BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 3.1.1 Sejarah Singkat Kabupaten Maluku Tenggara
Bahwa terbentuknya Kabupaten Maluku Tenggara berawal dari suatu perjuangan dan pergulatan yang panjang, dimana proses terbentuknya dilakukan dengan berbagai bentuk tahapan negosiasi dan diplomasi oleh para Pendiri Kabupaten dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Dati I Provinsi Maluku.
Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara sampai pada puncaknya ditandai dengan Pelantikan DPRD sekaligus Pembukaan Sidang Perdananya pada Tanggal 22 Desember 1952. Dalam Sidang Perdana tersebut yang dilaksanakan di Gedung Madrasah Wara, dibahas satu mata acara pokok yaitu Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua DPRD.
Sehubungan dengan itu, maka tanggal 22 Desember 1952 merupakan hari dimana secara formal roda Pemerintahan di Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara mulai digerakan. Proses sejarah kelahiran Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara itu kemudian lebih dikukuhkan secara konstitusional pada tahun 1958, dengan diundangkan Undang-Undang Nomor 60 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II dalam Daerah Swatantra Tingkat I Maluku. Hari kelahiran Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara dapat ditetapkan pada Tanggal, 22 Desember 1952, dengan memperhartikan prosedur Hukum yang berlaku.
Namun demikian Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara sudah berdiri berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952, maka tanggal 22 Desember 1952 saat roda Pemerintahan mulai berputar dipandang tetap sebagai Hari Kelahiran Daerah ini. Pada saat ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952 pada Bulan Agustus 1952 sampai dengan Bulan Desember 1952 baru seluruh kelengkapan atau perangkat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara terbentuk, dan resmi mulai bergerak pada tanggal, 22 Desember 1952.
Dari Kabupaten Maluku Tenggara dengan gugusan pulau - pulau yang terbentang dari Wetar Maluku Barat Daya sampai ke Batu Goyang Kepulauan Aru, kini telah melahirkan 4 daerah otonom, yakni: (1) Kabupaten Maluku Tenggara Barat; (2) Kabupaten Kepulauan Aru; (3) Kota Tual, dan (4) Kabupaten Maluku Barat Daya. Kabupaten Maluku Tenggara telah dimekarkan menjadi Kota Tual dengan pemerintahan tersendiri berdasarkan Undang-undang No. 31 Tahun 2007 tanggal 10 Juli 2007 Tentang Pemekaran Kota Tual. Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara sekarang terdiri 6 (Enam) Kecamatan yakni:
1. Kecamatan Kei Kecil 2. Kecamatan Kei Kecil Timur 3. Kecamatan Kei Kecil Barat 4. Kecamatan Kei Besar
5. Kecamatan Kei Besar Selatan 6. Kecamatan Kei Besar Utara Timur
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2011 tanggal 20 Juli 2011tentang Pemindahan Ibukota Maluku Tenggara dari Wilayah Kota Tual ke Wilayah Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara yang selanjutnya disebut Kota Langgur. Melalui Sidang Paripurna Istimewa DPRD Maluku Tenggara yang dihadiri Berbagai Lapisan Masyarakat dan Pemerintah telah ditetapkan tanggal 8 Oktober 2011 sebagai Hari Lahir Kota Langgur sebagai Ibu Kota Maluku Tenggara yang baru bertepatan dengan Penyerahan PP 35 Tahun 2011 dari Pemerintah Pusat.
Struktur organisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang dijabarkan ke dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah.
Struktur organisasi perangkat daerah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah (Setda) dan Sekretariat DPRD dan Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah, Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dimana struktur organisasi perangkat daerah terdiri dari 1(satu) Sekretariat Daerah dengan 2 (dua) Asisten Setda dan 7 (tujuh) Bagian; 1 (satu) Sekretariat DPRD; 8 (delapan) Lembaga Teknis Daerah yang terdiri dari 4 (empat) Badan, 4 (empat) Kantor, dan 1(satu) Rumah Sakit Daerah; 12 (dua belas) Dinas Daerah; serta 7 (tujuh) Unit PelaksanaTeknis Daerah (UPTD) sebagai pelaksana operasional dinas yakni UPTD Das Kei Besar,UPTD Pasar, UPTD BBU ohoinol, UPTD BPP Ohoiluk, UPTD Perhubungan Kei Besar, Kantor Cabang Dinas DIKPORA Ke Besar dan Kei Kecil, 14 (empat belas) Puskesmas, serta Badan Pengelola Kebersihan dan Pemakaman (BPKP2).
Organisasi perangkat daerah tersebut didukung oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 4.214 orang yang terdiri dari tenaga guru 2.249 orang, tenaga kesehatan 533orang, dan tenaga strategis lainnya 1.432 orang. Persentase PNS berdasarkan pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2007 masih didominasi PNS yang menamatkan pendidikan tingkat SLTA sebesar 53,86 persen diikuti strata satu sebesar 18,50 persen; diploma dua dan satu sebesar 13,54 persen; diploma tiga sebesar 11.45 persen; SD/SLTPsebesar 2.18 persen; strata dua sebesar 0,83 persen; serta strata tiga sebesar 0,04 persen. Persentase PNS berdasarkan golongan di Kabupaten Maluku Tenggara meliputi 10,62 persen golongan IV; 53,15 persen golongan III; 35,41 persen golongan II; dan 1,23 persen, golongan I.
Visi Maluku Tenggara adalah “Terwujudnya Masyarakat Maluku Tenggara yang sejahtera melalui pemanfaatan sumber daya alam, jasa lingkungan berbasis bahari, jasa perdagangan dan jasa pendididikan.
3.1.2 Letak Geografis
Letak geografis Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan letak dan batas wilayah, luas wilayah, topografi, geologi, iklim, dan hidrologi adalah sebagai berikut:
a. Letak dan Batas Wilayah
Kabupaten Maluku Tenggara menurut Astronomi terletak antara: 5º sampai 6,5º Lintang Selatan dan 131º sampai 133,5º Bujur Timur. Adapun letak dan batas wilayahnya menurut Geografis dibatasi berdasarkan arah mata angin antara lain adalah sebagai berikut:
Sebelah Selatan : Laut Arafura
Sebelah Utara : Irian Jaya Bagian Selatan, Wilayah Kota Tual.
Sebelah Timur : Kepulauan Aru
Sebelah Barat : Laut Banda dan bagian Utara Kepulauan Tanimbar.
b. Luas Wilayah
Luas Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara ± 7.856,70 Km², dengan luas daratan ± 4.676,00 Km² dan luas perairannya ± 3.180,70 Km². Kabupaten Maluku Tenggara hanya terdiri atas 1 Gugusan Kepulauan yaitu: Gugusan Kepulauan Kei yang terdiri atas Kepulauan Kei Kecil dengan Luas seluruhnya 722,62 Km² dan Pulau Kei Besar dengan Luas 550,05 Km². Dengan jumlah Pulau tersebut sebanyak 25 buah pulau.
Luas Kabupaten Maluku Tenggara menurut Kecamatan dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10 Luas Kabupaten Maluku Tenggara menurut Kecamatan Kecamatan Luas daratan
(Km2)
Luas Perairan (km2)
Luas Total (km2)
Kei Kecil 1.167,69 492,52 1.660,21
Kei Kecil Barat 426,70 629,30 1.056,00
Kei Kecil Timur 547,04 497,35 1.044,39
Kei Besar 1.272,05 523,78 1.795,83
Kei Besar Utara Timur 721,86 328,42 1.050,28
Kei Besar Selatan 540,67 709,32 1.249,99
Jumlah 4.676,00 3.180,70 7.856,70
Sumber: BAPPEDA Kabupaten Maluku Tenggara (2010).
Letak geografis Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri atas pulau-pulau kecil dianggap sangat strategis karena sebagai pusat penghubung antara ibukota Provinsi Maluku dengan Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku Tenggara Barat, serta dengan daerah luar seperti provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur serta terletak pada jalur Arafuru Rim yang menghubungkan antara wilayah negara Australia dengan negara-negara di Asia Pasifik.
Gambar 4 Peta Wilayah administrasi Maluku Tenggara
Secara administrasi Kabupaten Maluku Tenggara terbagi menjadi 6 kecamatan yang mencakup atau meliputi 1 kelurahan, 87 desa induk dan 104 anak Desa/Dusun. Data lebih terinci adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 11 berikut ini :
Tabel 11 Ibukota Kecamatan, banyaknya desa induk,anak desa dan kelurahan menurut Kecamatan
Kecamatan Ibu Kota Banyaknya
Desa Induk Anak Desa Kelurahan
Kei Kecil Langgur 21 15 1
Kei Kecil Barat Ohoira 8 2 -
Kei Kecil Timur Rumat 13 16 -
Kei Besar Elat 21 41 -
Kei Besar Utara Holat 9 21 -
Kei Besar Selatan Weduar 14 9 -
Jumlah 87 104 1
Sumber: Bappeda Maluku Tenggara (2009).
c. Topografi
Secara Topografi Pulau Kei Kecil, dengan ketinggian ± 100 M diatas permukaan laut. Beberapa Bukit rendah di Tengah dan Utara mencapai 115 M.
