• Tidak ada hasil yang ditemukan

sop PEMERIKSAAN MATA.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "sop PEMERIKSAAN MATA.docx"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERIKSAAN MATA PEMERIKSAAN MATA SOP SOP No.Dokumen : No.Dokumen : No.

No. Revisi Revisi ::

Tanggal Terbit : Tanggal Terbit :

Halaman :

Halaman :

UPTD Puskesmas Simpang UPTD Puskesmas Simpang

Periuk Periuk

dr. Willy Prima Lukita dr. Willy Prima Lukita NIP. 19800209 200604 2 006 NIP. 19800209 200604 2 006

1.

1. PengertianPengertian . Suatu pemeriksaan yang di . Suatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatanlakukan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan mata.

mata.

2.

2. TujuanTujuan Mengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta menentukanMengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta menentukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai dasar untuk melakukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai dasar untuk melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah Sakit sesuai Standar.

rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah Sakit sesuai Standar.

Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata sesuai standar Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata sesuai standar 3.

3. KebijakanKebijakan Keputusan Pimpinan PuskesmasKeputusan Pimpinan Puskesmas 4.

4. ReferensiReferensi Permenkes no 75 tahun 20014 tentang pelayanan kesehatan masyarakatPermenkes no 75 tahun 20014 tentang pelayanan kesehatan masyarakat 5.

5. Alat/bahanAlat/bahan Kartu snellen ( Huruf E, Gambar, Abjad/nomor )Kartu snellen ( Huruf E, Gambar, Abjad/nomor ) Buku catatan Buku catatan Penutup mata Penutup mata Kayu penunjuk Kayu penunjuk 6. 6. Langkah- Langkah-langkah langkah Standar Tenaga Standar Tenaga Dokter

Dokter : : 1 1 orangorang Perawat : 1 orang Perawat : 1 orang 1.

1. ANAMNESAANAMNESA

 Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut danMenyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut dan

mengucapkan salam mengucapkan salam

 Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama , umur,Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama , umur,

alamat rumah, pekerjaan. alamat rumah, pekerjaan.

 Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu statusBila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu status

 pasien  pasien

(2)

 Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang

Riwayat Penyakit :

 Tentukan masalah yang mendorong klien untuk mencari bantuan kesehat an.

 Tanyakan pada klien adakah kelopak mata yang turun menutup terus menerus, Nyeri mata, foto phobia (kerentaan terhadap cahaya) rasa seperti terbakar pada mata, gatal, air mata, kotoran mata yang berlebihan, diplopia (pandangan ganda), pandangan kabur , pera saan adanya ‘’ film ‘’ diatas lapang penglihatan, mengambang (titik hitam kecil yang tampak menghilang pada lapang penglihatan), cahaya kilatan, lingkaran hitam (halo) di seputar cahaya.

 Tentukan apakah klien mempunyai riwayat penyakit mata, trauma pada mata, diabetes, hipertensi, atau masalah visual

 Tentukan apakah ada riwayat keluarga dengan gangguan mata, meliputi gloukoma atau retinitis pigmentosa

 Kaji riwayat pekerjaan klien mengenai aktivitas kerja yang memerlukan kerja tertutup, kerja yang melibatkan computer, atau aktivitas seperti  pengelas, terpajan langsung dengan bahan kimia yang membuat resiko

cedera mata.

 Tanyakan pada klien apakah memakai kaca mata, atau lensa kontak atau tidak

 Tentukan tanggal terakhir klien memeriksakan mata.

 Kaji obat obatan yang sudah di pakai termasuk tetes mata.

2. PEMERIKSAAN Pemeriksaan dengan cara :

KETAJAMAN PENGLIHATAN Tahap I

i. Lakukan pemeriksaan sekilas dengan meminta klien membaca surat kabar/majalah.Pastikan pencahayaan cukup. Klien berkacamata seharusnya memakai kecamatanya selama tahap pemreksaan ini. Perhatikan cara klien memegang lembaran yang dibaca dari matanya.

ii. Pastikan klien tidak buta huruf. Mintalah klien agar membaca dengan keras untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. Bila klien menghadapi

(3)

kesulitan lanjutkan pengujian ke tahap II Tahap II

i. Untuk pemeriksaan yang akurat gunakan lembar pemeriksaan Snellen. Pastikan bahwa lembaran pemeriksa benar benar diterangi. Buat klien berdiri 20 kaki (6,1 m) jauhnya dari lembar Snellen atau duduk di kursi pengujian yang telah terpasang khusus bersebrangan dengan layar periksa

ii. Minta klien untuk membaca huruf huruf pada layar dimulai dari garis yang mana saja, pertama dengan kedua mata terbuka dan kemudian dengan satu mataterpisah (mata lainnya ditutupi)

iii. Selalu menguji pertanma kali tanpa kacamata. Kemudian bila memakai kacamata jarak jauh, ulangi pengujian. Tentukan baris terkecil dimana klien dapat membaca seluruh huruf dengan benar baca ketajaman untuk garis tersebut.

iv. Bila klien tidak bisa membaca, gunakan kartu ‘’E’’ dan tentukan arah tangan huruf ‘’E ‘’ . Pada anak kecil, gunakan lembaran dengan gambaran obyek yang dikenal. Catat nilai ketajaman penglihatan untuk masing masing mata dan kedua mata dalam dua nilai :

 Pembilang adalah jarak dari lembar pemeriksaan ke klien dalam ukuran kaki.

 Penyebut adalah nomor standar untuk garis tersebut pada lembar  pemeriksa ( contoh : 20/80 ). Nomor standar ini adalah jarak dimana

mata normal dapat membaca baris tersebut. Tahap III

i. Uji masing-masing mata dengan klien membaca kartu indek dengan menutupi satu mata bergiliran

ii. Jangan menggunakan tangan untuk menutupi mata

iii. Minta klien dengan gangguan penglihatan parah untuk menghitung jari jari yang diacungkan kurang lebih satu kaki ( 30 cm ) dari wajah klien.

iv. Bila klien gagal dalam kedua tes tersebut, sinari mata klien dengan senter kecil dan kemudian padamkan cahayanya . Tanyakan apakah klien melihat cahaya. Hasil Normal :

  Nilai normal ketajaman penglihatan adalah 20/20

(4)

lensa kontak ( cc ) atau tanpa perbaikan ( sc ). Penyimpangan dari Normal :

 Nilai ketajaman penglihatan 20/200 dianggap buta total

PEMERIKSAAN LAPANG PENGLIHATAN

Pemeriksaan lapang penglihatan dengan cara :

i. Buat klien duduk atau berdiri 2 kaki 60 cm jauhnya, berhadapan dengan  petugas sejajar ketinggian mata.

ii. Minta klien untuk menutupi atau melapisi dengan perlahan satu mata menggunakan kartu indeks dan menatap mata petugas berlawanan arah –  contoh mata kiri klien, mata kanan

petugas-iii. Tutup atau lapisi mata petugas yang berlawanan dengan mata klien sehingga lapang penglihatan petugas tidak bertumpang tindih dengan lapangan

 penglihatan klien.

iv. Gerakkan jari dengan jarak sebanding panjang lengan diluar lapang  penglihatan.

v. Minta klien untuk mengatakannya bila melihat jari petugas.

vi. Perlahan tarik jari petugas mendekat. Jari selalu dijaga tetap di tengah anatara  petugas dan klien.

vii. Ulangi prosedur pada sisi yang lain, atas dan bawah. Selalu harus

membandingkan titik dimana petugas melihat jari tersebut memasuki lapang  penglihatan petugas dan titik di mana klien melihatnya.

viii. Ulangi prosedur dengan ke empat arah pada mata lainnya.

Bila klien melihat jari sedikit lebih lama dari petugas, klien mengalami penyempitan lapang penglihatan. PEMERIKSAAN VISUS

Pemeriksaan visus dengan cara :

I. Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan posisi lebih tinggi atau sejajar dengan mata pasien.

Bila jarak 5 meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata normal dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat pada jarak 5

(5)

kaki = 20/20, ada juga log (logaritma). II. Pastikan cahaya harus cukup

III. Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus ditutup dan  pasien diminta membaca kartu.

IV. Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :

a) Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5 atau 6/6, maka tidak usah membaca pada baris berikutnya => visus normal

 b) Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus normal, cek pada 1 baris tersebut

i. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak  pada baris tersebut dengan false 1.

ii. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada  baris tersebut dengan false 2.

iii. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak dapat dibaca.

iv. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat  pada baris di atasnya.

c) Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole (alat untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)

d) Bila visus tetap berkurang => berarti bukan kelainan refraksi.

e) Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya => berarti me rupakan kelainan refraksi

PEMERIKSAAN TONOMETER

Pemeriksaan tonometer dengan cara :

Menggunakan Tonometer dari Schiotz. i. Klien diminta tidur terlentang di tempat tidur.

ii. Mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal- pantokain 0,5%, masing-masing 1 tetes. Ditunggu sampai klien tidak merasa perih.

(6)

iii. Kelopak mata klien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari  –  jangan tertekan bola mata

pasien-iv. Pasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau pasien melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan.

v. Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati diatas cornea  penderita.

vi. Setelah telapak tonometri menunjukkan angka yang tetap,dibaca nilai tekanan  pada skala busur schiotz yang berantara 0-15

vii. Misalnya menunjukkan angka 5 dengan beban 5.5, maka tekanan bola matanya ialah 5/5.5. lalu carilah tabel konversi yang selalu ada pada setiap tonometer. Misssalnya untuk 5/5.5 akan terdapat angka konversi 15.0 mmHg. viii. Apabila dengan beban 5.5 jarum skala tidak bergerak atau bergerak Cuma

sedikit, misalnya hanya pada angka 1-2, maka gantilah beban tonometer dengan beban 7.5. apabila dengan beban ini angka skala menunjukkan angka 4, maka tekanan bola mata ialah 4/7.5. lalu bacalah tabel konversi untuk mendapatkan angka untuk itu.

1. Tekanan bola mata yang disebut normal ialah yang berkisar antara 15-22mmHg. Jika tekanan bola mata di bawah 10 mmHg, maka berarti rendah dan bila diatas 25 mmHg berati tinggi. DIAGNOSA

Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosa :

 Katarak sesuai SOP

 Kelainan Refraksi sesuai SOP

 Glaukoma sesuai SOP

 Konjungtivitis sesuai SOP

 Xerofthalmia sesuai SOP

 Buta Warna sesuai SOP

4. PENATALAKSANAAN

 Penatalaksanaan Katarak sesuai SOP

 Penatalaksanaan Kelainan Refraksi sesuai SOP

 Penatalaksanaan Glaukoma sesuai SOP

 Penatalaksanaan Konjungtivitis sesuai SOP

(7)

 Penatalaksanaan Buta Warna sesuai SOP

5. KONSELING

 Konseling Katarak sesuai SOP

 Konseling Kelainan Refraksi sesuai SOP

 Konseling Glaukoma sesuai SOP

 Konseling Konjungtivitis sesuai SOP

 Konseling Xerofthalmia sesuai SOP

 Konseling Buta Warna sesuai SOP

6. PENCATATAN DAN PELAPORAN

 Pencatatan dan pelaporan Katarak sesuai SOP

 Pencatatan dan pelaporan Kelainan Refraksi sesuai SOP

 Pencatatan dan pelaporan Glaukoma sesuai SOP

 Pencatatan dan pelaporan Konjungtivitis sesuai SOP

 Pencatatan dan pelaporan Xerofthalmia sesuai SOP

 Pencatatan dan pelaporan Buta Warna sesuai SOP

7. Hal-hal yang perlu

diperhatikan

Ketepatan

8. Unit Terkait Sekolah , poli anak 9. Dokumen Terkait Foto Absen siswa 10. Rekam Historis Perubahan

 No. Yang dirubah Isi Perubahan Tanggal

Referensi

Dokumen terkait

Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada. jarak enak meter, yang oleh orang normal huruf tersebut

meter, pasien juga dapat melihat pada jarak 5 meter.5. o Pastikan cahaya

- Bila tajarn penglihatan 6/60, berarti pasien hanya dapat melihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal hwuf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter?. - Bila

a) Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter. b) Bila pasien

Pemeriksaan secara objektif ini dapat juga dilakukan dengan uji lambaian tangan.Orang normal dapat melihat lambaian tangan atau gerakan tangan pada jarak 300

- Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak enam meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.. - Bila pasien

Perubahan pada pupil : Kemampuan akomodasi menurun Firdaus ,2017 Pada tinjauan kasus di dapatkan hasil pemeriksaan fisik terjadi perubahan penglihatan klien tidak bisa melihat jarak

Dump truck dumping material  Pastikan area manuver dumping aman  Pastikan saat melakukan dumping di posisi yang datar  Pastikan jarak dumping 3 meter dari bibir dumping, jika