• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 4 Nomer 2 Desember 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 4 Nomer 2 Desember 2017"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

IMPLIKASI PENGGUNAAN DANA DESA TERHADAP KETAHANAN SOSIAL, EKONOMI, DAN EKOLOGI DESA TERTINGGAL

DI KABUPATEN KARANGANYAR Riyanto., Junaedi

Politeknik Indonusa Surakarta

[email protected] ,. [email protected] ABSTRAK

Untuk mendukung pembangunan di desa, pemerintah telah menyalurkan dana desa kepada pemerintahan desa. Dana desa tersebut telah disalurkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Setelah disalurkan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) bertugas mengawal prioritas penggunaan dana desa agar sesuai dengan Peraturan Menteri yang telah ditetapkan. Penggunaan dana desa untuk pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat desa, sehingga ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi masyarakat desa semakin baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan dana desa dan pengaruhnya terhadap ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi desa tertinggal di Kabupaten Karanganyar.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah desa-desa tertinggal di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sumber data berasal dari data primer dan sekunder dan metode analisis data mennggunakan analisis kualitatif dan paired samples t-test.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan dana desa di desa-desa tertinggal sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku dengan prioritas pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa penggunaan dana desa berimplikasi positif terhadap ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi desa. Kesepuluh desa tertinggal di Kabupaten Karanganyar saat ini statusnya sudah meningkat menjadi desa berkembang.

Kata kunci: penggunaan dana desa, ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, ketahanan ekologi I. PENDAHULUAN

Paradigma pembangunan nasional telah mengalami perubahan radikal sejak lahirnya Undang-undang Nomor 6/2014 tentang Desa, kemudian diikuti komitmen penuh Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk menjadikan desa sebagai bagian utama dalam sembilan program prioritas pemerintah (Nawacita). Oleh karena itu dalam kabinet kerja dibentuk kementeria khusus yang menangani masalah desa yaitu Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Menteri Desa, PDT, dan

Transmigrasi Marwan Jafar menegaskan

membangun Indonesia dari pinggiran, daerah terpencil, dan desa-desa sudah menjadi komitmen kerja pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla yang tertuang dalam nawacita ketiga. Kementerian Desa pun menjalankan tugas ini dengan kerja keras, karena saat ini desa dijadikan fokus utama untuk pembangunan nasional. Menurut Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Marwan Jafar membangun Indonesia dari desa sangat tepat karena jumlah penduduk Indonesia lebih banyak bertempat tinggal di desa. Kemudian potensi-potensi

sumber daya alam di desa masih belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Berdasarkan data BPS tahun 2015 dari 74.093 jumlah desa di seluruh Indonesia, terdapat 27,23 persen berkategori desa tertinggal, 68,85 persen desa berkembang, dan hanya 3,91% desa maju. Problemnya lagi, pembangunan antara Indonesai Timur dan Indonesia Barat, khususnya Jawa terjadi ketimpangan. Persoalan kemiskinan di

perdesaan menjadi penyebab utama

perpindahan penduduk dari desa ke kota. Untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi di desa pemerintah meluncurkan program Indeks Desa Membangun (IDM). Penerapan Indeks Desa Membangun (IDM)

untuk memberikan perspektif yang

komperhensif dalam mengatasi persoalan yang muncul di pedesaan. Dengan begitu, hal

ini dapat dijadikan rujukan dalam

menjalankan program pembangunan nasional yang dimulai dari desa.

IDM ini bertujuan memperkuat

pencapaian kinerja pemerintah, utamanya terkait pembangunan desa dan kawasan

(2)

2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dengan

merujuk IDM, upaya mengentaskan desa tertinggal dan meningkatkan jumlah desa mandiri semakin terarah dan terencana. IDM meletakkan prakarsa dan penguatan kapasitas masyarakat sebagai basis utama dalam proses kemajuan dan pemberdayaan desa. Indeks desa tersebut, mengedepankan pendekatan yang bertumpu kepada kekuatan sosial, ekonomi dan ekologi, tanpa melupakan kekuatan politik, budaya, sejarah, dan kearifan lokal.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah

Tertinggal, dan Transmigrasi juga

meluncurkan tiga program untuk

meminimalisasi angka urbanisasi yang diperkirakan naik di kisaran 65 persen pada 2015. Program unggulan ini akan dijadikan acuan utama dalam merumuskan kegiatan-kegiatan prioritas setiap tahun. Program unggulan akan menghasilkan dampak terukur bagi peningkatan kemajuan dan kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat desa. Adapun program yang dijadikan andalan atasi kemiskinan, yaitu Jaring Komunitas Wiradesa (JKWD), Lumbung Ekonomi Desa (LED), dan Lingkar Budaya Desa (LBD).

