• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 DATA DAN ANALISA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 DATA DAN ANALISA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

2

DATA DAN ANALISA

2.1

SUMBER DATA

Riset yang dilakukan dalam mengumpulkan data-data baik wawancara maupun riset data.

Sumber data yang menjadi riset penulis antara lain :

•Wawancaran dengan owner

•Survey terhadap target audience

•Media elektronik

2.2

DATA UMUM

Autisme sebagai gangguan perkembangan pada anak. Tapi anak yang meng-alami autisme masih dapat melakukan banyak hal dan belajar banyak keterampilan. Ciri-Ciri anak Autisme :

• Tidak berinteraksi satu sama lain tanda paling utama dalam autisme. Seharusnya orang tua biasanya menyadari akan tanda autisme ini. Dan tidak memberi respon atau tidak fokus pada suatu benda dalam waktu yang lama.

• Ini disebabkan mereka sulit untuk menafsir maklumat yang diterima dan tidak tahu bagaimana untuk membalasnya secara lisan. Secara dilihat biasa, mereka seperti anak-anak biasa namun sebenarnya mempunyai kekurangan dalam komunikasi sosial dan respon.

• Mereka lebih suka berada di dalam ‘dunia’ mereka sendiri dan terkadang mencelakakan diri tanpa sebab. Bermain dengan berkumpul merupakan aktivitas yang paling tidak disukai oleh anak autisme sendiri. Dan apabila mereka diminta untuk berhenti (menegur) maka mereka akan bertindak agresif karena tidak suka merubah tingkah laku sesuai apa yang dikatakan.

• Ada sebagian mereka yang kurang sensitif kepada rasa sakit namun mereka lebih sensitif kepada bunyi, sentuhan serta sensori (rasa). Sifat sensitif mereka yang kuat merupakan jawaban mengapa mereka yang tidak mau dirangkul atau dipeluk.

Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme

(2)

dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti dirinya sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low-functioning autism (IQ dibawah 70 atau 85). Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Sekaligus menjadikan isu ini menjadi kebimbangan dan tanda tanya untuk segenap masyarakat dunia bagaimana perkara ini biasa meningkat dengan drastisnya.

Maka komunikasi dengan autisme dalam konteks mempengaruhi sikap, komunikasi yang dilakukan lebih dengan komunikasi yang lebih yang bersifat terapi melalui hubungan interpersonal yang sedekat mungkin, sehingga dapat merubah emosi anak menjadi lebih terkontrol terutama dalam emosional. Emosi yang tidak stabil yaitu mengamuk, menangis, dan tertawa dengan alasan yang tidak jelas menjadi ciri salah satu anak yang mengalami autisme.

Kanak-kanak Autisme lebih gemar untuk melakukan perbuatan hal yang ber-ulang-ulang seperti menghayun atau memusing-musingkan badan atau keadaan yang lebih berbahaya seperti menggigit atau menghantamkan kepala. Mereka juga lambat bertutur kata berbanding dengan anak-anak yang setara dengan mereka. Selain dari itu, kanak-kanak autisme juga tidak pandai untuk berinteraksi dengan kanak lain semasa bemain. Kebanyakkan kanak-kanak autisme adalah kurang sensitif kepada rasa sakit namun mereka lebih sensitif kepada bunyi, sentuhan serta sensori (deria rasa). Dalam studi kasus yang saya jalani kemampuan anak autisme yang mengalami lebih menunjukkan pada bidang ketrampilan.

Sebagian dari anak yang mengalami autisme yang karena bimbingan dari keluarga serta terapis, berhasil menemukan bakat dari dirinya yang selama ini terselubung oleh tindakan autismenya sendiri. Pada tingkat autisme yang ringan, anak masih bisa berkomunikasi dengan normal tapi masih tertutup dan masih bisa berinteraksi dengan orang lain, saat beranjak dewasa dengan mencapai jenjang sarjana. Permainan simple bukan berarti simple untuk dimainkan tetapi bagi anak autisme, melakukan permainan dengan hal yang bermakna bagi dirinya.

Mainan sederhana untuk anak yang mengalami autisme antara lain :

1. Butiran kancing butiran manik warna-warni berbagai bentuk. Caranya: bermain dengan melatih anak meronce butiran kancing (besar, sedang, kecil), butiran manik warna-warni, manik berbagai bentuk (bintang, bola, kotak, segitiga, dan lain-lain).

(3)

membersihkan tempat tidur dan kamarnya.

3. Pakaian sehari-hari. Caranya: melatih anak menyimpan baju kotor ke tempatnya, mengajari mencuci bajunya sendiri.

4. Benda-benda di kamar mandi. Caranya: bermain sambil melatih anak mandi sendiri (menyabun badan, keramas menggunakan sampo, menggosok gigi, dan sebagainya).

5. Berbagai alat rumah tangga. Caranya: melatih anak dengan perintah-perintah kecil, seperti mengambil air di gelas, mengambil sayur di kulkas, atau mengambil botol susu. Membiasakan mereka dengan melakukan perintah kecil, melatih mereka mengingat dan belajar melatih otot pergelangan tangan serta syaraf motorik halusnya.

6. Peralatan di dapur. Caranya: melakukan kegiatan di dapur seperti mengupas bawang putih, memotong tahu dengan pisau plastik, memetik sayuran, mengaduk adonan puding, membuat susu, atau membuat olesan roti.

7. Benda-benda di halaman. Caranya: mengajak menyiram tanaman, menanam pohon, mencabut rumput, menggosok lantai, membuang sampah pada tempatnya, menyimpan bekas mainan, dan lain-lain.

8. Pemutar musik dan film. Caranya: mendengarkan musik dan mengajak berjoget, menonton film sambil memperagakan tokoh di dalam film.

9. Alat tulis, buku tulis. Caranya: mengajar menulis, mencorat-coret buku, dan lain- lain.

10. Memakai baju, menyisir rambut, memegang gelas, piring, sendok garpu, dan kegiatan sederhana lainnya.

Salah satu guru dari sekolah Cahya Anakku , prediksi masa depan anak yang mengalami autisme sebenarnya bisa dilihat dari hoby apa yang disukainya ketika menjalani terapi. Dari situ, keluarga dan terapis bisa mendorong si anak mengembangkan keterampilannya sehingga bisa bekerja sesuai keterampilan tersebut. Seperti salah satu murid disana ada yang dapat merapikan ranjang / merapikan sprei sehingga ketika sudah terlatih dan mampu menjalankan dengan baik dapat dipindahkan ke lapangan kerja hotel untuk menerapkan ketrampilan yang dipunyainya.

Oleh karena itu, untuk membuka kesempatan anaky yang mengalami autisme memliki masa depan yang lebih cerah, banyak orang tua yang kini mempercayakan anak untuk sekolah khusus autisme, seperti yang saya jumpai ketika berkunjung ke Sekolah Cahya Anakku. Saya sempat berbincang dengan salah satu guru yang mengatakan bahwa mereka menjalani terapi dengan memahami terapi motorik halus, motorik kasar, komunikasi, dan mampu berinteraksi dengan sekitar. Dan dalam terapi komunikasi pun, guru bercerita dengan menggunakan gambaran visual untuk mempermudah daya tangkap anak autisme, sehingga secara perlahan anak autisme dapat mengerti kegiatan sehari-hari lewat gambar visual.

(4)

Mengingat saat ini banyak anak penyandang autistik, dan biaya terapi yang mahal 100 - 150ribu per pertemuan. Belum lagi harus antri jadwal untuk terapi, memberikan pelatihan sendiri di rumah sambil bermain-main akan sangat bermanfaat dan lebih murah. Terutama bagi orang tua yang tinggal di daerah dan sulit mendapatkan tempat terapi. Melakukan terapi sendiri, asal dilakukan dengan ketekunan, kegigihan, dan konsistensi yang kuat, pasti akan memberikan hasil luar biasa.

2.3

DATA PENDUKUNG

Tahun 2007, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa dunia menghadapi masalah kritis dengan meningkatnya jumlah orang dengan masalah mental dan neurologis, termasuk autisme, yang menyumbang 11% dari penyakit global. Jumlah ini diproyeksikan mencapai sekitar 15% pada tahun 2020. Pada tahun 2009, WHO memperkirakan bahwa terdapat 1.100.000 kasus autisme di China, 650.000 di Inggris, 500.000 di Filipina, dan 180.000 di Thailand. Tingkat autisme tumbuh sebesar 14% per tahun di seluruh dunia. Di Cina itu tumbuh pada tingkat 20% per tahun.

(http://preventdisease.com/news/12/033012_Report-Now-Shows-1-In-54-Boys-Are-Autistic-Almost-a-1000-Percent-Increase-Since-1980.shtml)

Jumlah kasus autisme mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pada tahun 2008 rasio anak yang mengalami autisme 1 : 100 anak, maka di 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 : 88 orang anak saat ini mengalami autisme. Hasil penelitian ini dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and

Prevention (CDC). Perkiraan ini mengalami peningkatan 23% dibandingkan data

tahun 2008, yaitu 1 : 100 anak yang menderita autisme. Sedangkan pada tahun 2002, diperkirakan 1 : 150 anak menderita autisme dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 1 : 110 anak. Dalam laporan CDC's Morbidity and Mortality Weekly Report yang diluncurkan akhir Maret 2012 lalu, CDC menjelaskan bahwa peningkatan autisme ini paling banyak terjadi pada anak-anak Hispanik dan Afrika-Amerika. Autisme jauh lebih banyak dialami anak laki-laki, yaitu 5 lima kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.. Misalnya, studi baru di Brasil ditemukan 27,2 kasus autisme per 10.000 orang, dan laporan tahun lalu dari Oman ditemukan 1,4, dibandingkan dengan rata-rata US sering dikutip dari 66. Demikian pula jumlah kecil (lihat peta) telah keluar dari studi di Cina (16,1), Indonesia (11,7) dan Israel (10).

Kita tahu bahwa dokter dan masyarakat semakin baik dalam mengidentifikasi anak autisme. Tapi belum diketahui pasti penyebab peningkatan ini oleh Dr Thomas Frieden, direktur CDC (Department yang mengatasi tentang Kesehatan dan Layanan Masyarakat). Laporan CDC ini menjelaskan dengan jumlah anak dan keluarga yang membutuhkan bantuan mengalami peningkatan. Gangguan spektrum autisme perlu dilacak karena masyarakat perlu dibimbing dan diberi pemahaman untuk menangani anak penyandang autisme.

Laporan CDC ini didasarkan pada data anak-anak berusia 8 tahun yang dikumpulkan dari 14 daerah di Amerika Serikat. 1 : 54 anak laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan autisme, sedangkan pada anak perempuan perbandingannya 1 : 252 anak. Kemunculan gangguan spektrum autisme sangat bervariasi tergantung pada lokasi. Kebanyakan anak-anak yang autisme ini didiagnosa setelah berusia 3

(5)

tahun, dan 40% dari anak-anak dalam penelitian baru didiagnosis setelah berusia 4 tahun atau lebih. "Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang didiagnosis autisme dan diberikan terapi dan pengobatan dan akan terlihat manfaatnya seiring pelatihan berlangsung. Semua anak sebaiknya diperiksa kemungkinan mengalami autisme pada usia 18 dan 24 bulan. Orangtua perlu segera bertindak cepat jika ada kekhawatiran mengenai per-kembangan anaknya yang terganggu. Para orangtua sebaiknya membicarakan dengan dokter apabila melihat perbedaan pada anaknya dibandingkan anak-anak lainnya. (http://www.cdc.gov)

Di Jakarta sendiri pada saat ini terdapat beberapa lembaga yang menangani yang mengalami autisme. Pada grafik dapat diketahui bahwa lembaga penanganan pasien yang mengalami autisme terkonsentrasi di daerah Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, masing-masing sebesar 47%, 29%, dan 15%. Sementara untuk daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, masih sedikit lembaga yang menangani pasien autisme dengan persentase masing-masing 6% dan 3%. Sehingga masih dibutuhkan banyak lagi lembaga penanganan masalah autisme untuk daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara agar masyarakat di daerah tersebut mendapatkan pelayanan yang layak bagi anggota keluarga yang mengalami autisme.Kelahiran di Indonesia enam juta per tahun , maka jumlah penyandang autisme di Indonesia , bertambah 0,15% atau 6.900 pertahun. Jumlah anak penderita autisme di Indonesia diperkirakan 150.000 – 200.000 anak. Jumlah anak laki-laki penderita autisme pun dapat mencapai tiga kali dibanding anak perempuan.

Solusi: Melakukan usaha rehabilitasi, Terapi Perilaku, Terapi Bicara, Terapi Okupasi, Terapi Sensory, Integration, Terapi Auditory, Terapi Vision, Senam Otak.

Tujuan: Memperbaiki ASD , SHG Anak mampu hidup seperti anak lainnya mampu mengikuti kegiatan belajar.

Terapi motorik kasar memerlukan jaringan otot dan gerakan tubuh lainnya (yang menggunakan otot-otot besar di lengan, paha, badan, dan kaki). Kegiatan motorik kasar untuk anak-anak autisme ini dapat memperkuat otot fisik dan sambil mengembangkan keterampilan pada anak . Tetapi terapi motorik kasar ini perlu secara perlahan disampaikan ke anak yang mengalami autisme, karena anak autisme pun tidak dapat secara cepat menangkap perkataan yang kita sampaikan. Dan anak akan berusaha melakukan hal terutama dalam permainan yang akan dilakukan dan motorik kasar ini sangat memberikan manfaat pada perkembangan dalam menerapkan setiap keterampilan-keterampilan yang diminati si anak sendiri. Banyak pilihan yang tersedia untuk orang tua dan para profesional terapi yang bekerja pada pemenuhan tujuan motorik kasar dalam rencana terapi anak yang mengalami autisme. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu :

Beberapa terapi yang dilakukan dengan motorik halus adalah kemampuan seorang anak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian gerak dan kemampuan memusatkan perhatian biasanya pada jari-jari tangan. Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat contohnya pada permainan Pinch (jepitan baju), Grasp (kekuatan menggenggam), Threejaw Chuck (memegang pensil secara tepat) dan lain-lain. Anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya.

(6)

Faktor diagnostik dan terapi idealnya terapi diberikan sedini mungkin dan melibatkan beragam profesi keahlian. Tidak mudah membuat diagnosis dini untuk ASD, terutama bila dokternya belum banyak pengalaman. Autisme bukan gangguan perilaku semata, tapi ada sebab fisik yang mendasarinya dari sistem pencernaan, sistem imun, sehingga diperlukan terapi untuk pengobatan fisiknya.

Metode yang diperlukan untuk menyembuhkan anak yang mengalami autisme dan juga diperlukan terapi, yaitu :

1. Metode Lovaas

Terapi ini paling banyak dipakai di Indonesia saat ini. Anak diberi pelatihan khusus dengan metode reward and punishment. Terapis meminta anak melakukan sesuatu tindakan yang spesifik dan konkret, jika anak menurut akan diberi hadiah yang berarti untuknya. Jika tidak menurut, tidak diberi apa-apa. Permintaan terapis ini diulangi sampai berhasil. Tetapi tidak boleh terlalu terus-menerus menggunakan dengan cara seperti ini,karena dapat memberikan suggesti pada anak untuk mengerjakan sesuatu demi mendapatkan barang, bukan untuk sebagai kemauan diri sendiri.

2. Terapi Okupasi

Tujuannya untuk melatih motorik halus,pada umumnya perkembangan motorik halus anak yang mengalami autism. Gerakannya kaku. Mereka sulit memegang pensil atau sendok salah satu nya three jaw chucks. Terapi ini akan melatih otot-otot motorik halus agar anak autisme bisa menjadi mandiri

3. Terapi Fisik

Selain motorik halus, anak autisme juga terganggu pada motorik kasarnya yakni gerakan-gerakan besar. Hal ini karena perkembangan ototnya tidak normal. Keseimbangan anak autisme kurang baik, sehingga mereka kadang berjalan dengan kaku, gerakan patah-patah seperti robot. Biasanya anak akan diajari membangun koordinasi otot-otot misalnya: duduk, berguling, menendang, menangkap bola dan lain-lain.

4. Terapi Visual

Pada umumnya anak autisme lebih mudah belajar secara visual dengan cara melihat. Hal inilah yang dijadikan dasar uji mengembangkan pembelajaran dengan sistem komunikasi bergambar. Misalnya dengan : pengenalan bentuk- bentuk binatang, buah dan gerakan lewat gambar.

5. Terapi Integrasi

Sensasi Terapi ini dapat merangsang koneksi sinapstik yang lebih kompleks. Terapi ini adalah gabungan terapi okupasi dan fisik. Biasanya anak akan dibantu menerapkan kemampuan sesuai dengan keperluan. Misalnya menatur gerak secara tepat ( kapan saatnya duduk, lari dan melompat).

6. Terapi Wicara

Melatih bicara anak dalam komunikasi 2 arah, menyangkut dengan bahasa artikulasi, suara, irama kelancaran. Yang secara awal dengan bahasa ibu, dan dengan artikulasi membantu anak yang mengalami autisme dalam pembicaraan ucapan, contohnya kata "BIRU" diucapkan oleh si anak menjadi

(7)

"ILU" pengoreksian artikulasi ini dibutuhkan terapi wicara dan menjadi jelas seperti pada perkataan orang pada umumnya.

2.4 SWOT

Strength

Memberikan layout yang menarik bagi target.

• Menggambarkan visualisasi anak yang memberikan kesan fun bagi orang tua yang membaca buku permainan yang mengembangkan anak autisme.

• Memberikan sekaligus tatacara permainan dan info manfaat dari anak autisme.

Membangun interaksi antar orang tua dengan anak.

• Melatih motorik halus, motorik kasar, akurasi, pada anak yang mengalami autisme dengan buku display permainan.

Weakness

• Kurangnya niat dari kalangan masyarakat apabila lingkungannya tidak ada yang mengalami autisme.

Lebih percaya organisasi autisme dibandingkan buku yang akan dipublish.

Opportunities

• Zaman yang semakin maju, kesadaran akan design pun dirasakan dari segi membaca yang tidak membuat mata lelah, dan illustrasi / foto yang memberikan kesan yang lebih menarik.

• Memungkinkan permainan anak yang mengalami autisme terlihat lebih menyenangkan dibanding apa yang dialami anak autisme itu sendiri.

Threats

• Yang menginginkan buku ini hanya lingkungan yang orang tua menghadapi kondisi anak autisme / organisasi yang sedang menghandle autisme.

(8)

2.4

KESIMPULAN

• Dengan adanya buku ini dapat membuat masyarakat lebih terbuka pikirannya mengenai pengetahuan jenis permainan tentang anak autisme. Dengan buku permainan yang mengembangkan anak autisme ini menjadi panutan bagi orang tua untuk bermain dengan anaknya supaya ada interaksi antar keluarga. Sehingga pemikiran dari autisme yang biasa masyarakat pikirkan dari negatif menjadi lebih dilihat pada pandangan secara positif.

• Memberikan pelatihan permainan untuk anak dalam permainan yang dibuat dalam buku ini.

Referensi

Dokumen terkait

• Setelah munculnya model permainan elektronik yang berasal dari negara asing, kesadaran anak-anak pada permainan tradisional kian memudar • Merupakan media publikasi buku,

Psikografi : Anak – anak yang senang bermain video game, mempunyai sikap terbuka dengan hal baru, menyukai tantangan, tidak takut untuk mencoba, berorientasi pada pembelajaran

Anak lebih tertarik pada bentuk dibandingkan elemen lainnya, hal ini terbukti dari antusiasme anak terhadap buku pop up yang bersifat 3D, yaitu dalam arti buku tersebut

Kekuatan dari animasi pendek ini adalah cerita yang dalam mengenai hubungan ayah dan anak, bagaimana kita melihat perspektif dari orang tua bukan dari anak

Berangkat dari teori bahwa kebahagiaan tak dapat dibeli dan bahwa kebahagiaan seorang anak biasanya hanya seputar bersama-sama dengan orang tua maupun keluarga,

Moeslichatoen memberikan batasan tentang permainan yaitu “apabila seorang anak menggunakan mainan dengan cara yang bebas tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya,

 Sistem permainan memaksa para pemain untuk mempelajari baik-baik dunia dalam game dengan bermain, menjadikan para pemain lebih ahli secara bertahap dan memahami cerita

Animasi ini mengajarkan menggunakan karakter tangan yang besar yang menjelaskan pembelajaran kepada anak laki-laki dan anak perempuan yang sedang bermain. Dalam animasi ini