• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. yang dianggap strategis dan merupakan hal yang sangat penting untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. yang dianggap strategis dan merupakan hal yang sangat penting untuk"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan infrastruktur di Indonesia, pemerintah Indonesia melakukan percepatan proyek- proyek yang dianggap strategis dan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam rentan waktu yang singkat. Dalam mencapai tujuan tersebut, pemerintah melalui Kementeriaan Koordinator Bidang Perekonomian meresmikan pembuatan mekanisme percepatan penyediaan infrastruktur serta penerbitan regulasi sebagai legal basic yang mengatur hal tersebut.

Dengan menggunakan mekanisme tersebut, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Priorias (KPPIP) melakukan pemilihan daftar proyek-proyek yang dianggap strategis dan memiliki kepentingan yang tinggi serta dapat memberikan fasilitas-fasilitas kemudahan pelaksanaan proyek. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut diharapkan proyek-proyek strategis nasional dapat direalisasikan lebih cepat. Dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional diputuskan sebanyak 245 Proyek Strategis Nasional (PSN) ditambah dengan 2 program terbaru.

Dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 tersebut, terdapat beberapa daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) salah satunya adalah program pembangunan kilang minyak yang akan dibangun di 3 (tiga) wilayah di Indonesia yakni program pembangunan kilang minyak di Bontang Provinsi Kalimantan

(2)

juga Upgrading kilang-kilang eksisting (RDMP) yang berada di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Kalimantan Timur.

Dalam Peratutan Presiden tersebut disebutkan bahwa salah satu program pembangunan kilang minyak yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) akan dibangun di wilayah Kabupaten Tuban. Pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban masuk dalam salah satu proyek prioritas minyak dan gas. Kriteria pemilihan proyek prioritas ini dilakukan berdasarkan Pasal 5 Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2014 j.o Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2016 dengan berbagai kriteria seperti: kesesuaian dengan RPJMN/D dan renstra sector, adanya kesesuaian dengan RTRW, adanya keterkaitan antara sector infrastruktur dan antar wilayah, memiliki peran strategis serta membutuhkan dukungan dan/atau jaminan pemerintah untuk proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Dimana program prioritas bertujuan untuk melakukan percepatan penyediaan infrastruktur prioritas secara efektif, efisien, tepat sasaran serta tepat waktu. Dalam pencapai tujuan tersebut tentu saja perlu dilakukan penyelesaian hambatan- hambatan yang kemungkinan muncul dalam penyediaan infrastruktur prioritas, melakukan percepatan target penyediaan infrastruktur prioritas melalui persiapan yang matang dan koordinasi yang efektif diantara para pemangku kepentingan.

Masuknya pembangunan kilang minyak di wilayah Kabupaten Tuban yang menjadi salah satu program prioritas yang dimana penyelesaiaannya harus dilakukan tepat waktu, membuat pihak-pihak yang terlibat dalam program ini dituntut melaksanakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proyek pembangunan kilang minyak di Tuban ini merupakan proyek yang ditugaskan oleh

(3)

Presiden kepada PT. Pertamina dan juga merupakan proyek patungan dengan perusahaan migas asal Rusia yakni Rosneft Oil Company pada tahun 2017. Proyek pembangunan kilang minyak baru di Kabupaten Tuban ini direncanakan dapat memproduksi 300 ribu barel per hari, mengingat kebutuhan bahan bakar di Indonesia yang cukup tinggi yakni sebesar 75,27 juta kilo liter pada tahun 2021.

Dengan adanya pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban diharapkan dapat meningkatkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar di Indonesia serta dapat menurukan ketergantungan impor bahan bakar. Dimana pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban diperkirakan membutuhkan pembebasan lahan seluas 841 Ha (Hidranto, 2021).

Pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban ini dibentengi oleh berbagai produk hukum antara lain Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional. Selain Peraturan Presiden, juga tedapat pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Pembangunan ini juga didukung dengan Keputusan Menteri ESDM dalam Kepmen ESDM Nomor 807 Tahun 2016 tentang diskursus investasi di bidang minyak dan gas. Selain itu untuk lebih mendukung pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban RTRW Kabupaten Tuban juga ikut diganti bahwa seluruh daerah yang telah ditetapkan dalam penlok pembangunan kilang minyak yang semula merupakan wilayah pertanian produktif akan diganti menjadi wilayah migas, selain itu pemerintah Kabupaten Tuban juga akan membentuk BUMD Migas, hal tersebut dikarenakan beberapa kawasan di Kabupaten Tuban temasuk daerah eksplorasi migas skala nasional.

(4)

Selain peraturan perundang-undangan diatas, pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum juga disebutkan bahwa tanah untuk kepentingan umum salah satunya digunakan untuk pembangunan infrastruktur minyak, gas dan panas bumi. Hal tersebut semakin memperkuat legal basic dalam pembangunan kilang minyak yang akan di bangun di kabupaten Tuban. Namun, Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jalan tol, bandar udara, pembangunan sarana minyak dan gas, kawasan ekonomi, industri pariwisata, serta proyek ekstraktif pertambangan seperti smelter, dalam pandangan David Harvey hanyalah built environment of capital sebagai sarana membangun lingkungan baik untuk akumulasi kapital. Dampaknya paling merasakan kemanfaatan infrastruktur tersebut bukan masyarakat umum akan tetapi kelas pengusaha, oligarki bisnis lokal, nasional dan internasional (Ridha, 2016).

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas oleh Presiden Jokowi yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan serta diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan msayarakat, ternyata pada praktiknya mengakibatkan munculnya berbagai konflik dalam proses pembebasan lahan. Menurut Konsorium Pembaruan Agraria (KPA) jumlah konflik agrarian yang diakibatkan adanya pengadaan tanah untuk Proyek Strategis Nasional adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1

Jumlah Konflik Agraria Pembangunan Proyek Strategis Nasional Tahun Konflik akibat PSN

2019 83 kasus

2020 30 kasus

2021 38 kasus

Sumber: Catatan Akhir Tahun KPA

(5)

Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah konflik akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) pada tahun 2019 sebanyak 83 kasus, dimana dalam hal ini KPA mengungkapkan bahwa tingginya konflik diakibatkan karna terdapat banyak sisa dari Proyek Strategis Nasional (PSN) mulai atau sedang memasuki tahap penyiapan dan pengadaan tanah, dimana salah satunya adalah konflik pembebasan lahan pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban (Konsorium Pembaruan Agraria, 2019). Selanjutnya pada tahun 2020 terdapat 30 kasus pembebasan lahan untuk PSN diantaranya adalah pembangunan jalan tol, kilang minyak, bandara sampai dengan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata (Konsorsium Pembaruan Agraria, 2020). Pada tahun 2021 terdapat 38 kasus diantaranya pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol, bendungan hingga pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur terkait penetapan lokasi (penlok) pembangunan kilang minyak di Tuban ditetapkan di 5 (lima) Desa di Kecamatan Jenu yakni Desa Wadung, Desa Sumurgeneng, Desa Kaliuntu, Desa Rawasan dan Desa Mentoso. Hal inilah yang kemudian membuat warga pemilik lahan melakukan penolakan sehingga muncul sebuah konflik. Dimana salah satu alasan kuat dilakukannya penolakan adalah karena pembebasan lahan yang dilakukan di Desa Sumurgeneng adalah merupakan lahan pertanian produktif yang didukung dengan letak geografis Kecamatan Jenu. Masyarakat mengkhawatirkan perekonomiannya setelah lahannya terdampak pembangunan kilang minyak karena lahan tersebut selama ini menjadi sumber mata pencaharian mereka dan juga warga tidak memiliki keahlian lain selain bertani. Selain itu warga beranggapan bahwa pembangunan kilang minyak tidak memberikan dampak langsung kepada mereka,

(6)

tetapi hanya memberikan dampak atau hanya menguntungkan pihak pemerintah dan BUMN saja. Selain itu warga menghawatirkan adanya pencemaran udara yang semakin bertambah mengingat bahwa di Kecamatan Jenu sendiri juga terdapat beberapa perusahaan seperti PT. Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang juga bergerak di bidang migas, serta adanya PLTU. Dimana jika di tambah dengan adanya pembangunan kilang minyak, warga khawatir pencemarah udara di Kecamatan Jenu akan semakin bertambah.

Selain itu, alasan warga menolak pembangunan kilang minyak di wilayah mereka adalah ideologi warga yang masih melekat dan ingin mewariskan lahan tersebut kepada anak cucunya untuk bertani karena warga beranggapan bahwa tanah di Desa Sumurgeneng adalah merupakan tanah yang subur dan tidak cocok digunakan pembangunan kilang minyak. Hal tersebutlah yang memicu terjadinya konflik di Kecamatan Jenu. Perlawanan-perlawanan dilakukan oleh warga mulai dari perusakan dan pencabutan patok di lokasi pembangunan kilang miyak, pembentangan spanduk penolakan, melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Tuban, menolak dilakukan sosialisasi oleh pihak PT.Pertamina sampai dengan memblokade jalan saat pihak BPN Kabupaten Tuban ingin melakukan pengukuran lahan.

Fakta lain adanya konflik penolakan pembangunan kilang minyak di Kecamatan Jenu adalah dengan ditangkapnya tiga petani penolak kilang minyak di Kabupaten Tuban menggelar aksi protes saat Presiden Jokowi meninjau pembangunan kilang minyak Grass Root Refinary di Tuban. Tiga warga yang ditangkap polisi tesebut diantaranya; M. Basori, Wawan, Mashuri. Ketiganya ditangkap oleh polisi ketika akan membentangkan spanduk berisi penolakan

(7)

pembangunan kilang minyak di lahan mereka. Selain menahan ketiga petani tersebut, aparat kepolisian juga merampas ponsel milik petani dan menghapus gambar serta video yang didokumentasikan warga. Penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tanpa adanya alasan atau bukti yang kuat bahwa petani telah melakukan pelanggran tindak pidana. Kriminalisasi terhadap petani Jenu telah terjadi sejak mereka menolak rencana pembangunan kilang minyak. Pada 22 Maret tiga petani juga ditangkap atas tuduhan perusakan patok lahan (Purwanto, 2019).

Selain itu, aksi penolakan dari warga pemilik lahan dilakukan dengan tradisi tumpengan yang diadakan di Desa Remen, diadakannya syukuran ini bertujuan agar pemerintah tahu bahwa warga menolak adanya pembangunan kilang minyak di wilayah mereka. Menurut Warsi salah satu warga desa mengungkapkan menolak adanya rencana pembangunan kilang minyak dan bersikukuh tidak mau digusur dari tanah warisan orang taunnya (Huda, 2018). Selain itu, di era digital ini penolakan dari warga Jenu dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, melalui akun facebook dan youtube “Tuban Darurat Agraria” serta penggunakan hashtag

#tubandaruratagraria. Salah satu penolakan yang dilakukan melalui media sosial adalah dengan dibuatnya film documenter berjudul “Nama ku Tolang, film documenter perjuangan petani jenu menolak pembangunan kilang minyak”.

Dimana menurut Tiara Apriyani dalam jurnalnya menyebutkan bahwa media sosial dianggap memiliki pengaruh yang besar untuk melakukan aksi unjuk rasa terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Sosial media mampu menciptakan demokrasi baru di era digital tanpa perlu mengeluarkan banyak usaha agar protes yang dilakukan dapat sampai ke telinga pemerintah (Apriyani, 2021).

(8)

Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk membahas tentang resolusi konflik yang dilakukan oleh PT. Pertamina dan pihak pemerintah dalam proses pembebasan lahan pembangunan kilang minyak, karna mengingat bahwa pembangunan kilang minyak merupakan salah satu program prioritas yang mana harus dilaksanakan dalam waktu yang singkat. Sehingga PT. Pertamina dan juga Pemerintah diharuskan melakukan pendekatan persuasive melakukan komunikasi yang baik dengan warga pemilik lahan sehingga pembangunan kilang minyak dapat segera terealisasi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melihat lebih jauh proses komunikasi dalam resolusi konflik yang dilakukan oleh PT.

Pertamina dan juga Pemerintah terkait. Dimana hasil penelitian yang dilakukan dilapangan akan dielaborasi dengan teori konflik dan manajemen konflik dari Wirawan. Dengan demikian peneliti mengambil judul “Resolusi Konflik Pembebasan Lahan Pertanian Dalam Pembangunan Kilang Minyak di Jenu Kabupaten Tuban”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam menyelesaikan konflik pembangunan kilang minyak adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana resolusi konflik pembebasan lahan pertanian dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban?

2. Apa permasalahan yang dihadapi dalam resolusi konflik pembebasan lahan pertanian dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana resolusi konflik pembebasan lahan pertanian

(9)

2. Untuk mengetahui permasalahan apa yang dihadapi dalam resolusi konflik pembebasan lahan pertanian dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban

1.4. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini dapat memberikan dua manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan juga pengembangan wawasan serta ilmu pengetahuan dari disiplin ilmu pemerintahan khususnya mengenai resolusi konflik pembebasan lahan untuk pembangunan demi kepentingan umum. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya. Adapun penelitian ini juga sebagai hasil ilmu yang diperoleh dari mata kuliah politik pertanahan, mata kuliah tersebut telah ditempuh pada semester ganjil yaitu semester 7 lalu, mata kuliah tersebut membahas tentang kebijakan pertanahan dan juga problematika perrtanahan yang terjadi di Indonesia.

2. Manfaat Praktis

Diharapkan hasil dari penelitan ini dapat memberikan manfaat praktis sebagai berikut; Pertama, bagi Pemerintah maupun PT. Pertamina diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi kajian yang dapat digunakan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi akibat adanya pembebasan lahan untuk pembangunan demi kepentingan umum.

Kedua, bagi Akademisi penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu

(10)

tentang bagaimana penyelesaian konflik pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum Ketiga, bagi masyarakat diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman terkait penyelesaian konflik dan juga pengetahuan tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

1.5. Kerangka Berfikir

PT. Pertamina

Pegaturan Sendiri Mediasi Litigasi

1. Dialog dan negosiasi

1. Mediasi 1. Keputusan

Pengadilan

Kesepakatan

1. Pemberian premi asuransi kepada nelayan Ring 1 pembangunan kilang minyak 2. Pemberian

beasisiwa kepada 21 lulusan

terbaik

SMK/SMA di Kecamatan Jenu 3. Mempekerjakan

masyarakat terdampak 4. Putusan penlok

dari Mahkamah Agung

5. Kesepakatan harga jual tanah Tidak Ya

Pemerintahan Kab. Tuban

Masyarakat Terdampak

(11)

Adapun yang dimaksud dengan kerangka berfikir penelitian adalah secara garis besar dari pendekatan resoluai konflik sebagai alat analisis dalam menyelesaikan konflik pembebasan lahan dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban. Yang dimana dalam menyelesaikan konflik yang terjadi terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh PT. Pertamina dan juga Pemerintah Kabupaten Tuban agar kebijakan pembangunan kilang minyak dapat segera terealisasikan.

Dalam melakukan analisis terdapat indikator dari konsep dan juga teori tetang resolusi konflik yang menjadi satu kesatuan yang saling terkait sebagai bahan analisis peneliti. Dalam menyelesaikan suatu konflik terdapat beberapa cara.

Pertama penyelesaian konflik meggunakan metode pengaturan sendiri oleh pihak yang berkonflik untuk menemukan penyelesaian. Kedua mediasi, yang dimana mediasi dilakukan oleh kedua belah pihak yang berkonflik dengan bantuan pihak ketiga untuk menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri. Ketiga litigasi, dimana metode ini adalah metode terakhir dalam menyelesaikan konflik ketika jalur komunikasi antara keduabelah pihak sudah terputus dan tidak memungkinkan untuk melakukan mediasi dan negosiasi. Dari indikator diatas, akan menghasilakan sebuah proses keputusan pembebasan lahan. Dalam proses keputusan tersebut menjadi proses yang dapat menghasilkan keputusan jawaban ya atau tidak. Yang mana jika keputusan tersebut berhasil maka jawaban “Ya”, maka akan memberikan hasil keptusan yaitu pembangunan kilang minyak yang memberikan dampak baik kepada keuangan Negara yaitu menurunkan impor bahan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menngkatkan ketahanan nasional, selain itu juga akan memberikan dampak positif kepada masyarakat terdampak berupa pemberian premi asuransi jiwa kepada nelayan terdampak pembangunan di 5 Desa, pemberian

(12)

beasiswa kepada 21 lulusan terbaik di Kabupaten Tuban dan juga dampak positif lainnya selain memberikan ganti rugi pembebasan tanah . Jika “Tidak” maka alur berfikir akan kembali kepada PT. Pertamina untuk mengkaji ulang tempat pembangunan kilang minyak yang sesuai.

1.6. Definisi Konseptual

Definisi konseptual merupakan definisi atau penjabaran dimana mendefinisikan suatu konsep dengan konsep yang lain atau istilah tertentu (Silalahi, 2014). Definisi konseptual pada dasarnya digunakan sebagai penjelasan secara jelas dan singkat mengenai konsep yang akan digunakan dalam suatu penelitian. Adapun beberapa definisi konseptual yang perlu didefinisikan sesuai dengan tema dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Konflik

Konflik menurut Simon Fisher adalah hubungan yang terjadi di antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan (Gamayanti, 2019). Sedangkan menurut Wirawan, konflik diartikan sebagai proses pertentangan yang diekspresikan diantara dua atau lebih pihak yang sedang terlibat konflik mengenai suatu objek konflik (Wirawan, 2016).

2. Resolusi Konflik

Menurut Simon Fisher (2000) dalam Rosa Gamayanti resolusi konflik adalah suatu upaya untuk menangani berbagai sebab konflik yang kemudian berusaha untuk membangun suatu hubungan baru yang bisa bertahan lama diantara pihak-pihak yang yang terlibat konflik (Gamayanti, 2019). Sedangkan menurut Wirawan resolusi konflik diartikan sebagai proses untuk mencapai

(13)

keluaran konflik dengan menggunakan metode resolusi konflik. Metode resolusi konflik sendiri merupakan proses manajemen konflik yang digunakan untuk menghasilkan keluaran konflik (Rahmah, 2016).

Dari definisi diatas dapat penulis simpulkan bahwa resolusi konflik adalah suatu proses penyelesaian konflik dengan menggunakan metode resolusi konflik, dimana tujuan utama dalam resolusi konflik adalah untuk mencapai keluaran konflik dan tetap mempertahankan hubungan baik setelah konflik tersebut selesai.

3. Pembebasan Lahan

Yang dimaksud dengan pembebasan lahan ialah melepaskan hubungan hukum yang semula terdapat di antara pemegang hak/penguasa atas tanahnya dengan cara memberikan ganti rugi (Negeri, 1975). Dengan kata lain pembebasan lahan merupakan pencabutan hak atas tanah oleh pemerintah yang dimiliki oleh pihak lain untuk keperluan penyelenggaraan kepentingan umum disertai dengan pemberian ganti rugi kepada pihak yang mempunyai hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembebasan tanah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan atas tanah dalam usaha- usaha pembangunan, baik yang dilakukan oleh instansi/badan Pemerintah maupun untuk kepentingan swasta.

1.7. Definisi Operasional

1. Resolusi konflik pembebasan lahan pertanian dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban

a. Pengaturan Sendiri/Mediasi b. Mediasi

(14)

c. Litigasi/ Pengadilan

2. Permasalahan yang dihadapi dalam resolusi konflik pembebasan lahan pertanian dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban

1.8 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. Menurut Cresswell penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna oleh sejumlah individu-individu atau kelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Penelitian dengan metode kualitatif diharapkan dapat menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan atau perilaku yang diamati dari subjek penelitian, bisa dari individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu dalam suatu konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif dan holistic. Metodologi kualitatif sendiri dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan diantaranya; analisis wacana, pendekatan partisipatoris, etnografi, studi kasus, grounded theory, naratif, fenomenologi (Cresswell, 2015).

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif untuk menggambarkan fakta-fakta sesuai dengan data yang didapatkan dari hasil penelitian dilapangan maupun dari hasil studi literatur. Menurut Cresswell penelitian kualitatif bersifat deskriptif yaitu peneliti haruslah tertarik dengan proses, makna serta pemahaman yang diperoleh dari kata-kata dan juga gambar (Cresswell, 2015). Sehingga dalam hal ini peneliti berusaha mendapatkan informasi yang detail terkait dengan resolusi konflik pembebasan lahan dalam pembangunan kilang minyak di Jenu Kabupaten Tuban.

(15)

2. Sumber Data a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang didapatkan langsung oleh peneliti yang berupa opini dari subyek penelitian. Data primer ini didapatkan peneliti dari hasil wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang bersangkutan dan juga melakukan observasi dilapangan.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data tidak langsung yang didapatkan oleh peneliti sebagai pendukung data primer yang didapatkan dari hasil wawancara maupun observasi yang dilakukan di lapangan. Data ini meliputi data atau dokumen yang didapat dari instansi terkait, buku dan jurnal yang berkaitan dengan resolusi konflik pembebasan lahan, berita-berita terkait penelitian, peraturan perundang-undangan maupun peraturan lainnya yang masih berlaku serta mendukung penelitian seperti Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri maupun Peraturan Daerah.

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitin merupakan pihak yang akan menjadi sasaran untuk memperoleh informasi mengenai resolusi konflik pembebasan lahan untuk pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban. Peneliti dapat mewawancarai pihak-pihak yang mengerti dan faham terkait resolusi konflik yang digunakan dalam pembebasan lahan untuk pembangunan kilang minyak di Kabupaten Tuban. Dengan demikian, subjek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Komisi A DPRD Kabupaten Tuban

b. Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tuban

(16)

c. Tim Surveyor Indonesia (Perwakilan PT. Pertamina/pihak ketiga) d. Pemerintah Kecamatan Jenu

4. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara

Teknik pengumpulan ini dilakukan melalui tanya jawab langsung kepada subjek penelitian, hal ini mempermudah peneliti dalam mendapatkan informasi dan keabsahan informasi yang didapat dari pihak yang bersangkutan. Sehingga sebelum melakukan wawancara peneliti harus menentukan infroman kunci. Untuk mendapatkan data yang diinginkan, peneliti melakukan wawancara PT. Pertamina selaku pelaksana pembangunan kilang minyak dan juga warga terdampak. Adapun hasil wawancara yang didapat adalah sebagai berikut:

1. Bapak Fajar Tim Surveyor Indonesia selaku pihak ketiga dari PT.

Pertamina, wawancara dilakukan pada tanggal 2 September 2021.

2. Bapak Fahmi Fikroni Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tuban selaku mediator dalam proses resolusi konflik. Wawancara dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2021.

3. Ibu Wartini Kasi Pemerintahan Kecamatan Jenu. Wawancara dilakukan pada tanggal 2 September 2021.

4. Bapak Narto Kasi Pengadaan Tanah BPN Kabupaten Tuban.

Wawancara dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2021.

(17)

b. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan penelusuran dokumen-dokumen resmi sebagai pendukung data yang telah diapatkan dari hasil wawancara dan juga observasi di lapangan. Adapun hasil dokumen yang didapatkan adalah sebagai berikut:

1. Data kebutuhan luas lahan pembangunan kilang minyak, sumber:

BPN Kabupaten Tuban

2. Peta pembebasan lahan pembangunan kilang minyak, sumber: Tim Surveyor Indonesia

3. Data total hasil pengukuran kilang minyak, Sumber: Tim Surveyor Indonesia

4. Dokumen hasil persidangan di Mahkamah Agung, Sumber: BPN Kabupaten Tuban

5. Teknik Analisi Data

Dalam penelitian ini Teknik analisis data kualitatif mengenai Resolusi Konflik Pembebsan Lahan Dalam Pembangunan Kilang Minyak di Jenu Kabupaten Tuban. Analasis data merupakan sebuah cara yang digunakan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis yang diajukan dalam sebuah penelitian (Sugiyono, 2018). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data dari Milles dan Huberman yang mana dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Model analisis data menurut Milles dan Huberman dalah sebagai berikut:

(18)

a. Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengumpulan dokumen-dokumen terkait penelitian.

Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak terkait seperti pemerintah daerah, Tim surveyor Indonesia yang merupakan pihak ketiga dari PT. Pertamina.

b. Reduksi Data

Setelah dilakukan pengumpulan data di lapangan selanjutnya adalah mereduksi data. Reduksi data adalah proses merangkum, memilah dan memfokuskan pada hal-hal yang penting atau hal-hal yang sesuai dengan pembahasn dari permasalahan yang diangkat dalam penelitian.

c. Penyajian Data

Setelah dilakukan reduksi data tahap selanjutnya adalah penyajian data.

Dimana penyajian data dilakukan dengan tujuan agar data yang telah diperoleh dapat terorganisir, tersusun dalam pola hubungan sehingga semakin mudah untuk dipahami.

d. Penarikan Kesimpulan

Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif menurut Milles dan Huberman adalah dengan melakukan penarikan kesimpulan. Penarikan

Pengumpulan Data

Penyajian Data Penarikan

kesimpulan

Reduksi Data

(19)

kesimpulan atau verifikasi dilakukan untuk mencari makna dari data yang telah dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan atau perbedaan untuk ditarik sebuah kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian.

6. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa terdampak pembangunan kilang minyak yaitu Desa Wadung, Desa Kaliuntu dan Desa Sumurgeneng, Desa Rawasan dan Desa Mentoso Kec. Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui keefektifan dan pebedaan antara penerapan model guided discovery learning disertai concept mapping dalam meningkatkan

Kata keterangan adalah suatu kata atau kelompok yang menduduki suatu fungsi tertentu, yaitu fungsi menerangkan kata kerja, kata sifat, kata keterangan yang masing-masing

Peer Tutoring atau tutor sebaya adalah seorang/beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa tertentu yang mengalami kesulitan belajar serta

Adapun penelitian yang akan penulis lakukan tertuang dalam proposal skripsi ini berjudul “Pengaruh Perilaku Konsumen Terhadap Minat Beli Air Mineral Isi Ulang

Sebelum digunakan, inkubator, wadah dan alat-alat untuk mengambil telur dicuci dengan alkohol 10%, sedangkan air yang digunakan diberi larutan Malachite green dengan

Berdasarkan hasil penelitian, untuk meningkatkan pengaruh Electronic Word of Mouth produk Chatime Indonesia terhadap Purchase Intention disarankan agar Chatime Indonesia

Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa algoritma dan teknik watermarking yang diimplementasikan menunjukkan bahwa kualitas citra watermarked masih dalam keadaan baik

Dari pengolahan data minyak sawit mentah (CPO) diperoleh kesimpulan yaitu pengendalian persediaan minyak sawit mentah (CPO) dengan metode EOQ tahun 2011 sebanyak 1.138 ton dengan