.
Samri, F., Rewo, J. M., & Laksana, D. N. L. (2020). Electronic thematic teaching multimedia with local culture based materials and its effect on conceptual mastery of primary school students. European Journal of Education Studies, 7(12).
Sandiyanti, A. (2018). Pengembangan modul bilingual bergambar berbasis quantum learning pada materi peluang. Desimal: Jurnal Matematika, 1(2), 157-164.
Sumar, W. T., & Razak, I. A. (2016). Strategi pembelajaran dalam implementasi kurikulum berbasis soft skill. Deepublish.
Swan, M. (1984). Basic english usage. Oxford University Press.
Syakir, A. (2020). Developing students vocabulary at elementary school by using words game. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(2), 38-45.
Susanto, Y. D. T. (2017). Hubungan Penguasaan Kosakata Dengan Keterampilan Berbicara Dan Menulis Siswa Kelas IV SDN Gugus Pangeran Diponegoro Kecamatan Ngaliyan. Universitas Negeri Semarang.
Tomlinson, B. (2012). Materials development for language learning and teaching. Language teaching, 45(2), 143-179.
Trianasari, Ely (2015). Developing Syllabus and Material of English for Mechanical Engineering Department at Polythenic of Banyuwangi. Thesis.Unpublished
Warmadewi, A. A. I. M., Kardana, I. N., Raka, A. A. G., & Dewi, N. L. G. M. A. (2021).
Pembelajaran bahasa Inggris komunikatif berbasis budaya. Jurnal Abdidas, 2(4), 743-751.
Wini, M. K. M., Laksana, D. N. L., & Awe, E. Y. (2020). Pengembangan bahan ajar multilingual berbasis konten dan konteks budaya lokal etnis ngada pada tema diriku untuk siswa kelas I sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata, 1(2), 73- 80.