DAFTAR LAMPIRAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.3 Analisis Faktor Internal dan Eksternal
3.3.1 Faktor Internal
Faktor internal terdiri dari kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). Faktor kekuatan meliputi: a) Wilayah atau daerah penangkapan ikan yang luas; b) Kuantitas ketersediaan alat dan armada tangkap ikan yang mencukupi, sehingga mampu menjaga kelancaran pasokan ikan di pasar; c) Kemampuan produksi ikan tangkap yang baik; d). Memiliki potensi sumber daya ikan yang melimpah; f). Memiliki pulau–pulau besar dan kecil yang dapat menjadi daya dukung pemasaran ikan dan pengembangan wilayah.
Faktor kelemahan meliputi: a) daya saing perekonomian daerah dan Kualitas sumber daya manusia yang masih rendah; b). Kesenjangan pembangunan antar wilayah; c). Infrastruktur (sarana dan prasarana) yang belum memadai(hubungan antara pusat ibu kota kabupaten dengan wilayah belakangnya belum semuanya terhubung); d) Belum berkembangnya prasarana, kelembagaan dan sistem manajemen perikanan; e) Promosi potensi perikanan laut yang tidak berkesinambungan dan terbatas ruang lingkup maupun media yang digunakan; 6) Kualitas pelayanan publik yang belum terselenggara secara optimal.
3.3.1.1 Kekuatan
a. Wilayah atau daerah penangkapan ikan yang luas
Nelayan Kecamatan Kei Kecil melakukan penangkapan ikan di daerah penangkapan yang merupakan wilayah perairan di sekitarnya. Luas Perairan pada batas surut terendah hingga 4 mil laut di Kecamatan Kei Kecil adalah seluas 432,30 km2. Nelayan melakukan aktivitas penangkapan hingga pada
batas wilayah perairan 4-12 mil laut dengan luas perairan 116,20 km2. Sehingga, perairan yang dijadikan sebagai daerah penangkapan ikan adalah seluas 548,50 km2.
Perairan sekitar Kecamatan Kei Kecil Timur yang menjadi daerah penangkapan ikan pada wilayah 0-4 mil laut adalah seluas 158,39 km2. Nelayan-nelayan terkadang memgoperasikan alat tangkap hingga pada wilayah 4-12 mil laut (wilayah kelola Provinsi Maluku), yang memiliki luas 177,42 km2. Dengan demikian, sumberdaya ikan dapat dimanfaatkan melalui aktifitas operasi penangkapan ikan pada daerah penangkapan ikan seluas 335,81 km2.
Daerah penangkapan ikan di Kecamatan Kei Kecil Barat mencakup perairan di sekitarnya pada batas wilayah 0-4 mil laut, dengan luas 847,96 km2. Namun mengoperasikan alat penangkap ikan hingga di luar batas wilayah perairan tersebut hingga pada wilayah perairan 4-12 mil laut yang merupakan wilayah kelola Provinsi Maluku yang luasnya 1.236,96 km2.Dengan demikian, daerah penangkapan ikan bagi nelayan adalah perairan di sekitarnya seluas 2.084,92 km2.
Luas daerah penangkapan ikan di sekitar Kecamatan Kei Besar pada wilayah perairan 0-4 mil laut adalah 781,38 km2dan pada wilayah perairan 4- 12 mil laut yang merupakan wilayah kelola Provinsi Maluku adalah 1.250,40 km2. Semua perairan ini dapat dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan ikan oleh nelayan-nelayan setempat, seluas 2.031,78 km2yang ada di sekitarnya.
Iklim di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara pada umumnya dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura, dan Samudera Indonesia yang dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan, sehingga perubahan iklim dapat terjadi sewaktu-waktu. Adapun tipe iklim berdasarkan klasifikasi agroklimat, Kabupaten Maluku Tenggara termasuk dalam zona agroklimat C2 di mana bulan basah terjadi selama 5-6 bulan dan bulan kering terjadi selama 4-5 bulan.
Kondisi obyektif tersebut di atas menjadi dasar arah pembangunan Kabupaten Maluku Tenggara ke depan, yakni memprioritaskan peningkatan kapasitas kelembagaan daerah, memberdayakan ekonomi rakyat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membangun infrastruktur. Prioritas pembangunan tersebut akan menjadi tumpuan perekonomian Kabupaten Maluku Tenggara masa depan yang terus digali, dikembangkan dan ditingkatkan.
Rustiandi, dkk (2011) menjelaskan bahwa paradigma baru saat ini meyakini bahwa pembangunan harus diarahkan kepada terjadinya pemerataan (equity), pertumbuhan (eficiency), dan keberlanjutan (sustainability) yang berimbang dalam pembangunan ekonomi. Paradigma baru pembangunan ini dapat mengacu kepada dalil kedua fundamental ekonomi kesejahteraan (the second fundamental of welfare economics), di mana dalil ini menyatakan bahwa sebenarnya pemerintah dapat memilih target pemerataan ekonomi yang diinginkan melalui transfer, perpajakan dan subsidi, sedangkan ekonomi selebihnya dapat diserahkan kepada mekanisme pasar.
Skala prioritas pembangunan yang cenderung mengejar sasaran-sasaran makro pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai ketidakseimbangan pembangunan berupa menajamnya disparitas spasial, kesenjangan desa-kota,
kesenjangan struktural, dan lain sebagainya.Pendekatan makro juga cenderung mengabaikan plurality akibat keragaman sumber daya alam maupun sosial budaya.Pergeseran paradigma pembangunan spasial terutama menyangkut konsep strategi kutub pertumbuhan penetesan dampak ke daerah belakang, ternyata efek bersihnya malah menimbulkan massive backwash effect.Sehingga dengan demikian pembangunan wilayah perdesaan di Maluku Tenggara, harus memperhatikan aspek-aspek mikro dalam menunjang asumsi makro.Salah satunya adalah potensi sumber daya ikan yang melimpah dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sebagaimana disajikan pada Gambar 14.
Gambar 14 Peta potensi sumber daya ikan di Kabupaten Maluku Tenggara
b. Kuantitas ketersediaan alat dan armada tangkap ikan yang mencukupi Alat penangkap ikan yang terdata di Kecamatan Kei Kecil berjumlah 1.943 unit, terdiri dari sedikitnya 13 jenis dan alat tangkap lainnya. Pemanfaatan sumberdaya ikan melalui aktifitas penangkapan ikan, didominasi oleh penggunaan pancing ulur (hand line) sebesar 21,31 % diikuti oleh pancing tegak sebesar 14,77%, sementara pukat cinsin (purse seine) hanya 0,31 % dan sero tancap (set net) hanya 0,1%, Pada wilayah Kecamatan Kei Kecil, ada 845 kapal/perahu yang digunakan oleh para nelayan untuk mengoperasikan alat penangkap ikan. Armada penangkap ikan di kecamatan ini terdiri dari kapal atau perahu tanpa motor sebanyak 647 unit (76,57 %) dan kapal atau perahu motor tempel sebanyak 196 unit (23,20 %) dan hanya 2 unit (0,24 %) adalahkapal motor.
Pada Kecamatan Kei Kecil Timur ada 1.512 unit alat penangkap ikan yang terdiri dari 7 jenis ditambah alat pengumpul teripang, pengumpul kerang dan alat lainnya.Alat-alat penangkap ikan ini tersebar di 29 desa atau dusun yang terdapat di wilayah Kecamatan Kei Kecil. Armada penangkapan ikan di Kecamatan Kei Kecil Timur berjumlah 541 unit yang terdiri dari kapal atau perahu tanpa motor sebanyak 417 unit (77,08 %), kapal atau perahu motor tempel sebanyak 120 unit (22,18 %) dan kapal motor sebanyak 4 unit (0,74%).
Jenis dan jumlah alat tangkap yang digunakan para nelayan di wilayah Kecamatan Kei Kecil Barat, secara sederhana dapat memberikan informasi indikasi penggunaan teknologi penangkapan ikan dan kemampuan produksi ikan hasil tangkapan yang berasal dari sana. Jumlah alat penangkap ikan di Kecamatan Kei Kecil Barat sebanyak 1.670 unit, alat tersebut didominasi oleh alat tangkap pancing (angling gear), yakni pancing tegak (vertical line) 19,64%, pancing ulur (hand line) 18,92%, pancing tonda 16,05% dan pancing lainnya 17,84%.
Jumlah kapal atau perahu penangkap ikan di Kecamatan Kei Kecil Barat berjumlah 543 unit terdistribusi di 10 desa. Armadanya terdiri dari kapal/perahu tanpa motor sebanyak 231 unit (42,54 %), kapal/perahu motor tempel sebanyak 223 unit (41,07 %) dan kapal motor 89 unit (16,39 %). Kemampuan produksi perikanan sangat tergantung selain dari jenis, jumlah dan dimensi alat tangkap, juga dari aktifitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan yakni frekuensi operasi penangkapan dan musim penangkapan. Kemampuan tangkap jenis alat penangkapan ikan di Kecamatan Kei Kecil Barat, ternyata sangat bervariasi yakni rata-rata berkisar antara 1 kg/trip sampai 60 kg/trip. Keragaman kemampuan tangkap jenis alat penangkapan ikan ini merupakan sebuah keunggulan, meskipun sifatnya masih relatif dan tidak dapat dipastikan keakuratannya.
Terdata sebanyak 10 jenis alat penangkap ikan dan alat lainnya dipergunakan oleh para nelayan di Kecamatan Kei Besar. Aktifitas menangkap ikan lainnya seperti dengan menggunakan pengumpul kerang dan teripang terutama ditemukan di desa Udar, Bombai, Weer Frawaf, Mun, Mun Ohoiir, Mun Kahar, Mun Werfan, Ohoiel dan Ohoiwait. Armada penangkapan ikan di Kecamatan Kei Besar berjumlah 1.444 unit terdiri dari kapal tanpa motor 1.281 unit (88,71 %), kapal/motor tempel sebanyak 162 unit (11,22 %) dan kapal motor hanya 1 unit (0,07 %) yakni di desa/dusun Wakol. Jumlah kapal/perahu paling banyak di desa Elat sebanyak 44 unit (3,05 %), diikuti oleh desa Elat sebanyak 41 unit (2,84 %), di desa Waur tidak terdata adanya kapal penangkap ikan.
Gambar 15 Peta sebaran alat dan armada penangkapan c. Memiliki Potensi Sumber Daya Ikan Melimpah
Jenis-jenis sumberdaya ikan pelagis kecil ekonomis penting yang terdapat di Kecamatan Kei Kecil antara lain, ikan teri (Stolephorus spp.), ikan selar (Selaroides spp.), ikan layang (Decapterus spp.), ikan kembung (Rastrelliger spp.), ikan tembang (Sardinela spp.), ikan terbang (Cypsilurus spp.) dan lain sebagainya. Kepadatan sumberdaya ikan pelagis kecil sebagaimana terdeteksi dengan teknik hidroakustik di perairan kecamatan ini adalah berkisar dari 1,547 - 117,200 individu/km2 atau 0.12 - 8.79 ton/km2, dengan nilai rata-rata sebesar 37,779 indivdu/km2 atau 2.83 ton/km2. Kecamatan Kei Kecil memiliki perairan seluas 701,02 km2.Pada luas perairan ini, biomassa sumberdaya ikan pelagis kecil adalah sebesar 1,984 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang dibolehkan (JTB) sebesar 794 ton/tahun.
Jenis-jenis sumberdaya ikan pelagis kecil ekonomis penting yang terdapat di Kecamatan Kei Kecil Timur antara lain, ikan teri (Stolephorus spp.), ikan layang (Decapterus spp.), ikan kembung (Rastrelliger spp.), ikan selar (Selaroides spp.), ikan tembang (Sardinela spp.), ikan terbang (Cypsilurus spp.) dan lain sebagainya. Jenis-jenis sumberdaya ikan pelagis kecil ekonomis penting yang terdapat di Kecamatan Kei Kecil Barat antara lain, ikan teri (Stolephorus spp.), ikan layang (Decapterus spp.), ikan kembung (Rastrelliger spp.), ikan selar (Selaroides spp.), ikan tembang (Sardinela spp.), ikan terbang (Cypsilurus spp.) dan lain sebagainya.
Jenis-jenis ikan pelagis besar yang dominan dijumpai di perairan Kecamatan Kei Kecil adalah ikan madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tongkol (Euthynus affinis, Auxis thazard) dan lainnya. Ikan cakalang memiliki nilai JTB tertinggi (65,90 ton/tahun), kemudian diikuti oleh JTB ikan tongkol (38,14 ton/tahun) dan madidihang (23,57 ton/tahun). Jenis-jenis ikan pelagis besar yang dominan dijumpai di perairan Kecamatan Kei Kecil Timur adalah ikan madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tongkol (Euthynus affinis, Auxis thazard) dan lainnya. Ikan cakalang memiliki nilai JTB tertinggi (54,26 ton/tahun), kemudian diikuti oleh JTB ikan tongkol (31,40 ton/tahun) dan madidihang (19,41 ton/tahun). Jenis-jenis ikan pelagis besar yang dominan dijumpai di perairan Kecamatan Kei Kecil Barat adalah ikan madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tongkol (Euthynus affinis, Auxis thazard) dan lainnya. Ikan cakalang memiliki nilai JTB tertinggi (127,06 ton/tahun), diikuti oleh JTB ikan tongkol (73,53 ton/tahun), JTB terendah dijumpai pada ikan madidihang (45,45 ton/tahun).
Jenis-jenis sumberdaya ikan demersal ekonomis penting yang terdapat di Kecamatan Kei Kecil antara lain, ikan baronang, sikuda, lencam, bambangan, kerapu, kakap merah dan lain-lain. Kepadatan sumberdaya ikan demersal di Kecamatan Kei Kecil ini berkisar dari 2,479 - 84,730 individu/km2atau 0.25 - 8.47 ton/km2, dengan nilai rata-rata sebesar 30,113 individu/km2 atau 3.01 ton/km2. Kecamatan ini memiliki wilayah batimetri 0-200 m seluas 547 km2, dengan demikian, biomassa ikan demersal pada luas luas wilayah perairan tersebut dihitung sebesar 1,646 ton per tahun dengan JTB sebesar 658 ton per tahun. Jenis-jenis sumberdaya ikan demersal ekonomis penting yang terdapat di Kecamatan Kei Kecil Timur antara lain, samandar, sikuda, lencam, bambangan, kerapu dan lain-lain. Kepadatan sumberdaya ikan demersal di perairan ini adalah berkisar dari 0,10-8,13 ton/km2 dengan nilai rata-rata sebesar 3,07 ton/km2, sementara wilayah Batimetri 0-200 m seluas 263 km2. Dengan demikian, pada luas wilayah perairan tersebut biomassa ikan demersal dihitung sebesar 808 ton per tahun dengan JTB sebesar 323 ton per tahun.
Kepadatan sumberdaya ikan demersal di Kecamatan Kei Kecil berkisar2,479-84,730 individu/km2 atau 0.25-8.47 ton/km2, nilai rata-rata sebesar 30,113 individu/km2 atau 3,01 ton/km2. Kecamatan ini memiliki wilayah batimetri 0-200 m seluas 547 km2, dengan demikian, biomassa ikan demersal pada luas luas wilayah perairan tersebut dihitung sebesar 1,646 ton/tahun dengan JTB sebesar 658 ton/tahun. Perairan karang Kecamatan Kei Kecil memiliki 272 spesies ikan karang dari 111 marga dan 37 suku. Perairan pesisir Kecamatan Kei Kecil Timur memiliki 198 spesies ikan karang dari 92 marga dan 33 suku.
d. Kemampuan Produksi Ikan Tangkap yang Baik
Produksi ikan di Kecamatan Kei Kecil berasal dari operasi penangkapan ikan yang dilakukan dengan menggunakan 13 jenis alat penangkap ikan dan alat tangkap lainnya.Kemampuan produksi ikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya seperti penguasaan teknologi penangkapan ikan, jumlah, jenis, ukuran alat penangkap ikan dan jumlah trip penangkapan, serta musim penangkapan.
Produksi ikan dari Kecamatan Kei Kecil Timur diperkirakan mencapai 648,33 ton/tahun melalui operasi penangkapan 7 jenis alat penangkap ikan, termasuk pengumpul kerang dan teripang serta lata tangkap lainnya yang dipergunakan oleh para nelayan setempat. Produksi rata-rata sebagian besar dihasilkan dari operasi penangkapan oleh para nelayan dengan menggunakan alat tangkap pancing (angling gear).Produksi ikan di Kecamatan Kei Kecil Barat dihasilkan oleh 8 (delapan) jenis alat tangkap dan alat tangkap lainnya.Jumlah alat tangkap dan capaian trip penangkapan menentukan kemampuan produksi ikan, selain faktor-faktor lainnya seperti keterampilan dan pengetahuan nelayan, kecukupan bahan bakar, ketersediaan ikan, musim, dan sebagainya.
Nelayan-nelayan di Kecamatan Kei Besar berkemampuan untuk menghasilkan produksi ikan rata-rata sebanyak 2.026,66 ton/tahun, dengan menggunakan 10 jenis alat penangkap ikan utama dan pengumpul ikan lainnya, termasuk pengumpul kerang dan teripang. Kontribusi kemampuan produksi ikan terbanyak oleh alat tangkap pancing (angling gear) yang dapat menghasilkan ikan sebanyak 1.413,92 ton/tahun, kemudian oleh alat tangkap jaring insang (gill net) sebanyak 419,97 ton/tahun.
e. Memiliki pulau – pulau besar dan kecil
Jumlah pulau pada wilayah Kecamatan Kei Kecil berdasarkan hasil analisis data citra satelit yang dikonfirmasi dengan pengecekan lapangan ditemukan sebanyak 31 buah pulau yang keseluruhannya telah diverifikasi dan didaftarkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jumlah pulau pada wilayah Kecamatan Kei Kecil Timur berdasarkan hasil analisis data citra satelit yang dikonfirmasi dengan pengecekan lapangan hanya ditemukan 2 buah pulau yang juga telah didaftarkan pada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Jumlah pulau pada wilayah Kecamatan Kei Kecil Barat berdasarkan hasil analisis data citra satelit yang dikonfirmasi dengan pengecekan lapangan ditemukan sebanyak 16 buah yang teridentifikasi, telah diverifikasi serta didaftarkan namanya di PBB. Jumlah pulau pada wilayah Kecamatan Kei Besar berdasarkan hasil analisis data citra satelit yang dikonfirmasi dengan pengecekan lapangan ditemukan sebanyak 6 buah yang telah diketahui namanya sehingga oleh pemerintah Pusat.
f. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk mengatur keuangannya sendiri
Penyelenggaraan Otonomi Daerah menggunakan prinsip otonomi seluas- luasnya, artinya daerah diberi kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan kecuali yang menjadi urusan Pemerintah, dimana Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Sejalan dengan prinsip tersebut, maka dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang nyata telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah serta yang
dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi.
Kabupaten Maluku Tenggara sangat terbantu oleh adanya kebijakan otonomi daerah sebagai instrumen desentralisasi dan demokratisasi untuk mendukung peran pembangunan perdesaan.Sejalan dengan pelaksanaan Undang‐Undang Nomor 17 Tahun 2003 telah dikeluarkan pula Undang‐undang nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang juga merupakan landasan pemberian kewenangan kepada daerah untuk mengelola keuangan daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah, berdasarkan kewenangan pada masing‐masing tingkatan pemerintahan.
Dalam upaya mendorong kemandirian pengelolaan pembangunan daerah maka arah kebijakan pengelolaan keuangan daerah dititik beratkan pada kemandirian pemanfaatan sumberdaya daerah secara optimal, efisien, dan efektif guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Keharusan pemerintah daerah untuk mampu menghidupi diri sendiri akan semakin mengurangi ketergantungan pada pemerintah pusat, dengan cara menggali berbagai sumber penerimaan daerah seperti pajak daerah, retribusi daerah, jasa giro, laba BUMD dan lain-lain terutama di sektor transportasi untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin guna membiayai penyelenggaraan pembangunan sarana dan prasarana bagi optimalisasi pemasaran ikan di wilayah Maluku Tenggara.
3.3.1.2 Kelemahan
a. Daya saing perekonomian daerah dan Kualitas sumber daya manusia yang masih rendah
Walaupun pertumbuhan ekonomi Maluku Tenggara relatif baik, namun demikian daya saingnya masih relatif rendah. Ini ditandai dengan masih rendahnya angka ekspor komoditas dan daya saing produk unggulan daerah (kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, pariwisata, pertambangan, kehutanan, industri, perdagangan dan jasa) disebabkan:
Pola perekonomian masih bersifat subsistem yang tidak berorientasi pada peningkatan nilai tambah.
Sektor pertanian masih bersifat tradisional belum menerapkan teknologi tepat guna.
Potensi yang ada yaitu kelautan dan perikanan belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.
Belum berkembangnya perekonomian daerah Maluku Tenggara yang disebabkan: (1) terbatasnya akses permodalan; (2) terbatasnya akses informasi pasar; (3) masih rendahnya penerapan teknologi tepat guna; (4) belum berkembangnya informasi potensi unggulan daerah.
Belum kondusifnya iklim investasi (kemudahan perizinan, jaminan keamanan berinvestasi, dan lain sebagainya).
Rendahnya kualitas sumber daya manusia biasanya terukur dari tingkat pendidikan dan derajat kesehatan suatu masyarakat menjadi dasar perhitungan Indeks Pembangunan Masyarakat suatu daerah seperti:
- Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat suatu daerah biasanya tercermindari rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Paritisipasi Murni (APM), dan Angka Melek Huruf. Walaupun angka melek huruf telah hampir mencapai 100 % namun APK SD baru sebesar 99,65, APK SMP sebesar 90,73 dan APK SLA sebesar 66,66 sedangkan APM SD sebesar 96,78, APM SMP sebesar 78,03, dan APM SLTA sebesar 57,93. Permasalahan lain adalah terbatasnya sarana prasarana pendidikan, rasio dan penyebaran tenaga guru belum sebanding,terdapat kesenjangan partisipasi pendidikan antara kelompok masyarakat di perkotaan dan pedesaan dan antara penduduk miskin dan penduduk mampu. Pendidikan non‐formal yang berfungsi baik sebagai transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja maupun sebagai bentuk pendidikan sepanjang hayat, belum dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
- Kesehatan
Status Kesehatan masyarakat Maluku Tenggara secara umum masih rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia. Hal ini karena belum terselenggaranya akses pelayanan kesehatan secara paripurna yang meliputi aspek promotif, aspek preventif, aspek kuratif, dan aspek rehabilitatif.Indikatornya diukur dari Angka Harapan Hidup pada tahun 2006 sekitar 67,2 persen, Angka Kematian Ibu Melahirkan 588 per 100.000 kelahiran, Angka Kematian Bayi 37 per 1.000 kelahiran hidup, penyebaran staus gizi kurang 8,22% dan Gizi Buruk 1,20% dan tingginya prevalensi ganguan akibat kekurangan yodium (GAKY), serta penyakit menular.
b. Kesenjangan pembangunan antar wilayah
Berbagai kerberhasilan pembangunan yang telah dicapai, menyisakan kesenjangan yang cukup tajam antara wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara, terutama antara wilayah Kei Besar dan Kei Kecil, perkotaan dengan perdesaan, dan antara wilayah strategis dan cepat tumbuh dengan wilayah tertinggal.
Pengurangan kesenjangan pembangunan antar Kecamatan maupun antar Desa perlu dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah, tetapi juga untuk menjaga stabilitas ketahanan daerah. Tujuan yang akan dicapai untuk mengurangi kesenjangan antar daerah adalah bukan hanya memeratakan pembangunan fisik di setiap daerah, tetapi yang paling utama adalah pengurangan kesenjangan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat antar daerah. Masyarakat yang berada di wilayah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh program– program pembangunan sehingga akses masyarakat terhadap pelayanan sosial, ekonomi, dan politik masih sangat terbatas.
Untuk penyediaan air bersih, masalah yang dihadapi adalah masih terbatasnya akses masyarakat terhadap air bersih di pedesaan, rendahnya kualitas air bersih pedesaan, kondisi PDAM yang belum sehat, tingginya tingkat kebocoran air PDAM dan permasalahan tarif yang belum mampu mencapai kondisi pemulihan biaya produksi PDAM. Masih terbatasnya akses
masyarakat terhadap pelayanan komunikasi dan informasi disebabkan keterbatasan penyediaan dan penyebaran infrastruktur informasi ke kecamatan dan terbatasnya kemampuan pembiayaan penyediaan infrastruktur komunikasi informasi.
c. Infrastruktur (sarana dan prasarana) yang belum memadai
Salah satu kendala utama dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat adalah persoalan keterbatasan kapasitas dan kualitas infrastruktur, baik ekonomi, sosial dan pemerintahan atau fasilitas publik lainnya. Untuk infrastruktur jalan dan jembatan, persoalan utama yang dihadapi adalah belum seluruh wilayah Kabupaten Maluku Tenggara terjangkau oleh jaringan jalan dan jembatan yang handal, khususnya di Pulau Kei Besar yang mengakibatkan sangat terbatasnya akses masyarakat terhadap ketersediaan layanan transportasi yang dapat menjangkau lokasi permukiman, lokasi produksi dan pemasaran hasil nelayan. Keterbatasan ini menyebabkan masyarakat harus membayar tinggi biaya operasional untuk memanfaatkan transportasi darat.
Transportasi laut merupakan transportasi utama untuk melayani pergerakan orang dan barang antar 85 pulau di wilayah Maluku Tenggara Barat karena biayanya realatif murah jika dibandingkan dengan transportasi udara. Sarana pendukung yang tersedia saat ini adalah 5 (lima) unit kapal perintis, 2 (dua) unit kapal penumpang yang disubsidi pemerintah serta 2 (dua) unit kapal komersial (PT. PELNI) yang melayani rute hanya sampai pelabuhan Saumlaki dikarenakan prasarana pendukung yang tersedia saat ini hanya berada di Kota Saumlaki yakni pelabuhan kelas IV. Sedangkan untuk melayani interkoneksitas pulau–pulau sekitar (kecamatan) disediakan 1 (satu) unit angkutan penyeberangan dengan frekuensi kunjungan setiap minggu, selebihnya menggunakan kapal rakyat (motor tempel) yang diusahan sendiri oleh masyarakat dengan kapasitas muatan 20 – 30 orang. Dengan jumlah pulau yang begitu banyak dan kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia menjadikan transportasi laut belum bisa memenuhi kebutuhannya sendiri di wilayah Maluku Tenggara Barat.
Permasalahan yang dihadapi di bidang perhubungan laut dan antar pulau dalam kabupaten yaitu belum memadainya pelabuhan rakyat di beberapa titik pusat pertumbuhan yang memiliki akses ekonomi dan sosial serta rendahnya kapasitas penyediaan sarana angkutan laut (kapal penyeberangan, kapal perintis, kapal rakyat/kapal cepat) sehingga masyarakat masih mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membayar transportasi yang digunakan.Selain itu, belum ada pelabuhan khusus barang untuk pergerakan keluar masuk.
Permasalahan di bidang perhubungan udara yaitu tingginya permintaan penggunaan jasa transportasi udara yang belum dapat diimbangi dengan