• Tidak ada hasil yang ditemukan

( Word to PDF Converter - Unregistered ) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "( Word to PDF Converter - Unregistered ) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

( Word to PDF Converter - Unregistered ) http://www.Word-to-PDF-Converter.net

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum MAN 1 Polman a. Sejarah Berdirinya MAN 1 Polman

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Polman merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, yang pada awalnya berasal dari SP-IAIN Alauddin Ujung Pandang Filial Polewali pada tahun 1968 sampai dengan 1970. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1978, SP-IAIN Alauddin Ujung Pandang filial Polewali berubah status menjadi SP-IAIN cabang Polewali selanjutnya dengan keluarnya SK bersama 3 (tiga) Menteri, yaitu Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 34, 35, 36 tahun 1978 tentang perubahan Struktur Pendidikan Agama pada Kementerian Agama, bahwa semua sekolah Agama seperti PGA, SP-IAIN berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (berijazah Aliyah Negeri). Dengan demikian PGA dan SP-IAIN Polewali berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Polmas pada tahun 1980. Lokasi Madrasah Aliyah Negeri Polmas selanjutnya ditempatkan di kecamatan Wonomulyo sampai sekarang.

Sejak berdirinya pada tahun 1980, MAN Polman telah dipimpin oleh beberapa orang kepala Madrasah yaitu:

(2)

1) Pada Tahun 1980-1986 dipimpin oleh Drs. Abd. Jalil Musa 2) Pada Tahun 1986-1989 dipimpin oleh Drs. H. Ahmad Razak 3) Pada Tahun 1989-1992 dipimpin oleh Drs. H. Muhammad Zubair 4) Pada Tahun 1992-2005 dipimpin oleh Drs. H. Alimuddin Lidda 5) Pada Tahun 2005-Sekarang dipimpin oleh Dra. Hj. Ruaedah, M.Si.

Dalam upaya pengembangan, Madrasah Aliyah Negeri Polmas mendirikan beberapa kelas jauh yaitu MAN kelas pisah di kelurahan Manding Kecamatan Polewali, selain itu MAN Polmas juga membimbing kelas filial yaitu MAN filial Majene di Kab.

Majene dan MAN filial Mamuju di kabupaten Mamuju. Sejak tahun 1994 MAN Majene telah memisahkan diri dari MAN Polmas selaku MAN Induk, maka MAN filial Mamuju dengan sendirinya mengikut kepada yang terdekat dari daerahnya dalam hal ini MAN Mejene.

Dengan terpisahnya kedua Madrasah di atas, maka Madrasah filial dari MAN Polmas berkurang, selain sekolah filial tersebut juga membawahi beberapa Madrasah Aliyah Swasta (MAS) yaitu: MAS DDI Perguruan Islam Campalagian yang berkedudukan di Lapeo Kecamatan Campalagian, MAS DDI Tinambung yang berkedudukan di kecamatan Tinambung, Madrasah Aliyah Syekh Hasan Yamani Campalagian yang berkedudukan di kecamatan Campalagian serta MAS DDI Kanang yang berkedudukan di Kanang Desa Batetangnga Kecamatan Binuang.

(3)

Pada tahun 1990 Madrasah Aliayah Negeri (MAN) Polmas kembali berubah status menjadi Sekolah Menengah Umum Agama (SMU “A” plus). Perbedaan MAN dengan SMU Agama (SMU “A” Plus) terletak pada bidang studi yang diajarkan, yang pada saat berstatus MAN penjurusannya terbagi kedalam tiga jurusan yaitu:

1) Program pilihan A1 adalah program ilmu-ilmu Agama.

2) Program pilihan A2 adalah program ilmu-ilmu Biologi.

3) Program pilihan A3 adalah program ilmu-ilmu Sosial.

Setelah berubah dari MAN ke SMU Agama (SMU “A” Plus), maka bidang studi yang diajarkan juga ikut berubah. Adapun program bidang studi yang menjadi pilihan pada SMU “A” Plus adalah:

1) Program pilihan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

2) Program pilihan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

3) Program pilihan Ilmu Pengetahuan Bahasa (Bahasa).

Setelah MAN Polmas berubah menjadi SMU “A” Plus maka program ilmu-ilmu Agama dihapuskan dan diganti dengan program ilmu-ilmu bahasa, tetapi pergantian ini tidak menjadikan bidang studi agama ikut terhapus melainkan hanya jamnya saja yang berkurang.

Namun pada perubahan tersebut hanya perubahan nama, MAN Polmas tetap digunakan.

Pada tahun 2005 kabupaten Polewali Mamasa mengalami pemekaran dan terbentuklah kabupaten Mamasa. Kabupaten Polmas akhirnya berubah menjadi kabupaten Polewali Mandar. MAN Polmas yang berada di kabupaten Polewali Mandar akhirnya

(4)

menyesuaikan menjadi MAN Polewali Mandar. Pada tahun 2009, Kantor Kementerian Agama Wilayah Provinsi Sulawesi Barat mengembangkan MAN Polman dengan mendirikan MAN 2 Polewali yang berkedudukan di kecamatan Matakali. Dengan berdirinya MAN 2 Polewali maka MAN Polman yang berkedudukan di kecamatan Wonomulyo selanjutnya menjadi MAN 1 Polman.

b. Visi Misi dan Tujuan MAN 1 Polman

Visi adalah menyangkut tentang sesuatu yang diinginkan dari sekolah dan keinginan ini dapat bersumber dari masyarakat sebagai pihak pengguna sekolah dan pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap sekolah. Sedangkan misi adalah pernyataan yang berhubungan dengan visi atau operasionalisasi dari visi yang meliputi aspek jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

MAN 1 sebagai lembaga pendidikan menengah berbasis Agama diharapkan merespon perkembangan dan tantangan masa depan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di era informasi dan globalisasi ini. MAN 1 ingin merespon harapan itu dengan visi: “Unggul dan kompetitif dalam prestasi iptek dan imtak yang dilandasi akhlakul karimah”.

Visi ini dijabarkan dalam misi sebagai berikut:

1) Mengintegrasikan pembelajaran umum ke dalam pembelajaran agama.

2) Mengimplementasikan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan sehari-hari pada semua komponen pendidikan.

(5)

3) Menyiapkan serta mengoptimalkan dan memberdayakan sarana prasarana yang ada.

4) Meningkatkan kompetensi tenaga kependidikan.

Adapun tujuan yang ingin dicapai MAN 1 Polman yaitu:

1) Terwujudnya kinerja organisasi MAN 1 yang kompak, inovatif, transparan, dan akuntabel.

2) Terciptanya peningkatan pemahaman dan pengamalan mata pelajaran agama.

3) Tumbuhnya sikap normal dan profesionalisme guru/staf terhadap tugas-tugasnya.

4) Siswa mampu memperoleh nilai UN rata-rata 8,00 dan US 9,00.

5) Adanya siswa yang meraih predikat juara dalam bidang lomba MIPA, keterampilan, olahraga, dan seni.

6) Terbentuknya sikap kepemimpinan, perilaku, dan moral siswa.

7) Tersedianya fasilitas-fasilitas ruang dan alat pembelajaran yang memenuhi standar.

8) Meningkatnya partisipasi masyarakat dan komite terhadap pengembangan profesi madrasah.

Sejak berdiri pada tahun 1980, siswa-siswi MAN 1 telah meraih sejumlah prestasi pada sejumlah kejuaraan atau lomba dibidang keterampilan, olahraga, dan seni baik pada tingkat kecamatan, kabupaten maupun pada tingkat provinsi. Berikut ini dipaparkan sejumlah prestasi MAN 1 dalam kurun waktu empat tahun terakhir:

Tabel. 1

(6)

Prestasi Siswa MAN 1 Polman

NO PRESTASI JENIS KEJUARAAN/LOMBA TINGKAT TAHUN

1 2 3 4 5

1. Juara II Gerak Jalan Putra Hari Pramuka Kabupaten 2007 2. Juara III Lomba MC Hari Pramuka (PA) Kabupaten 2007 3. Juara III Lomba MC Hari Pramuka (PI) Kabupaten 2007

4. Juara I Atletik Kabupaten 2007

5. Juara I Cerdas Cermat tingkat MA Kecamatan 2007

6. Juara II Lomba Puisi Provinsi 2008

7. Juara II Lomba Pidato 3 Bahasa Kabupaten 2008

8. Juara I Bola Voli Putri Provinsi 2008

9. Juara I Hafalan Juz 1-5 Kabupaten 2008

10. Juara I Tenis Meja Beregu PA-PI Provinsi 2008

11. Juara I Senam Indonesia jaya Provinsi 2008

12. Juara III Outbound PA-PI Provinsi 2008

13. Juara I Presentase Makalah HAB Provinsi 2009

14. Juara I Lomba Hafalan juz 1-5 Provinsi 2009

15. Juara I Gerak Jalan Penegak PA dan PI Provinsi 2009

16. Juara I Qasidah Rebana Kabupaten 2009

17. Juara I Lomba Pidato Kemerdekaan Provinsi 2009

18. Juara I Bola Voli Putra Kabupaten 2009

19. Juara II Pidato Tiga Bahasa Provinsi 2009

20. Juara II Lomba Kaligrafi Provinsi 2009

21. Juara I Bola Voli Putra Provinsi 2009

22. Juara II LKKB PA dan PI Provinsi 2009

23. Juara II Kemah Tergiat Provinsi 2009

24. Juara I Devile Kontingen Porseni Depag Kabupaten 2009

25. Juara I SKJ 2008 HAB Depag Kabupaten 2009

26. Juara II Bola Voli Putra Provinsi 2009

27. Juara I Porseni se-KKM Kabupaten 2009

28. Juara Umum Porseni Diknas Kecamatan Kabupaten 2009

29. Juara Umum II MSQ Hari Pramuka Kabupaten 2009

30. Juara II Kemah Tergiat Kabupaten 2009

31. Juara II Qasida Rebana Kabupaten 2009

32. Juara I Cerdas Cermat Fiqh Provinsi 2010

33. Juara I Senam Kesegaran Jasmani Provinsi 2010

(7)

34. Juara I Pidato Tiga Bahasa Provinsi 2010

35. Juara I Bola Voli Putri Provinsi 2010

36. Juara I Tandu Putri Provinsi 2010

37. Juara I LKBB PA/PI Provinsi 2010

38. Juara I Membuat Tenda (PI) Provinsi 2010

39. Juara I Outbound Putri Provinsi 2010

40. Juara II Outbound Putra Provinsi 2010

Sejumlah prestasi yang pernah diraih oleh siswa-siswi MAN 1 di atas, merupakan sebuah indikasi bahwa pembinaan dan pengembangan potensi siswa lewat kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri di MAN 1 berjalan dengan baik. Keberhasilan siswa-siswa ini juga menunjukkan bahwa profesionalisme guru MAN 1 dalam mengarahkan dan melatih siswa cukup baik.

2. Jenjang Pendidikan Guru MAN 1 Polman

Jenjang pendidikan guru MAN 1 terdiri atas: jenjang pendidikan sarjana, magister, dan jenjang pendidikan doktor. Hj Ruaedah menjelaskan bahwa jumlah guru MAN 1 sebanyak 33 orang dengan jenjang pendidikan sarjana atau S1 sebanyak 29 guru, jenjang pendidikan magister atau S2 sebanyak 3 guru, dan jenjang pendidikan doktor atau S3 sebanyak 1 guru.

Hj Ruaedah lebih lanjut menjelaskan bahwa dari 33 guru MAN 1 tersebut, tiga orang diantaranya adalah guru yang berasal dari dinas pendidikan kabupaten Polewali Mandar yang diperbantukan di MAN 1 sedangkan 30 guru yang lain adalah guru tetap

(8)

pada MAN 1.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa guru yang berkualifikasi doktor atau S3 adalah Basnang Said, guru Bahasa Arab pada MAN 1. Basnang Said menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Bahasa Arab Fak. Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar, selanjutnya program magister dan doktor diselesaikan pada Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Sedangkan guru MAN 1 yang memiliki jenjang pendidikan magister berjumlah tiga orang yaitu: Hj. Ruaedah, Hj Fauziyah, dan Budiman. Hj Ruaedah yang saat ini menjabat kepala MAN 1 adalah guru bahasa Indonesia pada MAN 1 Polman. Hj Ruaedah menyelesaikan pendidikan sarjananya sebanyak dua kali yaitu pada FPTK IKIP Makassar tahun 1989 dan Jurusan Bahasa Indonesia pada FPBS UNM Makassar tahun 2003.

Selanjutnya dia melanjutkan pendidikan magister pada Program Pascasarjana STIYA Yatpan Jakarta jurusan Administrasi Publik. Selanjutnya Hj. Fauziyah, guru Bahasa Indonesia pada MAN 1, menyelesaikan pendidikan sarjana pada Jurusan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar dan pendidikan magisternya diselesaikan pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan bahasa Indonesia.

Sedangkan Budiman, Wakil Kepala Madrasah urusan kurikulum, yang juga merupakan guru kimia pada MAN 1, menyelesaikan pendidikan magisternya pada Program Pascasarjana Institut Teknologi Surabaya jurusan kimia.

(9)

Sedangkan guru MAN 1 Polman yang memiliki jenjang pendidikan sarjana sebanyak 29 orang. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi dengan berbagai jurusan baik perguruan tinggi negeri atau PTN maupun perguruan tinggi swasta atau PTS.

Berdasarkan data yang ada, ditemukan sejumlah guru yang mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Adapun guru dimaksud yaitu guru seni budaya, geografi, dan guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Adapun nama-nama guru MAN 1 Polman beserta jenjang pendidikan, perguruan tinggi asal dan mata pelajaran yang diampu selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:

(10)

Tabel. 2

Nama-Nama Guru MAN 1 Polman

N

O NAMA JENJANG

PEND.

AS AL PT/

FAKULTAS

PRODI/

JURUS AN KET

1 2 3 4 5 6

1. Dra. Hj. Ruaedah, S.Pd., M .Si. S.2 STIYA Yatpan Jkt Adm. Publik Ka. M adrasah

2. Budiman, M .Si. S.2 ITS Surabaya Kimia Wakamad Kurikulum

3. Rofian, S.Pd. S.1 STAI DDI Polman PAI Wakamad Kesiswaan

4. Drs. Pabelloi S.1 IAIN Alauddin Pend. Bhs. Inggris Wakamad. Humas

5. Rifai, S.Pd. S.1 UNM M akassar Bhs. Indonesia Wakamad Sarana

6. Dra. Rita Lara S.1 IKIP UP Pend. Fisika Guru Fisika

7. Dra. Hj. Fauziah, M .Pd. S.2 Unismuh M akassar Bhs. Indonesia Guru Bahasa Indonesia

8. Dra. Rusni Rasyid S.1 IKIP UP Fisika Guru Fisika

9. Dra. Hj. M arjum, S.Pd. S.1 IKIP UP Sejarah Guru Sejarah

10. Asmawati, S.Pd. S.1 IKIP M akassar M atematika Guru M atematika

11. Abd. Hakim Sewang, S.Ag. S.1 IAIN Alauddin PAI Guru Quran hadits

12. St. Nurjannah, S.Ag, M .Si. S.2 IPB Bogor Biologi Guru Biologi

13. Lukman, S.Pd. S.1 UNM M akassar Pend. M atematika Guru M atematika

14. Bungarosi, S.Ag. S.1 IAIN Aalauddin PBA Guru Bahasa Arab

15. Syahriani, S.Pd. S.1 UNM M akassar Ekonomi Guru Ekonomi

16. Rahmawati, S.Pd. S.1 UNM M akassar UNTAD Palu Guru Biologi

17. St. Ruwaeda, S.Pd. S.1 UNM M akassar Pend. M atematika Guru M atematika

18. Hadijah. S, Pd.I. S.1 STAI DDI Polman PAI Guru Fiqih

19. Drs. H. Aziz S.1 IAIN Alauddin PBA Guru Bahasa Arab

20. Dr. Basnang Said, S.Ag, M.Ag. S.3 UIN Alauddin Bahasa Arab Guru Bahasa Arab

21. Faharuddin, S.Pd.I. S.1 IAIN Alauddin PAI Guru Aqidah

22. Husniati, S.Ag. S.1 IAIN Alauddin PAI Guru Seni Budaya

23. ST. Sholehah, S.Pd.I. S.1 UIN Alauddin PBI Guru Bahasa Inggris

24. Syarifuddin, S.S. S.1 UM I M akassar Bahasa Inggris Guru Bhs. Inggris

25. M ahdar, S.Ag. S.1 UM I M akassar Tarbiyah Guru TIK

26. M uh. Anshar, S.Ag. S.1 STAI DDI Polman PAI Guru SKI

27. Hikmah, S.Pd. S.1 UNM M akassar Kimia Guru Kimia

28. Sudirman, S.Psi. S.1 UNM M akassar Psikologi Guru BK

29. Rosidha, S.Psi. S.1 UNM M akassar Psikologi Guru BK

30. M usdalifah, S.Pd. S.1 Unismuh M akassar Sosiologi Guru Ekonomi

31. M isbah Nur.S.Pd. S.1 UNM M akassar Bahasa Inggris Guru Bahasa Inggris

32. Drs. M uh. Yakub S.1 Univ. 45 M akassar PPKn Guru PPKN

(11)

33. Bahtiar, S.Pd. S.1 UNM M akassar Sejarah Guru Antropologi

Data di atas menunjukkan bahwa semua guru MAN 1 Polman sudah memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa seorang guru memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4). Kualifikasi pendidikan guru MAN 1 ini berimplikasi positif pada peningkatan kualitas pendidikan di madrasah ini sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap madrasah ini terus meningkat dan terbukti pada setiap penerimaan siswa baru selalu melebihi kuota kursi yang tersedia.

3. Upaya Guru MAN 1 Polman dalam Meningkatkan Jenjang Pendidikannya a. Mengikuti seleksi program tugas belajar

Pemerintah melalui Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat mengadakan program peningkatan sumber daya manusia berupa tugas belajar yang diberikan kepada guru dan pegawai yang ada dalam lingkup Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat sebagaimana dikemukakan oleh Hj Ruaedah bahwa: Kemeterian Agama provinsi Sulawesi Barat memberikan program peningkatan sumber daya manusia kepada guru dan pegawai yang ada di lingkungan kantor wilayah kementerian agama provinsi Sulawesi Barat berupa program studi lanjut atau tugas belajar. Program ini telah berjalan dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh guru MAN 1.

(12)

Sejak program ini mulai dilaksanakan, beberapa guru MAN 1 ikut ujian seleksi program tugas belajar. Namun, minimnya kuota guru yang diterima sehingga sampai penelitian ini diadakan baru dua guru MAN 1 Polman yang berhasil mengikuti program ini yaitu Budiman dan ST. Nurjannah. Budiman ikut program tugas belajar pada tahun 2007 dan melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Surabaya pada konsentrasi kimia.

Sedangkan ST. Nurjannah ikut program tugas belajar tahun 2007 dan melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor konsentrasi Biologi. Guru MAN 1 yang belum masuk program tugas belajar tetap berupaya untuk mendaftar lagi tahun berikutnya jika program ini terbuka lagi sebagaimana dikemukakan oleh Faharuddin bahwa dirinya tetap berupaya untuk bisa lulus program tugas belajar demi meningkatkan profesionalismenya.

b. Menyiapkan finansial untuk lanjut studi dengan biaya mandiri

Guru MAN 1 memiliki keinginan kuat untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena adanya dorongan dan motivasi baik motivasi dari dalam maupun motivasi dari luar. Motivasi dari dalam yaitu adanya kesadaran guru akan manfaat yang didapatkan jika melanjutkan pendidikan sedangkan motivasi dari luar yaitu motivasi dari pimpinan, keluarga, sesama guru, dan tuntutan profesi.

Salah satu upaya guru MAN 1 dalam melanjutkan jenjang pendidikannya yaitu dengan biaya mandiri. Minimnya kuota tugas belajar sehingga peluang untuk masuk jenjang pendidikan S2 melalui program tugas belajar menjadi sangat tipis, akhirnya guru MAN 1 berupaya melanjutkan pendidikannya dengan biaya mandiri dengan menyiapkan segala

(13)

kebutuhan yang ada termasuk kebutuhan finansial. Hal itu dikemukakan oleh Husniati bahwa upaya yang dilakukan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah dengan menabung uang untuk biaya pendidikan nantinya. Pandangan yang sama dikemukakan Syarifuddin bahwa upaya yang dilakukan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah menyiapkan materi atau finansial dan kesehatan. Sedangkan Rita Lara mengemukakan bahwa upaya yang dilakukan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu menyiapkan materi, intelegensi, keseriusan, tekun, ulet, dan pembagian waktu antara mengajar dan kuliah.

Berdasarkan beberapa pandangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa upaya guru MAN 1 dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu: mengikuti seleksi program tugas belajar dan menyiapkan finansial untuk lanjut studi dengan biaya mandiri.

4. Faktor Pendukung dan Penghambat yang Dihadapi Guru MAN 1 Polman dalam Meningkatkan Profesionalismenya

a. Faktor Pendukung Guru dalam meningkatkan profesionalismenya

Sebagai seorang profesional guru harus memiliki kompetensi keguruan yang cukup.

Kompetensi keguruan itu tampak pada kemampuannya menerapkan sejumlah konsep, asas kerja sebagai guru, mampu menerapkan sejumlah model pembelajaran, mampu menggunakan media dan metode yang tepat, serta mampu mendemonstrasikan sejumlah strategi maupun pendekatan pengajaran yang menarik, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

(14)

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa faktor pendukung Guru MAN 1 dalam meningkatkan profesionalismenya, yaitu:

1) Tersedianya sarana dan prasarana sekolah yang cukup memadai.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan menjadi lebih efektif jika didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terungkap bahwa sarana dan prasarana MAN 1 Polman yang dapat mendukung proses pembelajaran yaitu: sarana perpustakaan, laboratorium, sarana olahraga, dan sarana ibadah.

Hasil observasi yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa sarana perpustakaan MAN 1 memuat ribuan judul buku baik buku mata pelajaran kelas X hingga kelas XII, maupun buku umum dan ensiklopedi. Guru dan siswa MAN 1 memanfaatkan perpustakaan khususnya pada jam istirahat, tampak sebagian guru dan siswa membaca buku yang tersedia dan sebagian lagi ada yang meminjam buku untuk dipelajari dirumahnya. Perpustakaan MAN 1 ini cukup membantu guru dan siswa dalam memahami materi pelajaran dan menambah wawasan mereka. Kedaan perpustakaan MAN 1 Polman selengkapnya terlampir.

Berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa keadaan perpustakaan MAN 1 cukup memadai dengan tersedianya referensi sebanyak 3239 buah buku

(15)

ditambah majalah dan surat kabar, baik buku mata pelajaran maupun buku bacaan umum, majalah, dan surat kabar yang dapat membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Namun pada tahun 2009 lalu, MAN 1 mengalami musibah banjir dan menghanyutkan sejumlah fasilitas sekolah termasuk buku yang ada di perpustakaan, sehingga jumlah buku MAN 1 saat ini hanya sekitar 2816 buah.

Selain perpustakaan, MAN 1 juga memiliki laboratorium. Berdasarkan hasil observasi peneliti ditemukan bahwa laboratorium yang dimiliki MAN 1 terdiri atas:

laboratorium bahasa, laboratorium IPA, dan laboratorium komputer.

Laboratorium bahasa dimanfaatkan oleh guru dan siswa MAN 1 sebagai media pendukung dalam belajar bahasa baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Syarifuddin mengemukakan bahwa dirinya sangat terbantu dengan adanya fasilitas berupa laboratorium bahasa sehingga materi yang diajarkan menjadi lebih mudah dipahami oleh peserta didik khususnya dalam keterampilan listening. Hal yang sama dikemukakan oleh Bungarosi bahwa keberadaan laboratorium bahasa sangat membantu siswa dalam menerima materi pelajaran yang diajarkan.

Laboratorium IPA MAN 1 juga membantu guru dan siswa dalam mempelajari materi yang terkait dengan IPA baik fisika, biologi, maupun kimia.

Hasil observasi ke laboratotium IPA MAN 1, peneliti melihat laboratorium IPA ini

(16)

dilengkapi dengan sejumlah alat-alat praktikum yaitu: gambar kerangka manusia, gambar tengkorak kepala, jenis tanaman, dan sejumlah alat-alat praktikum fisika dan Kimia. Budiman menjelaskan bahwa siswa diarahkan ke laboratorium IPA untuk melakukan sejumlah uji coba yang terkait dengan materi Kimia. Rusni Rasyid juga mengemukakan bahwa laboratorium IPA adalah tempat praktikum Fisika oleh siswa MAN 1.

MAN 1 dilengkapi pula laboratorium komputer sebagai tempat praktikum siswa untuk materi yang terkait dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hasil observasi ditemukan bahwa terdapat 40 unit komputer PC di laboratorium komputer yang kondisinya baik. Mahdar mengemukakan bahwa laboratorium komputer cukup membantu siswa dalam belajar TIK karena jumlah unit komputer yang ada cukup memadai untuk dimanfaatkan oleh siswa MAN 1 yang berjumlah 773 siswa yang terbagi dalam 20 rombel dengan jumlah siswa setiap rombel sekitar 38-39 siswa. Laboratorium komputer ini Berdasarkan hasil observasi laboratorium komputer juga dilengkapi dengan LCD Projector sebanyak empat unit. LCD projector ini dapat dimanfaatkan oleh semua guru MAN 1 yang membutuhkan media pembelajaran sesuai dengan bidang studi masing-masing.

2) Adanya pendidikan dan pelatihan (diklat) guru.

(17)

MAN 1 Polman mengutus sejumlah guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) setiap tahunnya. Hj. Ruaedah mengemukakan bahwa guru MAN 1 ini hampir semuanya pernah mengikuti diklat baik di Makassar maupun diklat di Jakarta. Adapun diklat yang pernah diikuti guru MAN 1 Polman yaitu: diklat PLPG (Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru), diklat mata pelajaran tingkat dasar, diklat mata pelajaran tingkat menengah, diklat mata pelajaran tingkat lanjutan, tingkat fasilitator tingkat mahir, dan diklat fasilitator tingkat utama. Diklat tingkat dasar, menengah, dan lanjutan biasanya dilaksanakan oleh Balai Diklat Keagamaan Makassar di Sulawesi Selatan, sedangkan diklat fasilitator tingkat mahir dan diklat fasilitator tingkat utama dilaksanakan oleh Badan Litbang dan Diklat Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Kementerian Agama RI di Jakarta. Adapun nama kegiatan diklat dan kegiatan non diklat selengkapnya terlampir.

Berdasarkan lampiran kegiatan diklat dan non diklat menunjukkan bahwa hampir semua guru MAN 1 Polman telah mengikuti diklat baik diklat tingkat dasar maupun diklat tingkat utama, baik yang dilaksanakan di Mamuju, Makassar, maupun Jakarta. Selain kegiatan diklat, MAN 1 juga setiap tahunnya melaksanakan kegiatan non diklat seperti MGMP dan pelatihan lainnya yang diikuti oleh semua guru MAN 1 sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme mereka.

3) Adanya kegiatan non diklat yang dilaksanakan untuk pembinaaan dan

(18)

pengembangan profesionalisme guru, yaitu:

a) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Guru MAN 1 Polman rutin melaksanakan MGMP setiap awal tahun pelajaran. Kegiatan ini diikuti oleh semua guru mata pelajaran yang ada di MAN 1 Polman.

b) Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

c) Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI).

d) Pelatihan Pembuatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

e) Mengadakan workshop. Kegiatan workshop dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pembelajaran, peningkatan kompetensi maupun pengembangan karir guru.

4) Adanya izin dari atasan langsung untuk studi lanjut.

Kepemimpinan Hj. Ruaedah sebagai kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 memperlihatkan adanya upaya yang dilakukannya dalam mendorong guru MAN 1 untuk meningkatkan jenjang pendidikannya. Hj. Ruaedah menyatakan:

Pimpinan selalu memberi motivasi dan dorongan kepada guru MAN 1 Polman untuk melanjutkan pendidikannya dengan memberikan pandangan bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentunya akan bermanfaat untuk

(19)

menambah ilmu dan wawasan. Selain itu, guru diberikan kemudahan khususnya dalam hal izin belajar. Lebih lanjut Hj. Ruaedah mengatakan:

Apabila ada guru yang berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maka itu saya akan berikan peluang dan waktu atau dengan kata lain diijinkan untuk melakukan itu. Cuma dalam hal ini ada yang melanjutkan pendidikannya di daerah sendiri dan ada yang melanjutkan di luar daerah. Dalam hal ini ketika yang bersangkutan itu mau lanjut di daerah sendiri dan tidak mengganggu tugas pokoknya maka saya bisa langsung memberikan kebijakan atau izin. tetapi jika yang bersangkutan akan lanjut di luar daerah dan mengganggu tugas pokoknya maka dia harus melalui proses yang pertama mengajukan izin ke kepala sekolah, dan selanjutnya kepala sekolah meneruskan ke Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Barat untuk ditindak lanjuti.

Guru MAN 1 menyadari pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk meningkatkan profesionalisme mereka. Karena itu, selalu ada dorongan dan motivasi pada diri guru untuk melanjutkan pendidikan baik dorongan dan motivasi itu dari dalam maupun dorongan dan motivasi dari luar.

b. Faktor Penghambat Guru dalam Meningkatkan Profesionalismenya

Pembinaan dan peningkatan profesionalisme guru MAN 1 dalam prakteknya di lapangan ternyata menemui beberapa kendala dan hambatan. Adapun faktor penghambat yang dihadapi guru MAN 1 dalam meningkatkan profesionalismenya yaitu:

1) Adanya guru yang mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan dasar keilmuan. Sebagaimana dikemukakan oleh Budiman bahwa masih ada mata pelajaran yang tidak memiliki guru tetap karena belum ada pengangkatan guru untuk

(20)

formasi mata pelajaran itu. Guru yang dimaksud adalah guru mata pelajaran seni budaya, goeografi, dan guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

2) Adanya guru yang lama bekerja diluar profesi guru lalu akhirnya lulus sebagai tenaga pengajar. Hal ini diakui oleh Hj. Ruaedah, kepala MAN 1, bahwa terdapat guru yang lama bekerja diluar sebelum akhirnya terangkat menjadi guru MAN 1, sehingga metode dan cara mengajarnya masih menggunakan pola lama. Namun demikian, kepala MAN 1 berharap agar guru yang bersangkutan tetap mengembangkan dirinya dan meningkatkan kompetensinya.

3) Pendidikan dan pelatihan (diklat) guru yang dilaksanakan selama ini kuantitasnya sangat kurang dan terbatas peserta yang dapat ikut, baik diklat yang dilaksanakan oleh Balai Diklat Keagamaan Makassar maupun diklat yang dilaksanakan oleh Badan Diklat dan Litbang Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Kementerian Agama RI pusat di Jakarta.

4) Kegiatan non diklat yang dilaksanakan di MAN 1 seperti MGMP, Workshop, Pelatihan Karya Tulis Ilmiah, Pelatihan PTK, dan pelatihan pembuatan KTSP kuantitasnya masih kurang sehingga belum memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan profesionalisme guru.

5) Program peningkatan sumber daya manusia lewat kegiatan tugas belajar guru yang

(21)

diprogramkan oleh kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat hanya diperuntukkan beberapa guru saja setiap tahun sehingga peluang guru untuk ikut sangat minim.

6) Guru yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya lewat jalur non tugas belajar atau dengan biaya mandiri terkendala pada aturan administrasi kepegawaian karena untuk dapat lanjut studi dengan biaya mandiri, maka guru yang bersangkutan harus mendapat izin dari dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama di Jakarta. Tanpa izin dari dirjen, maka gelar akademik yang diperoleh guru tidak bisa digunakan dalam peningkatan karir guru.

5. Bentuk Kontribusi Jenjang Pendidikan dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru MAN 1 Polman

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat kontribusi jenjang pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru MAN 1. Hal ini tampak pada adanya perbedaan kompetensi, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun kompetensi profesional guru MAN 1 antara guru yang berjenjang pendidikan S1 dengan guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3. Adapun bentuk kontribusi jenjang pendidikan yaitu:

a. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan potensi peserta didik

Berdasarkan hasil wawancara terhadap sejumlah informan terungkap bahwa guru

(22)

yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 lebih mampu membina dan mengembangkan potensi peserta didik dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S1. Hal ini dikemukakan oleh Hj. Ruaedah bahwa siswa MAN 1 telah meraih sejumlah prestasi khususnya dalam lomba pidato tiga bahasa yakni bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, karena bimbingan dan arahan dari guru mata pelajaran yang bersangkutan dalam hal ini bahasa Arab oleh Basnang Said, bahasa Inggris oleh Syarifuddin dan bahasa Indonesia oleh Hj. Fauziyah.

Pandangan yang sama disampaikan oleh Aliyah Rosalia, siswa MAN 1 yang meraih juara lomba pidato tiga bahasa, bahwa keberhasilannya dalam meraih juara karena bimbingan dan arahan dari guru bahasa yang tekun dan disiplin. Selain itu, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2 juga banyak berkontribusi dalam pengembangan ekstrakurikuler siswa. Hj. Fauziyah misalnya, selain sebagai guru bahasa Indonesia juga sebagai pembina Pramuka. Demikian pula Budiman, selain sebagai guru Kimia juga sebagai wakamad kurikulum MAN 1.

b. Meningkatkan kemampuan guru memahami dan membuat perangkat pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara terhadap sejumlah informan terungkap bahwa guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 lebih mampu memahami dan membuat perangkat pembelajaran dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S1. Sebagaimana terlihat dalam penjelasan informan Basnang Said, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan

(23)

S3, bahwa perangkat pembelajaran meliputi: standar kompetensi lulusan (SKL), silabus, rencana program pembelajaran (RPP), program semester, program tahunan, pemetaan, standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), pekan dan jam efektif dalam semester, dan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hj. Fauziyah, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2, bahwa perangkat pembelajaran meliputi: program tahunan, program semester, silabus, dan RPP. Pandangan yang sama dikemukakan oleh Budiman, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2, bahwa perangkat pembelajaran itu meliputi:

program tahunan, program semester, silabus, dan RPP. Hj. Ruaedah, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2, mengemukakan bahwa perangkat pembelajaran itu meliputi:

rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, program tahunan, dan program semester. Sedangkan, Husniati, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S1, mengatakan bahwa yang termasuk dalam perangkat pembelajaran yaitu: RPP, alat peraga, silabus, dan analisis. Sudirman, guru MAN 1 yang berjenjang S1, menyatakan bahwa yang termasuk dalam perangkat pembelajaran yaitu: Modul. Sedangkan Abd. Hakim Sewang, guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S1, mengemukakan bahwa yang termasuk dalam perangkat pembelajaran yaitu: program tahunan, program semester, RPP, silabus, absensi, daftar penilaian, dan lembar penilaian.

Penjelasan guru di atas menunjukkan bahwa guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S1 sebagian belum memahami perangkat pembelajaran secara utuh. Karena itu,

(24)

peneliti mencoba melakukan observasi terhadap perangkat pembelajaran guru yang ada.

Namun, peneliti hanya menemukan perangkat pembelajaran salah seorang guru atas nama Budiman. Meskipun perangkat pembelajaran guru tidak diarsipkan secara keseluruhan, tetapi dari hasil wawancara terhadap Kepala MAN 1 dan Wakamad Kurikuum MAN 1 menggambarkan bahwa masih terdapat guru MAN 1 khususnya yang berjenjang pendidikan S1 belum memahami secara utuh perangkat pembelajaran padahal seorang guru yang profesional harus mampu memahami dan membuat perangkat pembelajaran ini dengan baik sebagai acuan dalam melaksanakan pembelajaran. Sehingga dapat dikemukakan bahwa jenjang pendidikan guru berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan guru memahami dan membuat perangkat pembelajaran.

c. Meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran

Jenjang pendidikan juga berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan siswa menunjukkan bahwa Guru MAN 1 memiliki kemampuan yang berbeda dalam melaksanakan pembelajaran khususnya antara guru yang berjenjang pendidikan S1 dengan guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3. Sebagaimana diakui oleh Lukman bahwa pak Basnang Said dan ibu Hj. Ruaedah dalam menyampaikan materi pelajaran sangat mendetail dan mudah dipahami sedangkan pak Aziz, pak Fakhruddin, dan ibu Sulaeha agak susah dipahami. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Nasrah bahwa pak Basnang Said

(25)

dan pak Budiman menjelaskan materi dengan sangat mendetail sampai semua siswa mengerti sedangkan pak Ansar, pak Ismail dan pak Faharuddin lebih banyak menulis kemudian menjelaskan.

Berdasarkan beberapa pandangan siswa di atas menunjukkan bahwa guru MAN 1 Polman yang berjenjang S2 dan S3 memiliki kemampuan mengajar atau kompetensi pedagogik yang lebih baik dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S1.

Sehingga dapat dikemukakan bahwa jenjang pendidikan guru berkontribusi untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

d. Meningkatkan kemampuan guru berkomunikasi secara efektif dengan siswa

Jenjang pendidikan memiliki kontribusi dalam meningkatkan kemampuan guru MAN 1 dalam bergaul dan berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 cenderung lebih mampu bergaul dan berkomunikasi secara efektif dengan siswa dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S1. Hal ini didasarkan pada pengakuan Sahrul Rahman, siswa MAN 1, bahwa ibu Hj. Fauziyah dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas sangat komunikatif dengan siswa dibandingkan dengan guru yang lain. Pandangan yang sama disampaikan oleh Muh.

Bahrul Afif dan Asyirah bahwa pak Budiman dan Hj. Fauziyah cukup komunikatif dengan siswa. Untuk menguatkan pandangan siswa di atas, maka peneliti mencoba mewawancarai sejumlah informan guru dan mereka mengakui bahwa Budiman dan Hj. Fauziyah cukup

(26)

akrab dan dekat secara psikologis dengan siswa karena mereka sering berkomunikasi.

e. Meningkatkan kemampuan guru memilih metode pembelajaran yang tepat

Kemampuan memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat sangat membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 lebih mampu memilih metode pembelajaran yang tepat dibandingkan dengan guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S1. Guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S1 sebagian belum mampu memilih metode pembelajaran yang tepat.

Sebagaimana dikemukakan oleh informan siswa Aliyah Rosaliah bahwa guru yang berjenjang pendidikan S1 banyak yang menulis, menjelaskan, dan menggunakan metode yang tidak relevan dengan materi yang disampaikan. Misalnya, Guru bahasa Arab ada yang lebih banyak menggunakan metode diskusi padahal kemampuan siswa dalam berdiskusi dengan berbahasa Arab masih rendah. Pernyataan Aliyah Rosaliah ini diakui juga oleh kepala MAN 1, Hj. Ruaedah bahwa memang ada guru yang masih menggunakan pola lama dalam mengajar atau metode lama yang kadang tidak relevan dengan materi yang disampaikan, hal ini terjadi karena guru yang bersangkutan lama menganggur atau bekerja di luar profesi guru lalu akhirnya terangkat jadi guru.

Berdasarkan pandangan di atas, dapat dikemukakan bahwa jenjang pendidikan guru memiliki kontribusi dalam meningkatkan kemampuan guru dalam memahami dan

(27)

memilih metode pembelajaran yang tepat.

f. Meningkatkan kemampuan kepribadian guru

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan oleh peneliti ditemukan bahwa terdapat perbedaan kompetensi kepribadian guru MAN 1 yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 dengan guru yang berjenjang pendidikan S1. Guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 tampak lebih arif dalam mengambil keputusan, berwibawa di depan siswa, dan memiliki kepribadian yang stabil dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S1.

Guru yang berjenjang S1 dalam mengambil keputusan cenderung merugikan siswa misalnya mengeluarkan siswa dari ruang kelas hanya karena siswa tersebut ribut dan tidak mengerjakan tugas. Tindakan guru yang mengeluarkan siswa dari ruang kelas karena ribut dan tidak mengerjkan tugas menunjukkan bahwa guru tersebut kurang arif dalam mengambil kebijakan dan sekaligus menunjukkan bahwa guru tersebut memiliki kepribadian yang tidak stabil karena cenderung tindakannya didasari oleh pertimbangan emosional.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Basnang said, guru yang berjenjang pendidikan S3 bahwa langkah yang ditempuh dalam mengatasi siswa yang bermasalah adalah melakukan pendekatan persuasif. Sementara Hj. Ruaedah, guru yang berjenjang S2, mengemukan bahwa langkah yang ditempuh dalam mengatasi siswa yang bermasalah adalah menasehati, mencari sumber masalah, dan mencarikan solusi bersama dengan orang tua siswa. Sikap yang ditempuh oleh Basnang Said dan Hj. Ruaedah ini menunjukkan

(28)

kemampuan kepribadian guru yang arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

g. Meningkatkan hasil belajar peserta didik

Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 dengan siswa yang diajar oleh guru yang berjenjang pendidikan S1. Hasil belajar siswa yang diajar oleh guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3 umumnya tuntas atau mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sebaliknya, siswa yang diajar oleh guru yang berjenjang pendidikan S1 banyak yang tidak tuntas atau tidak mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), sehingga siswa tersebut harus remedial. Banyaknya siswa yang diajar oleh guru yang berjenjang pendidikan S1 yang tidak mencapai nilai KKM tersebut merupakan salah satu indikator bahwa kemampuan profesional guru yang berjenjang pendidikan S1 masih rendah dibandingkan dengan guru yang berjenjang pendidikan S2 dan S3.

Berdasarkan beberapa pendangan di atas, dapat dikemukakan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan jenjang pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru MAN 1 Polman.

B. Pembahasan

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian yang dikemukakan di atas, maka kini akan dibahas secara singkat tentang gambaran jenjang pendidikan Guru MAN 1 Polman, upaya

(29)

guru MAN 1 Polman dalam meningkatkan jenjang pendidikannya, dan faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi guru MAN 1 Polman dalam meningkatkan profesionalismenya, serta bentuk kontribusi jenjang pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru MAN 1 Polman.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Polman memilki jumlah guru sebanyak 33 orang dengan jenjang pendidikan yang bervariasi. Sebagian besar guru memiliki jenjang pendidikan sarjana yaitu sebanyak 29 orang, magister 3 orang dan doktor 1 orang. Dari 33 guru yang ada di MAN 1, 3 orang diantaranya adalah guru dari dinas pendidikan kabupaten Polewali Mandar yang diperbantukan di MAN 1 dan 30 orang lainnya adalah guru tetap pada MAN 1.

Guru MAN 1 termotivasi dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan sebagaimana dikemukakan salah seorang informan bahwa untuk meningkatkan kemampuan dan menambah pengetahuan maka salah satu solusinya adalah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Melalui peningkatan jenjang pendidikan guru, maka diharapkan kompetensi guru baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial guru akan lebih meningkat sehingga guru akan semakin profesional dalam melaksanakan tugas profesinya.

Pada tahun 2005, pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat telah mengeluarkan Undang-Undang tentang guru dan dosen yang merupakan landasan

(30)

konstitusional bagi pemeritah untuk mengintervensi langsung dalam hal peningkatan kualitas kompetensi guru.

Guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik. Dalam mengajar diperlukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. keterampilan-keterampilan itu antara lain: keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan menggunakan media pembelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan mengadakan variasi mengajar.

Dalam mewujudkan profesionalisme guru ada dua hal yang harus dipenuhi yaitu kemampuan guru secara formal dan kemampuan/keahlian guru dalam praktek.

Profesionalisme guru mensyaratkan dipenuhinya syarat pendidikan, keilmuan, teknologi, dan seni sampai mencapai tingkat tertentu secara terintegrasi sehingga memenuhi standar. Di Samping itu, guru profesional juga dituntut memiliki kemampuan atau kompetensi yaitu seperangkat kemampuan sehingga dapat mewujudkan kinerja profesionalnya.

Kompetensi yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan tugas profesinya yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi, sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran.

Kemampuan ini mencakup konsep kesiapan mengajar yang ditunjukkan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengajar.

(31)

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan, dan berakhlak mulia. Guru sebagai teladan akan mengubah perilaku siswa karena guru adalah panutan. Guru yang baik akan dihormati dan disegani oleh siswa. Jadi guru harus bertekad mendidik dirinya sendiri lebih dulu sebelum mendidik orang lain.

Pendidikan melalui keteladanan adalah pendidikan yang paling efektif. Guru yang disenangi, otomatis mata pelajaran yang ia ajarkan akan disenangi oleh siswa sehingga siswa akan bergairah dan termotivasi sendiri mendalami mata pelajaran tersebut. Sebaliknya guru yang dibenci oleh murid, maka murid akan tidak senang dengan mata pelajaran yang dipegang oleh guru tersebut dan membentuk sikap antipati terhadap mata pelajaran yang dipelajari tersebut.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, serta metode dan teknik mengajar yang sesuai dan mudah dipahami oleh murid, mudah ditangkap, tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan.

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah. Guru profesional berusaha mengembangkan komunikasi dengan orang tua siswa, sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan antara sekolah dengan orang tua siswa, serta masyarakat pada umumnya.

Jika seorang guru telah menguasai keempat kompetensi di atas, maka berarti ia telah menunjukkan dirinya sebagai seorang yang profesional. Karena sikap profesional

(32)

mengisyaratkan akan urgensinya upaya peningkatan kualitas secara terus-menerus agar mampu menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan bidang profesinya.

Profesionalisme guru MAN 1 ini dapat terwujud karena didukung oleh berbagai faktor yaitu: tersedianya sarana dan prasana sekolah berupa perpustakaan, sarana olahraga, sarana ibadah, dan laboratorium yang terdiri dari laboratorium komputer, laboratorium bahasa, dan laboratorium IPA. Selain itu, diadakan kegiatan pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru seperti pendidikan dan pelatihan (diklat) maupun kegiatan non diklat.

Sedangkan faktor penghambat yang dihadapi guru MAN 1 dalam meningkatkan profesionalismenya yaitu: masih ada guru yang mengampuh mata pelajaran yang tidak sesuai dengan dasar keilmuan, adanya guru yang lama bekerja di luar profesi guru lalu akhirnya lulus sebagai guru, diklat guru yang dilaksanakan selama ini kuantitasnya sangat kurang, kegiatan non diklat yang dilaksanakan di MAN 1 kuantitasnya masih kurang, dan program peningkatan sumber daya manusia berupa program studi lanjut tugas belajar yang diprogramkan oleh kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat sangat minim, dan guru yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya lewat jalur non tugas belajar atau dengan biaya mandiri terkendala pada aturan administrasi kepegawaian karena untuk dapat lanjut studi dengangan biaya mandiri, maka guru yang bersangkutan harus mendapat izin dari dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama di Jakarta.

Meskipun berbagai hambatan sering dijumpai guru MAN 1 dalam meningkatkan

(33)

jenjang pendidikannya. Namun hal itu tidak menjadikan semangat dan guru untuk melanjutkan pendidikannya menjadi pupus. Bahkan sebaliknya, bahwa guru MAN 1 akan terus melakukan berbagai upaya agar dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Adapun upaya guru MAN 1 Polman untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi antara lain:

1. Mengikuti program tugas belajar. Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat membuat program peningkatan sumber daya manusia berupa program tugas belajar yang diperuntukkan kepada guru dan staf yang ada di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat.

2. Berupaya melanjutkan pendidikan dengan biaya mandiri. Bagi guru yang belum sempat masuk dalam seleksi tugas belajar, karena minimnya kuota guru untuk program itu, maka guru yang bersangkutan masih dapat melanjutkan pendidikannya dengan biaya mandiri. Terkait dengan hal ini, seorang informan mengemukakan bahwa dirinya telah melakukan berbagai upaya untuk dapat melanjutkan pendidikan dengan menyiapkan materil maupun non materil seperti finansial dan hal lain yang dibutuhkan dalam pendidikan nantinya.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa bentuk kontribusi jenjang pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru MAN 1 yaitu:

(34)

1. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan potensi peserta didik.

2. Meningkatkan kemampuan guru memahami dan membuat perangkat pembelajaran

3. Meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran

4. Meningkatkan kemampuan guru berkomunikasi secara efektif dengan siswa

5. Meningkatkan kemampuan guru memilih metode pembelajaran yang tepat

6. Meningkatkan kemampuan kepribadian guru, dan meningkatkan hasil belajar peserta didik

Referensi

Dokumen terkait

80% sesuai keinginan guru dan acuan ketuntasan belajar nasional. Hasil pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran siklus kedua,. sungguh memperoleh peningkatan belajar siswa

sudah baik, keseriusan guru mengajar sudah baik; ketenangan guru menyampaikan materi pelajaran baik; dalam penerapan Brain Gym guru sudah memberikan berbagai contoh

1) Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan dimaksud adalah jenjang pendidikan tinggi. Termasuk dalam kerangka ini, pelatihan-pelatihan khusus

1) Guru sudah membeerikan apersepsi dengan baik. 2) Guru sudah memberika motivasai dengan baik. 3) Pemilihan tutor sebaya sudah cukup baik. 4) Penjelaasan guru tentang cara

Pada tahap ini, selain menyiapkan kesiapan fisik dan psikis peserta didik, guru juga harus memberikan motivasi agar peserta didik memiliki minat yang tinggi dalam

Adapun alasan utama dipilihnya masalah dan ditetapkannya latar penelitian ini, yakni: (1) Keberadaan Madrasah tersebut yang berada di bawah Departemen Agama dan

Pada bab ini dijelaskan juga seberapa besar pengaruh penerapan teori operant conditioning terhadap motivasi belajar bahasa Arab peserta didik, dan juga tentang deskripsi

Dalam era yang disebut sebagai abad baru waktu luang (the new age of leisure), Frith (dalam Ibrahim, 2011) mengungkapkan budaya musik anak muda benar-benar