PANDUAN KOMUNIKASI EFEKTIF

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PANDUAN KOMUNIKASI EFEKTIF

RSIA PUTRI SURABAYA

BAB I. DEFINISI

Komunikasi merupakan proses bicara dalam bahasa inggris di akronimkan sebagai TALK. TALK merupakan akronim dari T ( talk to each other ) yakni berbicara satu orang dengan orang lainnya, A ( act together to car for our residents, patients and families) secara bersama memberikan pelayanan antar petugas, residen, pasien dan keluarganya, L ( listen to each other ) yakni satu dengan lainnya saling dengarkan dan K ( know and understand each

other ) yakni tau dan mengerti satu dengan lainnya.

Komunikasi melibatkan pembicara ( orang yang member informasi ), proses penyampaian informasi, isi informasi dan pendengar ( orang yang menerima informasi ).

Menurut Carl I. Hovland, komunikasi adalah suatu proses dimana seorang individu, menyampaikan pemikiran – pemikiran atau informasi ( verbal atau non verbal )untuk mengubah tingkah laku orang lain / individu lain. Untuk itu harus ada kesepahaman arti dalam proses penyampaian arti tersebut agar tercapai komunikasiyang efektif.

Berdasarkan definisi diatas, kita simpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan untuk mengubah tingkah laku orang lain / individu lain. Tujuan yang diharapkan dalam proses komunikasi yaitu perubahan berupa penambahan pengetahuan, merubah pendapat, memperkuat pendapat, merubah sikap dan perilaku komunikan atau dengan kata lain dikenal sebagai tiga tingkatan perubahan yaitu kognitif, afektif dan behavioral.

Menurut Devito ( 1989 ), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera ( Effendy, 2003 ).

Bentuk komunikasi interpersonal di rumah sakit biasanya antara dokter, perawat, ataupun paramedik dengan pasien dan keluarganya. Bentuk komunikasi interpersonal seperti ini juga dikenal dengan komunikasi terapeutik. Komunikasi semacam ini biasanya berfokus pada pertukaran informasi mengenai kondisi kesehatan pasien.

(2)

Sedangkan komunikasi dalam hal penyampaian informasi dan edukasi mengenai fasilitas pelayanan rumah sakit dan kesehatan kepada pasien dan keluarga biasanya di jembatani melalui customer serviceataupun kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan ( edukasi ). Komunikasi interpersonal ini juga diperlukan antara direksi dengan unit kerja serta antar tiap unit kerja di RSIA PUTRI agar kegiatan manajemen rumah sakit berjalan lancar.

Selain komunikasi interpersonal, penyampaian informasi mengenai fasilitas pelayanan rumah sakit dan kesehatan juga dapt diberikan melaui media. Bentuk komunikasi semacam ini dikenal dengan komunikasi massa.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang samadapat diterima secara serentakdan sesaat. Beberapa media massa yang di gunakan oelh RSIA PUTRI dalam berkomunikasi dengan masyarakat ataupun pasien dan keluarga adalah buku, leaflet, poster, banner, spanduk, majalah, radio dan website. Sebagai seorang pembicara, harus memperhatikan beberapa faktor untuk memberi kesempatan kepada pendengar untuk mendengar dan memahami isi komunikasi.

Tibodean ( 2003 ) menyampaikan beberapa hal untuk meningkatkan komunikasi efektif, yakni :

1. Pesan disampaikan tepat waktu, pesan berubah secara konstan dan bila terjadi keterlambatan dalam menyampaikan pesan menyebabkan informasi ketinggalan jaman ( kuno ).

2. Pesan hendaknya disampaikan dengan lengkap sehingga pendengar dapat mengerti informasi yang ingin disampaikan

3. Informasi disampaiakn dengan jelas

4. Informasi harus akurat dan sesuai dengan inti permasalahan, tidak membingungkan penerima ( pendengar )

5. Pesan di verifikasi oleh penyampai berita

Menurut Zumrun ( 2006 ), untuk menjadi seorang pendengar yang baik menganjurkan : 1. Jangan memotong pembicaraan

Tunggu hingga pembicara menyelesaikan pembicaraan sebelum pendengar menyampaian umpan balik atau menyampaikan pendapatnya. Pendengar pada umumnya kurang sabar menunggu komunikasi selesai,hal ini menyebabkan rusaknya komunikasi.

(3)

Sebagai pendengar jangan memotong pembicaraan dengan langsung mengambil kesimpulan seakan – akan tahu apa yang dibicarakan walaupun proses komunikasi belum selesai.

3. Jangan mengadili pembicara.

Sebagai pendengar jangan membuat opini yang dapat mengganggu pesan yang diterimanya. Logat bicara, kecepatan penyampaian,penampilan, umur dan beberapa faktor lainnya dapat membiaskan pesan yang diterima. Sebagai pendengar yang efektif fokuskan kepada isi komunikasi,supaya menerima pesan dengan benar.

4. Catat informasi yang menarik bagi pendengar. Hal ini membantu konsentrasi dan ketertarikan sebagai pendengar.

5. Ajukan pertanyaan dengan kata yang baik, hal ini untuk memperjelas atau menilai keberhasilan komunikasi dan umpan balik. Pendengar yang baik berperan aktif dalam proses komunikasi.

Hambatan dalam berkomunikasi, antara lain :

1. Hambatan fisik, komunikasi melintasi ruangan dengan cara berteriak – teriak, atau komunikasi dengan beda lokasi antara pembicara dengan pendengar.

2. Hambatan persepsi, beda dalam menggunakan istilah kata. 3. Hambatan emosi, perasaan tidak senang dalam berkomunikasi. 4. Hambatan budaya, budaya dapat menghambat komunikasi.

5. Hambatan bahasa,kata yang dipergunakan dalam komunikasi mengandung bahasa yang kurang di mengerti oleh pendengar.

Dampak salah dalam berkomunikasi :

1. Menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan, hal ini disebabkan karena salah dalam mengambil tindakan sebagai contoh pemberian KCL secara IV bolus padahal penyampai berita yang dimaksud pemberian KCL secara drip.

2. Menimbulkan konflik antara penyampai berita dengan penerima berita. Hal ini dapat mempengaruhi mutu pelayanan medik yang dilaksanakan di Rumah sakit. 3. Komunikasi antar petugas/ pemberi pelayanan di dalam ( internal ) dan keluar (

eksternal ) rumah sakit.

Untuk komunikasi internal ini terdapat dua bentuk yakni vertikal dan horizontal. Komunikasi vertikal , yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi,

(4)

petunjuk-petunjuk, informasi-informasi kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan kepada pimpinan.

Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu kominikasi antara sesamaseperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral ini memperlancar penukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindaribeberapa masalah dan memecahkan yang lainnya,serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.

Sedangkan komunikasi eksternal rumah sakit dilakukan dengan rumah sakit lain, mitra kerja ( stakeholder ).

Bentuk komunikasi ini dapat dilakukan melalui telepon, interpersonal ( face to face ), maupun ceramah saat rapat.

BAB II RUANG LINGKUP

BAB II.1. DASAR HUKUM

Dasar hukum yang berhubungan dengan pelaksanaan dan implementasi Manajemen Komunikasi dan Informasi meliputi :

(5)

1. Undang undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Undang undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah

Sakit.

3. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 4 Th 2012 Tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan RS.

4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No269/MenKes/Per/III/2008 Tentang Rekam Medis

BAB II.2. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup komunikasi efektif RSIA PUTRI Surabaya adalah sebagai beriku : 1. Komunikasi dengan masyarakat

2. Komunikasi dengan pasien dan keluarga 3. Komunikasi interen rumah sakit

4. Komunikasi eksteren rumah sakit BAB II.3. SASARAN

1. Masyarakat

2. Pasien ,Keluarga dan Pengunjung

3. Dokter, Tenaga Kesehatan lain, Perawat, Bidan, Tenaga non Medis, Tenaga non Keperawatan

4. Institusi Pemerintah dan Swasta

BAB III. TATA LAKSANA

III.1. TATA LAKSANA IDENTIFIKASI KOMUNIKASI DAN POPULASI

1. RSIA PUTRI melakukan identifikasi komunikasi dan populasi internal dan eksternal yang menjadi pusat perhatian dalam pemberian informasi melalui analisa data demografi kunjungan kunjungan Rawat Jalan maupun Rawat Inap. 2. Pengolahan data dan penentuan sasaran/target harus memberikan gambaran

(6)

