• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK ANTIBAKTERI SEDIAAN GAMBIR (UNCARIA GAMBIR ROXB.) TERPURIFIKASI DENGAN KANDUNGAN KATEKIN ≥90%

TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat MencapaiGelar Sarjana Kedokteran Gigi

OLEH:

WINDA DEWI MULIA SETIAWATY J111 14 003

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN GIGI MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

(2)

EFEK ANTIBAKTERI SEDIAAN GAMBIR (UNCARIA GAMBIR ROXB.) TERPURIFIKASI DENGAN KANDUNGAN KATEKIN ≥90%

TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat MencapaiGelar Sarjana Kedokteran Gigi

WINDA DEWI MULIA SETIAWATY J111 14 003

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN GIGI MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas segala karunia, kekuatan, danpertolonganyang tiada hentinya diberikan kepada manusia, terutama nikmat iman dan akal sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna yang mampu menikmati ilmu pengetahuan.

Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efek Antibakteri Sediaan Gambir(Uncaria gambir Roxb.)Terpurifikasi dengan Kandungan Katekin ≥90% terhadap Bakteri Streptococcus mutans”dengan segenap usaha dan doa.Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW., beserta keluarga dan sahabatnya selaku nabi yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju dunia peradaban yang kaya akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini.

Penulis menyadar bahwa dalam penulisan skripsi ini,banyak bantuan dan doron gan serta bimbingan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini selesai sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu pada kesempatan ini, ungkapan terimakasih yang tulus dan tidak terhingga kepada kedua orang tua yang terkasih, Ibunda Idawati Saini, S.Pd dan Ayahanda Fandy atas segala upaya, doa, cinta dan

(6)

kasih sayang, motivasi, penghargaan dan dukungannya sehingga penulis dapatmenyelesaikan studi dengan baik.

Dan dengan segala kerendahan hati, penulis jugamengucapkanterima kasih yang sebesar-besarnyakepada:

1. Dr. drg. Baharuddin Thalib, M.kes, Sp. Pros selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin atas bantuan morilnya selama penulis mengikuti pendidikan.

2. Prof. Dr. Drg. Rasmidar Samad, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing, memberikan arahan dan nasihat serta motivasi kepada penulis selama penyusunan skripsi sehinggadapat terselesaikan dengan baik.

3. Drg. Hendrastuti Handayani, M.Kes selaku penasehat akademik atas bimbingan, motivasi, nasehat dan dukungan yang diberikan kepada penulis selama perkuliahan.

4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama menempuh pendidikan.

5. Saudara penulis Idfan Agung Pratama, Ulia Fadilah, Dian Safitri dan Islahul Adelia yang senantiasa menjadi pengingat dan pembangkit semangat penulis serta terkhusus kepada tante sekaligus orang tua

(7)

memberikan dukungan, doa serta bantuan materil dan moril kepada penulis.

6. Sahabat (saudara) penulis Eka Oktaviana Almi dan Uswah Hasanah yang senantiasa memberikan dukungan, bimbingan, semangat, dan mendampingi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini .

7. Sahabat terkarib penulis,Khusnul Pratiwi Hadi dan Dheanawati Putri yang senantiasa memberi bantuan, semangat dan tak kenal lelah mendampingi penulis dalam situasi apapun.

8. Kanda Nursalam yang turut andil memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Sahabat terkarib Luki Dwianto Saputra yang turut serta memberikan bantuan serta senantiasa memberikan semangat kepada penulis.

10. Partner skripsi penulis, yaitu Magfirah dan Kurniawati Sugito sebagai teman seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi.

11. Teman-teman skripsi bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, yaitu Magfirah, Tria Difasari M, Muhammad Shaad Isra,Nirmawati Musa, Kurniawati Sugito, Mulyati Z, Eka Oktaviana Almi dan EkaOktaviana yang turut memberikan semangat kepada penulis.

12. Teman-teman INTRUSI 2014 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala suka maupun duka yang telah kita lewati selama 3 tahun kebersamaan.

13. Staf pendamping selama di Laboratorium atas ilmu yang diberikan selama penelitian.

(8)

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan sumbangsi kepada penulis selama kuliah hingga penulisan skripsi ini.

Demikian ucapan terima kasihyang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga semua bantuannya mendapatkan berkah yang setimpal.Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena sesungguhnya kesempurnan hanyalah milik Allah SWT dan kesalahan pasti datangnya dari penulis. Untuk itu, segala kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan ke depannya. Mudah-mudahan karya ini dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang Kedokteran Gigi.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Makassar, 08 Agustus 2017

Penulis

(9)

EFEK ANTIBAKTERI SEDIAAN GAMBIR (UNCARIA GAMBIR ROXB.) TERPURIFIKASI DENGAN KANDUNGAN KATEKIN ≥90%

TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS

ABSTRAK

Latar belakang:Karies gigi adalah masalah utama kesehatan gigi dan mulut yang umum terjadi di Indonesia dan prevaensinya cenderung meningkat. Prevalensi karies aktif di Indonesia sebesar 46,5 % dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72,1 % (Riskesdas, 2007). Bakteri penyebab utama karies adalah Streptococcus mutans. Upaya alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan bahan herbal. Salah satu bahan herbal yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu adalah gambir melalui kebiasaan

“menyirih”. Ekstrak gambir mengandung beberapa komponen yaitu katekin (catechin), asam cathecu tannat, quersetin, cathecu merah, gambir flouresin, lemak dan lilin (malam). Katekin adalah suatu bahan alami yang bersifat antioksidan, antibakteri, dan antifungi. Gambir dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies gigi dan dapat menguatkan gusi.

Tujuan: Untuk mengetahui efek antibakteri sediaan gambir (Uncaria gambir Roxb.) terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90% terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Material dan metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah ekserimental laboratoris dengan desain penelitian adalah pre and post test with control group design. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah biakan Streptococcus mutans yang berasal dari stock culture bakteri yang disimpan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Hasanuddin.Penelitian tahap awal dibuat dengan membuat sediaan gambir terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90% dengan konsentrasi 2%, 6% dan 10%. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian efek antibakteri dengan metode difusi menggunakan kertas cakram. Zona bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram diukur menggunakan jangka sorong. Pengujian selanjutnya adalah uji daya bunuh dengan menggunakan 2 buah cawan petri, cawan yang berisi bakteri sebelum dan setelah pemberian sediaan gambir. Metode yang digunakan adalah metode pengenceran yang dilakukan sebanyak 1x10-1. Koloni yang terbentuk dihitung secara manual.

Hasil dan Kesimpulan: Hasil menunjukkan terdapat aktivitas antibakteri sediaan gambir(Uncaria gambir Roxb.) terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90%

pada semua konsentrasi. Hal ini ditandai dengan adanya zona hambat yang terbentuk.Kemampuanantibakteri pada konsentrasi 10% memiliki efek yang samadenganAmoxicilindalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus

(10)

mutans.Pada pengujian daya bunuh tampak pula bahwa jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans berkurang secara signifikan setelah diberikan sediaan gambir.

KataKunci:Gambir (Uncaria gambir Roxb.) terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90%, Streptococcus mutans, efek antibakteri, karies.

(11)

ANTIBACTERIAL EFFECT OF PURIFIED GAMBIER (UNCARIA GAMBIR ROXB.) PREPARATION WITH ≥90% CATECHIN CONTENT

AGAINS TO STREPTOCOCCUS MUTANTS BACTERIA

ABSTRACT

Background:Caries is a major problem of dental health which common to happen in Indonesia by 46,5% and who have caries experience of 72,1% The main cause of bacteria isStreptococcus mutants. Alternatif efforts that can be done is to utilize herbal ingredients. One of herbal ingredients that are often consumed by Indonesian society since ancient times was gambier through the habit of

“menyirih”. Gambier extract contains several components namely catechin, catechu tannat acid, quersetin, catechu red, gambier flouresin, fat and candles.

Catechins are a natural substance that is antioxidant, antibacterial, antifungal.

Gambir is believed to inhibit the growth of the causing bacteria of caries and strengthen the gums.

Objective: To know the antibacterial effect of purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90% catechin content against to Streptococcus mutants bacteria.

Materials and Methods: This research method was experimental laboratory with research desain was pre and post test with control group design. Samples used were Streptococcus mutants bacteria obtained from stock culture of Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine Hasanuddin University. The research was conducted at the Farmakognosi Fitokimia Laboratory of Faculty of Pharmacy and Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine Hasanuddin University. Early stage research done by making the purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90% catechin content in 2%, 6% and 10% concentration. Then continued by testing the antibacterial effect by diffusion method using paper disc.

The celar zone was formed around the disc was measured using the caliper. The next test is a test of the kill power of purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90% catechin content to the growth of Streptococcus mutants.

This test using 2 petri dish, containing bacteria before and after giving the preparation. The method used is dilution method performed as much as 1x10-1. Colonies formed were calculated manually.

Result and Conclusions: The results showed that there was the antibacterial activity of purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90%

catechin content to the growth of Streptococcus mutants. This is indicated by the drag zone formed. Antibacterial ability at 10% concentration has the same effect as Amoxicillin in inhibiting the growth of Streptococcus mutants. In testing the ability of the kill also showed that the number of Streptococcus mutants colonies

(12)

significantly reduced after given the purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90% catechin content.

Keywords: Purified gambier (Uncaria gambir Roxb.) preparation with ≥90%

catechin content, Streptococcus mutants, antibacterial effect, caries.

(13)

DAFTAR ISI

SAMPUL... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ...iii

PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI...xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR BAGAN...xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

2.1 Gambir (Uncaria gambir)... 7

2.1.1 Taksonomi... 8

2.1.2 Morfologi ... 8

2.1.3 Kandungan ... 11

2.1.4 Toksisitas... 12

2.1.5 Manfaat... 13

2.2 Streptococcus mutans... 15

2.2.1 Taksonomi... 15

2.2.2 Klasifikasi... 16

2.2.3 Morfologi ... 17

(14)

2.2.4 Metabolisme ... 17

2.2.5 Peran... 19

2.2.6 Manfaat... 19

BAB III KERANGKA PENELITIAN ... 24

3.1 Kerangka teori... 24

3.2 Kerangka konsep... 25

3.3 Keterbatasan Penelitian... 26

3.4 Hipotesis Penelitian ... 26

BAB IV METODE PENELITIAN ... 27

4.1 Jenis dan Desain Penelitian... 27

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 27

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 27

4.4 Definisi Operasional Variabel... 28

4.5 Kriteria Penelitian ... 28

4.6 Alat dan Bahan... 28

4.7 Prosedur Penelitian ... 29

4.10 Data/ Jenis Data... 32

4.11 Rencana Analisis Data ... 32

4.12 Alur Penelitian ... 34

BAB V HASIL PENELITIAN ... 35

5.1 Daya Hambat ... 35

5.1.1 Hasil Uji Laboratorium... 35

5.1.2 Hasil Analisa Statistik ... 38

5.2 Daya Bunuh ... 40

BAB VI PEMBAHASAN... 43

BAB VII PENUTUP... 49

7.1 Kesimpulan... 49

(15)

7.2 Saran... 50 DAFTAR PUSTAKA ... 51 LAMPIRAN... 54

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.3Kandungan Kimia Gambir ... 11

Tabel 5.1.1 Hasil Pengukuran Zona Inhibisi... 36

Tabel 5.1.2.1 Nilai Rerata Zona Inhibisi... 37

Tabel 5.1.2.2 Perbandingan Daya Hambat... 38

Tabel 5.1.2.3 Perbedaan Rata-Rata Zona Inhibisi Konsentrasi 10% terhadap Amoxicilin... 39

Tabel 5.2 Hasil Perhitungan Koloni Bakteri Sebelum dan Setelah PemberianSediaan Gambir Terpurifikasi Dengan Kandungan Katekin ≥90%... 40

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.1 Gambir... 10 Gambar 5.1.1 Zona Inhibisi Sediaan Gambir Terpurifikasi dengan Kandungan

Katekin ≥90% terhadap Streptococcus mutans... 35 Gambar 5.2.1 Koloni Streptococcus mutans Sebelum Pemberian Ekstrak ... 40 Gambar 5.2.2 Koloni Streptococcus mutans Setelah Pemberian Ekstrak... 40 Gambar 6.1 Sediaan Gambir Terpurifikasi dengan Kandungan Katekin ≥90%. 42

(18)

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Kerangka Teori ... 24 Bagan 3.2 Kerangka Konsep... 25 Bagan 4.10 Alur Penelitian ... 33

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumentasi... 54

Lampiran 2 Kartu Kontrol Skripsi... 63

Lampiran 3 Berita Acara Seminar Proposal Skripsi... 65

Lampiran 4 Berita Acara Seminar Hasil Skripsi ... 67

Lampiran 5 Surat Persetujuan Pembimbing ... 69

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian ... 70

Lampiran 7 Surat Penugasan ... 71

Lampiran 8 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian... 72

Lampiran 9 Surat Pernyataan Bebas Pustaka ... 73

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang penting dari kesehatan umum bagi setiap individu karena organ ini merupakan pintu masuk pertama ke dalam saluran pencernaan dan penghubung antara dunia luar dengan bagian dalam tubuh. Selain itu, mulut adalah cermin dari kesehatan umum tubuh karena beberapa penyakit sistemik menampakkan tanda/ gejala yang dapat dilihat dalam rongga mulut.1

Terwujudnya kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor (multifaktorial), yakni host (pejamu) dalam hal ini kondisi jaringan keras dan jaringan lunak rongga mulut (meliputi gigi geligi, mukosa, dan saliva), agent dalam hal ini adalah mikroorganisme serta environment yakni keadaan lingkungan dalam hal ini lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi seseorang. Ketiga hal yang berpengaruh ini disebut sebagai triad epidemiologi. Keadaan dikatakan normal (sehat) jika ketiga hal tersebut ada dalam keadaan seimbang, dan dikatakan tidak normal (sakit) jika salah satu faktor dari host, agent, atau environment lebih dominan.1

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah bakteri sebagai agent atau pembawa penyakit. Bakteri yang terdapat di dalam rongga

(21)

Bakteri flora normal merupakan mikroorganisme yang menghuni tubuh manusia tanpa menimbulkan penyakit pada kondisi normal. Kelompok bakteri flora normal dalam rongga mulut seperti Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, Neisseria sp, Corynebacterium, dll.2

Selain bakteri flora normal, dalam rongga mulut juga terdapat bakteri patogen. Bakteri patogen adalah bakteri yang mempunyai potensi untuk menimbulkan penyakit. Bakteri patogen bisa berupa bakteri yang asalnya dari luar tubuh dan juga merupakan bakteri flora normal yang karena kondisi tertentu berubah menjadi bakteri patogen.2

Salah satu bakteri flora normal dalam rongga mulut adalah Streptococcus mutans. Bakteri ini mempunyai peranan penting dalam pertahanan tubuh karena menghasilkan suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang lain. Namun di sisi lain, bakteri ini dapat menyebabkan terjadinya demineralisasi email jika pertumbuhannya tidak terkontrol dan dalam periode waktu tertentu akan menimbulkan kavitas (karies gigi).3

Karies gigi adalah masalah kesehatan gigi dan mulut yang umum terjadi di Indonesia. Hasil penelitian WHO dalam Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, diperoleh data dan informasi bahwa 90% dari anak sekolah di dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies gigi.4

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh RISKESDAS (2007), prevalensi karies aktif di Indonesia sebesar 46,5 % dan yang mempunyai

(22)

pengalaman karies sebesar 72,1 %. Karies aktif yang dimaksud dalam hal ini adalah orang yang memiliki D>0 atau karies yang belum tertangani, sementara orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memiliki DMFT>0.4

RISKESDAS (2013) mengumpulkan data kesehatan gigi yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes RI Tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi penyakit gigi dan mulut penduduk di Indonesia dalam 12 bulan terakhir adalah 25,9%.5

Data tersebut menunjukkan bahwa karies masih menjadi masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Karies gigi adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga menjalar ke dentin.

Kerusakan ini terjadi hampir di seluruh penduduk dunia yaitu sekitar 98% dan dapat ditemukan di semua umur. Karies di Indonesia ditemukan pada hampir tiap penduduknya dengan angka kejadian karies berkisar antara 85-99%. Depkes RI menyebutkan bahwa prevalensi karies di Indonesia cenderung meningkat. Bakteri merupakan faktor yang memegang peranan penting terhadap terjadinya karies. Jenis bakteri penyebab utama karies adalah Streptococcus mutans.6

Dewasa ini, berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka mempertahankan kesehatan gigi dan mulut, diantaranya dengan menyikat

(23)

Selain itu, salah satu upaya alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan bahan herbal. Telah banyak dilakukan penelitian yang memanfaatkan bahan alam yang bertujuan untuk menghasilkan obat-obatan.

Kembalinya perhatian ke bahan alam dianggap sebagai hal yang bermanfaat karena selain sejak dahulu masyarakat telah percaya bahwa bahan alam mampu mengobati berbagai macam penyakit, pemanfaatan bahan alam yang digunakan sebagai obat juga jarang menimbulkan efek samping yang merugikan dibandingkan obat yang terbuat dari bahan sintesis.

Salah satu bahan herbal yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu adalah gambir melalui kebiasaan “menyirih”.

Menyirih merupakan proses meramu campuran dari unsur-unsur yang telah dipilih yang dibungkus dalam daun sirih kemudian dikunyah dalam waktu beberapa menit. Mereka meyakini bahwa kebiasaan tersebut merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan dan kekuatan gigi.7

Indonesia merupakan negara eksportir gambir. Namun, pemanfaatannya di bidang kesehatan masih terbatas. Gambir adalah sari getah yang diekstraksi dari daun tanaman gambir dengan cara pengepresan. Ekstrak gambir mengandung beberapa komponen yaitu cathecin, asam cathecu tannat, quersetin, cathecu merah, gambir flouresin, lemak dan lilin (malam). Gambir dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies gigi dan dapat menguatkan gusi.7

Hasil penelitian VR. Ciptaningtyas menunjukkan bahwa gambir mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, bakteri penyebab karies.

(24)

Kemampuan gambir sebagai tanaman obat disebabkan oleh adanya komponen bioaktif. Komponen fitokimia utama pada daun gambir adalah flavonoid berupa ketekin sekitar 40%.8 Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lucida et al (2007) bahwa fitokimia utama pada tanaman gambir terdapat pada bagian daun berupa senyawa flavonoid (katekin 50%).9 Hal ini senada denganpendapat Pambayun dkk. (2007) yang mengatakan bahwa ekstrak gambir mengandung senyawa katekin dengan kadar 67,55- 72,02 persen.14

Tingginya kandungan katekin pada gambir diduga berpotensi sebagai antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan kemampuan ekstrak gambir sebagai antibakteri, namun penelitian mengenai kemampuan antibakteri zat aktif utama dalam tanaman gambir yakni ekstrak katekin belum banyak dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri sediaan gambir (Uncaria gambir Roxb.) terpurifikasi dengan kandungan katekin

≥90% terhadap bakteri Streptococcus mutans. Aktivitas antibakteri yang akan

diamati adalah bukan hanya kemampuan (daya) hambat, tetapi juga meneliti kemampuan (daya) bunuh sediaan gambir tersebut terhadap Streptococcus mutans. Tidak hanya luas zona inhibisi yang diketahui tetapi juga dapat dihitung jumlah bakteri yang dapat dihambat. Berdasarkan uraian di atas,

(25)

Katekin ≥90% terhadap Bakteri Streptococcus mutans” untuk mengetahui kemampuan daya hambat dan jumlah bakteri Streptococcus mutans yang dapat dihambat setelah pemberian sediaan katekin gambir.

1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mengangkat rumusan masalah “Bagaimana efek antibakteri sediaan gambir (Uncaria gambir Roxb.)

terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90%terhadap bakteri Streptococcus mutans?”

1.2 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui efek antibakteri sediaan gambir(Uncaria gambir Roxb.)terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90% terhadap bakteri Streptococcus mutans.

1.3 Manfaat Penelitian

1.3.1 Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu kedokteran gigi sesuai dengan tema yang relevan dengan penelitian ini.

(26)

b. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya berkaitan dengan kandungan katekin dalam tanaman gambir hubungannya dengan kesehatan gigi dan mulut.

1.3.2 Manfaat Praktis

a. Sediaan gambir terpurifikasi dengan kandungan katekin ≥90%dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif karies gigi sehingga diharapkan dapat menurunkan prevalensi karies.

b. Dapat digunakan sebagai bahan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian dengan tema yang relevan dengan penelitian ini.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambir (Uncaria gambir)

Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.).10 Gambir adalah sari getah yang diekstraksi dari daun dan ranting tanaman gambir.20

Menurut Nazir (2000),Indonesia merupakan satu-satunya eksportir gambir utama dunia. Hampir 80% gambir yang dihasilkan Indonesia diekspor ke luar negeri, terutama India.

Tanaman gambir (Uncaria Gambir Roxb.) merupakan tanaman daerah tropis yang termasuk famili Rubiacea dengan ketinggian sekitar 1,5 – 2 meter yang banyak tumbuh di daerah dataran tinggi pada negara Argentina, Philipina dan Indonesia.

Di Indonesia, tanaman gambir banyak terdapat di berbagai wilayah, diantaranya Sumatra Barat dan Riau. Kedua wilayah ini merupakan wilayah produksi gambir yang telah memasuki pasaran ekspor, sedangkan wilayah Sumatra Utara, Bengkulu, Sumatra selatan dan Aceh, jumlah produksinya masih hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal saja.

Khusus di daerah Aceh, tanaman gambir sangat sedikit, kemungkinan hal ini terjadi karena keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang manfaat dan cara

(28)

pengolahan tanaman gambir. Tanaman gambir di Aceh terpusat di Kabupaten Aceh Tenggara, Kecamatan Bandar.10

2.1.1 Taksonomi

Taksonomi dari tumbuhan gambir yaitu:11 Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Gentianales

Famili : Rubiaceae

Genus : Uncaria

Spesies : Uncaria gambir 2.1.2 Morfologi

Gambir (Uncaria gambir Roxb.) termasuk tumbuhan perdu dengan tinggi 1-3 meter. Batang tegak, bulat, percabangan memanjang, warna coklat pucat. Daun tunggal, berhadapan, berbentuk lonjong, tepi bergerigi, ujung meruncing, permukaan licin, tangkai daun pendek, panjang daun 8-13 cm. Lebar 4-7 cm dan berwarna hijau. Bunga tersusun majemuk, mahkota berwarna merah muda atau hijau, kelopak bunga pendek, mahkota bunga berbentuk corong, benang sari lima. Buah berbentuk kapsula dan berbiji banyak.11

Uncaria gambir Roxb.berupa tumbuhan perdu setengah merambatdengan percabangan memanjang dan mendatar; batang

(29)

menyegi empat terutama ketika muda dan dipersenjatai dengan duri-duri yang melengkung seperti kait.10

Daun-daun tunggal, berhadapan, agak seperti kulit, oval hingga jorong lebar, (6-)9-12(-15) cmx (3.5-)5-7(-8) cm, pangkalnya membundar atau bentuk jantung, ujungnya meruncing, permukaan tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek.Bunganya tersusun majemuk dalam bongkol dengan diameter (3.5-)4-5 cm; mahkota berwarna merah muda atau hijau, kelopak bunga pendek, mahkota bunga berbentuk corong (seperti bunga kopi), benangsari lima.Buah berupa kapsula dengan dua ruang, panjang 14-18 mm, berbiji banyak, bersayap, dan bertangkai hingga 20 mm.10

Gambar 2.1.2 Gambir (Uncaria gambir Roxb.)

(Sumber :https:// kotoalam.files.wordpress.com/2011/03/gambir.jpg)

(30)

2.1.3 Kandungan

Ekstrak gambir mengandung beberapa komponen yaitu cathecin, asam catecu tanat, quersetin, catechu merah, gambir flouresin, abu,lemakdanlilin.2 1 Kandungan utama gambir adalah flavonoid, katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%) dan sejumlah alkaloid serta turunan dihidro. Selain katekin, ekstrak gambir mengandung bermacam- macam senyawa kimia lain, yaitu asam katekutanat 20-50%, pyrokatechol 20-3-%, gambir fluoresensi 1-3%, kateku merah 3-5%, quersetin 2-4%, fixed oil 1-2% dan lilin 1-2%.11,12,13

Katekin dan asam katekutannat merupakan komponen yang memiliki potensi sebagai zat antibakteri. Kandungan katekin merupakan salah satu parameter mutu gambir dan menjadi penentu utama kualitas gambir.11,12,13

Tabel 2.1.3 Kandungan Kimia Gambir

Gambir merupakan produk dari tanaman gambir (Uncaria gambir), mengandung senyawa fungsional yang termasuk dalam golongan

No Nama Komponen Persentase ( % )

1 Catechi

n

7-33

2 Asam CatechuTannat 20-55

3 Pyrocatechol 20-30

4 Gambir flouresensi 1-3

5 Catechu merah 3-5

6 Querseti

n

2-4

7 Fixed

oil

1-2

8 Lilin 1-2

9 Alkaloid < 1

(31)

dipengaruhi oleh umur daun. Katekin atau polifenol banyak dimanfaatkan sebagai bahan antimikrobia.

13,14

Katekin adalah segolongan metabolit sekunder yang secara alami dihasilkan oleh tumbuhan dan termasuk dalam golongan flavonoid.

Flavonoid biasanya banyak ditemukan pada buah-buahan, daun teh, sayuran dan juga pada Uncaria gambir Roxb. Katekin biasanya disebut asam catechoat dengan rumus kimia C15H14O6, tidak berwarna. Katekin juga memiliki aktivitas biologis yang penting, seperti aktivitas anti tumor dan antioksidan.15,16

Katekin dapat mencegah pembentukan extracellular glucan yang berfungsi melekatkan Streptococcus mutans pada permukaan gigi sedangkan catechol mampu menghambat aktivitas enzim glucosyl transferase yang dimiliki Streptococcus mutans. Enzim ini berkaitan

dengan pembentukan plak gigi.

17

2.1.4 Toksisitas

Gambir selain memiliki banyak khasiat dan kegunaan, juga memiliki efek toksisitas. Penelitian yang telah dilakukan oleh Hilpani 2012, setelah pemberian dosis 1000 mg/kgBB mencit tidak ada yang mati, tetapi setelah diberikan dosis 8000 mg/kgBB, mencit ada yang mati dengan ataksia sebelum kematian. Dari hasil pemeriksaan histologi menunjukkan adanya gejala patologis sel radang yang ditemukan pada organ hati dan usus. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa

(32)

gambir memiliki efek toksisitas pada tubuh jika menggunakan dosis yang berlebihan.18

2.1.5 Manfaat

Buah gambir memiliki banyak manfaat khususnya untuk kesehatan tubuh, antara lain, mengobati sakit kepala terutama sakit kepala sebelah atau migrain, mengobati diare akut, mengatasi penyakit disentri, meredakan penyakit radang tenggorokan, menyembuhkan penyakit panas dalam yang mengganggu kesehatan mulut dan gusi, mengobati luka bakar, serta mengatasi sariawan dan bibir pecah-pecah.10

Gambir biasa digunakan sebagai komponen menyirih, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses pencernaan di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, sebagai obat luka bakar, obat sakit kepala, obat kumur, serta obat sakit kulit.11,19

Buah gambir sering digunakan oleh ibu- ibu dan nenek- nenek untuk campuran menyirih yang berguna untuk menguatkan gigi sehingga tidak mudah keropos ataupun patah. Bukti emperis dan bukti ilmiah tersebut merupakan petunjuk bahwa daun gambir mengandung komponen bioaktif yang berperan sebagai antimikroba.10

Gambir juga bisa digunakan sebagai perawatan kecantikan.

Diantaranya bisa membantu mengurangi noda bekas jerawat di wajah

(33)

gambir sebagai astringen dan hemostatik. Menurut penelitian Zulfadli pada tahun 1989, Farmasi FMIPA, UNAND. Telah dilakukan uji mikrobiologi ekstrak daun dan ranting gambir terhadap beberapa bakteri terhadap penyebab diare secara in vitro. Dari hasil penelitian tersebut ternyata ekstrak daun dan ranting gambir bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Getah gambir juga bisa dipergunakan untuk terapi maag. Orang tua jaman dahulu sering menggunakan gambir untuk obat sakit perut dan diare, mengobati sakit kepala terutama sakit kepala sebelah atau migrain, penyakit radang tenggorokan dan juga sebagai obat penyakit panas dalam. Selain itu, penggunaan gambirumum dikenal dalam makan sirih sebagai campuran bahan untuk penambah rasa nikmat.22

Penelitian yang berkaitan dengan aktivitas ekstrak gambir telah banyak dilakukan diantaranya aktivitas antioksidan dan antibakteri dari turunan metil ekstrak etanol daun gambir (Kresnawaty dan Zainuddin, 2009), sebagai antiseptik mulut (Lucidaet al,2007),dan gambir sebagai imunodilator (Ismail dan Asad,2009).19 Selain itu juga telah diteliti kemampuan ekstrak gambir sebagai penghambat sintesa asam lemak (Shu-Yan et al,. 2008), beberapa aktivitas ekstrak gambir di atas sebagian besar disebabkan oleh katekin yang terkandung di dalam gambir.20

Beberapa aktivitas ekstrak gambir di atas sebagian besar disebabkan oleh katekin yang terkandung di dalam gambir. Selain uji aktivitas dari ekstrak gambir, telah dilakukan juga beberapa uji aktivitas

(34)

dari katekin, diantaranya katekin sebagai antimikroba, sebagai antispasmodik, bronkodilator dan vasodilator serta digunakan pada penderita gingivitis. Untuk penggunaan sebagai kosmetik, telah dilakukan uji diantaranya sebagai antiaging, sebagai anti jerawat dan untuk menurunkan berat badan.21

2.2 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif dan termasuk dalam kelompok varidians. Streptococcus mutans pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh JK. Clark yang merupakan ahli mikrobiologi medis pada tahun 1924. Istilah Streptococcus mutans diambil berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dengan pengecatan gram. Bakteri ini berbentuk oval dan lain dari bentuk spesies Streptococcus yang lain, sehingga disebut sebagai mutan dari Streptococcus.23

Streptococcus mutans bersifat anaerob fakultatif, asidogenik yaitu menghasilkan asam, asidodurik yaitu dapat tinggal pada lingkungan asam, dan menghasilkan suatu polisakarida yang lengket disebut dextran. Oleh kemampuan yang dimilikinya ini, maka Streptococcus mutans dapat mendukung bakteri lain untuk melekat pada email gigi, mendukung pertumbuhan bakteri asidodurik yang lainnya dan asam yang dihasilkan dapat melarutkan email.23

2.2.1 Taksonomi

Klasifikasi Streptococcuss mutans menurut Bergey dalam Capuccino (1998) adalah :24

(35)

Kingdom : Monera Divisio : Firmicutes

Class : Bacilli

Ordo : Lactobacilalles

Family : Streptococcaceae

Genus : Streptococcus

Species : Streptococcus mutans 2.2.2 Klasifikasi

Streptococcus mutansdiklasifikasikan berdasarkan serotype menjadi 8 kelompok yaitu serotype “a” sampai “h”. Pembagian serotype

ini berdasarkanperbedaan karbohidrat pada dinding sel. Akan tetapi, berdasarkan hibridasi DNAbakteri ini dibagi menjadi 4 kelompok genetic. Pembagian ini berdasarkan prosentase basa DNA yaitu guanine dan cytosine.23

Strain Streptococcus mutansyang banyak terdapat pada manusia dibagi atas tiga bagian berdasarkan serotipenya yaitu:

a. Serotype c dari plak manusia b. Serotype e dari karies gigi

c. Serotype f dari plak anak yang memiliki resiko karies tinggi

Streptococcus mutans serotype c merupakan jenis yang paling banyak dijumpai pada saliva dan plak. Prevalensinya mencakup 75-90%, sementara serotype e 10-20% dan serotype f hanya beberapa persen.23

(36)

2.2.3 Morfologi

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positf (+), bersifat non motil (tidak bergerak). Streptococcus mutans berbentuk bulat & oval.

Koloni Streptococcus mutans, tampak gambaran yang berpasangan atau membentuk rantai, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora.

Streptococcus mutans dapat tumbuh dengan optimal pada suhu sekitar 18o-40odan paling kondusif dalam menyebabkan karies gigi.25

Streptococcus mutans berbentuk kokus atau ovoid yang tunggal dan berantai dengan diameter 0,5-0,75 µm. Streptococcus mutans ditemukan berpasangan dengan rantai pendek dan tidak berkapsul. Pada kondisi lingkungan asam, bakteri ini dapat berbentuk batang dengan panjang 1,5- 3,0 µm.25

Bakteri ini memiliki kecenderungan berbentuk kokus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam pada medium yang diperkaya seperti Brain Heart Infusion (BHI) Bort, sedangkan bila ditanam di media agar memperlihatkan rantai pendek dengan bentuk sel tidak beraturan.25 2.2.4 Metabolisme

Secara umum, Streptococcus mutans dikenal karena kemampuannya untuk mensintesis polisakarida ekstraseluler dari sukrosa, mengalami agregasi sel ke sel ketika bercampur dengan sukrosa atau dekstran, dapat berkembang dengan lingkungan yang mengandung antibiotik sulfadimentin dan bacitracin serta dapat memfermentasi

(37)

Bakteri ini mempunyai metabolisme yang bersifat anaerob. Jika bakteri ini ditanamkan di dalam media yang solid, maka bakteri ini akan berbentuk kasar, runcing, dan berkoloni mukoid. Dalam proses tumbuh kembangnya akan membentuk CO2jika dilakukan inkubasi di dalam suhu 37oselama 48 jam.23

Dalam rongga mulut, Streptococcus mutans pada umumnya hidup pada permukaan yang keras dan juga solid. Permukaan-permukaan tersebut antara lain adalah permukaan gigi, gigi tiruan, ataupun alat ortodonti cekat. Habitat utama Streptococcus mutans ini adalah di permukaan gigi, namun mereka tidak dapat tumbuh secara bersamaan pada seluruh permukaan gigi, melainkan hanya tumbuh pada permukaan gigi tertentu saja.24

Secara khusus Streptococcus mutans mempunyai sifat dapat bertahan hidup di lingkungan yang asam (asidurik) dan dapat menghasilkan asam (asidogenik). Bakteri ini memanfaatkan enzim glucosyltransferase (GTF) dan fructosyltransferase (FTF) untuk mengubah sukrosa menjadi polisakarida glukan (dekstran) dan fruktan (levan). Glukan merupakan sumber makanan utama bakteri, sedangkan fruktan membantu adhesi dan agregasi bakteri dalam pembentukan plak.24

Streptococcus mutans mengandung suatu jalur glikolitik yang kompleks dan dapat menghasilkan laktat, format, asetat dan etanol sebagai hasil fermentasi karbohidrat. Distribusi yang tepat dari hasil

(38)

fermentasi tergantung pada kondisi pertumbuhan dengan laktat sebagai produk utama pada saat jumlah glukosa melimpah. Kekurangan dehidrogenase laktat strain (LDH) akan menyebabkan kemampuan kariogenik Streptococcus mutans berkurang. Tidak adanya LDH pada biofilm dapat mematikan Streptococcus mutans. Hal ini menjadi dasar pengembangan rekayasa genetika untuk mencegah adanya karies gigi.25

Streptococcus mutans mempunyai kemampuan menghasilkan asam sangat cepat. Kecepatan pembentukan asam oleh Streptococcus mutans berhubungan dengan terjadinya karies gigi. Asidogenik Streptococcus mutans dapat menyebabkan perubahan ekologi dalam flora biofilm, seperti tingginya komposisi Streptococcus mutansdan bakteri asidogenik lain serta spesies bakteri yang toleran terhadap asam.25

Sukrosa adalah satu-satunya jenis gula yang dapat dimanfaatkan oleh Streptococcus mutans untuk membentuk polikel. Sebaliknya, banyak jenis gula, seperti glukosa, fruktosa, laktosa dan sukrosa dapat dicerna oleh Streptococcus mutans untuk menghasilkan asam laktat sebagai produk akhir. Kombinasi dari kedua hal ini, dapat mengarah ke pembentukan karies gigi.25

2.2.5 Peran 2.2.5.1 Manfaat

Streptococcus mutans adalah bakteri yang ditemukan di mulut, berfungsi mengubah sukrosa (gula) menjadi asam laktat.24

(39)

2.2.5.2 Streptococcus mutans dalam Pembentukan Karies

Streptococcus mutans adalah salah satu bakteri yang mendapat

perhatian khusus, karena kemampuannya dalam proses pembentukan plak dan karies gigi. Streptococcus mutans telah diakui di dunia kedokteran gigi sebagai penyebab utama terjadinya karies gigi. Karies gigi merupakan suatu penyakit yang mengakibatkan demineralisasi, kavitasi, dan hancurnya jaringan keras gigi oleh aktivitas bakteri. Kidd dan Bechall menyatakan, untuk terjadinya karies gigi harus ada empat faktor yakni host (gigi dan saliva) sebagai tempat terjadinya karies, agent (mikroorganisme) sebagai penyebab dan pembentuk asam, diet (substrat) untuk berkembangnya bakteri dan waktu yang cukup hingga terjadi karies.26

Bakteri yang paling sering menyebabkan karies adalah Streptococcus mutans, Lactobacillus spp., Veillonella spp. dan Actinomyces spp. Streptococcus mutans dipertimbangkan sebagai faktor penyebab utama karena kemampuannya untuk melekat pada permukaan gigi, menghasilkan jumlah asam yang banyak, dan bermetabolisme pada pH rendah.27

Setelah mengkonsumsi sesuatu yang mengandung gula, terutama adalah sukrosa, dan bahkan setelah beberapa menit penyikatan gigi dilakukan, glikoprotein yang lengket (kombinasi molekul protein dan karbohidrat) bertahan pada gigi untuk mulai pembentukan plak.27

(40)

Plak gigi yang dibiarkan berkembang selama periode waktu tertentu pada permukaan gigi akan menyebabkan karies gigi. Plak membentuk biofilm yang merupakan kumpulan mikroorganisme yang melekat pada permukaan gigi dan selalu aktif secara metabolik.

Beberapa bakteri mampu memfermentasi diet substrat karbohidrat yang cocok seperti sukrosa dan glukosa dan memproduksi asam sehingga pH turun dibawah 5 dalam waktu 1-3 menit. Demineralisasi terjadi ketika kondisi asam terjadi berulang-ulang.28

Pembentukan plak diawali dengan bakteri aerob yang pertama kali melekat pada permukaan pelikel adalah Streptococcus sanguis dan kemudian diikuti oleh bakteri lainnya. Perlekatan awal bakteri ini terhadap hidroksiapatit sangat lemah dan bersifat reversible, sehingga bakteri tidak membentuk koloni. Setelah itu, Streptococcus mutans serotype c mensintesis dekstran ekstraseluler dari sukrosa. Perlekatan dan agregasi bakteri terhadap permukaan enamel terjadi dan kemudian diikuti dengan peningkatan kolonisasinya. Terjadinya agregasi bakteri ini, dikarenakan adanya reseptor dekstran pada permukaan dinding sel bakteri. Reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan gigi juga membantu bakteri ini untuk melekat pada permukaan gigi. Hal ini menyebabkan terjadinya interaksi antar sel selama pembentukan plak.

Peningkatan kolonisasi ini, terjadi karena agregasi bakteri melalui tiga dasar interaksi sel. Interaksi yang terjadi meliputi perlekatan bakteri

(41)

pada permukaan gigi, perlekatan homotipik antar sesama sel, dan perlekatan heterotipik antar sel yang berbeda.29

Mekanisme patogen dari bakteri ini dimulai dengan adanya proses erosi dari hidroksiapatit yang merupakan mineral dari enamel.

Demineralisasi ini disebabkan oleh asam laktat yang merupakan hasil akhir metabolisme dari pertumbuhan Streptococcus mutans.

Konsentrasi destruksi yang signifikan dari asam ini membutuhkan akumulasi yang banyak dari Streptococcus asidogenik dalam plak gigi.

Proses akumulasi diawali oleh aktivitas extracellular glucosyltransferase (GTF) yang disekresikan oleh Streptococcus mutans. Maka dari itu, dengan adanya sukrosa, GTF akan mensintesis beberapa glukan ekstraseluler dengan berat molekul tinggi. Polimer glukosa ini akan membantu agregasi dari Streptococcus lainnya melalui interaksi protein ikatan glukan (glucan binding protein). Streptococcus mutans merupakan penghasil asam laktat yang paling banyak dalam proses akumulasi ini meskipun pH yang rendah dari bakteri lainnya juga memberikan kontribusi.29

Demineralisasi terjadi ketika karbohidrat yang dikonsumsi difermentasi oleh bakteri dalam plak sehingga menghasilkan asam laktat. Adanya pembentukan asam akan menurunkan pH plak gigi di bawah nilai pH kritis yaitu 5,2-5,5. Hal ini menimbulkan kerusakan enamel yang ditandai adanya pelepasan ion kalsium dan fosfat serta meningkatkan daya larut kalsium hidroksiapatit pada jaringan keras

(42)

gigi. Ion hidrogen dari asam laktat sebagai hasil metabolime plak berdifusi ke dalam enamel dan mengakibatkan enamel kehilangan mineral.26

Proses remineralisasi bersamaan dengan proses demineralisasi.

Pada proses remineralisasi, mineral yang diperlukan berasal dari saliva dan pasta gigi yang mengandung fluor. Pembentukan kavitas patogenik pada permukaan gigi akan terjadi apabila proses demineralisasi lebih dominan daripada proses remineralisasi.26

Streptococcus mutans pada plak memetabolisme sukrosa menjadi asam dalam waktu yang lebih cepat dari pada bakteri lain. Koloni Streptococcus mutans ditutupi oleh glukan atau dekstran yang dapat mengurangi aktifitas antibakteri pada saliva terhadap plak gigi. Plak dapat menghambat difusi asam ke saliva dan sebagai hasilnya konsentrasi asam menjadi tinggi di permukaan enamel. Kondisi ini akan menyebabkan demineralisasi gigi terus berlanjut yang merupakan proses awal terjadinya karies.26

Referensi

Dokumen terkait

Tugas Mini Riset adalah Tugas ini bersifat kelompok yang bertujuan untuk melatih mahasiswa melakukan penelitian tentang penerapan teori belajar atau masalah belajar

Terapi psikofarmaka (psikotropik) yang sering digunakan dalam pengobatan skizofrenia yaitu menggunakan obat antispikotik yang dibagi dalam dua golongan yaitu

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 5 pelayanan kepada masyarakat.. Penerimaan fungsional tersebut terdapat

kepada saya dengan bersungguh-sungguh. 5 Saya mempunyai tujuan dan cara kerja yang terstruktur untuk mencapainya. 6 Saya membutuhkan banyak waktu persiapan sebelum melakukan

Syaifullah, “Sistem Pengendali Lengan Robot dengan Interfacing Java Berbasis Atmega8535,”

korban dengan pendekatan yang berbeda khususnya mengenai kekerasan dalam berpacaran. Saran untuk

Slika 34 - prikaz sučelja LMS sustava baziranog na Moodlu za dodavanje logotipa obrazovne ustanove ili poduzeća koje koristi sustav u svrhu održavanja online edukacije (Dostupno

E-učenje je omogućilo niz drugih mogućnosti u suvremenom pristupu u obrazovanju. Suvremeni pristupi u obrazovanju uz adekvatnu primjenu IKT-a pridonose aktivnom učenju