PARADIGMA POSITIVISME DAN POSTPOSITIVISM. pdf

15  32  Download (0)

Full text

(1)

PARADIGMA POSITIVISME DAN

POSTPOSITIVISME

Diajukan sebagai tugas pada mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi

Dosen :

Asriyani Sugiyanto, S.Ikom

Disusun Oleh :

M. Fahri Husin M. Fauzan Rina Supriana Prodi : Ilmu Komunikasi

Semester V

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya berjudul “PARADIGMA POSITIVISME DAN POSTPOSITIVISME".

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi, Ibu Asriyani Sugiyanto, S.Ikom yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini

Kita ketahui paradigma penelitian merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari proses penelitian.Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori.

Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan pemahaman tentang paradigma penelitian khususnya untuk paradigma Positivisme dan Postpositivisme

Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk proses perbaikan makalah di lain waktu.

Akhir kata, kami selaku penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Tangerang, 6 Desember 2013

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu. Perkembangan cepat

dialami oleh banyak ilmu serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan masyarakat.

Filsafat ilmu ialah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara – cara memperolehnya.

Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan.

Sampai saat ini sejarah tentang ilmu merupakan sebuah kisah kesuksesan,

kemenangan-kemenangan ilmu melambangkan suatu proses kumulatif peningkatan pengetahuan dan rangkaian

kemenangan terhadap kebodohan dan tahayul. Dan dari ilmulah kemudian mengalir arus

penemuan-penemuan yang berguna untuk kemajuan hidup manusia. Sejarawan segera menyadari bahwa gagasan

ilmu yang diperoleh selama dalam pendidikannya hanyalah salah satu dari sekian banyak gagasan dan

itu merupakan produk-produk dari konteks-konteks yang bersifat sementara.

Pembagian-pembagian nama dan istilah dalam filsafat mengkotak-kotakkan setiap pengetahuan

yang sering kali berdasar pada pengalaman, selain itu tidak dipungkiri bahwa berfilsafat sebagai

manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakkan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi dalam

kehidupan masyarakat ilmiah ala barat.

Sejalan dengan ajaran filsafat Auguste Comte yang dikenal sebagai bapak Sosiologi, logico –

positivisme yang juga digagas oleh dirinya, merupakan model epistemologi yang di dalamnya terdapat

langkah-langkah progresinya menempuh jalan melalui observasi, eksperimentasi dan komparasi

mendapatkan apresiasi yang berlebihan sehingga model ini juga mulai dikembangkan dalam penelitian

ilmu-ilmu sosial. Dari sinilah muncul tiga paradigma penelitian penting yang kemudian kita kenal

dengan paradigma positivisme, post-positivisme dan konstruktivisme. Pada kesempatan kali ini,

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penulisan, maka rumusan masalah terfokus pada Pemahaman tentang paradigma penelitian Positivisme dan Postpositivisme sebagai berikut,

1. Apa Pengertian Positivisme ?

2. Apa Pengertian Postpositivisme ?

3. Apa perbedaan paradigma Positivisme dan Postpositivisme ?

1.3 Tujuan Penulisan

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. POSITIVISME

Dalam paradigma ilmu, ilmuwan telah mengembangkan sejumlah perangkat keyakinan dasar yang mereka gunakan dalam mengungkapkan hakikat ilmu yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Tradisi pengungkapan ilmu ini telah ada sejak adanya manusia, namun secara sistematis dimulai sejak abad ke-17, ketika Descartes (1596-1650) dan para penerusnya mengembangkan cara pandang positivisme, yang memperoleh sukses besar sebagiamana terlihat pengaruhnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Paradigma ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia, yakni bagaimana, apa, dan untuk apa. Tiga pertanyaan dasar itu kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi.

a. Dimensi ontologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui (knowable), atau apa sebenarnya hakikat dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata (what is nature of reality?).

b. Dimensi epistemologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan objek yang ditemukan (know atau knowable)?

c. Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran nilai-nilai dalam suatu kegiatan penelitian.

d. Dimensi retorik yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan dalam penelitian.

(6)

Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Dengan kata lain, Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.

Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh

pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).

Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis

ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk,

maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.

Istilah ini digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar tahhun 1825). Positivisme berakar

pada empirisme. Prinsip filosofik tentang positivisme dikembangkan pertama kali oleh empirist

Francis Bacon. Tesis positivise adalah : bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan valid, dan

fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dalam perkembangannya ada tiga

positivisme, yaitu positivisme sosial, positivisme evolusioner dan positivisme kritis.

a. Positivisme sosial

Ia merupakan penjabaran lebih jauh dari kebutuhan masyarakat dan sejarah. August Comte dan

John Stuart Mill merupakan tokoh utama positivisme ini. Sedangkan para perintisnya adalah

Saint Simon dan penulis-penulis sosialistik dan utilitarian; yang karya – karyanya juga dekat

tokoh besar dalam ekonomi : Thomas Maltrus dan David Ricardo.

b. Filsafat posivitistik Auguste Comte

Filsafat positivistik Comte ini tampil dalam studinya tentang sejarah perkembangan alam pikir

manusia, matematika bukan ilmu namun merupakan alat berpikir logik. Ia terkenal dengan

penjenjangan sejarah perkembangan alam fikir manusia yaitu : teologik, metaphisik dan positif.

Pada jenjang teologik manusia memandang bahwa segala sesuatu itu hidup dengan kemauan

dan kehidupan seperti dirinya, jenjang ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap animisme atau

fetishisme, yang memandang bahwa pada setiap benda itu memiliki kemauannya sendiri.

Kedua tahap polytheisme yang memandang sejumlah dewa menampilkan kemauannya pada

sejumlah obyek dan ketiga, tahap monotheisme yang memandang bahwa ada satu Tuhan yang

(7)

Pada jenjang alam berfikir metaphisik abstraksi kemauan pribadi berubah menjadi abstraksi

tentang sebab dan kekuatan alam semesta. Pada jenjang positif, alam berfikir mengadakan

pencarian pada ilmu absolut, mencari kemauan terakhir atau sebab utama, ilmu yang pertama

menurut Comte adalah astronomi, lalu fisika lalu kimia dan akhirnya biologi.

c. Metodologi A. Comte

Alat penelitian yang pertama menurut Comte adalah observasi, tindak mengamati sekaligus

menghubungkan dengan sesuatu hukum yang hipothetik diperbolehkan oleh Comte. Itu

merupakan kreasi simultan observasi dengan hukum dan merupakan lingkaran yang tak

berujung. Eksperimentasi menjadi metode yang kedua menurut Comte yaitu suatu proses

reguler phenomena dapat diintervensi dengan sesuatu yang lain. Komparasi dipakai untuk

hal-hal yang lebih kompleks seperti biologi dan sosiologi.

d. Sosiologi A. Comte

Comte-lah yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi untuk menggantikan istilah

phisique sociale dari Quetelet. Ia membedakan antara social statics dan social dynamic.

Pembedaan itu hanyalah untuk tujuan analisis, keduanya menganalisa fakta sosial yang sama,

hanya dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama menelaah fungsi jenjang-jenjang peradaban,

yang kedua menelaah perubahan-perubahan jenjang tersebut.

e. Bentham dan Mill

Tokoh semasa dengan Comte yang juga memberi landasan positivisme adalah Jeremy Bentham

dan James Mill, menurut keduanya ilmu yang valid adalah ilmu yang dilandaskan pada fakta.

Ethik tradisional yang dilandaskan pada moral diganti dengan ethik pada motif perilaku pada

kepatuhan manusia pada aturan. Mill menolak absolut dari agama. Mill berpendapat bahwa

kebebasan manusia itu bagaikan a secrad fortress (benteng suci) yang aman dari penyusupan

(8)

f. Positivisme Evolusioner

Hal ini berangkat dari phisika dan biologi dan digunakan doktrin evolusi biologik

g. Herbert Spencer

Konsepnya diilhami oleh konsep evolusi biologik, dalam konsepnya, evolusi merupakan proses

dari sederhana ke kompleks, pengetahuan manusia menurut dia terbatas pada kawasan

phenomena. Agama yang otentik mengungkap kawasan yang penuh misteri, yang tak

diketahui, yang tak terbatas, hal mana yang phenomena tunduk kepada misteri

h. Haeckel dan Monisme

Agama sering melihat materi dan ruh sebagai dua yang dualisme, Hackel berpendapat bahwa

hal dan kesadaran itu menampilkan sifat yang berbeda, tetapi mengenai substansi yang satu,

monistik. Berbeda dengan Lambrosso yang berpendapat bahwa perilaku criminal bersifat

positivistic biologic deterministic. Wilhelm Wundt penganut positivism evolusioner

menampilkan teori paralelisme psikhophisik, menentang monism materialistic Lombrosso.

i. Positivisme kritis

Pada akhir abad XIX positivisme menampilkan bentuk lebih kritis dalam karya-karya Ernst

Mach dan Richard Avenarius dan lebih dikenal sebagai empiriocritisisme. Fakta menjadi

satu-satunya jenis unsur untuk membangun realitas.

Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya

juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang

dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga

munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh

tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina. Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang

membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis

definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur

logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan

(9)

Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk

mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan

ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan

matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.

Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu

bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya.

Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang

menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak

mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa

observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.

Auguste Comte (1798-1857) sering disebut “Bapak Positivisme“ karena aliran filsafat yang

didirikannya tersebut. Positivisme adalah nyata, tidak khayal. Ia menolak metafisika dan teologik. Jadi

menurut dia ilmu pengetahuan harus nyata dan bermanfaat serta diarahkan untuk mencapai kemajuan.

Metode positif Auguste Comte menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat penting.

Dalam usaha untuk memecahkan suatu masalah yang ada dimasyarakat kelompok ini berusaha

mengetahui (lewat penelitian) penyebab terjadinya masalah tersebut untuk selanjutnya diusahakan

(10)

B. POSTPOSITIVISME

Munculnya gugatan terhadap positivisme di mulai tahun 1970-1980an. Pemikirannya dinamai “post-positivisme”. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf mazhab Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa di prediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah.

Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme yang dianggap memiliki kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran post-positivisme bersifat critical realism dan menganggap bahwa realitas memang ada dan sesuai dengan kenyataan dan hukum alam tapi mustahil realitas tersebut dapat dilihat secara benar oleh peneliti. Secara epistomologis: Modified dualist/objectivist, hubungan peneliti dengan realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan tapi harus interaktif dengan subjektivitas seminimal mungkin. Secara metodologis adalah modified experimental/ manipulatif.

Observasi yang didewakan positivisme dipertanyakan netralitasnya, karena observasi dianggap bisa saja dipengaruhi oleh persepsi masing-masing orang. Proses dari positivisme ke post-positivisme melalui kritikan dari tiga hal yaitu :

1) Observasi sebagai unsur utama metode penelitian,

2) Hubungan yang kaku antara teori dan bukti. Pengamat memiliki sudut pandang yang berbeda dan teori harus mengalah pada perbedaan waktu,

3) Tradisi keilmuan yang terus berkembang dan dinamis (Salim, 2001).

(11)

ASUMSI DASAR POST POSITIVISME

1) Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.

2) Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali.

3) Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.

4) Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah.

5) Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.

6) Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.

7) Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah keputusan.

Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. Hubungan antara peneliti dengan realitas harus bersifat interaktif, untuk itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, data, dan lain-lain

Untuk mengetahui lebih jauh tentang postpositivisme empat pertanyaan dasar berikut, akan memberikan gambaran tentang posisi aliran ini dalam kancah paradigma ilmu pengetahuan ;

(12)

Kedua, Bukankah postpositivisme bergantung pada paradigma realisme yang sudah sangat tua dan usang? Dugaan ini tidak seluruhnya benar. Pandangan awal aliran positivisme (old-positivism) adalah anti realis, yang menolak adanya realitas dari suatu teori. Realisme modern bukanlah kelanjutan atau luncuran dari aliran positivisme, tetapi merupakan perkembangan akhir dari pandangan postpositivisme.

Ketiga, banyak postpositivisme yang berpengaruh yang merupakan penganut realisme. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui adanya sebuah kenyataan (multiple realities) dan setiap masyarakat membentuk realitas mereka sendiri? Pandangan ini tidak benar karena relativisme tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari dalam dunia ilmu. Yang pasti postpositivisme mengakui bahwa paradigma hanyalah berfungsi sebagai lensa bukan sebagai kacamata. Selanjutnya, relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu benar, sedangkan realis hanya berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap terbaik dan benar. Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat menentukan banyak hal sebagai hal yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh anggotanya.

(13)

PERBEDAAN PARADIGMA POSITIVISME DAN POST POSITIVISME

Untuk dapat membedakan paradigma Positivistik dan paradigmapostpositivitik maka penulis merumuskan dalam bentuk tabel berikut : mempengaruhi lainnya secara otomatis tidak mempengaruhi hasil studi.

(14)

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat

dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Dalam

perkembangannya ada tiga positivisme, yaitu positivisme sosial, positivisme evolusioner dan

positivisme kritis.

• Positivisme sosial adalah paradigma yang berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sejarah

• positivisme evolusioner adalah paradigma yang berdasarkan phisika dan biologi dan

digunakan doktrin evolusi biologik

• positivisme kritis adalah paradigma yang berdasarkan pada Fakta yang menjadi satu-satunya

jenis unsur untuk membangun realitas

Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme. Secara ontologis aliran post-positivisme bersifat critical realism artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya artinya.post positivisme bergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, keyakinan, natural dan lebih manusiawi. Indikator yang membedakan antara Paradigma positivisme dan postpositivism adalah post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode

B. SARAN

Dalam penyusunan makalah ini “POSITIVISME DAN POSTPOSITIVISME”, penulis

menggunakan sumber yang cukup mendasar yaitu internet.Selain itu, bentuk pemaparan dan penjelasan

makalah ini menggunakan metode pendeskripsian dan argumentasi sederhana untuk-mempermudah

pembaca dalam memahami isi makalah. Sehingga Jika terdapat perbedaan teori yang sebenarnya,

(15)

DAFTAR PUSTAKA

http://wawanhariskurnia.blogspot.com/2012/12/filsafat-positivisme.html

http://hartono-hartonogs.blogspot.com/2012/10/paradigma-ilmu-positivisme_3909.html

Figure

Updating...

References