3. Proses identifikasi terhadap komunitas dan populasi dilakukan oleh bagian Humas dan Marketing RSIA PUTRI.

III.2. KOMUNIKASI DENGAN MASYARAKAT

III.2.1 Identifikasi komunitas dan populasi berdasar data demografi seluruh pengunjung RS yang telah dianalisi tentang : penyakit, jenis kelamin, umur, ras/etnis, agama dan bahasa yg digunakan,tempat domisili dll yg terkait untuk :

a. Komunikasi lanjutan tentang informasi pelayanan, jam pelayanan dan proses mendapatkan pelayanan;

b. Informasi tentang kualitas pelayanan, yang diberikan kepada publik dan kepada sumber rujukan.

c. Bentuk dan Strategi komunikasi :

 PKRS = Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit melalui individu maupun

kelompok pada :

1. Penyuluhan tentang Ante Natal Care, menghadapi persalinan, perkembangan janin dll dilakukan di senam hamil.

2. Penyuluhan perawatan tali pusat, memandikan bayi di Ruang Bayi 3. Penyuluhan Gizi

4. Senam Nifas dan Massage Payudara 5. Pijat Bayi

 Seminar seminar seputar masalah kehamilan, menyusui , perawatan bayi baru lahir dan masalah penyakit kandungan.

 Melalui leaflet, brosur, spanduk, poster, majalah, Koran, radio  Website, email

III.2.2. Komunikasi dengan masyarakat menggunakan perantara media :

a. Buku dan CD Profile RSIA PUTRI Surabaya

b. Hotline ke Informasi 031-5999987 Humas : 031-5999987 ext 122, atau 08130000822

c. Nomor Faximile : 031-5997215

d. Website, email rsiaputri@gmail.com 2. rs_putri@yahoo.co.id

e. Media leaflet, banner, spanduk, poster oleh Unit PKRS dan Humas

f. Koran, majalah, radio

III.3. KOMUNIKASI DENGAN PASIEN DAN KELUARGA

(7)

1. Humas & Marketing dengan menghubungi 031-5999987 ext 122

2. Hotline ke Informasi 031-5999987 Humas 031-5999987 ext 122, 08130000822 3. Nomor faximile : 031-5997215

4. Email : 1. rsiaputri@gmail.com 2. rs_putri@yahoo.co.id 5. Kotak saran /komplain

6. Pemberian informasi kepada pasien dan keluarga tentang edukasi kesehatan 7. Media leflet, banner, spanduk, poster, Koran, majalah radio oleh PKRS & Humas Komunikasi efektif memuat :

1. Pasien dan keluarga diberi informasi tentang asuhan dan pelayanan melalui brosur, leaflet, spanduk, biner atau melalui media masa seperti koran, majalah, radio dan melalui perantara media website dan diberi informasi bagaimana mengakses pelayamam di RSIA PUTRI.

2. Pasien dan keluarga diberi informasi bahwa RSIA PUTRI memberikan asuhan dan pelayanan rawat jalan meliputi ruang lingkup Obstetri & Ginekologi, Pediatari , IGD , Penunjang Medis antara lain USG 4D, Fisio Terapi ( Senam Nifas, Breast care, Massage Baby, Tumbuh Kembang dll), Radiologi, Laboratorium dan Senam Hamil

3. Pasien dan keluarga diberi informasi bahwa RSIA PUTRI hanya memberikan asuhan dan pelayanan rawat inap meliputi ruang lingkup Obstetri & Ginekologi, perawatan bayi lahir (Perinatologi ) dan NICU 3.

4. Apabila asuhan pasien didapatkan kasus diluar kasus Obstetri, Ginekologi, Perinatologi dan NICU level 3 misalnya kasus Bedah, kasus Pediatri, kasus Internis dll maka pasien dan keluarga diberikan informasi tentang sumber alternative ( dirujuk ) ke rumah sakit yang lebih tinggi.

5. Menggunakan informasi dengan bahasa Indonesia yang benar dan apabila pasien dan keluarga menggunakan bahasa yang tidak dimengerti maka RSIA PUTRI meminta bantuan anggota keluarga sebagai penterjemah apabila terpaksa dan sebagai upaya akhir maka anak bisa dijadikan penterjemah.

