• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME DOSIS DAN RESPON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEKANISME DOSIS DAN RESPON"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

MEKANISME DOSIS DAN RESPON

Oleh Rismawati Pangestika, S.Si., M.P.H.

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT, FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN, UHAMKA

(2)

Hubungan Dosis-Respon

Hubungan dosis-respon

menggambarkan suatu distribusi frekuensi individu yang memberikan respons pada rentang dosis tertentu.

Bila distribusi frekuensi tersebut dibuat kumulatif maka akan diperoleh kurva berbentuk sigmoid yang umumnya disebut kurva dosis-persen responder.

Pada dasarnya kurva hubungan dosis- respon menunjukkan variasi individual dari dosis yang diperlukan untuk minimbulkan suatu efek tertentu.

(3)

Hubungan Dosis-Respon

Efek terapeutik

• Hasil penanganan medis yang sesuai dengan apa yang diinginkan, setakar dengan tujuan pemberian penanganan, baik yang telah diperkirakan maupun yang tidak diperkirakan.

Efek Merugikan / Non-terpeutik

• Lawan dari efek terapeutik adalah efek

merugikan/non terapeutik, yaitu efek lain dari obat yang tidak sesuai dengan efek terapi yang diinginkan.

Efek toksik

• Didefinisikan sebagai perubahan abnormal yang tidak diinginkan atau berbahaya akibat pemaparan terhadap zat kimia yang kemungkinan toksik.

(4)

Hubungan Dosis Respon

Frekuensi Respon – Respon Komulatif Konsep Statistika dan Besaran Aktivitas 50%

Dalam toksikologi, jumlah dosis yang menyebabkan 50% individu memberikan reaksi (respon) digunakan sebagai besaran aktivitas (seperti, ED50 = Effective Dose 50% atau LD50 = Lethal Dose 50%) dari xenobiotika

(5)

Hubungan Dosis-Kerja

Efek xenobiotika tergantung pada konsentrasi zat, dengan demikian tergantung pada dosis, juga dari tetapan kesetimbangan atau tetapan afinitas yaitu parameter yang

menentukan kecenderungan obat untuk bereaksi dengan reseptor.

(6)

Hubungan Waktu-Kerja

• Jika eksposisi suatu zat hanya terjadi satu kali, seperti umumnya pada keracunan akut, mula-mula efek akan naik

tergantung pada laju absorbsi dan kemudian efek akan turun tergantung pada laju eliminasi.

• Dibawah konsentrasi plasma tertentu disebut konsentrasi sub-efektif atau subtoksik sedangkan mulai dari konsentrasi tersebut dinamakan konsentrasi efektif/toksik.

Hubungan waktu - kerja

• Memperkecil absorpsi atau laju absorpsi, sehingga konsentrasi plasma tetap berada dibawah daerah toksik.

• Meningkatkan eliminasi zat toksik dan/atau pembentukan suatu kompleks yang tak aktif..

• Memperkecil kepekaan objek biologik terhadap efek.

Cara untuk

mencegah atau

menekan efek toksik:

(7)

Tambahan Materi :

Toleransi, Adiksi dan NAPZA

Adiksi

Toleransi

NAPZA

(8)

Adiksi

(9)

Adiksi (Ketagihan

Obat)

Ditandai adanya dorongan, keinginan

konsumsi obat walaupun tahu dampak negatif

Keinginan kuat memberikan efek

Habituasi (kebiasaan)

Obat-obatan adiktif memberikan efek euphoria yang kuat

Adiksi obat semakin lama akan membawa pada ketergantungan fisik

Efek Adiksi

Berkaitan dengan

Neurotransmitter dalam tubuh, yaitu Dopamin

Dopamin bertugas

menyampaikan pesan antar sel saraf

Bersama Serotonin, Endorfin dan Oksitosin, Dopamin disebut Happy Hormones atau

Hormon Kebahagiaan karena mempengaruhi rasa

kesenangan

(10)

Penyalahgunaan Obat dan Ketergantungan

Psikotoksisitas

• Perubahan perilaku yang serius, tingkat psikotik, setelah penggunaan dosis tinggi yang berkepanjangan (terlihat jelas pada penggunaan alkohol,

barbiturat, kokain, LSD, amfetamin).

Ketergantungan

• Kelainan otak pada orang akibat penggunaan yang kemudian telah mengubah struktur dan fungsi otak.

Perilaku Kompulsif

• Bagian dari ekspresi ketergantungan obat yang menyebabkan pengguna

berusaha mendapatkan obat berulang meskipun ada konsekuensi kesehatan

dan sosial.

(11)

Mekanisme Adiksi

System Reward Manusia akan cenderung mengulangi perilaku yang menyebabkan senang

Efek Reinforcement Positif Sesuatu yang

membuat senang, misalnya

makanan, air, obat-obatan, dll

Reward Pathway Pengaturan

perasaan dan

perilaku pada jalur

tertentu di otak

(12)

Ketergantungan Obat

Ketergantungan Psikologis

Gangguan kontrol psikologis terhadap penggunaan narkoba

Hasil ineraksi satu set farmakologis (faktor pengkondisian potensial),

faktor psikologis (faktor pengkondisian primer) dan faktor

sosial (pengaruh kelompok atau akseptabilitas sosial obat)

Ketergantungan Fisik

Termasuk sindrom wthdrawl (putus obat)

Terjadi pada gangguan konsumsi kronis, dalam waktu lama atau pada

pengurangan dosis

Toleransi

Menurunnya kepekaan terhadap zat setelah pemberian berulang

Diwujudkan dengan kebutuhan untuk meningkatkan dosis untuk

efek yang sama

(13)

Toleransi Obat-obatan

(14)

Toleransi Obat-obatan

Orang yang

menggunakan obat karena ada gangguan medis/psikis dapat dimulai dari toleransi obat hingga menjadi efek ketergantungan

Dalam Konsep Neurologi, Istilah

Ketergantungan (Dependence) lebih

mengacu pada

Ketergantungan Fisik

Sedangkan untuk

Ketergantungan psikis istilahnya adalah

Ketagihan (Addiction)

(15)

Toleransi Obat-Obatan

Toleransi Farmakokinetik

• Perubahan distribusi atau metabolisme suatu obat setelah pemberian berulang, yang membuat dosis obat yang diberikan menghasilkan kadar dalam darah yang semakin berkurang dibandingkan dengan dosis yang sama pada pemberian pertama kali.

• Mekanisme yang paling umum adalah peningkatan kecepatan metabolisme obat tersebut. Contohnya yaitu penggunaan stimultan untuk menambah efek dari obat.

Toleransi Farmakodinamik

• Perubahan adaptif yang terjadi di dalam sistem tubuh yang dipengaruhi oleh obat, sehingga respons tubuh terhadap obat berkurang pada pemberian berulang.

• Misalnya terjadi pada penggunaan antibiotik. Dalam penggunaan jangka panjang, tubuh akan menjadi resisten terhadap antibiotik sehingga membutuhkan penambahan dosis.

Toleransi yang Dipelajari (Learned Tolerance)

• Pengurangan efek obat dengan mekanisme yang diperoleh karena adanya pengalaman terakhir.

• Misalnya orang yang sudah mempelajari efek alkohol terhadap tubuhnya masih dapat mengendalikan tubuh untuk tidak mabuk, sehingga ketika dites berjalan lurus, ia masih sanggup.

(16)

NAPZA (Narkotika,Psikotropika dan zat

Adiktif

(17)

Narkotika

(Undang-Undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika)

Narkotika adalah zat atau

obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis

maupun semisintetis yang dapat menyebabkan

penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai

menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Golongan I : untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuna, tidak boleh untuk terapi, memiliki potensi sangat tinggi dengan efek ketergantungan

Heroin, kokain, ganja

Golongan II : dapat digunakan untuk pengembangan ilmu, digunakan untuk

pengobatan, terapi (sebagai pilihan terakhir) karena ada potensi tinggi ketergantungan

Morifn, petidin

Golongan III : dapat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, diperbolehkan untuk pengobatan dan terapi, potensi ringan ketergantungan

Codein (obat analgesik)

(18)

Psikotropika

Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika

Psikotropika adalah zat

atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui

pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Golongan I : hanya untuk pengembangan ilmu, tidak untuk terapi, potensi sangat kuat untuk

ketergantungan

Katinon, LSD, psilosibin

Golongan II : untuk pengembangan ilmu, boleh untuk pengobatan / terapi, potensi kuat

ketergantungan

Amfetamin, metamfetamin,

metakualon, metilfenidat

Golongan III : untuk pengembangan ilmu, boleh untuk pengobatan/terapi, potensi sedang

ketergantungan

Amobarbital, flunitrazepam, buprenofrin

Golongan IV: untuk pengembangan ilmu,

pengobatan dan banyak digunakan untuk terapi, potensi ringan ketergantungan

Diazepam, bromzepam, fenobarbital, alprazolam

(19)

Psikotropika berdasarkan Penggunaannya

Permenkes No. 3 tahun 2017

Antipsikosis (major trankuilizer, neuroleptik)

Neuroleptika atau major tranquilizers yang bekerja sebagai antipsikotis dan sedatif.

Menekan fungsi psikis tertentu, tapi tidak mempengaruhi fungsi umum misalnya berpikir dan perilaku. Meredakan emosi dan agresi, mengurangi gangguan jiwa, gangguan kecemasan, gangguan tidur.

Chlorpromazine, Haloperidol, Trifluoperazine

Anti anxietas

(antineurosis, minor tranquilizer)

Untuk pengobatan simtomatik penyakit psikoneurosis dan sebagai obat tambahan pada terapi penyakit ansietas / cemas dan ketegangan mental. Penggunaan

antiansietas dosis tinggi jangka lama, dapat menimbulkan ketergantungan psikis dan fisik.

Diazepam, bromazepam

Antidepresan Obat untuk mengatasi depresi mental, dapat menghilangkan / mengurangi depresi yang timbul pada beberapa jenis skizofi. Perbaikan depresi ditandai dengan perbaikan alam perasaan, bertambahnya aktivitas fisik dan kewaspadaan mental, nafsu makan dan pola tidur yang lebih baik.

Amitriptilin

Psikotogenik (psikotomimetik, psikodisleptik, halusinogenik)

Obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku, disertai halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir dan perubahan alam perasaan, dapat menimbulkan psikosis.

Meskalin, Dietilamid Lisergad (LSD), mariyujana atau ganja

(20)

Narkotika dan Psikotropika

Berdasarkan efek Farmakologinya

Depresan

Memperlambat fungdi otak normal.

Digunakan untuk mengobati kegelisahan tidur dan gangguan tidur sehingga

memberi efek mengantuk dan menenangkan

Potensi adiktif tinggi. Efek withdrawl penggunaan jangka panjang dapat berdampak buruk dan mengancam jiwa.

Contoh : Valium, Librium, Barbiturat

Stimulant

Golongan obat yang meningkatkan mood, meningkatkan perasaan baik, dan meningkatkan energi dan kewaspadaan.

Menyebabkan jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah tinggi, pernapasan

meningkat.

Potensi adiktif sangat tinggi. Contoh : Kokain, amfetamin, methamphetamine,

MDMA (ekstasi), nikotin, kafein.

Opiat

Obat penghilang rasa sakit yang kuat.

Terbuat dari opium, getah putih pada tanaman opium

Menghasilkan rasa senang yang cepat dan intens diikuti rasa nyaman dan

tenang.

Potensi kecanduan sangat tinggi. Contoh : heroin, morfin, kodein, oxycontin

Halusinogen

Obat yang menyebabkan perubahan persepsi dan perasaan. Dapat menyebabkan orang mendengar suara, melihat sesuatu dan merasakan sensai

yang tidak ada

Efek toleransi sangat tinggi, potensi ketergantungan fisik rendah. Risiko penggunaan berakitan dengan risiko

cedera dan kecelakaan.

Contoh : LSD, PCP, MDMA (ekstasi), ganja, mescaline, psilocybin

(21)

Prekursor

Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan PP No. 44 tahun 2010 tentang Prekursor

UU No. 35 Th. 2009 tentang Narkotika

• Zat atau bahan pemula atau

bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika

PP No. 44 tahun 2010 tentang Prekursor

• Zat atau bahan pemula atau

bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika dan Psikotropika

(22)

Prekusor

Bahan pemula atau bahan kimia banyak digunakan dalam berbagai kegiatan baik pada industri farmasi, industri non farmasi, sektor pertanian maupun untuk

kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengadaan prekursor untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi, industri non farmasi dan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat

ini baru diatur dalam tingkat Peraturan Menteri.

Peningkatan penyalahgunaan prekursor dalam pembuatan Narkotika dan Psikotropika telah menjadi ancaman yang sangat serius yang dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan, instabilitas ekonomi, gangguan keamanan, serta kejahatan

internasional oleh karena itu perlu diawasi secara ketat agar dapat digunakan sesuai peruntukannya.

(23)

Jenis Prekursor

PP No. 44 Tahun 2010 tentang Prekursor

Golongan I

• 1. Acetic Anhydride.

• 2. N-Acetylanthranilic Acid.

• 3. Ephedrine.

• 4. Ergometrine.

• 5. Ergotamine.

• 6. Isosafrole.

• 7. Lysergic Acid.

• 8. 3,4-Methylenedioxyphenyl-2-propanone.

• 9. Norephedrine.

• 10. 1-Phenyl-2-Propanone.

• 11. Piperonal.

• 12. Potassium Permanganat.

• 13. Pseudoephedrine.

• 14. Safrole.

Golongan II

• 1. Acetone.

• 2. Anthranilic Acid.

• 3. Ethyl Ether.

• 4. Hydrochloric Acid.

• 5. Methyl Ethyl Ketone.

• 6. Phenylacetic Acid.

• 7. Piperidine.

• 8. Sulphuric Acid.

• 9. Toluene.

(24)
(25)

Thank you

Semoga Bermanfaat & Selamat Belajar

Referensi

Dokumen terkait

Perbincangan mengenai pendidikan sentiasa berterusan. Bahkan menjadi bahan perdebatan. Begitu juga dalam ajaran Islam di mana kepentingan ilmu pengetahuan telah menjadikan

Penangan mata kering pada penderita glaukoma dapat dilakukan melalui penggunaan obat tanpa pengawet, kombinasi obat yang mengandung dengan yang tidak mengandung pengawet

Geneng Geneng

Hasil perhitungan pada Tabel 2 terlihat keanekaragaman zooplankton tinggi dengan nilai 3,10 begituhalnya dengan keseragaman zooplankton dengan nilai 0,88, namun indeks

Namun jika dalam hipotesis kandungan informasi atau pengisyaratan ternyata dapat membuat investor berfikir dan memperkirakan pembagian dividen berdasarkan laba perusahaan

demi menghidupi keluarganya, dan berangan-angan dengan main judi dapat membantu mereka dalam kesulitan hidupnya, kondisi ini berangkat dari pengalaman mereka

Selain pemilihan varietas unggul dan penerapan rekomendasi pemupukan tersebut, alternatif teknologi lain untuk mendapatkan produksi yang tinggi adalah pengolahan tanah sampai gembur,

Melalui program ini, Pertamina menunjuk lembaga penyalur resmi di wilayah 3T untuk dapat menyediakan Premium dan Solar sesuai harga yang diatur oleh Pemerintah atau sama dengan yang