• Tidak ada hasil yang ditemukan

REMAJA AKHIR DI INSTAGRAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REMAJA AKHIR DI INSTAGRAM "

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

REMAJA AKHIR DI INSTAGRAM

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Ni Nyoman Trisna Umeda NIM : 149114201

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2019

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN MOTO

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit kembali setelah berkali-

kali jatuh.

-Dee Lestari-

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.

-Albert Einstein-

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada semua orang yang turut terlibat selama saya menyelesaikan pendidikan saya seperti memberikan doa, motivasi, semangat, ataupun keterlibatan dalam hal apapun :

Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang selalu menuntun, melindungi, membimbing, dan memberikan saya kesempatan untuk melakukan hal yang bermanfaat selama

proses pengerjaan skripsi ini.

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang mengajarkan saya segala hal terutama pengalaman hidup yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain.

Dosen Pembimbing, Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., M. A. yang tidak pernah lelah untuk membimbing, mengarahkan, meluangkan waktu, serta mendorong

saya hingga mampu menyelesaikan penelitian ini dengan lancar.

Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan Seluruh Keluarga Besar yang selalu memberi kepercayaan dan bersedia menjadi rumah bagi saya untuk mengeluh serta meminta pertolongan selama proses menyelesaikan studi ini dan juga yang selalu

sabar menunggu hasil karya ini selesai dibuat.

Sahabat serta Teman-teman yang selalu memberikan semangat, motivasi serta dukungan secara fisik maupun psikologis selama proses pengerjaan skripsi ini.

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 3 Oktober 2019 Penulis

Ni Nyoman Trisna Umeda

(7)

EXPLORATORY STUDY SELF-PRESENTATION STRATEGIES OF LATE-ADOLESCENCES ON INSTAGRAM

Ni Nyoman Trisna Umeda

ABSTRACT

This current study was aimed to discover the self-presentation strategies of late adolescences on Instagram. There were 611 individuals involved in the current study, consisting of 293 males and 318 females aged 18 to 22 years old. Most of the subjects involved in this study was in Bachelor’s or Diploma’s level. There were 530 subjects who are currently in the Bachelor’s or Diploma’s level, 79 subjects in high school level, and 2 subjects in Master’s level. Convenience sampling is used as the sampling technique in this study. The self-presentation strategies scale has 26 items. The results of this research showed that there was an exemplification and self presentation strategies is considered high, intimidation and supplication is considered low. While, ingratiation strategy was done with medium effort. This study applied Levene Tests it is known there is no difference between male and female late adolescences in the use of ingratiation, intimidation, self-promotion and exemplification (sig > 0,05). Meanwhile, there is a difference between male and female late adolescences in the use of supplication strategy (sig < 0,05).

Keywords : Self-Presentation, Self-Presentation Strategies, Ingratiation, Intimidation, Self-Promotion, Exemplification, Supplication, Instagram User, Late Adolescence

(8)

STUDI EKSPLORATIF STRATEGI PRESENTASI DIRI REMAJA AKHIR DI INSTAGRAM

Ni Nyoman Trisna Umeda

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi presentasi diri remaja akhir di Instagram. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 611 individu yang terdiri dari 293 orang laki-laki dan 318 orang perempuan. Sebagian besar subjek yang terlibat saat ini berada pada tingkat pendidikan Sarjana atau Diploma sejumlah 530 orang, tingkat pendidikan SMA atau sederajat 79 orang dan 2 orang subjek berada pada jenjang Magister. Teknik pemilihan sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala presentasi diri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa subjek remaja akhir di Instagram melakukan strategi presentasi diri exemplification dan self-promotion pada kategori tinggi. Selanjutnya pada strategi intimidation dan supplication dilakukan pada kategori rendah. Sementara strategi ingratiation dilakukan pada kategori sedang. Berdasarkan hasil uji beda menggunakan Levene Tests dengan bantuan SPSS Windows versi 23 diketahui bahwa tidak ada perbedaan nilai pada remaja akhir laki-laki dan perempuan dalam menggunakan strategi ingratiation, intimidation, self-promotion dan exemplification (sig > 0,05). Sementara itu, terdapat perbedaan nilai pada remaja akhir laki-laki dan perempuan dalam menggunakan strategi supplication (sig < 0,05).

Kata Kunci : Presentasi Diri, Strategi Presentasi Diri, Ingratiation, Intimidation, Self-Promotion, Exemplification, Supplication, Pengguna Instagram, Remaja Akhir

(9)

ix

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma :

Nama : Ni Nyoman Trisna Umeda

Nomor Mahasiswa : 149114201

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah yang berjudul :

STUDI EKSPLORATIF STRATEGI PRESENTASI DIRI REMAJA AKHIR DI INSTAGRAM

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau di media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu permintaan izin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal, 3 Oktober 2019 Yang menyatakan,

(Ni Nyoman Trisna Umeda)

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terimakasih saya ucapkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala berkat, bimbingan dan pendampingan selama proses penulisan skripsi ini. Segala haru, tawa dan berbagai macam emosi turut menyertai perjalanan peneliti dalam pengerjaan skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penelitian ini. Peneliti juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak lain yang turut memberikan kontribusi dalam membantu menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Dr. Titik Kristiyani M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah menandatangani lembar pengesahan skripsi ini.

2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum Ph.D. selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses akademik selama saya berproses di program studi ini.

3. Ibu Dr. Tjipto Susana selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing serta memotivasi saya selama menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

4. Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., S.Psi., M.A. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, mengarahkan, memberi semangat serta motivasi kepada saya untuk dapat menyelesaikan proses penulisan skripsi ini. Terimakasih kepada Ibu karena tidak hanya sebagai Dosen Pembimbing Skripsi, namun juga

(11)

xi

sebagai Ibu kedua serta teman bagi saya dalam memberikan saran-saran yang membangun saya menjadi lebih baik.

5. Bapak Agung Santoso, Ph. D. dan Bapak T.M. Raditya Hernawa, M.Psi., Psi. selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan masukan untuk memperkaya hasil dari penelitian ini. Terimakasih atas diskusi yang semakin membuka pandangan saya.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah mengajar, mendidik serta memberikan ilmu pengetahuan dan juga nilai-nilai kehidupan yang sangat berguna bagi saya kedepannya.

7. Seluruh Staff Fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma: Mas Gandung, Ibu Nanik, Pak Sidik dan Mas Muji atas kesabaran, keramahannya, dukungan serta bantuannya dalam urusan administrasi kemahasiswaan selama menyelesaikan studi.

8. Alm. Nengah Ladri yang selau menantikan saya sampai pada titik ini.

Penelitian ini saya persembahkan untukMu.

9. I Wayan Suka dan Ni Ketut Darmini yang selalu mendengarkan keluh kesah saya tiap malam dan selalu mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang sabar dan selalu bekerja keras. Terimakasih kepada Bapak dan Ibu yang memberikan segala hal baik secara moral maupun materil yang sangat berarti dibandingkan segalanya di dunia ini.

(12)

xii

10. Kedua kakakku Ni Putu Linda Sari dan Ni Made Dyanik Dwikasari yang selalu ada dan setia memberikan semangat serta doa kepada saya sehingga skripsi dapat terselesaikan.

11. Teman lama yang saat ini menjadi teman seperjuangan saya hingga ke depannya yaitu I Wayan Robi Suryana. Terimakasih karena terus mengajarkan peneliti untuk memikirkan hal-hal yang tidak hanya ada di depan mata saja. Akan tetapi, mempersiapkan diri sampai beberapa langkah lebih jauh. Dukungan moril yang diberikan, tidak dapat diukur dengan tingginya langit dan kedalaman laut.

12. Teman, sahabat, kakak, adik dan partner hampir di segala kondisi yaitu Meilinda Aryani, Sutrisna Dewi, Venny Ardhana, Frederica Wulan, Cinthya Citra, Efrem Ferdinand, Tania Windana dan Irine Claudia yang selalu mensupport saya dalam segala kondisi.

13. Bukan teman, bukan juga sahabat, melainkan saudara selama di perantauan, Yasinta Tiwi Carysa, Wayang Ayu, Agnes Shinta, Laurensia Aniella Hosea, Vania Lorrayne dan Mentanoia Grace B.J. Terimakasih karena saling memberi dan sampai bertemu dilain waktu.

14. AKSI 2016, Keluarga BEMF Magis 2017, KMHD Swastika Taruna, Psychofest 2017, Bina Desa 2017, Psychotour 2017, KPU 2018, teman- teman Asisten Inventori dan Asisten Tes Proyektif yang telah memberikan kesempatan untuk saya berdinamika bersama kalian.

15. Teman-teman asistensiku tersayang Awit, Dewi, Dinar, Epek, Shinta, Valens, Alvin, Rena, Dinar, Natal, Eva, Disa, Cecil, Ovan, Irene, Dyah,

(13)

xiii

Tegar, Tias, Maria, Adit, Acong, Amos, Areta, Kezia dan Yulia.

Terimakasih atas kebersamaannya dan semangat terus sampai akhir.

16. Seluruh teman-teman angkatan 2014 yang sangat luar biasa, semangat dan sukes untuk kalian semua. See you on top guys !

17. Sahabatku Aviandita Akatama, Izza Aprilla dan Ajeng Ganurmala.

Seberapa pun sulitnya perjuangan kalian saat ini, ada cerita dibaliknya yang bisa mendewasakan kita.

18. Kakakku Ko Edwin, Kevin Irwanto dan Kevin Adian yang rela waktunya diganggu demi melancarkan penulisan skripsi ini, terimakasih dan sukses untuk kalian.

19. Seluruh subjek penelitian yang telah bersedia untuk meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu saya dalam pengisian skala penelitian.

Bantuan yang kalian sangat berarti bagi saya dalam penyelesaian skripsi ini.

20. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang juga telah membantu saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Semoga kalian diberi kemudahan dan kebaikan kalian akan peneliti ingat sampai kapan pun.

Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan tentunya memiliki banyak kekurangan. Saya sangat terbuka atas kritik dan saran dari pembaca untuk pengembangan penelitian ini kedepannya. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata dalam penulisan skripsi ini dan peneliti mengucapkan terimakasih.

(14)

xiv

Yogyakarta, Peneliti Ni Nyoman Trisna Umeda

(15)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACK ... viii

PERNYATAAN PERSETUJAUN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

1. Manfaat Teoretis ... 8

2. Manfaat Praktis ... 8

(16)

xii

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

A. Presentasi Diri ... 9

1. Definisi Presentasi Diri ... 9

2. Perkembangan Presentasi Diri ... 10

3. Strategi Presentasi Diri ... 13

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Presentasi Diri ... 16

5. Dampak Presentasi Diri... 18

B. INSTAGRAM ... 19

1. Instagram dan Perkembangannya ... 19

2. Karakteristk Pengguna Instagram ... 21

3. Fitur Pada Instagram ... 22

C. REMAJA AKHIR ... 24

1. Definisi Remaja Akhir ... 24

2. Aspek perkembangan Remaja Akhir ... 26

D. KERANGKA KONSEPTUAL ... 28

E. PERTANYAAN PENELITIAN ... 31

BAB III METODE PENELITIAN... 32

A. JENIS PENELITIAN ... 32

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN ... 32

C. DEFINISI OPERASIONAL ... 32

D. SUBJEK PENELITIAN ... 33

E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA ... 34

F. VALIDITAS, SELEKSI ITEM DAN RELIABILITAS ... 38

1. Validitas ... 38

2. Seleksi Item ... 38

3. Reliabilitas ... 40

G. METODE ANALISIS DATA ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

A. PELAKSANAAN PENELITIAN ... 43

(17)

xiii

B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN ... 43

C. HASIL PENELITIAN ... 45

1. Kategorisasi Subjek Penelitian ... 45

2. Hasil Penelitian ... 63

a. Uji Normalitas ... 63

b. Uji Beda ... 69

D. PEMBAHASAN ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 76

A. KESIMPULAN ... 76

B. KETERBATASAN PENELITIAN ... 78

C. SARAN ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 92

LAMPIRAN ... 99

(18)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Item Skala Presentasi Diri ... 37

Tabel 2 Seleksi Item ... 39

Tabel 3 Koefisien Korelasi Item Total (rix) ... 40

Tabel 4 Koefisien Reliabilitas Jenis Presentasi Diri ... 40

Tabel 5 Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 44

Tabel 6 Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 44

Tabel 7 Kategorisasi Strategi Ingratiation Secara Umum ... 46

Tabel 8 Kategorisasi Strategi Ingratiation Berdasarkan Jenis Kelamin ... 47

Tabel 9 Kategorisasi Strategi Intimidation ... 49

Tabel 10 Kategorisasi Strategi Intimidation Berdasarkan Jenis Kelamin .... 50

Tabel 11 Kategorisasi Strategi Self-Promotion ... 52

Tabel 12 Kategorisasi Strategi Self-Promotion Berdasarkan Jenis Kelamin 53 Tabel 13 Kategorisasi Strategi Exemplification ... 55

Tabel 14 Kategorisasi Strategi Exemplification Berdasarkan Jenis Kelamin ... 56

Tabel 15 Kategorisasi Strategi Supplication ... 58

Tabel 16 Kategorisasi Strategi Supplication Berdasarkan Jenis Kelamin ... 59

Tabel 17 Kesimpulan Kategorisasi Strategi Presentasi Diri Berdasarkan Jenis Kelamin ... 60

Tabel 18 Chi-Square Tests Antara Strategi Presentasi Diri Berdasarkan Jenis Kelamin ... 62

(19)

xv

Tabel 19 Hasil Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov) ... 63

Tabel 20 Hasil Uji Homogenitas Strategi Ingratiation dan Jenis Kelamin .. 69

Tabel 21 Hasil Uji Homogenitas Strategi Intimidation dan Jenis Kelamin . 70 Tabel 22 Hasil Uji Homogenitas Strategi Self-Promotion dan Jenis Kelamin ... 70

Tabel 23 Hasil Uji Homogenitas Strategi Exemplification dan Jenis Kelamin ... 70

Tabel 24 Hasil Uji Homogenitas Strategi Supplication dan Jenis Kelamin . 71 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Histogram Strategi Ingratiation ... 64

Gambar 2 Histogram Strategi Intimidation ... 65

Gambar 3 Histogram Strategi Self-Promotion ... 66

Gambar 4 Histogram Strategi Exemplification ... 67

Gambar 5 Histogram Strategi Supplication ... 68

(20)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Self-Presentation Tactics (SPT) Scale Versi Asli ... 86

Lampiran 2 Hasil Metode Back-Translation Self-Presentation Tactics (SPT) Scale Versi Indonesia ... 89

Lampiran 3 Hasil Metode Back-Translation Self-Presentation Tactics (SPT) Scale Versi Inggris ... 93

Lampiran 4 Skala Tryout (Mengacu Pada SPT) ... 96

Lampiran 5 Reliabilitas Skala Presentasi Diri ... 106

Lampiran 6 Skala Presentasi Diri... 111

Lampiran 7 Hasil Uji Normalitas ... 118

Lampiran 8 Hasil Uji Beda Strategi Presentasi Diri dan Jenis Kelamin ... 119

Lampiran 9 Surat Ijin SPT ... 122

Lampiran 10 Surat Keterangan Translator ... 124

(21)

1

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada tahun 2017 Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan peningkatan sejak 2016 yang kini pengguna internet mencapai 143,26 juta orang. Ada informasi lain yang ditemukan dari survei tersebut yaitu sebanyak 87,13% cenderung mengakses sosial media untuk berkomunikasi (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia [APJII], 2017).

Dewasa ini sosial media digunakan sebagai sarana interaksi, berkolaborasi dan menunjukkan eksistensi diri (Talani, 2014), yaitu digunakan untuk mempresentasikan diri (Gustina, 2015).

Platform sosial media yang paling banyak diminati saat ini untuk mempresentasikan diri adalah Instagram (Ayudhya, 2017). Berdasarkan data pada Januari 2018 ditemukan, yaitu sebanyak 53 juta orang merupakan pengguna Instagram (Databoks, 2018). Indonesia juga termasuk sebagai pengguna Instagram terbesar se-Asia Pasifik tahun 2017 (Haryanto, 2017).

Instagram memiliki banyak penggemar terutama remaja karena interaksi yang ditawarkan lebih luas, lebih menarik dan interaktif dibandingkan sosial media lainnya (Dewi, Mayangsari, & Rina, 2016; Ayudhya, 2017).

(23)

Instagram fokus pada komunikasi dengan media foto ataupun video (Dewi, Mayangsari, & Rina, 2016). Selain menjadi media komunikasi, Instagram juga

(24)

sebagai album digital karena dapat menyimpan serta membagikan foto itu sendiri (Gustina, 2015). Foto juga dianggap mampu memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mempresentasikan diri secara kreatif sesuai dengan keinginannya (Putri, 2016). Dengan demikian, individu dapat mempresentasikan dirinya melalui foto untuk mewakilkan citra diri yang ingin ditampilkan kepada orang lain (Gustina, 2015).

Salah satu penggunaan sosial media oleh Awkarin yang sering mengunggah konten diluar kewajaran orang Indonesia (Kulsum, 2018).

Konten-konten yang diunggah tersebut dianggap tidak pantas untuk ditampilkan (Kulsum, 2018; Harian Bernas Indonesia, n.d.). Akibatnya, sebagian followers berusia remaja turut mengecam tindakan yang dilakukan karena dianggap sebagai usaha untuk mencuci otak dengan melakukan tindakan yang tidak baik (Hidayat, 2016). Akan tetapi, followers remaja lainnya menyukai gaya hidup yang ditampilkan karena terkesan berani, sehingga diidolakan remaja seusianya (Laila, 2016).

Fenomena tersebut didukung oleh penelitian Wahyuningtyas (2017) yang menjelaskan bahwa presentasi diri yang ditampilkan individu adalah karena adanya kebutuhan mengekspresikan diri. Pada saat individu menampilkan diri yang sesuai dengan keinginannya, menimbulkan perasaan nyaman tanpa terpengaruh oleh penilaian yang diberikan secara sosial. Hal ini menandakan bahwa diri yang disampaikan kepada orang lain bukan untuk memenuhi harapan orang lain, melainkan untuk memposisikan diri sesuai dengan

(25)

kepentingan pribadi dengan menunjukkan diri sesuai dengan keinginannya (Arkin, 1981; Baumeister, 1982).

Disisi lain Awkarin terlihat menampilkan diri secara kreatif dan unik untuk memperoleh public validation atas citra yang telah ditampilkan (Wahyuningtyas, 2017). Menurut Yang dan Brown (2016) menampilkan diri yang dilakukan secara online melalui sosial media merupakan cara yang tepat digunakan oleh remaja untuk mempresentasikan diri. Remaja mempresentasikan diri pada sosial media karena dapat mempermudah mereka dalam menjalin hubungan dengan orang lain (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Dalam hal ini, remaja akhir adalah mereka yang termasuk dalam rentang usia 18 hingga 22 tahun (Santrock, 2007). Remaja memiliki kebutuhan untuk menunjukkan originalitas dirinya (Mönks, Knoers & Haditono, 1987).

Menurut Mönks, Knoers dan Haditono (1987) hal tersebut menyebabkan remaja memiliki kecenderungan untuk memberikan kesan lain daripada yang lain dengan menciptakan suatu gaya tersendiri. Bentuk originalitas yang ditunjukkan biasanya melalui gaya berpakaian, berdandan, gaya rambut, gaya tingkah laku atau kesenangan musik. Hal ini mengakibatkan munculnya kebutuhan remaja untuk menjadi populer melalui dukungan-dukungan yang diberikan lingkungan sosial dan penerimaan oleh orang disekitarnya (Soesilowindradini, 2005).

Penggunaan sosial media untuk membentuk dan mengelola kesan yang dimunculkan orang lain tergolong tindakan presentasi diri (Flore, 2008).

Presentasi diri didefinisikan sebagai usaha mengatur kesan yang dilakukan

(26)

untuk membangun kekuatan yang dapat mempengaruhi orang yang hendak dituju (Tedeschi & Riess, 1981; Lee, Quigley, Nesler, Corbett dan Tedeschi, 1999). Kesan yang ditampilkan adalah originalitas diri agar tercapainya keinginan untuk memperoleh penghargaan dan menghindari penolakan lingkungan sosial (Tedeschi & Riess, 1981). Sementara itu, presentasi diri berarti usaha yang selektif untuk mengungkapkan citra diri agar terbentuk kesan yang diharapkan orang lain (Jones & Pittman, 1982). Menurut Lee et al. (1999) sebagai individu yang mempresentasikan diri, mereka akan melakukan berbagai cara untuk membangun citra yang diinginkan lingkungan sosial.

Presentasi diri akan berhasil apabila dilakukan bersamaan dengan strategi- strategi presentasi diri (Jones & Pittman, 1982). Strategi presentasi diri yakni suatu ciri perilaku secara spesifik yang meliputi style, ekspresi non-verbal atau komunikasi verbal dalam rangka meningkatkan kekuatan individu dalam menjalin relasi yang dirancang untuk membentuk kesan yang dimunculkan orang lain (Jones & Pittman, 1982). Adapun jenis presentasi diri oleh Jones dan Pittman (1982) meliputi ingratiation (perilaku sosial yang berfokus pada keinginan untuk disukai dan dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan), intimidation (perilaku sosial yang menampilkan diri sebagai figur mengancam atau berbahaya), self-promotion (perilaku sosial yang ditunjukkan untuk menampilkan kualitas personal yang dimiliki), exemplification (perilaku sosial yang ditampilkan berkaitan dengan moralitas individu) dan supplication (perilaku sosial yang ditunjukkan untuk

(27)

mendapatkan bantuan dengan menampilkan diri sebagai pribadi tergantung dan lemah).

Presentasi diri dipercaya dapat memperluas kesempatan individu untuk menemukan lingkungan atau teman baru (Leary, Nezlek, Downs, Davenport, Martin & McMullen, 1994; Kusumasari & Hidayati, 2014). Tujuan lain dari melakukan presentasi diri untuk memperoleh keberhasilan dalam menjalin relasi (Yang & Brown, 2016). Presentasi diri juga dapat berdampak pada kesempatan individu belajar dan memudahkannya dalam membagikan informasi baru (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Berdasarkan survei yang pernah dilakukan, usia remaja yang aktif menggunakan dan mengekspresikan diri melalui sosial media memiliki dampak kecanduan melebihi kecanduan alkohol dan rokok (Royal Society For Public Health [RSPH], 2017). Dijelaskan bahwa tahap usia remaja dan dewasa awal yaitu usia 16 hingga 24 tahun sangat tertarik menggunakan sosial media yang mengakibatkan mereka akan mengalami kerentanan pada perkembangan emosionalnya (RSPH, 2017). Kerentanan emosional itu sering menimbulkan kecemasan atau depresi pada remaja yang aktif bersosial media. Survei tersebut menjelaskan 4 dari 5 remaja di UK yang menggunakan sosial media secara aktif mengaku hal itu menimbulkan perasaan cemas yang berlebih yang berpengaruh pada kehidupan personalnya (RSPH, 2017). Selain itu, kecemasan yang dirasakan itu berdampak pada body image karena 9 dari 10 remaja perempuan merasa tidak bahagia atas tampilan fisiknya (RSPH, 2017). Hal ini berlanjut pada menurunnya kualitas tidur akibat kecemasan

(28)

karena paparan terhadap sosial media yang melebihi kewajaran (RSPH, 2017).

Selain itu, media sosial instagram diketahui memiliki dampak negatif yang paling tinggi dibanding sosial media seperti youtube, twitter, facebook dan snapchat (RSPH, 2017). Walaupun demikian, instagram merupakan media sosial yang paling dapat menjadi sarana mengekspresikan diri dan mengungkapkan identitas daripada media sosial lainnya (RSPH, 2017). Perlu adanya perhatian khusus pada orang lain (audience) yang dituju karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda untuk terpengaruh pada presentasi diri yang ditampilkan (Rui & Stefanone, 2013). Dalam hal ini karakteristik daripada audience berpengaruh dalam menentukan strategi presentasi diri yang digunakan (Rui & Stefanone, 2013).

Mengeskpresikan diri yang biasanya ditampilkan melalui foto tidak hanya untuk mengabadikan momen melainkan juga sebagai sarana menampilkan diri melalui foto selfie (Simatupang, 2015). Selfie merupakan kegiatan dengan menampilkan seluruh atau sebagian bagian tubuh dengan kamera handphone (Simatupang, 2015). Dalam hal ini selfie berhubungan erat dengan self-image tiap individu, sehingga penggunakan menampilkan sisi terbaik dari dirinya agar tercipta kesan yang diinginkan (Simatupang, 2015).

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Juditha (2014) tentang presentasi diri pada media sosial path digunakan sebagai ajang eksistensi diri dengan menampilkan sisi terbaik. Sisi terbaik ditampilkan melalui tampilan status, lokasi, foto hingga musik yang sedang didengarkan pada sosial media path.

(29)

Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Djafarova dan Trofimenko (2018) terkait presentasi diri pada sosial media instagram. diketahui bahwa kesan positif yang diperoleh seseorang yang mempresentasikan diri dapat dipengaruhi oleh foto yang ditampilkan. Adanya keinginan yang besar dari individu untuk membangun relasi dengan orang lain dan menghindari penolakan mendorong mereka untuk menampilkan sisi positif dari dirinya agar memperoleh feedback yang positif juga.

Berdasarkan paparan di atas, audience memiliki perbedaan karakteristik yang dapat mempengaruhi strategi presentasi diri seseorang dalam menampilkan diri pada sosial media. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui strategi presentasi diri yang dilakukan oleh remaja akhir di instagram.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana strategi presentasi diri remaja akhir di Instagram?”

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi presentasi diri remaja akhir di Instagram.

(30)

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam bidang Psikologi Sosial dan Psikologi Komunikasi, terkait dengan presentasi diri di sosial media instagram.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pengguna media sosial online khususnya remaja agar lebih memahami strategi presentasi diri yang ditampilkan dalam sosial media.

(31)

9

(32)

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. PRESENTASI DIRI 1. Definisi Presentasi Diri

Presentasi diri adalah usaha yang dilakukan untuk pembentukan kesan secara selektif untuk menampilkan citra diri agar sesuai dengan harapan orang lain (Jones & Pittman, 1982). Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Jones dan Pittman, Tedeschi dan Riess (1981) mendefinisikan presentasi diri sebagai usaha mengatur kesan yang ditampilkan agar memperoleh penghargaan dan menghindari hukuman di hadapan orang lain. Melalui definisi ini dapat dipahami bahwa presentasi diri dilakukan untuk membangun kekuatan individu untuk mempengaruhi orang yang hendak dituju sehingga individu dapat diterima secara sosial.

Presentasi diri yang dilakukan individu bertujuan untuk mempengaruhi persepsi orang lain (Tedeschi & Riess, 1981; Dominick, 1999). Presentasi diri dilakukan karena individu memiliki dorongan untuk diterima secara sosial (Schneider, 1981; Djafarova & Trofimenko, 2018). Penerimaan dapat diperoleh dengan menampilkan perilaku-perilaku yang telah direncanakan dan dipilih sebelumnya (Arkin, 1981). Walaupun perilaku yang ditampilkan merupakan perilaku yang telah dipilih, individu penting untuk melakukan kontrol dalam menampilkan tampilan diri agar terhindar dari penilaian negatif

(33)

dan memperoleh penilaian positif (Tedeschi & Rosenfeld, 1981; Dominick, 1999). Penilaian positif yang nantinya diperoleh diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi pelaku presentasi diri (Stevens & Kristof, 1995).

2. Perkembangan Presentasi Diri

Pada kondisi sosial, individu dituntut untuk bertindak secara sengaja atau tidak disengaja dalam mengekspresikan diri agar dapat menimbulkan interaksi sosial (Goffman, 1956). Goffman berasumsi bahwa saat seseorang muncul di hadapan orang lain, maka orang tersebut mencoba untuk mengendalikan kesan yang dimunculkan dari situasi yang dihadapi. Dahulu hal ini dikenal dengan impression management oleh Goffman (1956). Seiring dengan perkembangan teori oleh beberapa ahli, istilah ini berkembang menjadi self-presentation atau presentasi diri yang memiliki hubungan erat dengan istilah impression management yang pertama kali diperkenalkan oleh Goffman (Schneider, 1981).

Impression management berkaitan dengan tampilan diri yang dikelola dengan cara menyajikan tampilan diri yang tidak hanya ditampilkan oleh diri sendiri melainkan juga dapat disampaikan oleh pihak ketiga (Schneider, 1981). Sedangkan self-presentation atau presentasi diri digunakan untuk tujuan mengatur kesan yang dimunculkan orang lain (Schneider, 1981).

Saat memulai interaksi, individu tidak dapat memungkiri untuk mempresentasikan diri kepada orang lain (Dayakisni dan Hudaniah, 2009).

Hal ini digunakan untuk mencapai keberhasilan dalam menjalin relasi dengan

(34)

orang lain melalui tindakan menampilkan citra diri (Yang dan Brown, 2016).

Yang dan Brown (2016) menyebutkan bahwa citra diri yang dibangun tersebut adalah usaha untuk mempermudah dalam menjalin relasi dengan orang lain. Presentasi diri dianggap sebagai cara yang tepat dalam memulai hubungan melalui pengungkapan informasi pribadi agar diketahui orang lain (Kusumasari dan Hidayati, 2014).

Menurut perkembangannya, presentasi diri dilakukan mulanya dilakukan secara offline namun kini dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan termasuk online (Bojmel, Moran & Shahar, 2016). Hal ini semakin didukung dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat sehingga terjadilah pergeseran presentasi diri tersebut (Huang, 2014). Perbedaan yang terlihat dari konteks presentasi diri offline dan online yakni pada media online yang dapat digunakan secara lebih bebas untuk mengekspresikan diri (Huang, 2014; Putri, 2016). Ditambah lagi ketiadaan elemen verbal dalam interaksi yang dilakukan saat mempresentasikan diri secara online semakin memudahkan untuk melakukan presentasi diri (Gustina, 2015). Oleh karena itu, individu yang mempresentasikan diri secara online dapat fokus pada aspek tertentu dalam dirinya yang ingin ditonjolkan (Huang, 2014).

Selain itu, pelaku presentasi diri percaya bahwa melalui dunia online dirinya memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bertemu dengan orang baru dan dapat menampilkan diri yang berbeda dari offline self (Aryani, Hardjajani, & Nugroho, 2013). Hal ini menandakan bahwa individu sadar

(35)

bahwa dalam dunia online perlu mengatur tampilan diri agar terlihat menarik di hadapan orang lain (Aryani, Hardjajani, & Nugroho, 2013).

Berdasarkan penjelasan tersebut menandakan bahwa dunia online merupakan tempat ideal bagi individu dalam mempresentasikan diri karena individu merasa lebih bebas dalam membentuk kesan melalui akun pribadinya (Huang, 2014). Kecenderungan mempresentasi diri dapat tercermin dari tindakan penataan diri seperti menuliskan atau membagikan kata-kata bijak, menyampaikan kritik melalui komentar dalam sebuah postingan, membagikan kondisi pribadi yang sedang terjadi, bahkan hingga membagikan gambar maupun video di berbagai lokasi (Luik, 2012).

Tindakan presentasi diri secara online biasanya dilakukan pada sosial media (Aldhafferi, Watson, & Sajeev, 2013). Tindakan presentasi diri dalam media sosial sangat dipengaruhi oleh tampilan visual dari penggunanya.

Media sosial dalam hal ini dianggap sebagai perpanjangan tangan penggunanya, sehingga dapat mewakili presentasi diri yang dilakukan (Luik, 2012). Dalam hal ini presentasi diri identik dengan foto yang diunggah pada akun media sosial (Yang dan Brown, 2016). Instagram adalah sosial media berbagi informasi melalui foto ataupun video oleh pengguna ataupun orang lain secara instan (Gustina, 2015).

Foto tidak hanya mengabadikan sebuah momen atau salah satunya menampilkan kegiatan selfie (Simatupang, 2015). Simatupang (2015) menjelaskan selfie sebagai kegiatan berfoto dengan menampilkan seluruh atau sebagian tubuh dengan menggunakan kamera handphone. Selfie

(36)

berkaitan erat dengan self image seseorang. Hal ini membuat seseorang dalam menggunakan Instagram selalu ingin menampilkan sisi terbaik dirinya agar memperoleh kesan yang diinginkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Djafarova dan Trofimenko (2018) tentang presentasi diri melalui Instagram menunjukkan data bahwa ketika seseorang mengunggah foto yang menggambarkan kesan positif, juga akan memperoleh feedback yang positif dari followersnya. Hal ini disebabkan oleh keinginan

yang besar dari individu untuk membangun relasi dengan orang lain dan menghindari penolakan.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Juditha (2014) tentang presentasi diri pada path digunakan sebagai ajang eksistensi dengan menampilkan diri terbaik mereka pada sosial media. Sosial media dimanfaatkan untuk mendeskripsikan diri dengan menampilkan status, lokasi, foto ataupun musik yang sedang didengar. Hal yang ditampilkan adalah hal terbaik yang telah melalui proses editing.

3. Strategi Presentasi Diri

Menurut Jones dan Pittman (1982) strategi presentasi diri diartikan sebagai suatu ciri perilaku secara spesifik yang meliputi style, ekspresi non- verbal atau komunikasi verbal dalam rangka meningkatkan kekuatan individu dalam menjalin relasi yang dirancang untuk membentuk kesan yang dimunculkan orang lain. Ada lima strategi presentasi diri yaitu :

a. Ingratiation

(37)

Ingratiation salah satu strategi presentasi diri yang paling banyak dipilih oleh individu (Jones & Pittman, 1982). Ingratiation merupakan perilaku sosial yang dilakukan untuk menampilkan diri sebagai figur hangat (Lee et al, 1999; Dimmer, 2016). Seorang ingritator memiliki tujuan untuk disukai oleh orang lain, sehingga memperoleh beberapa keuntungan dari orang lain (Lee et al., 1999; Dimmer, 2016). Sederhananya ingratiation bertujuan supaya individu dipersepsikan sebagai individu yang hangat, humoris, bisa dipercaya, mempesona dan berpenampilan menarik.

b. Intimidation

Berbeda halnya dengan ingratiation, intimidation merupakan perilaku sosial yang cenderung menampilkan diri sebagai figur yang kuat dan berbahaya bagi orang lain (Jones & Pittman, 1982; Lee et al., 1999).

Intimidator cenderung mengabaikan keinginan untuk disukai dan lebih

menampilkan kekuatan yang dimiliki agar orang lain merasa tidak nyaman (Jones & Pittman, 1982). Jones dan Pittman (1982) melihat bahwa intimidator cenderung dilakukan oleh orang-orang dengan kekuatan yang

tinggi ke orang dengan kekuatan yang lebih rendah.

c. Self-promotion

Self-promotion merupakan perilaku sosial yang ditunjukkan untuk mencari

pengakuan atas kemampuan tertentu yang dimiliki (Jones & Pittman, 1982).

Tujuan dari perilaku promoter adalah untuk memperoleh perhatian atas kualitas personal yang dimiliki (Jones & Pittman, 1982). Menurut Jones dan Pittman (1982) promoter berusaha untuk mencari atribusi atas kompetensi

(38)

yang mengacu pada tingkat kemampuan umum (kecerdasan atau kemampuan atletik) ataupun pada keterampilan tertentu (keahlian mengetik atau bermain alat musik), sehingga mendapatkan hak istimewa di lingkungan sosial dan terhindari dari kesan inferior. Alasan yang paling utama dan penting yakni ingin membuat orang lain terkagum-kagum dengan kemampuan yang dimiliki (Jones & Pittman, 1982).

d. Exemplification

Exemplification merupakan perilaku sosial untuk memproyeksikan integritas dan bermoral baik. Begitu juga halnya individu dengan strategi exemplification ingin terlihat jujur, disiplin, murah hati dan dermawan (Jones

& Pittman, 1982). Strategi ini memiliki kaitan erat dengan moralitas individu sehingga dibutuhkan perilaku konsisten saat memahami nilai dari perilaku yang ditampilkan, sehingga nantinya dapat dinilai layak secara moral (Jones

& Pittman, 1982).

e. Supplication

Supplication adalah perilaku sosial yang ditunjukkan sebagai bentuk kehilangan kemampuan diri. Perilaku yang tercermin adalah perilaku mengeksploitasi diri sebagai pribadi yang lemah dan bergantung pada orang lain (Jones & Pittman, 1982). Individu dengan strategi ini berusaha menampilkan diri sebagai pribadi yang bergantung untuk memperoleh pertolongan dan simpati dari orang lain (Jones & Pittman, 1982; Lee et al., 1999).

(39)

Kelima strategi ini digunakan juga dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lee et al. (1999). Penelitian Lee et al. (1999) menggunakan 12 strategi presentasi diri, yang mana dari 12 strategi tersebut terdapat lima strategi yang juga mengacu pada strategi presentasi diri miliki Jones dan Pittman (1982). Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi yang diajukan oleh Jones dan Pittman (1982) yakni sebanyak lima strategi.

Kelima strategi ini dipilih karena strategi yang diajukan oleh Lee et al. (1999) didasarkan pada konteks offline, sehingga sulit untuk diadaptasi pada penelitian ini dengan konteks online. Selain itu, kelima strategi ini lebih dapat memberikan gambaran perilaku yang dapat digeneralisasi dalam kehidupan online self dan offline self daripada pengguna instagram (Dominick, 1999).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Presentasi Diri

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku presentasi diri yang dilakukan individu, yaitu social anxiety (Schlenker & Leary, 1982), self- esteem (Rozika & Ramdhani, 2016; Nastiti & Purworini, 2018) dan jenis

kelamin (Monago, Graham, Greenfield & Salimkhan, 2008; Herring &

Kapidzig , 2015). Berikut penjelasannya:

a. Social Anxiety

Perilaku menampilkan diri yang dilakukan individu terkadang menghasilkan kesan yang diinginkan atau kesan yang tidak diinginkan. Kesan yang dimunculkan orang lain memicu munculnya perilaku mengontrol tampilan diri. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Schlenker

(40)

dan Leary (1982) menjelaskan bahwa perasaan cemas yang dialami memicu timbulnya motivasi untuk mengontrol kesan orang lain terhadap dirinya.

b. Self-Esteem

Perilaku presentasi diri yang dilakukan oleh individu terutama remaja pada Instagram ditujukkan untuk membentuk harga dirinya menjadi lebih tinggi.

Penyebabnya adalah adanya keinginan untuk diakui oleh publik sehingga menimbulkan tindakan menampilkan diri secara luas dan mendalam (Nastiti

& Purworini, 2018). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nastiti dan Purworini (2018) menunjukkan bahwa presentasi diri yang dilakukan untuk membangun konsep diri yang disebarluaskan sehingga memperoleh feedback dari orang lain yang dapat menciptakan harga diri mereka. Hal ini menunjukkan bahwa presentasi diri yang dilakukan adalah untuk menciptakan harga diri dihadapan publik. Selain itu, hasil penelitian oleh Rozika dan Ramdhani (2016) dijelaskan bahwa semakin tinggi harga diri seseorang maka semakin tinggi juga presentasi diri yang dilakukan. penelitian tersebut menjelaskan bahwa harga diri yang tinggi dari individu menyebabkan individu cenderung sering mengunggah foto pribadi di akun Instagramnya.

c. Jenis Kelamin

Perilaku presentasi diri di media sosial merupakan mekanisme baru dalam pembentukan identitas remaja (Monago et al, 2008). Penggunaan gambar

(41)

sebagai media mempresentasikan diri ditujukan untuk memperoleh persetujuan secara sosial. Laki-laki dan perempuan menunjukkan presentasi diri yang berbeda. Hasil dari penelitian Monago et al. (2008) menunjukkan bahwa perempuan mempresentasikan diri dengan menampilkan daya tarik fisik seperti tampilan tubuh atau kecantikan fisik. Sedangkan laki-laki lebih enggan mempresentasikan diri dengan menunjukkan daya tarik fisik dan lebih kepada status sosialnya.

Hasil penelitian Herring dan Kapidzic (2015) menunjukkan bahwa remaja perempuan lebih mempresentasikan diri melalui tampilan fisik yang menarik dan terlihat menarik secara seksual. Sedangkan laki-laki lebih mempresentasikan diri dengan kurang jelas. Tapi antara laki-laki dan perempuan sama-sama menggunakan foto sebagai media presentasi diri pada sosial media. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian oleh Chua dan Chang (2016) yaitu remaja perempuan berusaha menunjukkan presentasi diri dengan menunjukkan foto selfie yang menarik agar memperoleh penerimaan dari kelompok sosialnya dengan mencocokan performa diri yang ditampilkan agar sesuai dengan harapan orang lain. Penerimaan merupakan indikator penting pada tampilan fisik yang dilihat berdasarkan followers, likes dan comment yang ada di akun Instagramnya.

5. Dampak Presentasi Diri

Presentasi diri adalah salah satu cara yang digunakan untuk memulai sebuah hubungan dengan mengungkapkan informasi pribadi agar diketahui orang lain (Kusumasari & Hidayati, 2014). Usaha yang dilakukan dalam

(42)

mempresentasikan diri dilakukan untuk memperoleh penerimaan dari lingkungan sekitar. Alasan ini digunakan oleh pelaku presentasi diri agar mereka memperoleh perhatian dari orang lain (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Presentasi diri yang dilakukan individu dapat memunculkan dampak positif seperti mempererat hubungan pertemanan ataupun kekeluargaan dengan mereka yang letaknya berjauhan (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Tidak hanya itu, mempresentasikan diri juga dapat memperluas pertemanan dan meningkatkan kesempatan untuk belajar dan memudahkan seseorang untuk membagikan informasi baru (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Selain memberikan dampak positif, presentasi diri juga dapat menimbulkan dampak negatif pada pelakunya. Dampaknya dari mempresentasikan diri adalah berkuranngnya privasi pribadi (Kusumasari &

Hidayati, 2014). Selain itu, pelaku yang melakukan presentasi diri dapat kehilangan kemampuan bersosialisasi diri di dunia nyata, bahkan menjadi korban cybercrime (Kusumasari & Hidayati, 2014).

B. INSTAGRAM

1. Instagram dan Perkembangannya

Internet dengan berbagai fitur yang tersedia di media sosial dianggap dapat membantu manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya (Ratnasari, 2005). Menurut Ayudhya (2017) komunikasi yang dianggap mampu meningkatkan kualitas pertemanan, terutama komunikasi melalui Instagram. Instagram merupakan kependekan dari

(43)

“instant-telegram” agar lebih mudah dieja oleh semua orang (@mrbambang, 2012). Instagram merupakan sosial media yang sangat populer saat ini.

Instagram menjadi media yang mampu menampilkan foto maupun video yang dapat diakses dengan cepat oleh penggunanya maupun orang lain (Gustina, 2015). Oleh sebab itu, Putri (2016) melihat Instagram sebagai jurnal pribadi individu untuk dijadikan album foto digital karena dapat mengunggah foto yang diinginkan secara bebas.

Dilansir dari halaman resminya, Instagram mulai diluncurkan pada tanggal 6 Oktober 2010 yang didirikan oleh Burbn, Inc (Lee, Lee, Moon &

Sung, 2015). Aplikasi ini diluncurkan sebagai aplikasi berbagi foto melalui handphone (Lee et al, 2015). Pada april tahun 2012, akhirnya Instagram

memutuskan untuk bekerjasama dengan Facebook untuk membangun jaringan komunikasi yang lebih luas (Instagram-press.com, 9/04/2012). Hal ini dilakukan Instagram dalam rangka menciptakan pengalaman foto yang lebih baik.

Perkembangan pesat ditunjukkan Instagram mulai dari memperbaiki fitur-fitur yang ada. Mulai dari fitur stories, explore, geotag, @mention sharing, gif stickers, IGTV, hingga music in strories dan lainnya. Bahkan

Instagram sudah menggunakan 25 bahasa untuk mempermudah pengguna untuk memahami Instagram sebagai jaringan global (Lee et al, 2015).

Instagram dapat memfasilitasi individu dalam mempresentasikan diri secara maksimal melalui virtual (Putri, 2016). Menurut Ayudhya (2017), kehadiran Instagram sebagai media sosial mampu menjadi penataan diri bagi

(44)

para penggunanya. Oleh sebab itu, semakin majunya perkembangan jaman dalam pengunaan media sosial khususnya, menyebabkan individu mengalami pergeseran presentasi diri dari “real life” menjadi “virtual life”.

Perkembangan yang semakin pesat juga menyebabkan individu berlomba- lomba untuk menampilkan diri dalam kehidupan virtualnya (Hanika, 2016).

Kebutuhan untuk berinteraksi dengan lingkungan, menyebabkan Instagram sangat sesuai untuk menampilkan diri serta menciptakan citra diri sesuai dengan keinginan penggunanya. Melalui media foto yang digunakan sebagai sarana mempresentasikan diri, merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan deskripsi diri dan dapat dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan harapan mereka.

Penelitian oleh Kleemans, Daalmans, Carbaat dan Anschutz (2018) melihat bahwa sebagian besar responden melakukan manipulasi atas foto yang diunggah pada akun Instagram. Terjadinya hal tersebut dikarenakan foto yang sudah dimanipulasi melalui proses editing mendapatkan tanggapan yang lebih baik daripada foto asli saat diunggah. Selain itu, individu yang melakukan manipulasi terhadap unggahan foto di sosial medianya memiliki kecemasan terhadap kecenderungan social comparison. Hal semacam ini dinilai oleh Tedeschi dan Riess (1981) sebagai usaha untuk mengumpulkan kekuatan individu dari penghargaan orang-orang yang menyukainya. Individu merasa sangat senang saat dirinya disukai dan akan menghabiskan banyak waktu untuk mencapai sumber kekuatan itu (Tedeschi & Riess, 1981).

(45)

2. Karakteristik Pengguna Instagram

Instagram adalah media sosial yang identik melalui tampilan visual karena dapat dengan bebas untuk mempresentasikan diri (Putri, 2016). Pengguna instagram cenderung menggunakan media visual seperti foto dan video sebagai media presentasi diri (Dewi, Mayangsari & Rina, 2016). Menurut Hartawan (2017) foto-foto dan video yang ditampilkan meliputi kegiatan sehari-hari, barang kepunyaan pribadi yang baru dibeli, baju ataupun aksesoris dan lain sebagainya.

Tidak hanya ingin bebas dalam menampilkan diri, pengguna instagram juga ingin menampilkan tampilan yang berbeda dari yang umumnya ditampilkan orang lain (Putri, 2016). Individu merasa ingin menjadi yang berbeda dari yang lainnya agar selalu dinilai unik dan diingat oleh orang yang melihatnya. Hal tersebut yang mengakibatkan individu berlomba-lomba untuk menganut budaya anti-mainstream dan menampilkan foto atau video yang belum banyakk dipublikasikan oleh orang lain (Putri, 2016).

Selain itu, dalam menampilkan diri pengguna instagram akan mencari celah untuk terlihat lebih unggul dibandingkan pengguna lainya untuk menampilkan keunggulan dirinya. Hal yang biasa dilakukan dengan memberikan hashtag atau geotag agar orang lain menemukan foto ataupun informasi tertentu dari apa yang telah diunggah (Putri, 2016). Menampilkan diri dengan cara itu dapat menarik perhatian pengguna lainnya, sehingga akan memberikan komentar dan like (Putri, 2016). Kecenderungan menampilkan perilaku tersebut mengarah pada perilaku pengguna yang berusaha untuk

(46)

menampilkan segala aktifitasnya agar diketahui pengikutnya (Dewi, Mayangsari & Rina, 2016).

3. Fitur Pada Instagram

Instagram memiliki beberapa fitur yang menyebabkannya memiliki daya tarik khusus dibandingkan media sosial lainnya yaitu:

a. Pengikut (follower)

Instagram menawarkan fitur pengikut yang dikenal dengan follower.

Fitur ini berguna untuk melakukan interaksi antar sesama pengguna Instagram berupa tanda suka, komentar atau direct message (@mrbambang, 2012).

b. Mengunggah Foto maupun Video

Foto ataupun video merupakan fokus utama dari kemunculan Instagram sendiri. Aktivitas mengunggah foto ataupun video dilengkapi dengan fitur editan yang menyertainya. Instagram turut memfasilitasi kreatifitas dari penggunanya dengan menyediakan filter yang dapat mendukung hasil foto dan video yang lebih menarik lagi (Instagram- press.com, 16/12/2014). Selain memberikan efek pada foto maupun video, pengguna juga dapat memberikan judul foto yang akan diunggah. Selain itu, juga dapat memberikan geotagging atau menandai tempat tersebut.

c. Likes dan Comment

(47)

Fitur ini berguna untuk berinteraksi dengan pengguna lainnya. Fitur ini juga memiliki kesamaan dengan fitur yang ditawarkan oleh Facebook.

Fitur ini berguna untuk menyukai foto yang telah diunggah atau diunggah orang lain. Selain itu, fitur komen juga digunakan untuk mengungkap pemikiran seseorang pada apa yang dilihat dalam kabar berita di berandanya (@mrbambang, 2012).

d. Instagram Direct

Tidak hanya komunikasi secara bebas dengan pengikut saja, melainkan Instagram menawarkan komunikasi yang lebih privat antar pengguna lainnya (Instagram-press.com, 12/12/2013).

e. Instagram Stories

Instagram Stories merupakan fitur yang dirancang untuk membagikan momen keseharian selain melalui foto ataupun video yang diunggah pada profil akun. Fitur ini menawarkan video ataupun foto dalam bentuk slideshow (Instagram-press.com, 2/08/2016).

C. REMAJA AKHIR 1. Definisi Remaja Akhir

Remaja merupakan fase perubahan hidup manusia melalui fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa (Dradjat, 1959; Santrock, 2007).

Masa remaja juga dikatakan sebagai periode kritis pada tahap perkembangan

(48)

individu karena harus melewati persoalan-persoalan yang sulit dalam dirinya (Soesilowindradini, 2005). Menurut Lewin (dalam Mönks, Knoers &

Haditono, 1987) remaja dikatakan berada dalam tempat marginal. Dikatakan demikian sebab remaja lebih mudah dikelompokkan dalam kategori anak dibandingkan dewasa sehingga kerap mendapatkan perhatian masyarakat di sekitarnya (Mönks, Knoers & Haditono, 1987). Santrock (2007) mengkategorikan remaja dalam rentang usia 10 hingga 22 tahun. Rentang usia tersebut meliputi usia 10 sampai 13 tahun sebagai remaja awal dan 18 hingga 22 tahun sebagai remaja akhir. Pada tiap fasenya, remaja mengalami sejumlah perubahan yang meliputi aspek kognitif, emosi dan sosial.

Fase remaja yang akan dibahas secara spesifik adalah tingkat perkembangan remaja akhir atau late adolescene. Remaja akhir identik dengan periode penemuan diri yang menyebabkan mereka mampu memutuskan pilihan sendiri untuk berperilaku (Santrock, 2016). Selain itu, remaja akhir cenderung berfokus pada eksplorasi identitas, minat karir dan relasi romantis dibandingkan remaja awal (Santrock, 2016).

Menurut Mappiare (1982) pada masa ini ada kebutuhan khas yang harus terpenuhi yaitu remaja memiliki kebutuhan untuk berdiri sendiri, kebutuhan untuk ikut serta dan diterima dalam kelompok, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain dan kebutuhan untuk dihargai. Hal tersebut tidak berlaku bagi keseluruhan remaja karena kebutuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Akan tetapi, Mappiare (1982) menjelaskan kebutuhan psikologis-sosiologis yang

(49)

dibutuhkan remaja Indonesia yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok teman sebaya dan kebutuhan untuk menghindari penolakan dari teman sebaya.

Dradjat (1959) menjelaskan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang maka mereka semakin membutuhkan interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Bagi remaja, pertemanan merupakan hal yang penting untuk menjaga relasi mereka dengan lingkungan sosialnya. Hubungan pertemanan menjadi hal yang penting karena respon yang diberikan seperti bantuan, dukungan, kepercayaan, kesetiaan dan persahabatan yang bertahan lama merupakan harapan mereka (Soesilowindradini, 2005).

Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Herring dan Kapidzic (2015) dijelaskan bahwa remaja cenderung menggunakan media visual seperti foto untuk mempresentasikan diri. Melalui sosial media, remaja cenderung mengobservasi profil yang dapat diterima oleh orang lain sehingga hal tersebut diadaptasi dan diterapkan pada diri mereka, sehingga remaja mampu untuk mencapai keadaan sempurna.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa remaja akhir merupakan masa dimana seseorang mulai memiliki pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan untuk menunjukkan kematangannya dalam berbagai aspek seperti kognitif, emosi dan sosial sehingga dapat mengeksplorasi lingkungan sosialnya.

(50)

2. Aspek Perkembangan Remaja Akhir

Adapun tiga aspek perkembangan remaja tahap akhir yaitu aspek kognitif, aspek emosi dan aspek sosial (Mappiare, 1982). Penjelasan lebih lanjutnya sebagai berikut :

a. Perkembangan Kognitif

Remaja akhir memiliki kebebasan dalam berpikir. Kebebasan tersebut dapat meningkatkan kreatifitas remaja dalam memecahkan sebuah masalah ataupun menarik kesimpulan dari hal yang terjadi. Pola pikir yang demikian diharapkan dapat membantu remaja dalam menyusun rencana, menyusun alternatif pilihan, sehingga dapat menetapkan pilihan-pilihannya. Kaitannya adalah dengan pemilihan jurusan, kelanjutan studi hingga pemilihan teman hidup.

Selain itu, keseharian remaja yang berusaha menunjukkan originalitasnya melalui gaya berpakaian, berdandan, gaya rambut, gaya tingkah laku bahkan hingga kesenangan musik atau apapun yang dapat memanifestasikan diri mereka sebagai diri yang berbeda dari yang lainnya (Mönks, Knoers &

Haditono, 1987). Menurut Mönks, Knoers dan Haditono (1987) remaja menunjukkan kecenderungan lain daripada yang lain agar dapat menciptakan suatu gaya berbeda. Remaja merupakan salah satu rentang kehidupan manusia yang memiliki kecenderungan untuk mencari ciri khas tertentu dalam dirinya untuk menciptakan suatu gaya tersendiri (Mönks, Knoers &

Haditono, 1987; Megawati & Herdiyanto, 2016).

b. Perkembangan Emosi

(51)

Remaja akhir dalam tahap perkembangannya dapat dikatakan memiliki emosi yang stabil. Walaupun dalam hal tertentu kadang kala masih goyah apabila ada campur tangan dari figur otorita karena ketergantungan dalam hal ekonomi. Secara umum, perasaan dari remaja akhir cenderung lebih tenang walaupun terkadang mengalami gesekan. Hal tersebut akan diatasi secara tenang dan melihat norma orang dewasa sebagai pengendali perilakunya.

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan pribadi, sosial dan moral yang sudah dimiliki pada tahap remaja awal akan dimatangkan dalam tahap remaja akhir. Hal yang menjadi perhatian pada perkembangan sosial adalah pola hubungan dengan keluarga serta relasi dengan teman sebaya.Apalagi peranan teman sebaya sangat memberikan pengaruh terhadap citra diri yang hendak dibentuk. Penerimaan yang diberikan teman sebaya juga memberikan dampak penilaian diri yang positif pada diri remaja.

Walaupun demikian, remaja belum memiliki tempat yang jelas dalam lingkup masyarakat (Mönks, Knoers & Haditono, 1987). Remaja baru akan memperoleh tempat dan penghargaan di masyarakat apabila mereka mampu untuk patuh pada norma yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri (Mönks, Knoers & Haditono, 1987). Oleh sebab itu, kecenderungan-kecenderungan yang muncul pada masa remaja yang berkaitan dengan pencarian identitas yang ekstrem dapat muncul resiko-resiko bagi keberlangsungan kehidupan remaja (Berk, 2012).

(52)

D. KERANGKA KONSEPTUAL

Presentasi diri menjadi perilaku penting yang sering dilakukan beberapa tahun belakangan ini (Djafarova & Trofimenko, 2018). Penyebabnya yakni kebutuhan individu untuk diterima dalam lingkungan sosial (Schneider, 1981;

Djafarova & Trofimenko, 2018). Sebenarnya, presentasi diri ialah usaha yang dilakukan secara selektif untuk meningkatkan kekuatan individu agar sesuai dengan harapan orang lain, sehingga diterima secara sosial (Jones & Pittman, 1982).

Presentasi diri akan menampilkan perilaku yang telah direncanakan dan dipilih untuk mempresentasikan diri ketika nantinya berinteraksi dengan lingkungan sosial (Arkin, 1981). Penerimaan tersebut akan terwujud apabila individu mampu mencapai penilaian positif dan terhindari dari penilaian negatif (Tedeschi & Rosenfeld, 1981). Menurut Schneider (1981) hal tersebut yakni cara membangun kekuatan dalam rangka meyakinkan orang yang hendak dituju.

Sampai saat ini, presentasi diri mengalami perkembangan yang pesat dalam konteks online. Padahal presentasi diri dulunya berawal dari konteks offline karena ada kebutuhan untuk menjalin relasi sosial di lingkungan (Dayakisni &

Hudaniah, 2009). Menurut Yang dan Brown (2016) seseorang akan menampilkan citra diri tertentu untuk mempermudah dalam menjalin relasi.

Oleh sebab itu, presentasi merupakan cara yang tepat untuk mengungkapkan informasi pribadi agar diketahui orang lain (Kusumasari & Hidayati, 2014).

(53)

Menurut Schneider (1981) presentasi diri dilakukan seseorang untuk membangun kekuatan dan mempengaruhi orang yang hendak dituju. Dengan demikian, presentasi diri dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan baik online maupun offline (Bojmel, Moran & Shahar, 2016). Presentasi diri secara

online digemari karena media online dapat lebih bebas untuk mempresentasikan diri (Huang, 2014). Menurut Gustina (2015) ketiadaan elemen verbal dalam presentasi diri online dapat memudahkan individu. Oleh sebab itu pelaku presentasi diri akan dengan mudah terhubung dengan teman atau[un keluarga yang letaknya jauh (Kusumasari & Hidayati, 2014). Selain itu, pelaku presentasi diri juga dapat belajar dan mempermudah dalam memperoleh informasi baru (Kusumasari & Hidayati, 2014).

Tindakan presentasi diri secara online identik dengan menampilkan foto atau media berbentuk visual (Yang & Brown, 2016). Foto dapat mencerminkan penggunanya yang tidak hanya digunakan untuk mengabadikan suatu moment, namun juga untuk selfie (Simatupang, 2015). Menurut Gustina (2015) sosial media yang sering digunakan untuk mempresentasikan diri adalah Instagram.

Hal ini diakibat dari kemampuan untuk memfasilitasi individu dalam mempresentasikan diri secara maksimal melalui virtual (Putri, 2016).

Semakin didukung oleh perkembangan teknologi menyebabkan presentasi diri secara online digemari terutama dikalangan remaja (Chua & Chang, 2016).

Terutama pada remaja akhir yang cenderung ingin menampilkan originalitas diri yang berbeda dari orang lainnya, sehingga mendorong mereka untuk menciptakan kesan yang berbeda (Mönks, Knoers & Haditono, 1987).

(54)

Biasanya remaja akan menunjukkan originalitasnya melalui gaya berpakaian, berdandan, gaya rambut, gaya tingkah laku, kesenangan musik bahkan apapun yang dapat memanifestasikan diri yang berbeda dari yang lainnya (Mönks, Knoers & Haditono, 1987). Hal ini menyebabkan remaja cenderung mencari ciri khas tertentu untuk menciptakan gaya tersendiri (Mönks, Knoers &

Haditono, 1987; Megawati & Herdiyanto, 2016). Remaja akhir dikategorikan berada dalam rentang usia 18 hingga 22 tahun (Santrock, Remaja, 2007).

Remaja akhir memiliki kebutuhan yang tinggi untuk bergaul dengan teman sebaya (Santrock, Remaja, 2007). Kebutuhan tersebut memicu keinginan remaja untuk mendapatkan penerimaan dalam bentuk dukungan, bantuan, kepercayaan, kesetiaan dan persahabatan yang bertahan lama (Soesilowindradini, 2005).

Ciri khas yang biasanya ditampilkan saat mempresentasikan diri yaitu menunjukkan tampilan diri sebagai sosok yang menyenangkan (Djafarova &

Trofimenko, 2018). Dalam strategi presentasi diri hal tersebut dikenal dengan ingratiation. Ingratiation merupakan perilaku sosial untuk disukai sebagai

sosok yang hangat dan memiliki daya tarik tertentu (Lee et al, 1999; Dimmer, 2016). Selain itu, ada strategi presentasi diri lainnya yaitu intimidation, self- promotion, exemplification dan supplication. Intimidation merupakan strategi

yang cenderung menampilkan diri sebagai figur yang kuat atau berbahaya (Lee et al, 1999; Dimmer, 2016). Selanjutnya adalah self-promotion yaitu perilaku sosial untuk mencari pengakuan atas kualitas personal yang dimiliki (Jones &

Pittman, 1982). Exemplification merupakan perilaku sosial yang berusaha

(55)

menunjukkan diri sebagai sosok yang berkompeten, menyenangkan dan dinilai sopan santun (Jones & Pittman, 1982). Terakhir adalah supplication yang identik dengan menampilkan diri sebagai seorang yang kehilangan kemampuan diri, sehingga menampilkan diri sebagai orang lemah dan bergantung pada orang lain (Jones & Pittman, 1982).

Penelitian ini akan akan mendeskripsikan strategi presentasi diri yang digunakan remaja akhir di Instagram. Strategi presentasi diri yang dipilih untuk digunakan remaja akhir dalam mempresentasikan diri dapat memberi pengaruh pada penerimaan lingkungan sosial.

E. PERTANYAAN PENELITIAN

Bagaimanakah strategi presentasi diri remaja akhir di Instagram?

(56)

32

(57)
(58)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksploratif. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan menekankan analisis yang dihasilkan melalui data numerikal atau angka- angka yang diolah menggunakan metode statistika (Azwar, 2012). Melalui metode kuantitatif dapat diketahui perbedaan kelompok dari variabel yang diteliti. Menurut Arikunto (1989) penelitian eksploratif dilakukan untuk menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu, sehingga penelitian model ini digunakan juga untuk mengungkap hal-hal yang baru muncul di masyarakat (Mantra, 2004).

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi presentasi diri.

C. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional dari presentasi diri ialah usaha yang dilakukan secara selektif untuk meningkatkan kekuatan remaja akhir pengguna Instagram agar sesuai dengan harapan orang lain, sehingga dapat diterima secara sosial.

(59)

Penelitian ini menggunakan alat ukur milik Lee et al (1999) yaitu Self- Presentation Tactics Scale atau SPT. Skala tersebut disusun berdasarkan

strategi presentasi diri milik Jones dan Pittman (1982). Jenis presentasi diri dari skala yang digunakan yaitu ingratiation yaitu perilaku sosial yang dilakukan untuk menampilkan diri sebagai figur hangat, intimidation adalah perilaku sosial yang cenderung menampilkan diri sebagai figur yang kuat dan berbahaya bagi orang lain, enhancement (self-promotion) adalah perilaku sosial yang ditunjukkan untuk mencari pengakuan atas kemampuan tertentu yang dimiliki, exemplification yaitu perilaku sosial untuk memproyeksikan integritas dan bermoral baik dan suppication adalah perilaku sosial yang ditunjukkan sebagai bentuk kehilangan kemampuan diri. Data mengenai presentasi diri dapat diketahui dari perolehan skor hasil pengisian skala, bahwa semakin tinggi skor, maka semakin tinggi masing-masing strategi presentasi diri pada remaja akhir di Instagram. Hal sebaliknya terjadi apabila semakin rendah skor, maka semakin rendah masing-masing strategi presentasi diri remaja akhir di Instagram.

D. SUBJEK PENELITIAN

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling (Creswell, 2014). Teknik sampling ini menentukan sampel dengan

melakukan pertimbangan tertentu seperti kemudahan dalam mengakses sampel yang digunakan untuk mewakili populasi. Penelitian ini menggunakan subjek penelitian dengan kriteria atau ciri-ciri sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan hipotesis awal bahwa pemberian motivasi akan memberikan pengaruh positif secara tidak langsung terhadap kinerja karyawan PLN Area Mamuju melalui disiplin

Kriopreservasi dilakukan dengan cara mencelup-kan bahan tanaman ke dalam nitrogen selama 1 jam atau beberapa saat ( rapid freezing ), kecuali polen dadap hias dikriopreservasi

Namun, jagung di Indonesia sebagaimana umumnya komoditas pangan lainnya merupakan hasil produksi petani-petani skala kecil.Komoditas jagung dapat dikonsumsi oleh

GUNUNGSITOLI IDANO GUNUNG SITOLI IDANOI Kota Gunung Sitoli SUMATRA UTARA 477475 TRIDESMAN MENDROFA A2B0C12.78.2017.001529 DUSUN II DESA BAWODESOLO, KEC.. GUNUNGSITOLI IDANOI

Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada

Sedangkan penelitian Tampubolon (2011) di lokasi yang sama dengan penelitian ini, yaitu Hutan Pendidikan USU menemukan vegetasi pada tingkat semai 12 jenis, tingkat pancang

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan siswa melalui pembuatan peraturan kelas secara kooperatif pada siswa kelas V SD Negeri Beji, Wates Kulon

Perlakuan nomor ruas setek ke 8-11 dengan dosis pupuk Urea Pril 75 kg/ha menghasilkan jumlah tunas yang tumbuh pada setek umur 4 mst dan laju pertumbuhan relatif tanaman nyata