• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN KOMIK INDONESIA DAN KOMIK TERJEMAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBANDINGAN KOMIK INDONESIA DAN KOMIK TERJEMAHAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

https://ejournal.stkip11april.ac.id/index.php/jesa

1

PERBANDINGAN KOMIK INDONESIA DAN KOMIK TERJEMAHAN

Kuswara

STKIP Sebelas April Sumedang

Article Info ABSTRACT

This study compares translated comics and Indonesian comics that are widely read by junior high school students. The research applies descriptive-analytic- comparative method. The research analyzes the ethics of comic writing on aspects of story, image, and language. Many translated comics display ethics related to life (discipline, love for one's own culture, love for the environment), while in Indonesian comics this type of ethics is not found. The ethical violation in the story aspect in translated comics is in the form of coercion of the will to others, while in Indonesian comics such cases only appear few.

Ethical violations regarding the behavior of characters that are often found in translated comics are unethical behavior towards parents, teachers, and friends/others, while in Indonesian comics this case is not found. The comic titles read by the respondents were all from Japan, there were no Indonesian comics. Humor comics are the most widely read type of comics. The events in translated comics are generally from everyday life, while Indonesian comics often feature "big events". Almost all of the translated comic characters are children's characters with problems, behaviors, and characters as children. All Indonesian comics feature adult characters with adult lives. All Japanese comics are serialized, while none of the Indonesian comics are serialize).

Keywords:

Komik

Komik Terjemahan Komik Indonesia Etika

Copyright © 2020 STKIP Sebelas April.

All rights reserved.

Corresponding Author:

Kuswara,

Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP Sebelas April Sumedang, Jl. Angkrek Situ No.19 Sumedang.

Email: [email protected]

1. INTRODUCTION

Anak-anak saat ini bahkan orang dewasa pasti kenal dengan komik. Dewasa ini komik sudah menjadi bagian dalam kehidupan anak-anak. Hampir tidak ada anak-anak yang tidak mengenal sosok Doraemon, Dragon Ball, Asterix dan Obelix, Batman, Superman, dll., terutama anak-anak di daerah kota. Komik sebagai bahan bacaan sampai saat ini masih belum diterima keberadaannya secara menyeluruh oleh masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Pada masa tahun 70-an, komik dianggap sebagai “buah terlarang” seperti diungkapkan oleh Bonneff (1998 : 3) bahwa “Dahulu kita membaca komik secara sembunyi-sembunyi karena takut tertangkap basah dan disuruh belajar. Kita menyadari bahwa “buah” ini terlarang. Kita menyadari prasangka orang dewasa terhadap “pengacau”

sekolah ini, terhadap penjaja dunia ajaib bergambar ini”.

Fenomena lain yang menarik dewasa ini adalah terjadinya serbuan komik-komik mancanegara ke Indonesia, misalnya komik-komik Jepang. Keberhasilan ini tidak lepas dari pemahaman yang mendalam pada komikus Jepang terhadap jiwa dan keinginan anak-anak terhadap isi komik. Komik- komik buatan komikus Indonesia hanya beberapa judul yang dibaca oleh anak-anak Indonesia. Salah satu kelemahan komik Indonesia seperti yang banyak diungkapkan para ahli adalah isi komik

(2)

Indonesia terlalu sarat dengan muatan moral yang disampaikan secara apa adanya. Fenomena ini tentulah dapat berpengaruh kurang baik kepada anak-anak pembaca komik karena isi komik tersebut akan lebih banyak menampilkan budaya dan norma masyarakat asal negeri komik tersebut. Budaya dan norma tersebut mungkin saja mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya dan norma masyarakat Indonesia.

2. METHOD

Penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis-komparatif. Deskripsi berupa potret verbal yang merupakan pelukisan penampilan atau karakteristik dari suatu objek atau peristiwa, baik individu maupun kelompok (Shipley, 1970: 77-78). Metode analisis digunakan untuk proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2000: 103). Metode komparatif digunakan pada tahap akhir untuk mendeskripsikan temuan dalam aspek cerita, gambar, dan bahasa komik.

Data penelitian ini berasal dari komik terjemahan dan komik Indonesia yang banyak dibaca oleh responden, yakni siswa SLTP kelas 1. Peneliti mengambil sampel secara sampling berstrata.

Sampel dipilih siswa kelas 1 SLTP didasarkan pada pendapat Franz dan Meier (1994: 60) bahwa umumnya pembaca komik adalah remaja usia 12 sampai 15 tahun.

Ada tiga aspek yang dianalisis dalam penelitian ini, yakni aspek cerita, gambar, dan bahasa komik. Penelitian ini berpedoman pada Etika Penulisan Komik (EPK) yang peneliti susun. Dalam penyusunan EPK ini penulis memperhatikan dan menjadikan landasan Kode Etik Komik yang diterbitkan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Beberapa istilah digunakan para ahli untuk komik. Bonneff menyebutkannya dengan istilah sastra gambar (1998 : 7), sedangkan McCloud mengacu kepada pendapat ahli komik Amerika lainnya – Will Eisner – menggunakan istilah sequential art (seni berturutan) (2001: 5). Selain itu, beberapa ahli dan sumber lain menggunakan istilah comic strip (Franz & Meir, 1994: 54; Bundhowi, KIPBIPA: 1999; The Enciclopedia Americana, 1986: 370). Istilah komik strip umumnya digunakan untuk membedakan komik (satu seri gambar) dengan kartun (satu gambar lucu). Sumber dan ahli lain (Ensiklopedi Indonesia, tanpa tahun: 1838; Ajidarma, Kalam: Juni 2000) menggunakan istilah cerita bergambar untuk komik.

McCloud memberi definisi yang luas tentang komik, yakni Juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the vieuwer (1993: 9). McCloud menyatakan bahwa komik adalah gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya.

Definisi McCloud bila dikaji memiliki kesamaan dengan batasan komik dalam Ensiklopedi Indonesia (tanpa tahun: 1838), yaitu “Cerita berupa rangkaian gambar yang terpisah-pisah, tetapi berkaitan dalam isi; dapat dilengkapi dengan maupun tanpa naskah”. Definisi komik dalam buku Groot Woordenboek van de Nederlandse Taal (1984: 2800) adalah “cerita bergambar yang terdiri dari tiga atau empat kotak gambar yang diletakkan berdampingan, seperti banyak terdapat dalam harian atau mingguan”.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi komik yang mencakup berbagai media komik, seperti seperti majalah, koran, dan buku, tetapi memberikan pembatasan pada isi komik.

Komik adalah “Cerita bergambar (dl majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yg umumnya mudah dicerna dan lucu” (1997: 515).

3. RESULTS AND DISCUSSION

Dalam penelitian ini angket disebarkan kepada siswa kelas 1 SLTP PGII 2 Bandung sejumlah 237 orang dan siswa kelas 1 SLTP Negeri 2 Sumedang sejumlah 275 orang. Dari hasil angket didapat enam judul komik yang banyak disenangi dan dibaca responden, yakni: Doraemon karya Fujiko F.

Fujio, Detektif Conan karya Aoyama Gosho dan Yamagishi Eiichi, Crayon Sinchan karya Yoshito Usui, Dragon Ball karya Akira Toriyama, dan Kobo Chan karya Masashi Ueda.

(3)

Komik Indonesia tidak muncul pada jawaban angket. Untuk komik Indonesia yang dikaji, penulis menggunakan data komik Indonesia dari Toko Buku Gramedia Bandung sehingga dihasilkan judul-judul berikut: Kisah Nabi Muhammad SAW : Perang di Jalan Allah karya Nur Wahidin, Sangkuriang karya R.A. Kosasih, Aladdin : Jango Telah Tiada karya Eka Wardhana, Si Lender karya P-Project, dan Ophir : Sic Transit Gloria Mundi karya Andriani.

3.1. Aspek Etik dalam Cerita Komik 1. Etika dalam Tema Cerita

Tema-tema yang etis terdapat dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Sangkuriang, Aladdin, Si Lender, dan Ophir.

Komik di atas telah menunjukkan keberpihakan pada kebenaran dan kebaikan yang ditampilkan melalui tokoh-tokoh Nobita dan Doraemon (komik Doraemon), Conan (komik Detektif Conan), Kobo (komik Kobo Chan), Songoku (komik Dragon Ball), para sahabat Nabi (komik Kisah Nabi Muhammad SAW), Dayang Sumbi (komik Sangkuriang), Aladdin (komik Aladdin), R. Sutawangsa (komik Si Lender), dan Rainor (komik Ophir). Hanya satu komik yang menampilkan tema yang tidak etis, yakni komik Crayon Sinchan, karena menampilkan peristiwa-peristiwa buruk yang dialami tokoh-tokoh yang baik akibat kenakalan/keusilan tokoh Sinchan.

2. Etika Peristiwa yang Terkait dengan HAM

Hak untuk berbicara telah diceritakan secara etis dalam seluruh komik. Hanya pada komik Crayon Sinchan terdapat beberapa peristiwa yang menampilkan kejadian yang bertentangan dengan etika hak untuk berbicara karena menampilkan kejadian Ibu Sinchan yang melarang Sinchan untuk berbicara.

Hak untuk hidup atau berkarya yang bersifat meneguhkan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat terdapat terdapat dalam komik Kobo Chan, Kisah Nabi Muahammad SAW (perlakuan secara adil terhadap tawanan perang), Detektif Conan (perlakuan secara adil terhadap pelaku pembunuhan), Si Lender (tidak main sendiri terhadap pencopet), sedangkan aspek hak untuk hidup atau berkarya yang bertentangan dengan etika dalam masyarakat berupa kejadian pemaksaan tokoh terhadap tokoh lain (terdapat dalam komik Doraemon, Crayon Sinchan, Sangkuriang) dan kejadian perkelahian (terdapat dalam komik Sangkuriang, Si Lender, Ophir) atau pembunuhan (terdapat dalam komik Detektif Conan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin).

Hak kesamaan dan keadilan (seperti kesamaan dan keadilan tanpa memandang ras, keturunan, status, agama, tingkat ekonomi, budaya) yang sesuai dan meneguhkan nilai-nilai HAM yang terdapat dalam masyarakat dapat dijumpai dalam komik Detektif Conan, Kobo Chan, Kisah Nabi Muhammad SAW, Sangkuriang, Aladdin, Si Lender. Sedangkan judul- judul komik yang menampilkan cerita yang tidak sesuai dengan nilai-nilai hak kesamaan dan keadilan terdapat dalam komik Doraemon, Crayon Sinchan, Dragon Ball, dan Ophir.

Nilai-nilai kejujuran yang sesuai dan bersifat meneguhkan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat dapat dijumpai dalam komik Detektif Conan (pelaku kejahatan yang akhirnya mengaku), Dragon Ball (kejujuran dalam membela kebenaran), Kisah Nabi Muhammad SAW (kejujuran pada pimpinan dan ajaran agama), Aladdin (kejujuran dalam perjuangan membela kebenaran), Si Lender (kejujuran membela kebenaran). Komik-komik yang menampilkan perilaku yang tidak jujur (seperti berbohong, menipu orang lain, mempermainkan orang lain) pada beberapa ceritanya terdapat pada komik Doraemon, Crayon Sinchan, Kobo Chan, Sangkuriang.

(4)

Hak bekerja sama yang sesuai dan meneguhkan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat (seperti bekerja sama dalam membela kebenaran dan keadilan) terdapat dalam komik Detektif Conan, Dragon Ball, Kobo Chan, Kisah nabi Muhammad SAW, Si Lender, Aladdin. Sedangkan pada komik Doraemon dan Crayon Sinchan ditampilkan bentuk kerja sama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pada komik lainnya, Kobo Chan, Sangkuriang, Ophir, tidak ditampilkan nilai-nilai kerja sama dalam kejadian- kejadiannya.

3. Etika Berkenaan dengan Keharmonisan Keluarga

Gambaran keluarga yang harmonis, saling bekerja sama dan pengertian, saling menyayangi dan menghormati, penuh rasa kebersamaan dan cinta kasih, dapat dijumpai dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin.

Sedangkan gambaran keluarga yang kurang sesuai dengan nilai-nilai keluarga yang ada dalam masyarakat dijumpai dalam komik Crayon Sinchan, dan Sangkuriang. Pada judul komik lainnya, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Si Lender, dan Ophir tidak digambarkan perihal etika dalam keluarga.

4. Etika Berkenaan dengan Kejadian Porno

Dari sepuluh judul komik yang penulis kaji hanya satu judul komik yang menampilkan dan mengeksploitasi kejadian-kejadian yang berhubungan dengan seks/kejadian porno, yakni komik Crayon Sinchan melalui tokoh Sinchan anak usia lima tahun yang memiliki hasrat yang begitu besar terhadap seks dan wanita (khususnya bagian dada dan pantat).

Walaupun dalam komik Sangkuriang terdapat kejadian yang terkait dengan seks/porno, tetapi digambarkan oleh penulisnya secara etis. Pada komik Doraemon terdapat satu kejadian yang tidak etis yang menampilkan kejadian porno (Giant mengintip celana dalam tokoh wanita).

5. Etika Berkaitan dengan Budaya

Seluruh komik Jepang (Doraemon, Detektif Conan, Crayon Sinchan, Dragon Ball, dan Kobo Chan) telah menampilkan nilai-nilai yang sesuai dan meneguhkan etika dalam budaya, yakni melalui penampilan makanan, adat kebiasaan, perayaan, cara hidup masyarakat Jepang. Para tokoh komik telah menunjukkan penghargaan dan berupaya melestarikan budaya aslinya dengan rasa bangga. Sedangkan pada semua komik Indonesia tidak menampilkan hal-hal etik berkenaan dengan budaya. Berpikiran maju/modern hanya ditemukan dalam komik Doraemon melalui imajinasi alat-alat modern yang dikeluarkan tokoh Doraemon.

6. Etika Berkaitan dengan Kedisiplinan

Umumnya komik-komik Jepang (Doraemon, Crayon Sinchan, Kobo Chan) telah menampilkan etika dalam kedisiplinan yang sesuai dan meneguhkan nilai-nilai kedisiplinan yang ada dalam masyarakat, seperti disiplin dalam belajar, tepat waktu, disiplin dalam kebersihan diri (mandi, gosok gigi, cuci tangan dan kaki), dan disiplin dalam menyelesaikan tugas. Ketiga komik Jepang tersebut telah menunjukkan peran yang besar dari orang tua dan guru dalam upaya menanamkan kedisiplinan diri kepada anak-anak. Komik Indonesia menampilkan kejadian yang berkaitan dengan penanaman etika dalam kedisiplinan.

(5)

7. Etika Berkaitan dengan Ajaran Agama/Ketuhanan

Pembahasan aspek etika berkaitan dengan agama/ketuhanan di sini peneliti kaitkan dengan ajaran agama Islam. Komik yang menampilkan kejadian yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama ditemukan dalam empat judul komik. Dalam komik Dragon Ball peneliti temukan kejadian yang tidak sesuai dengan etika agama, yakni kejadian Porunga menciptakan kembali bumi yang sudah hancur dan menghidup-kan kembali orang-orang yang sudah mati. Dalam komik Crayon Sinchan, Kobo Chan, dan Si Lender peneliti temukan kejadian yang tidak etis, yakni kejadian tokoh yang sedang mabuk sambil bersenang-senang.

3.2. Aspek Etika Perilaku Tokoh dalam Komik 1. Perilaku Tokoh Terhadap Orang Tuanya

Cerita komik yang menyajikan peristiwa perilaku tokoh terhadap orang tuanya hanya peneliti temukan dalam komik Doraemon, Crayon Sinchan, Detektif Conan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin. Perilaku tokoh terhadap orang tuanya yang sesuai dengan etika ditampilkan dalam komik Doraemon, Kobo Chan, Detektif Conan, dan Aladdin karena menggambarkan tokoh yang patuh dan hormat kepada orang tuanya. Sedangkan perilaku tokoh yang tidak etis ditampilkan dalam komik Crayon Sinchan (tidak patuh dan menyusahkan orang tua), Sangkuriang (mencintai ibunya sendiri), dan satu kejadian dalam komik Doraemon (kejadian Nobita membentak ibunya).

2. Perilaku Tokoh Terhadap Guru dan Aparat Pemerintah

Kejadian yang menampilkan perilaku tokoh terhadap gurunya dapat dijumpai dalam komik Doraemon, dan Crayon Sinchan. Kedua komik di atas menampilkan perilaku tokoh yang kurang etis terhadap guru karena guru dianggap sebagai sosok yang perlu ditakuti (komik Doraemon) atau sebagai sosok yang dapat dipermainkan (komik Doraemon dan Crayon Sinchan). Perilaku tokoh terhadap aparat pemerintah dapat dijumpai dalam komik Detektif Conan dan Aladdin. Perilaku tokoh Conan dan tokoh lainnya terhadap polisi telah menunjukkan sikap yang etis dan sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat karena para tokoh menghormati kewenangan dan tugas polisi. Sedangkan dalam komik Aladdin perilaku tokoh terhadap aparat kerajaan ditampilkan secara kurang etis karena ditanpilkan tokoh Aladdin yang melecehkan prajurit kerajaan dan prajurit digambarkan sebagai sosok yang penakut.

3. Etika Perilaku Tokoh Terhadap Teman

Komik-komik yang menampilkan kejadian yang menggambarkan perilaku tokoh terhadap teman sejawat adalah Doraemon, Crayon Sinchan, Kobo Chan, Detektif Conan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin, Si Lender, dan Ophir. Perilaku tokoh terhadap temannya yang sesuai dan meneguhkan nilai-nilai pergaulan dalam masyarakat dapat peneliti temukan dalam komik Kobo Chan, Detektif Conan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin, Si Lender, dan Ophir karena menampilkan perilaku saling menghargai, saling menolong, mau menerima saran teman, dan bekerja sama menumpas kebatilan.

Perilaku yang ditampilkan tokoh dalam pergaulan dengan teman sejawat pada komik Doraemon dan Crayon Sinchan secara umum tidak sesuai dengan etika pergaulan yang ada dalam masyarakat karena menampilkan sikap ingin menang sendiri, memaksakan kehendak kepada orang lain, menyusahkan teman, dan memecahkan masalah selalu dengan cara

(6)

kekerasan. Peneliti juga menemukan satu kejadian dalam komik Ophir yang tidak etis berkenaan dengan perilaku tokoh terhadap teman sejawatnya.

4. Etika Perilaku Tokoh Terhadap Orang yang Lebih Tua

Kejadian-kejadian yang menampilkan perilaku tokoh kepada orang yang lebih tua hanya peneliti jumpai dalam komik Crayon Sinchan, Kobo Chan, dan Detektif Conan.

Dalam komik Kobo Chan dan Detektif Conan ditampilkan perilaku Kobo dan Conan yang sesuai dengan etika karena mereka menghormati orang yang lebih tua darinya melalui perbuatan maupun perkataannya. Sedangkan dalam komik Crayon Sinchan ditampilkan perilaku tokoh Sinchan yang tidak etis terhadap orang yang lebih tua darinya karena Sinchan selalu mempermainkan mereka.

5. Etika Perilaku Tokoh Terhadap Orang yang Lebih Muda

Kejadian yang menampilkan perilaku tokoh terhadap orang yang lebih muda dari dirinya terdapat dalam komik Dragon Ball, Crayon Sinchan, dan Aladdin. Ketiga komik tersebut menampilkan perilaku tokoh yang sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat terhadap orang yang lebih muda.

6. Perilaku Tokoh Terhadap Musuh

Kejadian yang menampilkan perilaku tokoh terhadap musuh terdapat dalam komik Detektif Conan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin, dan Si Lender.

Perilaku yang etis oleh tokoh terhadap musuhnya ditampilkan dalam komik Detektif Conan, Dragon Ball, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin, dan Si Lender karena para tokoh telah menunjukkan sikap satria dan tidak semena-mena terhadap musuh yang sudah kalah/menyerah. Akan tetapi, pada beberapa kejadian dalam komik Dragon Ball dan Kisah Nabi Muhammad SAW ditampilkan perilaku yang tidak etis terhadap musuh karena menganiaya musuh yang sudah menyerah atau mati secara sadis.

7. Etika Perilaku Orang Tua Terhadap Anak

Kejadian yang menampilkan perilaku orang tua terhadap anak terdapat dalam komik Doraemon, Crayon Sinchan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin. Kejadian yang memperlihatkan perilaku orang tua kepada anaknya secara etis terdapat dalam komik Doraemon, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin karena telah menampilkan sosok orang tua yang penyayang, bertanggung jawab atas perkembangan diri anak, dan memperlakukan anak secara adil dan sayang. Sedangkan pada komik Crayon Sinchan ditampilkan perilaku orang tua yang tidak etis karena memukul anak secara berlebihan dan mengajak anak pada hal-hal yang tidak baik (porno). Akan tetapi, berkenaan dengan aspek kedisiplinan dan tanggung jawab orang tua atas pendidikan anak, komik Crayon Sinchan telah menampilkan perilaku orang tua yang etis dan sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Pada komik Sangkuriang ditemukan satu kejadian perilaku ibu yang tidak etis kepada anaknya, yakni saat Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang sehingga berdarah.

8. Etika Perilaku Tokoh Terhadap Lingkungan

Peneliti mendapat kejadian yang menampilkan perilaku tokoh terhadap lingkungan pada komik Doraemon, Detektif Conan, Dragon Ball, Kobo Chan, dan Sangkuriang. Dari kelima judul komik tersebut, tiga komik (Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan) telah menampilkan komitmen yang tinggi terhadap upaya menjaga kelestarian dan kebersihan

(7)

lingkungan, seperti perilaku tidak membuang sampah sembarangan di hutan, tidak merusak tanaman, menjaga kebersihan rumah, dan sebagainya. Sedangkan pada komik Dragon Ball ditampilkan perilaku yang tidak etis terhadap lingkungan, yakni penghancuran bumi oleh tokoh Bhu jahat. Dalam komik Sangkuriang ditampilkan perilaku yang tidak etis terhadap lingkungan, yakni saat Sangkuriang dan bala tentara jin menghancurkan hutan untuk membuat telaga agar Sangkuriang dapat menikahi Dayang Sumbi.

9. Etika Perilaku Tokoh Terhadap Hewan

Kejadian-kejadian yang menampilkan perilaku tokoh terhadap hewan terdapat dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin. Dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan, dan Aladdin ditampilkan perilaku tokoh yang menyayangi hewan dan tidak membunuh hewan secara semena-mena, sedangkan dalam komik Crayon Sinchan ditampilkan perilaku yang kurang etis dari tokoh Sinchan karena memperlakukan Si Putih, anjingnya, secara kasar.

3.3. Aspek Etika Berbicara Tokoh dalam Komik 1. Etika Berbicara kepada Orang Tua

Kejadian yang menampilkan perilaku berbicara tokoh kepada orang tua terdapat dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Crayon Sinchan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin.

Nilai-nilai kesantunan saat berbicara dengan orang tua telah ditunjukkan tokoh dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Kobo Chan, Sangkuriang, dan Aladdin karena cara berbicara dan isi dialog yang diucapkan tokoh kepada orang tuanya telah memenuhi aspek kesantunan berbicara. Akan tetapi, peneliti menjumpai satu kejadian dalam komik Doraemon yang memperlihatkan perilaku yang tidak etis saat tokoh Nobita membentak ibunya. Sedangkan perilaku berbicara tokoh kepada orang tuanya dalam Crayon Sinchan secara umum tidak etis dan tidak sesuai nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

2. Etika Berbicara kepada Guru atau Aparat Pemerintah

Berkenaan dengan etika berbicara kepada guru atau aparat pemerintah, peneliti jumpai dalam komik Doraemon, Detektif Conan, dan Crayon Sinchan. Etika berbicara tokoh kepada guru dan aparat pemerintah (polisi) dalam komik Doraemon dan Detektif Conan telah memenuhi aspek etika kesantunan berbicara. Sedangkan dalam komik Crayon Sinchan pada umumnya ditampilkan perilaku tokoh Sinchan yang tidak etis saat berbicara kepada gurunya, terutama sekali ketidaketisan dalam isi pembicaraannya.

3. Etika Berbicara kepada Teman Sejawat

Tokoh-tokoh dalam komik Doraemon, Detektif Conan, Dragon Ball, Kobo Chan, Kisah Nabi Muhammad SAW, Aladdin, Si Lender, dan Ophir telah menampilkan etika dalam berbicara kepada teman sejawat yang dilihat dari kesantunan bahasa, diksi, dan isi pembicaraan. Akan tetapi, pada beberapa kejadian dalam komik Doraemon ditemukan perilaku berbicara yang tidak etis seorang tokoh kepada temannya, yakni dialog yang diucapkan tokoh Giant dan Suneo kepada Nobita. Sedangkan dalam komik Crayon Shinchan hampir seluruh dialog yang diucapkan tokoh Sinchan menunjukkan ketidaketisan dalam berbicara, terutama dalam isi dialog yang diucapkan Sinchan karena selalu menyinggung perasaan temannya.

(8)

4. Etika Berbicara kepada Orang yang lebih Tua

Pada umumnya komik yang penulis kaji telah menampilkan rasa hormat tokoh saat berbicara dengan tokoh yang lebih tua dari dirinya. Rasa hormat tersebut tampak dalam kesantunan bahasa dan isi dialog yang diucapkan tokoh saat berbicara. Hanya pada komik Crayon Sinchan peneliti temukan dialog yang tidak etis yang diucapkan tokoh kepada tokoh yang lebih tua dari dirinya. Ketidaketisan dialog tokoh Sinchan terutama dalam isi dialognya yang sering membuat orang kesal ataupun menyinggung hal-hal berbau porno.

5. Etika Berbicara kepada Orang yang Lebih Muda

Kejadian yang menampilkan dialog tokoh dengan tokoh yang lebih muda terdapat dalam komik Detektif Conan, Crayon Sinchan, Kobo Chan, Dragon Ball, dan Aladdin.

Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam etika berbicara di atas, peneliti berpendapat bahwa seluruh dialog yang diucapkan tokoh kepada tokoh yang lebih muda dalam kelima judul komik di atas telah memenuhi aspek keetisan.

6. Etika Berbicara Orang Tua kepada Anak

Komik-komik yang menampilkan kejadian dialog orang tua kepada anaknya adalah Doraemon, Crayon Sinchan, Detektif Conan, Kobo Chan, Dragon Ball, Sangkuriang, dan Aladdin. Pada umumnya komik-komik tersebut telah menampilkan dialog yang etis antara orang tua dan anak karena telah memenuhi nilai-nilai di atas, sedangkan pada komik Crayon Sinchan banyak ditampilkan dialog yang kurang etis orang tua kepada anaknya karena banyak menampilkan dialog yang berupa luapan amarah/emosi yang tinggi dengan kata-kata sumpah serapah. Walaupun demikian, peneliti dapat memaklumi hal tersebut karena dipancing oleh kelakuan dan dialog tokoh Sinchan yang membuat kesal orang tuanya.

3.4. Aspek Etika Gambar Komik

Dari sepuluh judul komik yang peneliti kaji, komik yang memuat gambar porno hanya peneliti jumpai pada tiga judul komik, yakni Doraemon, Crayon Sinchan, dan Sangkuriang. Akan tetapi, terdapat perbedaan di antara ketiga judul komik tersebut berkenaan dengan gambar yang porno. Pada komik Doraemon dan Crayon Sinchan, gambar-gambar yang porno tersebut didukung oleh kejadian yang porno pula, sedangkan dalam komik Sangkuriang tidak dalam konteks kejadian yang porno. Di antara ketiga judul komik tersebut, komik Crayon Sinchan paling banyak memuat gambar-gambar yang porno.

3.5. Perbedaan Komik Terjemahan dan Komik Indonesia 1. Tema Komik

Dalam hal orisinalitas tema yang disajikan penulis komik Indonesia bukan ide asli pengarang karena cerita tersebut telah ada sebelumnya, sedangkan komik terjemahan seluruhnya menampilkan tema-tema kreasi penulis komik tersebut. Komik-komik Indonesia seluruhnya menampilkan tema tradisional. Komik terjemahan selain menampilkan tema tradisional (Doraemon, Detektif Conan, Dragon Ball, Kobo Chan), juga menampilkan tema nontradisional (Crayon Sinchan).

2. Peristiwa dalam Komik

Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam kelima komik Indonesia adalah “peristiwa besar” yang jarang dijumpai dalam kehidupan. Penulis melihat bahwa komikus Indonesia membutuhkan “peristiwa-peristiwa besar” untuk membuat komik, sedangkan komikus

(9)

Jepang banyak mengangkat peristiwa sehari-hari sebagai sumber inspirasi cerita komiknya.

Selain itu komikus Indonesia mengangkat latar peristiwa-peristiwa lampau yang sudah banyak diketahui oleh pembaca.

3. Tokoh Cerita

Tokoh-tokoh utama yang ditampilkan dalam kelima komik Indonesia adalah tokoh dewasa dengan permasalahan dan karakter manusia dewasa, yang “istimewa” dilihat dari sifat, fisik, dan kemampuannya, sedangkan komik terjemahan menampilkan menampilkan tokoh anak-anak yang biasa saja dengan masalah dan karakter khas anak-anak.

4. Gambar Komik

Hampir tidak ada perbedaan model gambar yang digunakan komikus Jepang dan komikus Indonesia karena seluruhnya menerapkan model bahasa atau kartun. Teknik bercerita antara komikus Jepang dan komikus Indonesia pun sama, yakni menggunakan teknik bercerita aksi ke aksi, artinya gambar-gambar adegan komik dilukiskan sebagai suatu rangkaian kejadian seperti dalam film.

5. Bahasa Komik

Komik Indonesia telah terjaga dari penggunaan dialog berupa sumpah serapah, sedangkan penggunaan dialog berupa sumpah serapah penulis temukan di tiga komik Jepang dalam frekuensi yang cukup tinggi (Doraemon, Crayon Sinchan, Dragon Ball). Kesantunan bahasa kepada orang tua, guru, ataupun aparat pemerintahan tidak ditemukan dalam komik Indonesia, sedangkan dalam komik Jepang kasus pelanggaran kesantunan bahasa tersebut penulis temukan.

6. Seri Komik

Komik-komik Indonesia tidak bersambung dan tidak bernomor terbit, artinya cerita komik tamat dalam satu buku. Komik Jepang seluruhnya berseri sehingga satu judul komik memiliki puluhan nomor buku. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat kreativitas komikus Indonesia dibandingkan dengan komikus Jepang.

7. Jumlah Cerita dalam Buku Komik

Komik Jepang umumnya dalam satu buku terdiri atas beberapa judul cerita. Komik- komik Indonesia dalam satu buku seluruhnya hanya menampilkan satu cerita.

Tema dalam seluruh komik terjemahan seluruhnya mengambil tema sederhana yang berasal dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun tokoh bukan tokoh yang “istimewa”. Sedangkan komikus Indonesia selalu membutuhkan “peristiwa besar”

dan “tokoh istimewa” untuk menulis sebuah komik. Kreativitas dalam penciptaan cerita komik pada komikus Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan komikus Jepang, seperti yang tampak pada perbandingan jumlah halaman untuk komik Jepang dan komik Indonesia.

Komik-komik terjemahan secara umum telah memperhatikan pembacanya, yakni kalangan anak-anak. Hal ini dapat diperhatikan pada tokoh dan peristiwa yang diangkat dalam komik terjemahan. Sedangkan komik-komik Indonesia kurang memperhatikan pembaca dari kalangan anak-anak karena tokoh dan peristiwa yang diangkat tidak dari kehidupan anak-anak.

Peneliti dapat mencatat ada tiga aspek pendidikan yang ditampilkan dalam komik terjemahan, yakni pendidikan kedisiplinan, cinta budaya sendiri, dan melestarikan lingkungan/hewan. Ketiga aspek pendidikan ini tidak penulis temukan dalam komik Indonesia.

(10)

Penulis komik Indonesia tampaknya mengacu pada pendapat bahwa komik hanyalah media hiburan sehingga komik-komik Indonesia jarang dipergunakan sebagai media pendidikan bagi pembacanya, khususnya kalangan anak-anak. Penanaman norma disiplin, belajar, cinta lingkungan, cinta budaya sendiri, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan lainnya hampir tidak peneliti jumpai disajikan dalam komik Indonesia

4. CONCLUSION

Beberapa saran dapat penulis sampaikan kepada komikus Indonesia. Kita tidak perlu malu belajar dari kreativitas komikus Jepang baik dalam ide cerita maupun pengembangan tema cerita.

Diharapkan komik-komik Indonesia menampilkan tokoh anak-anak dengan segala karakter dan permasalahan dalam dunia anak-anak. Latar cerita komik dapat diambil dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang akrab dengan kehidupan pembaca. Tidak perlu harus selalu peristiwa besar untuk disajikan dalam sebuah komik. Karena pembaca komik umumnya anak-anak, maka komikus Indonesia sangat perlu mempertimbangkan faktor anak-anak. Komikus Indonesia perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak sehingga aspek distribusi dan pemasaran komik Indonesia dapat menjangkau daerah yang luas. Selain itu diupayakan agar karakter tokoh yang diciptakannya tidak hanya muncul dalam bentuk buku komik, tetapi juga dibuat dalam bentuk kartu kwartet, berbagai bentuk cindera mata, boneka, kaos, film kartun, ataupun bahkan sinetron/film.

Dengan cara seperti itu diharapkan kesejahteraan komikus Indonesia dapat lebih meningkat.

Komikus Indonesia perlu menjajagi pengajuan Hak Cipta atas karakter tokoh yang diciptakannya.

Pembuatan buku komik Indonesia harus mempertimbangkan aspek harga sehingga terjangkau oleh pembaca.

REFERENCES

Bonneff, M. (1998). Komik Indonesia (terj. Rahayu S. Hidayat). Jakarta(Doraemon, Crayon Sinchan, dan Kobo Chan):

Gramedia.

Ensiklopedi Indonesia. (tanpa tahun). Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Franz, K. dan Meir, B. (1994). Membina Minat Baca. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Kuswara. (2002). Aspek Etik dalam Komik Terjemahan dan Komik Indonesia serta Tanggapan Pembaca Atas Etika Penulisan Komik (Studi Deskriptif-Analitis-Komparatif Terhadap Unsur Cerita, Gambar, dan Bahasa dalam Komik Terjemahan dan Komik Indonesia). Tesis pada UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

McCloud, S. (2001). Understanding Comics : Memahami Komik (terj. S. Kinanti). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Moleong, L. J. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Referensi

Dokumen terkait

Namun demikian, apabila kita memperhatikan kembali tabel tersebut, maka terlihat bahwa pada tahun 2008, ternyata ada pergeseran yang cukup berarti bagi

melaksanakan pendaftaran, pendataan dan penetapan wajib pajak daerah dan wajib retribusi daerah serta pendftaran, pendataan dan penetapan obyek pajak daerah, obyek retribusi

Melibatkan masyarakat dalam suatu gagasan ini adalah dengan bentuk desa atau daerah wisata permainan tradisonal yang merupakan suatu kawasan daerah yang menawarkan

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaikbaiknya. BUDIYANI

Peng- gunaan iradiasi sinar gamma pada benih tembesu segar yang relatif baru diunduh dengan dosis maksimal 30 Gy dapat meningkatkan persen tumbuh bibit,

Rata-rata biaya makan yang terbuang akibat sisa makanan lunak dibandingkan biaya makan yang disajikan adalah Rp 4.988,2/hari (19,5%). Disarankan agar dilakukan evaluasi dan

Proses perangkaian suku kata menjadi kata, kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana, kemudian ditindaklanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut

ada pula pihak lain yang menegaskan bahwa pemberdayaan adalah proses memfasilitasi warga masyarakat secara bersama- sama pada sebuah kepentingan bersama atau urusan yang