SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPAILITKAN CESSUS (Studi Kasus
Cessie atas Sebagian Piutang PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint
Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama)
Imam Purbo JatiAbstract
This research aims to determine the validity of Partial Assignment on personal lien that undertaken in an effort to obtain the status of bankruptcy for Cessus, especially in the case of Partial Assignment that performed by PT Daya Satya Abrasives to PT Multi Karya Usaha Bersama in order to obtain the status of bankruptcy for PT Saint Gobain Abrasives Indonesia. This research is a normative juridical law using secondary data, such as legislation and books. From this research, it is concluded, that basically, that partial cession was not legally because the implementation of assignment agreement was not carried out in good faith and it has been detrimental to the third party that caused the violation of public order which PT Saint Gobain Abrasives can’t use its rights in the field of property because of the status of bankruptcy that given to him.
Keywords: bankruptcy; partial assignment on personal lien; public order
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keabsahan cessie atas sebagian piutang yang dilakukan sebagai upaya untuk mempailitkan cessus, khususnya dalam kasus cessie atas sebagian piutang PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama. Penelitian ini penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder, diantaranya peraturan perundang-undangan dan buku-buku terkait. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa pada dasarnya cessie atas sebagian piutang tersebut adalah tidak sah karena pelaksanaan perjanjian cessie tersebut didasarkan pada itikad buruk dan telah merugikan pihak ketiga sehingga menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap ketertiban umum dimana PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kehilangan haknya dalam bidang harta kekayaan karena status kepailitan yang diperolehnya.
Kata Kunci : cessie atas sebagian piutang; kepailitan; ketertiban umum
A. Pendahuluan
Dengan semakin berkembangnya perekonomian di Indonesia yang berjalan seiring dengan perkembangan era globalisasi perdagangan dunia telah mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan barang dan jasa di masyarakat. Berbagai bentuk perjanjian baik
perjanjian bernama1 maupun perjanjian tidak bernama2 dilakukan demi untuk mewujudkan keinginan para pihak yang terikat dalam perjanjian dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu perjanjian merupakan suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu.3 Akibat adanya hal yang dijanjikan tersebut yaitu untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu tersebut,4 maka perjanjian tersebut menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang terikat di dalamnya. Kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian yang dibuat antara para pihak tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang diperjanjikan. Oleh karenanya dalam suatu perjanjian juga timbul tagihan dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur) sebagai konsekuensi dari kewajiban atas perjanjian yang belum dilaksanakan oleh debitur tersebut dan bersamaan dengan munculnya tagihan tersebut maka kreditur mempunyai hak tagih kepada debitur atas kewajiban yang telah disepakati dalam perjanjian yang mengikat debitur dan kreditur tersebut.
Pada dasarnya hak tagihan yang dimiliki kreditur terhadap debiturnya atas prestasi yang belum dipenuhi hanya dapat dimiliki oleh pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut, yaitu kreditur itu sendiri sebagai konsekuensi bahwa suatu perjanjian hanya dapat berlaku bagi pihak-pihak yang membuatnya.5 Hal ini berarti bahwa tidak ada pihak-pihak di luar perjanjian yang boleh ikut campur dalam perjanjian antara kreditur dan debitur tersebut termasuk mendapatkan hak tagihan kreditur atas debitur dalam perjanjian tersebut, kecuali bahwa kreditur menjual seluruh/sebagian piutang terhadap debiturnya kepada pihak lain dengan alasan bahwa dia sangat membutuhkan uang sedangkan piutangnya belum jatuh
1 Perjanjian bernama adalah perjanjian yang mempunyai namanya sendiri. Maksudnya ialah bahwa
perjanjian-perjanjian tersebut diatur dan diberi nama oleh pembentuk undang-undang, berdasarkan tipe yang paling banya terjadi sehari-hari. Perjanjian tersebut terdapat dalam Bab V sampai Bab XVII KUHPerdata. (Mariam Darus Badrulzaman, et. al., Kompilasi Hukum Perikatan, cet. 1, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 67.)
2 Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian-perjanjian yang tidak diatur di dalam KUHPerdata, tetapi
terdapat di dalam masyarakat. Lahirnya perjanjian ini di dalam praktek adalah berdasarkan asas kebebasan berkontrak, mengadakan perjanjian atau partij otonomi. (Ibid.)
3 Subekti, Hukum Perjanjian, cet.19, (Jakarta: Intermasa, 2002), hlm. 36.
4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgelijk Wetboek], diterjemahkan oleh R. Subekti dan R.
Tjitrosudibio. (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004). Ps. 1234.
5 Pasal 1340 Ayat (1) KUHPerdata menyatakan, “Suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak
tempo sehingga dilakukanlah penjualan piutang tersebut kepada pihak lain dengan harga dibawah nilai nominal piutang dan nantinya pihak yang membeli piutang tersebut yang akan menagih pembayaran kepada debitur sesuai dengan nilai nominalnya.6 Perbuatan hukum tersebut dapat dimungkinkan untuk dilakukan mengingat ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata) sendiri juga telah mengatur bahwa piutang dapat dialihkan kepada pihak lain sebagaimana diatur dalam pasal 613 KUHPerdata. Dengan adanya pengalihan piutang kreditur atas debitur kepada pihak lain baik dilakukan untuk sebagian maupun seluruh piutang, maka hal ini dapat memperlancar kepentingan kreditur yang mengalihkan piutangnya tersebut.
Jual beli piutang tersebut tidak serta merta dapat mengalihkan hak atas piutang tersebut kepada pembeli piutang karena sesuai dengan ketentuan pasal 1459 jo. Pasal 613 KUHPerdata, pengalihan piutang atas nama harus dilakukan dengan cara cessie. Hal ini disebabkan oleh karena perjanjian jual beli piutang antara kreditur (penjual) dengan pembeli piutang merupakan bentuk perjanjian yang bersifat konsensual obligatoir.7 Fase ini baru merupakan kesepakatan (konsensual) dan harus diikuti dengan perjanjian penyerahan (perjanjian kebendaan).8 Perjanjian jual beli piutang yang bersifat obligatoir tersebut harus diikuti dengan perjanjian kebendaan untuk mengalihkan hak atas piutang dari kreditur lama, yang disebut sebagai Cedent, kepada pembeli piutang yang akhirnya akan menjadi kreditur baru, yang disebut sebagai Cessionaris, bagi debitur, yang dalam konteks cessie disebut sebagai Cessus. Dengan kata lain bahwa perjanjian jual beli piutang yang bersifat obligatoir harus diikuti dengan perjanjian cessie yang merupakan perjanjian kebendaan (zakelijk) sebagai bentuk penyerahan agar hak tagih Cedent atas Cessus dapat beralih kepada
Cessionaris.
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan ekonomi yang menuntut persaingan usaha dalam perdagangan baik nasional maupun internasional, pengalihan piutang secara cessie yang telah banyak digunakan demi memperlancar usaha kreditur, ternyata oleh kreditur yang mempunyai itikad buruk juga dapat digunakan untuk mempailitkan Cessus yang mana cessie tersebut berakibat pada terpenuhinya syarat kepailitan sebagaimana ditentukan dalam
6
Soeharnoko dan Endah Hartati, Doktrin Subrogasi, Novasi dan Cessie, cet.3, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.103-104.
7 Ibid., hlm. 103.
peraturan perundang-undangan tentang kepailitan. Dalam hal pengalihan piutang secara
cessie dilakukan untuk seluruh piutang kreditur maka tidak menjadi permasalahan karena
hak-hak kreditur lama beralih kepada kreditur baru secara keseluruhan, yang berarti bahwa
cessie atas seluruh piutang mempunyai akibat hukum yang penuh. Hal yang dapat menjadi
permasalahan adalah apabila pengalihan piutang secara cessie dilakukan untuk sebagian piutang kreditur atas debitur kepada pihak lain. Dalam sejarah Anglo Saxon, cessie atas sebagian piutang yang disebut sebagai cessie parsial ini pernah tidak diperbolehkan, tetapi perkembangan dewasa ini, larangan cessie sudah banyak ditinggalkan, karena memang tidak mempunyai dasar yang kuat untuk melarangnya.9 Adanya cessie atas sebagian piutang tersebut akan membawa akibat hukum yang terbatas, berbeda dengan cessie atas seluruh piutang. Pada awalnya sebelum perbuatan hukum cessie atas sebagian piutang, debitur hanya mempunyai seorang kreditur. Tetapi, dengan adanya cessie atas sebagian piutang kreditur atas debitur tersebut maka menyebabkan debitur menjadi mempunyai dua kreditur, yaitu
Cedent (yang masih mempunyai hak tagih kepada debitur) dan Cessionaris, yang
masing-masing memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pemenuhan pembayaran dari debitur pada tanggal jatuh tempo yang sama sesuai dengan jumlah piutangnya sebagai hasil dari
cessie atas sebagian piutang.
Maksud serta tujuan yang sebenarnya dari dilaksanakannya praktik cessie atas sebagian piutang biasanya baru diketahui oleh debitur Cessus setelah tiba-tiba ada surat panggilan dari Pengadilan Niaga setempat tentang adanya permohonan kepailitan yang diajukan kepada dirinya sehingga dalam hal ini sulit bagi Cessus ingin mengajukan pembatalan cessie atas sebagian piutang yang dilakukan krediturnya. Kondisi tersebut sama halnya dengan kasus sengketa kepailitan yang telah diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat antara PT Daya Satya Abrasives (Pemohon Pailit) melawan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia (Termohon Pailit). Pada kasus tersebut PT Daya Satya Abrasives telah mengalihkan sebagian piutangnya secara cessie atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama. Beberapa hari setelah ditandatanganinya Akta
Cessie tersebut, PT Daya Satya Abrasives selaku Cedent mengajukan permohonan kepailitan
PT Saint Gobain Abrasives Indonesia selaku Cessus dengan alasan salah satunya bahwa PT
9 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis): Buku Kedua, cet. 1, (Bandung:
Saint Gobain Abrasives Indonesia telah mempunyai dua kreditur, yaitu PT Daya Satya Abrasives dan PT Multi Karya Usaha Bersama. Akhirnya oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, permohonan kepailitan PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia dikabulkan dan putusan ini juga dikuatkan pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung.
Ketidakpastian hukum dalam hal perbuatan hukum cessie khususnya cessie atas sebagian piutang tersebut yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini. Dalam perbuatan hukum cessie atas sebagian piutang yang dilakukan oleh Cedent, Cessus hanya bertindak pasif sebagai pihak ketiga dalam perjanjian jual beli piutang yang kemudian dilanjutkan dengan perjanjian cessie sebagai perjanjian kebendaan untuk mengalihkan hak tagih atas piutang tersebut. Sebagai pihak ketiga, Cessus tidak mungkin mengetahui apa maksud dari pengalihan piutang secara cessie oleh Cedent tersebut karena yang diketahuinya hanyalah kreditur ingin cepat mendapatkan piutangnya untuk melancarkan kegiatan usahanya sehingga Cessus tidak akan mengetahui maksud lain dari pengalihan piutang secara cessie yang dilakukan oleh Cedent tersebut, apalagi jika maksud dari Cedent adalah ingin mempailitkan Cessus. Dengan demikian, sangatlah penting untuk meninjau mengenai keabsahan dari cessie atas sebagian piutang yang dilakukan dengan tujuan sebagai upaya mempailitkan Cessus sekaligus pula meninjau keabsahan permohonan kepailitan yang diajukan atas dasar cessie atas sebagian piutang yang mana menimbulkan akibat hukum yang merugikan pihak Cessus karena lembaga kepailitan seharusnya merupakan upaya terakhir (ultimum remedium) dan bukan menjadi upaya awal (premium remedium) untuk menagih utang kepada debitur.10
Berdasarkan uraian-uraian latar belakang diatas, dalam skripsi ini akan membahas beberapa permasalahan yang akan diangkat, yaitu: (1) Bagaimana mekanisme dari pelaksanaan cessie atas sebagian piutang yang sah dan mengikat, serta akibat hukumnya bagi para pihak? (2) Bagaimana keabsahan pengalihan sebagian piutang secara cessie PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama? (3) Apakah permohonan kepailitan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia yang
10 Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, ed. 1, cet. 1, (Jakarta:
diajukan oleh PT Daya Satya Abrasives dengan didasarkan pada pengalihan sebagian piutangnya secara cessie kepada PT Multi Karya Usaha Bersama sah secara hukum?
B. Pembahasan
1. Mekanisme Pelaksanaan Cessie atas Sebagian Piutang serta Akibat Hukumnya
Bagi Para Pihak
Dalam Pasal 613 KUHPerdata hanya dijelaskan bahwa cessie dibuat dalam suatu akta otentik atau dibawah tangan serta diberitahukan, atau disetujui atau diakui secara tertulis oleh
cessus. Berdasarkan ketentuan Pasal 584 jo. Pasal 613 KUHPerdata tersebut, maka
mekanisme pelaksanaan cessie atas sebagian piutang atas nama adalah sebagai berikut:
a. Adanya suatu peristiwa hukum yang sah yang menimbulkan hubungan hukum utang piutang antara kreditur dengan debitur. Dalam hal ini peristiwa hukum yang menimbulkan hubungan hukum utang piutang adalah perjanjian sehingga dalam pembuatan perikatan tersebut harus tunduk pada ketentuan Buku III KUHPerdata dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.
b. Untuk dapat melakukan tindakan hukum cessie, maka tentunya juga harus ada benda tertentu yang akan di-cessie-kan, yaitu piutang atas nama dan benda tertentu tersebut dialihkan melalui suatu peristiwa perdata sebagaimana dijelaskan Pasal 584 KUHPerdata sebelum diserahkan secara cessie dari pihak kreditur kepada pihak ketiga. Peristiwa perdata yang mendasarinya tersebut harus tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku sehingga dalam hal apabila peristiwa perdatanya melanggar hukum dan tidak sah, maka cessie sebagai kelanjutan dari tindakan pengalihan piutang tersebut dari kreditur kepada pihak ketiga juga ikut tidak sah.
c. Cessie dibuat dalam suatu akta otentik atau dibawah tangan sebagaimana diatur dalam
Pasal 613 KUHPerdata jo. UU Jabatan Notaris. Dengan demikian, apabila cessie tidak memenuhi syarat materiil sesuai dengan ketentuan Pasal 613 KUHPerdata dan/atau
cessie tidak memenuhi syarat formil sebagaimana diatur dalam UU Jabatan Notaris,
maka cessienya batal demi hukum karena cessie merupakan perjanjian kebendaan untuk mengalihkan piutang atas nama tersebut sehingga dengan tidak dibuatnya cessie
dalam suatu akta, berarti cessie tersebut telah melanggar syarat objektif pembuatan perjanjian.
d. Dengan ditandatanganinya akta cessie tersebut, maka sejak saat itu pula cessie atas sebagian piutang atas nama dinyatakan sah dan mengikat cedent dan cessionaris dan sebagian piutang atas nama telah beralih dari cedent kepada cessionaris.
e. Bahwa setelah ditandatanganinya akta cessie tersebut, pihak cessus harus diberitahukan secara tertulis oleh cedent dan/atau cessionaris bahwa telah terjadi pengalihan atas sebagian piutang kreditur kepada pihak ketiga. Dengan adanya pemberitahuan tersebut, maka hal ini mempunyai akibat hukum bahwa cessie tersebut telah mengikat debitur dan mempunyai akibat hukum kepadanya.
Kemudian, dengan adanya tindakan hukum cessie atas sebagian piutang tersebut, maka tentunya akan menimbulkan akibat hukum bagi para pihak khususnya pihak debitur (cessus) adalah sebagai berikut:
- Bahwa dengan adanya cessie atas sebagian piutang mengakibatkan hanya sebagian piutang cedent terhadap cessus yang beralih kepada cessionaris sesuai dengan perjanjian obligatoirnya (perjanjian pokoknya).
- Karena hanya sebagian piutang yang beralih berarti tidak membebaskan cessus dari kewajiban pembayaran utang kepada cedent karena cessus masih memiliki sebagian kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada cedent.
- Peristiwa penggantian kreditur tersebut hanya untuk sebagian piutangnya saja dan sebagian piutang yang lain masih berada dalam kepemilikan kreditur lama sehingga kedudukan cedent atas sebagian piutang telah digantikan oleh kedudukan cessionaris, yang berarti cessionaris juga memiliki segala hak yang dimiliki oleh cedent terhadap
cessus dan dapat digunakan sepenuhnya sesuai dengan peristiwa perdata yang
mendasarinya.
- Tindakan hukum cessie atas sebagian piutang mengakibatkan debitur (cessus) memiliki dua kreditur, yaitu cedent dan cessionaris yang masing mempunyai hak yang hampir sama dalam melakukan penagihan kepada cessus dan harus dipenuhi cessus dengan jangka waktu yang sama dengan jangka waktu pemenuhan pembayaran utang dalam hubungan hukum utang piutang antara cessus dan cedent.
2. Keabsahaan Cessie atas Sebagian Piutang PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama
Pada dasarnya Pasal 613 KUHPerdata tidak mengatur apa pun mengenai jenis cessie yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan karena hanya mengatur bagaimana cara
cessie itu dilakukan agar cessie sah menurut hukum sehingga dapat dikatakan bahwa cessie
dalam jenis apa pun termasuk cessie atas sebagian piutang boleh dilakukan asalkan dibenarkan oleh hukum. Menurut Munir Fuady, ada cessie yang tidak dibenarkan oleh hukum, yaitu sebagai berikut:11
a. Cessie yang bertentangan dengan undang-undang. b. Cessie yang bertentangan dengan ketertiban umum. c. Cessie yang bertentangan dengan kesusilaan.
d. Cessie yang secara signifikasi dapat mengubah kewajiban dari pihak debitur. e. Cessie yang dilarang dalam perjanjian yang menimbulkan hak yang dialihkan. Lalu, bagaimana dengan cessie atas sebagian piutang sebagai upaya untuk mempailitkan cessus ? Karena Pasal 613 KUHPerdata tidak mengatur apa pun mengenai
cessie atas sebagian piutang, maka dalam hal ini dapat ditafsirkan bahwa cessie atas sebagian
piutang diperbolehkan oleh hukum asalkan tidak melanggar ketertiban umum, kesusilaan, maupun undang-undang yang berlaku. Walaupun dalam hal cessie diatur dalam Pasal 613 KUHPerdata yang merupakan bagian dari Buku II KUHPerdata tentang benda, sedangkan ketentuan mengenai perjanjian dibuat harus berdasarkan ketertiban umum, kesusilaan, maupun undang-undang terdapat dalam Pasal 1337 KUHPerdata yang merupakan bagian dari Buku III KUHPerdata tentang Perikatan, namun disini menurut Scholten, cessie tidak hanya berkaitan dengan cara memperoleh hak kebendaan, namun juga berkaitan dengan lembaga hukum perikatan karena adanya cessie ditentukan oleh adanya perjanjian obligatoirnya yang memperjanjikan tentang pergantian kualitas kreditur12 sehingga sudah merupakan kewajiban apabila secara keseluruhan yang berkaitan dengan peristiwa cessie tunduk pada ketentuan hukum tertulis (undang-undang) dan hukum tidak tertulis (ketertiban umum dan/atau kesusilaan) yang berlaku di masyarakat.
11 Munir Fuady, Op. cit., hlm. 160.
12 J. Satrio, Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Percampuran Hutang, cet. 2,
Berkaitan dengan keabsahan cessie atas sebagian piutang yang dilakukan PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Muti Karya Usaha Bersama, maka dalam hal ini perlu diketahui terlebih dahulu duduk perkara yang terjadi dalam kasus tersebut dimana penulis akan sampaikan dalam bentuk alur bagan sebagai berikut: (dalam bagan dibawah ini PT Daya Satya Abrasives disingkat PT DSA, PT Saint Gobain Arbasives Indonesia disingkat PT SGAI, dan PT Multi Karya Usaha Bersama disingkat PT MKUB)
Bagan 1: Duduk Perkara Kasus antara PT Daya Satya Abrasives dan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia
Berdasarkan uraian kasus posisi tersebut, adapun tanggapan penulis berkaitan dengan pernyataan bahwa Cessie atas sebagian piutang yang dilakukan PT Daya Satya Abrasives merupakan upaya untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia (cessus), yaitu: - Bahwa alasan yuridis penulis menyatakan bahwa cessie atas sebagian piutang tersebut
dilakukan PT Daya Satya Abrasives hanya untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia adalah berkaitan dengan akibat hukum dari cessie atas sebagian piutang bagi cessus dan syarat kepailitan itu sendiri, dimana penulis akan membuat suatu perbandingan dalam bentuk tabel, yaitu:
24/01/2007, dibuat suatu perjanjian Commercial Agreement antara PT DSA
(Pemohon) dengan PT SGAI (Termohon)
Diluar Commercial Agreement, PT SGAI juga
mengajukan permintaan kepada PT DSA agar mensupply Ampelas ½ jadi
kepada PT SGAI
Jumlah total tagihan PT DSA terhadap PT SGAI sebesar Rp. 16.959.553.492,77 PT DSA telah melakukan penagihan berkali-kali kepada PT SGAI 21/5/2010, PT DSA jual sebagian piutangnya terhadap PT SGAI kepada PT MKUB sebesar Rp 8.037.040.141,20 21/5/2010, dibuat Akta Pengalihan Piutang (cessie) No. 108 dihadapan Notaris Humberg Lie 27/5/2010. PT MKUB memberitahukan secara
tertulis perihal adanya pengalihan sebagian piutang tersebut kepada
PT SGAI
31/5/2010, PT DSA mendaftarkan permohonan pailit atas PT SGAI di Pengadilan Niaga Jakpus 28/7/2010, Majelis Hakim mengabulkan permohonan pailit melalui putusannya
Tabel 1: Tabel Perbandingan Akibat Hukum Cessie atas Sebagian Piutang dengan Syarat Kepailitan
Akibat Cessie Bagi Cessus Syarat Kepailitan13
1. Cessus masih mempunyai kewajiban pembayaran utang kepada cedent;
2. Cessus yang awalnya hanya mempunyai satu kreditur, menjadi mempunyai dua
kreditur akibat adanya
cessie atas sebagian piutang;
1. Satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih;
2. Adanya dua atau lebih kreditur 3. Pembuktian secara sederhana
Dengan demikian untuk menilai keabsahan tindakan hukum cessie yang dilakukan oleh PT Daya Satya Abrasives yang bertujuan hanya untuk mempailitkan debitur/cessus perlu dianalisis berdasarkan tahapan mekanisme pelaksanaan cessie yaitu sebagai berikut:
a. Tahap Peristiwa Perdata
Peristiwa perdata yang dimaksud disini adalah peristiwa perdata yang mendasari dialihkannya piutang atas nama sebagaimana dimaksud Pasal 584 KUHPerdata, dimana dalam kasus ini adalah berupa perjanjian jual beli piutang atas nama yang diadakan oleh PT Daya Satya Abrasives dan PT Multi Karya Usaha Bersama sehingga dalam pembuatan dan pelaksanaan perjanjian jual beli piutang tersebut wajib tunduk pada ketentuan dalam Buku III KUHPerdata tentang Perikatan khususnya berkaitan dengan syarat sahnya perjanjian dan pelaksanaan perjanjian. Bahwa disini karena maksud dan tujuan kreditur yang akan
men-cessie-kan sebagian piutangnya adalah agar kreditur dapat mengajukan permohonan pailit
terhadap debitur sehingga debitur dapat memenuhi syarat untuk dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, maka maksud untuk mempailitkan tersebut berarti telah muncul sejak adanya keinginan kreditur untuk menjual piutang atas namanya melalui perjanjian jual beli piutang yang kemudian diserahkan dengan cara cessie. Berdasarkan hal tersebut maka hal-hal yang perlu dibahas lebih lanjut adalah syarat objektif ‘sebab yang halal’ sebagaimana
13 Indonesia, Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, UU
dimaksud dalam Pasal 1320 jo. 1337 KUHPerdata, serta pelaksanaan perjanjian jual beli piutang itu sendiri. Kedua hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Syarat sahnya perjanjian ‘sebab yang halal’
Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 1337 KUHPerdata, sebab adalah terlarang apabila bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, maupun undang-undang. Hal tersebut berarti bahwa:
- kausa terlarang oleh undang-undang, dimana menurut V. Brakel14, kausa terlarang ini dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu (a) yang prestasinya merupakan tindakan yang dilarang oleh undang-undang, misalnya suatu perjanjian untuk menyelundupkan barang, dan (b) larangan yang berhubungan dengan tanah, misalnya pemilikan tanah oleh orang asing.
- kausa yang bertentangan dengan kesusilaan, yang dalam hal ini terdapat dua perbedaan pendapat mengenai dasar apakah suatu kausa bertentangan dengan kesusilaan15, dimana pendapat pertama, hanya mau menerima “kesusilaan” dalam lapangan terbatas, yaitu kalau ia merupakan penerapan moral umum pada kalangan terbatas atau hubungan hukum tertentu, sedangkan yang lain, dimana bahwa kesusilaan diartikan dalam arti luas, yaitu mau menerima “kesusilaan” dalam kalangan yang terbatas, asal tak bertentangan dengan kesusilaan umum.
- kausa yang bertentangan dengan ketertiban umum, dimana pada dasarnya kesusilaan berkaitan dengan kesadaran susila bagian terbesar dari anggota masyarakat, sehingga apa yang bertentangan dengan kesusilaan umum mempunyai kaitan pula dengan ketertiban umum.16 Sedangkan menurut Wiryono Prodjodikoro bahwa ketertiban umum adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah kepentingan umum, seperti keamanan Negara, keresahan dalam masyarakat, dan lain-lain, dan karenanya dikatakan yang mengenai masalah ketatanegaraan.17
14 J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian Buku II, Bandung: PT Citra
Aditya Bakti, 1995, hlm. 99-103.
15
Ibid., hlm. 110.
16 Ibid., hlm. 127.
17 R. Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, cet. 11, (Jakarta: Sumur Bandung, 1989),
Dengan untuk melihat apakah cessie atas sebagian piutang ini melanggar salah satu atau keseluruhan hal diatas, perlu dilihat terlebih dahulu akibat kepailitan sebagaimana maksud dan tujuan dari PT Daya Satya Abrasives untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia, yaitu:18
- Secara umum, status kepailitan mempunyai akibat sebagai berikut:
i. Seluruh harta kekayaan debitur serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan berada dalam sitaan umum;
ii. Semua perikatan debitur yang terbit sesudah putusan pernyataan pailit, tidak lagi dapat dibayar dari harta pailit (Pasal 25 UU No. 37 Tahun 2004);
iii. Untuk kepentingan harta pailit, segala perbuatan hukum debitur pailit yang
merugikan kepentingan kreditur, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit dapat dimintai pembatalan kepada Pengadilan.
- Secara khusus, status kepailitan mempunyai akibat sebagai berikut:
i. Terhadap suatu perjanjian yang belum/sebagian dipenuhi, mitra dapat meminta kurator untuk memberikan kepastian tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian (Pasal 36 UU No. 37 Tahun 2004);
ii. Terhadap buruh, Kurator dapat mem-PHK buruh sesuai dengan UU Ketenagakerjaan (Pasal 39 UU No. 37 Tahun 2004);
iii. Debitur pailit yang mengajukan gugatan terhadap tergugat, maka atas permohonan tergugat perkara harus ditangguhkan untuk memberikan kesempatan kepada tergugat memanggil kurator untuk mengambil alih perkara, dan seterusnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa adanya status kepailitan menyebabkan hak subjektif seseorang (orang maupun badan hukum) dilanggar karena sejak adanya kepailitan berarti dia tidak boleh lagi mengurusi harta kekayaannya. Selain itu, bagi debitur yang telah banyak memperkerjakan orang, maka dengan adanya status kepailitan, kurator dapat mem-PHK buruh sesuai dengan UU Ketenagakerjaan. Hal tersebut berarti bahwa cessie atas sebagian piutang yang tujuannya hanya untuk mempailitkan cessus/debitur telah melanggar ketertiban umum karena status kepailitan akan membawa keresahan tidak hanya bagi pihak
yang menerimanya, namun juga bagi pihak lain yang mempunyai hubungan dengan pihak yang menerima status kepailitan tersebut.
2) Pelaksanaan Perjanjian
Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Hal ini berarti bahwa adanya kebebasan para pihak dalam membuat suatu perjanjian (kebebasan berkontrak) memiliki batasan-batasan tertentu dimana pelaksanaan perjanjian itu tetap mengindahkan norma-norma kepatutan dan kerasionalan. Bahwa untuk mengukur apakah tindakan cessie atas sebagian piutang ini didasarkan pada itikad baik atau buruk, perlu dilihat kembali duduk perkara yang terjadi, dimana ada dua alasan berkaitan dengan kerasionalan, yaitu:
- Hal yang patut dipertanyakan adalah pernyataan dari Pihak Pemohon (PT Daya Satya Abrasives) dimana cessie atas sebagian piutang tersebut dilakukan adalah guna kelancaran usaha dan menjaga keuangan perusahaan. Jika memang alasan dilakukannya
cessie tersebut hanya untuk keuangan perusahaan, mengapa hanya sebagian piutang
saja yang dialihkan? Mengapa tidak seluruh piutangnya yang dialihkan? Dengan adanya pengalihan seluruh piutang, PT Daya Satya Abrasives justru akan mendapatkan kembali piutangnya dan otomatis uang hasil penjualan piutang tersebut akan dapat digunakan untuk tujuan yang lebih tidak hanya sekedar untuk menjaga keuangan saja, melainkan juga dapat digunakan untuk mengembangkan usahanya.
- Dimana tanggal 31 Mei 2010 atau sekitar 4 hari sejak adanya pemberitahuan adanya
cessie tersebut (tanggal 27 Mei 2010), secara tiba-tiba PT Daya Satya Abrasives
melalui kuasa hukumnya mendaftarkan permohonan pailit atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia. Hal yang ini jelas terdapat suatu maksud serta tujuan khusus dari PT Daya Satya Abrasives dalam mengalihkan piutangnya karena merupakan suatu hal yang tidak wajar apabila secara mendadak, PT Daya Satya Abrasives mengajukan permohonan kepailitan terhadap PT Saint Gobain Abrasives Indonesia sehingga dalam hal ini terkesan bahwa hanya dalam jangka waktu 4 hari tersebut, PT Saint Gobain Abrasives Indonesia harus melunasi hutangnya kepada PT Multi Karya Usaha Bersama dan PT Daya Satya Abrasives walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa utangnya
terhadap PT Daya Satya Abrasives telah jatuh tempo, sedangkan utangnya terhadap PT Multi Karya Usaha Bersama belum jatuh tempo.
Dengan demikian, telah jelas bahwa tindakan cessie atas sebagian piutang yang dilakukan oleh PT Daya Satya Abrasives mengandung unsur ketidakwajaran sehingga dapat dikatakan terdapat adanya itikad buruk dalam melakukan tindakan hukum tersebut. Namun demikian, disini penulis hanya menyatakan berdasarkan pada pendapat penulis semata, sedangkan yang berwenang menilai adanya itikad baik atau buruk tetap merupakan kewenangan dari Majelis Hakim yang memeriksa perkara.
Kemudian berkaitan dengan asas individual sebagaimana diatur dalam Pasal 1340 ayat (2) yang dapat ditafsirkan bahwa selain suatu perjanjian hanya berlaku diantara para pembuatnya dimana dalam hal ini berarti perjanjian jual beli piutang hanya berlaku bagi
cedent dan cessionaris, perjanjian jual beli piutang tersebut juga seharusnya tidak membawa
kerugian bagi pihak ketiga yang dalam hal ini adalah cessus. Oleh karena itu, perjanjian jual beli piutang sebagai dasar untuk melaksanakan cessie atas sebagian piutang ini telah membawa kerugian bagi PT Saint Gobain Abrasives Indonesia sebagai pihak ketiga dalam perjanjian jual beli piutang tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan itikad baik dalam perjanjian jual beli piutang tersebut tidak diperhatikan dengan baik.
b. Tahap Perjanjian Kebendaan
Tahap perjanjian kebendaan yang dimaksud disini adalah cessie itu sendiri dimana sebagai tindak lanjut atas peristiwa perdata yang mendasarinya untuk mengalihkan suatu benda. Untuk melihat keabsahaan pada tahap ini maka perlu dilihat dalam dua hal yang kumulatif, yaitu materiil dan formil. Agar memenuhi syarat materiil maka perlu dilihat dari keabsahan rechtstitel-nya atau dalam kasus ini adalah perjanjian jual beli piutangnya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, karena pelaksanaan perjanjian jual beli piutang tersebut didasarkan pada itikad yang tidak baik hanya untuk mempailitkan cessus, maka jelas perjanjian jual beli piutang tersebut patut dipertanyakan keabsahannya karena pada dasarnya suatu perjanjian yang didasarkan pada itikad buruk berarti perjanjian tersebut batal demi hukum. Dengan demikian, tahap cessie-nya juga ikut tidak sah atau dengan kata lain bahwa piutang atas nama tersebut seharusnya tidak beralih sama sekali sebagai akibat dianutnya
teori penyerahan kausal dimana apabila rechtstitel-nya tidak sah, maka penyerahannya juga ikut tidak sah.
3. Keabsahan Pengajuan Permohonan Kepailitan PT Saint Gobain Abrasives
Indonesia oleh PT Daya Satya Abrasives
Berkaitan dengan keabsahan pengajuan permohonan kepailitan tersebut bahwa dalam hal ini terdapat beberapa alasan perlunya mempertanyakan keabsahaan pengajuan permohonan kepailitan oleh PT Daya Satya Abrasives atas PT Saint Gobain Abrasives Indonesia, yaitu:
- Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai cessie yang dilakukan PT Daya Satya Abrasives tersebut, telah jelas bahwa terdapat suatu maksud dan tujuan tertentu dari PT Daya Satya Arbasives dalam men-cessie-kan sebagian piutang atas nama yang dimilikinya terhadap PT Saint Gobain Abrasives Indonesia, dan ternyata diketahui bahwa maksud dan tujuan adanya pengalihan piutang tersebut hanyalah untuk mempailitkan cessus (PT Saint Gobain Abrasives Indonesia). Dari maksud dan tujuan yang hanya untuk mempailitkan Cessus dapat diketahui bahwa berarti terdapat itikad buruk dari PT Daya Satya Abrasives karena perbuatan hukum yang dilakukannya tersebut telah merugikan pihak ketiga, yaitu PT Saint Gobain Abrasives Indonesia, yang merupakan pihak ketiga dalam hubungan hukum perjanjian jual beli piutang yang diadakan oleh PT daya Satya Abrasives dan PT Multi Karya Usaha Bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan hukum cessie sebagai bentuk penyerahannya. Dengan demikian, tindakan hukum tersebut telah bertentangan dengan ketertiban umum serta undang-undang.
- Bahwa dalam UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah dianut beberapa asas yang mendasari pembentukan undang-undang tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam Penjelasan Umum UU No. 37 Tahun 2004, dimana salah satunya adalah Asas Keseimbangan yang pengertiannya berbunyi:19
“Undang-Undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan dari asas keseimbangan, yaitu di satu pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Debitor yang tidak jujur, di lain pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Kreditor yang tidak beritikad baik.”
Dengan demikian, permohonan kepailitan yang didasarkan pada itikad buruk seharusnya dapat tolak oleh Hakim. Namun, penolakan ini bukan berarti bahwa ketika perkara ini didaftarkan Hakim berhak untuk menolaknya karena dalam hal ini Hakim justru wajib untuk memeriksanya, baik perkara tersebut terdapat itikad buruk atau tidak. Berkaitan dengan itikad tidak baik tersebut, maka hal itu akan dibuktikan dalam proses pembuktian di persidangan. Dengan demikian, yang dimaksud keabsahan disini adalah terbukti atau tidaknya syarat-syarat kepailitan berkaitan dengan adanya cessie atas sebagian piutang tersebut. Hal-hal yang harus dibuktikan dalam perkara kepailitan ini sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 8 ayat (4) UU No. 37 tahun 2004 adalah sebagai berikut:
a. Satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih
Dalam sengketa kepailitan antara PT Daya Satya Abrasives melawan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia diatas bahwa sebenarnya terdapat dua utang yang dimiliki oleh PT Saint Gobain Abrasives Indonesia, yaitu utang terhadap PT Daya Satya Abrasives dan utang PT Saint Gobain Abrasives Indonesia terhadap PT Multi Karya Usaha Bersama. Namun, UU No. 37 Tahun 2004 hanya mensyaratkan adanya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Dengan demikian, utang tersebut cukup dinilai berdasarkan utang kepada PT Daya Satya Abrasives Indonesia. Lagi pula utang PT Saint Gobain Abrasives Indonesia kepada PT Multi Karya Usaha Bersama merupakan utang yang muncul dari cessie atas sebagian piutang tersebut, dimana patut dipertanyakan keabsahannya.
- Utang terhadap PT Daya Satya Abrasives Indonesia
Utang yang timbul dalam hubungan hukum antara PT Daya Satya Abrasives dan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia termasuk utang dalam arti sempit karena utang tersebut timbul akibat hubungan hukum utang-piutang antara PT Saint Gobain Abrasives Indonesia dengan PT Daya Satya Abrasives. Hubungan hukum utang piutang yang terjadi ini ada dua macam, yaitu pertama, hubungan hukum utang piutang karena Commercial Agreement dimana
menimbulkan kewajiban bagi PT Daya Satya Abrasives untuk mengoperasikan teknologi produksi ampelas, dan hanya akan akan menjual ampelas yang telah selesai diproduksi kepada PT Saint Gobain Abrasives Indonesia. Kedua, hubungan hukum utang piutang yang terjadi diluar Commercial Agreement, yaitu jual beli ampelas ½ jadi yang dibuktikan dari alat bukti purchase order, Invoice, dan Surat jalan (tanda terima).
b. Adanya dua atau lebih kreditur
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa karena cessie merupakan perjanjian kebendaan yang timbul dari suatu peristiwa perdata yang mendasarinya, maka jika pelaksanaan cessie atas sebagian piutang tersebut mengandung unsur itikad tidak baik, secara otomatis maksud dan tujuan daripada PT Daya Satya Abrasives untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives ada sejak dibuatnya Perjanjian Jual Beli Piutang atas nama. Dengan demikian, ketika cessie atas sebagian piutang tersebut tidak sah karena peristiwa perdatanya juga tidak sah, maka dalam hal ini munculnya kreditur baru, yaitu PT Multi Karya Usaha Bersama sebagai kreditur dari PT Saint Gobain Abrasives Indonesia juga tidak akan terjadi karena dianggap tidak pernah terjadi adanya cessie atas sebagian piutang tersebut. Hal ini berarti bahwa syarat adanya dua kreditur atau lebih akan terbantahkan karena PT Saint Gobain Abrasives Indonesia hanya mempunyai satu kreditur yaitu hanya PT Daya Satya Abrasives semata.
c. Pembuktian sederhana
Dari penjelasan mengenai keterkaitan antara keabsahan cessie atas sebgaian piutang tersebut dengan syarat adanya dua kreditur diatas, dapat dilihat bahwa untuk menilai keabsahan suatu perjanjian sangatlah rumit sehingga pembuktiannya tidak dapat dilaksanakan secara sederhana. Pembuktian secara sederhana mempunyai pengertian sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 8 ayat (4) UU No. 37 Tahun 2004 dimana fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana adalah adanya fakta dua atau lebih kreditur dan fakta utang yang telah jatuh tempo dan tidak dibayar. Dengan demikian, dalam kasus ini perlu dipertanyakan lebih lanjut apakah adanya dua kreditur PT Saint Gobain Abrasives Indonesia patut dinyatakan sebagai sebuah fakta karena munculnya PT Multi Karya Usaha Bersama berasal dari hubungan hukum yang patut dipertanyakan keabsahannya. Sehingga sudah
sepantasnya apabila dikatakan bahwa dalam kasus ini diperlukan pembuktian yang rumit atau pembuktian yang tidak dapat dilaksanakan secara sederhana dan perkara ini seharusnya diselesaikan di Pengadilan Perdata umum. Sebagaimana penafsiran Pasal 8 ayat (4) UU No. 37 tahun 2004, bahwa apabila syarat-syarat kepailitan tersebut tidak terbukti secara sederhana, maka Majelis Hakim wajib untuk tidak mengabulkan permohonan kepailitan dari pemohon pailit, yaitu PT Daya Satya Abrasives.
Dengan tidak terpenuhinya syarat adanya dua kreditur tersebut dan serta pembuktian secara sederhana, maka disini yang bertindak sebagai kreditur dari PT Saint Gobain Abrasives Indonesia hanyalah PT Daya Satya Abrasives dan dia dapat mengajukan upaya penagihan utang dengan biasa ke Pengadilan Perdata umum karena upaya penagihan utang melalui kepailitan merupakan upaya yang tidak biasa dan sudah seharusnya menjadi upaya hukum yang terakhir (ultimum remedium)20 seandainya juga terpenuhi syarat-syarat kepailitan.
C. Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Secara garis besar, mekanisme pelaksanaan cessie baik atas seluruh piutang maupun atas sebagian piutang adalah sama karena pelaksanaan cessie baik untuk seluruh piutang maupun sebagian piutang yang sah dan mengikat para pihak, yaitu cedent,
cessionaris, dan cessus, harus dilakukan dengan berdasarkan pada ketentuan 613
KUHPerdata. Sedang yang membedakan cessie atas seluruh piutang dan cessie atas sebagian piutang adalah akibat hukumnya. Akibat hukum dari cessie atas sebagian piutang tersebut, pada dasarnya karena hanya sebagian piutang atas nama yang dialihkan, maka hak tagih atas piutang tersebut juga hanya sebagian yang beralih tergantung dari peristiwa perdata yang mendasarinya. Dengan demikian, Cedent masih mempunyai hak tagih atas piutang kepada Cessus dan Cessus kini telah mempunyai dua kreditur yaitu Cedent dan Cessionaris.
b. Pada dasarnya cessie atas sebagian piutang PT Daya Satya Abrasives sebagai upaya untuk mempailitkan debiturnya sendiri yaitu PT Saint Gobain Abrasives Indonesia adalah tidak sah. Dengan melihat akibat hukum pernyataan status kepailitan yang diterima oleh debitur dapat dikatakan bahwa cessie atas sebagian piutang tersebut telah melanggar ketertiban umum sehingga tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 1337 KUHPerdata. Selain itu, tindakan hukum cessie atas sebagian piutang PT Daya Satya Abrasives sebagai upaya untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia dapat dikatakan telah melanggar ketentuan Pasal 1340 KUHPerdata dimana pelaksanaan suatu perjanjian tidak boleh merugikan para pihak yang ada dalam perikatan, juga pihak ketiga yang tidak termasuk dalam perikatan tersebut. Dengan demikian, tindakan hukum cessie tersebut dilaksanakan dengan itikad buruk karena niat PT Daya Satya Abrasives dalam membuat perjanjian dengan PT Multi Karya Usaha Bersama untuk mengalihkan piutangnya bukanlah untuk memperlancar kegiatan usahanya, melainkan hanya untuk menagih utang dengan cara yang tidak biasa melalui kepailitan yang dapat merugikan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia.
c. Bahwa dengan tidak sahnya cessie atas sebagian piutang tersebut, maka secara tidak langsung seharusnya permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh PT Daya Satya Abrasives untuk mempailitkan PT Saint Gobain Abrasives Indonesia tidak dapat dikabulkan oleh Majelis Hakim. Dengan tidak sahnya cessie atas sebagian piutang tersebut seharusnya syarat adanya dua kreditur tidak terpenuhi karena hak milik atas sebagian piutang dianggap tidak pernah beralih dari PT Daya Satya Abrasives kepada PT Multi Karya Usaha Bersama dan piutang atas nama tersebut masih sepenuhnya milik dari PT Daya Satya Abrasives.
2. Saran
Terdapat beberapa saran dari penulis agar pelaksanaan cessie tidak disalahgunakan, yaitu sebagai berikut:
a. Pelaksanaan cessie perlu mendapat perhatian lebih lanjut dan serius karena selama ini dasar hukum pelaksanaan cessie hanya berlandaskan pada 1 (satu) pasal saja dalam KUHPerdata, yaitu Pasal 613 KUHPerdata. Selebihnya para sarjana hanya menafsirkan
ketentuan dalam pasal tersebut yang dituangkan dalam beberapa literatur sehingga hanya menjadi sebuah doktrin saja.
b. Syarat-syarat pengajuan kepailitan dalam UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU perlu lebih diperketat dan diperjelas kembali agar setiap orang (orang perorangan maupun badan hukum) yang mempunyai utang tidak mudah untuk dipailitkan sehingga upaya kepailitan dapat dijadikan sebagai upaya ultimum remedium dalam melakukan penagihan utang kepada debitur.
c. Apabila seorang debitur berada dalam keadaan yang dirugikan oleh tindakan kreditur sehingga mengakibatkan debitur dinyatakan pailit, maka dalam hal ini Kuasa hukum debitur seharusnya lebih jeli, pintar dan kreatif dalam membantu kliennya agar tidak dinyatakan pailit.
d. Berkaitan dengan adanya tindakan hukum cessie atas sebagian piutang sebagaimana dijelaskan sebelumnya, maka debitur dapat pula melakukan upaya mengajukan gugatan Perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Perdata umum saat proses kepailitan sedang berlangsung atau apabila sudah dinyatakan pailit untuk membatalkan cessie atas sebagian piutang tersebut, atau apabila debitur sudah dinyatakan pailit, maka dalam hal ini Kurator dapat mengajukan upaya tersebut ke Pengadilan Negeri setempat karena dengan dipailitkannya debitur, seluruh hal yang berkaitan dengan harta kekayaan debitur berada dibawah pengampuan kurator.
e. Dalam hal ini Majelis hakim seharusnya lebih berhati-hati dalam memeriksa suatu perkara tidak terbatas pada perkara kepailitan saja, namun juga perkara-perkara lainnya bahwa dengan adanya itikad buruk PT Daya Satya Abrasives dalam melaksanakan perjanjian pengalihan piutang (cessie) yang telah melanggar undang-undang, berarti secara ex-officio Majelis hakim tidak mengabulkan permohonan kepailitan tersebut karena pelanggaran dalam pelaksanaan perjanjian cessie tersebut menjadikan perjanjian tersebut batal demi hukum, tanpa adanya keharusan untuk dimintakan pembatalan perjanjian oleh pihak yang dirugikan.
DAFTAR PUSTAKA
I. BUKU
Fuady, Munir. Hukum Tentang Pembiayaan Dalam Teori dan Praktek. Cet. 1. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995.
_______. Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis). Cet. 1. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003.
_______. Hukum Pailit Dalam Teori Dan Praktek. Cet. 4. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2010.
HS, Salim. Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW). Cet. 3. Jakarta: Sinar Grafika, 2005. Iriawan, Bagus. Aspek-Aspek Hukum Kepailitan; Perusahaan; dan Asuransi: Analisis Yuridis
tentang Kepailitan; Perusahaan; dan Asuransi Manulife dan Prodential. Bandung:
P.T. Alumni, 2007.
Iriawan, Wawan. Cessie: Piutang Kredit, Hak dan Perlindungan Bagi Kreditur Baru. Jakarta: Djambatan, 2005.
Jono. Hukum Kepailitan. Ed. 1. Cet. 1. Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Khairandy, Ridwan. Iktikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak. Jakarta: Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003.
Mulyadi, Kartini dan Gunawan Widjaja. Seri Hukum Perikatan: Perikatan Yang Lahir Dari
Perjanjian. Ed. 1. Cet. 1. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003.
_______. Seri Hukum Bisnis: Pedoman Menangani Perkara Kepailitan. Ed. Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003.
Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perdata Indonesia. Cet. 2. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1993.
Satrio, J. Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian Buku II. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995.
_______. Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Percampuran Hutang. Bandung: Alumni, 1999.
_______. Hukum Perikatan, Perikatan Pada Umumnya. Ed. 1. Cet. 3. Bandung: Alumni, 1999.
_______. Cessie Tagihan Atas Nama. Jakarta: Yayasan DNC, 2012.
Setiawan, Rachmad dan J. Satrio. Penjelasan Hukum Tentang Cessie. Jakarta: Nasional Legal Reform Program, 2010.
Setiawan, R. Pokok-Pokok Hukum Perikatan. Cet. 5. Bandung: Binacipta, 1994.
Shubhan, Hadi. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan. Jakarta: Kencana, 2008.
Simanjuntak, P.N.H. Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1999. Sjahdeini, Sutan Remy. Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2009.
Subekti. Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa, 2002.
Suharnoko dan Endah Hartati. Doktrin Subrogasi, Novasi dan Cessie. Jakarta: Kencana, 2008.
Widjaja, Gunawan. Risiko Hukum & Bisnis Perusahaan Pailit. Cet. 1. Jakarta: Forum Sahabat, 2009.
II. ARTIKEL
Kurniawan. “Tanggung Jawab Direksi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas.” Mimbar Hukum Volume 24, Nomor 2 (Juni 2012): 214 – 225.
Putriyanti, Erma Defiana dan Tata Wijayanta. “Kajian Hukum Tentang Penerapan Pembuktian Sederhana Dalam Perkara Kepailitan Asuransi.” Mimbar Hukum Volume
22, Nomor 3 (Oktober 2010): 482 – 497.
Sularto, “Perlindungan Hukum Kreditur Separatis Dalam Kepailitan.” Mimbar Hukum
Volume 24, Nomor 2 (Juni 2012): 242 – 253.
III. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Indonesia. Undang-undang tentang Jabatan Notaris. UU No. 30 Tahun 2004. LN No. 17 Tahun 2004. TLN No. 4432.
_______. Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang. UU No. 37 Tahun 2004. LN No.131 Tahun 2004. TLN No. 4443.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgelijk Wetboek]. Diterjemahkan oleh Subekti R.
IV. SKRIPSI/TESIS
Kuswiratmo, Aji Bonifasus. “Analisis Yuridis Terhadap Hak dan Kewajiban Kreditur Baru yang timbul Karena Perjanjian Pengalihan Piutang (Cessie): Studi Kasus Goal Trading Assets, Ltd. dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional.” Tesis Magister Hukum Universitas Indonesia. Jakarta, 2012.
Nataliasari, Puteri. “Pengalihan Piutang Secara Cessie dan Akibatnya Terhadap Jaminan Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia.” Tesis Magister Kenotariatan Universitas Indonesia. Depok, 2010.