TA. 2016
P O L I C Y B R I E F
STRATEGI PENERAPAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Strategi Penerapan Hunian Apung Modular Tahun Anggaran : 2016
Jumlah : 3 (tiga) eksemplar
Yogyakarta, Desember 2016
Penanggung Jawab
[ Ir. Achjat Dwiatno, M.Eng ] NIP. 19630404 199003 1 003 Koordinator [ Yudha P Heston,MT ] NIP. 197908292005021001 Ketua Tim [ Dimas HN,ST,M.Eng ] NIP. 198501092008011008 Menyetujui,
Pejabat Pembuat Komitmen
[ Antin Juliati, ST.,MM ] NIP. 19730701 200112 2 001
Mengetahui,
Kepala Pusat Kebijakan dan Penerapan Teknologi
[ Ir. Rejeki Peranginangin, M.Sc.MM ] NIP. 19631017 199003 1002
P O L I C Y B R I E F
Strategi Penerapan Hunian Apung Modular iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas taufik dan hidayahnya Policy Brief Strategi Penerapan Hunian Apung Modular telah terlaksana dengan baik.
Penulisan laporan akhir ini dilatarbelakangi oleh adanya kecenderungan arah reklamasi maupun fenomena abrasi di Negara kita. Badan Litbang Kementerian PUPR menginisiasi penerapan teknologi apung di beberapa lokasi. Tujuan
penelitian ini adalah menyusun naskah strategi penerapan hunian apung,
dengan menyiapkan peta sosial ekonomi lingkungan dan profil teknologi serta melakukan perkiraan dampak yang terjadi dari adanya pembangunan wahana apung.
Akhirnya kami mengucapkan selamat dan terimakasih kepada Tim Penyusun, Nara Sumber, Pakar/Praktisi yang telah bersama-sama merumuskan laporan akhir ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi para pengguna dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan khususnya bagi penerapan hunian apung modular ke depan.
Yogyakarta, Desember 2016
Ir. Achjat Dwiatno, M.Eng
Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
P O L I C Y B R I E F
POLICY BRIEF
STRATEGI PENERAPAN HUNIAN APUNG MODULAR
Permasalahan reklamasi, abrasi memicu adanya inovasi baru dalam pengembangan wilayah. Dewasa ini telah mulai dikembangkan konsep baru berupa teknologi hunian apung. Salah satu pengembangnya adalah negara Belanda. Arsitek Bart van Bueren dari biro Waterarchitect menjelaskan bahwa perlunya pengembangan hunian dan kota ke wilayah air secara terapung dikarenakan meningkatnya permukaan laut dan sungai, penurunan permukaan lahan serta peningkatan curah hujan yang mengakibatkan terendamnya kota-kota dan hunian di dunia ini. Kelebihan hunian di air adalah fleksibilitas untuk berpindah posisi maupun lokasi, oleh karenanya di Belanda ada houseboat atau rumah dengan bentuk seperti perahu yang bisa berpindah-pindah. Selain itu, banyak rumah yang memakai landasan datar (tidak berbentuk perahu) yang bisa berotasi mengubah arah posisi rumah dan bila berpindah tinggal ditarik dengan perahu. Di Indonesia, salah satu program yang dapat dirancang adalah adanya pilot project penerapan wahana/ hunian apung modular oleh Badan Litbang Kementerian PUPR. Penerapan ini ada di beberapa lokasi yaitu Tambaklorok Semarang untuk wahana/ hunian apung, Candidasa Karangasem Bali untuk breakwater apung serta Kepulauan Yapen di Papua untuk multi infrastruktur (jembatan, permukiman apung). Teknologi yang digunakan adalah menggunakan teknologi ponton Expanderad Polystren (EPS). EPS ini mempunyai beberapa keuntungan, misalnya sangat ringan sehingga mudah digunakan, berfungsi sebagai insulator panas, menyerap suara, aman digunakan, tahan lama dan lainnya. Menurut produsen foam, EPS ini bergaransi normal sampai dengan 30 tahun. Bahkan bila ini tetap dijaga, EPS ini akan bertahan sampai dengan 50 tahun.Sebagai sebuah teknologi baru, tentu tidak mudah dalam penerapannya. Kendala penerapan wahana apung adalah baru pada tahapan arsitektural dan masih banyak masyarakat yang belum mengenal teknologi apung. Kendala yang lain adalah 1) persoalan harga, sebagai contoh harga wahana apung minus teknologi dan biaya konsultan
P O L I C Y B R I E F
Strategi Penerapan Hunian Apung Modular 2
Jawa Barat 3) selain itu persoalan persepsi masyarakat perlu ditemukenali agar teknologi ini dapat masuk secara mudah 4) persoalan lain adalah persoalan manajemen transisi didalam pembangunannya. Manajemen transisi ini sendiri mengandung arti analisis yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana langkah perubahan suatu organisasi (masyarakat/instansi) dari satu posisi/kondisi tertentu menuju pada posisi/kondisi lain yang diharapkan. Dari sebelumnya belum mampu dan mau menjadi mampu dan mau melaksanakan.
Dalam mengatasi persoalan tersebut, sudah dilakukan pemetaan sosial ekonomi lingkungan dari karakteristik wilayah yang bersangkutan maupun dilakukan pemetaan profil teknologi dari wahana apung ini sendiri. Adapun untuk menjawab permasalahan tersebut, direkomendasikan hal- hal sebagai berikut :
1) Aspek fleksibilitas, bangunan apung yang ada mengandung unsur fleksibilitas dimana bangunan wahana apung ini dibangun mengadopsi teknologi dengan suhu didalam wahana tidak terlalu tinggi, dan juga dapat mengatasi persoalan landsubsidence, selain itu letak bangunan juga dapat digeser sesuai dengan peruntukkan. Desain arsitektural juga dapat disesuaikan dengan arsitektur nusantara setempat. Misalnya desain hunian apung Tambaklorok Semarang tentu berbeda dengan desain hunian apung di Miosindi Kepulauan Yapen misalnya. Aspek fleksibilitas penting untuk ditonjolkan dalam diseminasi ke pemerintah maupun ke masyarakat.
2) Aspek keterjangkauan. Didalam aspek keterjangkauan mengandung arti kedepannya diperlukan adanya penawaran harga yang yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Ini dapat dilakukan misalnya dengan menggandeng swasta dalam skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS/PPP). Selain itu skema lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggandeng CSR Perusahaan swasta maupun PKBL dari BUMN- BUMN. BUMN- BUMN Karya seperti Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya maupun anak-perusahaan yang bergerak dibidang precast dapat dilibatkan dalam skema tersebut.
P O L I C Y B R I E F
3) Aspek Ketersediaan. Aspek ketersediaan ini mengandung arti perlu adanya kerjasama yang menghubungkan produsen material foam dengan pihak pengguna. Hal ini juga harus didukung oleh system logistic pengiriman yang baik. Produsen perlu membuat hub-hub/ cabang di kota yang merepresentasikan perwakilan Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Di Hub- hub pada jangka pendek adalah sebagai distributor, akan tetapi di jangka panjang dapat diproyeksikan menjadi workshop.
4) Aspek Keandalan. Keandalan dari material foam ini perlu ditonjolkan. Keunggulan dari material ini sangat ringan sehingga mudah digunakan, berfungsi sebagai insulator panas, menyerap suara, aman digunakan, tahan lama, tahan api, dan lainnya.
5) Aspek lokalitas. Untuk lokalitas, penggunaan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk membantu pembangunan dan penggunaan bahan baku lokal seperti dapat meminimalisir biaya dalam konstruksi bangunan apung.Perlu adanya training/ pelatihan dalam pembuatan bangunan apung. Hal ini juga sudah dilakukan oleh RISHA dimana banyak dilakukan training- training Aplikator. Bangunan apung dapat mencontoh hal tersebut.
6) Aspek kemudahan. bahan baku merupakan bahan yang dijamin ketersediaan di Pulau Jawa. Namun, untuk di di luar Jawa seperti Bali dan Papua, kemudahan memperoleh bahan baku harus tetap dikawal dengan mekanisme bantuan pihak pemerintah karena tingginya ketergantungan masyarakat akan pemerintah. Selain itu, dalam aspek manajemen transisi, diperlukan strategi sebagai berikut :
1) Aspek komunikasi. Komunikasi dalam menginformasikan program harus dilakukan secara hati- hati, supaya tidak terjadi gagal program (miscommunication). Sosialisasi program bangunan apung dilakukan secara bertahap mulai dari Tahap Pemerintah Daerah, Tahap Lurah-RT-RW serta Tahapan ke masyarakat. Dalam menyampaikan hendaknya didukung oleh data-data yang cukup akurat, dengan bahasa yang mudah dipahami serta luwes dalam penyampaian
P O L I C Y B R I E F
Strategi Penerapan Hunian Apung Modular 4
2) Aspek organisasi. Didalam rencana pelaksanaan maupun pasca konstruksi, hendaknya organisasi pengelola memakai unsure eksisting yang ada di Kelurahan setempat misalnya organisasi BKM eks PNPM, organisasi LPMK maupun yang lainnya. Selain itu juga melibatkan unsur tokoh masyarakat setempat
3) Aspek manajemen dan monitoring, Manajemen dan monitoring ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana rencana telah dilaksanakan dan diterapkan serta untuk mendapatkan umpan balik dari program yang diterapkan. Bahan yang didapatkan kemudian akan diolah sebagai perbaikan terhadap manajemen yang akan datang. Perlu dilakukan training pasca pengelolaan, baik dalam hal non teknis (administrasi keuangan pengelolaan) maupun aspek teknis pemeliharaan