• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Formulasi Tablet penab

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Formulasi Tablet penab"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FORMULASI TABLET

PENABLETAN DAN EVALUASI TABLET

Disusun oleh :

ANDI AULIA FAJERIN

1443050007

ANDALIA RETNO

1443050020

KIKI KEMALASARI

1443050018

NOVA DESISCA

1443050017

Kelompok : B3

Grup

: E

FAKULTAS FARMASI, JURUSAN ILMU

FARMASI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS

1945

(2)

I.

TUJUAN

 Memahami cara penabletan

 Mengetahui cara pengaturan mesin tablet untuk mendapatkan bobot dan kekerasan tertentu

 Mencoba membuat tablet

 Memahami cara evaluasi tablet

 Mencoba melakukan uji keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur

II.

DASAR TEORI

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuktabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan (Farmakope Indonesia edisi III).

Macam-macam tablet menurut Farmakope Indonesia edisi III : 1. Tablet bersalut

Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan tujuan tertentu.

2. Tablet bersalut gula

Tablet bersalut gula adalah tablet yang disalut dengan larutan gula atau zat lain yang cocok dengan atau tanpa penambahan zat warna.

3. Tablet bersalut kempa

Tablet bersalut kempa adalah tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa, kalsium fosfat atau zat lain yang cocok. 4. Tablet bersalut selaput

Tablet bersalut selaput adalah tablet yang disalut dengan lapisan yang dimuat dengan cara pengendapan zat penyalut dari pelarut yang cocok.

5. Tablet bersalut enterik

Tablet bersalut enterik adalah tablet yang disalut dengan penyalut yang relatif tidak larut dalam asam lambung, tetapi larut dan hancur dalam lingkungan basa usus halus.

Ada berbagai macam jenis mesin tablet, yang paling sederhana adalah mesin single punch, yaitu mesin tablet yang hanya memiliki satu set matras pengempa. Untuk industri farmasi mesin tablet semacam ini tidak pernah dipakai, yang dipakai adalah mesin tablet dengan jenis rotary dengan jumlah punch puluhan bahkan ratusan.

Satu set matras pengempa terdiri dari punch atas, die dan punch bawah. Punch atas dan punch bawah berfungsi untuk menekan granul dalam die sehingga menjadi massa kompak yang keras. Disamping sebagai penekan, punch atas dapat diatur posisinya untuk

menentukan kekerasan tablet, sedangkan punch bawah dapat diatur posisinya untuk menentukan bobot tablet. Dengan demikian untuk mendapatkan tablet dengan bobot dan kekerasan tertentu dapat diperoleh dengan mengatur posisi kedua punch ini.

(3)

III.

ALAT dan BAHAN

b. Alat Evaluasi Tablet : b. Bahan Evaluasi Tablet :

 Hardness tester - Tablet dari hasil percobaan 3

 Friability tester/ abrasive tester

 Timbangan

 Stop watch

 Disintegration tester

IV.

PROSEDUR KERJA

A.

Prosedur Kerja Penabletan

:

1. Siapkan granul yang telah diberi pelicin dari percobaan 2

2. Masukkan ke dalam hopper. Coba dulu mesin tablet hingga diperoleh beberapa butir tablet

3. Ukur kekerasan dan bobotnya

4. Jika kekerasan kurang dari 4,0 kg atur punch atas sampai kekerasan antara 4,0 – 7,0 kg

5. Jika bobot kurang dari 600 mg atur punch bawah sehingga bobot tablet memenuhi syarat Farmakope

6. Jika bobot dan kekerasan telah terpenuhi, jalankan mesin sehingga granul habis semua menjadi tablet

7. Pisahkan antara tablet yang diberi pelicin talk dan Mg-stearat. Simpan untuk percobaan berikutnya

B.

Prosedur Kerja Evaluasi Tablet

: a. Uji Keseragaman Bobot :

Ambil 20 tablet, timbang dan hitung bobot rata- ratany. Timbang lagi satu persatu, catat penyimpangan bobotnya. Analisa hasilnya dengan persyaratan Farmakope Indonesia

b. Uji Kekerasan Tablet :

Letakkan satu tablet pada posisi tegak lurus pada alat Hardness tester. Selanjutnya putar penekan alat pelan- pelan sampai tablet pecah. Baca skala alat yang mennunjukkan kekerasan tablet dalam satuan kg

c. Uji Kerapuhan :

(4)

Tablet dibebas debukan kembali dari fines yang menempel dan dihitung persen kehilangan bobotnya.

d. Uji Waktu Hancur :

Sejumlah 6 tablet dimasukkan ke dalam masing- masing tabung pada disintegration tester. Alat tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah diisi air bersuhu antara 36- 38°C sebanyak kurang lebih 1000 ml atau sedalam kurang lebih 15 cm sehingga dapat dinaik turunkan dengan teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi tertinggi tepat pada permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat di permukaan air. Tabung dinaik turunkan secaara teratur 30 kali per menit. Tablet

dinyatakan hancur jika tidak ada bagian yang tertinggal diatas kasa. Dicatat waktu hancur tablet yang terakhir kali hancur dengan stoop watch.

V.

HASIL DAN PERHITUNGAN

A. Uji Keseragaman Bobot

Bobot Tablet :

Tablet Bobot rata- rata Tablet Mg- stearat 10,05 gram/ 20 = 0,5025

Tablet Talkum 9,05 gram/ 20 = 0,425

(5)

Perhitungan :

 Tablet Mg stearat :

(6)

 Tablet Talkum :

1. % Penyimpangan : bobot rata−ra ta – bobotbobot rata−rata1tablet x 100% : 0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 2. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,40 x 100% = 11,60% 3. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,40 x 100% = 11,60% 4. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 5. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,45 x 100% = 0,55% 6. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,40 x 100% = 11,60% 7. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 8. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 9. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,50 x 100% = -10,49% 10. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,40 x 100% = 11,60% 11. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,30 x 100% = 33,70% 12. % Penyimpangan :0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 13. % Penyimpangan :0,45250,4525−0,50 x 100% = -10,49% 14. % Penyimpangan :0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 15. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 16. % Penyimpangan : 0,45250,4525−0,30 x 100% = 33,70% 17. % Penyimpangan ::0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 18. % Penyimpangan: 0,45250,4525−0,40 x 100% = 11,60% 19. % Penyimpangan :0,45250,4525−0,35 x 100% = 22,65% 20. % Penyimpangan : : 0,45250,4525−0,30 x 100% = 33,70%

B. Uji kekerasan Tablet

 Tablet Mg stearat

No Diameter (cm) Ketebalan Kekerasan (Kg)

1 0,2 0,4 1

2 0,1 0,4 5

3 0,1 0,4 1

(7)

5 0,1 0,3 4

6 0,1 0,5 4

7 0,1 0,4 4

8 0,2 0,4 5

9 0,1 0,4 3

10 0,2 0,4 2,5

Rata- rata 0,14 0,4 4,4

Perhitungan :

σd = πDH2Fd

σd = 3,14x20,2x5x0,4 = 39,80

 Tablet Talkum

No Diameter (cm) Ketebalan Kekerasan (Kg)

1 0,1 0,4 1,5

2 0,2 0,3 6

3 0,1 0,3 5,5

4 0,1 0,3 7

5 0,2 0,4 2,5

6 0,1 0,4 4

7 0,1 0,4 6

8 0,1 0,4 5

9 0,1 0,3 4

10 0,1 0,3 7

Rata- rata 0,12 0,35 5,5625

Perhitungan :

σd = πDH2Fd

σd = 3,14x20,1x4x0,4 = 63,69

C. Uji Kerapuhan Abrasive tester

Mg stearat (gram) Talkum (gram) Bobot awal 10,25 9,3 Bobot akhir 9,8 8,8

 Mg stearat

(8)

 Talkum

β = 100 [1- 8,89,3 ] = 5,37

Friability tester

 Mg stearat

β = 100 [1- 10,209,8 ] = 3,921

 Talkum

β = 100 [1- 9,0599,3 ] = 2,688 D. Uji Waktu Hancur

Mg sterat = 20 : 49 (20 menit : 49 detik) Talkum = 20 : 30 (20 menit : 30 detik)

VI.

PEMBAHASAN

Setelah mengalami proses pencetakan, tablet yang telah dicetak dilakukan evaluasi yang meliputi : uji dari penampilan tablet (bentuk, warna, permukaan dan cetakan); ukuran dan ketebalan; waktu hancur; keseragaman bobot dan friabilitas atau kerapuhannya dengan masing-masing alat penguji. Hasil yang diperoleh sebagai berikut :

1. Penampilan

a. Bentuk : Tablet bundar b. Warna : Putih kekuningan c. Permukaan: Rata dan licin d. Cetakan : halus

Warna putih kekuningan pada tablet disebabkan karena bahan aktif yang tersedia merupakan sediaan yang lama

2. Diameter, ukuran dan ketebalan (keseragaman ukuran)

Diuji dengan menggunakan 10 tablet talcum dan 10 tablet mg stearat dan hasilnya rata-rata tablet talcum memiliki diameter 0,12 cm dan tebal 0.35 cm. Tablet mg stearat memiliki

(9)

diameter 0,14 cm dan tebal 0,4 cm. Tablet yang dihasilkan memenuhi standard tablet yang ditetapkan oleh FI 3 yaitu diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak boleh kurang dari 11/3 tebal tablet.

3. Waktu hancur

Waktu hancur pada tablet talcum yaitu 20 menit: 30 detik dan pada tablet magnesium stearat adalah 20 menit: 49 detik. Pada uji tablet yang dimana waktu hancurnya tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia III yang dimana waktu hancur dari tablet yang tidak bersalut adalah kurang dari 20 menit, sedangkan tablet yang diuji melebihi waktu hancur yang ditetapkan.

4. Kerapuhan

Diuji dengan menggunakan alat Friabilator menggunakan 20 tablet dengan kecepatan 25 kali putaran permenit selama 4 menit. Alat ini menguji kerapuhan suatu tablet terhadap gesekan dan bantingan selama waktu tertentu. Friabilitas tablet mg stearat yang dihasilkan dalam praktikum adalah 3,921 % dan tablet talcum adalah 2,688%. Tablet yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan waktu hancur. Akibatnya tablet yang dihasilkan menjadi keras. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena padatnya tablet tersebut.

5. Keseragaman bobot

Diuji dengan menimbang satu per satu tablet sebanyak 20 tablet dan dicatat lalu dihitung bobot rata-ratanya. Bobot rata-rata dihasilkan pada praktikum ini untuk tablet magnesium stearat 0,5025 gram dan untuk tablet talcum 0,723 gram. Tablet yang dihasilkan telah memenuhi standard keragaman bobot yang ditetapkan FI 3.

VII. KESIMPULAN

Tablet yang diuji tidak dapat memenuhi syarat karena ketika diuji waktu hancur dan uji kerapuhan. Tablet yang diuji tersebut melewati batas persyaratan dari Farmakope Indonesia

VIII. DAFTAR PUSTAKA

 Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.

 Buku Penuntun Praktikum Formulasi tablet Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Farmakope Indonesia Edisi ke-IV memberi persyaratan kadar tablet gliseril guaiakolat, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada

Dari kedua kode contoh tablet ranitidin HCl 150 mg, persentase zat aktif terlarut tersebut sesuai dengan batas yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia edisi IV, dimana jumlah

laktosa sebagai bahan pengisi pada formulasi fast disintegrating tablet Antasida.. terhadap sifat fisik tablet meliputi waktu hancur, kekerasan, dan kerapuhan dari

waktu hancur dan disolusi Orally Disintegrating Tablet yang mengandung domperidon sebagai bahan obat.. Metode: Pada penelitian ini dibuat Orally Disintegrating Tablet

Bahan penghancur, zat inert secar farmakologi yang ditambahkan pada massa untuk membantu mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran cerna, zat disintegran dapat ditambahkan

Plant Medan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi V yaitu kadar tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%

Plant Medan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi V yaitu kadar tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%

Dari kedua kode contoh tablet ranitidin HCl 150 mg persentase zat aktif terlarut tersebut sesuai dengan batas yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia edisi IV, dimana jumlah