136
HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL
BELAJAR KETERAMPILAN KOMPUTER DAN
PENGELOLAAN INFORMASI ( KKPI) SISWA
(Studi Kasus X Jurusan Akutansi SMK Nusatama Padang)
Menrisal, Etrilia Utari
Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
Email :[email protected]
ABSTRACT
Abstrak ─ Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan motivasi belajar terhadap hasil belajar keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (KKPI) siswa kelas X SMK Nusatama Padang, dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 81 orang. Variabel independen dalam penelitian ini adalah motivasi belajar. Data diperoleh dengan menggunakan angket motivasi belajar yang disusun menurut model Skala Likert. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah hasil belajar keterampilan komputer dan pengelolaan informasi. Instrumen hasil belajar dengan menggunakan tes hasil belajar dengan tipe pilihan ganda (Multiple Choice Item Test). Hasil analisis item dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel 2010 dan program IBM SPSS Statistik 21. Pada angket motivasi belajar menunjukkan bahwa dari 40 item yang diujicobakan diperoleh 30 item yang valid dan 10 item yang tidak valid, dengan nilai Corrected Item Total Correlation berkisar antara -0.162 sampai 0.785 dengan koefisien reliabilitas sebesar 0.916. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh koefisien korelasi r = 0.456. Uji signifikan menggunakan uji t diperoleh nilai thitung dengan df = n – 2 pada taraf signifikansi 0.05 dengan ketentuan thitung > ttabel, kemudian dibandingkan dengan ttabel sehingga diperoleh thitung 4.551 > ttabel
1.664, berarti H0 ditolak dan H1 diterima, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang
positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang.
Kata Kunci : Motivasi, Hasil Belajar, KKPI
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. Menurut UU No.20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh sebab itu pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengingat pentingnya peranan pendidikan berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami pelajaran, seperti pembaharuan kurikulum, penataran dan pelatihan guru sesuai dengan bidang studi, pengadaan buku ajar, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Peningkatan itu dilakukan untuk seluruh mata pelajaran termasuk mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi ( KKPI) pada SMK.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat. Pada dasarnya SMK memiliki banyak jurusan
137 / Program Keahlian. Lulusan SMK dituntut untuk bisa langsung terjun ke dunia kerja. Khususnya di kota Padang, banyak sekali terdapat SMK yang bermutu dan tidak kalah bersaing dengan SMK yang ada di luar kota Padang, baik SMK Negeri ataupun SMK Swasta. Salah satu contoh SMK di kota Padang adalah SMK Nusatama Padang.
SMK Nusatama Padang merupakan salah satu dari sekian banyak SMK Swasta yang bermutu di kota Padang. Hal ini dibuktikan dari berbagai prestasi yang diraih oleh siswanya baik dari segi akademis maupun non-akademis. SMK Nusatama Padang terletak di jalan Jenderal Sudirman No. 9A Padang. Pada SMK Nusatama Padang terdapat 4 Jurusan/Program Keahlian yaitu Administrasi Perkantoran, Akutansi, Akomodasi Perhotelan, dan Usaha Perjalanan Pariwisata. Salah satu mata pelajaran yang ada di dalam Kurikulum KTSP adalah mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI).
KKPI adalah salah satu mata pelajaran adaptif yang diberikan kepada semua bidang keahlian di Sekolah Menengah Kejuruan (Kurikulum 2004). Sedangkan pada SLTA dan SMP dikenal dengan nama mata pelajaran TIK. Mata pelajaran ini sebagai dasar pengetahuan teknologi informasi, dengan demikian generasi masa depan dapat mengikuti perkembangan global. KKPI adalah kemampuan minimal yang harus dibekalkan kepada Insan Indonesia (siswa SLTA atau sederajat) agar mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk mengelola informasi. Mengingat pentingnya mata pelajaran KKPI, maka diperlukan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar KKPI. Belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang relative permanen akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya. Belajar adalah suatu proses usaha yang kompleks yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan (dalam Azhar Arsyad 2002:1). Belajar juga merupakan proses yang berkesinambungan yang mengubah pelajar dalam berbagai cara.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang dalam bentuk perilaku. Perilaku ini mengandung pengertian yang sangat luas, yaitu mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap dan sebagainya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.
Setelah melakukan proses pembelajaran, maka didapatkanlah hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil pengukuran dari penilaian kegiatan belajar atau proses belajar yang dinyatakan dengan simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar adalah perubahan secara menyeluruh terhadap tingkah laku yang ada pada diri setiap individu.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar seorang individu, mulai dari faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor tersebut adalah motivasi belajar yang dimiliki individu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2005). Dorongan belajar merupakan bentuk sebuah motivasi untuk belajar yang dapat mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar. Dorongan tersebut berasal dari kondisi psikologis seseorang. Jadi, motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong sesorang untuk belajar. Selain itu, Minat juga merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Hudgins (1983) menyebutkan bahwa individu yang mempunyai motivasi belajar tinggi akan berusaha keras demi suksesnya belajar. Hal ini disebabkan karena individu mempunyai harapan yang besar untuk sukses serta sikap yang positif terhadap pencapaian tujuan. Apabila usaha ini membuahkan suatu hasil maka individu akan merasa puas karena semua itu diperoleh melalui suatu usaha, bukan hanya karena faktor keberuntungan
138 semata. Hasil belajar yang buruk juga disebabkan karena motivasi yang dimiliki oleh seseorang untuk belajar tergolong rendah karena kuat atau lemahnya motivasi belajar seseorang dapat mempengaruhi hasil belajarnya.
Motivasi belajar siswa kelas X SMK Nusatama Padang khususnya pada mata pelajaran KKPI masih cenderung lemah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya persentase hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang.
Tabel 1. Hasil Ujian Tengah Semester Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) Siswa Kelas X SMK Nusatama Padang dengan KKM = 75.
Sumber: Guru Mata Pelajaran KKPI Kelas X SMK Nusatama Padang
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dilihat bahwa hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang masih belum memuaskan. Secara keseluruhan ketuntasan belajar siswa belum mencapai 100% dan belum sesuai dengan apa yang diharapkan karena nilai rata-rata siswa masih banyak di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Kelas yang memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu kelas X AK1 sebesar 87.86 dengan 24 orang siswa yang tuntas dari 34 siswa, sedangkan kelas yang memiliki rata-rata terendah yaitu kelas X AK2 sebesar 62.7 dengan 13 orang siswa yang tuntas dari 34 siswa. Selama proses pembelajaran, kurangnya umpan balik (feedback) dari siswa. Kondisi ini membuktikan bahwa materi pelajaran KKPI kurang dipahami siswa kelas X sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar KKPI. Selain itu juga disebabkan karena motivasi belajar KKPI siswa masih rendah. Agar hasil belajar siswa maksimal atau sesuai dengan yang diinginkan, maka diperlukannya motivasi belajar baik itu dari dalam maupun dari luar diri seseorang tersebut. Hal ini disebabkan karena salah satu faktor pendukung dan pendorong seseorang dalam melakukan sesuatu untuk menghasilkan hasil belajar yang baik dan maksimal adalah motivasi belajar yang dimilikinya. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang motivasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Oleh sebab itu, maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) Siswa Kelas X SMK Nusatama Padang (Studi Kasus pada Jurusan Akutansi)”.
Kelas Jum-lah Sisw a Nilai Siswa yang Tuntas Siswa yang Tidak Tuntas Rata
-Rata Nilai ≥ 75 Nilai < 75
Jum-lah (% ) Jum-lah (%) XAK1 34 87.8 6 24 71 10 29 X AK2 34 62.7 13 38 21 62 X AK3 34 70.8 3 13 38 21 62 Jumlah 102 50 49 52 51
139
2. LANDASAN TEORI a. Belajar
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya (dalam Azhar Arsyad). Menurut Gagne (The Conditions of Learning 1977) belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan akibat reflex atau perilaku yang bersifat naluriah. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan (dalam Azhar Arsyad). Menurut Winkel, belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa orang tersebut telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan karena terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Interaksi yang terjadi selama proses belajar dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan belajar adalah tempat berlangsungnya kegiatan belajar yang mendapatkan pengaruh dari luar terhadap keberlangsungan kegiatan tersebut. Lingkungan yang merupakan sumber belajar memiliki pengaruh dalam proses pembelajaran.
Belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Jadi belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang harus ditempuh (dalam Oemar Hamalik,2001:29)
b. Hasil Belajar
Oemar Hamalik menyatakan hasil belajar dapat dilihat dari terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku termasuk juga perbaikan perilaku. Perubahan tersebut dapat di artikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik sebelumnya yang tidak tahu menjadi tahu.
Menurut klasifikasi Bloom dalam Sudjana, 2009:22 (dalam Anas Sudijono) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu :
1) Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. 2) Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan,
jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3) Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
Hasil belajar pada mata pelajaran KKPI adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran KKPI. Pada penelitian ini yang menjadi hasil belajar adalah nilai mid semester genap KKPI. Nilai tersebut diperoleh dari aktivitas yang dilakukan siswa selama mengikuti mata pelajaran KKPI. Kemudian nilai yang didapat akan dilaporkan dalam sebuah rapor untuk melihat kemajuan atau prestasi siswa dalam masa tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu hasil belajar bukan ukuran, tetapi dapat diukur setelah melakukan kegiatan belajar. Keberhasilan seseorang dalam mengikuti program pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar seseorang tersebut. Berhasil atau tidaknya proses belajar seorang individu dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang berasal dari dalam (internal), maupun faktor yang berasal
140 dari luar (eksternal). Faktor – Faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Munadi (dalam Rusman 2003:124) meliputi faktor eksternal dan internal.
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah: 1) Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Dalam lingkunganlah siswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan yang baik akan menunjang proses pembelajaran yang terjadi sehingga hasil yang didapatkan akan sesuai dengan yang diinginkan, begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu sangat diperlukan lingkungan yang aman dan nyaman untuk melakukan proses pembelajaran.
2) Faktor instrumental
Setiap penyelenggaraan pendidikan memiliki tujuan instruksional yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan seperangkat kelengkapan atau instrumen dalam berbagai bentuk dan jenis. Instrumen dalam pendidikan dikelompokkan menjadi: Kurikulum, Program, Sarana dan Fasilitas, serta Guru.
Sementara faktor-faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah: 1. Fisiologis
Merupakan faktor internal yang berhubungan dengan proses-proses yang terjadi pada jasmaniah.
a. Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis umunya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar individu. Siswa dalam keadaan lelah akan berlainan belajarnya dari siswa dalam keadaan tidak lelah.
b. Kondisi panca indera
Merupakan kondisi fisiologis yang dispesifikkan pada kondisi indera. Kemampuan untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasa mempengaruhi hasil belajar. Anak yang memilki hambatan pendengaran akan sulit menerima pelajaran apabila ia tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
2. Psikologis
Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri individu yang berhubungan dengan rohaniah. Faktor psikologis yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut: a) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang memerintahkan. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
b) Kecerdasan
Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan siswa untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan belajar dari pengalaman kehidupan. Kecerdasan dapat diasosiasikan dengan intelegensi. Siswa dengan nilai IQ yang tinggi umumnya mudah menerima pelajaran dan hasil belajarnya cenderung baik.
c) Bakat
Bakat merupakan kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dilatih dan dikembangkan. Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu.
d) Motivasi
Motivasi adalah suatu kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
141 e) Kemampuan kognitif
Ranah kognitif merupakan kemampuan intelektual yang berhubungan dengan pengetahuan, ingatan, pemahaman dan lain-lain.
c. Motivasi Belajar
Motivasi merupakan stimulasi atau rangsangan agar perilaku terjadi sesuai dengan arah yang dikehendaki. Menurut Mc. Donald (dalam Oemar Hamalik 2001:158), motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Nana Syaodah Sukmadinata (2003:61) istilah motivasi diartikan sebagai kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu. Kekuatan tersebut menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu untuk mendorong atau menggerakkan individu tersebut untuk mampu melakukan kegiatan mencapai sesuatu tujuan.
Siswa yang memiliki motivasi belajar akan memperhatikan pelajaran yang disampaikan, membaca materi sehingga bisa memahaminya, dan menggunakan strategi-strategi belajar tertentu yang mendukung. Selain itu, siswa juga memiliki keterlibatan yang intens dalam aktivitas belajar tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi, mencari bahan-bahan yang berkaitan untuk memahami suatu topik, dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
Motivasi belajar siswa SMK Nusatama Padang terutama pada mata pelajaran KKPI cenderung masih rendah. Hal ini bisa bisa dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa pada ujian mid semester genap. Oleh sebab itu motivasi menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam penentuan hasil belajar.
Menurut Sardiman A.M (2005:83), motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa dan tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya).
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah 4) Lebih senang bekerja mandiri.
5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
6) Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu). 7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
1. Hipotesis Penelitian
Sehubungan dengan permasalahan penelitian ini yaitu mengenai ada tidaknya hubungan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMK Nusatama Padang pada mata pelajaran KKPI, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H0 : Tidak Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi.
H1 : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi.
142
c. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Korelasional adalah suatu penelitian untuk menentukan tingkat hubungan antara variabel penelitian yang berbeda serta besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat.
Penelitian korelasional ini dipilih karena peneliti ingin menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan). Disamping itu, penelitian korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan antara variabel-variabel yang diteliti.
Variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah motivasi sebagai variabel X dan Hasil Belajar sebagai variabel Y.
2.1 Populasi dan Sampel
Riduwan (2010:54) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Nusatama Padang pada mata pelajaran KKPI Jurusan Akutansi.
Tabel 2. Populasi Penelitian
No Kelas Jumlah Siswa 1 X AK1 34 2 X AK2 34 3 X AK3 34 Jumlah 102
Sumber: Guru Mata Pelajaran KKPI Kelas X SMK NusatamaPadang.
Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik Proposional Random Sampling atau acak proposional, yaitu teknik pengambilan sampel yang langsung dilakukan pada setiap unit sampling yang merupakan bagian terkecil untuk menentukan besarnya sampel. Untuk itu dipakai rumus Taro Yamane dalam Riduwan (2010:65) sebagai berikut:
=
Keterangan:
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
d = tingkat kesalahan dalam memilih anggota sampel yang ditolerir (tingkat kesalahan yang diambil dalam sampling adalah sebesar 5%).
Kemudian dilakukan proporsional masing-masing sampel dengan menggunakan rumus dari Sugiyono yang dikutip oleh Riduwan (2010:66) sebagai berikut:
= Keterangan:
ni = Jumlah sampel menurut stratum n = Jumlah sampel seluruhnya
143 Ni = Jumlah populasi menurut stratum
N = Jumlah populasi seluruhnya
Tabel 3. Sampel Penelitian No Kelas Jumlah Siswa Jumlah Sampel 1 X AK1 34 27 2 X AK2 34 27 3 X AK3 34 27 Jumlah 102 81
Sehingga ni akan menghasilkan jumlah sampel per kelas dengan jumlah sampel per kelas tergantung kepada jumlah siswa per kelas, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 81 orang dari keseluruhan populasi 102 siswa.
3.1 Instrumen Penelitian
Instrumen untuk pengumpulan data dalam penelitian ini ada dua macam yaitu:
a. Metode Angket/Kuesioner
Angket/Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaan pengguna (dalam Riduwan,2010:71). Metode angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar. Skala Likert menurut Riduwan (2010:87) yaitu “Skala Likert
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial”.
Tabel 4. Kriteria Bobot Nilai Skala Likert Pilihan Jawaban Skor
Selalu 5 Sering 4 Kadang-Kadang 3 Jarang 2 Tidak Pernah 1 Sumber: Riduwan (2010:87) b. Metode Tes
Riduwan (2010:76) Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pegetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Metode tes ini digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar KKPI siswa kelas X jurusan Akutansi SMK Nusatama Padang. 4.1 Pengembangan Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode (Suharsimi Arikunto, 2006:149). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang telah dipersiapkan untuk mendapatkan berbagai data mengenai berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa SMK Nusatama Padang terhadap hasil belajar.
a. Penyusunan Instrumen Angket
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket mengenai motivasi belajar siswa kelas X Jurusan Akutansi SMK Nusatama Padang tahun.
144 Penyusunan instrumen yang berbentuk angket dilakukan melalui beberapa tahap yaitu: Menentukan indikator variabel dan membuat butir-butir pertanyaan. Butir-butir angket disusun berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut:
Tabel 5. Kisi-Kisi Angket Motivasi Belajar Variabe l Indikator No.Item Motivas i Belajar (X) Tekun dalam menghadapi tugas 1,2,3,4,5 Ulet dalam menghadapi kesulitan 6,7,8,9, 10 Menunjukkan minat 11,12,13 ,14,15 Senang bekerja mandiri 16,17,18 ,19,20 Cepat bosan pada tugas-tugas rutin 21,22,23 ,24,25 Dapat mempertahank an pendapatnya 26,27,28 ,29,30 Tidak mudah melepas hal yang diyakini itu 31,32,33 ,34,35 Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal 36,37,38 ,39,40
b. Uji Coba Instrumen Angket Motivasi Belajar
Terdapat dua hal pokok yang berkaitan dengan pengujian instrument angket yaitu kesahihan (validitas) dan reliabilitas.
1) Validitas Instrumen
Arikunto dalam Riduwan (2010:97) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono dalam Riduwan, 2010:97).
2) Reliabilitas Instrumen
Suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen tersebut ketika dipakai untuk mengukur suatu gejala yang sama dalam waktu yang berlainan akan menunjukan hasil yang sama. Dalam menguji reliabilitas instrumen dipergunakan rumus Alpha, rumus ini digunakan karena angket atau kuisioner yang dipergunakan dalam penelitian ini tidak terdapat jawaban yang bernilai salah atau nol.
145
c. Instrumen Hasil Belajar
Dalam tes ini pengukuran yang digunakan yaitu apabila soal yang dijawab dengan benar maka skornya 1 dan bila soal yang dijawab salah maka skornya 0. 1) Uji Validitas Item
Pada taraf signifikan 5 %, apabila rhitung > rtabel maka item tes tersebut dinyatakan valid dan apabila rhitung < rtabel item tes tersebut tidak valid dan dinyatakan gugur. 2) Uji Reliabilitas
Pada taraf signifikan 5 %, item soal dikatakan reliabilitas jika harga r11 > rtabel. 3) Indeks Kesukaran Soal
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Tingkat kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal.
4) Indeks Daya Beda Soal
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (Mendiskriminasikan) antara testee yang berkemampuan tinggi dengan testee berkemampuan rendah (Anas Sudijono, 2011:385). Daya pembeda item menunjukkan bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lainnya berbeda-beda.
5.1 Teknik Analisis Data
Persyaratan uji analisis adalah sebagai berikut: a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data berasal dari populasi terdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas kedua data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S) yang telah diprogram dalam program SPSS versi 21 (Agus Irianto, 2010:273) .
Taraf signifikansi yang digunakan sebagai dasar menolak atau menerima keputusan normal atau tidaknya suatu distribusi data adalah α = 0,05. Jika signifikansi > 0,05 maka distribusi data adalah normal. Jika signifikansi < 0,05 maka distribusi data adalah tidak normal.
b. Uji Linearitas
Uji Linearitas regresi digunakan untuk mengukur derajat keeratan hubungan, memprediksi besarnya arah hubungan, serta meramalkan besarnya variable dependen jika variable independen diketahui (Riduwan, 2010:220).
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Test for Linearity pada taraf signifikansi (0.05). Riduwan (2010:129) menyatakan bahwa:
Jika Fhitung < Ftabel , maka data dapat dikatakan Linear. Jika Fhitung > Ftabel. maka data dapat dikatakan Tidak Linear.
Uji ini dilakukan dengan Program SPSS Versi 21. c. Uji Hipotesis
Uji Hipotesis dilakukan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, dengan menggunakan analisa Korelasi Product Moment dan Uji Signifikansi (Riduwan,2010:98).
1) Korelasi Product Moment
Digunakan untuk menyatakan berapa besar hubungan motivasi dan hasil belajar. 2) Uji Signifikansi
Penghitungan ttabel dengan α = 0,05 dan derajat kebebasannya yaitu dk = n - 2. Kriteria dari pengujian ini adalah jika thitung > ttabel pada taraf signifikansi 0,05, maka H0 ditolak. Dan sebaliknya jika thitung < ttabel, maka H0 diterima.
146 3) Uji Koefisien Determinasi R2
Digunakan untuk mengetahui besar kecilnya kontribusi yang diberikan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat.
4. HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Data
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari - Maret 2015 pada siswa kelas X Jurusan Akutansi di SMK Nusatama Padang. Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti membuat kisi-kisi angket motivasi belajar dan tes hasil belajar Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI).
Data penelitian diolah dengan program IBM SPSS Statiscics 21. Penelitian ini terdiri dari dua variable yaitu motivasi belajar (X) dan hasil belajar (Y). Deskripsi data ini dilakukan untuk menggambarkan keadaan masing-masing variabel yang mencakup mean, median, mode, standart deviasi, variance, skor minimal, skor minimal, dan skor total.
Tabel 6. Perhitungan Statistik Dasar Pengolahan Data Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa kelas X Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (pengolahan dengan menggunakan IBM SPSS Statiscics 21)
Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan IBM SPSS Statiscics 21 dan
Microsoft Excel 2010 relatif sama yaitu untuk motivasi belajar siswa diperoleh nilai
mean 109.01, median 107, mode 90, standar deviasi 14.147, variance 200.137, skor minimum 89, skor maximum 150 dan total 8830. Untuk data hasil belajar KKPI diperoleh nilai mean 83.38, median 84, mode 80, standar deviasi 10.067, variance
101.339, skor minimum 60, skor maximum 100 dan total 6754. Dapat dilihat pada tabel berikut. Jadi dapat disimpulkan bahwa data yang di peroleh tersebut merupakan deskripsi data yang sebenarnya karena data yang diperoleh relative sama dan tidak terdapat perbedaan. Sehingga data yang diperoleh bisa menjadi panduan untuk pengolahan data selanjutnya.
1. Uji Persyaratan Analisis
Teknik pengujian hipotesis penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis korelasi. Analisis ini dapat dilakukan bila memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: uji normalitas masing masing data, uji linearitas dan uji hipotesis.
Motivasi Belajar Siswa Hasil Belajar N Valid 81 81 Missing 0 0 Mean 109.01 83.38 Median 107 84 Mode 90 80 Std. Deviation 14.147 10.067 Variance 200.137 101.339 Range 61 40 Minimum 89 60 Maximum 150 100 Sum 8830 6754
147
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji
Kolmogorov Smirnov (Uji K-S). Data dikatakan normal jika signifikansi lebih besar dari alpha (0.05).
Tabel 7. Rangkuman Uji Normalitas Variabe l Sig. alph a Ket. Motivas i Belajar 0.69 9 0.05 Normal Hasil Belajar KKPI 0.28 6 0.05 Normal
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai signifikansi motivasi belajar siswa sebesar 0.699 lebih besar dari alpha 0.05, maka motivasi belajar berdistribusi normal dan nilai signifikansi hasil belajar KKPI sebesar 0.286 lebih besar dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang di uji berdistribusi normal. Karena signifikansi untuk seluruh variabel lebih besar dari 0.05 maka data semua variabel berdistribusi normal.
b. Uji Linieritas
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Test for Linearity pada taraf signifikansi (0.05). Riduwan (2010:129) menyatakan bahwa:
Jika Fhitung < Ftabel , maka data dapat dikatakan Linear. Jika Fhitung > Ftabel. maka data dapat dikatakan Tidak Linear.
