50 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.1 Hasil Penelitian
1.1.1 Deskripsi Kondisi Awal
Seperti telah di bahas pada bagian pendahuluan, bahwa hasil observasi terhadap kondisi awal pembelajaran di SD Negeri Salatiga 05 ditemukan bahwa metode pembelajaran yang digunakan selama ini menggunakan model pembelajaran yang direkomendasikan oleh Permendikbub No. 22 Tahun Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menegah yang tentang perlunya penggunakan model pembelajaran yang mengandung langkah-langkah saintifik. Pembelajaran masih dominan masih ceramah, sehingga dalam pembelajaran siswa cenderung pasif hanya mendengarkan penjelasan guru serta mengerjakan soal – soal yang diberikan oleh guru. Hal ini akan memberi dampak yang kurang baik bagi siswa, karena siswa belajar hanya untuk ulangan atau ujian, sehingga pembelajaran kurang menarik dan membosankan bagi siswa, yang akhirnya bermuara pada rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa serta siswa tidak percaya diri mengutarakan pendapatnya di depan kelas. Dampaknya hasil belajar yang diperoleh kurang memuaskan dan pembelajaran kurang bermakna bagi siswa.Data hasil belajar siswa dapat dikatakan kurang maksimal karena masih banyak siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Dari hasil studi dokumen nilai siswa terdapat 25 dari 35 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu dibawah 70 dengan rata-rata nilai untuk dua muatan Bahasa Indonesia dan IPA sebesar 58,4.
Secara lengkap deskripsi statistik hasil belajar kondisi awal dirangkum dalam Tabel 4.1 berikut.
51 Tabel 4.1
Deskripsi Statistik Hasil belajar kondisi awal Bahasa Indonesia IPA N Valid 35 35 Missing 0 0 Mean 58,29 58,51 Std. Deviation 9,159 9,159 Minimum 40 40 Maximum 72 72
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rerata hasil belajar pada kondisi awal di SDN Salatiga 05 pada muatan Bahasa Indonesia sebesar 58,29, standar deviasi 9,159 dan bergerak antara skor minimum 40 dan maksimum 72. Pada muatan IPA rerata hasil belajarnya mencapai 58,51, bergerak antara 40 sampai dengan 72. Jika dilihat distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Hasil belajar kondisi awal Indonesia dan IPA
No Interval skor Kategori Bahasa Indonesia IPA f % Ketun f % Ketun 1 ≥90 Sangat Tinggi 0 0% 0 0% - 2 80-89 0 0% - 0 0% 3 70-79
Tinggi 9 25,71% Tuntas 11 31,42% Tuntas
4 60-69 5 14,28% Belum 6 17,14% Belum
5 50-59
Cukup 17 48,57% Belum 14 40% Belum
6 40-49 4 11,42% Belum 4 11,42% Belum 7 30-39 Rendah 0 0% - 0 0% - 8 20-29 0 0% - 0 0% - 9 10-19 Sangat Rendah 0 0% - 0 0% - 10 < 10 0 0% - 0 0% - Total 0 0% - 0 0% - Jumlah Tuntas 9 11
Jumlah Belum Tuntas 26 24
52
Tabel 4.2 memberikan informasi bahwa distribusi data skor siswa pada kondisi awal tidak ada siswa yang memperoleh skor ≥ 80. Hanya terdapat 9 siswa (25,71%) yang mencapai ketuntasan belajar pada muatan Bahasa Indonesia dan terdapat 11 siswa (31,42%) yang mencapai ketuntasan belajar pada muatan IPA.
1.1.2 Deskripsi Setiap Siklus 1. Diskripsi Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
Siklus I dilaksanakan tanggal 26 Maret 2018 sampai hari tanggal 28 Maret 2018.Dalam perencanaan tindakan ada beberapa hal yang direncanakan peneliti, berikut:.
1) Menentukan dan mengintegrasikan muatan mapel dalam tema Lingkungan Sahabat Kita sub tema Manusia dan Lingkungan yang akan dijadikan bahan pembelajaran untuk dipraktikkan.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pembelajaran satu siklus.
3) Peneliti mempersiapkan media/alat peraga yang akan digunakan. 4) Menyusun lembar soal.
5) Menyusun lembar observasi. b. PelaksanaanTindakan
Pada silkus I pelaksanaan tindakan berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh penulis. Adapun urutan RPP siklus Isecara umum adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
2) Siswa membentuk kelompok
3) Guru memberikan masalah (problem) kepada setiap kelompok terkait materi ajar.
53
4) Siswa berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah yang sudah dipersiapkan oleh guru.
5) Siswa menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.
6) Siswa melakukan evaluasi terhadap hasil kerja kelompok dengan bimbingan dari guru.
7) Guru melakukan penilaian terhadap laporan kerja kelompok siswa bergantian.
8) Guru dan siswa menyusun kesimpulan terhadap pelajaran yang sudah dipelajari.
9) Guru dan siswa menyusun kesimpulan terhadap pelajaran yang telah dilakukan.
10) Siswa mengerjakan soal evaluasi. c. Observasi
Observasi dilakukan saaat pembelajaran sedang berlangsung.Pada kegiatan pengamatan ini, yang bertugas mengamati adalah peneliti.Observasi dilakukan pada masing-masing pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Observasi dilakukan terutama untuk mengetahui keterlaksanaan sintak/kegiatan inti pembelajaran dengan menerapkan model PBL. Hal-hal yang diamati adalah kegiatan guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.Hasil rinci masing-masing proses pembelajaran yang diamati antara lain: 1) Siswa membentuk kelompok sesuai arahan guru terlaksana dengan baik, 2) Guru menyampaikan permasalahan yang akan dipecahkan, siswa mencermati permasalahan yang diberikan guru. Kegiatan ini mennujukkan bahwa para siswa belum sepenuhnya melaksanakan kegiatan dengan benar, 3) Guru meminta siswa berdiskusi untuk
54
mengidentifikasi masalah yang sudah disiapkan guru. Kegiatan ini terutama aktivitas siswa belum sepenuhnya berjalan dengan baik, 4) Guru meminta siswa mencari solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.Kegiatan ini sudah berjalan dengan baik, 5) Guru meminta siswa melakukan evaluasi terhadap hasil kerja kelompok dengan bimbingan dari guru. Kegiatan ini juga sudah berjalan dengan baik, 6) Guru melakukan penelitian terhadap laporan kerja kelompok siswa secara bergantian. Kegiatan ini juga sudah berjalan dengan baik, 7) Guru meminta siswa bersama-sama menyimpulkan pelajaran yang sudah dipelajari, 8) Guru meminta
siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa. Kegiatan ini terlaksana dengan baik.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa dapat dikemukakan bahwa guru 100% telah melaksanakan pembelajaran berdasarkan sintak PBL dengan baik. Sementara pada aktivitas siswa baru mencapai 75% siswa yang terlaksana dengan baik, ada 2 kegiatan yang belum terlaksana dengan baik, yaitu siswa mencermati permasalahan yang diberikan guru dan berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah yang sudah disiapkan guru.
Disamping kegiatan observasi yang telah dilakukan, dalam pelaksanaan tindakan Siklus I dilanjutkan dengan pemberian soal tes. Deskripsi statistik hasil belajar Siklus I dan distribusi frekuensinya muatan Bahasa Indonesia dan IPA dirangkum dalam Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 berikut.
55
Tabel 4.3
Deskripsi Statistik Hasil belajar Siklus I untuk muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA
Bahasa Indonesia IPA N Valid 35 35 Missing 0 0 Mean 6,96 6.99 Std. Deviation 1.288 1.214 Minimum 50 90 Maximum 50 90
Tabel 4.3 menunjukkan data deskriptif dan distribusi data hasil belajar (postes) Siklus I untuk muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA. Pada postes muatan Bahasa Indonesia rerata skor hanya 6,96, skor postes bergerak antara 50 sampai 90 dan standar deviasi 1.288. Pada muatan mapel IPA rerata skor mencapai 6,99, skor minimum 50, maksimum 90 dan standar deviasi 1.214.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Hasil belajar Siklus I muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA
No Interval skor Kategori Bahasa Indonesia IPA f % Ketun f % Ketun 1 ≥90 Sangat Tinggi 0 0% - 0 0% - 2 80-89 6 17,14% Tuntas 5 14,28% Tuntas 3 70-79
Tinggi 16 45,71% Tuntas 18 51,42% Tuntas
4 60-69 5 14,28% Belum 5 14,28% Belum
5 50-59
Cukup 8 22,85% Belum 7 20% Beum
6 40-49 0 0% - 0 0% - 7 30-39 Rendah 0 0% - 0 0% - 8 20-29 0 0% - 0 0% - 9 10-19 Sangat Rendah 0 0% - 0 0% - 10 < 10 0 0% - 0 0% - Total 35 100% - 35 100% - Jumlah Tuntas 22 23
56
Jumlah Belum Tuntas 13 12
Keterangan: batas KKM = 70, Sumber: data primer hasil tes, diolah
Tabel 4.4 memberikan informasi bahwa distribusi data skor siswa pada muatan Bahasa Indonesia ada 6 siswa (17,14%)yang memperoleh skor ≥ 80 berada pada kategori tinggi. Sebagian besar siswa yaitu 16 orang siswa (45,71%) memperoleh skor 70-79 berada pada kategori tinggi, 5 orang siswa (14,28) mencapai skor 60 – 69 juga dalam kategori tinggi, dan 8 orang siswa (22,85%) berada pada kategori cukup. Pada muatan IPA ada 5 siswa (14,28%) yang memperoleh skor ≥ 80 berada pada kategori tinggi. Sebagian besar siswa yaitu 18 orang siswa (51,42%) memperoleh skor 70-79 berada pada kategori tinggi, 5 orang siswa (14,28%) mencapai skor 60 – 69 juga dalam kategori tinggi, dan 7 orang siswa (20%) berada pada kategori cukup.
Dilihat dari ketuntasan belajarnya, terlihat bahwa pada Siklus I ini terdapat 22 orang siswa (62,85%) mencapai KKM pada muatan Bahasa Indonesia, 13 siswa sisanya 37,14% belum mencapai KKM. Demikian juga data yang sama pada muatan IPA.
d. Refleksi
Refleksi tindakan ini mendiskusikan hasil observasi kelas yang telah dilaksanakan.Dalam kegiatan refleksi ini didapatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai masukan untuk perbaikan siklus selanjutnya.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan tersebut antara lain :
1) siswa mencermati permasalahan yang diberikan guru perlu dibimbing lebih baik,
2) siswa berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah yang sudah disiapkan guru perlu dibenahi.
57
Oleh karena itu temuan hasil observasi ini menjadi bahan perbaikan untuk merencanakan tindakan kelas pada siklus II.Hal ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi pada siklus I. 2. Diskripsi Siklus II
1. Diskripsi Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
Siklus II dilaksanakan tanggal 2 April 2018 sampai tanggal 4 April 2018. Dalam perencanaan tindakan ada beberapa hal yang direncanakan peneliti, berikut:.
1) Menentukan dan mengintegrasikan muatan mapel dalam tema Lingkungan Sahabat Kita sub tema Manusia dan Lingkungan yang akan dijadikan bahan pembelajaran untuk dipraktikkan.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pembelajaran satu siklus.
3) Peneliti mempersiapkan media/alat peraga yang akan digunakan. 4) Menyusun lembar soal.
5) Menyusun lembar observasi. b. Pelaksanaan Tindakan
Pada silkus II pelaksanaan tindakan berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh penulis. Adapun urutan RPP siklus II secara umum adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
2) Siswa membentuk kelompok
3) Guru memberikan masalah (problem) kepada setiap kelompok terkait materi ajar.
4) Siswa berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah yang sudah dipersiapkan oleh guru.
58
5) Siswa menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.
6) Siswa melakukan evaluasi terhadap hasil kerja kelompok dengan bimbingan dari guru.
7) Guru melakukan penilaian terhadap laporan kerja kelompok siswa bergantian.
8) Guru dan siswa menyusun kesimpulan terhadap pelajaran yang sudah dipelajari.
9) Guru dan siswa menyusun kesimpulan terhadap pelajaran yang telah dilakukan.
10) Siswa mengerjakan soal evaluasi. c. Observasi
Observasi dilakukan saaat pembelajaran sedang berlangsung.Pada kegiatan pengamatan ini, yang bertugas mengamati adalah peneliti.Observasi dilakukan pada masing-masing pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Observasi dilakukan terutama untuk mengetahui keterlaksanaan sintak/kegiatan inti pembelajaran dengan menerapkan model PBL. Hal-hal yang diamati adalah kegiatan guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.Hasil rinci masing-masing proses pembelajaran yang diamati antara lain: 1) Siswa membentuk kelompok sesuai arahan guru terlaksana dengan baik, 2) Guru menyampaikan permasalahan yang akan dipecahkan, siswa mencermati permasalahan yang diberikan guru. Kegiatan pada Siklus II ini mennujukkan bahwa siswa sudah sepenuhnya melaksanakan kegiatan dengan benar, 3) Guru meminta siswa berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah yang sudah disiapkan guru. Kegiatan ini sudah berjalan dengan baik, 4) Guru meminta siswa mencari solusi
59
atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.Kegiatan ini sudah berjalan dengan baik, 5) Guru meminta siswa melakukan evaluasi terhadap hasil kerja kelompok dengan bimbingan dari guru. Kegiatan ini juga sudah berjalan dengan baik, 6) Guru melakukan penelitian terhadap laporan kerja kelompok siswa secara bergantian. Kegiatan ini juga sudah berjalan dengan baik, 7) Guru meminta siswa bersama-sama menyimpulkan pelajaran yang sudah dipelajari, 8) Guru meminta siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa. Kegiatan ini terlaksana dengan baik.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa dapat dikemukakan bahwa guru 100% telah melaksanakan pembelajaran berdasarkan sintak PBL dengan baik. Sementara pada aktivitas siswa juga mencapai 100% sudah terlaksana dengan baik.
Disamping kegiatan observasi yang telah dilakukan, dalam pelaksanaan tindakan Siklus II dilanjutkan dengan pemberian soal tes. Deskripsi statistik hasil belajar Siklus II dan distribusi frekuensi muatan Bahasa Indonesia dan IPA dirangkum dalam Tabel 4.5 dan Tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.5
Deskripsi Statistik Hasil belajar Siklus I untuk muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA
Bahasa Indonesia IPA N Valid 35 35 Missing 0 0 Mean 7.77 8.05 Std. Deviation .856 .809 Minimum 60 60 Maximum 100 100
Tabel 4.5 menunjukkan data deskriptif dan distribusi data hasil belajar (postes) Siklus II untuk muatan mapel Bahasa Indonesia dan
60
IPA. Pada postes muatan Bahasa Indonesia rerata skor hanya 7,77, skor postes bergerak antara 60 sampai 100 dan standar deviasi 0.856. Pada muatan mapel IPA rerata skor mencapai 8,05 skor minimum 60, maksimum 100 dan standar deviasi 0.809.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Hasil belajar Siklus II muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA
No Interval skor Kategori Bahasa Indonesia IPA f % Ketun f % Ketun 1 ≥90 Sangat Tinggi 1 2,85% 1 2,85% 2 80-89 10 28,57% Tuntas 16 45,71% Tuntas 3 70-79
Tinggi 20 57,14% Tuntas 16 45,71% Tuntas
4 60-69 4 11,42% Belum 2 5,71% - 5 50-59 Cukup 0 0% 0 0% 6 40-49 0 0% 0 0% 7 30-39 Rendah 0 0% 0 0% 8 20-29 0 0% 0 0% 9 10-19 Sangat Rendah 0 0% 0 0% 10 < 10 0 0% 0 0% Total 35 100% 35 100% Jumlah Tuntas 31 33
Jumlah Belum Tuntas 4 2
Keterangan: batas KKM = 70, Sumber: data primer hasil tes, diolah
Tabel 4.6 memberikan informasi bahwa distribusi data skor siswa pada muatan Bahasa Indonesia ada 11 siswa (31,42%) yang memperoleh skor ≥ 80 berada pada kategori tinggi. Sebagian besar siswa yaitu 20 orang siswa (57,14%) memperoleh skor 70-79 berada pada kategori tinggi, 4 orang siswa (11,42%) mencapai skor 60 – 69 juga dalam kategori tinggi. Pada muatan IPA ada 17 siswa (48,57%) yang memperoleh skor ≥ 90 berada pada kategori sangat tinggi. Sebagian besar siswa yaitu 16 orang siswa (45,71%) memperolehskor 70-79 juga berada pada kategori sangat tinggi, dan2 orang siswa (5,71) mencapai skor 60-69 juga dalam kategori tinggi.
61
Dilihat dari ketuntasan belajarnya, terlihat bahwa pada Siklus II ini terdapat 31 orang siswa (88,57%) mencapai KKM pada muatan Bahasa Indonesia, 4 siswa sisanya 11,42% belum mencapai KKM. Pada muatan IPA 33 siswa 94,2% telah mencapai KKM dan 2 siswa sisanya 5,71 belum mencapai KKM.
1.1.3 Komparasi hasil belajar dan pencapaian KKM antar Siklus
Setelah melakukan analisa terhadap data yang diperoleh dari dua siklus yang dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran PBLmateri Bahasa Indonesia dan IPA pada tema Lingkungan Sahabat Kita sub tema Manusia dan Lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tabel 4.7merangkum komparasi tingkat hasil belajar siswa dari kondisi awal, siklus I sampai siklus II.
Tabel 4.7 Komparasi hasil belajar Siswa
Pembelajaran
Tingkat hasl belajar muatan mapel Bahasa Indonesia
Tingkat hasl belajar muatan mapel IPA
Mean % Kenaikan Mean % Kenaikan
KondisiAwal 58,29 - 58,51 -
Siklus I 6,95 11,19 6,99 11,34
Siklus II 7,77 19,48 8.05 21,94
Dari data dalam Tabel 4.7 diatas, pada muatan mapel Bahasa Indonesia diperoleh temuan: a) pada kondisi awal, rata-rata tingkat hasil belajar siswa baru mencapai 58,2 (skor maksimal ideal 100); b) pada siklus I, rata-rata tingkat hasil belajar siswa mencapai 6,85. Capaian ini menunjukkan peningkatan keterampilan sebesar 11,19%; c) pada siklus II, rata-rata hasil belajar mencapai 77,77. Data ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 19,48%.
Pada muatan mapel IPA diperoleh temuan: a) pada kondisi awal, rata-rata tingkat hasil belajar siswa baru mencapai 58,5; b) pada siklus I, rata-rata tingkat hasil belajar siswa mencapai 6,99. Capaian ini menunjukkan peningkatan
62
keterampilan sebesar 11,34%; c) pada siklus II, rata-rata hasil belajar mencapai 8.05. Data ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 21,94%.
Dilihat dari ketuntasan belajar berdasarkan KKM. Tabel 4.8merangkum komparasi tingkat pencapaian KKM siswa dari kondisi awal, siklus I sampai siklus II.
Tabel 4.8Komparasi pencapaian KKM
Pembelajaran
Tingkat hasil belajar muatan mapel Bahasa Indonesia
Tingkat hasl belajar muatan mapel IPA Tuntas % % Kenaikan Tuntas % % Kenaikan KondisiAwal 9 25,71 - 11 31,42 - Siklus I 22 62,85 37,14 23 65.15 33,73 Siklus II 31 88,57 62,86 33 94,28 62.86
Dari data dalam Tabel 4.8 diatas, pada muatan mapel Bahasa Indonesia diperoleh temuan: a) pada kondisi awal pencapaian KKM baru 25,71%); b) pada siklus I, pencapaian KKM sebesar 62.85c) pada siklus II, KKM mencapai 88,57%. Pada muatan mapel IPA diperoleh temuan: a) pada kondisi awal pencapaian KKM baru 31,42%); b) pada siklus I, pencapaian KKM sebesar 65,15; c) pada siklus II, KKM mencapai 94,28.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, secara garis besar dengan dilaksanakannya model pembelajaran PBL pada pembelajaran tema Lingkungan Sahabat Kita sub tema Manusia dan Lingkungan pada muatan mapel Bahasa Indonesia dan IPA ternyata dapat ditingkatkan. Berkaitan dengan kriteria keberhasilan PTK bahwa PTK ini berhasil jika 80% siswa mencapai KKM (KKM=70) ada pada siklus ke II. Oleh karena itu tujuan penelitian ini sudah dikatakan telah berhasil.
1.2 Pembahasan
Berangkat dari tujuan PTK ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran PBL, maka temuan data pada bagian deskripsi data di atas jelas bahwa tujuan PTK ini tercapai. Pencapaian tujuan
63
PTK ini baru tercapai pada Siklus II, oleh karena persentase capaian KKM melebihi 80% (88,57 pada muatan mapel Bahasa Indonesia dan 100 pada muatan IPA). Pencapaian tujuan PTK ini baru terjadi pada Siklus ke II oleh karena pada Siklus I masih ada kegiatan siswa yang belum terlaksana dengan baik, yaitu berkaitan dengan kurang terbiasanya siswa merumuskan permasalahan yang akan dipecahkan dan kurang terampilnya siswa dalam melaksanakan diskusi. Kekurangan ini kemudian diperbaiki dalam Siklus II dan ternyata berhasil.
Keampuhan model PBL ini menunjukkan bahwa sinergi antara dampak pengiring dan dampak instruksional yang telah dipetakan dalam analisis model berdasarkan model Joyce (2009) terbukti efektif. Demikian juga pendapat Trianto (2010: 96) bahwa model pembelajaran PBL memiliki kelebihan tertentu terbukti, kelebihan tersebut mencakup bahwa penerapan model pembelajaran PBL akan sesuai dengan kehidupan nyata sehingga mudah dipahami oleh siswa, sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, memupuk sifat inkuiri siswa yaitu sifat ingin mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi, memiliki potensi bahwa retensi konsep yang telah dikuasai akan lebih kuat, dan akan terbiasa melakukan pemecahan masalah.
Dibandingkan dengan penelitian terdahulu bahwa temuan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa ternyata sejalan dengan penelitian-penelitian terhahulu yang juga menemukan keefektifan model PBL (Senmai, A., & Relmasira, S. C, 2017; Rini, R., & Mawardi, 2015; Septiana, Anisa, 2012).
Temuan keefektifan model PBL memberikan dampak yang lebih baik pada Siklus ke II setelah dilakukan perbaikan juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sanoto, H. (2016); Melisa, L., Hendri, W., & Herawati, S. (2013); dan Perida, F. W. P. (2013).
Berbeda dengan temuan PTK ini, penelitian lain menunjukkan bahwa keampuhan model pembelajaran PBL lebih baik dalam meningkatkan
64
prosesrpembelajaran berbasis saintifik(Darmono, S, 2014; Purnama, A. S. A., 2014; dan Suriyana, I., 2014).
Agak berbeda dengan temuan terdahulu, hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning hanya sedikit dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan hasil belajar pada siklus I diperoleh persentase nilai rata-rata sebesar 62,14% dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 71,69%. Pada siklus III presentase nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa mengalami kenaikan menjadi 76,73% dengan kategori “baik”, (Suriyana, I, 2014; Merdika, K. A. 2017).
Pada muatan mapel Matematika, Pratiwi, R. D. (2013) yang meneliti tentang Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Pecahan melalui Model Problem Based Learning di Kelas V Sekolah Dasar Negeri Randugunting 4 Kota Tegal menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas V SD dan dibuktikan dengan meningkatnya hasil rata-rata kelas pada hasil evaluasi akhir pembelajaran siklus I mencapai 77,23, dengan TBK 86,11%, meningkat pada siklus II menjadi 81,78 dengan TBK 90,28%. Temuan ini mirip dengan penelitian Novi Andriastutik, S. (2013) yang juga menemukan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar Matematika. Peningkatan ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar matematika siswa pada prasiklus, siklus I dan siklus II diperoleh peningkatan yaitu 62,3 pada prasiklus, 66,9 pada siklus I dan meningkat menjadi 77,5 pada siklus II. Serta ketuntasan hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan pada tiap siklus yaitu 44% pada prasiklus, 72% pada siklus I serta meningkat menjadi 94% pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika,
Kefektifan model PBL dapat juga meningkatkan Peningkatan Keterampilan Proses Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model PBL Terintegrasi Penilaian Autentik Pada Siswa Kelas
65
VI SDN 2 Bengle, Wonosegoro. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil keterampilan proses siswa dengan pemecahan masalah matematika dengan presentase sebesar 28,54% untuk siklus 1 dan 35,46% untuk sikluas 2 dan peningkatan presentase jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar minimal (KKM) berikut: pada kondisi awal, persentase pencapaian KKM sebesar 30,77%, pada siklus 1 persentase meningkat menjadi 53,84%, dan pada siklus 2 persentase jumlah siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 84,61% (Giarti, S. (2015).
Secara lebih komprehensif, Nuraini, F. (2017) yang meneliti tentang penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD menunjukkan hasil belajar IPA, baik hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Dibuktikan dengan hasil belajar kognitif tuntas dari pra siklus 7 siswa (44%) meningkat menjadi 12 siswa
(76%) pada siklus I dan menjadi 16 siswa (100%) pada siklus II. Hasil belajar
afektif pada siklus I dan siklus II menunjukkan rata-rata sikap menghormati 88 meningkat menjadi 97, partisipasi 77 meningkat menjadi 91, bekerjasama 78 meningkat menjadi 86, tanggung jawab 83 meningkat menjadi 89. Hasil belajar psikomotor pada siklus I dan siklus II rata-rata aspek ketrampilan membawa alat dan bahan 72 meningkat menjadi 89, mengoprasikan alat 81 meningkat menjadi 89, ketelitian 81 menjadi 91, dan mendemonstrasikan 83 meningkat menjadi 97,
Penelitian Listiani, W. (2017) tentang Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Siswa Kelas 4 juga menemukan peningkatan KKM. Simpulan penelitian ini dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar siswa yang mulanya pada pra siklus sebesar 36%. Pada pembelajaran siklus I meningkat dengan tingkat ketuntasan sebesar 59,1%. Kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 90,9% dari keseluruhan siswa.Dari laporan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa model
66
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa.