• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dela Ananda Putri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Dela Ananda Putri"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

UJI STABILITAS DAN KEMAMPUAN KOPOLI (EUGENOL-DIALIL FTALAT) 8% SEBAGAI CARRIER PADA TRANSPOR FENOL MENGGUNAKAN METODE PIM (POLYMER INCLUSION MEMBRANE)

(Skripsi)

Oleh

Dela Ananda Putri

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2021

(2)

ABSTRAK

UJI STABILITAS DAN KEMAMPUAN KOPOLI (EUGENOL-DIALIL FTALAT) 8% SEBAGAI CARRIER PADA TRANSPOR FENOL MENGGUNAKAN METODE PIM (POLYMER INCLUSION MEMBRANE)

Oleh

DELA ANANDA PUTRI

Studi stabilitas dan kemampuan transpor fenol menggunakan Copoli-Eugenol Dialil Ftalat (Co-EDAF) sebagai senyawa pembawa dengan metode polymer inclusion membrane (PIM) telah dilakukan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi plasticizer, jenis dan konsentrasi garam, stabilitas membran PIM dengan pemakaian berulang dan umur membran. Membran dipreparasi dengan melarutkan Co-EDAF 8%, polivinil klorida (PVC) dan dibenzileter (DBE) ke dalam pelarut tetrahidrofuran (THF). Penentuan konsentrasi fenol sesudah proses transpor dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pereaksi 4-aminoantipirin dan absorbansinya diukur pada panjang gelombang 456 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenol tertranspor secara efektif menggunakan membran Co-EDAF 8% dengan konsentrasi plasticizer 0,3132 g yaitu 84,39% dengan persentase membran yang hilang 21,29%. Penambahan garam di fasa sumber yang mampu menghasilkan fenol sebesar 81,24% adalah garam NaNO3. Transpor fenol dengan melakukan penambahan NaNO3 0,001 M di fasa sumber dan penerima menghasilkan fenol yang tertranspor sebanyak 82,41% dan 77,73%. Banyaknya fenol yang tertranspor ke fasa penerima menggunakan membran dengan pemakaian satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali dan lima kali adalah 84,20; 72,10; 57; 33,88 dan 16,73%. Tanpa penambahan NaNO3, stabilitas membran hanya 19 hari tetapi dengan penambahan NaNO3 0,01 M stabilitasnya meningkat menjadi 60 hari.

Kata kunci: Copoli Eugenol Dialil Ftalat (Co-EDAF), fenol, membran, PIM, stabilitas

(3)

ABSTRACT

STABILITY TEST AND ABILITY OF COPOLY (EUGENOL-DIALYL PHTALATE) 8% AS CARRIER IN PHENOL TRANSPORT USING PIM

METHOD (POLYMER INCLUSION MEMBRANE)

By

DELA ANANDA PUTRI

Studies on the stability and ability of phenol transport using Copoli Eugenol Dialil Phthalate (Co-EDAF) as a carrier compound using the polymer inclusion membrane (PIM) method have been carried out. This study aims to determine the effect of plasticizer concentration, salt type and concentration, PIM membrane stability with repeated use and membrane age. The membrane is prepared by dissolving 8% Co-EDAF, polyvinyl chloride (PVC) and dibenzyleter (DBE) into a tetrahydrofuran (THF) solvent. Determination of phenol concentrations after the transport process was carried out by UV-Vis spectrophotometry using 4- aminoantipirin reagents and their absorbance was measured at a wavelength of 456 nm. The results showed that phenol was transported effectively using a 8%

Co-EDAF membrane with a plasticizer concentration of 0.3132 g is 84.39% with a percentage of the membrane missing 21.29%. The addition of salt in the source phase that is able to produce phenol of 81.24% is NaNO3 salt. Phenol transport by adding 0.001 M NaNO3 in the source and recipient phases produced 82.41% and 77.73%. transported phenols. The amount of phenol that is transported to the receiving phase using a membrane with the use of once, twice, three times, four times and five times is 84.20; 72.10; 57; 33.88 dan 16.73%. Without the addition of NaNO3, membrane stability is only 19 days but with the addition of 0.01 M NaNO3 the stability increases to 60 days.

Keywords: Copoly Eugenol Dialil Phthalate (Co-EDAF), Phenol, Membrane, PIM, Stability

(4)

UJI STABILITAS DAN KEMAMPUAN KOPOLI (EUGENOL-DIALIL FTALAT) 8% SEBAGAI CARRIER PADA TRANSPOR FENOL MENGGUNAKAN METODE PIM (POLYMER INCLUSION MEMBRANE)

Oleh

Dela Ananda Putri

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA SAINS

Pada Jurusan Kimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2021

(5)
(6)
(7)
(8)

i

i RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Dela Ananda Putri dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 14 Mei 1999, sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Penulis merupakan putri dari Bapak Ordensyah dan Ibu Susilawati. Penulis saat ini bertempat tinggal di Jalan Sinar Harapan, Lampung Utara.

Jenjang pendidikan penulis diawali dari Sekolah Dasar di SD Negeri 03 Cahaya Negeri pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2011. Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 7 Bandar Lampung dan diselesaikan pada tahun 2014.

Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 7 Bandar Lampung dan diselesaikan pada tahun 2017. Pada tahun 2017, Penulis terdaftar sebagai Mahasiswi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan berhasil menyelesaikan S1 pada tahun 2021.

Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif sebagai Anggota di Organisasi Himpunan Mahasiswa Kimia (Himaki) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung periode 2018.

Pada tahun 2019, Penulis menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan di Pusat Penelitian Metrologi LIPI Kimia Bandung yang diberi judul “Analisis Karakteristik Kitin Cangkang Udang (Litopenaeus vannamei) Akibat Deproteinasi Enzim Bromelin Bonggol Nanas (Ananas comosus L. merr) 30%”.

(9)

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari periode 2 pada tahun 2020 di Desa Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling , Bandar Lampung. Pada bulan Desember 2020-Juli 2021, Penulis melaksanakan penelitian di

Laboratorium Kimia Analitik dan Instrumentasi Jurusan Kimia FMIPA

Universitas Lampung. Penulis juga menjadi asisten praktikum Kimia Analitik II Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung pada tahun 2021/2022.

(10)

i

i

MOTTO

“Kamu tidak bisa kembali dan mengubah awal saat kamu memulainya, tapi kamu bisa memulainya lagi dari di mana kamu berada

sekarang dan ubah akhirnya. ” (C.S Lewis)

“Kendalikan Nasibmu, atau orang lain yang akan melakukannya.”

(Jack Welch)

“Tidak ada BERLIAN tanpa TEKANAN.”

(Wahyu Devariani)

“Lebih baik gagal tapi pernah mencoba dari pada menyesali karena tidak pernah mencoba.”

(Penulis)

(11)

i

i Bismillaahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillaahirobbil’alamiin

Puji syukur kuucapkan kepada Allah SWT, karena telah menghadirkan orang-orang “berarti” di sekelilingku yang selalu memberikan doa dan motivasi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan

dengan baik.

Kupersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda cinta dan kasih sayang serta baktiku kepada:

Kedua orang tuaku tercinta.

Ayah Ordensyah dan Ibu Susilawati

Yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus, merawat dan mendidik dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, mengajarkanku tentang

kebaikan, serta tak henti-hentinya mendoakan, mendukung, berjuang dan berkorban untuk anakmu.

kakakku tersayang.

Benny Pashua Pareza dan Fandan Kusuma Wardhani

Ponakanku tersayang.

Keyra Allura Anindita

Bapak Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc., Bapak Prof. John Hendri, M.S., Ibu Rinawati, Ph.D., dan Ibu Dr. Yuli Ambarwati, M.Si atas

bimbingan selama saya mengerjakan penelitian dan skripsi serta, Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

yang telah memberikan banyak ilmu, motivasi, dan pengalaman kepadaku.

(12)

Seluruh sahabat terbaikku yang selalu ada selama perjuangan mendapatkan gelar ini.

Almamater tercinta Universitas Lampung.

(13)

SANWACANA

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga Penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Stabilitas dan Kemampuan Kopoli (Eugenol-Dialil Ftalat) 8% Sebagai Carrier pada Transpor Fenol Menggunakan Metode PIM

(Polytmer Inclusion Membrane)” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari kesulitan dan rintangan, namun itu semua dapat Penulis lalui berkat ridho dan pertolongan Allah SWT serta bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekat Penulis. Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tuaku tercinta, Ayah Ordensyah dan Ibu Susilawati yang telah berjuang, bekerja keras, dan berkorban demi Penulis. Terima kasih atas segala doa yang senantiasa dipanjatkan untuk Penulis, segala perhatian, motivasi dan dukungan yang luar biasa kepada Penulis. Semoga Ayah dan Ibu selalu diberikan kesehatan dan lindungan dari Allah SWT.

2. Ibu Dr. Yuli Ambarwati, M.Si., selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, ilmu, motivasi, kritik dan saran sehingga Penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

3. Bapak Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc., selaku pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan, ilmu, nasihat, semangat, saran, motivasi dan kesabaran kepada Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Rinawati, Ph.D., selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan, ilmu, motivasi, kritik dan saran sehingga Penulis mampu

(14)

menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Prof, John Hendri, M.S., selaku pembahas yang telah memberikan ilmu, motivasi, nasihat, kritik dan saran sehingga Penulis mampu

menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak Mulyono, S.Si., M.Si., Ph.D., selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung.

7. Bapak Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, M.T., selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung.

8. Bapak dan Ibu Dosen Kimia FMIPA Universitas Lampung yang telah mendidik serta memberikan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat kepada Penulis selama kuliah dan semoga ilmu yang diberikan dapat berguna dan barokah.

9. Bapak Syaifuddin, S.T., selaku Laboran Kimia Analitik dan Instrumentasi FMIPA Unila yang telah banyak membantu dalam menyediakan alat dan bahan untuk penelitian Penulis.

10. Seluruh laboran, staff dan karyawan FMIPA Universitas Lampung atas semua bantuannya selama ini.

11. Kakakku tercinta, Benny Pashua Pareza dan Fandan Kusuma Wardhani serta ponakanku tersayang Keyra Allura Anindita yang selalu memberikan

keceriaan, bantuan, serta dukungan kepada Penulis.

12. Keluarga besar yang telah mendukung, mendoakan dan selalu memberikan motivasi kepada Penulis.

13. Sahabat-sahabat terbaikku, Yustika, Febby, Lia, Catherine, Depa, Shelly, Indah, Bella, Santo, Dipa, Kisti, Tania, Niko dan Wawan. Terima kasih atas dukungannya, dan selalu setia mendengarkan keluh kesah penulis selama mengerjakan skripsi ini.

14. Teman seperbimbingan Lola, Nelda, Sangaji. Terima kasih atas kerja sama dan dukungan hingga penelitian ini berjalan dengan lancar sampai akhir.

15. Keluarga besar kimia 2017 yang telah memberikan motivasi, dukungan dan kebersamaan selama ini.

16. Kakak-kakak dan adik-adik kimia angkatan 2015, 2016, 2018, 2019, dan 2020 yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada Penulis.

(15)

17. Almamater tercinta Universitas Lampung.

18. Semua pihak yang telah membantu dan mendoakan Penulis dengan tulus dalam proses penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu- persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, Penulis memohon maaf atas segala kekurangan tersebut dan berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca, khususnya rekan-rekan mahasiswa kimia.

Bandar Lampung, 12 November 2021 Penulis

Dela Ananda Putri

(16)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 3

1.3 Manfaat Penelitian ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Fenol ... 4

2.2 Eugenol dan DAF ... 5

2.3 Teknologi Membran ... 7

2.4 Metode PIM (Polymer Inclusion Membrane) ... 10

2.5 Stabilitas Membran PIM ... 11

2.6 Kemampuan Membran PIM ... 12

2.7 Karakterisasi ... 13

2.7.1 Scanning Electron Microscope (SEM) ... 13

2.7.2 Spektrofotometri Fourier Transform Infra Red (FTIR) ... 14

2.7.2 Spektrofotometer UV-Vis ... 15

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 18

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 18

3.2 Alat dan Bahan ... 19

3.2.1 Alat... 19

3.2.2 Bahan ... 19

(17)

iv

3.3 Prosedur Penelitian ... 20

3.3.1 Pencetakan membran ... 20

3.3.2 Variasi konsentrasi Plasticizer... 20

3.3.3 Variasi Jenis Garam ... 21

3.3.4 Variasi Konsentrasi Garam ... 21

3.3.5 Pemakaian Berulang Pada Membran PIM ... 22

3.3.6 Lifetime ... 23

D. Diagram Alir Penelitian ... 24

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25

4.1 Membran PIM ... 25

4.2 Variasi Konsentrasi Plasticizer ... 28

4.3 Variasi Jenis Garam ... 31

4.4 Variasi Konsentrasi Garam ... 33

4.5 Pemakaian Berulang pada Membran PIM ... 36

4.6 Lifetime ... 38

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

5.1 Kesimpulan ... 42

5.2 Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

LAMPIRAN ... 48

(18)

v

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Komposisi membran ... 21 Tabel 2. Perbandingan gugus fungsi Membran PIM Co-EDAF sebelum dan

sesudah transpor ... 28 Tabel 3. Kadar logam Na dan K dari beberapa garam (konsentrasi 0,001 M) ... 33 Tabel 4. Tabel Perbandingan Konsentrasi Garam NaNO3 Pada Fasa Sumber dan

Fasa Penerima Terhadap Transpor Fenol ... 35 Tabel 5. pH Fenol Tanpa Garam Dan Penambahan Garam Terhadap Transpor

Fenol ... 39 Tabel 6. Kurva Standar Konsentrasi Plasticizer ... 56 Tabel 7. Absorbansi fenol pada fasa sumber dan fasa penerima variasi konsentrasi

plasticizer ... 56 Tabel 8. Konsentrasi fenol pada fasa sumber dan fasa penerima variasi konsentrasi plasticizer ... 57 Tabel 9. %Fenol pada fasa sumber, fasa penerima dan fasa membran variasi

konsentrasi plasticizer ... 57 Tabel 10. Berat membran PIM (g) dan %ML Loss pada konsentrasi plasticizer . 57 Tabel 11. Kurva Standar Variasi Jenis Garam ... 57 Tabel 12. Absorbansi fenol pada fasa sumber dan fasa penerima Variasi Jenis

Garam ... 58 Tabel 13. Konsentrasi fenol pada fasa sumber dan fasa penerima Variasi Jenis

Garam ... 58 Tabel 14. %Fenol pada fasa sumber, fasa penerima dan fasa membran variasi jenis garam... 58 Tabel 15. Berat Membran PIM (g) dan %ML Loss pada Variasi Jenis Garam .... 59 Tabel 16. Kurva Standar Variasi Konsentrasi Garam Pada Fasa Sumber ... 59

(19)

vi

Tabel 17. Absorbansi fenol Variasi Konsentrasi Garam Pada Fasa Sumber ... 60

Tabel 18. Konsentrasi Fenol Variasi Konsentrasi Garam Pada Fasa Sumber ... 60

Tabel 19. %Fenol pada fasa sumber, fasa penerima dan fasa membran pada Variasi Konsentrasi Garam Pada Fasa Sumber ... 60

Tabel 20. Berat Membran PIM (g) dan %ML Loss pada Variasi Konsentrasi Garam di Fasa Sumber ... 60

Tabel 21. Kurva Standar Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima ... 61

Tabel 22. Absorbansi fenol Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima ... 61

Tabel 23. Konsentrasi pada fasa sumber dan fasa penerima pada Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima... 62

Tabel 24. %Fenol pada Fasa sumber, fasa penerima dan fasa membran pada Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima ... 62

Tabel 25. Berat Membran PIM (g) dan %ML Loss pada Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima ... 62

Tabel 26. Kurva Standar pada Pemakaian Berulang ... 62

Tabel 27. Absorbansi Fenol pada Pemakaian Berulang... 63

Tabel 28. konsentrasi Fenol pada Pemakaian Berulang... 63

Tabel 29. %Fenol pda fasa sumber, fasa penerima, dan fasa membran pada Pemakaian Berulang ... 63

Tabel 30. Berat Mmebran PIM (g) dan %ML Loss pada Pemakaian Berulang ... 64

Tabel 31. Lifetime tanpa penambahan garam NaNO3 ... 64

Tabel 32. Lifetime dengan penambahan garam NaNO3 ... 64

(20)

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Senyawa Eugenol (Guenther, 1990)... 5

Gambar 2. Reaksi polimerisasi eugenol menjadi polieugenol (Purwasih, 2013). .. 6

Gambar 3. Prediksi struktur turunan polieugenol hasil taut silang dengan DAF (Kiswandono, 2014). ... 7

Gambar 4. Membran cair (a) BLM, (b) ELM dan (c) SLM (Pattilo, 1995)... 9

Gambar 5. Morfologi hasil SEM dari membran (Kiswandono, 2014) ... 14

Gambar 6. Skema alat spektrofotometer UV-Vis (Khopkar, 2003)... 17

Gambar 7. Diagram alir penelitian ... 24

Gambar 8. Membran PIM Co-EDAF 8% ... 25

Gambar 9. Skema transpor fenol menggunakan membran cair ... 26

Gambar 10. Hasil FTIR Sebelum dan Sesudah Transpor ... 27

Gambar 11. Grafik Pengaruh Plasticizer Terhadap Transpor Fenol... 29

Gambar 12. Grafik Pengaruh Plasticizer Terhadap ML Loss ... 31

Gambar 13. Grafik Pengaruh Jenis Garam Terhadap Transpor Fenol ... 32

Gambar 14. Grafik Pengaruh Konsentrasi Garam NaNO3 Pada Fasa Sumber (FS) dan Fasa Penerima (FP) Terhadap Transpor Fenol ... 34

Gambar 15. Grafik Konsentrasi Garam NaNO3 Pada Fasa Sumber dan Fasa Penerima Terhadap ML Loss ... 36

Gambar 16. Grafik Hasil Pemakaian Berulang Terhadap Transpor Fenol ... 37

Gambar 17. Pemakaian Berulang Terhadap ML Loss ... 38

Gambar 18. Kurva pengukuran pH lifetime tanpa penambahan garam dan penambahan garam ... 39

Gambar 19. Hasil Karakterisasi Permukaan Membran PIM Sesudah Transpor Dengan Scanning Electron Microscope (SEM) ... 41

Gambar 20. Kurva Standar Konsentrasi Plasticizer ... 56

Gambar 21. Kurva Standar Variasi Jenis Garam ... 58

(21)

viii

Gambar 22.Kurva Standar Variasi Konsentrasi Garam Pada Fasa Sumber ... 59 Gambar 23. Kurva Standar Variasi Konsentrasi Garam pada Fasa Penerima ... 61 Gambar 24. Kurva Standar Pemakaian Berulang Pada Membran PIM ... 63

(22)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan aktivitas perindustrian yang pesat bukan hanya menimbulkan keuntungan tetapi juga kerugian yaitu pencemaran lingkungan. Kegiatan industri ini, jika dalam pengolahan limbah tidak dilakukan dengan baik maka akan

membawa dampak buruk bagi lingkungan. Salah satu polutan yang dapat mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan adalah fenol. Buangan limbah fenol dikategorikan sebagai B3 dikarenakan fenol memiliki sifat toksik bagi kesehatan manusia, biota maupun lingkungan. Bahkan, US EPA (United State Environmrnt Protected Agensy) mengkategorikan fenol dalam daftar prioritas senyawa toksik pencemar daerah perairan (Mortaheb et al., 2008).

Teknologi pemisahan berbasis membran cair saat ini semakin banyak menarik perhatian, karena teknologi ini mempunyai spektrum pemisahan yang luas, selektif dan mudah dilakukan (Misran, 2002). Pemisahan fenol dengan menggunakan membran cair didasarkan atas perbedaan kelarutan fenol yang berada dalam fasa larutan dan fasa organik. Hal ini sesuai dengan definisi membran cair atau dua fasa gas. Prinsip pemisahan pada membran cair tidak ditentukan oleh membran itu sendiri, tetapi oleh sifat molekul pembawa spesifik.

Carrier tetap berada didalam membran dan dapat bergerak jika dilarutkan dalam cairan (Mulder, 1996). Salah satu membran cair yang dapat digunakan untuk memisahkan fenol adalah metode Polymer Inclusion Membrane (PIM) (Bonesmade et al., 2018). Selanjutnya, teknologi membran tersebut dapat

diaplikasikan untuk pemisahan solute dengan metode PIM berbasis polimer dasar

(23)

2

PVC (Polyvinyl chloride) dan DBE (Dibenzil eter) sebagai plasticizer (Kiswandono et al., 2012 dan Kiswandono et al., 2013). Beberapa peneliti bahkan telah mempublikasikan jurnal internasional, seperti Djunaidi et al (2018) dan Benosmane et al (2018). Teknik transpor membran cair melibatkan tiga fasa yaitu fasa sumber (source phase), yang mengandung senyawa target, fasa

membran yang berisi carrier dalam pelarut organik, dan fasa penerima (receiving phase) yang berfungsi sebagai agen pelepas dari kompleks carrier. Membran PIM dianggap mampu meningkatkan kestabilan karena dua hal, yaitu polimer dasar (PVC) yang diharapkan dapat mengatasi kebocoran carrier, dan plasticizer yang berfungsi untuk membuat membran lebih stabil. Keunggulan dari PIM adalah mudah dalam sistem operasinya, dapat meminimalkan penggunaan bahan kimia, serta komposisi membran yang fleksibel dan selektif sebanding dengan pemisahan yang efisien (Nghiem et al., 2006).

Carrier merupakan salah satu komponen dalam membran sehingga proses pemisahan dapat berjalan. Carrier yang dapat digunakan adalah Co-EDAF (Kopoli Eugenol Dialil Ftalat). Kopoli Eugenol Dialil Ftalat merupakan senyawa hasil modifikasi kopolimerisasi dari senyawa eugenol yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah sisi aktif pada polimer yang digunakan sebagai carrier pada proses transpor fenol. Pada proses transpor fenol, carrier memfasilitasi senyawa target melalui membran. Membran adalah suatu lapisan antara dua fasa

bersebelahan yang bertindak sebagai suatu penghalang selektif yang mampu mengatur transpor kompenen kimia yang berada pada sisi yang terpisah (Ulbricht, 2006).

Sinjia (2019) telah dilakukan transpor fenol dengan membran PIM menggunakan eugenol tersambung silang Dialai Ftalat (DAF) sebagai carrier, polivinil klorida (PVC) sebagai polymer pendukung, dan dibenzil eter (DBE) sebagai plasticizer.

Hasil penelitian Sinjia (2019) menyatakan, bahwa pada transpor fenol 60 ppm dapat digunakan kondisi pH optimum 5,5 pada fasa sumber dan NaOH 0,1 M pada fasa penerima. Pada kondisi tersebut membran PIM mampu mentranspor fenol dengan baik, pada waktu traspor optimum 48 jam. Akan tetapi, membran

(24)

3

PIM tersebut belum dilakukan uji stabilitas dan kemampuan terhadap transpor fenol, sehingga perlu dilakukan penelitian tersebut. Oleh karena itu, pada

penelitian ini akan dilakukan uji stabilitas dan kemampuan transpor fenol meliputi variasi konsentrasi plasticizer, variasi jenis garam, variasi konsentrasi garam, dan kemampuan membran meliputi pemakaian berulang, dan umur membran

(lifetime) menggunakan membran PIM yang mengandung carrier Co-EDAF (Kopoli Eugenol Dialil Ftalat) 8%.

1.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Melakukan uji stabilitas membran PIM dengan parameter pengaruh

konsentrasi plasticizer, konsentrasi garam, dan jenis garam

2. Melakukan uji kemampuan membran PIM melalui pemakaian berulang dan umur membran (lifetime).

3. melakukan karakterisasi membran PIM sebelum dan sesudah transpor menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Forier Transform Infra Red (FTIR).

1.3 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menambah pemanfaatan polimer tersambung silang kopoli (eugenol-DAF) 8%

sebagai membran carrier.

2. Memberikan wacana baru dalam pemanfaatan polimer dalam bidang analisis kimia serta meningkatkan nilai ekonomis dari eugenol.

3. Meningkatkan aplikasi metode membran cair terutama PIM dalam upaya pengurangan polutan organik, khususnya senyawa fenol pada lingkungan perairan.

(25)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fenol

Fenol adalah senyawa yang memiliki gugus –OH dan cincin benzena, maka carrier yang akan berhasil mentranspor fenol adalah senyawa yang juga memiliki sisi aktif tersebut atau senyawa yang memungkinkan dapat terjadinya interaksi diantara keduanya. Interaksi yang mungkin adalah pembentukan ikatan hidrogen dan interaksi ikatan dengan fenol. Pembentukan ikatan ini berdasarkan pada teori ikatan hidrogen dan interaksi ikatan π-π. Atom hidrogen dari suatu molekul yang bersifat parsial positif dapat ditarik oleh pasangan elektron bebas dari atom suatu molekul lain yang bersifat elektronegatif. Tarikan ini disebut ikatan hidrogen (Bartsch and Way, 1996).

Fenol yang dikenal juga sebagai monohidroksibenzena merupakan kristal putih dengan titik leleh 40,85 °C dan titik didih 182 °C. Fenol larut dalam air pada temperatur kamar. Setiap 1 g fenol larut dalam 15 mL air, larut dalam 12 mL benzena dan sangat larut dalam alkohol, kloroform, eter, gliserol dan karbon disulfida. Fenol merupakan asam lemah dengan pKa 9,98 (Cichy and

Szymanowski, 2002). Molekul fenol mempunyai kecenderungan untuk melepas ion H+ dengan penambahan basa kuat seperti NaOH menjadi ion fenolat

(C6H5O¯) yang larut dalam air. Keberadaan fenol dalam bentuk molekularnya dan fenolat dipengaruhi oleh pH larutan. Pada kondisi asam, fenol akan berada dalam bentuk molekular, sedangkan pada kondisi basa, fenol akan berada dalam bentuk fenolat (C6H5O¯) (Xu Man-Cai et al., 2008).

(26)

5

Fenol adalah limbah utama yang pada limbah cair dari beberapa aktivitas industri seperti batubara, pekerjaan tambang, penyulingan gasolin, produksi farmasi, pabrik baja, pabrik besi, dan penyamakan kulit. Limbah fenol juga dihasilkan dari limbah cair industri mikroelektronik, industri minyak, industri gas, tekstil, kertas, otomotif, pabrik bahan kimia, serat gelas, bubur kertas, perekat, kayu lapis, cat, keramik, plastik, dan sebagainya. konsentrasi fenol dalam limbah industri berkisar 100-1000 mg/L (Stanisavljevici and Nidic, 2004). Fenol berada dalam

lingkungan diakibatkan karena aktivitas industri melalui limbah yang tidak terorganisir dengan baik (Venkateswaran and Palanivelu, 2006). Keberadaan limbah fenol dalam suatu perairan dapat menimbulkan efek kronik bagi organisme dan menyebabkan kematian pada ikan pada konsentrasi yang sangat rendah, yakni 5–25 mg/L (Alva and Peyton, 2003).

2.2 Eugenol dan DAF

Senyawa eugenol merupakan salah satu komponen kimia dalam minyak cengkeh yang memberikan bau dan aroma yang khas pada minyak cengkeh. Eugenol merupakan senyawa dari golongan hidrokarbon beroksigen (oxigenated hydrocarbon) yang merupakan cairan minyak tidak berwama atau sedikit kekuningan, mudah menguap, akan menjadi coklat jika kontak dengan udara.

Gambar 1. Senyawa Eugenol (Guenther, 1990).

Syarat polimer yang dapat digunakan sebagai carrier pada fasa membran yaitu mempunyai berat molekul yang tinggi serta memiliki struktur yang

(27)

6

memungkinkan terjadinya interaksi dengan senyawa yang akan ditranspor (Walkowiak, 2002). Dengan melakukan polimerisasi eugenol dan pemasukan gugus aktif yang diharapkan selektif, maka dapat ditingkatkan pemanfaatan potensi eugenol yang melimpah di Indonesia sebagai bahan jadi untuk carrier dengan teknik membran cair (Djunaidi et al., 2010).

Proses polimerisasi eugenol merupakan proses polimerisasi adisi kationik, hal ini dikarenakan gugus vinil dari polieugenol mengalami reaksi adisi. Reaksi

polimerisasi menggunakan katalis BF3OH(C2H5)2 terjadi melalui tahapan inisiasi, propagasi, dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi berkelanjutan sampai

diperoleh rantai monomer yang panjang. Pada tahap propagasi terjadi penataan ulang intermolekuler dari karbokation. Pada tahap terminasi dilakukan

penambahan metanol untuk menghentikan pertumbuhan rantai.

Gambar 2. Reaksi polimerisasi eugenol menjadi polieugenol (Purwasih, 2013).

Prediksi Struktur polieugenol hasil taut silang dengan DAF (Gambar 3) mengikuti prosedur atau metode yang telah dilakukan oleh Kiswandono et al. (2012), yakni eugenol dan dialil ftalat dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer, kemudian

ditambahkan katalis BF3O(C2H5)2 dan diaduk dengan pengaduk magnet. Reaksi terjadi ditandai dengan perubahan warna.

(28)

7

Gambar 3. Prediksi struktur turunan polieugenol hasil taut silang dengan DAF (Kiswandono, 2014).

Kopolimerisasi eugenol dengan DAF merupakan reaksi polimerisasi adisi kationik karena gugus vinil dari polieugenol mengalami reaksi adisi. Dengan kopolimerisasi eugenol ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah sisi aktif pada polimer yakni cincin benzena dan gugus hidroksi maka dapat menyebabkan berat molekul semakin tinggi sehingga dapat meningkatkan transpor fenol. DAF merupakan monomer yang memiliki gugus diena sehingga dapat digunakan kopolimerisasi untuk memperoleh struktur tersambung silang dalam hasil akhirnya (Kiswandono, 2010).

2.3 Teknologi Membran

Membran adalah sebuah lapisan semipermiabel yang tipis dan berfungsi sebagai penghalang di antara dua fasa. Penggunaan membran sebagai suatu teknologi pemisahan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan teknologi pemisahan lainnya. Keuntungan yang dimiliki yaitu energi yang digunakan cukup rendah sehingga ekonomis. Membran PIM (Polymer Inclusion Membrane) melibatkan transpor selektif dan menargetkan zat terlarut (senyawa target) dari satu larutan melalui membran yang memisahkan antara fasa sumber dan fasa penerima.

Membran PIM terdiri dari polimer pendukung, molekul pembawa dan plasticizer.

Pemakaian PVC pada membran akan menstabilkan membran dengan cara menahan molekul pembawa agar tetap berada pada membran. Modifikasi menggunakan PVC untuk pembentukan gel merupakan keuntungan dari metode

(29)

8

PIM (Kislik, 2010). Pratomo (2003) mendefinisikan membran sebagai suatu lapisan tipis antara dua fasa fluida yang bersifat sebagai penghalang terhadap spesies tertentu dan membatasi transpor dari berbagai spesies berdasarkan sifat fisik dan kimianya.

Salah satu teknologi membran adalah membran cair. Membran cair sangat menarik dalam hal pemisahan dan efektif pada berbagai aplikasi. Beberapa jenis membran cair digunakan dalam teknik kimia, kimia anorganik, analitik,

bioteknologi dan biomedikal. Proses pemisahan dengan membran cair dapat dilakukan pada suhu kamar, tidak bersifat destruktif dan dapat dikombinasikan dengan proses lainnya tanpa penambahan zat lain (Mulder, 1996). Membran cair terdiri dari cairan yang berperan sebagai penghalang semipermeabel dan tidak bercampur dengan fasa sumber maupun penerima (Bartsch and Way, 1996).

Proses pemisahan menggunakan membran cair merupakan sebuah terobosan yang selektif menghilangkan kontaminan dari limbah (Alvarez, 2001).

Membran cair terbagi menjadi tiga, yaitu membran cair ruah (Bulk Liquid Membranes, BLM), membran cair emulsi (Emulsion Liquid Membranes, ELM) dan membran cair berpendukung (Supported Liquid Membranes, SLM).

Membran cair ruah (Bulk Liquid Membranes, BLM) terdiri dari sejumlah besar (bulk) fasa sumber dan penerima yang dipisahkan oleh sejumlah besar pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. Biasanya BLM dipisahkan tanpa pendukung mikropori, sehingga disebut sebagai lapisan BLM (Kislik, 2010).

Menurut Gardner et al. (2006) ditinjau dari aspek ekonomis, BLM tidak dapat digunakan dalam skala industri. Namun, BLM memiliki luas permukaan yang kecil, sehingga penggunaannya terbatas pada kajian transpor dalam skala

laboratorium (Li, 1968). Membran cair emulsi (ELM), fasa penerima diemulsikan dalam membran cair, membran cair akan terdispersi ke fasa sumber dan terjadi transfer massa dari fasa sumber ke fasa penerima.

Permasalahan dalam metode ini adalah emulsi harus dihasilkan sebelum proses pemisahan berlangsung dan harus stabil untuk menghindari kebocoran, namun

(30)

9

emulsi juga harus bersifat tidak stabil saat prose pemisahan selesai (Kocherginsky et al., 2007). Pada membran cair berpendukung (Supported Liquid Membranes, SLM) terdiri dari pelarut organik hidrofobik yang diimobilisasi dalam pori polimer pendukung yang memisahkan fasa sumber dan penerima. SLM juga dapat dibuat dari imobilisasi fasa membran diantara dua lapisan nonpori yang bersifat permeabel untuk transpor suatu senyawa (Kislik, 2010). SLM sangat efektif dalam proses pemisahan dan pemurnian pada skala industri maupun laboratorium (Yaftian et al., 1998). SLM juga memiliki selektifitas yang baik, menggunakan sedikit ekstraktan dan konsumsi energi rendah (Mohapatra dan Manchanda, 2003). Namun SLM memiliki permasalahan dengan stabilitas yang rendah. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Zha et al. (1995); Hill et al. (1996); Yang and Fane (1999); dan Huidong et al.

(2009), yang menjelaskan bahwa permasalahan pada SLM adalah mudah

hilangnya komponen organik di dalam membran sehingga mengalami kebocoran pada saat transpor.

Gambar 4. Membran cair (a) BLM, (b) ELM dan (c) SLM (Pattilo, 1995).

Perbedaan ketiga jenis membran ini terlihat pada Gambar 4 menurut Alvarez (2001) membran cair mempunyai fluks yang lebih besar dari pada membran kovensional, hanya saja hilangnya komponen organik di dalam membran menjadi kelemahan yang serius. Fluks adalah jumlah volume sampel yang melewati satuan luas membran dalam waktu tertentu dengan adanya daya dorong berupa

(31)

10

tekanan. Sedangkan, koefisien rejeksi adalah fraksi konsentrasi zat terlarut yang tidak menembus membran (Mulder, 1996). Terdapat jenis membran lain yang memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan SLM, yaitu membran PIM menggunakan larutan yang mengandung carrier atau ekstraktan, pemlastis dan polimer dasar sepetri selulosa triasetat (CTA) atau PVC membentuk lapisan yang tipis, stabil dan fleksibel. Hasilnya adalah membran self-supporting yang dapat digunakan untuk memisahkan larutan yang diinginkan dengan cara yang mirip dengan SLM (Nghiem et al., 2006).

2.4 Metode PIM (Polymer Inclusion Membrane)

Membran SLM dan PIM sama-sama melibatkan transpor selektif dan

menargetkan zat terlarut (senyawa target) dari satu larutan melalui membran yang memisahkan antara fasa sumber dan fasa penerima, walaupun dari segi kestabilan SLM mempunyai kelemahan. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mengatasi ketidakstabilan pada SLM, membran cair SLM dapat dibuat menjadi gel dengan penambahan PVC. Selain dapat memperbaiki stabilitas SLM, pembuatan

membran cair menjadi gel juga dapat meningkatkan waktu penggunaan membran (Neplenbroek et al., 1992). Modifikasi dengan pembentukan gel pada membran SLM menggunakan PVC disebut dengan metode PIM. Membran tipe ini

biasanya dibentuk oleh suatu polimer seperti selulosa triasetat (CTA) atau polivinil klorida (PVC), molekul carrier dan plasticizer (Kislik, 2010).

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa hilangnya komponen-komponen penyusun membran merupakan salah satu alasan utama ketidakstabilan pada proses transpor menggunakan membran cair (Zha et al., 1995, Zheng et al., 2009 dan Zhang et al., 2001), tetapi PIM dianggap mampu meningkatkan kestabilan metode SLM karena dua hal, yaitu pemlastis yang berfungsi membuat sistem membran lebih stabil dan polimer dasar seperti PVC yang diharapkan dapat mengatasi kebocoran carrier. Oleh karena itu, PIM diharapkan mempunyai potensi yang lebih baik untuk pemisahan skala industri.

(32)

11

2.5 Stabilitas Membran PIM

Stabilitas Membran dipengaruhi oleh plasticizer dan garam. Peran plasticizer adalah untuk menembus antarmolekul polimer, menetralisir senyawa polar dari polimer dengan senyawa polar dari plasticizer untuk meningkatkan jarak antar molekul polimer dan mengurangi kekuatan gaya antarmolekul.

Beberapa jenis plasticizer yang banyak tersedia secara komersial, beberapa jenis plasticizer telah diuji untuk aplikasi dalam pembuatan membran PIM. 2- nitrofenil oktil eter (2-NPOE) dan 2-fenil oktil eter (2-POE) adalah salah satu jenis plasticizer yang saat ini berhasil digunakan di sebagian besar studi PIM.

Kebanyakan plasticizer tersebut telah diaplikasi pada membran ISE bukan karena ketersediaan komersial, namun karena biaya rendah dan dapat

digunakan dalam skala industri. Plasticizer umumnya senyawa organik yang mengandung gugus alkil hidrofobik dengan satu atau beberapa senyawa polar yang sangat solvating.

Konsentrasi rendah pada plasticizer tidak diinginkan karena dapat

menyebabkan membran menjadi lebih kaku dan rapuh akibat fenomena tersebut biasa disebut sebagai efek “anti-plasticizing”. Konsentrasi plasticizer minimum bervariasi, tergantung pada polimer dasar yang digunakan. Pada PVC,

konsentrasi minimum dapat berada dalam jangkauan hingga 20%. Konsentrasi plasticizer yang berlebihan akan bermasalah, karena kelebihan plasticizer bisa bermigrasi ke membran cair dan membentuk sebuah film pada permukaan membran, yang akan menjadi penghalang tambahan untuk transportasi ion logam melintasi membran. Bahkan, plasticizer yang berlebihan secara signifikan dapat mengurangi kekuatan mekanik pada film tipis, sehingga tidak dapat digunakan dalam situasi praktis (Nghiem, 2006).

Pengaruh garam dalam transpor fenol oleh (Happy,2012) mengenai penambahan garam dilakukan berdasarkan pengaruh efek kekuatan ionik terhadap kestabilan membran PIM. Variasi dilakukan terhadap dua kondisi, yaitu penambahan garam NaNO3 berbagai konsentrasi di fasa sumber dengan fasa penerima tetap

(33)

12

dan penambahan garam NaNO3 berbagai konsentrasi di fasa penerima dengan fasa sumber tetap. Hasil dari penelitian ini menunjukkan fenol tertranspor baik variasi penambahan NaNO3 di fasa sumber maupun penambahan NaNO3 di fasa penerima dalam berbagai konsentrasi. Hasil menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi NaNO3 yang ditambahkan semakin rendah persen konsentrasi fenol yang tertranspor ke fasa penerimanya. NaNO3 merupakan garam dengan kelarutan yang tinggi, keadaan tersebut memberikan dampak persaingan antara NaNO3 dengan zat utama dalam mengikat air. Konsentrasi NaNO3 yang semakin besar, menyebabkan kekuatan ionik NaNO3 semakin kuat sehingga garam lebih dapat mengikat molekul air. Hal ini menyebabkan penurunan kelarutan fenol dan NaOH dalam air.

Menurunnya kelarutan zat utama ini mengurangi kemampuan transpor fenol ke fasa penerima. Peristiwa penurunan kelarutan zat utama dalam pelarut akibat penambahan garam dikenal dengan salting out. Pengaruh kekuatan ionik, dimana kekuatan ionik semakin besar seiring bertambahnya konsentrasi NaNO3 yang ditambahkan, mempengaruhi ML loss membran PIM. adanya garam secara nyata mengurangi ML loss. Membran PIM semakin stabil dengan bertambahnya konsentrasi NaNO3, yang dinyatakan dengan ML loss semakin kecil. Semakin besar kekuatan ionik akan menghambat terbentuknya emulsi.

2.6 Kemampuan Membran PIM

Lifetime membran termasuk salah satu yang dilakukan untuk menguji ketahanan membran. Lifetime (masa hidup) membran PIM ditentukan dengan cara yang mirip dengan perhitungan ML loss. Dalam rentang waktu tertentu, larutan fenol di fasa sumber diukur pH nya sampai pH mencapai 9. Saat pH mencapai pH 9, proses transpor dihentikan dan diketahui bahwa membran telah mengalami kebocoran dengan fasa penerima (Kiswandono et al., 2013).

(34)

13

Penambahan garam untuk meningkatkan lifetime membran, berdasarkan penelitian yang dilakukan terbukti dapat mengurangi terjadinya kebocoran pada membran. Garam dengan konsentrasi lebih besar, yaitu 0,1 M NaNO3 dan 0,1 M NaCl di fasa sumber menjadikan membran PIM memiliki lifetime yang lebih lama dibandingkan dengan sampel tanpa garam dan sampel dengan penambahan garam konsentrasi yang lebih kecil (Kiswandono et al., 2014).

2.7 Karakterisasi

Pada penelitian ini, membran PIM dikarakterisasi dengan SEM dan FT-IR serta hasil transpor fenol dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis.

2.7.1 Scanning Electron Microscope (SEM)

Metode analisis yang sangat penting dalam karakterisasi morfologi polimer adalah metode analisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). SEM adalah salah satu jenis mikroskop elektron yang berfungsi untuk analisis morfologi atau menggambarkan permukaan suatu objek atau material dengan perbesaran 10-3. 000. 000 kali, kedalaman medan (depth of field) 4–0,4 mm, dan resolusi sebesar 110 nm. SEM memiliki prinsip memfokuskan sinar elektron (electron beam) dipermukaan obyek dan mengambil gambarnya dengan cara mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan obyek. SEM dilengkapi dengan mikroskop optik yang digunakan untuk mempelajari tekstur, topografi, dan sifat permukaan bubuk atau padatan dan karena ketajaman fokus dari alat SEM sehingga gambar yang dihasilkan memiliki kualitas tiga dimensi.

Prinsip analisis SEM adalah dengan menggunakan alat sinyal elektron sekunder.

Berkas elektron diarahkan pada suatu permukaan spesimen yang telah dilapisi oleh suatu film konduktor. Pelapisan ini bertujuan agar polimer yang digunakan dapat menghasilkan arus listrik sehingga dapat berinteraksi dengan berkas elektron. Berkas elektron yang berinteraksi dengan spesimen dikumpulkan sehingga menghasilkan sinyal untuk mengatur intensitas elektron pada suatu

(35)

14

tabung televisi yang diarahkan serentak dengan sinar dari mikroskop. Interaksi berkas elektron dengan spesimen akan menghasilkan pola difraksi elektron yang dapat memberikan informasi mengenai monografi ataupun topografi permukaan serta jenis unsur dan distribusinya (Wu et al., 2007). Gambar 5 menunjukkan morfologi hasil SEM dari membran (b1) Co-EDAF 6% sebelum transpor dan (b2) Co-EDAF 6% setelah transpor. Karakterisasi membran menggunakan SEM seperti yang terlihat pada Gambar 6 menunjukan morfologi permukaan membran sebelum transpor yang terlihat bahwa membran setelah transpor mulai terlihat adanya lubang-lubang yang diakibatkan karena mulai terkikisnya permukaan membran (Kiswandono, 2014).

Gambar 5. Morfologi hasil SEM dari membran (Kiswandono, 2014)

2.7.2 Spektrofotometri Fourier Transform Infra Red (FTIR)

Spektrofotometri infra merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang

gelombang 0,75 – 1. 000 μm atau pada bilangan gelombang 13. 000 – 10 cm-1. Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) pada dasarnya adalah sama dengan spektrofotometer IR, perbedaannya terdapat pada sistim optik FTIR digunakan radiasi Light Amplification by Stimulated Emmission of Radiation (LASER) yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra merah yang diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik (Giwangkara, 2006).

(36)

15

Prinsip kerja FTIR berupa infrared yang melewati celah menuju sampel, dimana celah tersebut berfungsi mengontrol jumlah energi yang disampaikan kepada sampel, kemudian beberapa infrared diserap oleh sampel dan yang lainnya ditransmisikan melalui permukaan sampel sehingga sinar infrared lolos ke detektor dan sinyal yang terukur kemudian dikirim kekomputer (Thermo, 2001).

Analisis menggunakan spektrometer FTIR memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu dapat digunakan pada semua frekuensi dari sumber cahaya secara simultan, sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat dari pada menggunakan cara scanning, sensitivitas FTIR lebih tinggi dari instrumentasi dispersi standar karena resolusinya lebih tinggi. Sensitifitas dari metoda

spektrofotometri FTIR lebih besar dibandingkan cara dispersi, disebabkan radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah.

Analisis menggunakan spektrofotometri FTIR dapat mengidentifikasi gugus fungsi suatu material organik (Hamdila, 2012).

2.7.2 Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometri UV-Vis adalah pengukuran panjang gelombang, intensitas sinar ultraviolet, dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektroskopi UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan.

Spektrum UV-Vis mempunyai bentuk yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa didapatkan dari spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan sinar tampak berada pada panjang gelombang 400-800 nm. Kebanyakan penerapan spektrofotometri UV-Vis pada senyawa organik didasarkan n-π* ataupun π-π* karena spektrofotometri UV-Vis memerlukan hadirnya gugus kromofor dalam molekul itu. Transisi ini terjadi dalam daerah spektrum (200-700 nm) yang nyaman untuk digunakan dalam eksperimen.

(37)

16

Spektrofotometer UV-Vis yang komersial biasanya beroperasi dari sekitar 175 nm atau 200-1000 nm. Identifikasi kualitatif senyawa organik dalam daerah ini jauh lebih terbatas daripada dalam daerah inframerah. Ini karena pita serapan terlalu lebar dan kurang terinci. Tetapi, gugus-gugus fungsional tertentu seperti karbonil, nitro, sistem tergabung, benar-benar menunjukkan puncak yang karakteristik, dan sering dapat diperoleh informasi yang berguna mengenai ada tidaknya gugus semacam itu dalam molekul tersebut (Day and Underwood, 1986). Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan hukum Lambert Beer, yaitu bila cahaya

monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It) (Huda, 2001). Menurut Khopkar (2003), instrumen spektrofotometri UV-Vis adalah :

a. Sumber sinar polikromatis, berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai macam rentang panjang gelombang. Sumber yang biasa digunakan pada daerah UV adalah lampu deuterium atau disebut juga heavy hidrogen, sedangkan pada daerah Vis menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram, spektrofotometer UV-Vis menggunakan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.

b. Monokromator, merupakan alat yang memecah cahaya polikromatis menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang gelombang tertentu. Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromator dari sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis. Monokromator terdiri dari susunan : celah (slit) masuk – filter – kisi (grating) – celah (slit) keluar.

c. Wadah sampel (kuvet), merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Kuvet dari leburan silika (kuarsa) dipakai untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada daerah pengukuran 190-1100 nm, dan kuvet dari bahan gelas dipakai pada daerah pengukuran 380-1100 nm karena bahan dari gelas mengabsorpsi radiasi UV.

(38)

17

d. Detektor, menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel. Cahaya kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder akan

ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer).

e. Visual display/read out, merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang berasal dari detektor. Menyatakan dalam bentuk% transmitan maupun absorbansi.

Cara kerja alat spektrofotometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi

diteruskan menuju monokromator. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui sampel dengan sebuah cermin berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian secara berulang-ulang. Sinyal listrik dari detector diproses, diubah ke digital dan dilihat hasilnya, selanjutnya perhitungan dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram (Harjadi, 1993). Skema alat

spektroskopi UV-Vis dapat dilihat pada berikut.

Gambar 6. Skema alat spektrofotometer UV-Vis (Khopkar, 2003)

(39)

18

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa bulan Januari- agustus(2021) di Laboratorium Kimia Analitik dan Instrumentasi Universitas Lampung.

Karakterisasi senyawa carrier Co-EDAF menggunakan Fourier Transform

Infrared (FTIR) yang dilakukan di UPT Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi (LTSIT) Universitas Lampung. Karakterisasi membran PIM

menggunakan SEM di PUSLABFOR Bogor dan FT-IR yang dilakukan di UPT Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi Universitas Lampung.

Analisis optimasi transpor menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis yang dilakukan di Laboratorium Botani FMIPA Universitas Lampung.

(40)

19

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, satu rangkaian alat transpor fenol, pH meter (HM-30R), pengaduk magnet, corong pisah, alat penunjang berupa alat-alat gelas dan plastik, neraca analitik (Mettler Toledo AB54-S), desikator, Spektrofotometer UV-Vis HITACHI, Fourier Transform Infrared (FTIR) Shimadzhu 820PC.

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, kopoli (Eugenol- DAF) 8% hasil sintesis kopolimerisasi oleh Sinjia (2019), dan akuades, bahan kimia semua kualitas pure analysis produksi Merck yaitu fenol (C6H5OH), 4- aminoantipirin, dibenzileter (DBE), fenil oktil eter (POE), polivinil klorida (PVC), tetrahidrofuran (THF), natrium hidroksida (NaOH), kalium klorida (KCl), natrium klorida (NaCl), natrium nitrat (NaNO3), natrium sulfat (Na2SO4), kalium nitrat (KNO3), kloroform (CHCl3), K4Fe(CN)6, asam klorida (HCl), kalium ferrisianida, pH indikator, buffer fosfat dan kertas saring.

(41)

20

3.3 Prosedur Penelitian

3.3.1 Pencetakan membran

Membran PIM dicetak atau dibuat dengan berat total 0,54 g dalam suatu cetakan yang telah dilengkapi dengan magnetic stirrer. Komponen penyusun membran yaitu Co-EDAF 8% sebagai senyawa carrier, PVC sebagai polimer dasar, DBE sebagai plasticizer dan Tetrahidrofuran (THF) dengan masing berat yaitu 0,0540 g

; 0,1728 g ; 0,3132 g ; dan sebanyak 10 mL THF yang berfungsi sebagai pelarut untuk menghomogenkan campuran dalam cetakan, kemudian hasil cetakan didiamkan selama tiga hari untuk menguapkan pelarut secara alami. Setelah membran PIM dibuat, kemudian ditimbang terlebih dulu sebelum digunakan untuk proses transpor fenol yang dilakukan pada chamber. Karaterisasi membran sebelum dan sesudah transpor menggunakan analisis FTIR.

3.3.2 Variasi konsentrasi Plasticizer

Membran PIM dibuat dengan variasi konsentrasi plasticizer (DBE). Variasi konsentrasi yang digunakan plasticizer adalah 0,3032; 0,3100; 0,3132; 0,3200;

dan 0,3232 g (Tabel 1). variasi konsentrasi ini dilakukan untuk mengetahui plasticizer optimumnya dengan tetap memperhatikan perbandingan rasio berat membran carrier : PVC : plasticizer = 10 : 32 : 58 seperti tercantum dalam Tabel 1, membran pada variasi konsentrasi plasticitizer ditempatkan pada tengah pipa transpor fenol, kemudian pada kolom masing-masing fasa sumber (5 chamber), diisi campuran 50 mL fenol (60 ppm pH 5,5) dan pada fasa penerima berisi NaOH 0,1M. Pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima selama 48 jam pada suhu kamar. Stelah 48 jam, membran PIM dilepas, dikeringkan selama 48 jam, dan ditimbang. Konsentrasi fenol pada fasa penerima dan fasa sumber dianalisis menggunakan

spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 456 nm (Sinjia, 2019).

(42)

21

Membran PIM yang telah digunakan untuk transpor fenol dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR).

Tabel 1. Komposisi membran

No PVC (g) Carrier (g) Plasticizer

1 0,1728 0,0540 0,3032

2 0,1728 0,0540 0,3100

3 0,1728 0,0540 0,3132

4 0,1728 0,0540 0,3200

5 0,1728 0,0540 0,3232

3.3.3 Variasi Jenis Garam

Membran PIM dengan komposisi optimum plasticizer sebelum digunakan ditimbang terlebih dahulu. Kemudian membran PIM ditempatkan pada tengah pipa transpor fenol. Pada kolom masingi-masing fasa sumber (5 chamber), diisi campuran 50 mL fenol (60 ppm pH 5,5) dengan garam 0,01 M. Garam tersebut adalah KCl, NaCl, NaNO3, Na2SO4, dan KNO3. Sementara pada kolom fasa penerima dimasukkan 50 mL NaOH 0,1 M. Selanjutnya, pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima selama 48 jam pada suhu kamar. Setelah 48 jam, membran PIM dilepas, dikeringkan selama 48 jam, dan ditimbang. Konsentrasi fenol pada fasa penerima dan fasa sumber dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 456 nm.

3.3.4 Variasi Konsentrasi Garam

Pada variasi konsentrasi garam dilakukan dua perlakuan yaitu variasi konsentrasi garam pada fasa sumber dengan fasa penerima tetap dan variasi konsentrasi garam pada fasa penerima dengan fasa sumber tetap. Transpor fenol dengan penambahan garam pada fasa sumber dengan fasa sumber tetap. Membran PIM dengan komposisi plasticizer optimum sebelum digunakan ditimbang terlebih

(43)

22

dahulu. Kemudian membran PIM ditempatkan pada tengah pipa transpor fenol.

Pada kolom masing-masing fasa sumber (5 chamber), diisi campuran 50 mL fenol (60 ppm pH 5,5) yang telah ditambahkan garam dengan variasi konsentrasi 0 M; 0,001 M; 0,01 M; 0,1 M dan 1 M. Pada kolom fasa penerima diisi 50 mL NaOH 0,1 M. Pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima selama 48 jam pada suhu kamar. Setelah 48 jam, membran PIM dilepas, dikeringkan selama 48 jam, dan ditimbang. Konsentrasi fenol pada fasa penerima dan fasa sumber dianalisis menggunakan

spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 456 nm.

Transpor fenol dengan penambahan garam pada fasa penerima. Membran PIM dengan komposisi optimum jenis garam sebelum digunakan ditimbang terlebih dahulu. Kemudian membran PIM ditempatkan pada pipa transpor fenol. pada Pada kolom masing-masing fasa sumber (5 chamber), diisi campuran 50 mL fenol (60 ppm pH 5,5) sedangkan untuk fasa penerimanya diisi dengan larutan garam dengan variasi konsentrasi 0 M; 0,001 M; 0,01 M; 0,1 M dan 1 M dalam 50 mL NaOH 0,1 M. Pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima selama 48 jam pada suhu kamar. Setelah 48 jam, membran PIM dilepas, dikeringkan selama 48 jam, dan ditimbang.

Konsentrasi fenol pada fasa penerima dan fasa sumber dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 456 nm.

3.3.5 Pemakaian Berulang Pada Membran PIM

Membran PIM dengan komposisi optimum plasticizer sebelum digunakan ditimbang terlebih dahulu. Kemudian membran PIM ditempatkan pada pipa transpor fenol. Pada kolom fasa sumber diisikan 50 mL fenol 60 ppm dengan pH yang telah diatur menjadi 5,5 dan pada kolom fasa penerima diisikan 50 mL NaOH 0,1 M. Pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima selama 48 jam pada suhu kamar. Setelah 48 jam, membran PIM dilepas, dikeringkan selama 48 jam, dan ditimbang. Konsentrasi

(44)

23

fenol pada fasa penerima dan fasa sumber dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 456 nm. Selanjutnya membran PIM digunakan kembali untuk transpor fenol dengan lima kali pengulangan dengan menggunakan larutan fenol yang baru.

3.3.6 Lifetime

Membran PIM dengan komposisi optimum plasticitizer ditempatkan pada tengah pipa transpor fenol, kemudian pada kolom fasa sumber diisi 50 mL fenol 60 ppm pH 5,5 dengan dua variasi yaitu tanpa penambahan garam dan penambahan garam optimum dengan konsentrasi garam 0,01 M. Pada kolom fasa penerima diisi 50 mL NaOH 0,1 M. Pipa transpor ditutup dan diaduk dengan pengaduk magnet pada fasa sumber dan fasa penerima. Lifetime ditentukan dengan cara mengukur nilai pH pada fasa sumber. Naiknya nilai pH pada fasa sumber mengindikasikan bahwa membran PIM sudah mengalami kebocoran. pH pada fasa sumber dicek secara berkala hingga pH pada fasa sumber ±9,0.

(45)

24

D. Diagram Alir Penelitian

Secara keseluruhan penelitian ini dirangkum dalam diagam alir praktik kerja yang ditunjukkan dalam Gambar 7.

Gambar 7. Diagram alir penelitian Membran PIM dengan

Variasi Konsentrasi Plasticizer

Membran PIM dengan Komposisi Plasticitizer

Optimum

Variasi Garam

Variasi Konsentrasi

Garam

Fasa Sumber Fasa

Penerima

Pemakaian

Berulang Lifetime

Penambahan Garam (Tiga Variasi Konsentrasi Garam) Tanpa

Garam (kontrol

Karakterisasi Uv-Vis,

Karakterisasi, FTIR, dan SEM Percetakan Membran

PIM

(46)

42

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Adanya pengaruh variasi konsentrasi plasticizer pada membran PIM dengan carrier Co-EDAF 8% tercapai pada konsentrasi 0,3132 g dengan persen fenol yang tertranspor sebanyak 84,39%.

2. Adanya pengaruh variasi jenis dan konsentrasi garam pada membran PIM dengan carrier Co-EDAF 8% tercapai pada garam NaNO3 dengan persen fenol yang tertranspor sebanyak 81,24% dan konsentrasi garam 0,001 M pada fasa sumber dan fasa penerima dengan persen fenol yang tertranspor sebanyak 82,41% dan 77,73%.

3. Membran PIM dapat digunakan untuk transpor fenol sebanyak lima kali

pengulangan dengan persen fenol yang tertranspor sebanyak 16,73% dan umur membran untuk penambahan garam menjadi lebih lama.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan pada penelitian lebih lanjut mengenai penambahan garam pada fasa penerima, pemakaian berulang membran dan beberapa pengaruh lain yang dapat mempengaruhi stabilitas dan ketahanan membran PIM.

(47)

43

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, S., S. Pudji., T. Widianto., dan Trusni. 2008. Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa Sawit. Workshop Teknologi Industri Kimia dan Kemasan.

Alva, V.A. and B.M. Peyton. 2003. Phenol and Catechol Biodegradation by the Haloalkaliphile Halomonas Campisalis: Influence of pH and Salinity.

Environmental Scicience Technology. 37(19) : 4397-4402.

Alvarez, G.S. 2001. Study on Polymeric Inclusion Membranes, Transport and Characterisation. (Thesis). Royal Institute of Technology. Stockholm.

Babcock, W.C., J. Brooke, and Friessen. 1985. Fundamentals of Coupled- Trasport Membranes. U.S Department of Energy. New York.

Bartsch, R.A. and J.D. Way. 1996. Chemical Separations With Liquid

Membranes. Journal of the American Chemical Society. ACS Symposium Series Volume 642 – 422 pp.

Benosmane, N., B. Baya., M.H.Safouane, and H. Maamar. 2018. Removal of Phenol from Aqueous Solution Using Polymer Inclusion Membrane Based on Mixture of CTA and CA. Applied Water Science. 8:17.

Cichy, W., and J. Szymanowski. 2002. Recovery of Phenol from Aqueous Streams in Hollow Fiber Modules. Journal of Environmental Science Technology. 36 (9) : 2088-2093.

Danesi, P.R. 1984. Separation of Metal Species by Supported Liquid Membranes.

Journal of separation Science Thechnology. 19(11-1):857-894.

Day, R.A., dan Underwood, A.L. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Djunaidi, M.C., R.A. Lusiana, P.J. Wibawa, D. Siswanta, dan Jumina. 2010.

Sintesis Turunan Polieugenol sebagai Carrier bagi Recovery Logam Berat dengan Teknik Membran Cair. Reaktor. 13 (1) : 16-23.

(48)

44

Djunaidi, M.C., P.J. Wibawa, and R.H. Murti. 2018. Synthesis of A Novel Carrier Compound Thiazeothyl Methyl Eugenoxyacetate from Eugenol and Its Use in the Bulk Liquid Membrane Technique. Indonesian Journal of Chemistry.

Vol. 18(1): 121-126.

Ferraz, H., L. T. Duarte, M. D. Lucio, A. C. Habert, and C. P. Borges. 2007.

Recent Achievements in Facilitated Transport Membranes for Separation Processes. Brazilian Journal of Chemical Engineering. 24: 101–118.

Gardner, J.S., Q.P. Peterson, J.O. Walker, B.D. Jensen, B. Adhikary, R.G.

Harrison,and J.D. Lamb. 2006. Anion Transpor Trough Polymer Inclusion Membranes Facilitated by Transition Metal Containing Carriers. Journal of Membrane Science. 277 : 165-167.

Giwangkara, S.E. 2006. Aplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari Minyak Bumi Menggunakan Spektrofotometer Infra Merah Transformasi Fourier (FTIR). Sekolah Tingkat Energi dan Mineral, Cepu-Jawa Tengah.

Guenther, E.1990.Minyak Atsiri. Universitas Indonesia. Jakarta.

Hamdila, J.D. 2012. Pengaruh Variasi Massa Terhadap Karakteristik

Fungsionalitas Dan Termal Komposit MgO-SiO2 Berbasis Silika Sekam Padi Sebagai Katalis. Skripsi. Universitas Lampung.

Happy, M.R. 2012. Studi stabilitas dan kemampuan transpor fenol Menggunakan polymer inclusion membrane (pim) dengan Polimer polieugenol tersambung silang bisphenol a Diglycidyl ether (badge) sebagai membran carrier.

Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hill, C., J.F. Dozol, H. Rouquette, S. Eymard, and B. Tournois. 1996. Study of the Stability of Some Supported Liquid Membranes. Journal of Membrane Science. 114: 73-80.

Huda, N. 2001. Pemeriksaan kinerja spektrofotometer UV-Vis GBC 911A menggunakan pewarna tartrazine CL 19140. Sigma Epsilon. 1 (20) : 15- 20.

Huidong, Z., W. Biyu, W.U. Yanxiang, and R.E.N. Qilong. 2009. Instability Mechanisms of Suppoeted Liquid Membrane for Phenol Transport. China Journal of Chemistry Engineering. 17(5): 750 – 755.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.

(49)

45

Kislik, V.S. 2010. Liquid Membranes: Principles and Applications in Chemical Separations and Wastewater Treatment. Elsevier. Inggris.

Kiswandono, A. A. 2010. Studi Transpor Fenol dengan Menggunakan Membran Cair Polieugenol. (Prosiding Seminar Nasional). Jurusan Kimia. Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Kiswandono, A.A. 2014. Kajian Transpor Fenol Melalui Membran

Berbasis Polieugenol Tertaut Silang Menggunakan Metode Polymer Inclusion Membrane (PIM). (Disertasi). Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta.

Kiswandono, A.A., D. Siswanta, and N.H. Aprilita, S.J. Santosa. 2012.

Preparation of Copoly(Eugenol-DVB) as Membrane Carrier for Transport Phenol by Inclusion Polymer Membrane (PIM). Indonesian Journal of Chemistry. Vol. 12(2): 105-112.

Kiswandono, A.A., D. Siswanta, N.H. Aprilita, S.J. Santosa, and T. Hayashita.

2013. Extending the Life Time of Polymer Inclusion Membrane ContainingCopoly(Eugenol-DVB) as Carrier for Phenol Transport.

Indonesian Journal of Chemistry. Vol. 13(3): 254-261.

Kiswandono, A.A., D. Siswanta, N.H. Aprilita, S.J. Santosa, and T. Hayashita.

2014. The Capability of Copoly (Eugenol-Divinil Benzene), Co-EDVB As a Carrier of Phenol Transport with Polymer Inclusion Membrane (PIM).

Journal of Enviromentally Friendly Processes. ISSN 2328-1383 (2) : 57-68.

Kocherginsky, N.M., Q. Yang, and L. Seelam. 2007. Recent Advances in Supported Liquid Membrane Technology. Separation Purification Technology. 53 : 171 – 177.

Li, N.N., 1968, Liquid Surfactant Membranes, US Patent No. 3. 410-794.

Misran, E. 2002. Aplikasi Teknologi Berbasiskan Membran dalam Bidang Bioteknologi Kelautan : Pengendalian Pencemaran. USU. Sumatra Utara.

Mohapatra, P.K., and V.K. Manchanda. 2003. Liquid Membrane Based Separations of Actinides and Fission Products. Indian Journal of Chemistry. 42A: 2925.

Mortaheb, H.R., Amini, M.H., Sadeghian, F., Mokhtarani, B., & Daneshyar, H.

2008. Study on a New Surfactant fpr Removal of Phenol from Wastewater by Emulsion Liquid Membrane. Jurnal of Hazardous Materials 160:82-88.

Mulder, M. 1996. Basic Principles of Membrans Technology 2nd edition. Kluwer Academic Publisher. The Nederlands.

(50)

46

Neplenbroek, A. M., D. Bargeman, and C.A. Smolders. 1992. Supported Liquid Membranes: Instability Effects. Journal of Membrrane Science. 67: 121- 132.

Nghiem, L.D., P. Mornane, I.D. Potter, J.M. Perera, R.W. Cattrall, and S.D.

Kolev. 2006. Extraction and Transport of Metal Ions and Small Organic Compounds Using Polymer Inclusion Membranes (PIMs): Review Journal of Membrrane Science. 281: 7–41.

Pattilo, C. 1995. Membranes: Liquid Membranes in Particular, A Tutorial of Sorts. Rensselaer Polytechnic Institute. New York.

Pratomo, H. 2003. Pembuatan dan Karakterisasi Membran Komposit Selulosa Asetat untuk Proses Ultrafiltrasi Polisulfon. Jurnal Pendidikan Matematika Dall Saills. Edisi 3 Tahun VIII. Hal. 168-173.

Purwasih, R. 2013. Studi Transpor Fenol Menggunakan Polymer Inclusion Membrane (PIM) dengan Molekul Pembawa Kopoli (Eugenol-Dialil Ftalat). (Skripsi). Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sinjia, F. 2019. Studi Transpor Fenol Menggunakan Senyawa Carrier Co-EDAF (Copoli Eugenol-Dialil Ftalat) 8% Dengan Metode Polymer Inclusion Membrane (PIM)

Stanisavljvici, M., and L. Nidic. 2004. Removal Of Phenol from Industrial Wastewaters by Horseradish (Cochlearia armoracia L) Peroxidase.

Working and Living Environmental Protection. 2 (4) : 345 – 349.

Thermo, N. 2001. Introduction to Fourier Transform Infrared Spectrometry.

Thermo Nicolet Corporation, USA.

Ulbricht, M. 2006. Advanced Functional Polymer Membranes. Polymer. 46 (7):

2217-2262.

Venkateswaran, P., and K. Palanivelu. 2006. Recovery of Phenol from Aqueous Solution by Supported Liquid Membrane Using Vegetable Oils as Liquid Membrane. Journal of Hazardous Materials. B131 : 146 – 152.

Walkowiak, W., M. Ulewicz, and C.A. Kozlowski. 2002. Application of Macrocycle Compounds for Metal Ions Removal and Separation. Ars Separatoria Acta. 1 : 87-98.

Wu, C.F., Chen, Y.L., Chen, C.C., Yang, T.T., and Chang, P.E. 2007. Applying Open-path Fourier Transform Infrared Spectroscopy for Measuring Aerosols. Journal of Environmental Science and Health - Part A

Toxic/Hazardous Substances and Environmental Engineering. 42: 1131–

1140.

(51)

47

Xu Man-Cai, Y. Zhou, and J.H. Huang. 2008. Adsorption Behaviors of

Three Polymeric Adsorbents With Amide Groups For Phenol In Aqueous Solution. Journal Of Colloid and Interface Sci. 327: 9–14.

Yaftian, M.R., Burgard, M., Dieleman, C.B., and Matt, D. 1998. Rare-Earth Metal-Ion Aeparation Using a Supported Liquid Membrane Mediated by a Narrow Rim Phosphorylated Calix[4]Arene. J. Membr. Sci 144:57-56.

Yang, X.J., and A.G. Fane. 1999. Performance and Stability of Supported Liquid Membranes Using LIX 984N for Copper Transport. Journal of Membrrane Science.156: 251-263.

Zha, F.F., A.G. Fane, and C.J.D. Fell. 1995. Instability Mechanisms of Supported Liquid Membranes in Phenol Transport Process. Journal of Membrrane Science. 107: 59-74.

Zhang, B., G. Gozzelino, dan Baldi. 2001. Colloids and Surfaces A:

Physicochemical and Engineering Aspects 193: 61 – 70.

Zheng, H.D., W. Biyu, W. Yanxiang, dan R. Qilong. 2009. Instability Mechanisms of Supported Liquid Membranes for Copper (II) Ion

Extraction. Colloids and Surfaces A: Physicochem. Eng. Aspects. 351: 38 – 45.

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan guru profesional di MTs Al-Khairaat Bunobogu berdasarkan tingkat kompetensi guru, kemampuan dalam menerapkan proses pembelajaran itu sendiri, karena guru secara aktif

memang melalui para perantara tapi sekarang sudah tidak lagi bukan. Inilah salah satu keberhasilan Pemkab Mamuju dalam meaktualisasikan pembangunan di

Bentuk strategi coping stres yang dipilih oleh subjek berupa problem- focused coping ialah keaktifan diri seperti tetap menjalankan dan melaksanakan tugas pokok dengan

Ada hubungan faktor pengetahuan dengan tingkat kecemasan preoperasi pada pasien bedah mayor (r= - 0,340; p=0.000). Rekomendasi: Perawat dapat mengoptimalkan fungsi perawat

Aileron adalah kontrol permukaaan yang mengontrol gerak guling (rolling) pesawat,sebagai contoh, ketika aileron sebelah kiri turun kebawah sedangkan aileron sebelah kanan naik

Pengaruh pemberian tauge kacang hijau yang mengandung vitamin E sebagai senyawa antioksidan dominan terhadap diameter tubulus seminiferus, tebal lapisan epitel

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka peneliti tertarik dan memandang perlu untuk mengetahui persepsi dokter, apoteker, asisten apoteker, dan pasien mengenai

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat yang dilimpahkan-Nya sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh