• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2 Karakteristik Nelayan 1 Status Pernikahan

3.2.7 Tata Niaga

Kegiatan pemasaran ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di Maluku Tenggara pada umumnya dilakukan melalui Tempat Pelelangan ikan (TPI). Namun demikian tidak semua nelayan menjual hasil tangkapannya melalui TPI.Nelayan yang menjual hasil tangkapannya melalui TPI adalah nelayan yang memperoleh hasiltangkapan dalam jumlah banyak, sedang nelayan yang hasil tangkapannya sedikit biasanya langsung menjual kepada pedagang pengumpul tanpa melalui pelelangan. Selain itu hasil tangkapan nelayan juga terkadang

langsung dijual secara kepada eksportir yang menggunakan kapal-kapal besar untuk dijual ke luar negeri.

Penjualan ikan di pelelangan dipimpin oleh juru lelang yang ditunjuk oleh Kepala TPI. Sistem penawaran lelang dilakukan dengan cara meningkat dan penawar tertinggi akan memperoleh prioritas untuk membeli ikan yang ditawarkan oleh nelayan. Pembayaran dari bakul kepada nelayan dilakukan secara tunai setelah dipotong biaya retribusi yang ditetapkan. Ikan-ikan yang dibeli tersebut kemudian di distribusikan kepada konsumen, baik konsumen yang berada di wilayah Maluku Tenggara maupun konsumen yang berada diluar Maluku Tenggara.

Bakul pengecer memiliki saluran pemasaran yang paling pendek dibandingkan dengan bakul pengolah dan bakul pengumpul. Bakul pengecer menyalurkan ikan kepada konsumen melalui pedagang pengecer, daerah pemasaran ikan-ikan yang dijual bakul pengecer adalah daerah Maluku Tenggara dan sekitarnya. Sedang bakul pengolah menyalurkan ikan-ikan yang dibelinya dari pelelangan kepada para pengolah yang banyak terdapat di daerah tersebut atau mengolah sendiri ikan-ikan yang dibelinya. Bakul pengumpul menyalurkan ikan-ikan yang dibeli dari pelelangan kepada pedagang besar, yang terdapat diluar Maluku Tenggara. Biasanya pedagang pengumpul merupakan agen atau perwakilan pedagang besar. Dari pedagang-pedagang besar, ikan-ikan tersebut di distribusikan lagi kepada pedagang pengecer untuk kemudian dijual kepada konsumen akhir.

Bakul merupakan satuan penjualan ikan tangkap, di mana apabila dikonversi ke dalam satuan kilogram bermakna 1 bakul memiliki nilai ukuran yang sama dengan 30 kilogram. Bakul itu sendiri adalah wadah atau tempat penyimpanan beragam ikan hasil tangkap yang diperoleh nelayan dari hasil melaut untuk kemudian dipasarkan melalui jaringan rantai tata niaga pemasaran yang tersedia.

Penghasilan yang diperoleh nelayan secara umum relatif belum maksimal.Hal terjadi akibat adanya gejala eksploitasi dalam praktik pemasaran dan penerapan sistem bagi hasil. Gejala eksploitasi dalam praktik pemasaran dilakukan pedagang perantara, yaitu bakul atau pengumpul sedangkan gejala eksploitasi dalam bagi hasil dilakukan oleh juragan terhadap ABK. Pasar Tual merupakan pasar terbesar di Kei Kecil, yakni sebagai tempat di mana hasil tangkapan nelayan dipasarkan. Selesai operasi penangkapan, ikan hasil tangkapan kemudian langsung dibawa ke pasar dengan motor tempel yang juga digunakan untuk kegiatan penangkapan. Apabila ada nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan perahu tanpa motor, maka hasil tangkapannya dititipkan pada nelayan yang menggunakan motor tempel dengan ikut menanggung bahan bakar yang diperlukan. Aktivitas ini terjadi secara rutin dari waktu ke waktu dan mengalami puncak kesibukan tertinggi yaitu pada masa panen.

Pendapatan nelayan pemilik dihitung dengan mengurangkan seluruh biaya terhadap nilai hasil tangkapan. Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya investasi, operasi, perawatan dan tenaga kerja. Besarnya biaya penyusutan dan perawatan ditentukan pada persentase pemakaian. Sistem bagi hasil yang berlaku pada umumnya adalah perahu dan jaring, mesin, dan setiap tenaga kerja masing-masing menerima bagian yang sama. Perahu maupun jaring menerima bagian yang sama dengan tenaga kerja. Pembagian ini dihitung dari nilai produksi setelah dikurangi

biaya operasi, baik biaya tetap (fixed cost) maupun biaya variabel (variable cost) yang besarannya berbanding lurus dengan volume ikan hasil tangkap nelayan.

Rantai tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara yang menggambarkan saluran distribusi dan perkembangan harga jual ikan khususnya dalam hal ini adalah ikan layang pada setiap saluran distribusi pemasaran, dapat diilustrasikan pada Gambar 11 di bawah ini.

Ket : =Rantai Pasok Pasar Lokal =Nilai Keuntungan Margin 1 bakul = 30 Kg

Gambar 11 Tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara

Mengacu pada Gambar 11, maka tata niaga pemasaran ikan di Maluku Tenggara pada dasarnya semua pihak mengambil keuntungan sebagai selisih antara harga jual dengan harga beli. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa asumsi perkiraan margin keuntungan pada setiap jalur distribusi cukup beragam. Dalam hal ini rantai tata niaga diawali oleh aktivitas penjualan ikan yang dapat dijual secara langsung kepada pedagang pengumpul, maupun terlebih dahulu dijual melalui TPI, terdistribusi sampai ke tangan konsumen akhir.

Harga jual ikan layang pada masa panen dalam volume 30 Kg per-bakul. Rantai pasok dimulai dari nelayan yang menjual kepada TPI sebesar Rp.200.000 atau Rp.6.667/Kg, kemudian oleh TPI dijual kembali kepada pedagang pengumpul sebesar Rp.230.000 atau Rp.7.667/Kg yang artinya TPI mengambil margin keuntungan sebesar 15% atau Rp.1.000/Kg. Rantai tata niaga kemudian berlanjut yakni aktivitas pemasaran ikan dari pedagang pengumpul kepada pedagang pengecer sebesar Rp.253.000 atau Rp.8.433/Kg artinya pedagang pengumpul mengambil margin keuntungan sebesar 10% (Rp.766/Kg). Aktivitas terakhir dari tata niaga pemasaran ikan adalah dari pedagang pengecer kepada konsumen akhir sebesar Rp.300.000 atau Rp.10.000/Kg dengan margin keuntungan sebesar 18,58% (Rp.1.567/Kg). Rantai tata niaga selain dari pedagang pengumpul kepada pedagang pengecer, dapat juga terjadi dari pedagang

(18,58%) = Rp.1.567/Kg (15%) = Rp.1.000/Kg

Bakul Kecil dan Pedagang Pengumpul TPI Bakul Kecil Nelayan Restoran per-bakul Rp.200.000 per-bakul Rp.230.000 Rp.253.000per-bakul per-bakul Rp.300.000 per-bakul Rp.210.000 per-bakul Rp.280.000 Konsumen Akhir Pedagang Pengecer Pedagang Pengumpul Rp.6.667/Kg Rp.10.000/Kg Rp.9.333/Kg Rp.7.667/Kg Rp.8.433/Kg Rp.7.000/Kg (10%) = Rp.667/Kg (10%) = Rp.766/Kg (10,67%) = Rp.1.666/Kg

pengumpul kepada konsumen bisnis pengusaha restoran sebesar Rp.280.000 atau Rp.9.333/Kg dan margin keuntungan sebesar 10,67% (Rp.1.666/Kg).

Meskipun harga jual ikan secara langsung dari nelayan kepada pedagang pengumpul lebih besar atau lebih mahal Rp.10.000 per-bakul atau Rp. 333/Kg dibandingkan dijual melalui TPI, namun nelayan membutuhkan biaya operasional khususnya di bidang biaya transportasi yang lebih besar dibandingkan dijual kepada TPI. Hal ini dikarenakan para nelayan harus menjual ikan dalam jumlah yang besar sesuai permintaan pedagang pengumpul, sehingga nelayan membutuhkan sarana transportasi untuk memasarkannya dan hal ini tentu saja memiliki konsekuensi terhadap biaya. Dengan demikian para nelayan pada umumnya lebih memilih memasarkan ikan melalui TPI, karena meski harganya lebih murah namun biaya operasional mereka pun menjadi lebih rendah. Dengan demikian TPI memiliki peranan yang sangat penting dalam kelancaran distribusi pasokan tata niaga ikan dari nelayan sampai dengan ke tangan konsumen.

Adapun gambaran tata niaga dalam hal besar pendapatan rata-rata pada nelayan di empat kecamatan per-hari pada masa non panen sangat beragam dan tidak dapat dipastikan perolehannya. Namun demikian dapat dilakukan dugaan dengan mengacu pada kisaran biaya operasional setiap kali melaut dan hasil tangkapan rata-rata, sehingga dapat diperoleh nilai rata-rata pendapatannya yang merupakan laba atau keuntungan. Hasilnya adalah sebagaimana disajikan datanya pada tabel 21 berikut ini.

Tabel 21 Pendapatan setiap melaut nelayan padaempatKecamatandi Maluku Tenggara

No Kecamatan Rata-rata Pendapatan (Rp)

Maksimum Minimum Rata-rata

1 Kei Kecil (n = 51) 8.925.000 5.260.667 6.451.526

2 Kei Kecil Timur (n = 14) 7.416.667 5.416.667 6.302.071

3 Kei Kecil Barat (n = 7) 8.800.000 5.435.667 6.175.762

4 Kei Besar Tengah (n = 28) 8.925.000 5.456.667 6.251.970

Mengacu pada Tabel 21 tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pendapatan terbesar adalah pada nelayan yang berada di wilayah Kecamatan Kei Kecil, yakni sebesar Rp.6.451.256. Meskipun demikian secara keseluruhan, rata-rata pendapatan per hari nelayan di empat kecamatan penelitian tidak terlalu besar perbedaannya Sesuai dengan hukum permintaan, diketahui bahwa jika pasokan ikan atau hasil tangkapan ikan oleh nelayan mengalami penurunan yang signifikan sedangkan permintaan mengalami peningkatan, maka secara otomatis harga jual ikan akan mengalami peningkatan. Kondisi ini terjadi pada masa-masa di luar panen, yakni antara Mei sampai dengan Desember pada setiap tahunnya. Hasil wawancara dengan nelayan diketahui bahwa khususnya pada ikan layang, pada saat hasil tangkapan ikan secara agregat mengalami penurunan maka harganya bisa mencapai pada kisaran Rp.400.000 hingga Rp.600.000 per-bakul, di mana 1 bakul setara dengan 30 kilogram.

Pada saat pasokan ikan mengalami keterbatasan tersebut, maka terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi terkait kondisi tersebut. Para pelaku pemasaran di saluran distribusi akan memperoleh margin keuntungan yang lebih optimal dari kenaikan harga jual ikan. Namun di sisi lain, hal ini juga berpotensi pada kenaikan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan nelayan. Hal ini disebabkan nelayan perlu mengeluarkan biaya dan tenaga tambahan dalam aktivitas penangkapan ikan. Pada tingkat pengecer, potensi kerugian dapat terjadi dikarenakan biaya transportasi yang telah dikeluarkan tidak dapat memperoleh ikan dengan kuantitas optimal. Harga yang mahal juga berpotensi menimbulkan risiko pada hasil penjualan ikan tidak sesuai harapan.

Masa-masa panen biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan April pada setiap tahunnya. Pada saat panen, hasil tangkapan ikan oleh nelayan melimpah. Sesuai dengan hukum permintaan, bahwa pada saat pasokan agregat mengalami peningkatan sedangkan permintaan agregat cenderung tetap atau bahkan menurun, maka harga jual ikan cenderung akan mengalami penurunan yakni harganya berada pada kisaran Rp.200.000 hingga Rp.300.000 per-bakul.

Komponen biaya operasional nelayan di antaranya adalah biaya makanan atau lauk pauk, makanan ringan, rokok, bensin, solar, minyak tanah, umpan, minyak oli dan perawatan, dan biaya overhead lain yang tidak terduga. Hasil lengkap dari keadaan ini disampaikan sebagai lampiran, pada laporan penelitian ini. Kisaran perolehan keuntungan rata-rata tiap melaut adalah Rp.5.000.000 hingga Rp.8.000.000.

Terkait alat tangkap ikan yang digunakan nelayan di antaranya adalah purse sain atau jaring bobo dan bagan. Purse sain lebih dominan tersedia di wilayah Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Kei Kecil Timur. Sedangkan untuk bagan, selain tersedia di Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Kei Kecil Timur juga tersedia di Kecamatan Kei Kecil Barat dan Kecamatan Kei Besar Tengah. Kapasitas hasil tangkapan purse sain mampu mencapai hasil maksimal sampai dengan 3 ton ikan. Sedangkan pada bagan kapasitas tangkapannya mencapai hasil maksimal lebih kecil dibandingkan purse sain yakni 2 ton ikan. Purse sain memiliki ukuran berkisar antara 150- 200 meter untuk ukuran kecil dan 200-600 meter untuk ukuran besar. Bagan memiliki ukuran panjang 17-24 meter x 12-16 meter, sedangkan untuk ukuran kecil adalah 12 x 15 meter.

Hasil analisis margintata niaga sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah hasil analisis secara keseluruhan pada aktivitas setiap kali tangkap ikan, belum tergambarkan dengan jelas gambaran bagi hasil antara pemilik alat tangkap (juragan) dengan anak buah kapal. Mekanisme bagi hasil antara juragan dengan anak buah kapal adalah perolehan hasil tangkap dibagi dua secara merata. Jumlah tenaga kerja pada pure sain berkisar antara 7-15 orang, sedangkan pada bagan berkisar antara 4-7 orang. Sehingga dengan demikian hasil yang diperoleh oleh nelayan selama 1 bulan (asumsi 20 hari kerja) setelah dibagi dua dengan juragan, adalah sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 22 Pendapatan nelayan per bu pada empat

No Kecamatan

1 Kei Kecil 2 Kei Kecil Timur 3 Kei Kecil Barat 4 Kei Besar Tengah

Hasil produksi perikanan sebesar 57% dari volume

Tual dan sisanya dipasarkan kepada kapal-kapal penampung nelayan langsung di la dilaksanakan oleh pedagang pe dipasarkan di pasar lokal Maluku Tenggara jumlahnya

merupakan pedagang pengumpul untuk jenis ikan kecil. Mengacu pada Berita

sementara ekspor Maluku 16.135.571,00 kg atau sekitar sebesar US$10.649.360. Ekspor M dari kelompok komoditi

antara lain:

 Ikan beku lainnya (US$7,31 juta);

 Udang kecil dan udang biasa lainnya

 Udang kecil dan udang biasa lainnya

Filletbeku ikan tuna, cakalang atau

 Cumi lainnya beku (US$0,

 Udang kecil dan udang biasa lainnya

 lainnya (US$0,26 juta). Adapun nilai ekspor sebagaimana disajikan pada g

endapatan nelayan per bulan (20 hari kerja) pada empat Kecamatan di Maluku Tenggara

Kecamatan Rata-rata Pendapatan (Rp)

Maksimum Minimum Rata

(n = 51) 9.836.667 5.907.407 8.107.729

(n = 14) 9.821.429 7.738.095 8.729.642

(n = 7) 9.777.778 7.765.238 8.621.547

r Tengah (n = 28) 9.990.000 8.753.750 9.402.900

produksi perikanan skala besar dipasarkan keluar negeri volume hasil tangkap melalui pelabuhan perikanan nasional dipasarkan secara langsung di laut oleh nelayan-nelayan kapal penampung dari luar yang membeli ikan hasil tangkapan

di laut. Pemasaran hasil tangkapan nelayan tradisional pedagang pengumpul yang bermukim di desa-desa nelayan da pasar lokal di wilayah Maluku Tenggara. Pedagang pengumpul Tenggara jumlahnya tidak banyak, dan pada umumnya n pedagang pengumpul untuk jenis ikan kecil.

pada Berita Resmi Statistik Tahun 2012 diketahui bahwa Maluku bulan Januari 2012 memiliki volume ekspor atau sekitar 16,14 ribu ton. Nilai ekspor bulan Januari 649.360. Ekspor Maluku pada awal tahun 2012 seluruhnya

komoditi ikan dan udang, dengan komoditi spesifik menca beku lainnya (US$7,31 juta);

dang kecil dan udang biasa lainnya beku dengan kepala (US$0,90 j dang kecil dan udang biasa lainnya beku tanpa kepala (US$0,68 juta);

beku ikan tuna, cakalang atau stripebelliedbonito (US$0,57 juta); umi lainnya beku (US$0,49 juta);

dang kecil dan udang biasa lainnya beku (US$0,44 juta); dan lainnya (US$0,26 juta).

nilai ekspor Maluku menurut Negara tujuan ekspornya gaimana disajikan pada gambar 12 di bawah ini :

an (Rp) Rata-rata 8.107.729 8.729.642 8.621.547 9.402.900 negeri (ekspor) perikanan nasional di nelayan kecil hasil tangkapan nelayan tradisional desa nelayan dan Pedagang pengumpul di umumnya mereka diketahui bahwa Angka ekspor sebesar bulan Januari 2012

seluruhnya berasal spesifik mencakup

beku dengan kepala (US$0,90 juta); pa kepala (US$0,68 juta);

bonito (US$0,57 juta);

Gambar 12 Nilai Ekspor M

Seluruh aktivitas ekspor Pelabuhan Ambon dan Pelabuhan ditunjukkan pada Gambar 12 dengan nilai ekspor mencapai Maluku bulan Januari menurut Gambar 13 di bawah ini.

Gambar 13 Volume dan Nilai Ekspor

Angka sementara ekspor Maluku pada bulan Januari 2012 Nilai ekspor komoditi asal Maluku Ekspor komoditi asal Maluku melalui Pelabuhan Tanjung Perak 2012 ini datang dari kelompok komodit biji‐bijian berminyak. Komoditi

 Ikan tuna sirip kuning beku (US$0

 Fillet ikan tuna loin lainnya beku (US$0,39 juta

 Rumput laut dan ganggang lainnya Mengacu pada data sebagaimana diketahui bahwa pada pelabuhan

yang tertinggi dibandingkan pada bahwa kapasitas produksi ikan kontribusi nyata dalam transaksi luas. Adapun kontribusi secara

wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, lanjut. Hal ini disebabkan data

simultan terintegrasi dari data s Transaksi perdagangan

ekonomi di wilayah Maluku khususnya terindikasi dari data menurut

perikanan memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDRB)

Nilai Ekspor Maluku Menurut Negara Tujuan Ekspor Januari 2011 (US$)

itas ekspor Maluku pada Januari 2012 dilakukan melalui Pelabuhan Tual dengan 9 negara tujuan sebagaimana Gambar 12. Thailand menjadi negara tujuan ekspor utama

mencapai US$6,04 juta. Komposisi volume dan nilai ekspor menurut pelabuhan muat adalah seperti digambarkan pada

Volume dan Nilai Ekspor Maluku Menurut Pelabuhan Ekspor Januari 2011 (US$)

ntara ekspor komoditi asal Maluku yang diekspor dari 2012 adalah volume ekspor sebesar 0,17 ribu ton. asal Maluku bulan Januari 2012 sebesar US$0,94 ju Maluku namun yang diekspor dari luar Maluku (dimuat Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur). Pada awal tahun kelompok komoditi ikan dan udang, serta kelompok komoditi bijian berminyak. Komoditi spesifik dari kedua kelompok komoditi adalah

rip kuning beku (US$0,50 juta);

Fillet ikan tuna loin lainnya beku (US$0,39 juta); dan

n ganggang lainnyaeucheuma spp. (US$0,05 juta).

data sebagaimana disajikan pada Gambar 13 dapat da pelabuhan Tual memiliki berat atau volume dan nilai ekspor dibandingkan pada pelabuhan Ambon. Hal ini menjadi indikator produksi ikan di Maluku Tenggara telah mampu memberikan transaksi perdagangan ekspor di wilayah Maluku secara

secara lebih terperinci untuk setiap jenis ikan tangkap Maluku Tenggara, belum dapat dilakukan penelaahan lebih disebabkan data kontribusi volume dan nilai ekspor tersedia secara

ri data setiap kabupaten sehingga menjadi data provinsi. perdagangan ekspor tersebut dapat memicu pertumbuhan

Maluku khususnya di Kabupaten Maluku Tenggara. Hal menurut BPS (2012) bahwa secara sektoral, sub sek

kontribusi yang nyata terhadap sektor perikanan dalam (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara. Pada Tahun 2011 dilakukan melalui sebagaimana telah ekspor utama ekspor digambarkan pada

nurut Pelabuhan Ekspor

or dari luar 0,17 ribu ton. US$0,94 juta. dimuat awal tahun ok komoditi adalah: 13 dapat nilai ekspor menjadi indikator memberikan Maluku secara tangkap di penelaahan lebih tersedia secara sehingga menjadi data provinsi.

pertumbuhan Hal ini sub sektor perikanan dalam Tahun 2011

tercatat sub sektor perikanan mampu memberikan kontribusi sebesar 22,88% terhadap sektor pertanian, dan sektor pertanian itu sendiri memberi kontribusi sebesar 37,68% terhadap PDRB Kabupaten Maluku Tenggara.

Subsektor Perikanan sangat besar kontribusinya di Kecamatan Kei Kecil, namun berdasarkan data BPS (2012) diketahui bahwa masih didominasi oleh nelayan tradisional.Hal itu terlihat dari perahu yang digunakan, yang sebagian besar Perahu tak bermotor, dan alat penangkapan ikan utama yang digunakan yaitu Pancing. Produksi Ikan Laut pada Kecamatan Kei Kecil selama tahun 2011 sebesar 10.547,1 ton (BPS Maluku Tenggara, 2012).

Berdasarkan pada data BPS (2012), subsektor Perikanan sangat besar kontribusinya di Kecamatan Kei Kecil Timur, dengan produksi Ikan Laut di Kecamatan Kei Kecil Timur selama tahun 2009 sebesar 6.471 Ton. Pada Kecamatan Kei Kecil Barat, produksi ikan selama tahun 2011 adalah sebesar 5.461,40 Ton. Pada Kecamatan Kei Besar Tengah produksi ikan selama tahun 2011 sebesar 9.914,2 Ton.

Secara Sektoral, sektor Pertanian adalah penyumbang terbesar dalam perekonomian daerah Maluku Tenggara dengan sub sektor andalannya yakni Perikanan. Pada tahun 2011 kontribusi Sektor Pertanian sebesar 37,68% dengan konstribusi terbesar dari sub sektor Perikanan terhadap PDRB Maluku Tenggara yakni sebesar 22,88% (Rp.113.542,45/Rp.496.306,63 x 100%). Data lengkap PDRB berdasarkan lapangan usaha pertanian, adalah sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 23 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Maluku Tenggara menurut lapangan usaha pertanian atas dasar harga berlaku

2009 – 2011[Jutaan / MillionRp] Lapangan Usaha S e c t o r 2009 2010* 2011** 1 2 3 4 I. Pertanian Agriculture

a. Tanaman Bahan Makanan Farm Food Crops b. Tanaman Perkebunan

Non Food Crops

c. Peternakan & Hasil-hasilnya Livestock & Products d. Kehutanan Forestry e. Perikanan Fishery 153.253,15 40.140,21 15.035,13 2.729,16 4.043,90 91.304,74 164.390,27 42.701,85 16.356,25 2.900,36 3.707,94 98.723,87 186.989,92 47.273,77 18.174,99 3.447,04 4.551,67 113.542,45

Sumber: BPS Maluku Tenggara (2012)

Mengacu pada Tabel 23 diketahui bahwa dari keempat wilayah Kecamatan lokasi penelitian, dapat diketahui bahwa terkait distribusi pemasaran ikan pada Kecamatan Kei Kecil Barat memiliki nilai rata-rata paling kecil dibandingkan pada kecamatan lainnya. Pada kecamatan ini, waktu yang dibutuhkan pada saat menjual ikan di saluran distribusi menjadi lebih lama dibandingkan pada kecamatan lainnya. Hal ini dikarenakan nelayan harus melewati laut sebagaimana posisinya yang tidak berada dalam satu pulau, atau terpisah, sehingga terjadi disparitas antar wilayah.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi disparitas khususnya di bidang tata niaga pemasaran ikan, di antaranya sebagai berikut: a. Pemerataan investasi

Dengan mendorong pemerataan investasi yang terjadi pada semua sektor, maka semua wilayah secara simultan akan berkembang infrastrukturnya. Dengan terjadinya perkembangan infrastruktur yang baik, maka akan turut meminimalisir disparitas dalam rantai distribusi pemasaran ikan.

b. Pemerataan permintaan

Untuk mengoptimalkan perolehan margin pada setiap rantai dalam saluran distribusi pemasaran, maka diperlukan adanya pemerataan permintaan dengan cara mengembangkan indsutri dan wilayah secara simultan. Dengan demikian kondisi ini bisa menciptakan permintaan-permintaan untuk tiap produk ikan tangkap nelayan.

c. Pemerataan tabungan

Tabungan sangat diperlukan agar dapat menstimulus investasi bagi pengembangan pemasaran ikan nelayan. Jika jumlah tabungan di suatu wilayah meningkat, maka potensi investasi juga akan meningkat.

Beberapa upaya tersebut di atas dapat diinisiasi oleh Pemerintah pusat maupun Daerah, dengan melibatkan seluruh stakeholder bagi pengembangan pembangunan wilayah perdesaan di Maluku Tenggara. Optimalisasi pengembangan wilayah perdesaan akan sangat terkait dengan kondisi tingkat

pengeluaran per kapitanya. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi pemerintah pusat maupun daerah, dalam memfokuskan wilayah mana yang perlu lebih diprioritaskan pengembangan pembangunannya.

Tabel 24 Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menurut Kabupaten/Kota 2010-2011

Kabupaten/ Kota 2010 2011

Maluku Tenggara Barat 411.011 499.587

Maluku Tenggara 422.240 572.021

Maluku Tengah 490.709 745.708

Buru 460.063 782.000

Kepulauan Aru 378.104 739.413

Seram Bagian Barat 429.637 570.014

Seram Bagian Timur 442.948 771.037

Maluku Barat Daya 319.637 531.713

Buru Selatan 507.954 584.593

Ambon 839.144 1.114.681

Tual 397.661 676.578

Sumber: BPS Maluku Tenggara (2012)

Mengacu pada data pada Tabel 24, diketahui bahwa rata-rata pengeluaran per Kapita sebulan pada Kabupaten Maluku Tenggara masih relatif rendah, yakni Rp.422.240 pada tahun 2010 dan Rp.572.021 pada Tahun 2011, atau meningkat sebesar 35,47%. Meskipun mengalami kenaikan, namun rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk wilayah Maluku Tenggara masih jauh lebih rendah jika dibandingkan Ambon maupun Maluku.

Kontribusi sub sektor perikanan terhadap PDRB Maluku Tenggara yang mampu mencapai 22,88%, perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah, dalam upaya meningkatkan pengembangan pembangunan wilayah perdesaaannya berbasis perikanan. Berbagai kebijakan dan program- program pengembangan pembangunan wilayah perdesaan di wilayah Maluku Tenggara berbasis sektor pertanian khususnya pada sub sektor perikanan, dapat dilakukan secara mendalam dengan memperhatikan kondisi faktor-faktor internal dan eksternalnya.

Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah sangat tergantung dari keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi di wilayahnya, dalam hal ini pada Kabupaten Maluku Tenggara adalah sektor perikanan. Sebagai sebuah nilai strategis, sektor perikanan memacu atau menjadi pendorong utama pertumbuhan