III.4. KOMUNIKASI INTEREN RUMAH SAKIT

III.4.1. TATA LAKSANA KOMUNIKASI EFEKTIF INTERNAL RSIA PUTRI 1. Komunikasikan visi, misi dan Rencana Strategi RSIA PUTRI Surabaya

(8)

2. Sosialisasikan Rencana Strategi dan program RSIA PUTRI

3. Komunikasi melalui telepon antar petugas (dokter, perawat/bidan, petugas lainnya)

4. Rapat rutin yang diadakan di lingkungan RSIA PUTRI seperti :  Rapat Komisaris

 Rapat Umum Pemegang Saham

 Rapat Struktural

 Rapat Komite Komite

 Rapat masing masing Pokja  Rapat masing masing unit

 Pertemuan Keperawatan

5. Buat jadwal rapat umum seluruh RSIA PUTRI 6. Undangan, Absensi dan Notulen

7. Laporan laporan

8. Lembar edukasi yang berisikan tanggal, Materi, tanda tangan

9. Komunikasi efektif harus tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, mudah dipahami oleh penerima sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman. III.4.2 PRINSIP KOMUNIKASI EFEKTIF :

1. Write back, read back, verifikasi pemberi pesan dan klarifikasi ulang bagi penerima pesan.

2. Komunikasi lewat telepon dengan prinsip Write Back, Read Back.

Setiap pesan yang dilaksanakan melalui telelepon, perlu di baca ulang ( readback ) ringkasan informasi oleh penerima berita ( receiver ) untuk mengecek akurasi berita dan kejelasan isi informasi tersebut. Hal ini diperlukan untuk menyakinkan bahwa penerima informasi mengerti dan jelas tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan informasi yang diterimanya. Setiap informasi yang diterima, harus ditulis dalam catatan medic ( Rekam Medik ).

RECORDING SBAR

Komunikasi efektif harus dicatat dengan akurat pada rekam medis atau catatan pasien. Catatan tersebut harus dapat dibaca ( Legible ), ditanda tangani ( signed ),

(9)

diberi tanggal ( dated ), dituliskan waktu serta ditulis dengan menggunakan tinta warna hitam.

III.4.3 BENTUK STRUKTUR KOMUNIKASI :

Komunikasi efektif dapat terjadi dengan menggunakan suatu format baku agar komunikasi terstandar dan berlangsung secara efektif dan efisien. Salah satu format baku yang di pergunakan oleh JAHCO adalah format SBAR

DEFINISI SBAR

Komunikasi verbal atau komunikasi tulis yang kurang adekuat merupakan sumber kesalahan yang serius pada pusat pelayanan kesehatan. Analisis akar masalah ditemukan sebagai sumber kesalahan yang terjadi secara umum di sebabkan dari kedua macam komunikasi ini. Terdapat beberapa hambatan dalam komunikasi antar petugas pemberi pelayanan karena factor hirarki,gender, suku, perbedaan gaya komunikasi antar disiplin ilmu dan gaya komunikasi individual.

SBAR merupakan kerangka komunikasi yang mempermudah mengatasi hambatan dala komunikasi. SBAR merupakan bentuk struktur mendasari komunikasi antara pemberi informasi dengan penerima informasi. SBAR mudah diingat yang praktis untuk komunikasi atau percakapan. SBAR tersusun sebagai berikut :

S = Situation B = Background A = Assessment R = Recommendation

Tujuan dan keuntungan menggunakan SBAR ( Byred et al, 2009 ) ,yaitu : a) Meningkatkan keamanan keselamatan pasien ( patient safety ). b) Memberikan standar untuk penyebaran atau berbagi informasi.

c) Meningkatkan kekuatan atau penjelasan dari para pemberi pelayanan kesehatan dalam mengajukan permintaan perubahan perawatan pasien atau untuk menyelesaikan informasi dalam keadaan kritis dengan benar dan akurat.

d) Meningkatkan efektivitas kerja tim.

e) Dapat dipergunakan pada daerah spesifik COPD. SBAR TERSUSUN ATAS :

S = Situation

Tanyakan kondisi pasien (Situation)

Identitas pasien, diagnose medis dan masalah yang belum maupun sudah teratasi.

(10)

Mengawali suatu komunikasi di perlukan pengenalan antara penyampai berita dan penerima berita. Dalam hal ini identitas saudara ( petugas ) dan unit pelayanan kesehatan diinformasikan. Selain itu juga perlu disampaikan kepada siapa ( penerima ) informasi yang petugas ajak berkomunikasi

Dalam situasi ini perlu petugas menjelaskan permasalahan yang dihadapinya

Misalnya pasien serta kekhawatiran bila tidak di lakukan tindakan. Dalam hal menginformasikan pasien disebutkan identitas pasien.

B = Background

Tanyakan latar belakang pasien (Background)

Keluhan utama, intervensi yang telah dilakukan, respon pasien  diagnose keperawatan, riwayat alergi, riwayat pembedahan, pemasangan alat infasif dan obat atau infuse

Berilah informasi riwayat medis pasien,atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang ditemukan.untuk pasien perlu dijelaskan riwayat medisnya, perlu dijelaskan atau digaris bawahi riwayat medis yang bermakna. Bila permasalahan di bidang lain misalnya sampel darah atau permasalahan obat maka poin penting dari permasalahan tersebut ditonjolkan

A = Assessment

Pengkajian kondisi pasien terkini (Assesment)

Sebutkan tanda vital, pain score, GCS, status restrain, Resiko jatuh, Status nutrisi, eliminasi hal yang kritis dan lain lain.

Hasil pemerikasaan penunjang yang abnormal Informasi lain yang mendukung

Penilaian terhadap masalah yang di temukan terkait dengan apa yang menjadi masalah pada pasien. Berilah kesan pasien secara klinis serta hal yang terkait dengan hal tersebut. Jelaskan pula tindakan apa yang sudah di berikan kepada pasien untuk mengatasi permasalahan tersebut sambil menunggu rekomendasi yang diterima petugas

R = Recommendation

(11)

 Tindakan apa yang direkomendasikan untuk memperbaiki masalah  Apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi pasien

 Kapan waktu yang di harapkan tindakan ini terjadi

Jelaskan kepada petugas rekomendasi yang diberikan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saran disampaikan dengan jelas, bagaimana cara melaksanakan saran serta tentukan waktu pelaksanaannya serta tindak lanjutnya. Terakhir, rekomendasi yang diberikan, apakah sudah sesuai dengan harapan pada akhir pembicaraan dengan klinisi atau petugas tersebut.

PENGGUNAAN SBAR

SBAR dipergunakan sebagai landasan menyusun komunikasi verbal, tertulis lewat menyusun surat , dari berbagai keadaan perawatan pasien antara lain :

1. Pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. 2. Komunikasi pada kasus urgent dan non urgent.

3. Komunikasi dengan pasien, perorangan atau lewat telepon 4. Keadaan khusus antara dokter dan perawat.

5. Membantu konsultasi antara dokter dengan dokter.

6. Mendiskusikan dengan konsultan professional lain misal terapi respirasi, fisioterapi.

7. Komunikai dengan mitra bestari.

8. Komunikasi pada saat perubahan shift jaga. 9. Meningkatkan perhatian

10. Serah terima dari petugas ambulans kepada staf rumah sakit. III.5. KOMUNIKASI EKSTEREN RUMAH SAKIT

1. RSIA PUTRI menerapkan strategi komunikasi eksternal melalui media dan layana publik

2. Melalui kesepakatan dalam bentuk kerjasama.

3. Pencapaian strategi di titik beratkan pada informasi dalam bentuk promosi yang berfokus pada ketersediaan pelayanan kesehatan.

Tata cara komunikasi eksternal yang diterapkan di RSIA PUTRI Surabaya : 1. Penerimaan tamu secara langsung

2. Bekerja sama dengan pihak ketiga dengan cara membuat Kesepakatan Kerjasama ( MoU )

3. Melakukan surat menyurat

(12)

BAB IV. DOKUMENTASI

1. Komunikasi dengan Masyarakat

 Buku dan CD Profil RSIA PUTRI Surabaya  Kotak saran

 Website, email 1. rsiaputri@gmail.com 2. rs_putri@yahoo.co.id

 Media leaflet, standing banner, spanduk, poster, surat kabar, majalah oleh PKRS & Humas

2. Komunikasi dengan Pasien dan Keluarga

 Humas : Buku pencatatan pertanyaan pasien, Laporan telepon keluar dan masuk.

 Laporan komplain dan hotline

 Rekam medik untuk pemberian informasi  Laporan edukasi kesehatan

 Media leaflet, banner, spanduk, poster oleh PKRS & Humas 3. Komunikasi dengan Internal Rumah Sakit

 Daftar hadir rapat

(13)

 Rekam medis pasien

4. Komunikasi eksternal :

 DokumenTamu

 Dokumen MoU yang telah ditanda tangani

 Dokumen surat keluar dan masuk

Mengetahui: Surabaya, 01 Agustus 2015

Direktur Utama RSIA ”PUTRI” Ketua KPRS

dr.Herminiati HB,MARS dr.Azami Denas,SpOG

tidak terpakai

CONTOH SBAR PESIEN DALAM KEADAAN KRITIS

S Saya nama :……….

Saya menelpon tentang < nama pasien, lokasi > Yang dituju :……… Masalah pasien tentang :………..

B Saya telah melakukan pemeriksaan pasien dan terjadi perubahan status pasien < sebutkan perubahan yang terjadi >

Kesadaran menurun,suhu semula 37C meningkat menjadi 38C, pernafasan semula 24x/mnt menjadi 34x/mnt.obat yang telah diberikan……….

A Masalah yang ditemukan pada pasien dikaitkan dengan apa yang menjadi masalah pada pasien :

Problem kemungkinan karena :……… Sudah di lakukan tindakan apa………

R Saya menganjurkan < apa rekomendasi ……….>

 Kirim ke ruang intensif  Observasi ketat

 Informasikan kepada family tentang keadaan pasien  Informasikan kepada konsultan yang terkait

(14)

Test lain yang diperlukan :

 Thorax photo

 Laboratorium

 Analisis blood gaas Ubah terapi :

 Beri obat……..,cek tanda vital setiap………menit

 Bila pasien tidak ada perubahan dalam waktu…….menit, laporkan lagi.

Konfirmasi

 Petugas < saya sudah jelaskan tindakan kepada pasien adalah…., akan saya laporkan lagi dalam waktu ………….>

PPDS melaporkan keadaan pasien kepada DPJP

Situation : ny.K , dirawat diruang Anggrek semalam suhu tubuh meningkat dan saat ini menggigil.

Background : ny.K, dipasang indwelling catheter dan ada riwayat infeksi kandung kemih. Urine keruh dan berbau busuk. Suhu tampak sudah tinggi sejak MRS dan saat ini suhu 38,5C. kateter diganti 3 minggu yang lalu. Ia telah mendapatkan Tylenol setiap 4 jam sejak tadi malam. Kesadaran tampak menurun. Assessment : saya fikir ia menderita UTI.

Recommendation :order untuk pemeriksaan urine kultur dan sensitivitas tes, dan kemudian mendiskusikan antibiotik yang diperlukan. Anjurkan ny. K untuk minum air putih lebih banyak.

Laporan Petugas Ruang Asoka Kepada Kepala Ruangan

Situation : telah terjadi 2 kali kejadian pasien jatuh dari kursi saat dimandikan. Background : kursi kamar mandi yang digunakan untuk memandikan pasien rusak sehingga pada saat pasien disabuni, meningkatkan resiko tergelincir atau jatuh. Assessment : kursi kamar mandi tidak didesain untuk dipergunakan memandikan pasien, Karena desainnya tidak tepat bentuknya. Petugas menggunakan kursi tersebut untuk memandikan sebelum makan pagi.

(15)

Recommendation : saya merekomendasikan untuk memasang pengaman pada kursi tersebut serta ingatkan pada petugas yang lain.

Laporan Petugas Laboratorium Ke Perawat Ruang Dahlia

Situation : assalamu’alaikum, saya Ahad dari Instalasi Patologi Klinik. Specimen darah pasien Ny.A , RKM no : 77890 beku.

Background : permintaan laboratorium dari Dokter Ahmat atas pasien Ny, A adalah

pemeriksaan darah lengkap. Specimen diterima dalam keadaan beku. Sehingga pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan.

Assessment : specimen darah dimasukkan dalam tabung bertutup merah, tidak berantikoagulan K3EDTA. Hal ini menyebabkan darah beku.

Recommendation : ( Petugas Instalasi Patologi Klinik ) Minta specimen darah ulang. Gunakan tabung bertutup ungu, isi 3 ml,kocok 8 kali, kirim dengan pneumatic tube. Laporan Petugas Apotik Ke Dokter

Situation : assalamu’alaikum, Saya Ramadani dari Apotik Barokah. Perlu konfirmasi kepada dr. Lailatul Qodr tentang penulisan obat.

Background : Saya menerima resep dari dr. Lailatul Qodr, tiga R/ salah satunya tidak bisa dibaca dengan jelas.

Assessment : obat yang ditulis tidak jelas, bisa bermacam-macam nama obat,bila tidak tepat dapat membahayakan pasien.

Recommendation : (dr. Lailatul Qodr ) Obat yang saya maksudkan adalah chloramphenicol tetes telinga, berikan tiga kali sehari, masing – masing satu tetes telinga kiri dan kanan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :