Kontrak perkuliahan
MK Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Gizi
Chica Riska Ashari, S.Gz, M.Si [email protected]
Kontrak Kuliah
•
Mahasiswa wajib mengenakan pakaian rapi, sopan dan sesuai etika kampus UHAMKA.•
Mahasiswa wajib hadir tepat waktu, toleransi keterlambatan selama dosen belum masuk kelas.•
Mahasiswa yang sakit/izin harus menghubungi dosen yang bersangkutan dan membuat surat keterangan sakit/izin.•
Dalam mengerjakan tugas mandiri/kelompok tidak dibenarkan menggunakan referensi populer (blog, artikel bebas, dan artikelkoran), boleh menggunakan jurnal dan buku referensi lainnya, serta tidak dibenarkan untuk copy paste.
Kontrak Kuliah
• Dalam proses belajar mengajar, HP harus disimpan di dalam tas dalam mode silent atau non aktif.
• Dalam proses belajar mengajar, tidak dibenarkan untuk bercerita/mengganggu ketertiban kelas.
• Dalam proses presentasi mahasiswa tidak dibenarkan membawa HP pada saat presentasi.
• Sebelum jadwal presentasi mahasiswa diwajibkan menguasai materi presentasi.
• Dalam ujian tertulis, jika mahasiswa kedapatan mencontek (apapun itu), maka satu kelas akan mendapat nilai Error.
Kontrak Kuliah Online
•
Toleransi keterlambatan 15 menit.•
Semua (dosen dan mahasiswa) wajib mengaktifkan kamera, jika tidak dianggap tidak hadir.MK Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Gizi
• Semester/SKS : III / 2 SKS
• Dosen pengampu :
•
Mohammad Furqan, MKM•
Chica Riska Ashari, S.Gz, M.SiDeskripsi Mata Kuliah
• Mata kuliah ini mempelajari mengenai sistem kesehatan di Indonesia, manajemen dan
sistem pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan seperti RS, puskesmas dll, subsistem pembiayaan kesehatan, serta
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan penilaian program kesehatan dan gizi.
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
• Mahasiswa mampu memahami konsep sakit dan sehat.
• Mahasiswa mampu mengenal sistem kesehatan di Indonesia
• Mahasiswa mampu memahami manajemen dan sistem pelayanan kesehatan.
• Mahasiswa mampu memahami sistem kesehatan di Indonesia.
• Mahasiswa mampu memahami subsistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
• Mahasiswa mampu memahami subsistem pembiayaan kesehatan di Indonesia.
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (lanjutan…)
• Mahasiswa mampu memahami perencanaan program kesehatan dan gizi.
• Mahasiswa mampu memahami pengorganisasian program kesehatan kesehatan dan gizi.
• Mahasiswa mampu memahami pelaksanaan program kesehatan kesehatan dan gizi.
• Mahasiswa mampu memahami penilaian program kesehatan kesehatan dan gizi.
• Mahasiswa mampu memahami hasil-hasil penelitian nasional dan internasional dalam bidang pelayanan kesehatan dan gizi.
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Pertemuan ke
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai konsep sakit dan sehat .
• Konsep sehat dan sakit.
• Determinan kesehatan dan gizi
Pertemuan 1
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai
konsep sakit dan sehat (2) dan Pengenalan sistem kesehatan di Indonesia.
• Menjelaskan konsep terjadinya penyakit Model Roda, kerangka sebab akibat dan segitiga epidemiologi (Multiple
Causation).
• Menjelaskan konsep pencegahan penyakit.
• Pengenalan sistem kesehatan di Indonesia
Pertemuan 2
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Manajemen dan Sistem pelayanan kesehatan.
• Batasan
• Unsur-unsur
• Ruang lingkup
• Manfaat
Pertemuan 3
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Pertemuan ke
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Sistem kesehatan di Indonesia.
• Batasan
• Ciri
• Unsur
• Jenjang
• Pendekatan
• Analisis
• Bentuk pokok
Pertemuan 4
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Subsistem pelayanan kesehatan (1).
• Batasan
• Macam
• Syarat pokok
• Masalah
• Pelayanan kesehatan menyeluruh &
terpadu
• Stratifikasi
• Sistem rujukan
• Program penjaminan mutu
Pertemuan 5
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Subsistem pelayanan kesehatan (2).
• Pelayanan kedokteran
• Pelayanan rawat jalan
• Pelayanan gawat darurat
• Rumah sakit (Pelayanan gizi di RS, PGRS klinik dan penyelenggaraan makanan RS, Food safety, HACCP)
Pertemuan 6
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Pertemuan ke
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Subsistem pelayanan kesehatan (3)
• Pelayanan dokter keluarga
• Pelayanan kesehatan masyarakat
• Puskesmas (Standar pelayanan gizi di
puskesmas dan posyandu, TFC pada kasus gizi buruk, Pelayanan lintas sektor)
Pertemuan 7
UTS (Pertemuan ke-8) Mahasiswa mampu
menjelaskan mengenai Subsistem pembiayaan kesehatan (1).
Batasan
Sumber biaya kesehatan Macam biaya kesehatan
Syarat pokok pembiayaan kesehatan Upaya penyelesaian
Pertemuan 9
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Subsistem pembiayaan kesehatan (2).
Tarif pelayanan Asuransi kesehatan
Biaya pelayanan kedokteran
Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Pertemuan 10
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Pertemuan ke
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Perencanaan program kesehatan dan gizi.
• Batasan
• Aspek perencanaan
• Ciri-ciri perencanaan
• Macam perencanaan
• Unsur rencana
• Menetapkan prioritas masalah
• Menetapkan prioritas
Pertemuan 11
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Pengorganisasian
program kesehatan dan gizi.
• Batasan
• Pengorganisasian suatu wadah
• Prinsip pokok organisasi
• Macam organisasi
• Pengembangan organisasi
• Pengorganisasian kegiatan masyarakat
• Penyusunan staf
• Fungsi staf
Pertemuan 12
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Pelaksanaan program kesehatan dan gizi.
• Motivasi
• Komunikasi
• Kepemimpinan
• Pengarahan
• Pengawasan
• Supervisi
Pertemuan 13
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Pertemuan ke
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai Penilaian program kesehatan dan gizi.
• Jenis
• Ruang lingkup
• Teknik penilaian
Pertemuan 14
Mahasiswa mampu memahami hasil-hasil penelitian nasional dan internasional dalam bidang pelayanan kesehatan dan gizi.
• Sistem pelayanan kesehatan dan gizi Pertemuan 15
Ujian Akhir Semester (UAS)
Bobot Penilaian
Indikator Bobot Tugas Terstruktur 25%
UTS 25%
UAS 40%
Keaktifan 10%
REFERENSI
• A. Gede Muninjaya. Manajemen Kesehatan Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004.
• Departemen Kesehatan RI. Manajemen Kesehatan Edisi 2. Jakarta: EGC. 2001.
• Wijino D, dr, MS. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Airlangga University Press. Vol 1. 1999.
• Handbook of Total Quality Management, karangan R.P. Mohanty dan R.R. Lakhe, 2000
• Total Quality in Healthcare, karangan Ellen J. Gaucher dan Richard J. Coffey, 1993
• Joint Commision international. 2010. Joint Commision International Accreditation Standar For Hospital. 4th Edition.USA : Joint Commision international.
• Buston, M.N. 1997. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
• Azwar, A. 1989. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Jakarta: Binarupa.
• Noor, N.N. 1997. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
• Noor, N.N. 1997. Dasar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
REFERENSI
• Bhisma, M. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
• Sutrisna, B.1990. Epidemiologi Lanjut Volume 1. Jakarta: Dian Rakyat.
• Notoatmodjo S. 1997.Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Rineka Cipta
• Departemen Kesehatan RI .2003. Pedoman PGRS Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
• Kementerian Kesehatan RI. Pusat Sarana dan Prasarana dan Peralatan.
• Kesehatan. 2010. Sesi Perencanaan, Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana.
• Rumah Sakit Kelas B. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. 2012. Standar Akreditasi Rumah Sakit. Jakarta.
• Kementerian Kesehatan RI. Hasil Penelitian Ketenagaan ; Standar tenaga gizi di Rumah Sakit. PPSDM. 2012.
• Mahan, L. Katleen et. al. 2012. Krause’s Food And The Nutrition Care Process 13 Edition. USA : Elsevier Saunders.
• RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.1995. Asuhan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Snetselaar, Linda. 2009. Nutrition Counseling Skills for the Nutrition Care Process. Fourth Edition.Boston : Jones and Barlett Publishers
REFERENSI
• Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat Ditjen Dikti. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
• Sullivan, Catherine F., 1990. Management of Medical Foodsevice. New York, Van Nostrsnd Reinhold.
• Winterfeldt, Esther A. 2005. Dietetics Practice and Future Trends. Second Edition.Boston: Jones and Bartlett Publishers.
• Sullivan. C.F, Management of Medical Food Science, Van Noshsand Reimhold, Second edition, 1990.
• West Bessie B, Food Service Institusional, Sixth Edition, Mac Millan Publishing Company, New York, 1988.
• Mukrie, Nursiah Manajemen Pelayanan Gizi Institusi Lanjut, Proyek Pengembangan Tenaga Gizi Pusat, Jakarta, 1990.
• Raport Kesehatanku, Kemenkes RI. 2016.
• Trihono. Manajemen Puskesmas, 2005, CV Sagung Seto, Jakarta.
• Rotua, Manuntun. Dkk. MSPMI Dasar, EGC. 2015, Jakarta.
• PGRS, Kemenkes RI. Jakarta. 2014.
REFERENSI
• Bustami. Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan dan akseptabilitasnya. Erlangga. 2013. Jakarta.
• Kemenkes RI. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. 2011, Jakarta.
• Muninjaya, Gde. Manajemen Kesehatan, EGC. 1999, Jakarta.
• Al-Assaf, A. Mutu Pelayanan Kesehatan (Perspektif Internasional), EGC. 2009. Jakarta .
• Adisasmito, Wiku. Sistem Kesehatan.Raja Grafindo Persada.2007. Jakarta .
• Furqon M, Izzati A. 2017. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kepuasan Pelayanan Konseling Gizi Di Puskesmas Kebon Jeruk Tahun 2017 [Skripsi]. Jakarta: Program Studi Gizi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.
• Al-Qur’an Surah Al-Anbiyâ’, 21: 83-84; Asy-Syu’arâ’ 26: 78-82
• Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 195,185, 282
• Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah
Any Questions?
Konsep Sehat
dan Sakit
Konsep Sehat
•
Menurut Linda Ewles & Ina Simmet◦ Konsep sehat dilihat dari segi jasmani yaitu sehat yg paling nyata karena perhatianya pd fungsi mekanistik tubuh.
◦ Konsep sehat dr segi mental: yaitu kemampuan berfikir dgn jernih
& koheren.
◦ Konsep sehat dilihat dr segi emosional: yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, nikmat, duka,marah dll dan untuk mengekspresikan emosi2 secara cepat.
Konsep Sehat (lanjutan…)
•
Menurut WHO“A state of complete physical, mental, and social well being, and not merely the absence of desease or infirmity”
Keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit, atau kelemahan/cacat.
Konsep Sehat (lanjutan…)
•
Menurut UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan“Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.”
Konsep Sehat (lanjutan…)
•
Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan“Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”
Konsep sehat dilihat dari segi sosial berarti kempuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan org lain.
Konsep sehat dr aspek spiritual: berkenaan dengan
kepercayaan & praktik keagamaan, perbuatan baik, prinsip tingkah laku, cara mencapai kedamaian.
Konsep sehat dr segi societal/lingkungan: sehat pada tingkat individu, yang terjadi akibat kondisi sosial, politik, ekonomi & budaya yang melingkupi individu tersebut.
Konsep Sehat (lanjutan…)
Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad s.a.w.) melalui ayat-ayat al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. memberi perhatian yang serius terhadap kesehatan manusia.
Nabi Muhammad s.a.w. bahkan menganggap keselamatan dan kesehatan sebagai nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima dengan rasa syukur.
Firman Allah dalam QS Ibrâhîm, 14: 7,
ُت ْرَفَك نِئَل َو ْمُكَّنَدي ِزَلأ ْمُت ْرَكَش نِئَل ْمُكُّب َر َنَّذَأَت ْذِإ َو ٌديِدَشَل يِباَذَع َّنِإ ْم
“
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Konsep Sehat (lanjutan…)
Bentuk syukur terhadap nikmat Allah melalui kesehatan ini adalah senantiasa menjaga kesehatan sesuai dengan
sunnatullah. Rasulullah s.a.w. bersabda:
َّحِّ ِصلا ِساَّنلا َنِم ٌريِثَك اَمِهيِف ٌنوُبْغَم ِناَتَمْعِن ُغا َرَفْلا َو ُة
.
“
Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” (Hadis Riwayat al- Bukhari dari Ibnu Abbas)
Konsep Sehat (lanjutan…)
Konsep Sakit
Desease (penyakit) : gangguan fungsi fisiologis dr suatu organisme sebagai akibat terjadi infeksi atau tekanan dari lingkungan. (konsep patologi)
Illness (Sakit) : Penilaian individu terhadap
pengalaman menderita suatu penyakit. (konsep
kebudayaan)
Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justeru memiliki kedudukan yang sangat mulia. اَم
ِةَك ْوَّشلا ىَّتَح ٍِّمَغ َلَ َو ىًذَأ َلَ َو ٍن ْز ُح َلَ َو ٍِّمَه َلَ َو ٍبَص َو َلَ َو ٍبَصَن ْنِم َمِلْسُمْلا ُبي ِصُي ُهاَياَطَخ ْنِم اَهِب ُ َّاللَّ َرَّفَك َّلَِإ اَهُكاَشُي
“
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan
kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya”. (Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Konsep Sakit (lanjutan…)
Bahkan Allah menjanjikan kepada orang yang sakit apabila ia bersabar dan berikhtiar dalam sakitnya, Allah akan menghapus dosa-dosanya.
“ ِرَجَّشلا ُق َر َو ُّتاَحَت اَمَك ُها َياَطَخ ُهْنَع ْتَّتاَح َّلَِإ ىًذَأ ُهُبي ِصُي ٍمِلْسُم ْنِم اَم َوTidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit kecuali Allah
hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-dosanya) sebagaimana gugurnya dedaunan sebuah pohon”.
(Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud)
Konsep Sakit (lanjutan…)
Tanda-Tanda Sakit
Menurut Cecil Helman
Terjadinya perubahan pd tampilan tubuh seperti jd kurus, perubahan warna kulit, rambut rontok.
Perubahan fungsi tubuh seperti frekuensi berkemih, menstruasi yg banyak, irama jantung yg tidak biasa.
Pengeluaran sesuatu dr tubuh yg tidak biasa seperti darah dlm urine, dahak, buang air besar.
Perubahan fungsi anggota tubuh (kaku).
Tanda-Tanda Sakit Menurut Cecil Helman (lanjutan…)
Perubahan panca indera: kurang pendengaran, penglihatan, mati rasa
Simptom fisik berupa ketidak nyamanan seperti rasa sakit, sakit kepala,sakit perut, demam, menggigil
Perubahan emosi seperti gelisah, depresi, rasa takut yg sangat
Perubahan perilaku dlm hubungan dgn orang lain, ada
masalah keluarga atau pekerjaan.
Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, social dan pengertian profesional yang beragam. Sehat harus dilihat dari berbagai aspek.
WHO melihat sehat dari berbagai aspek .Definisi WHO (1981): ”Health is a state of complete physical, mental and social well -being, and not merely the absence of disease or infirmity.”
WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social seseorang.
Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya?
Konsep Sehat & Sakit Menurut
Budaya Masyarakat
Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah.
Sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga
menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari- hari seperti halnya orang yang sehat.
Konsep Sehat & Sakit yang Dianut Pengobat Tradisional
(Battra)
Masyarakat dan pengobatan tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu Naturalistik dan Personalistik.
Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan.
Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).
Konsep Sehat & Sakit yang Dianut Pengobat Tradisional
(Battra) (lanjutan…)
Pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia.
Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.
Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.).
Masyarakat menggolongkan
penyebab sakit ke dalam 3 bagian
yaitu:
Persepsi masyarakat papua (Irian Jaya) tentang penyakit malaria
Makanan pokok penduduk Papua adalah sagu yang tumbuh di daerah rawa -rawa.
Selain rawa-rawa, tidak jauh dari mereka tinggal terdapat hutan lebat.
Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu milik penguasa gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya.
Persepsi Masyarakat tentang
Sehat & Sakit
Pelanggaran dapat berupa menebang, membabat hutan untuk tanah pertanian, dan lain-lain akan diganjar hukuman berupa penyakit dengan gejala demam tinggi, menggigil, dan muntah.
Penyakit tersebut dapat sembuh dengan cara minta ampun kepada penguasa hutan, kemudian memetik daun dari pohon tertentu, dibuat ramuan untuk di minum dan dioleskan ke seluruh tubuh penderita. Dalam beberapa hari penderita akan sembuh.
Persepsi Masyarakat tentang
Sehat & Sakit
(lanjutan…) Pada sebagian penduduk Pulau Jawa, dulu penderita demam sangat tinggi diobati dengan cara menyiram air di malam hari.
Air yang telah diberi ramuan dan jampi-jampi oleh dukun dan pemuka masyarakat yang disegani digunakan sebagai obat malaria.
Persepsi Masyarakat Jawa
Menelusuri nilai budaya, misalnya mengenai pengenalan
kusta dan cara perawatannya. Kusta telah dikenal oleh etnik Makasar sejak lama.
Adanya istilah kaddala sikuyu (kusta kepiting) dan kaddala massolong (kusta yang lumer), merupakan ungkapan yang mendukung bahwa kusta secara endemik telah berada dalam waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat tersebut
Persepsi Masyarakat Makassar
tentang Kusta
Hasil penelitian kualitatif dan kuantitatif atas nilai-nilai budaya di Kabupaten Soppeng, dalam kaitannya dengan penyakit kusta (Kaddala, Bugis).
Di masyarakat Bugis menunjukkan bahwa timbul dan
diamalkannya leprophobia secara ketat karena menurut salah seorang tokoh budaya, dalam nasehat perkawinan orang-
orang tua di sana, kata kaddala ikut tercakup di dalamnya.
Persepsi Masyarakat Makassar
tentang Kusta (lanjutan…)
Disebutkan bahwa bila terjadi pelanggaran melakukan hubungan intim saat istri sedang haid, mereka (kedua mempelai) akan terkutuk dan menderita kusta/kaddala.
Ide ini bertujuan guna terciptanya moral yang agung di keluarga baru, berkembang dalam masyarakat dan menjadi konsep bahwa penderita kusta sebagai penanggung dosa.
Persepsi Masyarakat Makassar
tentang Kusta (lanjutan…)
Pengertian penderita sebagai akibat dosa dari ibu-bapak merupakan awal derita akibat leprophobia.
Rasa rendah diri penderita dimulai dari rasa rendah diri keluarga yang merasa tercemar bila salah seorang anggota keluarganya menderita kusta.
Dituduh berbuat dosa melakukan hubungan intim saat istri sedang haid bagi seorang fanatik Islam dirasakan sebagai beban trauma yang sangat berat.
Persepsi Masyarakat Makassar
tentang Kusta (lanjutan…)
Determinan
Kesehatan dan
Gizi
Contoh Faktor Lingkungan Yang Dapat Mempengaruhi Kesehatan
•
Adanya sanitasi lingkungan yang baik akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.•
Ada norma agama pada umat islam tentang konsep haram terhadap alkohol akan menurunkan tingkat konsumsi alkohol.•
Semakin tinggi tingkat pendidikan individu maupun masyarakat maka pengetahuan akan cara hidup sehat semakin baik.Contoh Life Style yang dapat Mempengaruhi Kesehatan
•
Perilaku perokok sejak dini akan meningkatkan risiko kanker pada paru-paru.•
Perilaku mengkonsumsi makanan cepat saji (junkfood) akan meningkatkan risiko obisitas yang berisiko pada penyakit jantung.
•
Kebiasaan melakukan konsep 3 M (menguras, mengubur dan menutup) pada pencegahan DBD akan menurunkan prevalensi penyakit DBDContoh Faktor Pelayanan Kesehatan yang dapat Mempengaruhi Kesehatan
•
Adanya upaya promotif terhadap penularan HIV/AIDS akan menurunkan prevalensi HIV/AIDS.•
Tersedianya sarana dan prasaran kesehatan yang baik akan memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas.•
Adanya asuransi kesehatan akan memudahkan individu/masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan.Contoh Faktor Keturunan yang dapat Mempengaruhi Kesehatan
•
Perkawinan antar golongan darah tertentu akan mengakibatkan leukemia.•
Adanya kretinisme yang diakibatkan mutasi genetik
Membuat ringkasan tentang konsep sakit dan sehat menurut pendapat kalian sendiri (word minimal 500 kata, TNR 12, spasi 1,5, margin 4333).