Tabel 8. Rangkuman Uji Linearitas Var. F hitung F tabel Alpha Ket. X – Y 0.42 8 3.9 6 0.05 Linear
Dari tabel diatas diperoleh nilai Fhitung = 0.428, sedang Ftabel = 3.96. Karena nilai
Fhitunglebih kecil dari Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear
antara variable Motivasi Belajar (X) dengan variable Hasil Belajar (Y). Hal ini berarti uji hipotesis bisa dilakukan.
c. Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis bertujuan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Pengujian dilakukan dengan uji t.
1) Uji Korelasi Product Moment
Uji Korelasi Product Moment dilakukan untuk menyatakan berapa besar hubungan antara variabel motivasi belajar dengan hasil belajar. Dasar pengambilan keputusan adalah:
H1 diterima jika rhitung > rtabel H0 diterima jika rhitung < rtabel
148
Tabel 9. Rangkuman Korelasi Var. r hitung dk = n-2 r tabel Ket. X-Y 0.45 6 79 0.22 1 H1 diterima
Sehingga dapat dikatakan rhitung = 0.456 > rtabel = 0.221 maka H1 diterima dan H0 ditolak. Jadi terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi.
2) Uji t
Tabel 10. Rangkuman Uji t
Var. t hitung dk = n-2 t tabel α 0.05 Ket. X-Y 4.55 1 79 1.66 4 H1 diterima
Berdasarkan kriteria dari pengujian ini adalah jika thitung > ttabel pada taraf signifikansi 0.05, maka H1 diterima. Dan sebaliknya jika thitung < ttabel, maka H0 diterima.
Mendapatkan hasil analisa pada tabel 10 didapat thitung = 4.551 dan ttabel = 1.664, sehingga dapat dikatakan thitung (4.551) > ttabel (1.664) maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara motivasi belajar (X) terhadap hasil belajar siswa (Y).
3) Koefisien Determinasi (R2)
Tabel 11. Hasil uji koefisien determinasi Model Summaryb Model R R Squar e Adjuste d R Square Std. Error of the Estimate 1 .456a .208 .198 9.017 a. Predictors: (Constant), Motivasi Belajar
b. Dependent Variable: Hasil Belajar
Berdasarkan output nilai R2 tersebut menunjukan angka sebesar 0.208, artinya persentase hubungan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa sebesar 20.8%. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa mempengaruhi hasil belajar siswa tetapi motivasi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar
149 siswa, masih terdapat 79.2% ditentukan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini seperti: Faktor eksternal (Faktor lingkungan dan Faktor instrumental) serta Faktor internal (Kondisi fisiologis, Kondisi panca indera, dan Psikologis (Minat, Kecerdasan, Bakat, Kemampuan kognitif ).
2. Pembahasan
Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan IBM SPSS Statiscics 21 dan
Microsoft Excel 2010 relatif sama yaitu untuk motivasi belajar siswa diperoleh nilai
mean 109.01, median 107, mode 90, standar deviasi 14.147, variance 200.137, skor minimum 89, skor maximum 150 dan total 8830. Untuk data hasil belajar KKPI diperoleh nilai mean 83.38, median 84, mode 80, standar deviasi 10.067, variance
101.339, skor minimum 60, skor maximum 100 dan total 6754.
Hal ini merujuk kepada salah satu penelitian relevan yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di SMPN 77 Jakarta. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di SMPN 77 Jakarta, karena berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0,348 > 0,316). Selanjutnya, dilakukan uji “t” korelasi untuk mengetahui tingkat keberartian hubungan antara kedua variabel, dari hasil perhitungan diperoleh thitung sebesar 2,26 jika dikonsultasikan dengan ttabel pada taraf signifikan 0,05 dengan dk = 37 diperoleh ttabel= 1,70. Besarnya pengaruh dapat dilihat dari besarnya koefisien determinasi sebesar 14,10%. Hal ini disebabkan karena besarnya pengaruh koefisien determinan berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuh.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi pearson product moment yang bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi yaitu hubungan antara motivasi belajar siswa dengan hasil belajar siswa maka dapat diuji. Hasil uji korelasi yang didapat adalah rhitung= 0.456 > rtabel = 0.221. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa korelasi dikatakan positif dan signifikan dan dapat dilanjutkan dengan uji signifikan. Uji signifikan dicari dengan menggunakan uji t. Sehingga diperoleh hasil dengan thitung (4.551) > ttabel (1.664) maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar (X) terhadap hasil belajar siswa (Y). Output nilai R2 menunjukan angka sebesar 0.208, artinya persentase hubungan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa sebesar 20.8%. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa mempengaruhi hasil belajar siswa tetapi motivasi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, masih terdapat 79.2% ditentukan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini seperti: Faktor eksternal (Faktor lingkungan dan Faktor instrumental) serta Faktor internal (Kondisi fisiologis, Kondisi panca indera, dan Psikologis (Minat, Kecerdasan, Bakat, Kemampuan kognitif ).
Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMK Nusatama Padang. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi motivasi belajar, maka hasil belajar yang diperoleh akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya jika semakin rendah motivasi belajar, maka hasil belajar juga akan rendah.
150
5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi. Hubungan yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi belajar siswa, maka akan semakin tinggi pula hasil belajar siswa tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi yang didapat adalah rhitung > rtabel (0.456>0.221). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa korelasi dikatakan positif dan signifikan dan dapat dilanjutkan dengan uji signifikan. Uji signifikan dicari dengan menggunakan uji t. Sehingga diperoleh hasil dengan thitung > ttabel, yaitu 4.551>1.664. Nilai tersebut memberikan kesimpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.
Berdasarkan kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa dalam penelitian ini memberikan persentase hubungan sebesar 20.8% terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi. Demikian terdapat 79.2% ditentukan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini seperti: Faktor eksternal (Faktor lingkungan dan Faktor instrumental) serta Faktor internal (Kondisi fisiologis, Kondisi panca indera, dan Psikologis (Minat, Kecerdasan, Bakat, Kemampuan kognitif ).
Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X SMK Nusatama Padang Jurusan Akutansi, maka peneliti ingin menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
a. Agar dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta bisa dijadikan referensi dan perbandingan bagi peneliti selanjutnya, khususnya peneliti yang meneliti mengenai motivasi belajar.
b. Kepada peneliti selanjutnya agar lebih memperluas kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar baik dari segi aspek yang dikaji, jumlah responden, maupun wilayah penelitian, karena diduga masih banyak faktor-faktor yang memberikan sumbangan yang signfikan terhadap hasil belajar yang belum terungkap dalam penelitian ini.
c. Kepada siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang diinginkan. Sedangkan bagi guru, diharapkan dapat mengetahui metode pembelajaran yang baik digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga menghasilkan hasil yang memuaskan.
d. Agar instansi sekolah lebih memahami siswa secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial maupun aspek pribadinya, sehingga pihak sekolah dan guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
151
DAFTAR PUSTAKA
[1] Agus, Irianto, 2010. Statistik: Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. Jakarta: Kencana.
[2] Alimuddin S Miru.(2009). Hubungan antara Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Mata Diklat Instalasi Listrik Siswa SMK Negeri 3 Makasar. Jurnal. Makasar.
[3] Anas Sudijono.(2009). Penghantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[4] Azhar Arsyad. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta:Rajawali Pers.
[5] Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Departemen Pendidikan, 2003 Cet.1
[6] Nana Syaodah Sukmadinata. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[7] Oemar Hamalik. (2001). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
[8] Riduwan.(2010). Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta.
[9] Rita Handayani. (2010). Hubungan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas X dan XI IPS di SMA N 1 Minggir Sleman Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
[10] Rusman. (2003). Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
[11] Sardiman AM. (2005). Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
[12] Suharsimi Arikunto. (2003). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta.
[13] Vreedy Frans Danar. (2012). Hubungan Antara Motivasi Belajar Intrinsik dan Ekstrinsik Siswa dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas X Kompetensi Keahlian Teknik Audio Video SMK Ma’arif 1 Wates.Skripsi. Jakarta: UNJ.