Pulau Kei Besar berbukit dan bergunung yang membujur sepanjang pulau dengan ketinggian rata-rata 500 - 800 M dengan Gunung Dab sebagai puncak tertinggi, dataran rendah merupakan jalur sempit sepanjang pantai.
Sebaran rata-rata kedalaman perairan laut (4 mil dari garis pantai) di Kei Kecil (Nuhu Roe) adalah ≤ 100 m atau rata-rata slop ≤ 1,5 persen yaitu di Pulau Kei Kecil Bagian Barat. Sebaran rata-rata kedalaman di Pulau Kei Besar (NuhuYut), ≤ 100 m berada di bagian Barat Laut, sedangkan bagian Barat Daya dan bagian Timur kedalaman rata-rata lebih dari 300 m. Kemiringan daratan pulau (Island Flat) di Pulau Kei Kecil berkisar antara 0 persen - 40 persen, untuk Pulau Kei Besar kemiringan daratan pulau adalah curam (15 persen – 40persen) sampai dengan sangat curam (> 40 persen).
d. Geologi
Menurut peta Geologi Indonesia [1965], Pulau atau Kepulauan di Maluku Tenggara terbentuk atau tersusun dari tanah dan batuan yang tercatat sebanyak 3 jenis Tanah dan 5 jenis Batuan.
e. Iklim
Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu terjadi perubahan.
Musim
Keadaan musim teratur, musim Timur berlangsung dari bulan April sampai Oktober. Musim ini adalah musim Kemarau. Musim Barat berlangsung dari bulan Oktober sampai Februari. Musim hujan pada bulan Desember sampai Februari dan yang paling deras terjadi pada bulan Desember dan Februari.
Musim Pancaroba berlangsung dalam bulan Maret / April dan Oktober / Nopember. Bulan April sampai Oktober, bertiup angin Timur Tenggara.
Angin kencang bertiup pada bulan Januari dan Februari diikuti dengan hujan deras dan laut bergelora. Bulan April sampai September bertiup angin Timur Tenggara dan Selatan sebanyak 91% dengan angin Tenggara dominan 61%.Bulan Oktober sampai Maret bertiup angin Barat Laut sebanyak 50% dengan angin Barat Laut dominan 28%.
Curah Hujan
Curah Hujan antara 2.000 - 3.000 mm per tahun terdapat di Pulau Kei Kecil. Sedangkan di Pulau Kei Besar diatas 3.000 mm per tahun. Tahun 2008 curah hujan di Kabupaten Maluku Tenggara secara keseluruhan adalah 2.441,9 mm per tahun atau rata-rata 203,5 mm per bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 225 hari atau rata-rata 18,8 hari hujan per bulan.
Suhu, Kelembaban, Penyinaran Matahari dan Tekanan Udara
Suhu rata-rata untuk tahun 2008 sesuai data dari Stasiun Meteorologi Dumatubun Langgur adalah 27,3 ºC dengan suhu minimum 23,8 ºC dan maksimum 31,8 ºC. Kelembaban rata-rata 86,1 %, penyinaran matahari rata-rata 61,8 % dan tekanan udara rata-rata 1009,9 milibar.
Tipe Iklim
Berdasarkan klasifikasi Agroklimate, di Maluku Tenggara terdapat Zone Agroklimat, Zone C2 bulan basah 5 - 6 bulan dan kering 4 - 5 bulan.Variasi ekstrim curah hujan berhubungan dengan sistem angin musim. Musim kering (Musim Timur) berlangsung dari bulan Juli sampai dengan Oktober dimana angin bertiup dari Timur Tenggara ke Utara Barat
Laut. Musim hujan (Musim Barat) berlangsung dari Desember sampai dengan Maret, di mana angin bertiup dari Utara Barat Lautke Timur Tenggara. Pola angin lokal juga berpengaruh memodifikasi pola umum tersebut. Selama periode transisi, April sampai dengan Juli dan Nopember, komponen angin tidak menentu.
f. Hidrologi
Dari perspektif hidrologinya adalah memiliki sungai yang berair sepanjang tahun tercatat sebanyak 7 buah antara lain Pulau Kei Kecil sebanyak 3 buah, dan Pulau Kei Besar sebanyak 4 buah. Sedangkan keberadaan danau-danau di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 2 buah, Ablel dan Wearlaai yang terletak di Pulau Kei Kecil.
3.1.3 Demografi
Kabupaten Maluku Tenggara terdiri dari 119 buah pulau kecil dengan ibukota Langgur. Penduduk asli Kabupaten ini adalah suku Kei, disamping orang-orang asal daerah lain yang menetap di kabupaten ini, misalnya orang asal Jawa, Bugis dan Makasar serta Buton yang menetap sebagai pedagang.
Penyebaran penduduknya tidak merata, dimana konsentrasi penduduk pada umumnya dipulau Kei Kecil, karenaalasan mencari nafkah.
Hal ini terjadi karena tidak memperhatikan faktor kebutuhan maka dampaknya bisa menimbulkan kesenjangan pembangunan antar wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara dan ujung-ujungnya mengarah kepada keterisolasian. Umumnya di suatu daerah pada pusat kota, sebaran penduduk yang lebih banyak dibandingkan wilayah lain. Hal ini terjadi pula di wilayah Kei Kecil sebagai pusat kota di Kabupaten Maluku Tenggara. Sebaran dan kepadatan penduduk di Kabupaten Maluku Tenggara dapat disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Luas wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk per km2
Kecamatan Luas
(km²)
Jumlah penduduk(jiwa)
Kepadatan Penduduk per km²
Kei kecil 1.167,69 39.400 35
Kei Kecil Barat 426,70 6.280 15
Kei Kecil Timur 547,04 11.137 20
Kei Besar 1.272,05 26.896 21
Kei Besar Utara Timur 721,86 11.905 16
Kei Besar Selatan 540,67 9.463 18
Jumlah 4.676,00 105.081 21,66
Sumber: Data Bappeda, Kabupaten Maluku Tenggara (2010).
Sebaran tertinggi penduduk terdapat di Kecamatan Kei Kecil,sebagai konsekuensi dari keberadaannya sebagai pusat pemerintahan. Sementara itu, jika jumlah penduduk dikaitkan dengan luas wilayah, maka akan terlihat kepadatan penduduk pada wilayah tersebut. Kepadatan penduduk berhubungan erat dengan daya dukung (carrying capacity) wilayah.Wilayah kecamatan yang kepadatan penduduknya tinggi adalah Kecamatan Kei Kecil yang mencapai 35 per km2yang berarti setiap 1 (satu) km2didiami sekitar 35 jiwa.Kepadatan penduduk berikutnya yaitu Kecamatan Kei Besar dengan tingkat kepadatan 21 per km2.
Bila dilihat dari jenis kelamin, maka secara umum jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Maluku Tenggara lebih dominan dibandingkan laki-laki dengan sex rasio sebesar 96,90. Hal ini dapat diartikan bahwa diantara 100 orang perempuan terdapat 97 orang laki-laki. Jika dilihat menurut kecamatan terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada laki-laki.hal dapat dilihat pada Tabel 13 sebagai berikut :
Tabel 13 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin Kecamatan Jumlah Penduduk (%)
Sex Ratio Laki-Laki Perempuan
(1) (2) (3) (4)
Kei Kecil 49,32 50,68 97,33
Kei Kecil Barat 50,37 49,63 101,48
Kei Kecil Timur 49,42 50,58 97,70
Kei Besar 48,79 51,21 95,27
Kei Besar Utara Timur 49,40 50,60 97,62
Kei Besar Selatan 48,50 51,50 94,19
2010 49,21 50,79 96,90
2009 49,23 50,77 96,95
2008 49,22 50,78 96,95
2007 49,23 50,77 96,95
Sumber: BPS Maluku Tenggara (2010)
Jumlah penduduk sebagaimana telah disajikan pada Tabel 4.4 tersebut di atas selanjutnya dapat diklasifikasikan dalam usia produktif dan tidak produktif.
Penduduk yang produktif adalah yang mereka yang memiliki usia berkisar antara 15-64 tahun. Asumsinya adalah pada kelompok usiatersebut, seseorang sudah
‘dapat terlibat’ dalam dunia kerja/usaha. Sedangkan bagi mereka yang berusia kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun, maka dianggap belum/tidak produktif lagi. Jika semakin banyak anggota rumah tangga yang bekerja maka akan makin ringan beban yang harus dipikulnya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Demikian pula halnya dengan suatu wilayah, apabila didalamnya terdapat banyak penduduk yang produktif, maka akan semakin berkurang pula tanggungannya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebaran jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia, adalah disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia
Tahun Jumlah Menurut Kelompok Umur(%) Angka Beban Tanggungan 0-14 Tahun 15-64 Tahun 65 Tahun
(1) (2) (3) (4) (5)
2007 35,84 58,71 5,46 70,35
2008 39,31 54,59 6,10 83,18
2009 39,78 53,16 7,06 88,11
2010 38,68 56,64 4,69 76,57
Sumber: BPS Maluku Tenggara (2010)
Berdasarkan data pada Tabel 14, dapat pula ditelaah struktur umur penduduk. Memperlihatkan struktur umur penduduk Kabupaten Maluku Tenggara masih relatif muda, disebabkan proporsi penduduk yang berumur kurang dari 15 tahun masih cukup tinggi. Hal ini berakibat pada rasio beban ketergantungan di Kabupaten Maluku Tenggara yang masih cukup tinggi. Rasio ini memberi isyarat nilai tambah yang diperoleh oleh penduduk usia produktif, terbagi dengan penduduk yang belum/tidak produktif. Hal ini akan menghambat usaha-usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, segala pihak-pihak terkait harus memikirkan berbagai usaha-usaha yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada penurunan angka beban ketergantungan. Dengan angka beban tanggungan sebesar 76,57 persen, memiliki makna bahwa setiap 100 orang penduduk produktif di Kabupaten Maluku Tenggara harus menanggung sekitar 77 orang penduduk yang tidak produktif.