Program Jaring Komunitas Wiradesa, diarahkan untuk mengutamakan penguatan kapabilitas manusia sebagai inti pembangunan desa. Dengan demikian, mereka menjadi subjek berdaulat atas pilihan-pilihan yang

diambil. Sementara Program Lumbung

Ekonomi Desa didesain untuk mendorong muncul dan berkembangnya geliat ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemilik dan partisipan gerakan ekonomi di desa. Sedangkan Lingkar Budaya Desa sebagai

program yang bertujuan untuk

mempromosikan pembangunan yang

meletakkan partisipasi warga dan komunitas sebagai akar gerakan sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain,

Program Unggulan tersebut, menurut Marwan, dikembangkan dengan kerangka kerja yang didasarkan pada penegasan atas lokus pencapaian sasaran pembangunan Desa. Penegasan lokus dimaksudkan adalah pada 15.000 Desa yang ditetapkan berdasar Indeks Desa Membangun. Di dalam lokus 15.000 Desa itu terdapat 1.138 Desa perbatasan, dan kesemuanya ditujukan mencapai target sesuai sasaran dalam RPJMN 2015-2019.

Untuk mendukung pembangunan di desa, pemerintah telah menyalurkan dana desa kepada pemerintahan desa. Dana desa tersebut telah disalurkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Setelah disalurkan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) bertugas mengawal prioritas penggunaan dana desa agar sesuai dengan Peraturan Menteri yang telah ditetapkan. Berdasarkan Peraturan

Menteri Desa, Pembangunan Daerah

Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa, dana desa di tahun

2016 ini digunakan untuk membiayai

pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Penggunaan dana desa untuk

pembangunan desa dan pemberdayaan

masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat desa, sehingga ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi masyarakat desa semakin baik. Namun beberapa penelitian menyimpulkan bahwa alokasi dana desa berjalan kurang optimal, hal ini berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan oleh Putra, Pratiwi dan Suwondo (2013). Penelitian Azwardi dan

Sukanto (2014) menemukan bahwa

penyaluran alokasi dana desa belum sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak mampu mengurangi kemiskinan. Penelitian Darmiasih, Sulindawati, Darmawan (2015) menyimpulkan bahwa alokasi dana desa yang bertahap menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaan program dan faktor penghambat dalam pelaksanaan alokasi dana desa adalah lemahnya sumber daya manusia dan peran partisipasi masyarakat dalam mengawasi dana desa.

Pada saat ini sumber dana, penyaluran dan prioritas penggunaan desa, serta pengawasan telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah pusat, sehingga potensi untuk

penyalahgunaan dana desa dapat

diminimalisir sekecil mungkin. Pada

penelitian ini fokus penelitian adalah pada pemanfaatan dana desa di desa tertinggal yang memiliki potensi desa, namun kurang maksimal dalam pengelolaannya sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa yang kurang baik. Desa tertinggal yang menjadi obyek penelitian ini adalah yang berada di Kabupaten Karanganyar, yaitu:

(3)

3 Tabel 1. Data Desa Tertinggal

No Desa IDM Kategori

1 Sukosari 0,4747 Sangat Tertinggal 2 Karangturi 0,4625 Sangat Tertinggal 3 Karangsari 0,5979 Tertinggal 4 Kaliboto 0,5969 Tertinggal 5 Bandardawung 0,5951 Tertinggal 6 Wonolopo 0,5949 Tertinggal 7 Paseban 0,5931 Tertinggal 8 Karangmojo 0,5930 Tertinggal 9 Jatikuwung 0,5897 Tertinggal 10 Plesungan 0,5856 Tertinggal

Kesepuluh desa tersebut masuk kategori desa sangat tertinggal dan tertinggal, berdasarkan nilai IDM pada tahun 2015 yang

dikeluarkan oleh Kementerian Desa,

Pembangunan Daerah Tertinggal, dan

Transmigrasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang penggunaan dana desa yang dialokasikan secara optimal untuk pembangunan sosial, ekonomi dan ekologi masyarakat desa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah penggunaan dana desa sesuai dengan prioritas penggunaan dana desa tertinggal?

2. Apakah penggunaan dana desa di desa tertinggal dapat meningkatkan ketahanan sosial masyarakat desa tertinggal?

3. Apakah penggunaan dana desa di desa tertinggal dapat meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat desa tertinggal? 4. Apakah penggunaan dana desa di desa

tertinggal dapat meningkatkan ketahanan ekologi desa tertinggal?

II. KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Penelitian tentang penggunaan dana desa telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu Putra, Pratiwi dan Suwondo (2013), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian

dari dana ADD untuk pemberdayaan

masyarakat digunakan untuk biaya

operasional pemerintah desa dan BPD sehingga penggunaan ADD tidak sesuai dengan peruntukannya. Faktor pendukung dalam pengelolaan ADD adalah partisipasi masyarakat. Faktor penghambat, kualitas

sumber daya manusia dan kurangnya

pengawasan langsung oleh masyarakat. Penelitian Azwardi dan Sukanto (2014) menemukan beberapa hal yang berkaitan

dengan permasalahan dalam penelitian ini yaitu: penyaluran dana ADD belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bila dilihat dari jumlah yang disalurkan hingga tahun 2012 belum satu pun yang memenuhi ketentuan yang berlaku (minimal 10% dari dana bagi hasil ditambah pajak dikurangi belanja pegawai). Namun, daerah yang telah melakukan penyaluran ADD menunjukkan peningkatkan, bila tahun 2006 sebesar 35,71%, meningkat menjadi 90% ditahun 2012. Alasan yang mengemuka, peraturan tersebut tidak memberikan sanksi terhadap daerah yang tidak menyalurkan ADD. Bila suatu daerah merasa belum mampu untuk menganggarkan ADD pemerintah provinsi maupun pusat tidak bisa melakukan tindakan (sanksi). Hasil regresi sederhana menunjukkan adanya pengaruh yang negatif antara ADD terhadap tingkat kemiskinan, demkian juga hasil simulasi ADD minal 10% terhadap

terhadap kemiskinan pun menunjukkan

hubungan yang negatif.

Penelitian Darmiasih, Sulindawati,

Darmawan (2015) menunjukkan bahwa

mekanisme penyaluran Alokasi dana Desa (ADD) dalam APBDesa dilakukan secara bertahap yaitu tahap I, II, III, dan IV. Namun terdapat keterlambatan pencapaian program yang direncanakan oleh desa karena dalam

pencairan Alokasi Dana Desa (ADD)

dilakukan secara bertahap dan faktor penghambat lemahnya pelaksanaan Alokasi dana Desa (ADD) karena kualitas sumber daya manusia dan peran masyarakat serta pengawasaan pengelolaan Alokasi dana Desa

(ADD) dilakukan oleh Badan

Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai

pengawas controling. Artinya untuk

menampung dan menyalurkan aspirasi

masyarakat desa. Pengawasan Badan

Permusyawaratan Desa (BPD) terhadap

pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) telah dilaksanankan semaksimal mungkin sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang di tandai dengan pembangunan infrastuktur desa Tri Eka Buana yang bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Tri Eka Buana.

Ahmad (2010) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat beda porsi realisasi belanja pembangunan bidang kesehatan di APBD kota/kabupaten di Sumatera Barat antara sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal. Terdapat peningkatan

(4)

4 porsi belanja pembangunan dalam realisasi APBD Kabupaten/Kota di Sumatera Barat setelah diterapkannya desentralisasi fiskal dan desentralisasi bidang kesehatan pada tahun 2001 dan hanya variabel PDRB yang secara statistis berpengaruh negatif secara signifikan terhadap angka kematian bayi. Sedangkan variabel desentralisasi fiskal bidang kesehatan dan jumlah tenaga medis secara statistis tidak berpengaruh signifikan terhadap angka kematian bayi.

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi dana desa berjalan kurang optimal, penyaluran alokasi dana desa belum sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak mampu mengurangi kemiskinan, alokasi dana desa yang bertahap menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaan program dan faktor penghambat dalam pelaksanaan alokasi dana desa adalah lemahnya sumber

daya manusia dan peran partisipasi

masyarakat dalam mengawasi dana desa. Perbedaan penelitian ini dengan ketiga penelitian di atas adalah pada pemerintahan yang berbeda, sehingga dasar hukum,

mekanisme, prosedur penyaluran dan

penggunaan juga berbeda. Kemudian pada penelitian ini metode dan variabel yang diteliti juga berbeda sehingga dapat lebih terperinci dalam menemukan permasalahan yang terjadi dalam penggunaan dana desa serta implikasi terhadap pembangunan desa, baik dari segi sosial, ekonomi maupun ekologi desa.

Indeks Desa Membangun

Indeks Desa Membangun (IDM)

merupakan ukuran untuk tingkat

perkembangan desa yang dikembangkan oleh Ditjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. IDM dikembangkan dalam kaitan penajaman fokus dan lokus dalam pengembangan program prioritas (program unggulan dan kegiatan prioritas) yang berdasarkan 3 pendekatan yang disebut sebagai pilar Desa Membangun Indonesia, yaitu:

1. Jaring Komunitas Wiradesa, untuk memperkuat kualitas manusia dengan memperbanyak kesempatan dan pilihan dalam upaya penduduk desa menegakkan hak dan martabatnya, serta peningkatan memajukan kesejahteraan mereka, baik

sebagai individu, keluarga, maupun kolektivitas warga desa.

2. Lumbung Ekonomi Desa, potensi sumber daya di desa bias dikonversi menjadi ekonomi yang di dalamnya melibatkan adanya modal, organisasi ekonomi, ada nilai tambah yang mensejahterakan secara ekonomi.

3. Lingkar Budaya Desa, gerakan

pembangunan desa haruslah dilakukan secara kolektivisme, di dalamnya terdapat

kebersamaan, persaudaraan, dan

kesadaran mau melakukan perubahan melampaui panggilan pribadi.

Sebagai basis data, IDM disusun dengan menggunakan data Podes tahun 2015 yang terdiri dari 3 (tiga) dimensi yaitu: 1) sosial, 2) ekonomi, dan 3) ekologi/budaya. Ketiga dimensi terdiri dari variabel, dan setiap variable diturunkan menjadi indikator operasional. Jumlah variabel dalam IDM sebanyak 22 variabel dan indikator sebanyak 52 indikator. IDM mengklasifikasi Desa dalam lima (5) status, yakni:

1.

Desa Sangat Tertinggal (nilai IDM < 0,491),

2.

Desa Tertinggal (nilai 0,491< IDM < 0,599),

3.

Desa Berkembang (nilai 0,599 < IDM < 0,707),

4.

Desa Maju (nilai 0,707 < IDM < 0,815), dan

5.

Desa Mandiri (nilai IDM > 0,815).

Berdasarkan tinjauan atas aturan hukum di atas penggunaan dana desa sudah diatur sedemikian rupa untuk meningkatkan

pembangunan desa dan pemberdayaan

masyarakat, namun penggunaan dana

memerlukan pengawasan baik dari BPD maupun warga desa, sehingga penggunaannya dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh

warga desa, baik dari segi social

kemasyarakatan, kesejahteraan ekonomi, maupun perbaikan ekologi atau lingkungan desa.

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 = Penggunaan dana desa berpengaruh terhadap ketahanan sosial masyarakat desa tertinggal

(5)

5 H2 = Penggunaan dana desa berpengaruh

terhadap ketahanan ekonomi masyarakat desa tertinggal

H3 = Penggunaan dana desa berpengaruh

terhadap ketahanan ekologi desa

tertinggal

III. METODE PENELITIAN

Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah

desa-desa tertinggal di Kabupaten

Karanganyar. Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Sugiyono, 2009). Sampling adalah cara yang digunakan dalam mengumpulkan sampel penelitian. Sampling dalam penelitian ini dengan menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kritera yaitu desa-desa di Kabupaten Karanganyar yang masuk kategori:

1. Desa sangat tertinggal dan desa tertinggal berdasarkan IDM yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

2. Telah menyerahkan dokumen Peraturan Desa tentang APB Desa tahun 2015 dan 2016

3. Telah menerima dana desa dari

pemerintah pusat tahun 2015 dan 2016. 4. Telah menyerahkan laporan realisasi

penggunaan dana desa 2015 dan 2016

Data dan Sumber data

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data hasil wawancara dengan para informan yang mengetahui penggunaan dana desa. Adapun informan dalam penelitian ini adalah kepala desa, bendahara desa, pendamping desa dan perwakilan warga desa. Data sekunder dalam penelitian ini digunakan menjawab perumusan permasalahan dalam penelitian ini meliputi: 1. Perda tentang APBD tahun 2015 dan

2016;

2. Peraturan Bupati/ Walikota tentang tata cara pembagian dan penetapan rincian Dana Desa;

3. Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahun 2015 dan 2016;

4. Peraturan Desa tentang APB Desa tahun 2015 dan 2016;

5. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun 2015 dan 2016.

6. Indeks Desa Membangun Tahun 2015 dan Tahun 2016.

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Untuk memperjelas arah penelitian, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan di definisikan dan dijelaskan pengukurannya. Adapun definisi dan pengukuran variabelnya adalah sebagai berikut:

1. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan,

pelaksanaan pembangunan, pembinaan

kemasyarakatan, dan pemberdayaan

masyarakat. Untuk menganalisis penggunaan dana desa dilakukan dengan membandingkan antara peraturan desa tentang APB desa dengan realisasi penggunaan dana desa pada desa tertinggal di Kabupaten Karanganyar. 2. Indeks Desa Membangun, merupakan indeks

komposit yang dibentuk dari Indeks

Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Ekologi Desa.

a. Indeks Ketahanan Sosial (IKS) terdiri dari 4 dimensi yaitu dimensi modal sosial, kesehatan, pendidikan dan permukiman, yang terdiri dari 14 indikator dan diukur dengan skala 0 sampai 5, semakin tinggi skor mencerminkan tingkat keberartian. b. Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) terdiri

dari satu dimensi yaitu dimensi ekonomi yang terdiri dari 6 indikator dan diukur dengan skala 0 sampai 5, semakin tinggi skor mencerminkan tingkat keberartian. c. Indeks Ketahanan Ekologi (IKL) terdiri

dari satu dimensi yaitu dimensi ekologi yang terdiri dari 2 indikator dan diukur dengan skala 0 sampai 5, semakin tinggi skor mencerminkan tingkat keberartian.

Penghitungan Indeks Desa Membangun dihasilkan dari rata-rata Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks

(6)

6 Ketahanan Lingkungan yang dihitung dengan rumus:

IDM = (IKS + IKE + IKL)

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Untuk menjawab perumusan masalah pertama dengan teknik kualitatif yaitu dengan membandingkan realisasi penggunaan dana desa di desa tertinggal dengan peraturan menteri, peraturan bupati dan peraturan tentang penggunaan dana desa. Untuk menjawab perumusan masalah kedua, ketiga, dan keempat dengan analisis kuantitatif dengan metode komparatif menggunakan teknik statistic uji beda dua rata-rata untuk sampel berpasangan. Teknik ini menguji penggunaan dana desa terhadap indeks ketahanan sosial (IKS), indeks

ketahanan ekonomi (IKE) dan indeks

ketahanan ekologi/lingkungan (IKL).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Peraturan tentang penggunaan dana desa Penggunaan dana desa saat ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, Pasal 1, ayat 2 : Dana Desa adalah Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan,

pembinaan kemasyarakatan, dan

pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya dalam pasal 6 disebutkan bahwa Dana Desa tersebut ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke APB Desa.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 pasal 19, ayat 1, Dana Desa digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan kemasyarakatan. Dana Desa

sebagaimana dimaksud pada ayat 1

diprioritaskan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Pada pasal 20, Penggunaan Dana Desa mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan Rencana Kerja Pemerintah Desa.

Berdasarkan Peraturan Menteri Desa,

Pembangunan Daerah Tertinggal, dan

Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa. Dana desa di tahun 2016 ini digunakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Pada bidang pembangunan desa ditujukan untuk untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan, prioritas penggunaan dana desa diarahkan untuk

pelaksanaan program dan kegiatan

pembangunan desa, meliputi :

a. Pembangunan, pengembangan, dan

pemeliharaan infrasruktur atau sarana dan prasarana fisik untuk penghidupan,

termasuk ketahanan pangan dan

permukiman;

b. pembangunan, pengembangan dan

pemeliharaan sarana dan prasarana kesehatan masyarakat;

c. Pembangunan, pengembangan dan

pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sosial dan kebudayaan;

d. Pengembangan usaha ekonomi

masyarakat, meliputi pembangunan dan pemeliharaan sarana prasarana produksi dan distribusi; atau

e. Pembangunan dan pengembangan sarana-prasarana energi terbarukan serta kegiatan pelestarian lingkungan hidup.

Berdasarkan peraturan dari Menteri Desa,

Pembangunan Daerah Tertinggal, dan

Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa di tahun 2016. Pedoman pengelolaan dana

transfer kepada desa di Kabupaten

Karanganyar di atur melalui Peraturan Bupati (Perbup) Kabupaten Karanganyar. Adanya peraturan bupati ini sebagai pedoman bagi desa dalam menyusun APB Desa.

2. Realisasi Peyaluran dan Penggunaan Dana Desa

Pada bagian ini akan mejelaskan penggunaan dana desa yang dilakukan oleh desa-desa sangat tertinggal dan desa tertinggal. Penggunaan dana desa pada tahun 2015 sebagian besar dimanfaatkan untuk pelaksanaan pembangunan infrastruktur, kecuali desa Kaliboto dan desa Plesungan lebih banyak digunakan untuk bidang

(7)

7 penyelenggaraan pemerintahan. Pembangunan

infrastruktur yang dilakukan dengan

menggunakan dana desa meliputi betonisasi jalan, pembangunan talud, pembangunan drainase, pembangunan saluran air, perbaikan aspal, pembangunan RTLH dan pembangunan jamban serta lain sebagainya. Pelaksanaan

pembangunan di 10 desa mencapai Rp. 2.001.154.600; kemudian disusul bidang

penyelenggaraan pemerintah dengan

menggunakan dana desa sebesar

Rp. 490.343.200, diikuti bidang

pemberdayaan masyarakat sebesar Rp. 306.139.200 dan bidang pembinaan

kemasyarakatan sebesar Rp. 73.122.000. Realisasi penggunaan dana desa pada tahun 2015 yang dilakukan oleh desa-desa kategori tertinggal sudah sesuai dengan prioritas penggunaan dana desa yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu untuk

Pembangunan, pengembangan, dan

pemeliharaan infrasruktur atau sarana dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan permukiman.

Penggunaan dana desa pada tahun 2016 sebagian besar masih dimanfaatkan untuk pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan dengan menggunakan dana desa pada tahun meliputi betonisasi jalan, pembangunan talud, pembangunan drainase, pembangunan saluran air, perbaikan aspal, pembangunan RTLH, pembangunan jamban dan lain sebagainya.

Pelaksanaan pembangunan di 10 desa

mencapai Rp. 6.006.161.200; kemudian disusul bidang pemberdayaan masyarakat sebesar Rp. 404.497.800, diikuti bidang

pembinaan kemasyarakatan sebesar Rp. 35.000.000 dan yang paling sedikit

bidang penyelenggaraan pemerintah dengan

menggunakan dana desa sebesar Rp.

15.000.000.

Berdasarkan data menunjukkan bahwa penerimaan dana desa dari tahun 2015 ke

tahun 2016 mengalami peningkatan.

penyaluran dana desa yang diterima oleh

desa-desa tertinggal di Kabupaten

Karanganyar dari tahun 2015 ke tahun 2016 dengan rata-rata kenaikan sebesar 124,64%. Peningkatan penyaluran tertinggi dari dana desa diterima oleh desa Karangsari dari Kecamatan Jatiyoso yaitu sebesar 126,47% atau dari dana desa yang diterima tahun 2015 sebesar Rp. 301.975.000 menjadi Rp. 683.891.000 pada tahun 2016. Sedangkan

peningkatan terendah diterima desa

Bandardawung Kecamatan Tawangmangu yaitu 123,57% dari Rp. 278.458.000 pada

tahun 2015 meningkat menjadi Rp. 622.539.000 pada tahun 2016.

3. Indeks Desa Membangun

Indeks Desa Membangun (IDM)

merupakan ukuran untuk tingkat

perkembangan desa yang dikembangkan oleh Ditjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. IDM dikembangkan dalam kaitan penajaman fokus dan lokus dalam pengembangan program prioritas (program unggulan dan kegiatan prioritas) yang berdasarkan 3 pendekatan yang disebut sebagai pilar Desa Membangun Indonesia, yaitu jaring komunitas wiradesa, lumbung ekonomi desa dan lingkar budaya desa. Indeks Desa Membangun pada tahun 2015 dan 2016 desa-desa dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2. IDM Tahun 2015

Pada tahun 2015 menunjukkan bahwa IDM dua desa yaitu desa Sukosari dan Karangturi di bawah 0,491, sehingga masuk kategori desa

Sangat Tertinggal dan delapan desa

mempunyai IDM di bawah 0,599 berarti

masuk daerah Tertinggal yaitu desa

Karangsari, Kaliboto, Bandardawung,

Wonolopo, Paseban, Karangmojo, Jatikuwung dan Plesungan. Pada tahun 2016 setelah ada peningkatan rata-rata dana desa sebesar 124,64% dan dialokasikan pembangunan infrastruktur dengan proporsi terbesar maka ada peningkatan IDM dan status desa seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

(8)

8 Pada tabel 3 menunjukkan bahwa berdasarkan nilai IDM pada tahun 2016 desa-desa yang selama ini masuk desa tertinggal sudah

meningkat statusnya menjadi desa

Berkembang, hal ini dikarenakan adanya peningkatan infrastruktur desa yang telah dikerjakan dengan menggunakan dana desa. Berdasarkan pada data-data tersebut terlihat bahwa perubahan terbesar terjadi pada Indeks Ketahanan Sosial (IKS) yaitu sebesar 12,42% dari 0,648 pada tahun 2015 naik menjadi 0,728 pada tahun 2016, kemudian diikuti Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL) atau ekologi sebesar 11,31% dari 0,593 tahun 2015 naik menjadi 0,660 pada tahun 2016,

sedangkan Indeks Ketahanan Ekonomi

mengalami kenaikan terendah yaitu sebesar 7,34% dari 0,464 pada tahun 2015 menjadi 0,498 pada tahun 2016. Hal ini dikarenakan selama dua tahun terakhir alokasi dana desa

diprioritaskan untuk pembangunan

infrastruktur dan sarana dan prasarana lingkungan di desa.

4. Hasil Uji Hipotesis

Pada data diatas menunjukkan bahwa ada peningkatan indeks desa membangun dari tahun 2015 ke tahun 2016. Peningkatan tersebut menyebabkan pada peningkatan status desa, dari desa tertinggal menjadi desa

berkembang. Untuk mengetahui apakah

peningkatan tersebut signifikan secara statistic, akan diuji menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil Uji Paired Sample t-test dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. Hasil Uji T Test

Variabel Mean Difference t sign Kesimpulan IKS 0,0806 3,851 0,004 H1 diterima IKE 0,0341 6,161 0,000 H2 diterima IKL 0,0669 2,859 0,019 H3 diterima IDM 0,0607 4,351 0,002

Sumber: data diolah, 2017 5. Pembahasan

a. Penggunaan Dana Desa

Dasar hukum Penggunaan dana desa di

Kabupaten Karanganyar mengacu pada

peraturan-peraturan yang berlaku diantaranya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa; Peraturan dari

Menteri Desa, Pembangunan Daerah

Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa di tahun 2016; Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor 132 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Peraturan Bupati Karanganyar Nomor 133 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Transfer Kepada Desa. Berdasarkan dasar hukum tersebut penggunaan dana desa tahun 2015 dan 2016 diprioritas pada pembangunan infrastruktur dan sarana dan prasarana desa. Ada empat aspek alokasi penggunaan dana

desa yaitu Bidang Penyelenggaraan

Pemerintahan, Bidang Pelaksanaan

Pembangunan, Bidang Pemberdayaan

Masyarakat dan Bidang Pembinaan

Kemasyarakatan.

Berdasarkan data-data di atas

menunjukkan bahwa bahwa penggunaan dana desa pada tahun 2015 dan 2016 sebagian besar

dimanfaatkan untuk pelaksanaan

pembangunan infrastruktur. Pembangunan

infrastruktur yang dilakukan dengan

menggunakan dana desa meliputi betonisasi jalan, pembangunan talud, pembangunan drainase, pembangunan saluran air, perbaikan aspal, pembangunan RTLH dan pembangunan jamban dan lain sebagainya. Hal ini berarti penggunaan dana desa di desa-desa tertinggal telah dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku.

b. Implikasi Penggunaan Dana Desa

Terhadap Ketahanan Sosial, Ekonomi dan Ekologi Desa

Implikasi penggunaan dana desa pada

desa-desa tertinggal di Kabupaten

Karanganyar pada tahun 2015 dan 2016 dianalisis dengan menggunakan uji beda. Hasil analisis dengan menggunakan uji beda

pada Indeks Ketahanan Sosial (IKS)

menunjukkan bahwa penggunaan dana

berpengaruh signifikan pada Ketahanan Sosial masyarakat desa. Ketahanan sosial meliputi dimensi modal sosial, kesehatan, pendidikan

(9)

9 dan permukiman. Hal ini berarti penggunaan dana desa mampu meningkatkan ketahanan sosial masyarakat desa, karena alokasi penggunaan dana desa pada tahun 2016 semakin besar dibandingkan tahun 2015 dan

di prioritaskan pada pembangunan

infrastruktur seperti betonisasi jalan, perbaikan sarana kesehatan, pendidikan dan permukiman.

Hasil analisis terhadap Indeks Ketahanan Ekonomi juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tahun 2015 dan 2016. Hal ini berarti penggunaan dana desa berpengaruh positif terhadap ketahanan ekonomi masyarakat desa. Pembangunan insfrastruktur jalan seperti betonisasi dan pengaspalan jalan memudahkan akses bagi kegiatan ekonomi masyarakat desa seperti ke pusat perbelanjaan, angkutan umum dan lembaga keuangan.

Hasil analisis terhadap indeks Ketahanan Ekologi menunjukkan ada pengaruh positif dari penggunaan dana desa, hal ini ditunjukkan dari hasil uji beda yang signifikan secara statistik. Hal ini disebabkan penggunaan dana desa yang dialokasikan untuk perbaikan drainase maupun saluran air limbah, pembuatan jamban telah mengurangi

pencemaran lingkungan. Adanya

pembangunan drainase, saluran air dan limbah serta pembuatan jamban membuat masyarakat lebih mudah dalam membuang limbah rumah tangganya maupun limbah produksi yang ada di sekitar desa.

V. PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penggunaan dana desa pada desa-desa tertinggal tahun 2015 dan 2016 di alokasikan sesuai dengan prioritas

penggunaan berdasarkan Peraturan

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa. Dana desa pada desa-desa tertinggal digunakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan

Masyarakat Desa. Di Bidang

pembangunan sebagian besar

dimanfaatkan untuk pelaksanaan

pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan dengan

menggunakan dana desa meliputi

betonisasi jalan, pembangunan talud,

pembangunan drainase, pembangunan

saluran air, perbaikan aspal, pembangunan RTLH dan pembangunan jamban dan lain sebagainya.

2. Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan

bahwa penggunaan dana desa

berimplikasi atau berpengaruh positif pada peningkatan ketahanan sosial masyarakat desa.

3. Hasil uji hipotesis kedua menunjukkan

bahwa penggunaan dana desa

berimplikasi atau berpengaruh positif pada peningkatan ketahanan ekonomi desa.

4. Hasil uji hipotesis ketiga menunjukkan

bahwa penggunaan dana desa

berimplikasi atau berpengaruh positif pada peningkatan ketahanan ekologi desa.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas diajukan saran-saran sebagai berikut:

1. Dana desa sangat bermanfaat bagi pembangunan desa, baik dari bidang sosial, ekonomi maupun ekologi desa. Oleh karena itu pemerintah harus

mempertahankan dan meningkatkan

alokasi dana desa, khususnya pada desa-desa tertinggal dan umumnya ke semua desa di Indonesia.

2. Dana desa sebagian besar masih

digunakan untuk pembangunan

infrastruktur desa, selanjutnya dana desa harus di alokasikan pada bidang ekonomi dan pemberdayaan masyarakat sebagai

prioritas untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.

3. Pengawasan dana desa sangat penting dilakukan, mengingat masih terbatasnya sumber daya manusia di desa yang memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan desa, agar dana desa dapat dimanfaatkan secara optimal.

(10)

10 Ahmad, Afridian Wirahadi.2010. Dampak

Desentralisasi Fiskal Terhadap

Outcomes Bidang Kesehatan: Studi empiris di Kabupaten/Kota Propinsi

Sumatera Barat. SNA XIII.

Purwokerto.

Azwardi dan Sukanto. 2014. Efektifitas Alokasi Dana Desa (Add) dan Kemiskinan di Provinsi Sumatera

Selatan. Jurnal Ekonomi

Pembangunan,Volume 12, No.1 hal:

29 – 41.

Darmiasih, Ni Kadek, Ni Luh Gd Erni

Sulindawati, Nyoman Ari Surya

Darmawan. 2015. Analisis

Mekanisme Penyaluran Alokasi Dana Desa (Add) Pada Pemerintah Desa

(Studi Kasus Desa Tri Buana,

Kec.Sidemen, Kab.Karangasem).

e-Journal. Universitas Pendidikan Ganesha. Volume 1 No: 3.

Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahun 2015 dan 2016;

Peraturan Bupati Karanganyar No 133 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Dana Transfer Kepada Desa Tahun 2017

Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor 132 Tahun 2016 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan

Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun

2016. Tentang Indeks Desa

Membangun.

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan

Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN.

Putra Chandra Kusuma, Ratih Nur Pratiwi, Suwondo. 2013. Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa (Studi pada Desa

Wonorejo Kecamatan Singosari

Kabupaten Malang). Jurnal

Administrasi Publik (JAP), Vol. 1, No. 6. Hal. 1203-1212

Subroto, Agus. 2009. Akuntabilitas

Pengelolaan Dana Desa ( Studi Kasus Pengelolaan Alokasi Dana Desa Di

Desa-Desa Dalam Wilayah

Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung Tahun 2008 ). Tesis. UNDIP

Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian

Kualitatif. Alfabeta. Bandung.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Gambar

Tabel 2. IDM Tahun 2015
Tabel 4. Hasil Uji T Test

Referensi

Dokumen terkait

proporsi belanja juga sudah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Desa Nomor 21 tahun 2015 tentang prioritas penggunaan dana desa. Dalam penggunaan dana

Tingkat kecemasan kedua responden sebelum dilakukan penerapan relaksasi nafas dalam pada 1 jam sebelum masuk ruang operasi dalam kategori tingkat kecemasan berat,

5 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015, pada Pasal 5 dinyatakan bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa

Keterlibatan semua dinas terkait dalam penataan Obyek Wisata Gunung Kemukus sangat di perlukan, hal ini di karenakan Obyek Wisata Gunung Kemukus yang identik dengan

Akan tetapi, di dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yuliasari (2015) dengan tujuan diketahui hubungan penggunaan KB Pil dengan produksi ASI pada ibu menyusui di Wilayah

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Kemendes PDTT melalui Permendes PDTT nomor 16 tahun 2018 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019 memfasilitasi

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun