• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU AJAR Higiene Lingkungan Industri.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUKU AJAR Higiene Lingkungan Industri."

Copied!
285
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Dr. Yuliani Setyaningsih, S.KM, M.Kes
  • Sekolah: Universitas Diponegoro
  • Mata Pelajaran: Higiene Lingkungan Industri
  • Topik: Pengertian Higiene Lingkungan Industri
  • Tipe: Buku Ajar
  • Tahun: 2018
  • Kota: Semarang

I. Tinjauan Mata Kuliah

Bab ini memberikan gambaran umum mata kuliah Higiene Lingkungan Industri, relevansi dengan program studi S1 Kesehatan Masyarakat, dan capaian pembelajaran yang diharapkan. Deskripsi singkat menjelaskan cakupan materi, mulai dari pengertian dan ruang lingkup higiene lingkungan industri hingga pengendalian bahaya di lingkungan kerja. Relevansi menekankan pentingnya mata kuliah ini dalam membentuk mahasiswa yang mampu mengantisipasi, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya di tempat kerja, baik faktor fisika maupun kimia. Capaian pembelajaran dirumuskan dalam CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) dan Sub-CPMK (Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah), yang dijabarkan lebih lanjut dalam indikator-indikator kinerja yang terukur.

1.1. Deskripsi Singkat

Bagian ini merangkum isi mata kuliah, meliputi pemahaman konsep dasar higiene industri, identifikasi bahaya di lingkungan kerja (faktor fisika dan kimia), analisis ventilasi industri, pemilihan dan penggunaan APD, serta strategi pengendalian bahaya. Ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada mahasiswa tentang pengelolaan higiene dan sanitasi lingkungan industri.

1.2. Relevansi

Sub-bab ini menjelaskan pentingnya mata kuliah ini bagi mahasiswa Kesehatan Masyarakat, khususnya dalam peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk melakukan antisipasi, identifikasi, evaluasi, dan pengendalian bahaya di tempat kerja, termasuk analisis ventilasi, pengambilan sampel udara, dan pemilihan APD yang tepat. Relevansi ini memperkuat hubungan antara teori dan praktik di lapangan kerja.

1.3. Capaian Pembelajaran

Bagian ini menjabarkan capaian pembelajaran mata kuliah, yang terbagi ke dalam CPMK (menjelaskan metode dan teknik pengelolaan higiene dan sanitasi di tempat kerja dengan prinsip AREC) dan Sub-CPMK (menjelaskan ruang lingkup dan pengertian, identifikasi bahaya, analisis bahaya fisika dan kimia, analisis ventilasi, analisis APD, dan analisis pengendalian bahaya). Indikator kinerja yang terukur memastikan pemahaman dan kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut.

II. Konsep Dasar Higiene Lingkungan Industri

Bab ini membahas definisi dan ruang lingkup higiene lingkungan industri secara mendalam. Dimulai dengan uraian tentang berbagai definisi higiene industri dari berbagai sumber, menunjukkan perbedaan pendekatan namun menekankan kesamaan tujuan utama, yaitu melindungi kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar. Penjelasan selanjutnya mencakup tugas dan tanggung jawab ahli higiene industri, ahli keselamatan kerja, dan peran penting komunikasi antar komponen dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Bagian ini dilengkapi latihan dan tes formatif untuk menguji pemahaman mahasiswa.

2.1. Pengertian Higiene Lingkungan Industri

Bagian ini menyajikan berbagai definisi higiene industri dari berbagai sumber, termasuk Soeripto (2008), Suma’mur (2013), OSHA (1998), dan Soedirman (2012). Perbedaan definisi dibahas untuk menunjukkan nuansa dan perkembangan pemahaman konsep, namun inti utamanya tetap sama: melindungi kesehatan pekerja melalui antisipasi, pengenalan, evaluasi, dan pengendalian faktor bahaya. Prinsip-prinsip dasar penerapan higiene industri juga dijelaskan, menekankan pada pengenalan, penilaian/evaluasi, dan pengendalian bahaya.

2.2. Ruang Lingkup Higiene Lingkungan Industri

Sub-bab ini menjelaskan ruang lingkup higiene lingkungan industri melalui model AREC (Anticipation, Recognition, Evaluation, Control). Setiap tahap dijelaskan secara detail, termasuk metode dan teknik yang digunakan pada setiap tahap. Diagram alur (Gambar B.1) yang disertakan memberikan visualisasi yang jelas tentang proses ini. Penjelasan ini menekankan pentingnya pendekatan sistematis dan komprehensif dalam mengelola bahaya di tempat kerja.

III. Identifikasi Bahaya di Tempat Kerja

Bab ini membahas konsep bahaya dan teknik identifikasi bahaya di tempat kerja. Definisi bahaya dan bahaya kerja dijelaskan secara rinci, diikuti oleh klasifikasi bahaya berdasarkan jenisnya (fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi). Berbagai teknik identifikasi bahaya, termasuk metode pasif, semi-proaktif, dan proaktif, diuraikan dan dibandingkan. Metode proaktif, seperti PHA, FMEA, JSA, dan HAZOP, dijelaskan secara ringkas, dengan penekanan pada pentingnya pendekatan proaktif dalam manajemen keselamatan kerja. Bagian ini juga mencakup penjelasan bagaimana memilih teknik yang tepat berdasarkan konteks industri.

3.1. Konsep Bahaya

Bagian ini mendefinisikan bahaya (hazard) berdasarkan berbagai sumber dan menjelaskan perbedaan antara bahaya dan risiko. Berbagai jenis bahaya di tempat kerja diklasifikasikan, termasuk bahaya fisika (kebisingan, getaran, radiasi), kimia (uap, gas, debu), biologi (virus, bakteri), ergonomi (postur kerja), dan psikologi (stres kerja). Contoh-contoh bahaya di berbagai industri diberikan untuk memperjelas pemahaman mahasiswa.

3.2. Konsep Identifikasi Bahaya

Sub-bab ini membahas definisi, manfaat, dan teknik identifikasi bahaya di tempat kerja. Manfaat identifikasi bahaya dijelaskan, diikuti dengan penjelasan tentang berbagai teknik identifikasi, baik yang pasif, semi-proaktif, maupun proaktif. Penjelasan rinci diberikan tentang beberapa teknik proaktif, seperti JSA (Job Safety Analysis) dan HAZOP (Hazard and Operability Study). Gambar C.1 memberikan gambaran visual tentang proses identifikasi bahaya.

Referensi Dokumen

  • Panduan Praktis K3 untuk Industri ( Buntarto )

Gambar

Gambar B.1 Ruang Lingkup Higiene Industri  a. Antisipasi (Anticipation)
Gambar C.1 Identifikasi Bahaya
Gambar D.1 Anatomi Telinga
Tabel D.1 Nilai Ambang Batas Kebisingan  Waktu Pemaparan  Per Hari  Intensitas kebisingan dalam dBA  8  Jam  85  4  88  2  91  1  94  30  Menit  97  15  100  75  103  375  106  188  109  94  112  2,812  Detik  115  1,406  118
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesehatan masyarakat di lingkungan pabrik gula dapat terganggu melalui berbagai sumber, salah satu sumber yang cukup signifikan adalah pencemaran udara oleh debu yang berasal

Rusaknya tanah yang diambil untuk bahan baku genteng serta pencemaran udara saat pembakaran genteng dapat dijadikan bahan kajian dalam pembelajaran KD 3.8 yaitu

Pencemaran udara merupakan satu keadaan yang melibatkan pengenalan sebarang bahan kimia, jirim zarahan atau bahan biologi yang boleh menyebabkan mudarat atau

sempit sebagai bahan pencemar udara yang lebih luas, dalam kaitannya dengan masalah pencemaran lingkungan, pencemar, partikel dapat meliputi berbagai macam bentuk, mulai

Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan

Pencemaran udara merupakan satu keadaan yang melibatkan pengenalan sebarang bahan kimia, jirim zarahan atau bahan biologi yang boleh menyebabkan mudarat atau ketidakselesaan

Masalah ini juga terjadi di DIY berupa pencemaran baik pada tanah, air, udara dan masalah kerusakan akibat kegiatan tambang.9 Salah satu upaya pencegahan pencemaran, perusakan dan

Industri pertahanan dapat meningkatkan produksi Alpalhankam, namun kurangnya perhatian terhadap proses produksi mengakibatkan pencemaran lingkungan dan polusi udara. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menerapkan proses produksi ramah