3.1.4 Kondisi Perekonomian Daerah
Krisis ekonomi yang terjadi secara nasional dan pertikaian antar kelompok di Maluku sangat berpengaruh bagi kondisi ekonomi Maluku Tenggara seperti halnya daerah lain di Maluku. Pada era tersebut pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara mencapai titik terendah dari sebelumnya diatas 10 persen menjadi rata‐rata sekitar 3‐4 persen selama periode 2000 – 2004.
Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara 2008-2013, diketahui struktur ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara dari tahun 2000 sampai dengan 2004 menunjukan perubahan yang cukup signifikan. Kegiatan ekonomi pada sektor primer, sekunder dan tersier yang bergerak berfluktuasi setiap tahunnya. Kontribusi sektor primer (pertanian dan pertambangan, dengan sub sektor perikanan sebagai andalannya) dalam PDRB Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2000 sebesar 24,10 persen menjadi hanya 7,15 persen pada tahun 2004, sektor sekunder (industri, listrik, gas, air bersih, dan bangunan) pada tahun 2000 sebesar 23,53 persen menjadi 15,45 persen pada tahun 2004, dan sektor tersier (perdagangan, pengangkutan, keuangan dan jasa) sebesar 42,12 persen pada tahun 2000 menjadi 20,62 persen pada tahun 2004.
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara Periode 2003 – 2007 berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik Maluku Tenggara, adalah sebagaimana disajikan pada Gambar 5 di bawah ini.
Sumber : BPS Maluku Tenggara Gambar 5 Pertumbuhan ekonomi
Selama periode 2003
pertumbuhan ekonomi yang cenderung
2003 hingga mencapai 4.99 persen pada tahun 2007 (pernah
tertinggi pada tahun 2006 sebesar 5.10 persen). Tingginya pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekonomi secara serempak pada
periode tersebut telah terjadi perpindahan pertumbuhan
sektor tersier. Tabel 15 berikut ini memperlihatkan pertumbuhan ekono Kabupaten Maluku Tenggara dari tahun 2004
Tabel 15 Pertumbuhan
Deskripsi
Pertumbuhan Ekonomi Maluku Tenggara 1. Pertanian
2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan
4. Listrik dan air bersih 5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Angkutan dan komunikasi
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa‐Jasa
Sumber : BPS Kabupaten Maluku Tenggara (2008)
Mengacu pada tabel tersebut di atas dapat diketahui sektor Pertanian hanya mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu signifikan sedangkan pertambangan, bangunan, dan jasa mengalami pertumbuhan yang cukup tajam. Pertanian mengalami pertumbuhan 2,9 persen pad
pada tahun 2007. Pertambangan tumbuh dari 5,0 persen di tahun 2004 hingga Persen (%)
Sumber : BPS Maluku Tenggara (2008)
ekonomi Maluku Tenggara Periode 2003 – 2007 Selama periode 2003‐2007 ekonomi Maluku Tenggara mengalami
yang cenderung tinggi, yaitu dari 4,09 persen pada tahun 2003 hingga mencapai 4.99 persen pada tahun 2007 (pernah mencapai puncak ahun 2006 sebesar 5.10 persen). Tingginya pertumbuhan tersebut ekonomi secara serempak pada semua sektor. Selama telah terjadi perpindahan pertumbuhan dari sektor primer ke
berikut ini memperlihatkan pertumbuhan ekono Tenggara dari tahun 2004‐2007 berdasarkan per sektor.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara per-sektor ekonomi
Deskripsi Pertumbuhan (%)
2004 2005 2006 2007 Pertumbuhan Ekonomi Maluku Tenggara 4,0 3,3 5,1
2,9 2,9 3,2
2. Pertambangan dan Penggalian 5,0 5,3 5,4
2,3 3,3 4,0
7,5 6,1 5,7
5,6 5,5 6,8
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,4 3,6 6,8
7. Angkutan dan komunikasi 8,4 4,4 8,0
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 3,4 3,3 3,6
3,4 3,1 6,3
Sumber : BPS Kabupaten Maluku Tenggara (2008)
Mengacu pada tabel tersebut di atas dapat diketahui sektor Pertanian hanya mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu signifikan sedangkan pertambangan, bangunan, dan jasa mengalami pertumbuhan yang cukup tajam. Pertanian mengalami pertumbuhan 2,9 persen pada tahun 2004 hingga mencapai 3,6 persen pada tahun 2007. Pertambangan tumbuh dari 5,0 persen di tahun 2004 hingga
2007 2007 ekonomi Maluku Tenggara mengalami
gi, yaitu dari 4,09 persen pada tahun mencapai puncak ahun 2006 sebesar 5.10 persen). Tingginya pertumbuhan tersebut Selama dari sektor primer ke berikut ini memperlihatkan pertumbuhan ekonomi
2007 5,0 3,6 7,8 4,6 6,5 8,9 6,2 5,6 3,7 5,9
Mengacu pada tabel tersebut di atas dapat diketahui sektor Pertanian hanya mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu signifikan sedangkan pertambangan, bangunan, dan jasa mengalami pertumbuhan yang cukup tajam. Pertanian a tahun 2004 hingga mencapai 3,6 persen pada tahun 2007. Pertambangan tumbuh dari 5,0 persen di tahun 2004 hingga
mencapai 7,8 persen di tahun 2007. Bangunan tumbuh dari 5,6 persen pada tahun 2004 menjadi 8,9 persen di tahun 2007. Jasa juga mengalami pertumbuhan dari 3,4 persen pada tahun 2004 menjadi 5,9 persen pada tahun 2007.
3.2 Karakteristik Nelayan 3.2.1. Status Pernikahan
Profil nelayan yang menjadi responden pada penelitian ini ditinjau dari status pernikahan, ditabulasi silangkan dengan kecamatan atau wilayah di mana nelayan berada,terdapatpada Tabel 16 di bawah ini:
Tabel 16 Status pernikahan dan domisili nelayan responden Status Pernikahan
Total Menikah Janda/Duda Belum
Menikah Kecamatan
Kei Kecil 45 4 2 51
Kei Kecil Timur 11 1 2 14
Kei Kecil Barat 7 0 0 7
Kei Besar Tengah 27 0 1 28
Total 90 5 5 100
Mengacu pada hasil dari Tabel 16 tersebut di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas nelayan (90%) telah menikah pada empat kecamatan wilayah penelitian. Sedangkan untuk nelayan yang belum menikah dan nelayan yang berstatus janda/duda, masing-masing memiliki proporsi yang sama yakni sebesar 5%. Hasil ini tentu saja akan sangat mendukung analisis data, dikarenakan akan dapat dieksplorasi lebih lanjut informasi yang diperoleh ini sebagai salah satu data dukung menganalisis tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan, maupun arah kebijakan pembangunan wilayah perdesaan.
Data profil nelayan dalam perspektif status pernikahan ini dapat didukung dan dikonfirmasi pula dengan atribut-atribut lain, seperti latar belakang pendidikan formal, sebaran usia, dan jumlah anggota keluarga dalam satu kepala keluarga. Kebijakan pengembangan wilayah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, sangat terkait erat dengan eksistensi dan potensi dari sosial demografi masyarakat nelayan, khususnya di empat kecamatan wilayah penelitian.
3.2.2 Pendidikan
Profil nelayan ditinjau dari perspektif pendidikan per kecamatan atau wilayah penelitian di mana nelayan berada,terdapat pada Tabel 17 di bawah ini :
Tabel 17 Tingkat pendidikan per-Kecamatan domisili nelayan Pendidikan
Total Tidak
Sekolah SD SMP SMA Diploma/
Sarjana Kecamatan
Kei Kecil 2 12 13 23 1 51
Kei Kecil Timur 1 2 1 9 1 14
Kei Kecil Barat 2 0 1 4 0 7
Kei Besar Tengah 0 4 3 19 2 28
Total 5 18 18 55 4 100
Mengacu pada hasil dari Tabel 17 tersebut di atas dapat diketahui bahwa pada 4 kecamatan wilayah penelitian, sebaran data latar belakang pendidikan formal nelayan terkonsentrasi pada latar belakang pendidikan formal setingkat SMA (55%), diikuti kemudian pada latar belakang pendidikan SD (18%) dan SMP (18%), tidak sekolah maupun tidak tamat SD (5%), dan proporsi paling sedikit adalah nelayan yang memiliki pendidikan formal diploma/sarjana (4%).
Apabila dilihat secara makro kondisi ini sudah cukup baik, yakni nelayan yang menjadi responden penelitian relatif mampu memenuhi program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah. Namun demikian data ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan data sebaran usia nelayan, agar dapat diperoleh informasi lanjutan yang dapat memberikan penjelasan komposisi proporsi nelayan berdasarkan latar belakang pendidikan formal tersebut. Pembagian kategori usia nelayan ke dalam 3 kategori, akan dapat menjelaskan sebaran data latar belakang pendidikan formal nelayan yang lebih terkonsentrasi pada pendidikan SD, SMP dan SMA.
3.2.3 Sebaran UsiaNelayan
Sebaran usia nelayan di 4 kecamatan yang menjadi responden penelitian ini, dapat diketahui dengan bantuan SPSS sebagaimana disajikan pada diagram batangdi bawah ini :
a. Sebaran Usia Nelayan di Wilayah Kecamatan Kei Kecil
Gambar 6 Diagram batang sebaran usia nelayan di Kecamatan Kei Kecil 6
15
19 10
1
0 5 10 15 20
20 - 29 30 - 39 40 - 49 50 - 59
>59
Jumlah (Orang)
Sebaran Usia (Tahun)
Mengacu pada Gambar 6, sebagaimana tersaji di atas maka dapat diketahui bahwa pada nelayan di wilayah Kecamatan Kei Kecil memiliki usia yang terkonsentrasi pada usia 40- 49 tahun. Nelayan dari wilayah Kecamatan Kei Kecil yang menjadi responden pada penelitian ini termasuk dalam kategori usia produktif.
b. Sebaran Usia Nelayan di Wilayah Kecamatan Kei Kecil Timur
Gambar 7 Diagram batang sebaran usianelayan di Kecamatan Kei Kecil Timur
Mengacu pada Gambar 7, dapat diketahui bahwa pada nelayan di wilayah Kecamatan Kei Kecil Timur didominasi pada nelayan yang berumur 30-39 tahun.
Hasil ini juga turut memberi konfirmasi bahwa nelayan yang menjadi responden penelitian didominasi oleh nelayan yang berusia produktif.
c. Sebaran Usia Nelayan di Wilayah Kecamatan KeiKecil Barat
Gambar 8 Diagram batang usianelayan di Kecamatan Kei Kecil Barat Mengacu pada Gambar 8, sebagaimana tersaji di atas maka dapat diketahui bahwa pada nelayan di wilayah Kecamatan Kei Kecil Barat, memiliki sebaran data yang cukup merata.
3
5 3
2 1
0 1 2 3 4 5 6
20 - 29 30 - 39 40 - 49 50 - 59
> 59
Jumlah (Orang)
Sebaran Usia (Tahun)
3 2
2
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
30 - 39 40 - 49
> 49
Jumlah (Orang)
Sebaran Usia (Tahun)
d. Sebaran Usia Nelayan di Wilayah Kecamatan Kei Besar Tengah
Gambar 9 Diagram batang sebaran usiadi Kecamatan Kei Besar Tengah Mengacu pada Gambar 9, sebagaimana tersaji di atas maka dapat diketahui bahwa pada nelayan di wilayah Kecamatan Kei Besar Tengah, tersebar cukup merata dari rentang usia 21 tahun sampai dengan 57 tahun. Hal ini berarti mampu menjadi representasi dari nelayan berusia muda sampai dengan nelayan berusia dewasa.
Gambaran sebaran usia nelayan yang menjadi responden penelitian secara keseluruhan pada 4 kecamatan wilayah penelitian, adalah sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 10 di bawah ini.
Gambar 10 Sebaran usia nelayan 3.2.4 Jumlah Anggota Keluarga
Sebagai data dukung dari status pernikahan dan sebaran usia dari nelayan yang menjadi responden penelitian, maka perlu dianalisis pula sebaran nelayan berdasarkan kategori jumlah anggota keluarga dalam satu kepala keluarga. Data jumlah anggota keluarga nelayan yang menjadi responden penelitian ini adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 18 sebagai berikut.
7 7
8 6
0 2 4 6 8 10
20 - 29 30 - 39 40 - 49 50 - 59
Jumlah (Orang)
Sebaran Usia (Tahun)
Tabel 18 Komposisi jumlah anggota keluarga nelayan di empat Kecamatan
Tabulasi Silang Jumlah Anggota Keluarga
Total 1-4 Orang 5-8 Orang >8 Orang
Kecamatan
Kei Kecil 17 22 12 51
Kei Kecil Timur 5 7 2 14
Kei Kecil Barat 3 2 2 7
Kei Besar Tengah 18 8 2 28
Total 43 39 18 100
Mengacu pada Tabel 18 maka dapat diketahui bahwa pada Kecamatan Kei Kecil sebaran nelayan berdasarkan jumlah anggota keluarga cukup tersebar di 3 kategori yang ditetapkan, demikian pula pada Kecamatan Kei Kecil Timur dan Kei Kecil Barat. Kecuali pada Kecamatan Kei Besar Tengah, yang lebih didominasi pada nelayan yang memiliki jumlah anggota keluarga 1-4 orang dan 5-8 orang dalam 1 kepala keluarga. Bagi nelayan yang berusia muda yakni di bawah 40 tahun terdapat kecenderungan memiliki anggota keluarga 1-4 orang, yakni sebagai sebuah kecil dan sederhana. Sedangkan bagi nelayan yang telah berusia lebih dewasa atau di atas 40 tahun, terdapat kecenderungan memiliki jumlah anggota keluarga lebih banyak atau termasuk dalam keluarga besar. Hal ini bersifat relatif hanya berlaku terbatas pada nelayan yang terpilih menjadi responden penelitian.
3.2.5 Pengalaman Menjadi Nelayan
Deskripsi pengalaman atau sudah berapa lama berprofesi sebagai nelayan pada responden penelitian yang tersebar di 4 kecamatan wilayah penelitian, dapat memberikan dukungan data dan informasi yang memperjelas profil nelayan. Data deskrptif dari usia nelayan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dapat menjadi lebih bermakna apabila dikaitkan pembahasannya dengan seberapa lama atau pengalaman menjadi nelayan. Hasilnya adalah sebagaimana diuraikan oleh penulis pada Tabel 19 berikut ini.
Tabel 19 Ukuran deskriptif pengalaman menjadi nelayan
No Kecamatan Ukuran Pengalaman (Tahun)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Kei Kecil (n = 51) 45 7 26,18
2 Kei Kecil Timur (n = 14) 45 5 23,36
3 Kei Kecil Barat (n = 7) 50 20 29,86
4 Kei Besar Tengah (n = 28) 42 6 23,96
Berdasarkan Tabel 19 tersebut di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata pengalaman sebagai nelayan antara nelayan di Kecamatan Kei Kecil Timur dan Kecamatan Kei Besar Tengah relatif sama yakni memiliki pengalaman sebagai nelayan rata-rata selama 23 tahun. Rata-rata pengalaman sebagai nelayan pada nelayan di Kecamatan Kei Kecil Barat merupakan yang terlama dibandingkan
dengan nelayan pada kecamatan lain. Hal tersebut sangat terkait erat dengan data yang tersedia yakni paling sedikit nelayan di Kecamatan Kei Kecil Barat telah berpengalaman sebagai nelayan, minimal selama 20 tahun dan paling lama atau maksimal selama 50 tahun.
Apabila dibandingkan dengan nelayan di kecamatan lain, maka kondisi ini sangat berbeda jauh. Data ini juga memberikan informasi bahwa pada kecamatan- kecamatan di luar Kecamatan Kei Kecil Barat, sebarannya sangat beragam dalam hal usia nelayan. Hal ini turut memberikan dukungan informasi dari sebaran usia nelayan yang tersebar dari usia remaja/dewasa sampai dengan usia dewasa atau telah matang usianya.
3.2.6 Profesi Sampingan Nelayan
Profesi sampingan nelayan atau aktivitas mencari nafkah selain menangkap ikan di laut, adalah sebagaimana disajikan datanya pada Tabel 20 di bawah ini.
Tabel 20 Profesi sampingan nelayan
Kecamatan
Profesi Sampingan
Total Tidak
Ada Buruh Wirausaha Tani Lainnya
Kei Kecil 2 21 9 15 4 51
Kei Kecil Timur 2 5 4 3 0 14
Kei Kecil Barat 0 5 0 0 2 7
Kei Besar Tengah 3 12 2 9 2 28
Total 7 43 15 27 8 100
Berdasarkan Tabel 20 tersebut di atas, dapat diketahui bahwa profesi sampingan nelayan di 4 kecamatan wilayah penelitian didominasi pada pekerjaan sebagai buruh dan juga sebagai petani. Profesi sampingan sebagai buruh merupakan sebuah pekerjaan lepas, yakni hanya dilakukan bersifat temporer dan dalam jangka waktu tertentu yang relatif singkat. Pekerjaan sebagai buruh dilakukan oleh nelayan pada saat industri-industri yang berada di sekitar wilayahnya, membutuhkan tenaga outsourching tambahan untuk memenuhi kapasitas produksinya. Aktivitas bertani dilakukan oleh nelayan sambil mengisi waktu luang yang tersedia, baik pada saat sepulang berlayar maupun sambil menunggu waktu berlayar untuk mencari atau menangkap ikan. Terdapat 15%
responden yang memiliki profesi sampingan sebagai wirausaha, 8% profesi lainnya, dan 7% berprofesi tunggal sebagai nelayan atau tidak memiliki profesi sampingan selain sebagai nelayan.
3.2.7Tata Niaga
Kegiatan pemasaran ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di Maluku Tenggara pada umumnya dilakukan melalui Tempat Pelelangan ikan (TPI).
Namun demikian tidak semua nelayan menjual hasil tangkapannya melalui TPI.Nelayan yang menjual hasil tangkapannya melalui TPI adalah nelayan yang memperoleh hasiltangkapan dalam jumlah banyak, sedang nelayan yang hasil tangkapannya sedikit biasanya langsung menjual kepada pedagang pengumpul tanpa melalui pelelangan. Selain itu hasil tangkapan nelayan juga terkadang
langsung dijual secara kepada eksportir yang menggunakan kapal-kapal besar untuk dijual ke luar negeri.
Penjualan ikan di pelelangan dipimpin oleh juru lelang yang ditunjuk oleh Kepala TPI. Sistem penawaran lelang dilakukan dengan cara meningkat dan penawar tertinggi akan memperoleh prioritas untuk membeli ikan yang ditawarkan oleh nelayan. Pembayaran dari bakul kepada nelayan dilakukan secara tunai setelah dipotong biaya retribusi yang ditetapkan. Ikan-ikan yang dibeli tersebut kemudian di distribusikan kepada konsumen, baik konsumen yang berada di wilayah Maluku Tenggara maupun konsumen yang berada diluar Maluku Tenggara.
Bakul pengecer memiliki saluran pemasaran yang paling pendek dibandingkan dengan bakul pengolah dan bakul pengumpul. Bakul pengecer menyalurkan ikan kepada konsumen melalui pedagang pengecer, daerah pemasaran ikan-ikan yang dijual bakul pengecer adalah daerah Maluku Tenggara dan sekitarnya. Sedang bakul pengolah menyalurkan ikan-ikan yang dibelinya dari pelelangan kepada para pengolah yang banyak terdapat di daerah tersebut atau mengolah sendiri ikan-ikan yang dibelinya. Bakul pengumpul menyalurkan ikan-ikan yang dibeli dari pelelangan kepada pedagang besar, yang terdapat diluar Maluku Tenggara. Biasanya pedagang pengumpul merupakan agen atau perwakilan pedagang besar. Dari pedagang-pedagang besar, ikan-ikan tersebut di distribusikan lagi kepada pedagang pengecer untuk kemudian dijual kepada konsumen akhir.
Bakul merupakan satuan penjualan ikan tangkap, di mana apabila dikonversi ke dalam satuan kilogram bermakna 1 bakul memiliki nilai ukuran yang sama dengan 30 kilogram. Bakul itu sendiri adalah wadah atau tempat penyimpanan beragam ikan hasil tangkap yang diperoleh nelayan dari hasil melaut untuk kemudian dipasarkan melalui jaringan rantai tata niaga pemasaran yang tersedia.
Penghasilan yang diperoleh nelayan secara umum relatif belum maksimal.Hal terjadi akibat adanya gejala eksploitasi dalam praktik pemasaran dan penerapan sistem bagi hasil. Gejala eksploitasi dalam praktik pemasaran dilakukan pedagang perantara, yaitu bakul atau pengumpul sedangkan gejala eksploitasi dalam bagi hasil dilakukan oleh juragan terhadap ABK. Pasar Tual merupakan pasar terbesar di Kei Kecil, yakni sebagai tempat di mana hasil tangkapan nelayan dipasarkan. Selesai operasi penangkapan, ikan hasil tangkapan kemudian langsung dibawa ke pasar dengan motor tempel yang juga digunakan untuk kegiatan penangkapan. Apabila ada nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan perahu tanpa motor, maka hasil tangkapannya dititipkan pada nelayan yang menggunakan motor tempel dengan ikut menanggung bahan bakar yang diperlukan. Aktivitas ini terjadi secara rutin dari waktu ke waktu dan mengalami puncak kesibukan tertinggi yaitu pada masa panen.
Pendapatan nelayan pemilik dihitung dengan mengurangkan seluruh biaya terhadap nilai hasil tangkapan. Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya investasi, operasi, perawatan dan tenaga kerja. Besarnya biaya penyusutan dan perawatan ditentukan pada persentase pemakaian. Sistem bagi hasil yang berlaku pada umumnya adalah perahu dan jaring, mesin, dan setiap tenaga kerja masing-masing menerima bagian yang sama. Perahu maupun jaring menerima bagian yang sama dengan tenaga kerja. Pembagian ini dihitung dari nilai produksi setelah dikurangi
biaya operasi, baik biaya tetap (fixed cost) maupun biaya variabel (variable cost) yang besarannya berbanding lurus dengan volume ikan hasil tangkap nelayan.
Rantai tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara yang menggambarkan saluran distribusi dan perkembangan harga jual ikan khususnya dalam hal ini adalah ikan layang pada setiap saluran distribusi pemasaran, dapat diilustrasikan pada Gambar 11 di bawah ini.
Ket : =Rantai Pasok Pasar Lokal
=Nilai Keuntungan Margin 1 bakul = 30 Kg
Gambar 11 Tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara
Mengacu pada Gambar 11, maka tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara pada dasarnya semua pihak mengambil keuntungan sebagai selisih antara harga jual dengan harga beli. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa asumsi perkiraan margin keuntungan pada setiap jalur distribusi cukup beragam. Dalam hal ini rantai tata niaga diawali oleh aktivitas penjualan ikan yang dapat dijual secara langsung kepada pedagang pengumpul, maupun terlebih dahulu dijual melalui TPI, terdistribusi sampai ke tangan konsumen akhir.
Harga jual ikan layang pada masa panen dalam volume 30 Kg per-bakul.
Rantai pasok dimulai dari nelayan yang menjual kepada TPI sebesar Rp.200.000 atau Rp.6.667/Kg, kemudian oleh TPI dijual kembali kepada pedagang pengumpul sebesar Rp.230.000 atau Rp.7.667/Kg yang artinya TPI mengambil margin keuntungan sebesar 15% atau Rp.1.000/Kg. Rantai tata niaga kemudian berlanjut yakni aktivitas pemasaran ikan dari pedagang pengumpul kepada pedagang pengecer sebesar Rp.253.000 atau Rp.8.433/Kg artinya pedagang pengumpul mengambil margin keuntungan sebesar 10% (Rp.766/Kg). Aktivitas terakhir dari tata niaga pemasaran ikan adalah dari pedagang pengecer kepada konsumen akhir sebesar Rp.300.000 atau Rp.10.000/Kg dengan margin keuntungan sebesar 18,58% (Rp.1.567/Kg). Rantai tata niaga selain dari pedagang pengumpul kepada pedagang pengecer, dapat juga terjadi dari pedagang
(18,58%) = Rp.1.567/Kg (15%) = Rp.1.000/Kg
Bakul Kecil dan Pedagang Pengumpul
TPI
Bakul Kecil Nelayan
Restoran per-bakul
Rp.200.000 per-bakul
Rp.230.000 per-bakul
Rp.253.000
per-bakul Rp.300.000 per-bakul
Rp.210.000
per-bakul Rp.280.000
Konsumen Akhir Pedagang
Pengecer Pedagang
Pengumpul Rp.6.667/Kg
Rp.10.000/Kg Rp.9.333/Kg
Rp.7.667/Kg Rp.8.433/Kg
Rp.7.000/Kg
(10%) = Rp.667/Kg
(10%) = Rp.766/Kg
(10,67%) = Rp.1.666/Kg
pengumpul kepada konsumen bisnis pengusaha restoran sebesar Rp.280.000 atau Rp.9.333/Kg dan margin keuntungan sebesar 10,67% (Rp.1.666/Kg).
Meskipun harga jual ikan secara langsung dari nelayan kepada pedagang pengumpul lebih besar atau lebih mahal Rp.10.000 per-bakul atau Rp. 333/Kg dibandingkan dijual melalui TPI, namun nelayan membutuhkan biaya operasional khususnya di bidang biaya transportasi yang lebih besar dibandingkan dijual kepada TPI. Hal ini dikarenakan para nelayan harus menjual ikan dalam jumlah yang besar sesuai permintaan pedagang pengumpul, sehingga nelayan membutuhkan sarana transportasi untuk memasarkannya dan hal ini tentu saja memiliki konsekuensi terhadap biaya. Dengan demikian para nelayan pada umumnya lebih memilih memasarkan ikan melalui TPI, karena meski harganya lebih murah namun biaya operasional mereka pun menjadi lebih rendah. Dengan demikian TPI memiliki peranan yang sangat penting dalam kelancaran distribusi pasokan tata niaga ikan dari nelayan sampai dengan ke tangan konsumen.
Adapun gambaran tata niaga dalam hal besar pendapatan rata-rata pada nelayan di empat kecamatan per-hari pada masa non panen sangat beragam dan tidak dapat dipastikan perolehannya. Namun demikian dapat dilakukan dugaan dengan mengacu pada kisaran biaya operasional setiap kali melaut dan hasil tangkapan rata-rata, sehingga dapat diperoleh nilai rata-rata pendapatannya yang merupakan laba atau keuntungan. Hasilnya adalah sebagaimana disajikan datanya pada tabel 21 berikut ini.
Tabel 21 Pendapatan setiap melaut nelayan padaempatKecamatandi Maluku Tenggara
No Kecamatan Rata-rata Pendapatan (Rp)
Maksimum Minimum Rata-rata 1 Kei Kecil (n = 51) 8.925.000 5.260.667 6.451.526 2 Kei Kecil Timur (n = 14) 7.416.667 5.416.667 6.302.071 3 Kei Kecil Barat (n = 7) 8.800.000 5.435.667 6.175.762 4 Kei Besar Tengah (n = 28) 8.925.000 5.456.667 6.251.970
Mengacu pada Tabel 21 tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pendapatan terbesar adalah pada nelayan yang berada di wilayah Kecamatan Kei Kecil, yakni sebesar Rp.6.451.256. Meskipun demikian secara keseluruhan, rata-rata pendapatan per hari nelayan di empat kecamatan penelitian tidak terlalu besar perbedaannya Sesuai dengan hukum permintaan, diketahui bahwa jika pasokan ikan atau hasil tangkapan ikan oleh nelayan mengalami penurunan yang signifikan sedangkan permintaan mengalami peningkatan, maka secara otomatis harga jual ikan akan mengalami peningkatan. Kondisi ini terjadi pada masa-masa di luar panen, yakni antara Mei sampai dengan Desember pada setiap tahunnya. Hasil wawancara dengan nelayan diketahui bahwa khususnya pada ikan layang, pada saat hasil tangkapan ikan secara agregat mengalami penurunan maka harganya bisa mencapai pada kisaran Rp.400.000 hingga Rp.600.000 per-bakul, di mana 1 bakul setara dengan 30 kilogram.
Pada saat pasokan ikan mengalami keterbatasan tersebut, maka terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi terkait kondisi tersebut. Para pelaku pemasaran di saluran distribusi akan memperoleh margin keuntungan yang lebih optimal dari kenaikan harga jual ikan. Namun di sisi lain, hal ini juga berpotensi pada kenaikan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan nelayan. Hal ini disebabkan nelayan perlu mengeluarkan biaya dan tenaga tambahan dalam aktivitas penangkapan ikan. Pada tingkat pengecer, potensi kerugian dapat terjadi dikarenakan biaya transportasi yang telah dikeluarkan tidak dapat memperoleh ikan dengan kuantitas optimal. Harga yang mahal juga berpotensi menimbulkan risiko pada hasil penjualan ikan tidak sesuai harapan.
Masa-masa panen biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan April pada setiap tahunnya. Pada saat panen, hasil tangkapan ikan oleh nelayan melimpah. Sesuai dengan hukum permintaan, bahwa pada saat pasokan agregat mengalami peningkatan sedangkan permintaan agregat cenderung tetap atau bahkan menurun, maka harga jual ikan cenderung akan mengalami penurunan yakni harganya berada pada kisaran Rp.200.000 hingga Rp.300.000 per-bakul.
Komponen biaya operasional nelayan di antaranya adalah biaya makanan atau lauk pauk, makanan ringan, rokok, bensin, solar, minyak tanah, umpan, minyak oli dan perawatan, dan biaya overhead lain yang tidak terduga. Hasil lengkap dari keadaan ini disampaikan sebagai lampiran, pada laporan penelitian ini. Kisaran perolehan keuntungan rata-rata tiap melaut adalah Rp.5.000.000 hingga Rp.8.000.000.
Terkait alat tangkap ikan yang digunakan nelayan di antaranya adalah purse sain atau jaring bobo dan bagan. Purse sain lebih dominan tersedia di wilayah Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Kei Kecil Timur. Sedangkan untuk bagan, selain tersedia di Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Kei Kecil Timur juga tersedia di Kecamatan Kei Kecil Barat dan Kecamatan Kei Besar Tengah.
Kapasitas hasil tangkapan purse sain mampu mencapai hasil maksimal sampai dengan 3 ton ikan. Sedangkan pada bagan kapasitas tangkapannya mencapai hasil maksimal lebih kecil dibandingkan purse sain yakni 2 ton ikan. Purse sain memiliki ukuran berkisar antara 150- 200 meter untuk ukuran kecil dan 200-600 meter untuk ukuran besar. Bagan memiliki ukuran panjang 17-24 meter x 12-16 meter, sedangkan untuk ukuran kecil adalah 12 x 15 meter.
Hasil analisis margin tata niaga sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah hasil analisis secara keseluruhan pada aktivitas setiap kali tangkap ikan, belum tergambarkan dengan jelas gambaran bagi hasil antara pemilik alat tangkap (juragan) dengan anak buah kapal. Mekanisme bagi hasil antara juragan dengan anak buah kapal adalah perolehan hasil tangkap dibagi dua secara merata. Jumlah tenaga kerja pada pure sain berkisar antara 7-15 orang, sedangkan pada bagan berkisar antara 4-7 orang. Sehingga dengan demikian hasil yang diperoleh oleh nelayan selama 1 bulan (asumsi 20 hari kerja) setelah dibagi dua dengan juragan, adalah sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
Tabel 22 Pendapatan nelayan per bu pada empat
No Kecamatan
1 Kei Kecil 2 Kei Kecil Timur 3 Kei Kecil Barat 4 Kei Besar Tengah
Hasil produksi perikanan
sebesar 57% dari volume hasil tangkap melalui pelabuhan perikanan nasional di Tual dan sisanya dipasarkan secara langsung
kepada kapal-kapal penampung dari luar yang membeli ikan hasil tangkapan nelayan langsung di laut.
dilaksanakan oleh pedagang pengumpul yang bermukim di desa dipasarkan di pasar lokal di wilayah Maluku Tenggara.
Maluku Tenggara jumlahnya tidak banyak, dan pada umumnya m merupakan pedagang pengumpul untuk jenis ikan kecil.
Mengacu pada Berita Resmi Statistik Tahun 2012 diketahui bahwa sementara ekspor Maluku bulan Januari 2012
16.135.571,00 kg atau sekitar 16,14 ribu ton. Nilai ek sebesar US$10.649.360. Ekspor Maluku pada awal tahun 2012 dari kelompok komoditi ikan
antara lain:
Ikan beku lainnya (US$7,31 juta);
Udang kecil dan udang biasa lainnya
Udang kecil dan udang biasa lainnya beku tanpa kepala (US$0,68 juta);
Filletbeku ikan tuna, cakalang atau
Cumi lainnya beku (US$0,49 juta);
Udang kecil dan udang biasa lainnya beku
lainnya (US$0,26 juta).
Adapun nilai ekspor Maluku menurut Negara tujuan ekspornya adalah sebagaimana disajikan pada gambar 12 di bawah ini
endapatan nelayan per bulan (20 hari kerja) pada empat Kecamatan di Maluku Tenggara
Kecamatan Rata-rata Pendapatan (Rp) Maksimum Minimum Rata (n = 51) 9.836.667 5.907.407 8.107.729 (n = 14) 9.821.429 7.738.095 8.729.642 (n = 7) 9.777.778 7.765.238 8.621.547 Kei Besar Tengah (n = 28) 9.990.000 8.753.750 9.402.900
produksi perikanan skala besar dipasarkan keluar negeri
sebesar 57% dari volume hasil tangkap melalui pelabuhan perikanan nasional di dan sisanya dipasarkan secara langsung di laut oleh nelayan-nelayan kecil
kapal penampung dari luar yang membeli ikan hasil tangkapan nelayan langsung di laut. Pemasaran hasil tangkapan nelayan tradisional dilaksanakan oleh pedagang pengumpul yang bermukim di desa-desa nelayan dan dipasarkan di pasar lokal di wilayah Maluku Tenggara. Pedagang pengumpul di Maluku Tenggara jumlahnya tidak banyak, dan pada umumnya m merupakan pedagang pengumpul untuk jenis ikan kecil.
Mengacu pada Berita Resmi Statistik Tahun 2012 diketahui bahwa sementara ekspor Maluku bulan Januari 2012 memiliki volume ekspor sebesar
kg atau sekitar 16,14 ribu ton. Nilai ekspor bulan Januari 2012 sebesar US$10.649.360. Ekspor Maluku pada awal tahun 2012 seluruhnya berasal dari kelompok komoditi ikan dan udang, dengan komoditi spesifik mencakup
kan beku lainnya (US$7,31 juta);
dang kecil dan udang biasa lainnya beku dengan kepala (US$0,90 juta);
dang kecil dan udang biasa lainnya beku tanpa kepala (US$0,68 juta);
beku ikan tuna, cakalang atau stripe‐bellied bonito (US$0,57 juta);
umi lainnya beku (US$0,49 juta);
dang kecil dan udang biasa lainnya beku (US$0,44 juta); dan lainnya (US$0,26 juta).
Adapun nilai ekspor Maluku menurut Negara tujuan ekspornya adalah sebagaimana disajikan pada gambar 12 di bawah ini :
rata Pendapatan (Rp) Rata-rata
8.107.729 8.729.642 8.621.547 9.402.900 keluar negeri (ekspor) sebesar 57% dari volume hasil tangkap melalui pelabuhan perikanan nasional di nelayan kecil kapal penampung dari luar yang membeli ikan hasil tangkapan
Pemasaran hasil tangkapan nelayan tradisional desa nelayan dan Pedagang pengumpul di Maluku Tenggara jumlahnya tidak banyak, dan pada umumnya mereka Mengacu pada Berita Resmi Statistik Tahun 2012 diketahui bahwa Angka me ekspor sebesar spor bulan Januari 2012
seluruhnya berasal dan udang, dengan komoditi spesifik mencakup
beku dengan kepala (US$0,90 juta);
dang kecil dan udang biasa lainnya beku tanpa kepala (US$0,68 juta);
bonito (US$0,57 juta);
Adapun nilai ekspor Maluku menurut Negara tujuan ekspornya adalah
Gambar 12 Nilai Ekspor Maluku Menuru
Seluruh aktivitas ekspor Maluku pada Januari 2012 dilakukan melalui Pelabuhan Ambon dan Pelabuhan Tual dengan 9 negara tujuan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 12
dengan nilai ekspor mencapai US$6,04 juta. Komposisi Maluku bulan Januari menurut pelabuhan muat
Gambar 13 di bawah ini.
Gambar 13 Volume dan Nilai Ekspor
Angka sementara ekspor komoditi asal Maluku
Maluku pada bulan Januari 2012 adalah volume ekspor sebesar 0,17 ribu ton.
Nilai ekspor komoditi asal Maluku bulan Januari 2012
Ekspor komoditi asal Maluku namun yang diekspor dari luar Maluku melalui Pelabuhan Tanjung Perak
2012 ini datang dari kelompok komoditi ikan dan udang, serta kelompok komoditi biji‐bijian berminyak. Komoditi
Ikan tuna sirip kuning beku (US$0
Fillet ikan tuna loin lainnya beku (US$0,39 juta); dan
Rumput laut dan ganggang lainnya
Mengacu pada data sebagaimana disajikan pada Gambar 13 dapat diketahui bahwa pada pelabuhan
yang tertinggi dibandingkan pada pelabuhan Ambon.
bahwa kapasitas produksi ikan di Maluku Tenggara telah mampu memberikan kontribusi nyata dalam transaksi perdagangan ekspor di wilayah Maluku secara luas. Adapun kontribusi secara lebih terperinci untuk setiap jenis ikan tangkap di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, belum dapat dilakukan penelaahan lebih lanjut. Hal ini disebabkan data kontribusi volume dan nilai ekspor tersedia secara simultan terintegrasi dari data s
Transaksi perdagangan ekspor tersebut dapat memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah Maluku khususnya di Kabupaten Maluku Tenggara.
terindikasi dari data menurut BPS (2012) bahwa secara sektoral, sub sek perikanan memberikan kontribusi yang nyata terhadap sektor perikanan dalam Produk Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara. Pada Tahun 2011
Nilai Ekspor Maluku Menurut Negara Tujuan Ekspor Januari 2011 (US$)
itas ekspor Maluku pada Januari 2012 dilakukan melalui Pelabuhan Tual dengan 9 negara tujuan sebagaimana Gambar 12. Thailand menjadi negara tujuan ekspor utama dengan nilai ekspor mencapai US$6,04 juta. Komposisi volume dan nilai ekspor Maluku bulan Januari menurut pelabuhan muat adalah seperti digambarkan pada
Volume dan Nilai Ekspor Maluku Menurut Pelabuhan Ekspor Januari 2011 (US$)
Angka sementara ekspor komoditi asal Maluku yang diekspor dari 2012 adalah volume ekspor sebesar 0,17 ribu ton.
Nilai ekspor komoditi asal Maluku bulan Januari 2012 sebesar US$0,94 juta.
Ekspor komoditi asal Maluku namun yang diekspor dari luar Maluku (dimuat Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur). Pada awal tahun datang dari kelompok komoditi ikan dan udang, serta kelompok komoditi bijian berminyak. Komoditi spesifik dari kedua kelompok komoditi adalah
Ikan tuna sirip kuning beku (US$0,50 juta);
Fillet ikan tuna loin lainnya beku (US$0,39 juta); dan
Rumput laut dan ganggang lainnya eucheuma spp. (US$0,05 juta).
Mengacu pada data sebagaimana disajikan pada Gambar 13 dapat diketahui bahwa pada pelabuhan Tual memiliki berat atau volume dan nilai ekspor yang tertinggi dibandingkan pada pelabuhan Ambon. Hal ini menjadi indikator bahwa kapasitas produksi ikan di Maluku Tenggara telah mampu memberikan kontribusi nyata dalam transaksi perdagangan ekspor di wilayah Maluku secara ribusi secara lebih terperinci untuk setiap jenis ikan tangkap di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, belum dapat dilakukan penelaahan lebih Hal ini disebabkan data kontribusi volume dan nilai ekspor tersedia secara simultan terintegrasi dari data setiap kabupaten sehingga menjadi data provinsi.
Transaksi perdagangan ekspor tersebut dapat memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah Maluku khususnya di Kabupaten Maluku Tenggara. Hal ini terindikasi dari data menurut BPS (2012) bahwa secara sektoral, sub sek perikanan memberikan kontribusi yang nyata terhadap sektor perikanan dalam Produk Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara. Pada Tahun 2011 itas ekspor Maluku pada Januari 2012 dilakukan melalui Pelabuhan Tual dengan 9 negara tujuan sebagaimana telah negara tujuan ekspor utama ekspor adalah seperti digambarkan pada
Maluku Menurut Pelabuhan Ekspor
yang diekspor dari luar 2012 adalah volume ekspor sebesar 0,17 ribu ton.
sebesar US$0,94 juta.
dimuat ada awal tahun datang dari kelompok komoditi ikan dan udang, serta kelompok komoditi
adalah:
Mengacu pada data sebagaimana disajikan pada Gambar 13 dapat nilai ekspor Hal ini menjadi indikator bahwa kapasitas produksi ikan di Maluku Tenggara telah mampu memberikan kontribusi nyata dalam transaksi perdagangan ekspor di wilayah Maluku secara ribusi secara lebih terperinci untuk setiap jenis ikan tangkap di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, belum dapat dilakukan penelaahan lebih Hal ini disebabkan data kontribusi volume dan nilai ekspor tersedia secara
etiap kabupaten sehingga menjadi data provinsi.
Transaksi perdagangan ekspor tersebut dapat memicu pertumbuhan Hal ini terindikasi dari data menurut BPS (2012) bahwa secara sektoral, sub sektor perikanan memberikan kontribusi yang nyata terhadap sektor perikanan dalam Produk Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara. Pada Tahun 2011
tercatat sub sektor perikanan mampu memberikan kontribusi sebesar 22,88%
terhadap sektor pertanian, dan sektor pertanian itu sendiri memberi kontribusi sebesar 37,68% terhadap PDRB Kabupaten Maluku Tenggara.
Subsektor Perikanan sangat besar kontribusinya di Kecamatan Kei Kecil, namun berdasarkan data BPS (2012) diketahui bahwa masih didominasi oleh nelayan tradisional.Hal itu terlihat dari perahu yang digunakan, yang sebagian besar Perahu tak bermotor, dan alat penangkapan ikan utama yang digunakan yaitu Pancing. Produksi Ikan Laut pada Kecamatan Kei Kecil selama tahun 2011 sebesar 10.547,1 ton (BPS Maluku Tenggara, 2012).
Berdasarkan pada data BPS (2012), subsektor Perikanan sangat besar kontribusinya di Kecamatan Kei Kecil Timur, dengan produksi Ikan Laut di Kecamatan Kei Kecil Timur selama tahun 2009 sebesar 6.471 Ton. Pada Kecamatan Kei Kecil Barat, produksi ikan selama tahun 2011 adalah sebesar 5.461,40 Ton. Pada Kecamatan Kei Besar Tengah produksi ikan selama tahun 2011 sebesar 9.914,2 Ton.
Secara Sektoral, sektor Pertanian adalah penyumbang terbesar dalam perekonomian daerah Maluku Tenggara dengan sub sektor andalannya yakni Perikanan. Pada tahun 2011 kontribusi Sektor Pertanian sebesar 37,68% dengan konstribusi terbesar dari sub sektor Perikanan terhadap PDRB Maluku Tenggara yakni sebesar 22,88% (Rp.113.542,45/Rp.496.306,63 x 100%). Data lengkap PDRB berdasarkan lapangan usaha pertanian, adalah sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
Tabel 23 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara menurut lapangan usaha pertanian atas dasar harga berlaku
2009 – 2011[Jutaan / Million Rp]
Lapangan Usaha
S e c t o r 2009 2010* 2011**
1 2 3 4
I. Pertanian Agriculture
a. Tanaman Bahan Makanan Farm Food Crops b. Tanaman Perkebunan
Non Food Crops
c. Peternakan & Hasil-hasilnya Livestock & Products d. Kehutanan
Forestry e. Perikanan
Fishery
153.253,15
40.140,21 15.035,13 2.729,16 4.043,90 91.304,74
164.390,27
42.701,85 16.356,25 2.900,36 3.707,94 98.723,87
186.989,92
47.273,77 18.174,99 3.447,04 4.551,67 113.542,45
Sumber: BPS Maluku Tenggara (2012)
Mengacu pada Tabel 23 diketahui bahwa dari keempat wilayah Kecamatan lokasi penelitian, dapat diketahui bahwa terkait distribusi pemasaran ikan pada Kecamatan Kei Kecil Barat memiliki nilai rata-rata paling kecil dibandingkan pada kecamatan lainnya. Pada kecamatan ini, waktu yang dibutuhkan pada saat menjual ikan di saluran distribusi menjadi lebih lama dibandingkan pada kecamatan lainnya. Hal ini dikarenakan nelayan harus melewati laut sebagaimana posisinya yang tidak berada dalam satu pulau, atau terpisah, sehingga terjadi disparitas antar wilayah.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi disparitas khususnya di bidang tata niaga pemasaran ikan, di antaranya sebagai berikut:
a. Pemerataan investasi
Dengan mendorong pemerataan investasi yang terjadi pada semua sektor, maka semua wilayah secara simultan akan berkembang infrastrukturnya.
Dengan terjadinya perkembangan infrastruktur yang baik, maka akan turut meminimalisir disparitas dalam rantai distribusi pemasaran ikan.
b. Pemerataan permintaan
Untuk mengoptimalkan perolehan margin pada setiap rantai dalam saluran distribusi pemasaran, maka diperlukan adanya pemerataan permintaan dengan cara mengembangkan indsutri dan wilayah secara simultan. Dengan demikian kondisi ini bisa menciptakan permintaan-permintaan untuk tiap produk ikan tangkap nelayan.
c. Pemerataan tabungan
Tabungan sangat diperlukan agar dapat menstimulus investasi bagi pengembangan pemasaran ikan nelayan. Jika jumlah tabungan di suatu wilayah meningkat, maka potensi investasi juga akan meningkat.
Beberapa upaya tersebut di atas dapat diinisiasi oleh Pemerintah pusat maupun Daerah, dengan melibatkan seluruh stakeholder bagi pengembangan pembangunan wilayah perdesaan di Maluku Tenggara. Optimalisasi pengembangan wilayah perdesaan akan sangat terkait dengan kondisi tingkat
pengeluaran per kapitanya. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi pemerintah pusat maupun daerah, dalam memfokuskan wilayah mana yang perlu lebih diprioritaskan pengembangan pembangunannya.
Tabel 24 Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menurut Kabupaten/Kota 2010-2011
Kabupaten/ Kota 2010 2011
Maluku Tenggara Barat 411.011 499.587
Maluku Tenggara 422.240 572.021
Maluku Tengah 490.709 745.708
Buru 460.063 782.000
Kepulauan Aru 378.104 739.413
Seram Bagian Barat 429.637 570.014
Seram Bagian Timur 442.948 771.037
Maluku Barat Daya 319.637 531.713
Buru Selatan 507.954 584.593
Ambon 839.144 1.114.681
Tual 397.661 676.578
Sumber: BPS Maluku Tenggara (2012)
Mengacu pada data pada Tabel 24, diketahui bahwa rata-rata pengeluaran per Kapita sebulan pada Kabupaten Maluku Tenggara masih relatif rendah, yakni Rp.422.240 pada tahun 2010 dan Rp.572.021 pada Tahun 2011, atau meningkat sebesar 35,47%. Meskipun mengalami kenaikan, namun rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk wilayah Maluku Tenggara masih jauh lebih rendah jika dibandingkan Ambon maupun Maluku.
Kontribusi sub sektor perikanan terhadap PDRB Maluku Tenggara yang mampu mencapai 22,88%, perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah, dalam upaya meningkatkan pengembangan pembangunan wilayah perdesaaannya berbasis perikanan. Berbagai kebijakan dan program- program pengembangan pembangunan wilayah perdesaan di wilayah Maluku Tenggara berbasis sektor pertanian khususnya pada sub sektor perikanan, dapat dilakukan secara mendalam dengan memperhatikan kondisi faktor-faktor internal dan eksternalnya.
Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah sangat tergantung dari keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi di wilayahnya, dalam hal ini pada Kabupaten Maluku Tenggara adalah sektor perikanan. Sebagai sebuah nilai strategis, sektor perikanan memacu atau menjadi pendorong utama pertumbuhan daerah-daerah yang ada di wilayahnya. Dengan demikian optimalisasi pemasaran ikan khususnya ikan tangkap memiliki relevansi erat dalam kerangka konseptual pembangunan wilayah yang digunakan secara luas, di samping sektor-sektor lainnya. Permintaan terhadap input dapat meningkat melalui perluasan permintaan terhadap output yang diproduksi oleh sektor basis (ekspor) dan sektor non-basis (lokal atau services). Permintaan terhadap produksi sektor lokal hanya dapat meningkat jika pendapatan lokal meningkat. Peningkatan pendapatan akan terjadi jika sektor basis (ekspor) meningkat. Dengan demikian optimalisasi pemasaran ikan tangkap secara basis dan non-basis merupakan faktor penentu dalam pembangunan ekonomi bagi pembangunan wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara.
Rustiandi, dkk (2011) menjelaskan bahwa arus pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi industri basis akan meningkatkan investasi, kesempatan kerja, pendapatan dan konsumsi, pada gilirannya akan menaikkan pendapatan dan kesempatan kerja serta menaikkan permintaan hasil industri non basis. Hal ini berarti kegiatan industri basis memiliki peranan penggerak utama di mana setiap perubahan kenaikan atau penurunan memiliki efek pengganda terhadap perekonomian wilayah.
Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan juga menuntut perlakuan dan cara pandang yang berbeda untuk berbagai karakteristik sumberdaya alam. Laut merupakan sumberdaya alam yang bersifat esensial selain lahan, udara, hutan, dan lain sebagainya. Berbagai sumberdaya alam ini bersifat melekat dengan posisi atau lokasi di atas permukaan bumi. Oleh karenanya inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam memerlukan pendekatan geografik serta memerlukan pendekatan dan analisis spasial.
Pengelolaan sumberdaya alam sangat ditentukan oleh sikap mental dan cara pandang manusia terhadap sumberdaya alam tersebut. Pandangan yang konservatif terhadap sumberdaya alam menyebabkan sikap manusia yang sangat berhati-hati di dalam memanfaatkan sumberdaya alam, karena manusia dihadapkan pada ketidakpastian masa depan. Pandangan lainnya adalah pandangan eksploitatif, yakni memandang sumberdaya alam sebagai mesin pertumbuhan. Potensi ikan tangkap di wilayah Maluku Tenggara yang melimpah perlu dieksploitasi secara bijak, artinya mengoptimalkan keberadaannya secara efektif namun dengan tetap menjaga kelestariannya bagi keberlangsungan hidup manusia di masa depan.
3.3 Analisis Faktor Internal dan Eksternal
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian yang mendalam terhadap kondisi obyektif wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, baik dari perspektif potensi daerah maupun potensi nelayan, selanjutnya adapat diuraikan analisis faktor internal dan eksternal. Hal tersebut sebagai landasan untuk menetapkan strategi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara.
Pengembangan wilayah di Maluku Tenggara harus memanfaatkan seluruh sumberdayayang dimilikinya.Sampai pada tahap tertentu, bisa saja sumberdaya yang dimiliki menjadi langka. Identifikasi faktor internal dan eksternal ini dapat memberikan alternatif solusi keyakinan bahwa kelangkaan sumberdaya akan memacu perkembangan teknologi untuk menanggulanginya.
Peningkatan pendapatan masyarakat nelayan akan saling mendukung dengan pengembangan wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara. Pengelolaannya akan selalu berhadapan dengan berbagai bentuk permasalahan sumberdaya sebagaimana diidentifikasi dalam aspek internal dan eksternal. Identifikasi faktor internal dan eksternal akan mampu memetakan secara jernih kondisi sebenarnya pada masyarakat nelayan dan kondisi wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara.
Proses pembangunan yang telah dilaksanakan saat ini tak pelak lagi memiliki efek samping negatif yang cukup kompleks, di antaranya adalah kesenjangan-kesenjangan pembangunan antarwilayah yang cukup besar. Investasi dan dan sumberdaya lebih terserap dan terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan