• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Rika Maya Sari Lubis (2010) skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Pakaian Wanita di Pasar Kota Tanjung Morawa. Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Utara”. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis dan mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang pakaian wanita di pasar Kota Tanjung Morawa yang menggunakan metode analisis linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan yang positif dan signifikan antara besarnya modal sendiri terhadap tingkat pendapatan pedagang pakaian wanita di pasar Kota Tanjung Morawa, besarnya pengaruh tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien regresi sebesar 0,400. artinya jika modal sendiri naik sebesar satu rupiah maka akan meningkatkan jumlah pendapatan pedagang pakaian wanita di pasar Kota Tanjung Morawa sebesar Rp. 400. Selanjutnya ada hubungan yang signifikan antara besarnya curahan pengalaman berdagang terhadap tingkat pendapatan pedagang pakaian wanita di pasar Kota Tanjung Morawa, besarnya pengaruh tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien regresi sebesar 0,145. Artinya jika pengalaman berdagang naik atau lebih lama maka akan meningkatkan jumlah pendapatan pedagang pakaian wanita sebesar Rp. 145 di pasar Kota Tanjung Morawa.

B. Landasan Teori 1. Pendapatan

Pendapatan merupakan faktor terpenting bagi setiap masyarakat khususnya bagi pedagang, pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup suatu usaha. Kemampuan suatu usaha untuk membiayai semua kegiatan yang

(2)

9

mendukung berkelanjutan suatu usaha sangat berpengaruh dengan seberapa besar pendapatan usaha tersebut diperoleh.

Pendapatan merupakan uang bagi sejumlah pelaku usaha yang telah diterima oleh suatu usaha dari pembeli sebagai hasil dari proses penjualan barang ataupun jasa. Pendapatan atau dapat disebut dengan keuntungan ekonomi merupakan pendapatan total yang diperoleh pemilik usaha setelah dikurangi biaya produksi (Sukirno, 2005:37). Pendapatan dapat juga disebut income dari seseorang yang diperoleh apabila terjadi transaksi antara pedagang dengan pembeli dalam suatu kesepakatan harga bersama.

Sektor produksi ini membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produk dengan harga yang berlaku di pasar faktor produksi. Harga faktor produksi di pasar faktor produksi (seperti halnya barang-barang di pasar barang) yang ditentukan oleh tarik menarik, antara penawaran dan permintaan. Suparmoko (2000:179), pendapatan seorang warga masyarakat ditentukan oleh :

a. Jumlah faktor-faktor produksi yang dimiliki seorang pedagang yang didapat dari hasil-hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu dan warisan atau pemberian.

b. Harga per unit dari masing-masing bidang produksi. Harga-harga ini ditentukan oleh pengaruh penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi. Menurut Suparmoko (2000:179), secara garis besar pendapatan digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan yaitu:

a. Gaji dan Upah

Imbalan yang diperoleh sesudah orang tersebut melakukan pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu singkat (satu hari, satu minggu, maupun satu bulan).

(3)

10

b. Pendapatan dari usaha sendiri

Merupakan nilai total dari hasil produksi yang dikurang dengan biaya-biaya yang dibayar, dan usaha ini merupakan usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga kerjanya berasal dari anggota keluarga sendiri dan semua biaya ini biasanya tidak diperhitungkan.

c. Pendapatan dari usaha lain

Pendapatan yang diperoleh tanpa mengerahkan tenaga kerja, dan ini biasanya merupakan pendapatan sampingan antara lain:

1) Pendapatan dari hasil menyewakan aset yang dimiliki, seperti; rumah, hewan ternak dan barang-barang lainnya.

2) Bunga dan uang

3) Bantuan dari pihak lain 4) Pendapatan dari pensiunan

Salah satu dari beberapa konsep revenue yang digunakan dalam penelitian ini adalah total revenue (TR). Menurut Boediono (2000) total revenue adalah penerimaan total produsen dari hasil penjualan outputnya. Total revenue didapatkan dari jumlah output yang terjual dikali harga barang yang terjual. Secara teoritis pendekatan terhadap analisis pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = TR – TC Keterangan :

Y : Income

TR : Total Revenue (pendapatan kotor total/omzet penjualan) TC : Total Cost (biaya yang dikeluarkan total)

(4)

11

Total Cost merupakan keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan.

Biaya ini didapat dengan menjumlahkan biaya tetap total dengan biaya variabel total yang rumusnya dapat ditulis sebagai berikut :

TC = TFC + TVC Keterangan :

TFC = Total Fixed Cost (biaya tetap total) TVC = Total Variable Cost (biaya variabel total)

Total Revenue merupakan hasil kali dari jumlah barang yang dihasilkan

dengan harga yang rumusnya dapat ditulis sebagai berikut : TR = P × Q

Menurut Boediono (2000) juga, ada 3 macam posisi kemungkinan pada tingkat output keseimbangan pada seorang produsen, yaitu :

1) Memperoleh laba apabila pada tingkat output tersebut besarnya penerimaan total (TR) lebih besar dari sebuah pengeluaran untuk biaya produksi baik biaya produksi tetap (FC) maupun biaya produksi tidak tetap (VC). Kondisi ini produksi tetap meneruskan usahanya.

2) Tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi TR = TC. Lebih baik meneruskan usahanya disbanding menutup usahanya.

3) Menderita kerugian TR < TC. Ada beberapa kemungkinan bagi produsen, tergantung besar kecilnya kerugian yang ditanggung oleh produsen relative dibandingkan dengan besarnya biaya produksi tetap perusahaan.

(5)

12

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang

Didalam suatu usaha, selalu diikuti dengan pendapatan yang akan diperoleh. Sehingga faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap pendapatan pedagang adalah:

a. Jam Berdagang

Jam berdagang merupakan jangka waktu yang digunakan untuk menjalankan usaha. Yang dimaksud jam berdagang didalam penelitian ini adalah waktu yang digunakan oleh pedagang pakaian di Pasar Maron Kabupaten Probolinggo dalam menjual barang dagangannya setiap harinya. Jam kerja tergantung pada jenis dagangan yang dijualbelikan seperti situasi dan keadaan di pasar, keramaian, cuaca dan lain sebagainya yang mempengaruhi jam kerja pedagang.

Jones G dan Bondan Supratilah membagi lama jam kerja seseorang dalam satu minggu menjadi tiga kategori yakni :

1) Seseorang yang bekerja kurang dari 35 jam perminggu, maka dia dikategorikan bekerja dibawah jam normal.

2) Seseorang yang bekerja antara 35 sampai 44 jam perminggu, maka dikategorikan bekerja pada jam kerja normal.

3) Seseorang yang bekerja diatas 45 jam perminggu, maka ia dikategorikan bekerja dengan jam kerja panjang.

Jam kerja erat kaitannya dengan pendapatan seseorang, pada pedagang sector informal ditentukan dengan kualitas barang atau jasa dagangan yang terjual. Hubungan jam kerja dengan pendapatan juga didasari oleh teori alokasi waktu kerja didasarkan pada teori utilitas yaitu bekerja atau tidak bekerja untuk menikmati waktu luangnya. Bekerja berarti akan menghasilkan upah yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan. Dalam pendekatan mikro, tingkat upah memiliki peran langsung dengan jam kerja yang

(6)

13

ditawarkan, pada kebanyakan pekerja upah merupakan suatu motivasi dasar yang mendorong seseorang untuk bekerja, sehingga hubungan antara upah dengan jam kerja adalah positif, dimana pada saat jam kerja yang ditawarkan semakin tinggi maka upah yang diterima juga semakin tinggi.

b. Modal Awal

Modal adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi untuk menambah pendapatan. Modal terdiri dari uang atau barang yang bersama faktor produksi tanah dan tenaga kerja yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa baru. Modal merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam menentukan tinggi rendahnya pendapatan, namun bukan merupakan faktor satu-satunya yang dapat meningkatkan pendapatan (Suparmoko, 1986 dalam Firdausa, 2012). Didalam usaha, modal memiliki hubungan yang sangat kuat denga berhasil tidaknya suatu usaha yang tlah didirikan. Modal dapat dibagi menjadi:

1. Modal Tetap

Modal tetap adalah modal yang memberikan jasa untuk proses produksi dan tidak terpengaruh pleh besar kecilnya jumlah produksi.

2. Modal Lancar

Modal lancer adalah modal yang hanya memberikan jasa sekali daja dalam proses produksi, bisa dalam bentuk bahan baku dan kebutuhan lainnya sebagai penunjang usaha tersebut.

Modal merupakan nyawa dalam berbisnis, tanpa modal bisnis sangat susah unttuk maju dan berkembang lebih pesat lagi. Inilah yang menjadi permasalahan bagi para pedagang dengan modal awal sangat minim bisa dipastikan usahanya akan susah berkembang, berbeda dengan usaha yang memiliki modal awal besar pasti usahanya akan cepat berkembang karena modal sangat berpengaruh bagi pendapatan pedagang.

(7)

14

Modal dapat diperoleh melalui berbagai cara seperti : 1) Modal sendiri

Menurut Mardiyatmo (2008) mengatakan bahwa modal sendiri adalah modal yang diperoleh dari pemilik usaha itu sendiri. Modal itu sendiri diperoleh dari hasil menabung, sumbangan, hibah ataupun warisan.

Kelebihan menggunakan modal sendiri adalah ;

a) Tidak ada tanggungan membayar bunga atau biaya administrasi sehingga tidak menjadi beban dalam berdagang.

b) Tidak bergantung pada pihak manapun artinya perolehan dana diperoleh dari setoran pemilik modal.

c) Tidak memerlukan persyaratan yang rumit dan memakan waktu yang relative lama.

d) Tidak ada tanggung jawab harus mengembalikan modal.

2) Modal Asing

Modal asing merupakan modal pinjaman yang diperoleh dari pihak luar perusahaan. Keuntungan dari modal asing ini akan mendapatkan modal pinjaman dalam jumlah banyak, dan dengan menggunakan modal pinjaman biasanya timbul motivasi dari pihak manajemen untuk mengerjakan usaha dengan sungguh-sungguh agar usahanya tidak mengalami kebangkrutan dan dapat bertanggung jawab mengembalikan uang yang sudah dipinjam.

Dana asing dapat diperoleh dengan :

a) Pinjaman dari perbankan, baik dari bank konvensional maupun bank syariah. Ataupun bank swasta maupun pemerintah atau bank asing. b) Pinjaman dari lembaga keuangan seperti pegadaian, modal venture,

(8)

15

c) Pinjaman dari perusahaan non keuangan.

Peminjaman non perbankan memiliki kelebihan yaitu jumlahnya tidak terbatas artinya perusahaan dapat mengajukan modal pinjaman keberbagai sumber. Motivasi usaha tinggi karena kebalikan dari menggunakan modal sendiri.

3) Modal Patungan

Modal petungan merupakan modal yang didapat dengan cara membagi modal yang diperlukan kepada orang yang mau bekerjasama dengan cara menggabungkan modal sendiri dengan modal satu orang teman atau beberapa orang.

Pada umumnya sumber permodalan dalam usaha kecil berasal dari : 1. Uang tabungan sendiri

2. Dari teman atau relasi 3. Pinjaman barang dagangan 4. Kredit bank

5. Laba yang diperoleh

c. Pengalaman Berdagang

Pengalaman berdagang menimbulkan suatu pengalaman dalam berusaha, pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Poniwati, 2008). Seseorang yang bekerja lebih lama akan memiliki strategi khusus ataupun cara tersendiri dalam berdagang karena memiliki pengalaman berdagang yang lebih banyak dalam menekuni usahanya.

Pengalaman berdagang merupakan ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas suatu pekerjaan dan melaksanakannya dengan baik. Lamanya seorang pelaku usaha menekuni bidang usahanya akan memberi pengaruh terhadap kemampuan

(9)

16

profesionalnya. Semakin lama seseorang menekuni bidang usaha perdagangan akan semakin meningkatkan pengetahuan tentang selera ataupun perilaku konsumen. Keterampilan dalam berdagang yang semakin bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang dijaring. Semakin lama usaha seseorang dalam membuka usaha maka semakin terampil melakukan pekerjaan dan semakin sempurna pola berpikir dan sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu lama usaha yang dijalani seseorang akan meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan usaha tersebut sehingga akan dapat meningkatkan produktifitas usaha tersebut.

3. Usaha Kecil di Sektor Informal

Menurut Rachbini dan Hamid (2006:45), sektor informal berfungsi sebagai penyediaan barang dan jasa terutama bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di kota-kota. Pelaku sektor ini pada umumnya berasal dari desa-desa dengan tingkat pendidikan dan keterampilan rendah serta sumber-sumber yang terbatas. Pada dasarnya suatu kegiatan sektor informal harus memiliki suatu lokasi yang tepat agar dapat memperoleh keuntungan (profit) yang lebih tinggi dari tempat lain dan untuk mencapai keuntungan yang maksimal, suatu kegiatan harus efisien. Rachbini dan Hamid (2006:45) berpendapat bahwa keputusan-keputusan penentuan lokasi yang memaksimumkan penerimaan biasanya diambil bila memenuhi kriteria-kriteria pokok :

a. Kemungkinan tempat yang memberi pertumbuhan jangka panjang akan menghasilkan keuntungan yang layak.

b. Tempat yang luas lingkupnya untuk kemungkinan perluasan unit produksi. Jadi, sektor informal mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, artinya bahwa kegiatan yang paling besar dijalankan oleh penduduk yang pendapatannya rendah.

(10)

17

Di Indonesia, sudah ada kesepakatan tentang 11 ciri pokok sektor informal sebagai berikut :

a. Kegiatan usaha tidak tertata dengan baik karena timbulnya unit usaha yang tidak memanfaatkan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sector formal. b. Pada umumnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha.

c. Pola kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti lokasi maupun jam kerja. d. Kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi tidak sampai ke

pedagang kaki lima.

e. Mudahnya unit usaha keluar masuk dari satu sub-sektor ke sub-sektor lainnya. f. Teknologi yang digunakan bersifat primitif.

g. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil.

h. Pendidikan yang diperlukan untuk menjalankan usaha tidak memerlukan pendidikan formal karena pendidikan yang didapat dari pengalaman sambil bekerja.

i. Pada umumnya unit usaha termasuk golongan one-man enterprise dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.

j. Sumber dana modal usaha yang umumnya berasal dari tabungan sendiri atau lembaga keuangan yang tidak resmi.

k. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat desakota berpenghasilan rendah dan berpenghasilanmenengah.

Menurut Firdausy (2005), pengertian pedagang kaki lima adalah kegiatan sektor marginal (kecil-kecilan) yang mempunyai ciri sebagai berikut :

a. Pola kegiatan tidak teratur baik dalam hal waktu, modal, maupunpenerimaan. b. Tidak tersentuh oleh peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang telah

(11)

18

c. Modal, peralatan dan perlengkapan maupun omset biasanya kecil dan diusahakan dasar hitung harian.

d. Berpendapatan rendah dan tidak menentu.

e. Tidak mempunyai tempat yang tetap dan tidak terikat dengan usaha-usahayang lain.

f. Umumnya dilakukan oleh dan melayani golongan masyarakat yang penghasilannya rendah.

g. Tidak memerlukan keahlian dan keterampilan khusus sehingga secara luas dapat menyerap bermacam-macam tingkatan tenaga kerja.

h. Umumnya tiap-tiap satuan usaha yang memperkerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan keluarga atau kenalan yang berasal dari daerah yang sama. i. Tidak mengenal sistem perbankan, pembukuan, perkreditan dan sebagainya.

C. Kerangka Pemikiran

Jika tujuan pembangunan yang ditetapkan adalah peningkatan pendapatan, maka pertama-tama yang harus diketahui adalah keadaannya pada saat itu apakah menguntungkan atau akan sebaliknya, kemudian target di masa yang akan datang perlu ditetapkan. Teori mengenai variabel pendapatan tidak terlepas dari faktor-faktornya seperti jam/waktu berdagang, modal yang dimiliki seorang pedagang dan pengalaman berdagang/jam terbang di bidang usaha kecil yang digunakan dalam proses kegiatan tersebut saling berkaitan (Suparmoko, 2000:178).

Hal ini selaras dengan sifat-sifat fungsi produksi, bahwa semakin banyak

input yang digunakan akan semakin banyak juga output yang dihasilkan. Berdasarkan

faktor-faktor seperti jam/waktu berdagang, modal dagang dan pengalaman berdagang sebagai variabel bebas memiliki pengaruh terhadap tingkat pendapatan pedagang kecil. Berikut ini adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai alur pikir penelitian dibawah ini :

(12)

19

Sumber : Suparmoko (2000:178), Diolah (2019) Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

D. Hipotesis

Ada pengaruh signifikan antara jam berdagang, modal, dan pengalaman berdagang yang berpengaruh terhadap pendapatan pedagang pakaian di Pasar Maron Kabupaten Probolinggo.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan : a. Jam berdagang (𝑋1) b. Modal (𝑋2) c. Pengalaman Berdagang (𝑋3) Pendapatan Pedagang (Y)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk membuat Website dinamis dan interaktif sebagai media informasi Bengkel Murad yang bergerak dibidang jasa service mobil

Penelitian tindakan kelas ini difokuskan pada peningkatan kemampuan mahasiswa calon guru kimia dalam melakukan Praktikum Kimia Dasar dengan strategi learning cycle

Segala puji syukur kupanjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-nya, sehingga saya dapat menyelesaikan rangkaian pengerjaan skripsi yang merupakan

Agar perusahaan dapat berkembang daan meningkatkan kinerja karyawannya hingga kerja karyawan yang sangat baik dan produktivitas hasil yang di perolehnya, serta

Telah dilakukan penelitian uji penurunan kadar glukosa darah ekstrak daun kubis (Brassica oleracea var. Capitata) terhadap tikus putih hiperglikemia dengan metode uji toleransi

[r]

Seperti halnya yang disebutkan dalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 41 bahwa akibat putusan perkawinan karena perceraian ialah : (a) baik

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id