• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Pada Agregat Smp Di Komunitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Pada Agregat Smp Di Komunitas"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENDOKUME

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN NTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGATKEPERAWATAN PADA AGREGAT REMAJA (SMP) DI KOMUNITAS

REMAJA (SMP) DI KOMUNITAS

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dokumentasi Proses Keperawatan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dokumentasi Proses Keperawatan

oleh: oleh: Iman

Iman Firmansyah Firmansyah 082310101065082310101065

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER 

UNIVERSITAS JEMBER 

2013

2013

(2)

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT REMAJA (SMP) DI KOMUNITAS

1. Konsep Remaja 1.1 Pengertian Remaja

Remaja adalah suatu periode dengan permulaan dan masa perlangsungan yang beragam, yang menandai berakhirnya masa diletakkannya dasar 

 – 

dasar  menuju taraf kematangan. Perkembangan tersebut meliputi dimensi biologik,  psikologik dan sosiologik yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Secara biologik ditandai dengan percepatan pertumbuhan tulang, secara  psikologik ditandai dengan akhir perkembangan kognitif dan pemantapan  perkembangan kepribadian. Secara sosiologik ditandai intensifnya persiapan dalam menyongsong peranannya kelak sebagai seorang dewasa muda (Suhadianto, 2006).

1.2 Tahap Perkembangan Remaja

Menurut Widyastuti (2009) masa remaja dibagi menjadi tiga tahap yaitu: a. Masa remaja awal (10-12 tahun)

1) Cenderung tampak dan memang dekat dengan teman sebaya 2) Tampak dan merasa ingin lebih bebas

3) Cenderung lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai  berfikir yang khayal (abstrak)

 b. Masa remaja tengah (13-15 tahun)

1) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri

(3)

3) Tumbuh perasaan cinta yang mendalam

4) Kemampuan untuk berfikir abstrak (berkhayal) semakin berkembang 5) Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual

c. Masa remaja akhir (16-19 tahun)

1) Merupakan pengaruh kebebasan diri

2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif 

3) Memiliki gambaran, keadaan, peran terhadap dirinya 4) Dapat mewujudkan perasaan cinta

5) Memiliki kemampuan berfikir yang khayal atau abstrak  1.3 Tugas Perkembangan Remaja

Masa remaja merupakan suat periode transisi antara masa kanak-kanak  dan masa dewasa. Masa remaja ini merupakan waktu kematangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang cepat pada anak laki-laki untuk mempersiapkan diri menjadi laki-laki dewasa dan pada anak perempuan untuk memepersiapkan diri menjadi wanita dewasa. Dikatakan remaja apabila seorang anak telah tampak  tanda-tanda seks sekunder pada usia 11 sampai 12 tahun dan berhenti saat usia 18 sampai 20 tahun (Wong, 2009).

a. Perkembangan biologis;

 perubahan fisik pada pubertas terutama merupakan hasil aktivitas hormonal di  bawah pengaruh sistem saraf pusat, walaupun semua aspek fungsi fisiologis  berinteraksi secara bersama-sama. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak pada  pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder; perubahan yang tidak tampak jelas adalah perubahan

(4)

fisiologis dan kematangan neurogonad yang disertai dengan kemampuan untuk   bereproduksi. Fenomena yang dikaitkan dengan kematangan seksual adalah  peningkatan pertumbuhan yang dramatis sekitar 20% sampai 25% tinggi badan akhir dicapai selama pubertas, dan kebanyakan pertumbuhan ini terjadi selama  periode 24 sampai 36 bulan.

 b. Perkembangan psikososial (Erikson);

 pada masa remaja, individu mulai melihat dirinya sebagai individu yang  berbeda, unik dan terpisah dari setiap individu yang lain. Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas dan berkembangnya stabilitas emosional dan fisik  yang relatif pada saat atau ketika lulus sekolah menengah. Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok semakin kuat. Remaja menganggap  bahwa memiliki kelompok adalah hal yang penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok dapat memberi mereka status. Individu yang mencari identitas merupakan bagian dari proses identifikasi yang sedang berlangsung. Pada saat anak menentukan identitas, dalam kelompok, mereka juga mencoba untuk menggabungkan berbagai perubahan tubuh kedalam suatu konsep diri.

c. Perkembangan kognitif;

 perkembangan ini merupakan tahap Piaget ke empat dan terakhir. Remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode  berpikir konkret, mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan

terjadi. Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih dari dua kategori variabel dalam waktu yang bersamaan.

(5)

2. Konsep Merokok  2.1 Pengertian Rokok 

Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan (Organisasi, 2007). Rokok (tembakau) termasuk bahan atau zat adiktif sifatnya yaitu menimbulkan ketagihan dan kecanduan (Hawari, 2004). Perilaku merokok adalah aktivitas seseorang yang merupakan respons orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat diamati secara langsung.

2.2. Kandungan Rokok 

Asap akan muncul setiap kali bahan organik, seperti kayu atau daun terbakar dengan tidak sempurna. Begitu pula rokok yang terbakar pasti juga akan mengeluarkan asap. Asap utama adalah asap rokok yang terhisap langsung masuk  ke paru-paru perokok lalu dihembuskan kembali. Asap sampingan adalah asap rokok yang dihasilkan oleh ujung rokok yang terbakar.

Setiap batang rokok mengandung lebih dari 4000 jenis bahan kimia, 400 diantaranya beracun dan kira-kira 40 diantaranya bisa menyebabkan kanker, diantaranya:

1.  Nikotin, adalah salah satu obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, nikotin membuat pemakainya kecanduan. Nikotin merangsang otak supaya si perokok merasa cerdas pada awalnya, kemudian ia melemahkan kecerdasan otak.

2. Tar, adalah cairan dan partikel-partikel kecil yang berasal dari asap rokok  yang lengket bersama membentuk bahan yang berwarna hitam kecoklat-coklatan dan bau. Tar mengandung bahan kimia yang beracun, dapat merusak   paru-paru dan menyebabkan kanker.

3. Karbon monoksida (CO), mempunyai daya gabung atau afinitas dengan hemoglobin 220 kali lebih besar dari oksigen. Akibatnya, setiap gas CO di udara dengan cepat diambil oleh hemoglobin darah, sehingga jumlah hemoglobin yang tersedia untuk membawa oksigen pemberi hidup itu ke seluruh sistem jadi berkurang.

(6)

5. Benzopyrene, adalah bahan atau substansi yang terdapat di dalam tar dan mengendap di saluran udara: mulut, pangkal tenggorokan, cabang tenggorokan dan paru-paru, serta masih banyak lagi bahan kimia yang  beracun berada pada sebatang rokok.

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok 

1. Pengaruh orang lain, terutama orang tua dan orang lain yang dikagumi seperti orang yang berada di iklan rokok. Meskipun anak-anak menyadari bahaya merokok, pengaruh orang tua perokok sangat kuat.

2. Tekanan kelompok sebaya, supaya diterima di dalam kelompok, anak-anak   belasan tahun sering merokok karena teman-temannya juga merokok.

3. Keinginan untuk menyesuaikan diri, kebanyakan orang tidak suka berbeda dari orang lain, terutama pada orang muda.

4. Kedewasaan, merokok dianggap sebagai kebiasaan orang dewasa, jadi anak-anak belasan tahun mencoba membuktikan kedewasaan dan kebebasan mereka dengan merokok.

5. Keinginan untuk mencoba, orang muda belasan tahun ingin mencoba sendiri, ingin bergembira dan melakukan sesuatu yang lain ( Hardinge dan Shryock, 2001).

2.4 Tipe Perokok 

1) Perokok sangat berat, dia mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi.

2) Perokok berat, merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30 menit.

3) Perokok sedang, menghabiskan rokok 11-21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bagun pagi.

4) Perokok ringan, menghabiskan rokok sekitar10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.

2.5 Bahaya Merokok 

Terpapar asap rokok selama 8 jam sebanding dengan merokok langsung sebanyak 20 batang perhari. Konsekuensi dari merokok antara lain meningkatnya kejadian infeksi saluran nafas bagian atas, batuk, asma, sinusitis, penyakit

(7)

kardiovaskular, kanker, mengganggu fertilitas, lahir kurang bulan, kematian maupun absen dari kerja atau sekolah. Anak atau kaum muda yang merokok,  pertumbuha dan perkembangan parunya segera akan terpengaruh oleh asap rokok 

tersebut.

Efek dari rokok atau tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi  psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah  pengaruhnya, maka ketergantungan kepada rokok tidak begitu dianggap gawat.

Perokok pasif dapat meningkatkan resiko penyakit kanker, paru-paru dan  jantung koroner. Lebih dari itu menghisap asap rokok orang lain dapat memperburuk kondisi pengidap penyakit: angina, asma dan alergi akibat asap rokok.

(8)

3. Asuhan Keperawatan Pada Agregat Remaja di Komunitas 3.1. Pengkajian

Inti Komunitas a. Sejarah

Terdapat 137 warga yang berusia antara 13-18 tahun di Desa Pondokrejo. Hasil distribusi remaja berdasarkan kebiasaan merokok didapatkan bahwa sebagian besar remaja tidak memiliki kebiasaan merokok, yaitu sebanyak  83 orang (60,58%) dan remaja sebanyak54 orang(39,42%) memiliki kebiasaan merokok. Hasil distribusi remaja berdasarkan alasan remaja tidak merokok didapatkan bahwa untuk menjaga kesehatan, yaitu sebanyak 57 orang (68,67%), karena dimarahi orang tua sebanyak 15 orang (18,07%), karena pemborosan sebanyak 1 orang (1,20%) dan karena lain-lain 10 orang (12,05%).

b. Demografi

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan, terdapat 504 KK yang dikaji yang terdiri dari1697 penduduk. Perbandingan  sex ratiodari jumlah  penduduk yang dilakukan pengkajian. Sebagian besar penduduk berjenis

kelamin perempuan sebanyak 825 orang (48.62%) dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 872 orang (51.38%). Hal ini menggambarkan pertumbuhan  penduduk perempuan lebih tinggi. komposisi jumlah penduduk berdasar 

rentang usia dari 1697 penduduk yang dilakukan pengkajian. Sebagian  besar penduduk yang dikaji terdiri dari kelompok usia dewasa sebanyak 

931 penduduk (54.9%) dan sebagian kecil terdiri dari kelompok bayi,  batita, balita sejumlah 164 penduduk (9.7%). Data tersebut menjelaskan

kelompok usia produktif menempati urutan jumlah tertinggi sehingga angka ketergantungan semakin kecil.

c. Etnisitas

(9)

d. Nilai dan Keyankinan

Penduduk di desa Pondokrejo mayoritas beragama Islam. Banyak   berdiri masjid dan musholla di sekitar perumahan warga.

Subsistem Komunitas a. Lingkungan

Sebagian besar rumah penduduk telah memenuhi persyaratan lantai rumah sehat dengan lantai berupa ubin atau semen yang kedap air dan mudah dibersihkan. Mayoritas penduduk yang dilakukan pengkajian mengatakan nyamuk sebagai vektor penyakit terbesar sebanyak 392 rumah (77.93%) dan sebagian kecil diakibatkan oleh kecoa sebanyak 16 rumah (2.98%). Kondisi ini mendukung fakta di lapangan bahwa Desa Pondokrejo dengan insiden penyakit Demam Berdarah tergolong tinggi akibat vektor penyakit berupa nyamuk.

b. Pelayanan Kesehatan dan Sosial

` Distribusi kebiasaan keluarga untuk minta tolong bila sakit ke Puskesmas sebanyak 261warga (42,86%). Kebiasaan keluarga untuk  minta tolong bila sakit ke dokter praktik sebanyak 64warga (12,70%). Kebiasaan keluarga untuk minta tolong bila sakit ke perawat sebanyak  101warga (20,01%). Kebiasaan keluarga untuk minta tolong bila sakit ke  bidan sebanyak 107 warga (21,23%). Kebiasaan keluarga untuk minta

tolong bila sakit ke ke fasilitas lain sebanyak 9 warga (1,79%). c. Ekonomi

Sebagian besar mata pencaharian penduduk yaitu buruh tani sebanyak 807 orang dan karyawan sebesar 654 orang.

d. Transportasi dan Keamanan

Transportasi di Desa Pondokrejo mayoritas menggunakan kendaraan roda dua. Sebagian penduduk juga ada yang menggunakan kendaraan roda empat dalam melakukan mobilisasi, dan ada juga yang hanya berjalan kaki dalam mengakses pelayanan kesehatan.

(10)

e. Politik dan Pemerintahan

f. Untuk meminimalkan terjadinya peningkatan Jumlah Perokok remaja di Kecamatan Tempurejo banyak dilakanakan program pendidikan kesehatan mengenai bahaya dari merokok.

g. Komunikasi

Desa Pondokrejo tidak memiliki telepon umum, karena masyarakat sebagian besar menggunakan ponsel untuk saling berkomunikasi antar  masyarkat.

h. Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Pondokrejo sebagian besar adalah yang sedang sekolah yaitu sejumlah 530 orang (76,3 %). Sedangkan  penduduk yang belum TK sebesar 26 orang, penduduk TK 96 orang dan

tamat S-1 43 orang. i. Rekreasi

Desa Pondokrejo tidak memiliki tempat rekreasi atau fasilitas rekreasi. Masyarakat pondokrejo biasanya pergi ke pantai, atau ke taman hiburan lain yang letaknya berada di Kecamatan lain.

3.2. Diagnosa

Ketidakefektifan koping komunitas pada kelompok remaja di Dusun Sumberejo, Desa Pondokrejo Kecamatan Tempurejo dalam mengatasi masalah remaja berhubungan dengan kurangnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan remaja serta kurangnya keterampilan remaja dalam meningkatkan kualtas kesehatan.

(11)

3.3. Intervensi No Diagnosa Keperawatan Tgl Pem buat an Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Nama dan tanda tangan 1 Ketidakefektifan koping komunitas  pada kelompok  remaja di Dusun Sumberejo, Desa Pondokrejo Kecamatan Tempurejo dalam mengatasi masalah remaja  berhubungan dengan kurangnya  pengetahuan remaja mengenai kesehatan remaja serta kurangnya keterampilan remaja dalam meningkatkan kualitas kesehatan. 16 Juli 2013 Tujuan: Menurunka n Perilaku merokok di kalangan remaja (smp) Kriteria hasil: Minimal 80%  peserta hadir, serta mampu menjelaska n kembali  bahaya merokok  1. Memberikan informasi mengenai  penyakit,  berhubungan dengan Perilaku Merokok  2. Mengajarkan  pantangan terhadap  perilaku merokok,  bila sudah aktif  merokok  ajarkan cara untuk   berhenti menjadi  perokok aktif  3. Memberikan informasi akurat tentang konsekuensi

(12)

 perilaku merokok  4. Memberi  penjelasan tentang  bahaya kandungan zat dalam rokok  5. Memberikan informasi kepada orang tua atau wali  perilaku anak  mereka yang rentan melakukan  perilaku merokok  3.4. Implementasi

Komponen implementasi dalam proses keperawatan mencakup penerapan keterampilan yang diperlukan untuk mengimplementasikan intervensi keperawatan yang telah dibuat. Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang telah dibuat.

(13)

3.5. Evaluasi Kriteria :

Minimal 80% peserta hadir, serta mampu menjelaskan kembali bahaya merokok 

Standart :

1. SURAT KEPUTUSAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROPINSI JAWA TIMUR Nomor : 973 /101.1 / 2010

2. Minimal 70% Kabupaten/Kota Melaksanakan pelayanan kesehatan peduli remaja sesuai standar UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang di dalamnya mengatur Kawasan Tanpa Rokok 

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, E.T. & Mc. Farlane, J.M. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas : Teori dan Praktek. Jakarta: EGC.

Ahsan,

Abdillah. 2006. “Warta Demografi”, Profil Perokok dan Pengendalian

Rokok di Indonesia, Tahun 36 No 3 2006

Potter & Perry. 2005.  Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4.Volume 2 . Jakarta: EGC.

Wordpress. 2010.  Dampak Buruk Merokok pada Tubuh Kita. [Online http://innerpower.wordpress.com/2008/03/10/dampak-buruk-merokok-bagi-tubuh-kita.diakses pada tanggal 14 Juli 2013]

Dwitagama,D. 2011.  Kandungan Rokok 

[Online.http://dedidwitagama.wordpress.com2007/12/01/kandungan-rokok  diakses pada tanggal 14 Juli 2013]

Organisasi WHO .2011.  Rokok Bisa Membunuh Jantung Bagi Perokok Aktif dan  Pasif Dengan Berbagi Racun Berbahaya [online http://organisasi.org/rokok-

(15)

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

 NAMA KK : ____________________________________  ALAMAT : _______________________No___________ 

RT____________RW______KEL__________ 

PETUNJUK PENGISIAN

1. Isilah label komposisi keluarga dengan benar 

2.

 pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda ( √ )

3. Jawaban dapat lebih dari satu untuk pertanyaan menulis.

4. mengisi titik-titik sesuai pertanyaan.

A. Komposisi Keluarga  No .  Nama Hubungan dengan KK  Umur L/P Tingkat  pendidikan

Pekerjaan Agama Ket.

1. Anggota keluarga yang meninggal 5 bulan terakhir ________________  2. Penyebab kematian _________________________________________  3. Umur ____________________________________________________ 

B. Bila dalam Keluarga Terdapat Anak Remaja (12-18 Tahun) 1. Apakah anak remaja sekolah ?

( ) Ya ( ) Tidak 

2. Kegiatan yang dilakukan remaja di luar jam sekolah  _____________________ 

3. Apa yang dilakukan remaja jika ada masalah  ___________________________ 

(16)

4. Bagaimana kondisi remaja saat ini :

( ) Sehat ( ) Sakit

5. Bila sakit, apa yang dikeluhkan/diagnosis medisnya  _____________________ 

(17)

Soal Kasus 1

Desa Pondokrejo sebagian besar warganya merupakan petani, buruh dan karyawan. Penduduk usia produktif merupakan yang paling besar jumlahnya dibanding penduduk lansia dan anak-anak. Sebagian penduduk remaja memiliki  perilaku merokok. Remaja tersebut mengatakan bahwa merokok bisa

meningkatkan kejantanannya, bahkan ada yang sekedar meniru orang dewas a saja. 1. Apa keuntungan dari besarnya penduduk usia produktif 

a. Beban tanggungan berat

 b. Tingginya kesadaran akan lingkungan sehat c. Beban tanggungan menjadi ringan

d. Gaya hidup ,meningkat e. Kesejahteraan meningkat

2. Apa diagnose keperawatan yang paling cocok untuk kasus diatas a. Mekanisme koping tidak efektif 

b. Inefektif koping komunitas c. Gangguan pertukaran gas d. A dan B benar 

e. A,B dan C benar 

3. Apa intervensi yang bisa dilakukan perawat di komunitas untuk mengatasi masalah diatas

a. Melarang iklan rokok di media

 b. Memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok 

c. Memberikan informasi pada orang tua/wali bahwa terdapat peningkatan  perilaku merokok remaja

d. A dan B benar  e. B dan C benar

4. Yang merupakan factor-faktor yang mendukung remaja merokok kecuali a. Pengaruh orang yang dikagumi dalam iklan rokok 

 b. Untuk menyesuaikan diri c. Tekanan kelompok sebaya

(18)

d. Keinginan untuk mencoba e. Memiliki banyak uang jajan

5. Efek rokok yang sangat mempengaruhi kondisi remaja sebagai pelajar adalah a. Terlihat dewasa

 b. Gigi menjadi kuning c. Punya banyak teman

d. Menstimulasi depresi ringan

e. Merusak kemampuan kognitif dan psikomotorik  6. Apa peran perawat dalam kasus diatas

a. Case finder   b. Advokat

c. Educator d. Care giver  e. kuratif 

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data yang ditemukan pada pasien maka diagnosa keperawatan yang diangkat adalah: ketidakefektifan jalan nafas, diagnosa ini penulis angkat sebagai diagnosa primer karena

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan masalah ketidakefektifan pola napas pada bayi dapat teratasi dengan kriteria hasil:. Bayi sudah

Evaluasi dari intervensi keperawatan komunitas yang telah dilakukan untuk mengatasi diagnosis keperawatan risiko koping tidak efektif pada kelompok swabantu lansia dengan DM, adalah

Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC & kriteria hasil NOC. Buku Ajar Keperawatan Maternitas

Ketidakefektifan manajemen kesehatan.. Warga terlihat masih bingung saat petugas memberikan penyeluhan tentang hipertensi 2.. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT /

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 4 Kurang pengetahuan berhubungan. dengan kurang informasi

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN NAMA PASIEN :Ny.M UMUR : 41 tahun NO.REGISTER : - 3.6 Tabel Diagnosa Keperawatan Keluarga Tn.S No TGL MUNCUL DIAGNOSA KEPERAWATAN TGL TERATASI

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dalam pemenuhan rasa aman nyaman masalah keperawatan diagnosa ketidakefektifan manajemen