BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan desain cross-sectional dan menggunakan pendekatan
retrospektif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara observasi, pengumpulan
data sekaligus pada satu waktu dan menggunakan data yang lalu (Notoatmodjo,
2010).
Analisis dalam penelitian ini adalah COI, COI merupakan suatu bentuk
evaluasi ekonomi yang paling awal di sektor pelayanan kesehatan dengan tujuan
utama untuk mengevaluasi beban ekonomi dari suatu penyakit di masyarakat,
meliputi seluruh sumber daya pelayanan kesehatan yang dikonsumsi sehingga
dapat menggambarkan penyakit mana yang membutuhkan peningkatan alokasi
sumber daya untuk pencegahan atau terapi (Andayani, 2013).
Dalam penelitian ini jenis baiaya yang diteliti adalah biaya langsung medis
(direct medical cost) yang termasuk biaya langsung medis adalah biaya yang
diberikan selama pasien mendapatkan tindakan bedah di KBE, yakni pelayanan
laboratorium (hematologi I, hematologi II, kimia I, dan kimia II, pelayanan
serologi/imunologi, pelayanan analisa gas darah), pelayanan radiologi dan
penggunaan obat/barang medis, yang kemudian akan dibandingkan biaya
langsung di IBP yaitu penggunaan obat/barang medis, untuk mengetahui
perbedaan dan besarnya biaya yang dikeluarkan dari suatu tindakan bedah pada
Evaluasi biaya dalam COI menggunakan metode micro – costing yaitu
biaya pelayanan dinilai dengan menjumlahkan masing – masing komponen biaya
yang diperlukan untuk pelayanan dan dengan pendekatan battom – up yaitu
perhitungan biaya produksi untuk mendapatkan suatu hasil.
Penelitian COI ini berdasarkan perspektif sistem pelayanan kesehatan yang
hanya mengukur biaya yang berkaitan langsung dengan pelayanan medis.
Penelitian COI dilakukan dari berbagai perspektif. Perspektif dalam studi COI
antara lain adalah perspektif sosial, sistem perawatan kesehatan, pembayar pihak
ketiga, sektor usaha dan pemerintah (Changik, 2014).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di IGD RSUP H. Adam Malik, Jalan Bunga Lau
No.17 Medan. Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa RSUP. H. Adam
Malik Medan sebagai rumah sakit pendidikan kelas A dan sebagai salah satu
rumah sakit yang paling banyak melayani pasien BPJS Kesehatan.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016 - Desember 2016 dengan
pengambilan data selama 6 bulan yaitu bulan April 2016 – September 2016 di
KBE dan IBP RSUP. H. Adam Malik Medan.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi target berupa seluruh data rekam medis dan keuangan pasien di
didapatkan adalah sebanyak 358, populasi studi yang didapatkan di IBP adalah
sebanyak 1.574.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi
dan tidak memenuhi kriteria eksklusi yaitu sebanyak 78 pasien dan di IBP
sebanyak 100 pasien.
Sampel yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi adalah:
a. Pasien yang dilayani di KBE dan IBP RSUP. H. Adam Malik Medan
b. Pasien yang mengikuti program BPJS
c. Pasien di KBE yang masuk melalui instalasi gawat darurat
d. Pasien di KBE dan IBP yang dikelompokkan berdasarkan selisih negatif
e. Pasien di IBP yang dikelompokkan berdasarkan Kode INA-CBG’s yang
sama dengan pasien di KBE
Kriteria eksklusi adalah:
a. Semua pasien yang tidak dilayani di KBE dan IBP
b. Pasien di KBE dan IBP yang tidak mengikuti program BPJS.
c. Semua pasien yang masuk tidak melalui instalasi gawat darurat
d. Pasien di KBE dan IBP dengan selisih positif
e. Pasien yang di IBP namun tidak mempunyai kode INA-CBG’s yang sama
dengan pasien di KBE RSUP. H. Adam Malik Medan
f. Pasien dengan data tidak lengkap.
3.4 Definisi Operasional
a. Cost of illness adalah suatu analisis farmakoekonomi dengan mengukur
beban ekonomi dari suatu penyakit dan memperkirakan nilai maksimum
yang dapat dihemat atau diperoleh jika penyakit dapat disembuhkan
b. Tarif klaim INA-CBG’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS
Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan atas paket layanan
yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit
c. Sistem informasi rumah sakit adalah sistem yang melakukan integrasi dan
komunikasi aliran informasi baik didalam maupun diluar rumah sakit
d. Kamar bedah emergency adalah suatu unit khusus di rumah sakit sebagai
tempat tindakan pembedahan yang dilakukan dengan segera
e. Instalasi bedah pusat adalah suatu unit khusus di rumah sakit sebagai tempat
tindakan pembedahan yang dilakukan secara elektif (terencana)
f. Obat adalah benda atau zat yang dapat digunakan untuk mengobati
penyakit, membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh.
Penggunaan obat yang dimakaud dalam penelitian ini adalah penggunaan
obat pasien selama proses pembedahan/operasi
g. Barang Medis adalah instrumen yang digunakan untuk mendiagnosis,
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit,
memulihkan kesehatan, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki
fungsi tubuh. Penggunaan barang medis yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah barang medis yang digunakan selama proses pembedahan/operasi
h. Rata - rata biaya adalah hasil penjumlahan dari biaya pelayanan pasien
i. Selisih biaya adalah hasil pengurangan dari biaya aktual rumah
sakitdikurangi dengan tarif klaim INA-CBG’s
j. Biaya aktual rumah sakit adalah biaya yang dikenakan selama pasien
mendapatkan pelayanan di rumah sakit.
3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pasien di
KBE dan di IBP pada periode April – September 2016 yang di dapat dari sistem
informasi rumah sakit (SIRS) dan data klaim INA-CBG’s dari Instalasi Verifikasi
Askes di RSUP H. Adam Malik Medan.
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif pada periode April 2016 –
September 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran data pasien
dari SIRS dan data biaya aktual dan klaim BPJS yang diperoleh dari Instalasi
Verifikasi Askes di RSUP H. Adam Malik Medan, data yang diambil meliputi:
a. Data karakteristik pasien meliputi nomor rekam medis, inisial pasien, jenis
kelamin, umur, dan kelas rawat
b. Data klinis pasien meliputi deskripsi tindakan bedah dari kode INA- CBG’s
dengan selisih negatif
c. Data penggunaan obat, barang medis dan pelayanan medis yang diterima
pasien
d. Data biaya meliputi tagihan total, biaya obat, barang medis dan pelayanan
3.6 Pengolahan Data
Adapun tahapan pengolahan data dalam penelitian ini adalah:
a. Merekrut data pasien KBE dan IBP dari SIRS, dan data biaya yang diperoleh
dari bagian Instalasi Verifikasi Askes RSUP H.Adam Malik Medan.
b. Mengakses tarif INA-CBG’s dari tiap – tiap penyakit
c. Mengakses biaya aktual rumah sakit
d. Menghitung biaya aktual rumah sakit
e. Menghitung besaran selisih negatif dan positif dari klaim INA-CBG’s
dengan tarif yang dikeluarkan KBE dan IBP RSUP H. Adam Malik Medan.
f. Mengelompokkan data berdasarkan selisih negatif di KBE RSUP H.
Adam Malik Medan
g. Menentukan kode INA-CBG’s yang sama yang terdapat di KBE
dibandingkan dengan di IBP untuk mengevaluasi perbedaan selisih tarif
negatif
h. Menghitung perbandingan biaya aktual rumah sakit dibandingkan dengan
tarif klaim INA- CBG’s di KBE dan IBP
i. Mengevaluasi COI di KBE
j. Membandingkan perbedaan selisih negatif KBE dan IBP
k. Membandingkan penggunaan obat/barang medis di KBE dan IBP.
3.7 Analisis Data
Biaya yang dihitung dalam penelitian ini dalah biaya langsung medis
(direct medical cost). Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis secara
disajikan dalam bentuk uraian. Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel.
COI dihitung dengan menggunakan rumus :
Rata-rata biaya (Rp) = ∑
∑
Persentase biaya (%) =
3.8 Bagan Alur Penelitian
Adapun gambaran pelaksanaan penelitian adalah seperti berikut:
Gambar 3.1 Bagan alur penelitian cost of illness pasien di kamar bedah emergency instalasi gawat darurat dan instalasi bedah pusat RSUP. H. Adam Malik Medan
Pasien yang dibedah di KBE dan IBP RSUP. H. Adam Malik Medan periode
April-September 2016
Mengakses biaya aktual Rumah Sakit dan tarif
klaim INA-CBG’s
Menghitung besaran selisih negatif dan positif dari tarif klaim INA-CBG’s dengan biaya aktual rumah sakit secara
keseluruhan
Analisis Data
Penarikan kesimpulan
Data dari SIRS
Data dari Instalasi Verifikasi Askes Menentukan kode INA CBG’s
yang sama yang terdapat di KBE dan IBP pasien dengan
selisih negatif Menghitung biaya aktual di KBE dan IBP dan biaya klaim
yang diterima pasien
3.9 Langkah Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
a. Meminta rekomendasi Dekan Fakultas Farmasi USU untuk dapat melakukan
penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
b. Menghubungi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dan pengambilan data,
dengan membawa surat rekomendasi dari fakultas
c. Mengumpulkan data berupa rekam medis dan keuangan yang tersedia di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
d. Menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan dari data rekam medis yang diperoleh dari
SIRS dan data keuangan dari verifikasi askes pasien di KBE periode April 2016 -
September 2016 diperoleh data pasien yang memperoleh tindakan bedah adalah
sebanyak 358 pasien, 132 pasien dan 28 kode INA-CBG’s dengan selisih positif
dengan total biaya sebesar Rp. 270.968.604 dan 226 pasien dan 91 kode INA-
CBG’s dengan selisih negatif dengan total selisih sebesar Rp. -1.091.905.308,
data yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 78 pasien dan 23 kode dengan kode
INA-CBGS’s yang sama dengan IBP. Pasien di IBP periode April 2016 –
September 2016 yang memperoleh tindakan bedah adalah sebanyak 1.574 pasien,
414 pasien dan 86 kode INA-CBG’s dengan selisih positif dengan total biaya
sebesar Rp. 850.229.497 dan 1160 pasien dan 168 kode INA-CBG’s dengan
selisih negatif dengan total biaya sebesar Rp. -2.169.616.438, data yang
memenuhi kriteria inklusi sebanyak 100 pasien dan 23 kode dengan kode INA-
CBG’s yang sama dengan KBE. Hal ini disebabkan banyak data dengan status
tidak lengkap, hilang, dan tidak terbaca. Data pasien yang memenuhi kriteria
inklusi kemudian diolah dengan Microsoft Excel dan hasil pengolahan data
dianalisis secara farmakoekonomi sehingga didapatkan COI pasien di KBE dan
4.1 Karakteristik Pasien
4.1.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosis
Karakteristik pasien berdasarkan diagnosis dipilih berdasarkan diagnosis yang memiliki selisih tarif negatif dengan kode INA-CBG’s yang sama, dan
karakteristik diagnosis (kode INA-CBG’s) tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Persentase Pasien Bedasarkan Diagnosis (Kode INA – CBG’s). No
Berdasarkan hasil penelitian persentase terbesar pasien di KBE, dapat
dilihat terdapat 38 pasien (48,7%) pasien dengan kode INA-CBG’s O-6-10-I
(prosedur operasi pembedahan caesar kategori ringan), sedangkan persentase di
al (2010) mengatakan bahwa World Health Organization (WHO) menetapkan
standar rata-rata sectio caesarea di sebuah Negara adalah sekitar 5-15 % per 1000
kelahiran di dunia. Menurut hasil studi Sinha Kounteya, (2010), berdasarkan
WHO peningkatan persalinan dengan sectio caesarea di seluruh Negara selama
tahun 2007 – 2008 yaitu 110.000 per kelahiran di seluruh Asia. (Karundeng, dkk.,
2014). Karakteristik ini dipilih berdasarkan data selisih tarif negatif per pasien dan
kode INA-CBG’s yang sama antara KBE dan IBP yang dihasilkan untuk memberi
gambaran tentang hubungannya dengan biaya rumah sakit yang dikeluarkan
dengan jumlah pasien yang dirawat, hal ini dikarenakan biaya rumah sakit yang
dikeluarkan jumlah nya tidak sesuai dengan klaim. Untuk rincian perhitungan
COI akan dijelaskan pada tabel selanjutnya.
4.1.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia
Karakteristik pasien berdasarkan usia yang dilayani di KBE dan IBP RSUP H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 pada penelitian
yang terdapat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Persentase Pasien Berdasarkan Usia No Usia
KBE IBP
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1 <1 1 1,3 2 2
2 1-4 3 3.85 3 3
3 5-14 3 3.85 5 5
4 15-24 11 14,1 8 8
5 25-34 31 39,74 14 14
6 35-44 18 23 12 12
7 45-54 4 5,13 33 33
8 55-65 3 3,85 15 15
9 >65 4 5,13 8 8
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik usia
(tahun) dapat dilihat kasus pasien di KBE paling banyak terjadi pada umur
rentang 25 – 34 tahun yaitu sebanyak 31 pasien (39,74%), dan kasus pasien di IBP
paling banyak terjadi pada umur rentang 45 – 54 tahun sebanyak 33 pasien (33%).
4.1.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin
Berikut ini dapat ditampilkan karakteristik pasien KBE dan IBP RSUP.
H.Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 berdasarkan jenis
kelamin yang dapat dilihat di Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Persentase Pasien Berdasakan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin
KBE IBP
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1 Perempuan 58 74,36 57 57
2 Laki – Laki 20 25,6 43 43
Jumlah 78 100 % 100 100 %
Berdasarkan karakteristik dari jenis kelamin pada Tabel 4.3 dapat dilihat
bahwa, pasien perempuan di KBE terdiri dari 58 orang (74,36%) dan pasien laki
-laki terdiri dari 20 orang (25,6%) sedangkan pasien perempuan di IBP terdiri dari
57 orang (57%), dan pasien laki – laki terdiri dari 43 orang (43%). Tabel diatas
menunjukkan pasien perempuan di KBE lebih banyak dikarenakan pasien di KBE
banyak melakukan pembedahan dengan tindakan operasi caesar.
4.2 Distribusi Total Selisih Negatif Sesuai Kode INA-CBG’s
Berikut ini ditampilkan total selisih negatif sesuai kode INA-CBG’s di
KBE dan IBP periode April 2016 – September 2016 yang dapat dilihat di Tabel
Tabel 4.4 Distribusi Total Selisih Negatif Sesuai Kode INA-CBG’s
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa, total selisih negatif sesuai kode
INA-CBG’s memliki perbedaan antara instalasi KBE dan IBP, instalasi IBP lebih
besar yaitu sebesar Rp. 1.059.981.383 dibandingkan di KBE yaitu sebesar Rp.
-639.691.304,2 -, hal ini kemungkinan disebabkan jumlah pasien di IBP lebih
banyak dibandingkan KBE sehingga total selisih negatif yang dihasilkan juga
lebih besar.
4.3 Rata – Rata Selisih Biaya pada Kode INA-CBG’s yang sama di KBE dan IBP
Berikut ini ditampilkan rata – rata selisih biaya pada kode INA-CBG’s yang
sama di KBE dan IBP periode April 2016 – September 2016 yang dapat dilihat di
Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Tabel rata – rata selisih biaya per pasien pada kode INA-CBG’s yang sama di KBE dan IBP
No Kode
INA- CBG’s
KBE IBP
Rata – Rata Selisih Biaya (Rp)
Rata – Rata Selisih Biaya (Rp)
10 K-1-20-III -8.942.203 -28.539.002
11 K-1-13-III -7.281.920 -7.163.280
12 K-1-10-II -7.227.936 -4.318.593
Tabel 4.5 (Lanjutan)
14 M-1-02-II -5.467.035 -629.650
15 J-1-20-II -5.370.923 -28.768.858
16 K-1-20-II -4.396.660 -15.592.054
17 W-1-20-I -3.981.724 -3.117.971
18 M-1-50-I -3.281.611 -6.549.286,6
19 K-4-18-I -3.264.663 -439.067
20 K-1-20-I -2.024.495 -458.409
21 W-1-20-II -1.468.117 -2.818.996
22 G-1-10-I -929.201 -17.994.097
23 K-1-50-I -256.851 -4.211.166
Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa, selisih negatif tertinggi di KBE
pada kode INA-CBG’s M-1-60-II (Sprosedur sistem muskoletal dan jaringan
penghubung lain – lain kategori sedang) yaitu sebesar Rp.-30.739.627 sedangkan
selisih negatif tertinggi di IBP pada kode INA-CBG’s yang sama terdapat
perbedaan yaitu Rp.-51.415.422.
Menurut Thabrani (2011), perbedaan selisih yang dihasilkaan tersebut
dapat dikarenakan beberapa faktor, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
biaya kesehatan yaitu, komponen inflasi biaya rumah sakit, kebijakan pemerintah,
pembayar pihak ketiga (asuransi), maupun tenaga kesehatan sendiri (Mawaddah
dan Tasmiatun, 2015). Hal lain mungkin disebabkan kurangnya pengendalian
biaya dengan melakukan suatu evaluasi atau peninjauan tarif. Sesuai dengan
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013,
mengamanatkan tarif ditinjau sekurang-kurangnya setiap 2 (dua) tahun. Upaya
peninjauan tarif dimaksudkan untuk mendorong agar tarif semakin merefleksikan
actual cost dari pelayanan yang telah diberikan rumah sakit. Selain itu untuk
meningkatkan keberlangsungan sistem pentarifan yang berlaku, mampu
terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan dengan outcome yang baik.
Untuk itu keterlibatan rumah sakit dalam pengumpulan data koding dan data
costing yang lengkap dan akurat sangat diperlukan dalam proses updating tarif
(PerMenkes No 27, 2014). Ketepatan pengodean diagnosis dan prosedur akan
mempengaruhi ketepatan tarif software INA-CBG’s dengan demikian jarak
perbedaan tarif juga ditentukan oleh ketepatan pengodean (Wijayanti dan
Sugiarsi, 2011).
4.4 Distribusi Biaya Laboratorium
Berikut ini ditampilkan distribusi biaya laboratorium pasien KBE RSUP.
H. Adam Malik Medan periode April 2016 - September 2016 yang dapat dilihat
Pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 (Lanjutan)
21 K-1-40-II 7 217.000 1 217.000
22 M-1-02-II 7 217.000 1 217.000
23 W-1-20-II 8 259.000 1 129.500
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa, rata – rata biaya laboratorium
tertinggi pada kode INA-CBG’s J-1-20-I (prosedur sistem pernapasan non
kompleks kategori ringan) yaitu sebesar Rp. 1.242.000 dan kemudian pada kode
INA-CBG’s J-1-20-II (prosedur sistem pernapasan non kompleks kategori
sedang) yaitu sebesar Rp. 1.137.00, kemudian pada kode INA-CBG’s K-1-20-I
(prosedur intestinal kompleks kategori ringan) yaitu sebesar Rp.1.069.000.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan kedokteran membuat pelayanan medis
menjadi lebih canggih membuat masyarakat semakin kritis. Hal ini mendorong
para dokter kadang terpaksa melakukan pemeriksaan yang berlebihan (over
utilization), demi kepastian atas tindakan mereka dalam melakukan pengobatan,
sehingga konsekuensinya adalah terjadi peningkatan biaya medis yang ditanggung
pasien, baik berupa pemeriksaan laboratorium maupun pelayanan penunjang yang
lain (Nurul dan Sihombing, 2013). Dalam melakukan pemeriksaan seharusnya
dipedomani berdasarkan suatu standar atau clinical pathway, sehingga
pemeriksaan yang dilakukan tidak berlebihan dan sesuai. Karena jika pemeriksaan
tidak dipedomani dengan suatu standar atau clinical pathway, maka kemungkinan
terjadinya ketidak efisienan biaya pemeriksaan. Penggunaan clinical pathway juga
harus dievaluasi agar dalam penggunaannya tenaga medis lebih patuh, hal ini akan
membantu dalam memperbaiki program yang dijalankan. Clinical pathway
menyajikan instrumen manajemen strategis yang juga berfungsi sebagai instrumen
4.5 Distribusi Biaya Pelayanan Radiologi
Berikut ini ditampilkan distribusi biaya pelayanan Radiologi pasien KBE
RSUP. H.Adam Malik Medan periode April 2016 - September 2016 yang dapat
dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Distribusi Biaya Pelayanan Radiologi No Kode
sendi panggul selain sendi mayor kategori sedang), yaitu sebesar Rp. 1.096.666,
kemudian pada kode INA-CBG’s G-1-10-II (prosedur pada kraniotomi kategori
sedang) yaitu sebesar Rp. 1.007.500, dan kemudian pada kode INA-CBG’s
pelayanan merupakan salah satu penyebab terjadinya kesenjangan tarif
dikarenakan biaya yang dikeluarkan tinggi, sehingga tidak efisien dalam
pengendalian biaya aktual rumah sakit. Dalam menjalankan sistem INA-CBG’s
pihak rumah sakit harus membangun komunikasi yang baik antara tim dokter
dengan manajemen untuk mengurangi variasi pelayanan dan pilih layanan yang
paling efektif dengan membuat dan menjalankan clinical pathway serta
mengedepankan kendali mutu dan kendali biaya, untuk menghasilkan pelayanan
yang bermutu, efisien dan efektif (PerMenkes No 27, 2014).
Dalam melakukan pemeriksaan, tenaga medis yang bekerja harus
melakukan pemeriksaan secara profesional, komunikasi antar tenaga medis
dibutuhkan agar pemeriksaan yang dilakukan sesuai dan tidak berlebihan.
Sehingga biaya yang dikenakan lebih efisien sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
pasien.
4.6 Distribusi Biaya Obat/Barang Medis
Berikut ini ditampilkan penggunaan obat /barang medis di KBE dan IBP
RSUP. H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang akan
dibandingkan dengan kode INA-CBG’s yang sama dengan IBP dilihat pada Tabel
4.8 dan 4.9
4.6.1 Distribusi Biaya Obat/Barang Medis di KBE
Berikut ini ditampilkan penggunaan obat /barang medis di KBE RSUP. H.
Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang akan
dibandingkan dengan kode INA-CBG’s yang sama dengan IBP dilihat pada Tabel
Tabel 4.8 Distribusi Biaya Obat/Barang Medis di KBE
4.6.2 Distribusi Biaya Obat/Barang Medis di IBP
Berikut ini ditampilkan penggunaan obat /barang medis di IBP RSUP. H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang akan
dibandingkan dengan kode INA-CBG’s yang sama dengan KBE dilihat pada
Tabel 4.9.
Tabel 4.9 (Lanjutan)
5 M-1-60-II 164 5.264.510 1 5.264.510
6 G-1-10-II 375 39.005.164 9 4.333.907
7 K-1-20-I 218 3.844.718 1 3.844.718
8 K-1-40-II 40 3.556.576 1 3.556.576
9 M-1-20-I 173 6.944.600 2 3.472.300
10 K-1-20-III 983 20.382.265 6 3.397.044,17
11 K-1-20-II 717 29.468.290 9 3.274.254,44
12 W-1-20-II 429 22.402.785 7 3.200.397.86
13 O-6-10-I 1.127 26.567.092 10 2.656.709,20
14 W-1-20-I 1.060,30 18.112.286 9 2.587.469,43
15 K-1-10-II 33 2.534.248 1 2.534.248
16 J-1-20-I 42 1.803.253 1 1.803.253
17 M-1-02-II 30 1.744.238,07 1 1.744.238,07
18 U-1-20-I 868,6 25.452.063 16 1.590.753,94
19 K-1-50-I 27,2 1.358.539 1 1.358.539
20 K-1-40-III 26 1.329.993 1 1.329.993
21 K-4-18-I 140 2.463.558 2 1.231.779
22 K-1-13-III 23 863.353 1 863.353
23 M-1-50-I 244,4 8.547.400 6 545.709
Berdasarkan Tabel 4.8 distribusi biaya obat/barang medis di KBE dapat
dilihat bahwa, biaya obat/barang medis tertinggi pada kode INA-CBG’s M-1-80-I
(prosedur anggota tubuh atas kategori ringan) yaitu sebesar Rp.5.119.518,
kemudian pada kode INA-CBG’s kemudian pada kode INA-CBG’s K-1-40-II
(prosedur sistem pencernaan kategori sedang) yaitu sebesar Rp. 4.273.680 ,dan
kemudian M-1-20-II Rp. 3.879.169
Jika dibandingkan dengan biaya obat/barang medis di IBP dengan kode
INA-CBG’s yang sama dengan KBE pada Tabel 4.9 maka dapat dilihat bahwa
kode INA-CBG’s M-1-80-I yaitu sebesar Rp. 20.606.927,5, kemudian pada kode
INA-CBG’s K-1-40-II yaitu sebesar Rp. 3.556.576, dan kemudian pada kode INA
-CBG’s 20-II Rp. 12.079.254 Rata- rata biaya pada kode INA-CBG’s
M-1-80-I, dan M-1-20-II lebih besar dibandingkan dengan KBE sedangkan kode INA-
kemungkinan dapat disebabkan kurangnya pengendalian dan evaluasi sehingga
besarnya biaya obat/barang medis yang dikeluarkan. Pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus dilaksanakan secara
multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin
kendali mutu dan kendali biaya (Permenkes No 27, 2014). Pengendalian dan
evaluasi sebaiknya dilakukan secara terkoordinir. Formularium Rumah Sakit
disusun mengacu kepada Formularium Nasional. Formularium Rumah Sakit
merupakan daftar obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite/Tim
Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit. Rumah Sakit
harus menyusun kebijakan terkait manajemen penggunaan obat yang efektif.
Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang sekurang - kurangnya sekali setahun.
Peninjauan ulang sangat membantu Rumah Sakit memahami kebutuhan dan
prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat yang
berkelanjutan (Permenkes No 72, 2016).
Penggunaan obat – obatan yang berlebihan banyak faktor yang
meyebabkan hal tersebut terjadi, permintaan yang berlebih dari tenaga medis
karena kurangnya pengendalian, proses entri pengembalian obat/barang medis
yang kurang akurat, atau dapat juga disebabkan karena kebutuhan pasien. Jika hal
tersebut tidak dilakukan evaluasi dan perbaikan maka rumah sakit akan dikenakan
biaya aktual yang tinggi dan dapat menyebabkan selisih negatif bagi rumah sakit.
4.7 Distribusi Cost of Illness
Berikut ini ditampilkan biaya total pelayanan pasien KBE RSUP. H. Adam
Malik Medan pada pe[riode April 2016 – September 2016 yang dapat dilihat pada
Tabel 4.10 (Lanjutan)
22 W-1-20-I 496.250 (18,48)
0 (0)
2.187.744,5 (81,51)
2.683.994,5 (100) 23 W-1-20-II 129.500
(4,33)
80.000 (2,67)
2.777.045 (92,98)
2.986.545 (100)
Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat bahwa, persentase biaya langsung
medis dengan persentase tertinggi terdapat pada obat/barang medis yaitu sebesar
92,98 % pada kode INA-CBG’s W-1-20-II (prosedur pada rahim dan adeneksa
kategori sedang) kemudian pengunaan obat/barang medis yaitu sebesar 91,62 %
pada kode INA-CBG’s M-1-80-I dan kemudian penggunaan obat/barang medis
yaitu sebesar 91,39 % pada kode INA-CBG’s K-1-40-III (prosedur sistem
pencernaan kategori berat). Upaya pelayanan kesehatan untuk melakukan kendali
biaya sekaligus kendali mutu adalah dengan menerapkan suatu standarisasi
pelayanan. Salah satu bentuk standarisasi pelayanan kesehatan adalah dalam
bentuk formularium obat. Obat merupakan komoditi menarik dari industri rumah
sakit. Obat bahkan mencapai lebih dari 40 % komponen biaya pelayanan
kesehatan. Menurut Kongsvedt (2009) formularium obat merupakan suatu daftar
obat yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan medis dan jenis obat yang
dinilai efektif dan lebih efisien (Aden, 2012).
4.8 Distribusi Pelayanan Per Bulan
Berikut ini ditampilkan biaya pelayanan pada setiap bulannya di KBE
RSUP. H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang dapat
Tabel 4.11 Biaya Pelayanan Per Bulan
5 Agustus 1.773.000 2.080.000 24.733.830
6 September 1.752.000 460.000 9.553.890,00
Total 48.667.500 9.553.000 213.057.677
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat dilihat bahwa, jumlah biaya tertinggi
terdapat pada biaya pelayanan obat/barang medis yaitu sebesar Rp. 213.057.677,
dan biaya pelayanan tertinggi terdapat pada penggunaan obat/barang medis di
bulan Juni Rp.54.441.209. Hal tersebut menunjukkan biaya obat/barang medis
merupakan komponen biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan komponen
lainnya, hal ini sebaiknya dilakukan evaluasi untuk dapat mengendalikan biaya
yang dikeluarkan rumah sakit agar tidak menyebabkan biaya yang terlalu tinggi.
4.9 Distribusi 15 Penggunaan Obat Terbanyak
Berikut ini ditampilkan 15 penggunaan obat terbanyak di KBE RSUP. H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang dilihat pada
Tabel 4.12.
Tabel 4.12 15 Penggunaan Obat Terbanyak
No Nama Obat Jumlah Total Biaya
(Rp) 1 Ringer Laktat Larutan infus botol
500 ml
305 2.351.233
2 Natrium Klorida 0,9% 100 ml 299 2.293.621,20 3 Fentanil injeksi 0,05 mg/ml
(Sebagai Sitrat) 2 ml
Tabel 4.12 (Lanjutan)
7 Deksametason injeksi 5mg/ml (Sebagai Natrium F)
98 950.98,40
8 Epinefrine injeksi 0,1 % ( sebagai Asam Klorida / Bitartrat
98 566.435,00
9 Atropin Sulfas 0,25 % injeksi 95 450.148,00 10 Ranitidine injeksi 50mg/ 2 ml
@ampul 2 ml
93 235.774,42
11 Asam Traneksamat injeksi 250 mg/ 5 ml ampul
89 328.413,60
12 Propofol - Fresofol 1 % MCT/ LCT
79 1.168.048,00
13 Metilergometrin injeksi 0,200 mg/ml ampul @1ml
74 244.200,00
14 Lidokain asam klorida 2 %(HCL) 66 69.469,80
15 Roculax injeksi 5 ml 50 4.295.480,00
Total 1922 23.494.392,02
Berdasarkan Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa penggunaan obat terbanyak
terdapat pada penggunaan ringer laktat larutan infus botol 500 ml sebanyak 305
dengan biaya sebesar Rp. 2.351.233 kemudian pada penggunaan Natrium Klorida
0,9 % 100 ml yaitu sebanyak 299 dengan biaya sebesar Rp. 2.293.621,20, dan
kemudian pada penggunaan fentanil injeksi 0,05 mg/ml (Sebagai Sitrat) 2 ml yaitu
sebanyak 229 dengan biaya sebesar Rp. 10.515.460. Penggunaan obat yang tidak
terkendali dapat menyebabkan kerugian bagi rumah sakit, sehingga perlu
dilakukannya pengelolaan dan pengendalian yang baik. Sesuai dengan Permenkes
RI Nomor 58 tahun 2014 yang mengatakan bahwa instalasi farmasi harus
memiliki tim perencana obat dan menyusun rencana kerja untuk peningkatan
mutu serta pencapaian target yang telah ditetapkan. Pemilihan obat harus
disesuaikan dengan formularium rumah sakit yang berdasarkan formularium
4.10 Distribusi 15 Penggunaan Barang Medis Terbanyak
Berikut ini ditampilkan 15 penggunaan barang medis terbanyak di KBE
RSUP. H. Adam Malik Medan periode April 2016 – September 2016 yang dilihat
pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 15 Penggunaan Barang Medis Terbanyak
No Nama Obat Jumlah Total Biaya
(Rp)
1 Topi (Nurse Cup) One 599 675.420,84
2 Masker Tali OM 440 188.357
3 Disposable Syringe / Spuit 3 cc 369 1.408.842,12 4 Sarung Tangan Steril No. 7,0 251 1.929.595 5 Sarung Tangan Steril No. 7,5 221 1.748.994
6 Celemek Plastik / Apron 219 612.791,52
7 Disposable Syringe / Spuit 5 cc 205 2.344.677,66 8 Cuticell Classic 10cm x10cm 171 1.179.853,16 9 Sikat Operasi/ Scrub Brush Steril 152 1.627.740
10 Sarung Tangan NS M Ax 151 83.714
11 Sarung Tangan Steril No. 6,5 133 1.054.531 12 Sarung Tangan Steril No. 8,0 132 1.277.554 13 Silk Peters 2/0 S25339 TP25 129 6.106.959,20 14 Disposable Syringe / Spuit 10 cc 118 232.930
15 Sarung Tangan Karet Panjang 110 2.395.800
Total 3400 22.867.759,50
Berdasarkan Tabel 4.13 dapat dilihat bahwa penggunaan barang medis
terbanyak terdapat pada penggunaan Topi (Nurse Cup) One sebanyak 599 dengan
biaya sebesar Rp. 675.420,84 kemudian pada penggunaan Masker Tali OM yaitu
sebanyak 440 dengan biaya sebesar Rp. 188.357, dan kemudian pada penggunaan
Disposable Syringe / Spuit 3 cc yaitu sebanyak 369 dengan biaya sebesar Rp.
1.408.842,12. Penggunaan perbekalan farmasi yang tidak terkendali akan
menyebabkan kerugian bagi rumah sakit. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
adalah bagian yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan perbekalan farmasi,
dalam penetapan formularium. Agar pengelolaan perbekalan farmasi dan
penyusunan formularium di rumah sakit dapat sesuai dengan aturan yang berlaku,
maka diperlukan adanya tenaga yang profesional di bidang tersebut. Untuk
menyiapkan tenaga profesional tersebut diperlukan berbagai masukan diantaranya
adalah tersedianya pedoman yang dapat digunakan dalam pengelolaan perbekalan
farmasi di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) (Kemenkes, 2010)
4.11 Distribusi Obat Berdasarkan Formularium Nasional
Berikut ini ditampilkan penggunaan obat berdasarkan Formularium
Nasional (Fornas) 2016 di KBE periode April 2016 – September 2016 yang
dilihat pada Tabel 4.14.
Tabel 4.14 Persentase Obat Berdasarkan Formularium Nasional
No Berdasarkan Fornas Jumlah Persentase (%)
1 Sesuai Fornas 57 69,51
2 Tidak Sesuai Fornas 25 30,49
Total 82 100
Berdasarkan Tabel 4.14 dapat dilihat bahwa, penggunaan obat sesuai Fornas
sebanyak 57 item obat (69,51%), dan yang tidak sesuai Fornas sebanyak 25 item
obat (30,49%), hal ini berarti masih adanya obat – obatan yang digunakan tidak
berdasarkan Fornas, masih kurangnya pengendalian dan evaluasi, sehingga hal ini
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan kesimpulan penelitian ini adalah :
a. Berdasarkan perhitungan COI, biaya langsung medis dengan persentase
tertinggi di KBE ditunjukkan pada penggunaan obat/barang medis yaitu
sebesar 92,98 % pada kode INA-CBG’s W-1-20-II (prosedur pada rahim dan
adeneksa kategori sedang)
b. Berdasarkan perbedaan selisih negatif antara KBE dan IBP, selisih negatif
tertinggi di KBE pada kode INA-CBG’s M-1-60-II (prosedur sistem
muskoletal dan jaringan penghubung lain – lain kategori sedang) yaitu
sebesar Rp.-30.739.627 sedangkan selisih negatif tertinggi di IBP pada kode
INA-CBG’s yang sama terdapat perbedaan yaitu Rp. -51.415.422, selisih
negatif di IBP lebih tinggi dibandingkan di KBE
c. Berdasarkan perhitungan COI, Perbedaan biaya obat/barang medis di KBE
dan IBP yaitu biaya obat/barang medis tertinggi di KBE pada kode INA-
CBG’s M-1-80-I (prosedur anggota tubuh atas kategori ringan) sebesar Rp.
5.119.518. Jika dibandingkan dengan biaya obat/barang medis di IBP dengan
kode INA-CBG’s yang sama dengan KBE yaitu sebesar Rp. 20.606.927,50,
hal ini menunjukkan biaya penggunaan obat di IBP dengan kode INA-CBG’s
5.2. Saran
a. Bagi tenaga kesehatan
- Diharapkan bekerja sesuai prosedur yang ada dengan perpedoman pada
standar pelayanan medis dan formularium rumah sakit, standar operasional
panduan praktik klinis, agar pengendalian biaya di rumah sakit bisa
berjalan secara efisien dan efektif, sehingga selisih biaya tidak terus
terjadi, dan evaluasi terhadap biaya rumah sakit dijalankan secara berkala
dan harus disesuaikan antara biaya rumah sakit dengan tarif INA-CBG’s
- Tenaga medis yang bekerja lebih meningkatkan komunikasi agar dalam
proses pengambilan keputusan terkait terapi alternatif pasien dapat
berjalan dengan baik
- Penyusunaan perencanaan biaya sebaiknya melibatkan dokter, farmasi,
perawat, ahli gizi, dan bagian keuangan verifikasi askes.
b. Bagi peneliti selanjutnya
- Penelitian ini belum memperlihatkan unit cost pelayanan yang lebih
terperinci, dan peneliti dapat mnegevaluasi jenis cost selanjutnya dengan
penelitian ini sebagai acuannya