17
Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Komunikasi Massa
Dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dari berkomunikasi. Tujuan manusia dalam berkomunikasi adalah memberi informasi dan menerima informasi. Seperti yang dikemukakan Harold D.
Laswell, who says what in which channel to whom with what effect?.
Paradigma ini menjelaskan tentang proses komunikasi dengan diawali dari seorang komunikator yang menyampaikan sebuah pesan melalui media, sarana, maupun saluran yang mendukung apabila jarak jauh. Pesan yang disampaikan komunikator akan diterima oleh komunikan yang akan menimbulkan efek, dampak sebagai pengaruh dari pesan tersebut. Dari 5 unsur tersebut terdapat penambahan unsur lainnya berupa feedback atau umpan balik, yakni tanggapan komunikan setelah menerima pesan tersebut (Mulyana, 2010).
Proses komunikasi bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja tergantung pada situasi tertentu. Jika situasi yang terjadi terhambat oleh jarak (jauh). Komunikasi juga dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah peserta komunikasi yang terlibat. Jika peserta terlibat banyak atau ditujukan pada khalayak ramai yang tersebar dibanyak tempat disebut sebagai komunikasi massa. Pesan dalam komunikasi massa disampaikan secara umum, cepat, dan serentak.
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang dilakukan melalui berbagai macam media seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi, kemudian komunikan hanya sebagai penikmat media. Seperti halnya yang dikatakan Bittner dalam Khomsahrial Romli, komunikasi massa merupakan pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Khomsahrial, 2016). Sedangkan komunikasi massa menurut Meletzke, komunikasi massa segala bentuk komunikasi secara
18
terbuka memberikan suatu gambaran konkret kepada publik melalui media dan teknis penyebarannya secara tidak langsung dan satu arah (Romli, 2016).
Hiebert, Uguran, dan Bohn mengungkapkan komunikasi massa memiliki komponen-komponen yang meliputi media, regulasi, filter, audience, dan timbal balik. Komunikator yang berperan dalam komunikasi massa yakni pemilik media, produser, aktor, presenter, dan sebagainya.
Banyaknya komunikator tersebut membuat sifat komunikator menjadi komplek, karena harus melalui banyak proses terlebih dahulu dalam menyampaikan sebuah pesan. Hal ini disebabkan informasi yang disampaikan dalam media tidak dapat dibagikan secara mentah-mentah.
Pesan dalam komunikasi massa terdapat regulasi, kode etik, maupun lingkup batasan lain yang harus diikuti (Romli, 2016).
Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi Komunikasi di era sekarang telah berkembang pesat. Khususnya pada penyebaran informasi.
Kini terdapat inovasi media baru, yang dalam penggunaannya menggunakan kecanggihan teknologi berbasis internet. Komunikasi yang terjalin tidak satu arah melainkan 2 arah atau terjadi interaksi.
2.2 Media Baru
Menurut Jan Van Djik mengungkapkan era media baru ditandai dengan apa yang disebut konvergensi media. Secara struktural konvergensi media berarti integrasi dari tiga aspek, yakni telekomunikasi, dan komunikasi massa dalam satu medium. Media baru telah digunakan sejak tahun 1960-an dan dijelaskan bahwa media baru dapat menyalurkan informasi dari komunikator (sumber informasi) kepada informan (penerimaa informasi). serta masuk ke dalam aktivitas komunikasi massa, karena mencakup fungsi media lain seperti audio, video, dan teks (Fauzi, 2018).
Papacharisi dan Rubin juga mengungkapkan penggunaan media baru ditandai dengan keaktifan khalayak. Keaktifan halayak dipastikan oleh aksebilitas publikasi yang telah oleh tersedia media baru dalam tiga hal,
19
yakni kapan informasi itu diakses, dan dan bagaimana publik tersebut akan membagikan terkait publikasi yang telah didapatkan atau tidak. Sharing dilakukan dengan membagi link atas informasi yang mereka dapatkan dari internet atau sekedar menyampaikan informasi dari jaringan media sosial tempat mereka terlilbat (Rianto, 2016).
Tabel 2.1 Perbedaan Antara Era Media Pertama dan Kedua
Era media Pertama Era Media Kedua
Tersentral (dari satu sumber ke banyak khalayak).
Tersebar (dari banyak sumber ke banyak khalayak).
Terbuka peluang sumber atau media untuk dikuasai.
Tertutupnya penguasaan media dan bebasnya control terhadap sumber.
Tarfragmentasinya khalayak dan dianggap sebagai massa.
Media memfasilitasi setiap khalayak (warga negara)
Media dianggap dapat atau sebagai alat mempengaruhi kesadaran
Media melibatkan pengalaman khalayak baik secara ruang maupun waktu
Sumber : (Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia), 2014)
Keberadaan media baru membuat penggunanya menggunakan ruang seluas- luasnya, memperluas jaringan seluas-luasnya. Salah satu baru media baru yang dipakai sekarang adalah media sosial. Komunikasi melalui media sosial memberikan manfaat bagi penggunanya dalam bertukar segala bentuk informasi. Bentuk komunikasi yang terjalin dua arah, tidak satu arah seperti media lama. Komunikator dan komunikan dapat saling berinteraksi tanpa ada batasan ruang dan waktu. Maka dari itu muncul sebuah istilah “komunikasi online”, yang memudahkan dan dinilai lebih efektif.
20
2.3 Media Sosial
2.3.1 Pengertian media sosial
Teknologi informasi komunikasi yang banyak digunakan di era ini adalah media sosial. Media sosial merupakan sebuah media online dimana penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan membuat konten meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat diseluruh dunia. Adapun berbagai macam jenis jejaring sosial antara lain Facebook, Instagram, Friendster, Linkedln, youtube.
Media sosial yang di dalamnya terdapat Twitter, Instagram, Facebook hingga Flickr telah mengubah pola komunikasi individu.
Sebelumnya pola komunikasi hanya dilaksanakan secara tatap muka, komunikasi kelompok, komunikasi massa, telah berubah dengan mengikuti perkembangan teknologi, khususnya internet. Perubahan tersebut mempengaruhi proses komunikasi. Proses komunikasi yang terjadi merubah konstruk sosial pada ranah individu, organisasi, dan kelembagaan (Nurudin, 2013).
Meike dan Young dalam Nasrullah (2015) membagi istilah media sosial dengan komunikasi pribadi (to be share one-to-one) dalam arti berbagi antar individu dan dengan siapa saja tanpa kekhasan individu yang didefinisikan sebagai konvergensi dengan media publik. Oleh karena itu, komunikasi melalui media sosial berlangsung dalam dua arah yakni pertukaran informasi, kolaborasi, dan saling mengenal dalam bentuk tertulis, visual, dan audiovisual (Setiadi, 2016).
2.3.2 Instagram
Media sosial memudahkan penggunanya dalam mencari informasi dan kebutuhan komunikasi. Terdapat berbagai macam media sosial yang tersebar di dunia maya, salah satunya adalah Instagram. Menurut Frommer Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk pemilik Instagram sendiri. Berdasarkan
21
Bambang (2012:53) di dalam tulisan karyanya Instagram Handbook bahwa terdapat indikator dalam media sosial yaitu terdapat geotag, hastag, share, follower, komentar, like, dan mention (dalam Tampubolon et al., 2016)
Penggunaan aplikasi instagram yang mudah membuat penggunanya menjadikan instagram sebagai media bertukar informasi yang dibutuhkan.
Penggunaan media sosial instagram dinilai sebagai media yang terus tumbuh dan biasa dipakai di kalangan anak muda (Sari & Basit, 2020). Sistem penggunaan di Instagram terdapat mengunggah dan mengedit foto ataupun video, fitur filter yang ada pada foto dan video, menyediakan keterangan foto (caption), menyediakan lokasi foto atau video, menyediakan kolom komentar pada foto atau video guna saling berinteraksi, memberikan pesan melalui foto ataupun video (Direct Message), membuat grup untuk bertukar informasi melalui direct message. Begitupun sistem pertemanan di Instagram dikategorikan menjadi following dan followers. Pada Instagram memiliki kolom komentar dalam semua konten yang diunggah oleh pengguna, dan pengguna lain yang melihatnya dapat langsung membalas foto yang diunggah dalam bentuk komentar maupun tombol like.
2.3.3 Cyberbullying
Cyberbullying merupakan tindakan penghinaan, kekerasan psikologis, atau intimidasi terhadap orang lain melalui perangkat teknologi informasi di dunia maya. Perilaku cyberbullying berupa mempermalukan, mengintimidasi, menyebar keburukan dan kebencian. Perilaku ini ditujukan pada korban secara terang-terangan dan diketahui oleh publik (Nasrullah, 2017)Perilaku cyberbullying bisa ditemui pada salah satu media sosial yaitu instagram. Kebebasan pada penggunaan media sosial khususnya pada instagram menyebabkan cyberbullying dilakukan dengan mudah. Saat ini banyak orang menggunakan akun palsu atau menyamarkan nama guna mengintimidasi orang. Bentuk cyberbullying yang dilakukan pelaku terhadap korban berupa hinaan fisik, hinaan penampilan, body shaming, face shaming.
22 Berikut beberapa contoh cyberbullying:
Gambar 2.1.1 Sumber: Dokumen pribadi
Gambar 2.1.2 Sumber: Dokumen Pribadi
23
Gambar 2.1.3 Sumber bintang,com
2.4 Media sosial Instagram Sebagai Media Komunikasi dan Informasi
Media komunikasi merupakan alat penyampaian komunikasi yang memanfaatkan berbagai media. Menurut Katz Gurevitch dan Haas dalam Nuryanto dan Femi mendefinisikan khalayak dalam menggunakan media komunikasi mencakup:
1. Cakupan dalam isi media, drama tv, opera, kabar berita, dan lain sebagainya
2. Jenis dari setiap media, berupa hasil cetak dan juga bisa elektronik 3. Terpaan media dan situasi didalamnya, terpaan dari ranah dalam
maupun dari ranah luar, baik saat sendirian maupun kolektif (Nuryanto
& Oktaviani, 2020).
Salah satu media sosial yang digunakan sebagai media komunikasi dan informasi merupakan Instagram. Instagram dinilai menjadi media komunikasi dan informasi yang efektif atau efisien. Hal ini dibuktikan pada hasil jurnal pernelitian terdahulu (Nuryanto, Femi Octaviani), dilihat dari komunitas penggemar Blackpink di instagram dengan membuat sebuah ruang dengan para followersnya guna saling berkomunikasi, berinteraksi dan bisa membagikan segala informasi idolanya.
Dalam media sosial instagram ada beragam informasi yang terkaji seperti musik, olahraga, hobi, bahkan informasi tentang perempuan. Di era modern ini
24
masyarakat dengan mudah mencari informasi. Selain mencari informasi mereka juga dapat berkomunikasi atau berdiskusi dengan sesama pengguna instagram. Hal ini dimanfaatkan oleh beragam komunitas, mereka dapat menyebarkan pesan atau informasi dalam satu ruang yaitu instagram yang dapat diakses dimanapun, kapanpun, tanpa dibatasi ruang. Mereka menggunakan media Instagram untuk menarik perhatian orang lain agar melihat, mengunjungi, berinteraksi dan berbagi informasi tautan yang berisi sesuai isi konten didalam akun instagramnya.
Komunitas dalam instagram ini biasa disebut dengan komunitas virtual.
2.5 Komunitas Virtual
Menurut Fernald Tonnies, komunitas merupakan sitem sosial yang berdasarkan kesamaan rasa (kepemilikan), saling membutuhkan, dan terdapat nilai- nilai (Nasrullah, 2017). Dalam komunitas tentunya terjalin sebuah komunikasi, tanpa adanya komunikasi komunitas tidak akan berjalan. Karena dari komunikasi akan membentuk sebuah kebersamaan untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Crow dan Allan, Komunitas bisa terbagi menjadi tiga hal diantaranya berlandaskan lokasi, tempat, atau daerah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekelompok orang memiliki sesuatu yang sama secara geografis. Dan mengenal satu sama lain sehingga menciptakan interaksi dan berkontribusi terhadap lingkungan berdasarkan minat, sekelompok orang yang membentuk komunitas karena mereka memiliki kepentingan yang sama dan kepentingan, seperti agama, pekerjaan, suku, ras, hobi atau berdasarkan gangguan seksual (Irawan, 2017).
Perkembangan di era teknologi kini diikuti muncul nya media sosial salah satunya Instagram. Media sosial Instagram tidak hanya sekedar mengakses sebuah foto, melainkan bisa membuat para penggunanya saling berinteraksi dan saling mengenal. Dalam perubahan perilaku dalam cara berkomunikasi pada hidup bermasyarakat dan menimbulkan budaya baru antara individu satu dan lainnya menjadi sebuah kelompok (Irawan, 2017). Komunitas dalam Instagram disebut komunitas virtual yang diartikan sebagai komunitas ruang hampa karena anggotanya berhadapan dengan ilusi. Anggota tidak dapat saling berhadapan secara fisik sebagaimana kehidupan nyata. Mereka hanya berhadapan dengan layar
25
computer ataupun handphone. Mereka berada dalam sebuah ruang imajinasi, tidak dipungkiri jika komunitas virtual dikatakan komunitas semu (Nurudin, 2013).
Adapun kharakteristik pada komunitas virtual menurut Reingold didasarkan pada persamaan kesukaan, terdapat komunikasi yang teratur, terdapat identifikasi atau identitas, fokus membahas pada sesuatu suatu perihal, penyatuan berbagai hal atau persamaan diantara kandungan komunikasi yang sedang dilakukan, keterbukaan aksebilitas dalam informasi dan tujuan komersil (Hidayanti & Martunis, 2017).
Komunitas virtual yang ada pada instagram, dapat dikelompokkan dari umum, peneliti, minat, kesamaan kategori, sponsor, hobi, peduli. Seperti halnya kumpulan para gadis, pecinta hewan, pecinta otomotif. Dihubungkan dengan penelitian ini, bahwa obyek penelitian adalah isi konten media sosial dari akun @rahasiagadis.
Akun tersebut merupakan salah satu akun komunitas yang memiliki pengikut cukup banyak dan dikhususkan kepada para gadis.
2.6 Tingkat Responsivitas
Responsivitas atau yang bisa disebut dengan daya tanggap menggambarkan kemampuan organisasi publik dalam menjalankan misi dan tujuannya, guna untuk memenuhi kebutuhan publik. Responsivitas yang kurang baik ditunjukkan dengan adanya tidak seimbangnya antara pelayanan dengan kebutuhan manusia. Hal itu menunjukkan gagalnya dalam dan tujuannya, sehingga memiliki kinerja yang buruk (Dwiyanto, 2008).
Berbagai pandangan definisi dari responsivitas menurut para ahli sesuai dengan bidang masing-masing. Seperti halnya pada bidang bisins Menurut Blanchard mengungkapkan bahwa responsivitas atau daya tanggap dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membantu pelanggan dalam memberikan jasa pelayanan dengan cepat (Nurani et al., 2015). Sedangkan menurut Fitzsimmons salah satu salah satu faktor dalam menentukan kualitas pelayanan adalah responsivitas, suatu bentuk kesadaran atau keinginan dalam membantu konsumen dengan memberikan pelayanan yang terbaik.
Pada bidang komunikasi Menurut Rubin & Martin responsivitas atau daya tanggap adalah dimensi yang menonjol dari keterlibatan interaksi, serta
26
berfokus pada aspek relasional dari interaksi dan umumnya dianggap memiliki kualitas feminin seperti halnya ramah, penyayang, pengertian, adaptif, hangat tulus, dan tertarik dalam interaksi dengan orang lain. Ketanggapan dalam komunikasi sebaliknya mengacu pada menjadi sensitif dan empati kepada orang lain (Men, 2021). Pada konteks penelitian ini responsivitas dalam sebuah komunitas bisa diartikan sebagai daya tanggap / keterlibatan komunitas dalam menangkap sebuah isu yang terjadi dan dikemas sebagai sebuah konten. Isi pesan dalam sebuah konten tersebut diharapkan tersampaikan dengan baik kepada khalayak dan menghasilkan efek yang positif.
Adapun tingkat responsivitas dalam akun @rahasiagadis untuk mengukur nilai kinerja atau daya tanggap pemilik akun dalam menyajikan isi konten, menanggapi isu yang beredar, melayani atau menanggapi segala respon followers, serta menyediakan program Confession Room. Dalam mengukur kinerja tersebut dilihat dari responsif followers selama menjadi anggota akun @rahasiagadis.
2.7 Terpaan Media
Kehadiran media semakin memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi, tak bisa dipungkiri bahwa kini kehidupan masyarakat tergantung pada kecanggihan teknologi. Selain mempunyai beberapa manfaat, teori media dan komunikasi massa hampir sebagian penggunanya terkena pengaruh atau efek.
Menurut Littlejohn & Foss 2009, media memiliki efek yang sangat langsung dan tidak langsung pada audiens (Musfialdy & Anggraini, 2020). Maka diyakini bahwa media massa diyakini memiliki terpaan media yang dahsyat untuk mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Terpaan media dapat berarti kegiatan mendengarkan, membaca dan melihat pesan melalui media. Menurut Effendy proses komunikasi massa dalam terpaan media akan menimbulkan efek tertentu.
Terdapat tiga efek utama yang ditimbulkan oleh proses komunikasi massa dalam terpaan media. Efek tersebut antara lain efek kognitif, afektif dan behavioral.
Pada terpaan media terjadi proses penerimaan stimulus melalui alat indra yang dimiliki oleh diri kita seperti, penglihatan pendengaran dan juga perasaan.
Sedangkan Jalaluddin Rahmat menjelaskan terpaan media adalah banyaknya
27
informasi yang didapatkan dari media sosial, yang mana meliputi durasi, atensi maupun frekuensi di setiap jenis media yang digunakan.
Mеnurut Rosengren tеrpааn mеdiа dаpаt diukur mеlаlui dimеnsi- dimеnsi sеpеrti bеrikut:
1. Frеkuеnsi, yаitu mеliputi rutinitаs аtаu bеrаpа kаli sеsеorаng mеnggunаkаn mеdiа dаn mеngkonsumsi isi pеsаn dаri mеdiа.
2. Durаsi, yаitu mеliputi bеrаpа lаmа sеsеorаng mеnggunаkаn mеdiа dаn mеngkonsumsi isi pеsаn dаri mеdiа.
3. Аtеnsi, yаitu tingkаt pеrhаtiаn yаng dibеrikаn sеsеorаng dаlаm mеnggunаkаn mеdiа dаn mеngkonsumsi isi pеsаn dаri mеdiа (Rizki & Edriana, 2017)
2.8 Teori S -R
Teori S-R singkatan dari Stimulus (Rangsangan) –– Respons (Efek).
Menurut Effendy teori ini menunjukkan sebagai proses aksi (stimulus) dan reaksi (respon) yang sangat sederhana, dan juga dianggap sebagai proses pertukaran informasi. Stimulus berupa rangsangan yang terjadi baik diluar maupun didalam tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya suatu perubahan tingkah laku. Respons merupakan perubahan yang disebabkan oleh stimulus. Maka diasumsikan perubahan perilaku (respons) tergantung bagaimana kualitas stimulus yang diterima.
Menurut Bungin prinsip pada stimulus-response merupakan dasar teori hipodermik, yang merupakan proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengruh. Teori ini memandang bahwa sebuah pemberitaan media massa diibaratkan sebagai obat yag disuntikkan kedalam pembuluh daarah audience, kemudia audiene akan beraksi seperti yang diharapkan. Pada teori s-r mengansumsikan bahwa pesan pesan media (stimulus) yang disebarkan secara serempak, kemudia diterima oleh sejumlah besar individu yang menghasilkan respon yang berbeda-beda. Efek yang ditimbulkan adalah rekasi khusus terhadap stimulus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.
28
Model S-R
Model teori S-R pada penelitian ini adalah isi konten akun
@rahasiagadis sebagai stimulus (rangsangan), yang disebarkan secara serentak kepada followers akun @rahasiagadis sebagai organis, kemudian akan menghasilkan sebuah respons (tanggapan) dari followers akun
@rahasiagadis berupa kesadaran ataupun perubahan sikap.
2.9 Efek Komunikasi
Dalam sebuah proses komunikasi yang berlangsung antara komunikator dan komunikan menimbulkan suatu proses efek komunikasi atau yang bisa disebut feedback sehingga efek sendiri adalah perubahan- perubahan yang terjadi dalam diri audience akibat terpaan pesan-pesan yang ada di media massa ataupun media sosial.
Ada beberapa efek komunikasi massa, diantaranya: kognitif, afektif, dan behavioral. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan. Efek afektik berhubungan dengan emosi, perasaan, dan attitude (sikap). Sedangkan efek behavioral berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
1. Efek Kognitif, timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Efek ini menjelaskan bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi. Khalayak yang mulanya tidak tahu menjadi tahu.
2. Efek Afektif, kadarnya lebih tinggi dari kognitif dan berkenaan dengan suasana emosional dalam menanggapi suatu objek. Maka akan timbul perasaan jengkel, iba, kasihan, atau senang.
3. Efek Behavioral, timbul pada diri khalayak dalam bentuk peilaku, tindakan, atau kegiatan. Namun efek yang terjadi pada setiap individu
Stimulus Respons
29
akan berbeda, karena perilaku merupakan hasil dari faktor kognitif dan lingkungan. Artinya audience mampu memiliki keterampilan tertentu, bila mendapatkan hal positif antara stimuli yang didapat dan karkteristik pada dirinya.
2.10 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang akan diidentifikasikan sebagai masalah yang penting. Kerangka berpikir dalam penelitian perlu dikemukakan apabila penelitian tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih (Darmawan, 2013).
Kerangka berpikir merupakan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan, kemudia dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga menghasilkan hubungan antarvariabel yang diteliti. Hubungan variabel ini digunakan untuk menentukan hipotesis.
30
Stimulus merupakan rangsangan dari sebuah isi pesan dan ditujukan kepada khalayak
Fenomena Komunikasi
Pemanfaatan sosial media Instagram pada akun @rahasiagadis sebagai media edukasi dalam membahas isu cyberbullying yang dikomunikasikan kepada
followersnya
Tanggapan followers pada konten isu cyberbullying yang diposting akun @rahasiagadis
• Kognitif
• Afektif
• Behavioral
Positif Negatif
Stimulus yang ada akan diterima dan diolah oleh organism yang merupakan persepsi followers @rahasiagadis, sehingga
muncul perasaan untuk bertindak.
31
2.11 Hipotesis
Hipotesis yaitu hasil belum final dari rumusan masalah dari peneliti, maka rumusan masalah dalam penelitian itu dibentuk dalam wujud kalimat bertanya. Bisa dikatakan belum final karena tanggapan yang diberi pada teori yang relevan. Masih belum berlandaskan pada realitas empirik yang didapatkan dengan mengumpulkan berbagai data (Sugiyono, 2012)
Pernyataan Hipotesis dibagi dua yaitu H0 dan Ha. Dalam penelitian ini himpunan yang digunakan peneliti adalah:
1. Himpunan 0 (Ho) adalah tidak ada pengaruh terpaan isi konten akun
@rahasiagadis terhadap tingkat responsivitas pada isu cyberbullying 2. Himpunan alternatif (Ha) Terdapat pengaruh tepaan isi konten akun
@rahasiagadis terhadap tingkat responsivitas pada isu cyberbullying
Model hipotesis sebagai berikut:
Terpaan Isi Konten Akun
@rahasiagadis
Tingkat Responsivitas Pada Isu Cyberbullying
Perempuan
- Frekuensi - Durasi - Intensitas
- Tingkat Rendah - Tingkat Sedang - Tingkat Tinggi
32
2.12 Definisi Konseptual
Definisi Konseptual adalah batasan tentang pengertian yang diberikan peneliti terhadap variabel-variabel (konsep) yang hendak diukur, diteliti dan digali datanya (Hamidi, 2010). Konsep dari penelitian ini sebagai berikut:
a) Terpaan informasi merupakan suatu proses dimana terjadi respon kognitif atau pemikiran ketika mereka membaca, melihat, atau mendengar komunikasi tersebut, atau menimbulkan daya atau reaksi yang akan berakibat atau menimbulkan timbal balik pada seseorang.
b) Konten media Instagram merupakan pesan yang diunggah berupa gambar atau video melalui aplikasi Instagram. Konten juga berupa lambang- lambang baik secara verbal maupun non verbal dengan tujuan untuk menambah pengetahuan, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku menjadi lebih baik.
c) Cyberbullying merupakan tindakan penghinaan, kekerasan psikis, atau intimidasi yang dilakukan melalui perangkat teknologi dan informasi di dunia maya terhadap orang lain. Tindakan ini dapat berupa mempermalukan, mengitimidasi, menyebar keburukan dan kebencian. Hal ini bisa dilakukan secara khusus kepada korban maupun dapat diketahui public.
d) Tingkat responsivitas merupakan nilai tanggap dalam menangkap sebuah pesan dan dikemas menjadi sebuah konten. Konten yang disajikan menimbulkan sebuah reaksi atau tanggapan dari penerima pesan. Adapun indikator yang diuji dalam pengukurannya meliputi kognitif, afektif, behavioral.
2.13 Definisi Operasional
Definisi Operasional Variabel merupakan seperangkat petunjuk yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan mengukur suatu variabel atau konsep untuk menguji kesempurnaan, Definisi operasional ditemukan
33
item-item yang dituangkan dalam instrument penelitian. (Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D, 2014)
Definisi operasional menunjukkan bagaimana mengukur variabel sesuai kebutuhan.
1. Variabel bebas (X) : Terpaan isi konten dalam penelitian ini adalah tinggi rendahnya terpaan isi konten akun @rahasiagadis yang diukur dengan:
a) Frekuensi mengikuti aktivitas akun @rahasiagadis dalam seminggu terakhir
b) Durasi followers mengikuti aktivitas akun @rahasiagadis dalam seminggu terakhir
c) Intensitas mengikuti aktivitas akun @rahasiagadis dalam seminggu terakhir.
2. Variabel terikat (Y) : tingkat responsivitas dalam penelitian ini adalah nilai tinggi rendahnya daya tanggap pada isu Cyberbullying yang dibahas di akun @rahasiagadis dalam konten women support women yang diukur dengan :
a) Tingkat Rendah, pada tingkat ini sikap responden menunukkan mengetahui atau sadar adanya isu cyberbullying perempuan yang dilakukan dari perempuan kepada perempuan.
b) Tingkat Sedang, pada tingkat ini sikap responden menunjukkan adanya suasana emosional seperti marah, peduli, jengkel ketika mengetahui isu cyberbullying dari perempuan kepada perempuan.
c) Tingkat Tinggi, pada tingkat ini sikap responden menunjukkan adanya perubahan perilaku setelah menerima stimulus seperti halnya keikutsertaan dalam diskusi, aksi/kampanye tentang isu cyberbullying, mensupport antar sesamaperempuan.
34 Tabel 2.2 Matriks Variabel
Variabel Indikator Item Variabel Skala Data
Sumber
Frekuensi 1. Berapa sering mengakses media sosial instagram 2. Berapa sering
melihat
postingan akun
@rahasiagadis
Skala Likert
Angket (kesioner)
(X) Terpaan isi konten akun pada akun Instagram
@rahasiagadis
Durasi 1. Jangka waktu waktu
mengakses akun dalam seminggu terakhir
2. Jangka waktu memahami isi konten
Intensitas 1. Perhatian dalam mengakses akun
@rahasiagadis 2. Perhatian pada
konten “women support women”
35 (Y) Tingkat
Responsivitas pada isu cyberbullying perempuan
Rendah Kesadaran dengan adanya isu
cyberbullying perempuan.
Skala Likert
Angket (Kuesioner)
Sedang Kepekaan dengan adanya isu
cyberbullying perempuan.
Tinggi Perilaku dalam menanggapi isu cyberbullying perempuan