BELAJARLAH DARI PENGALAMAN
Oleh :
Rani Setyo Mintari, M.Pd
Widyaiswara Muda Balai Diklat Keagamaan Surabaya
Abstrak
Sebagaimana yang sudah diketahui banyak orang,pengalaman adalah guru sangat berharga dan terbaik {experiences is the best teacher). Oleh karena itu, berguru kepada orang-orang yang berprestasi bisa menjadi kunci sukses menuju kesuksesan. Sebuah kisah pengalaman kesuksesan orang lain menjadi spirit yang mampu membangkitkan motivasi seseorang dalam kehidupan kita. Belajar untuk mencari sesuatu yang khas, unik, dan menarik dari kesuksesan orang lain merupakan strategi jitu bukan untuk sekadar meniru-melainkan mengadopsi, memodifikasi, dan menjadikannya sebagai roh perjuangan ikhtiar akademis kita.
Kata Kunci : Pengalaman, Mimpi dan Waktu
1. PENDAHULUAN
Setiap orang sudah pasti berharap mendapatkan pendidikan terbaik dalam hidupnya. Setiap orang sudah pasti berkeinginan menjadi yang terbaik dan berprestasi . Banyak sekali tips-tips dan trik yang digunakan setiap orang untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan itu dengan beragam parameter yang harus dicapai. Contohnya, menjadi mahasiswa berprestasi dan memi-liki IPK (indeks prestasi kumulatif), cum laude merupakan salah satu dari sekian banyak indikatornya. Lantas, bagaimanakah caranya untuk menyandang gelar sarjana cum laude dan lulus tepat waktu?. Atau menjadi pegawai dari sekian banyak orang untuk mendapatkan posisi atau jabatan yang strategis?.
Sebagaimana yang sudah diketahui banyak orang, pengalaman adalah guru sangat berharga dan terbaik {experiences is the best teacher). Oleh karena itu, bergu-ru kepada orang-orang yang berprestasi bisa menjadi kunci sukses menuju terbaik. Sebuah kisah pengalaman kesuksesan orang lain menjadi spirit yang mampu membangkitkan motivasi seseorang dalam kehidupan kita. Belajar untuk mencari sesuatu yang khas, unik, dan menarik dari kesuksesan orang lain merupakan strategi jitu bukan untuk sekadar
meniru-melainkan mengadopsi, memodifikasi, dan menjadikannya sebagai roh perjuangan ikhtiar akademis kita.
2. PEMBAHASAN
Keberhasilan orang lain yang telah lebih dulu diraih bukan didapat secara tiba-tiba. Prestasi yang telah dicapai oleh orang lain tidak datang dengan sendirinya, melainkan ditempuh dan diusahakan dengan berbagai macam strategi. Jika orang lain dapat berprestasi , kenapa kita tidak bisa? Setiap orang memiliki potensi yang sama dengan kesempatan yang masih terbuka lebar. Beranikah kita mengukir sejarah baru dengan modal belajar dari pengalaman orang lain, melakukan terobosan-terobosan aksi baru untuk meraih prestasi yang jauh lebih baik daripada yang pernah diraih oleh orang lain?
Kedisiplinan
Happy Maesaroh adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Anak Usia Dini . Di lingkungan kampus, Happy panggilan akrabnya, dikenal sebagai orang yang memiliki jiwa dan pribadi mandiri. Kenyataan ini dapat dilihat dari kegiatannya sehari-hari, yakni bekerja sebagai guru di Raudhatul Athfal (RA), selain sibuk dengan jadwal kuliah. la kuliah sambil bekerja. Sebab, selain untuk biaya kuliahnya, ia harus membiayai kehidupannya sehari-hari. Uang kiriman dari orang tuanya tidak seberapa dan tidak cukup untuk membiayai kuliah dan kehidupan selama kuliah.
Hal itu dapat dilakukan dengan sangat baik oleh Happy Maesaroh. Manajemen waktu dan cara belajar yang disiplin membuatnya mampu menyeimbangkan antara kegiatan dengan akademik. Kuliah sambil bekerja menjadi strategi tersendiri untuk mengimplementasikan secara langsung teori-teori yang didapatkan di bangku kuliah ke dalam kehidupan praktis. Hasilnya luar biasa, Happy Maesaroh sukses menyandang predikat mahasiswa cum laude .
Dalam sebuah kesempatan, Happy Maesaroh berujar, "Bekerja- kan bisa menambah atau memperdalam ilmu dan pengalaman. Lagi pula, saya bisa mem-praktikkan ilmu yang didapat dari kampus."
Kuliah dan kerja masih dipandang sebagai sebuah pilihan yang harus dipilih salah satu; kuliah atau kerja. Akan tetapi, tidak demikian bagi Happy Maesaroh. Ia bisa menjalani kedua-duanya. Kuliah sambil kerja merupakan sebuah pilihan strategis untuk
memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara praktis.
Dari sepenggal cerita tersebut, inspirasi yang dapat diperoleh bahwa kegiatan kuliah bukan satu-satunya jaminan untuk mengantarkan seseorang bisa berprestasi dan meraih kesuksesan. Banyak mahasiswa yang hanya memfokus-kan pada kuliah, tetapi tidak dapat berprestasi. Justru Happy Maesaroh yang kuliah sambil bekerjalah yang dapat menjadi mahasiswa berhasil meraih itu. Kunci keberhasilan Happy Maesaroh terletak pada manajemen waktu, kemandirian, dan cara belajar yang disiplin, sehingga mampu menyeimbangkan antara kegiatan bekerja dengan kegiatan kuliah.
Selain itu, kuliah sambil bekerja adalah titik poin tersendiri. Sebab, yang demikian ini merupakan bentuk upaya untuk memperdalam, mengembang-kan, sekaligus mempraktikkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari bangku kuliah secara praktis. Mampu menghilangkan rasa malu dan berani untuk menanyakan hal-hal yang dianggap belum tahu ke-pada dosen adalah nilai lain yang bisa kita petik dari kisah ini.
Konsistensi
Belajar rutin adalah kunci keberhasilan. "Belajar di sini berarti mulai dari menyelesaikan semua tugas , mengulang , hingga menyiapkan . Segala sesuatu itu sebaiknya dilakukan step by step, fokus dalam mengerjakan segala sesuatu dan kerja keraslah yang bisa mengantarkan pribadi berprestasi. Konsisten dan teguh pada prinsip untuk selalu mencicil dengan tidak menunda-nunda pekerjaan merupakan strategi bagi untuk meraih kesusksesan.
Memaksimalkan Kemampuan
Mengenali potensi diri untuk kemudian memak-simalkannya dalam setiap kegiatan menjadi penting bagi setiap pribadi untuk berprestasi. Kemampuan setiap orang berbeda-beda, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, memaksimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangan merupakan kunci menjadi pribadi yang siap untuk sukses.
Berawal dari Mimpi
Sukses merupakan hak siapa saja. Tidak ada batasan bahwa orang yang meraih kesuksesan adalah mereka yang kaya dan pintar. Semua berhak menjadi yang terbaik. Semua itu tergantung pada dalam mengoperasionalkan dirinya untuk menjadi yang terbaik. Tidak banyak syarat untuk meraih yang terbaik karena syarat utamanya hanyalah mimpi.
Dasar yang menggerakkan untuk meraih kesuksesan ialah mimpi. Tanpa mimpi, kita hanyalah manusia yang kehilangan fungsi etisnya, yang tidak tahu arah tujuannya, serta tidak bisa bergerak karena tidak tahu dari mana memulainya. Hasrat atau kegigihan me-reka mudah sekali pudar, sehingga dengan mudah mengubah impian menjadi sangat sederhana.
Padahal, impian yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang yang berhasil mencatatkan nama dalam sejarah, rata-rata mempunyai ciri khas, yaitu selalu mampu memperbarui impian mereka. Oleh karena itu, jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian tersebut sebagai nafas kehidupan karena kekuatan mimpi adalah pintu pembuka bagi kesuksesan.
Mimpi kita sekarang, menentukan hidup kita di masa depan. Dengan kata lain, jika sekarang kita tidak bermimpi, beberapa tahun ke depan, kita tidak menjadi apa pun. Oleh karena itu, jangan biarkan raksasa yang bernama "mimpi" terkubur begitu saja; wujudkan mimpi itu. Jadikan mimpi itu sebagai motivator paling ampuh untuk melakukan sesuatu yang menakjubkan dan luar biasa.
Banyak pihak yang dapat menghalangi kita mencapai sebuah kesuksesan. Tetapi, tak satu pun yang dapat menghalangi kita untuk bermimpi. Mimpi merupakan satu-satunya aktivitas yang tidak bisa dibatasi oleh orang lain. Selain apa pun mimpi kita, takkan ada yang dapat mencegahnya. Hal yang penting setelah kita bangun, berusaha melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Bangun dari mimpi meraih cum laude, berarti melakukan berbagai hal yang menjadikan mimpi kita menjadi kenyataan. Dari semua itu, janganlah takut dengan mimpi. Sebab, mimpi ialah milik setiap manusia.
Waktu adalah Masa Depan
ada dua hari dalam hidup yang sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Pertama. hari kemarin. Kita tidak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Kita tidak mampu menarik perkataan yang telah terucapkan. Kita juga tidak mungkin menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin berlalu; lepaskan saja.
Kedua. hingga mentari esok hari terbit, kita tidak pernah tahu yang akan terjadi. Kita
tidak dapat melakukan apa-apa pada esok hari. Kita juga tidak mungkin sedih atau ceria pada esok hari. Sebab, esok hari belum tiba; biarkan saja, yang ter-sisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba. Oleh karena itu, pusatkan saja diri kita untuk "hari ini". Kita dapat mengerjakan le-bih banyak hal pada hari ini bila mampu memanfaatkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan terhadap esok hari. Hiduplah hari ini. Sebab, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.
Aturlah waktu untuk mengatur kehidupan. Betapa hebatnya waktu mengatur kita. Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas. Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu. Padahal, masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata. Namun, esok hari saat lonceng jam kerja mulai berdentang, semua tumpukan masalah kita aduk, seolah terlampau oleh tidur semalam. Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita.
Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, emosi, dan perasaan. Sebab, waktu adalah lingkaran tempat kehidupan berjalan. Kita atur waktu untuk mengatur kehidupan. Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan. Semua itu kita rangkai dalam jalinan waktu. Maka, hanya mereka yang tak kenal waktulah yang terjerat dalam persoalan tiada berujung.
Setiap waktu adalah tahun baru; tahun baru yang abadi. Merengkuh waktu ialah merengkuh masa depan.
Ingatlah yang diucapkan oleh Imam Hasan Basri, "Wahai anak Adam!
Sesung-guhnya, kamu hanyalah kumpulan dari beberapa hari, bila berlalu satu hari maka berlalulah sebagian darimu. Dan, jika sebagian sudah berlalu, maka dekat sekali akan berlalu semuanya."
Senada dengan pepatah Arab yang berbunyi, "Kod fata ma fata" (Yang lalu telah berlalu). Sebuah penegasan bahwa waktu yang telah lampau, sekali-kali tidak akan pernah datang lagi. Waktu yang berlalu hanya akan tersisa sebagai kenangan; menjadi cerita apik dan kisah indah jika dilakoni dengan kebenaran dan keindahan. Sebaliknya, tak jarang masa lalu kelabu menjelma sebagai bayangan yang terus menghantui dan memperpanjang deretan memori hitam. Sebab, hal itu, tercatat sebagai hasil tipu daya setan sekaligus menjadi lembaran kelam masa silam.
Zulfan Syahansyah (2010) menjelaskan bahwa keberadaan waktu bagaikan cermin yang memantulkan "paras" perilaku. Pada dasarnya, manusia di kehidupan ini, tak lain hanya menjadi cerita bagi manusia-manusia setelahnya. Kebaikan dan keburukannya, lambat laun akan tersingkap dalam tahapan seleksi sejarah, yang selalu segar dalam kenangan. Semuanya menjadi kisah yang tidak pernah usang dimakan waktu.
Bertanya sebagai Seni Kreativitas
Dahulu, parameter untuk mengetahui kepandaian seseorang diukur melalui kemampuan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sejak kecil, kita sering di-drill untuk sebisa mungkin menjawab pertanyaan, hitung-hitungan, hafalan, dan lain sebagainya. Sebaliknya, secara kultural, bertanya dianggap sebagai aib yang memalukan. Akan tetapi, seorang penerima nobel kesustraan dari Mesir, Naguib Mahfouz berkata, "You can tell whether a man is clever by his answers. You can tell
whether a man is ivise by his questions.
Jika diterjemahkan, kira-kira maknanya kurang lebih begini, "Anda dapat mengetahui orang itu pintar dengan jawaban-jawabannya. Sebaliknya, Anda juga bisa mengetahui orang itu bijaksana oleh pertanyaan-pertanyaannya."
Pernyataan ini memangkas pendapat awal tersebut. Konon, para jenius bukan bunya orang-orang dengan skor intelligence quotient (IQ) yang sangat tinggi. Boleh jadi, mereka adalah orang-orang biasa yang menggunakan kepandaian mereka dengan cara lebih baik daripada orang kebanyakan. Orang jenius selalu berpikir terbuka (inkhisif) dengan melakukan pendekatan terhadap berbagai masalah dengan serangkaian pertanyaan. Menurut Saidiman, bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seorang yang dikenali.
Jika kita ingin mengetahui suatu topik lebih dalam, salah satu yang paling pokok ialah bertanya sesuatu yang termasuk dalam topik itu. Mungkin, kita pernah mendengar
tentang model 4W + 1H (-where, when, who, why, dan how). Kata-kata itu merupakan kata tanya dan alat untuk mengetahui suatu hal lebih baik.
Lebih daripada itu, mungkin cukup banyak orang yang mempertanyakan arti kata tersebut, bahkan sampai arti dalam praktis kehidupan, namun berhenti sampai dengan pertanyaan saja. Pengertian bertanya tidak semata bertanya. Sebenarnya, kata "pertanyaan" berasal dari bahasa Latin, quaerere, yang berarti to ask, to seek. Artinya, bertanya mengandung pengertian mencari. Pertanyaan yang muncul dalam hati tentang suatu hal yang belum dimengerti dengan sempurna, alangkah baiknya jika dimulai dengan mencari.
Mencari mempunyai pengertian yang lebih jauh daripada yang kita bayangkan selama ini. Mencari merupakan proses untuk mendalami lebih jauh tentang suatu topik. Dalam proses pencarian, diharap-kan menemukan jawaban. Dalam proses pencarian, bisa jadi justru menghasilkan pertanyaan baru. Proses pertanyaan, pencarian, dan jawaban bisa menjadi siklus. SikJus proses ini jika diteruskan, maka dapat menghasilkan pemahaman yang semakin baik ten-tang sebuah topik.
Kebiasaan bertanya, mencari, dan menemukan jawaban terhadap hal-hal apa pun bisa menjadikan kita berpikiran terbuka. Bertanya, mencari, dan me nemukan (jawaban), kemudian berulang lagi dapat meningkatkan pemahaman, melihat lebih jauh, bahkan lebih baik dalam memutuskan sesuatu. Proses seperti ini juga bias membuat kita tidak terlalu mudah menilai, men-judge, bahkan menghakimi sebelum memiliki pengertian yang cukup baik.
Ilmu pengetahuan semakin maju sangat diten-tukan oleh rasa penasaran dan curious manusia. Rasa penasaran dan keingintahuan bisa menentukan pen-capaian manusia dalam hal apa pun, bukan hanya ilmu pengetahuan. Pengetahuan dapat semakin berkembang dan maju sepesat pertanyaan yang muncul dalam diri manusia. Maka, sangat menarik yang dikatakan oleh penyanyi dan penyair Joan Baez, As long as one keeps searching, the answers
come. Bahkan, dalam kenyataannya, pertanyaan jauh lebih penting daripada jawaban. Bo
Bennett, seorang pe-bisnis dan pemotivasi berkata, "A single question can be more
influential than a thousand statements." Kebiasaan bertanya, mencari, dan menemukan bisa
membuat kita berpikiran terbuka.
Jadi bertanya adalah seni kreatif untuk merespons segala sesuatu yang memproduksi makna, baik yang datang dari dalam maupun dari luar dirinya sebagai kegelisahan akademik. Jadi, bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir secara kreatif di lingkungan sekitarnya. Bertanya ialah untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara aktif dan kritis.
3. PENUTUP
Jangan Terjebak dalam Romantisme
Suatu waktu, ketika sang profesor menghadiri acara warga kampungnya, kebetulan sedang mengadakan pemilihan ketua RT (rukun tetangga). Akhirnya, sang profesor terpilih sebagai ketua RT. Warga kampung itu sangat bangga, karena yang menjadi ketua RT adalah seorang guru besar perguruan tinggi ternama. Harapan warga membumbung tinggi, sang profesor nantinya diharapkan mampu menjadi ketua RT yang menenteramkan, menyejukkan, dan memajukan lingkungan RT.
Seiring berjalannya waktu, sang profesor ternyata gagap. Menjadi ketua RT ternyata berbeda dengan menjadi profesor. Banyak hal-hal yang dipelajari dan dikaji dalam penelitiannya sama sekali tidak berkaitan dengan masalah riil yang dihadapi di kampung. Singkat cerita, sang profesor yang setiap hari bergelut dengan buku itu, ternyata tidak mengerti dengan fakta sosial tetangga di rumahnya. la gagal menjalankan peran barunya sebagai ketua RT. Banyak agenda kampung yang tak terlaksana, bahkan terjadi kemunduran daripada sebelumnya.
Kisah tersebut merupakan titik penting Kesuksesan merupakan kunci untuk melakukan perjuangan. Akan tetapi, jangan terjebak dalam romantisme. Sebab, kesuksesan merupakan tangga menciptakan kreativitas baru yang lebih inovatif. Oleh karena itu, tinggalkan romantisme, karena romantisme hanya membuat beku pemikiran. Jauhkan diri dari pribadi yang sok tahu dan merasa menggapai prestasi karena hanya menjebak diri dalam kepuasan yang tak berguna, serta terjebak dalam keruntuhan diri sendiri.
Pribumisasi llmu Pengetahuan
Robert Chambers mengetengahkan anasir yang menarik bahwa cendekiawan sudah saatnya belajar dari warga desa. Dengan appraisal (penilaian) yang melibatkan kalangan bawah, cendekiawan akan mampu melakukan pribumisasi pengetahuan secara efektif.
Inilah yang sekarang dijalankan oleh Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian 2006, yang mendirikan Graamen Bank dalam menyejahterakan rakyat Bangladesh. Yunus melepas jabatan gelar doktoralnya dari kampus. la terjun langsung berproses dengan warga desa, dan memutuskan kebijakan strategis yang dijalankan bersama masyarakatnya. Dengan tekun dan teguh, warga kecil tercerahkan dan tersejahterahkan dari gerak langkah yang dijalankan oleh Yunus.
Barangkali, Muhammad Yunus bisa menjadi contoh ideal cendekiawan di Indonesia untuk terus melakukan kreativitas baru dalam upaya pribumisasi ilmu pengetahuannya. Jangan sampai ilmu justru menumpuk dalam buku dan otak, tetapi harus terealisasikan dan bermanfaat secara baik kepada sesama manusia. Dalam konteks perjuangan kepada masyarakat ini, menarik sekali menyimak syair Imam Syafi'i, seorang pujangga dan imam madzhab dalam keilmuan Islam, sebagaimana berikut:
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam dikampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kamu akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelahklah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak, bergerak dan terdiam Tentu manusia bosan padanya dan enggan
memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan,
Sajak tersebut mengajak kita untuk merantau dan berjuang menggapai kemuliaan dan mendapatkan emas kehidupan. Dimana pun tempatnya, inspirasi yang dapat diperoleh bahwa hanya dengan ketekunan dan semangat untuk bekerja keras, berbagai prestasi bisa diukir. Menghilangkan budaya malu yang membelenggu untuk maju, mampu mengubah kondisi yang serba minimal sekaligus diiringi dengan semangat, ulet bekerja, dan belajar menjadi kunci untuk menda-patkan hasil yang maksimal.
Daftar Pustaka
Toynbee, Arnold Joseph. 1966. Change and Habit: The Challenge of Our Time. Oxford: University Press.
Stanovich, K.E. 1980. Toward An Interactive Compensatory Model Of Individual Differences
In The Development of Reading Fluency. Tanpa Kota: Reading Research Quarterly.
Miarso, Yusufhadi. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pratikno, R. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja Karya
Syihab, M Quraisy. 1992. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhui Atas Pelbagai Persoalan
Umat. Bandung: Mizan.
Arismunandar, Wiranto. 2003. Komunikasi dalam pendidikan. Bandung: Departemen Teknik Mesin ITB.
Lestari G, Endang dan Maliki. 2003. Komunikasi yang Efektif. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Sardiman AM. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta. Rajawali Press.
R. Covey, Stephen. 2008. The 8th Habit, Melampaui Efektivitas Menggapai Keagungan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wahyudi, Yudian. 2009. Jihad ilmiah dari Tremas ke Harvard. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press.