Pajak Reklame dan Pajak Hiburan

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma pembangunan nasional dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang.

Perubahan paradigma Ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diatur dalam satu paket undang-undang yaitu undang- undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah menjelaskan tentang tanggung jawab politik dan administrative pemerintah pusat, propinsi, dan daerah dan undang-undang No.33tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintahdaerahmenyediakan dasar hukum tentangdesentralisasi fiskal, menjelaskanpembagianbaru mengenai sumber pemasukan dan transfer antar pemerintah.

Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka terjadi perubahan paradigma pemerintahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Sebagai konsekuensi logis dari perubahan tersebut maka pemerintah daerah diberi kewenangan yang luas untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional. Hal ini diwujudkan dalam peraturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dalam melakukan pembangunan nasional memerlukan dana yang besar. Dana ini bisa diperoleh dari berbagai sumber, yang salah satunya adalah berasal dari pajak. Pajak ini merupakan sumber utama dari penerimaan negara, yang perlu terus ditingkatkan sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan sendiri berdasarkan prinsip kemandirian.

(2)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber keuangan yang cukup potensial menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah, yang telah disempurnakan dengan Undang Pasal 79 Tahun1999, dan terakhir Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 157, bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari :

1. Hasil Pajak Daerah 2. Hasil Retribusi Daerah

3. Hasil Pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan 4. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah

Dari keempat sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial guna membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan guna memantapkan pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab.

(3)
(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pajak Hiburan

Sesuai dengan Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 42, Pajak Hiburan adalah pajak tas penyelenggaraan hiburan. Sedangkan yang dimaksud dengan hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan,permainan, dan atau keramaianyang dinikmati dengan dipungut bayaran. Pengenaan pajak hiburan tidak mutlak ada di seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonsia. Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepoada pemerintah kabupaten atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. Mengingat kondisi kabupaten dan kota di Indonesia tidak sama, termasuk dalam hal jenis hiburan yang disekenggarakan, maka untuk dapat diterapkan pada suatu daerah kabupaten/kota pemerintah daerah setempat harus mengeluarkan Peraturan Daerah tentang pajak hiburan yang akanmenjadi landasan hokum operasional dalam tekhnis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan Pajak Hiburan di daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Keberadaan Pajak Hiburan sebagai salah satu jenis pajak kabupaten/kota diatur juga dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2010 menjadi dasar hukum pajak daerah di Indonesia.

Dalam pemungutan Pajak Hiburan terdaoat beberapa terminology yang perlu diketahui. Terminologi tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

1. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.

2. Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang bertindak baik untuk atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya dalam menyelenggarakan suatu hiburan.

3. Penonton atau pengunjung adalah setiap orang yang menghadiri suatu hiburan untuk melihat dan atau mendengar atau menikmatinya atau menggunakan fasilitas tyang disediakan oleh penyelenggara hiburan, kecuali penyelenggara, karyawan , artis dan petugas yang menghadiri untuk melakukan tugas pengawasan.

(5)

oleh wajib pajak yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan hiburan. Termasuk dalam pengertian pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima, termasuk yang akan diterima antara lain pembayaran yang dilakukan secara tunai. 5. Tanda masuk adalah semua tanda atau alat atau cara yang sah dengan nama dan dalam

bentuk apapun yang dapat digunakan untuk menonton, menggunakan fasilitas atau menikmati hiburan. Tanda atau alat atau cara yang sah adalah berupa tanda masuk yang dilelgalisasi oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota. Termasuk tanda masuk dalam bentuk dan dengan nama apapun, misalnya karcis, tiket undangan, kartu langganan, kartu anggota (membership) dan sejenisnya.

6. Harga tanda masuk, yang selanjutnya disingkat HTM,adalah nilai uang yan tercantum pada tanda masuk yang harus dibayar oleh penonton atau pengunjung.

2.1.1 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Hiburan

Dasar hukum pemungutan Pajak Hiburan pada suatu kabupaten atau kota adalah sebagaimana dibawah ini :

1. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah.

2. Undang – Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang – Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 4. Peraturan daerah kabupaten/kota yang mengatur tentang Pajak Hiburan.

5. Keputusan bupati/walikota yang mengatur tentang PajakHiburan sebagai aturan pelaksanaan Peraturan Daearah tentang Pajak Hiburan pada kabupaten/kota dimaksud.

2.1.2 Objek Pajak Hiburan

Sesuai dengan Pasal 42 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 diatur mengenai objek Pajak Hiburan sebagai berikut :

(1) Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran. (2) Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:

a. tontonan film;

(6)

d. pameran;

e. diskotik, karaoke, klab malam, dan sejenisnya; f. sirkus, akrobat, dan sulap;

g. permainan bilyar, golf, dan boling;

h. pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainanketangkasan;

i. panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center); dan j. pertandingan olahraga.

(3) Penyelenggaraan Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dikecualikan dengan Peraturan Daerah.

Pada beberapa daerah, misalnya Kota Bandung, objek Pajak Hiburan diperluas menjadi termasuk pelayanan yang disediakan pada tempat hiburan, termasuk penjualan makanan dan minuman. Pelayanan yang termasuk objek pajak termasuk jasa pemandu lagu dan lain sejeninsnya yang bersifat incidental, misalnya show biz. Pengembangan objek pajak dimungkinkan sesuai dengan kreasi masing-masing pemerintah kabupaten/kota.

Penyelenggara hiburan yang dikenakan pajak adalah penyelenggaraan hiburan oleh penyelenggara hiburan yang memungut bayarannya. Umumnya setiap penyelenggara hiburan harus mendapat izin tertulis dari bupati/walikota, kecuali untuk wilayah DKI Jakarta diberikan oleh Gubernur. Pengajuan izin harus diajukan secara tertulis sesuai dengan tata cara yang ditetaapkan oleh kepala daerah. Izin penyelenggaraan hiburan diberikan untuk jangka waktu tertentu dan dapat diperpanjang. Izin tersebut tidak dapat dipindahtangankan, kecuali atas seizin kepala daerah.

2.1.3 Bukan Objek Pajak Hiburan

(7)

2.1.4 Subjek Pajak dan Wajib Pajak Hiburan

Sesuai dengan Pasal 43 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 diatur mengenai subjek Pajak Hiburan dan wajib Pajak HIburan sebagai berikut :

1) Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menikmati Hiburan. 2) Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan

Hiburan.

Secara sederhana yang menjadi subjek pajak adalah konsumen yang menikmati hiburan. Sementara itu, yang menjadi wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan.

2.1.5 Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Hiburan

Sesuai dengan Pasal 44 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 diatur mengenai dasar pengenaan Pajak Hiburan sebagai berikut :

1) Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara Hiburan.

2) Jumlah uang yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Hiburan. Sesuai dengan Pasal 45 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 diatur mengenai tarif Pajak Hiburan sebagai berikut :

1) Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35%(tiga puluh lima persen). 2) Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, konteskecantikan, diskotik, karaoke,

klab malam, permainanketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif PajakHiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuhpuluh lima persen). 3) Khusus Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakantarif Pajak Hiburan ditetapkan

paling tinggi sebesar 10%(sepuluh persen).

4) Tarif Pajak Hiburan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Pasal 46 :

(8)

2) Pajak Hiburan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Hiburan diselenggarakan.

2.1.6 Perhitungan Pajak Hiburan

Besaran pokok Pajak Hiburan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan Pajak Hiburan adalah sesuai dengan rumus berikut :

Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

= Tarif Pajak x Jumlah Uang yang diterima atau yang Seharusnya Diterima Oleh Penyelenggara Hiburan

2.1.7 Masa Pajak, Tahun Pajak, Saat Terutang Pajak. dan Wilayah Pemungutan Pajak Hiburan.

Pada Pajak Hiburan, masa pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwin atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota. Dalam pengertian masa pajak bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh.

Tahun pajak adalah jangka waktu yang lamanya satu tahun takwin, kecuali apabila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwin.

Pajak terutang merupakan Pajak Hiburan yang harus dibayar oleh wajib pajak pada suatu saat, dalam masa pajak, atau dalam tahun pajak menurut ketentuan peraturan daerah tentang Pajak Hiburan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota setempat.

Saat pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat penyelenggaraan hiburan. Jika pembayaran diterima penyelenggara hiburan sebelum hiburan diseelenggarakan, Pajak Hiburan terutang dalam masa pajak terjadi pembayaran.

Pajak Hiburan yang terutang dipungut di wilayah kabupaten/kota tempat hiburan diselengarakan.

2.1.8 Pengukuhan, Pendaftaran dan Pendataan

2.1.8.1 Pengukuhan Wajib Pajak

(9)

selambat-lambatnya 30 hari setelah ijin penyelenggaraan hiburan diperoleh, untuk dikukuhkan dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD).

Penyeleanggara hiburan incidental wajib melaporkan kegiatan usahanya setelah diperoleh izin. Akan tetapi, terhadap usaha tersebut tidak diberikan nomor pengukuhan dan NPWPD. Surat keputusan pengukuhan dikeluarkan pelh Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota tidak merupakan dasar untuk menentukan mulai saat terutang Pajak Hiburan, tetapi hanya merupakan sarana administrasi dan pengawasan bagi perugas Dinas Pendapatan Daerah. Apabila penyelenggara hiburan tidak mendaftarkan usahanya dalam jangka waktu yang ditentukan, Kepala Dinas Pendapatan Daerah akan menetapkan pengusaha tersebut sebagai wajib pajak secara jabatan.

2.1.8.2 Pendaftaran dan Pendataan

Untuk mendapatkan data wajib pajak dilaksanakan pendaftaran dan pendataan terhadap wajib pajak. Kegiatan pendaftaran dan pendataan diawali dengan mempersiapkan dokumen yang diperlukan, berupa formulir pendaftaran dan pendataan, kemudian diberikan kepada wajib pajak. Setelah dokumen disampaikan kepada wajib pajak, wajib pajak mengisi formulir pendaftaran dengan jelas, lengkap, serta mengembalikan kepada petugas pajak. Selanjutnya , petugas pajak mencatat formulir pendaftaran dan pendataan yang dikemblaikan oleh wajib pajak dalam Daftar Induk Wajib Pajak berdasarkan nomor urut yang digunakan sebagai dasar untuk menerbitkam NPWPD.

2.1.9 Pelaporan Pajak dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD)

Wajib Pajak Hiburan wajib melaporkan kepada bupati/walikota, dalam praktik sehari-hari adalah kepada Kepala Dinas Pendapatan Daearah Kabupaten/Kota, tentang perhitungan dan pembayaran Pajak Hiburan yang terutang. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD setiap awal masa pajak wajib mengisi SPTPD. SPTPD diisi dengan jelas, lengkap dan benar serta ditanda tangani oelh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan keapda walikota/bupati atau oejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Umumnya SPTPD harus disampaikan selambat lambatnya 15 hari setelah berakhirnya masa pajak.

(10)

pajak tidak melaksanakan atau tidak sepenuhnya melaksanakan kenetentuan pengisian dan penyampaian SPTPD yang telah ditetapkan.

2.1.10 Pemungutan dan Penetapan Pajak Hiburan

2.1.10.1 Cara Pemungutan Pajak Hiburan

Pemungutan Pajak Hiburan tidak dapat diborongkan. Aritnya, seluruh proses kegiatan pemungutan Pajak Hiburan tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Walauoun demikian, dimungkinkan adanya kerjasama dengan pijhak ketiga dalam proses pemungutan pajak, antara lain pencetakan formulir perpajakan , pengiriman surat-surat kepada wajib pajak atau penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya pajak terutang, pengawasan penyetoran pajak dan penagihan pajak.

2.1.10.2 Penetapan Pajak Hiburan

Setiap peneyelnggara hiburan (yang menjadi wajib pajak) wajib menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak hiburan yang terutang dengan menggunakan SPTPD. Ketentuan ini menunjukan sistim pemungutan Pajak Hiburan pada dasarnya menggunakan sistim self assessment. Dimana wajib pajak diberikan kepercayaan penuh untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sediri pajak yang terutang. Dengan pelaksanaan sistim pemungutan ini petugas Dinas Pendapatan Daerah kabupaten/kota, yang ditunjuk oleh bupati/walikota menjadi fiskus, hanya bertugas mengawasi pelaksanaan pemenuhan kewajiban pajak oleh wajib pajak.

Berdasrkan SPTPD yang disampaikan oleh wajib pajak dan pendataan yang dilakukan oleh petugas Dinas Pendapatan Daerah, bupati/walikota menetapkan Pajak Hiburan yang terutang dengan menerbitkan Surat Ketetepan Pajak Daerah (SKPD). SKPD ini harus dilunasi oleh wajib pajak paling lama 30 hari sejak diterimanya SKPD oleh wajib pajak atau jangka waktu lainyang ditetapkan oleh bupati/walikota.

(11)

2.1.10.3 Ketetapan Pajak Hiburan

Dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, bupati/walikota dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPDN). Surat ketetapan pajak diterbitkan berdasarkan pemeriksaan atas SPTPD yang disampaikan oleh wajib pajak.

2.1.10.4 Surat Tagihan Pajak Daerah

Bupati/walikota dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) jika pajak hiburan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; hasil penelitian STPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tukis dan atau salah hitung; wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

2.1.11 Pembayaran dan Penagihan Pajak Hiburan

2.1.11.1 Pembayaran Pajak Hiburan

Pajak Hiburan terutang dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam peraturan daerah, misalnya selambat lambatnya pada tanggal 18 bulan beriukutnya dari masa pajak yag terutang setelah berakhirnya masa pajak.

Apabila kepada wajib pajak diterbitkan SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan dan Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, Pajak HIburan harus dilunasi paling lambat satu bulan sejak tanggal diterbitkan. Tempat pembayaran Pajak Hiburan dilakukan di kas daerah, bank atau tempat yang ditunjuk oleh bupati/walikota sesuai waktu yang ditetapkan dalam SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD.

Pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas. Kepada wajib pajak yang melakukan pembayaran pajak diberikan tanda bukti pembayaran pajak dan dicatat dalam buku penerimaan.

(12)

2.1.11.2 Penagihan Pajak Hiburan

Penagihan pajak dilakukan terhadap pajak terutang dalam SKPD, SKPDKB,SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Keberatan dan Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Penagihan pajak terlebih dahulu memberikan surat teguran atau surat peringatan datau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan penagihan pajak. Surat teguran atau surat peringatan dikeluarkan 7 hari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak dan dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk oleh bupati/ walikota. Dalam jangka waktu tujuh hari sejak surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis diterimanya, wajib pajak harus melunasi pajak yang terutang.

Selanjutmya bila jumlah pajak terutang yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dakam surat teguran atau surat penringatan atau surat lain yang sejenis akan ditaguh dengan Surat Paksa. Tindakan dengan penagihan pajak dengan Surat Paksa dapat dilanjutkan dengan tindakan penyitaan, pelelangan, pencegahan, dan penerbitannya terdapat kesalahan tulis danatau kesalahan hitung datau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang – undangan perpajakan daerah. Selain itu bupati/walikota dapat :

1. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundang – undangan perpajakan daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kehilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya.

2. Mengurangkan atau membatalkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar.

3. Mengruangkan atau membatalkan STPD.

(13)

5. Mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan petimbangan kemampuan membayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.

2.1.13 Keberatan dan Banding.

2.1.13.1 Keberatan

Wajib Pajak Hiburan yang tidak puas atas penetapan pajak yang dilakukan oleh bupati/walikota dapat mengajukan keberatan hanya kepada bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk. Apabila wajib pajak berpendapat bahwa jumlah pajak dalam surat ketetapan pajak ( SKPD, SKPDKB. SKPDKBT, SKPDLB atau SKPDN) tidak sebagaimana mestinya, wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada bupati/walikota yang menerbitkan surat ketetapan pajak tersebut. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia sengan disertai alasan-alasan yang jelas.

Kebetaran yang diajukan adalah terhadap masteri atau isi dari surat ketetapan pajak dengan membuat perhitungan jumlah yang seharusnya dibayar menurut perhitungan wajib pajak. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 bulan dari SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB atau SKPDN, kecuali wajib pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tiak dapat dipenuhi karena keadaaan dikuar kekuasaannya. Kebaratan dapat dilakukan aoabila wajib pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui wajib pajak.

Apabila kewajiban keberatan diterima sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak ( bila ada) dikembalikan kepada wajib pajak dengan ditambah imbalan bunga sebesar dua persen sebulan untuk jangka waktu paling lama dua puluh empat bulan. Imbalan bunga dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKPDLB. Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administrative berupa denda sebesar 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Dalam hal wajib pajak mengajukan banding, sanksi administrative berupa denda sebesar 50% tersebut tidak dikenakan.

2.1.13.2 Banding

(14)

secara tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 bulan sejak keputusan diterima, dilampiri salinan surat keputusan keberatan tersebut.

Jika permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. Putusan Banding dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya pajak yang terutang. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagaian, wajib pajak dikenai sanksi administrative berupa denda seberar 100% dari jumlah Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

2.1.14 Pembukuan dan Pemeriksaan Pajak Hiburan

2.1.14.1 Pembukuan

Wajib Pajak Hiburan dengan peredaran usaha tertentu, umumnya Rp. 300.000.000,-per tahun ke atas, wajib menyelenggarakan pembukuan, yang menyajikan keterangan yang cukup untuk menghitung jumlah penonton dan jumlah pembayaran atau yag seharusnya dibayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi keadaan harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi laba pada setiap tahun pajak berakhir.

Wajib pajak yang tidak diwajibkan membuat pembukuan, yaitu wajib pajak yang peredaran usahanya kurang dari jumlah yang ditentukan, tetap diwajibkan menyelenggarakan pencatatan nilai peredaran usaha secara teratur, yang menjadi dasar pengenaan pajak. Pencatatan diselenggarakan dengan sebaik baiknya yang mencerminkan keadaan atau kegiatan uasah sebenarnya. Pembukuan atau pencatatan wajib disimpan oleh wajib pajak selama 5 tahun.

2.1.14.2 Pemeriksaan Pajak Hiburan

(15)

2.1.15 Keringanan dan Pembebasan Pajak Hiburan

Berdasarkan permohonan wajib pajak, bipati/walikota dapat memberikan pengurangan, keringanan, dan pembebasan Pajak Hiburan, ketentuanmengenai hal ini diatur pada Bab 2 Ketentuan Umum Pajak Daerah.

2.1.16 Bagi Hasil dan Biaya Pemungutan Pajak Hiburan

2.1.16.1 Bagi Hasil Pajak Hiburan

Hasil penerimaan Pajak Hiburan merupakan pendapatan daerah yang harus disetorkan seluruhnya kepada kas daerah kabupaten/kota. Khusus Pajak Hiburan yang dioungut oleh pemerintah kabupaten sebagian diperuntukan bagi desa di wilayah daerah kabupaten tempat pemungutan Pajak Hiburan. Hasil penerimaan pajak hiburan tersebut diperuntukan paling sedikit 10% bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan.

2.1.16.2 Biaya Pemungutan Pajak Hiburan

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemungutan dan pengelolaan Pajak Hiburan, diberikan biaya pemungutan sebesar 5% dari hasil penerimaan pajak yang telah disetorkan ke kas daerah kabupaten/kota. Biaya pemungutan adalah biaya yang diberikan kepada aparat pelaksana pemungutan dan aparat penunjang dalam rangka kegiatan pemungutan.

2.1.17 Kadaluwarsa Penagihan Pajak Hiburan dan Penghapusan Piutang Pajak Hiburan

2.1.17.1 Kadaluwarsa Penagihan Pajak Hiburan

(16)

2.1.17.2 Penghapusan Piutang Pajak Hiburan

Piutang Pajak Hiburan yang penagihannya sudah kdaluwarsa dapat dihapuskan. Penghapusan piutang pajak dilakukan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan penghapusan piutang pajak dari Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota. Ketentuan lebih lanjut mengenai penghapusan piutang pajak diatur pada Bab 2 Ketentuan Umum Pajak Daerah.

2.2 Pajak Reklame

Reklame adalah benda, alat atau media yang berbentuk dan corakragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan,mempromosikan atau badan yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan atau dinikmati oleh umum (Mardiasmo, 2008: 12)

Pajak Reklame adalah salah satu pajak daerah dan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang menunujukan posisi strategis dalam hal pendanaan pembiayaan daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut pasal 79 UU No. 22 tahun 2011 tentang pemerintah daerah adalah:

1. Pendapatan Asli Daerah, terdiri dari: a) Hasil pajak daerah

b) Retribusi daerah c) Bagian laba BUMD

d) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah 2. Dana perimbangan keuangan pusat – daerah 3. Pinjaman Daerah

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah

(17)

Pajak reklameadalah pajakdaerah, sebagaimana dimaksud UU No 34 tahun 2000. Pembaharuan undang-undang didasarkan pada dasar hukum yang jelas dan kuat sehingga harus dipatuhioleh masyarakat dan pihak lain yang terkait, dan juga untuk memberikan peluang kepada daerah Kabupaten/Kota untuk memungut pajak jenis pajak daerah lain yang dipandang memenuhi syarat dan potensial di daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah Kabupaten/Kota dalam mengantisipasi kondisi serta perkembangan perekonomian daerah pada masa mendatang yang mengakibatkan perkembangan potensi pajak dengan tetapmemperhatikan kesederhanaan jenis pajak dan aspirasi masyarakat serta memenuhi kriteria yang ditetapkan (Siahaan dalam Nurmayasari, 2010: 39).

Pengenaan pajak reklame tidak mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten atau daerah kota seluruh Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak Kabupaten/Kota. Untuk dapat dipungut pada suatu daerah Kabupaten/Kota, pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkanperaturan daerah tentang pajak reklame yang akan menjadi landasan hukumoperasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak reklame di daerah Kabupaten atau Kota yang bersangkutan.

2.2.1 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Reklame

Pemungutan pajak reklame di Indonesia saat ini didasarkan pada dasar hukum yang jelas dan kuat sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak terkait. Dasar hukum pemungutan pajak reklame pada suatu kabupaten/kota menurut adalah :

a. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. b. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang-undang

Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. c. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah d. Peraturan Daerah kabupaten/ kota yang mengatur tentang Pajak Reklame.

(18)

2.2.2 Objek Pajak Reklame

Yang menjadi objek pajak reklame adalah semua penyelenggara reklame, penyelenggaraan reklame dapat dilakukan oleh penyelenggara reklame atau perusahaan jasa periklanan yang terdaftar pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/ Kota.

Yang menjadi objek pajak reklame adalah semua penyelenggaraan reklame yang dilakukan oleh perusahaan jasa periklanan. Objek pajak reklame terdiri dari 10 macam yang berbeda-beda, terdiri dari :

a. Reklame papan, yaitu reklame yang tebuat dari papan, kayu, termasuk seng atau bahan lain yang sejenis, dipasang atau digantungkan pada bangunan, tembok, dinding dan sebagainya baik bersinar maupun yang disinari

b. Reklame video, yaitu reklame yang menggunakan layar monitor besar berupa program reklame atau iklan bersinar dengan gambar dan atau tulisan berwarna yang dapat berubah-ubah, terprogram, dan difungsikan dengan tenaga listrik.

c. Reklame kain, yaitu reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain, termasuk kertas, plastik, karet atau bahan lain yang sejenis dengan itu.

d. Reklame melekat (stiker), yaitu reklame yang berbentuklembaran lepas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, dipasang, digantungkan pada suatu benda dengan ketentuan luasnya tidak lebih dari 200 cm² per lembar.

e. Reklame selebaran, yaitu reklame yang berbentuk lembaran lepas, diselenggarakandengan cara disebarkan, diberikan atau dapatdiminta dengan ketentuan tidak untuk ditempelkan, diletakkan, dipasang, atau digantungkan pada suatu benda lain.

f. Reklame berjalan termasuk pada kendaraan, yaitu reklame yang ditempatkan atau ditempelkan pada kendaraan yang diselenggarakan dengan menggunakan kendaraan atau dengan cara dibawa oleh orabg.

g. Reklame udara, yaitu reklame yang diselenggarakan di udara dengan menggunakan gas, laser, pesawat, atau alat lain yang sejenis.

h. Reklame Suara, yaitu reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau dengan suara yang ditimbulkan dari atau oleh perantaraan alat.

(19)

j. Reklame peragaan, yaitu reklame yang diselenggarakan dengan cara memperagakan suatu barang dengan atau tanpa disertai suara.

Ada beberapa objek pajak yang dikecualikan dalam pasal ini yaitu penyelenggaran Reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian,warta mingguan, warta bulanan, dan Reklame yang diadakan khusus untuk kegiatan social, pendidikan keagamaan, dan politik tanpa sponsor.

2.2.3 Bukan Objek Pajak Reklame

Pada Pajak Reklame, tidak semua penyelenggaraan reklame dikenakan pajak. Ada beberapa pengecualian yang tidak termasuk sebagai objek Pajak Reklame, yaitu :

a. Penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan,warta bulanan dan sejenisnya.

b. Label/ merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan, yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainnya.

c. Nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut.

d. Reklame yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah,

e. Penyelenggaraan reklame lainnya yang ditetapkan dengan peraturan daerah, misalnya penyelenggaraan reklame yang diadakan khusus untuk kegiatan sosial, pendidikan, keagamaan, dan politik tanpa sponsor.

2.2.4 Subjek Pajak dan Wajib Pajak Reklame

Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan atau melakukan pemesanan reklame.

Jadi setiap orang pribadi atau badan yang akan menyelenggarakan atau melakukan pemesanan reklame disebut sebagai subjek pajak reklame.

(20)

pihak ketiga, misalnya perusahaan jasa periklanan, pihak ketiga tersebut menjadi wajib pajak reklame.

Dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, wajib pajak dapat diwakili oleh pihak tertentu yang diperkenankan oleh Undang-undang dan peraturan daerah tentang pajak reklame. Wakil wajib pajak bertanggung jawab secara pribadi dan atau secara tanggung renteng atas pembayaran pajak terutang. Selain itu, wajib pajak dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya.

2.2.5 Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Reklame

Dalam pajak reklame ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya Dasar-dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan.

2.2.5.1 Dasar PengenaanPajak Reklame

Dasar pengenaan pajak reklame adalah nilai sewa reklame (NSR), yaitu nilai yang ditetapkan sebagai dasar perhitungan penetapan besarnya Pajak Reklame. NSR diperhitungkan dengan memerhatikan lokasi penempatan, jenis, jangka waktu penyelenggaraan, dan ukuran media reklame. NSR dapat dihitung berdasarkan :

a. Besarnya biaya pemasangan reklame b. Besarnya biaya pemeliharaan reklame c. Lama pemasangan reklame

d. Jenis reklame

(21)

Nilai Sewa Reklame = Nilai Jual Objek Reklame (NJOR) + Nilai Strategis Pemasangan Reklame (NSPR)

Nilai Jual Objek Reklame (NJOR) adalah keseluruhan pembayaran / pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau penyelenggara reklame, termasuk dalam hal ini adalah biaya / harga beli bahan reklame, konstruksi, instalasi listrik, pembayaran/ongkos perakitan, pemancaran, peragaan, penayangan, pengecatan, pemasangan dan transportasi pengangkutan dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame selesai dipancarkan, diperagakan, ditayangkan dan atau terpasang di tempat yang telah diizinkan.

Perhitungan NJOR didasarkan pada besarnya komponen biaya penyelenggaraan reklame, yang meliputi indikator :

a. Biaya pembuatan/konstruksi b. Biaya pemeliharaan

c. Lama pemasangan d. Jenis reklame

e. Luas bidang reklame f. Ketinggian reklame

Besarnya NJOR dihitung dengan rumus :

NJOR = (Ukuran Reklame x Harga Dasar Ukuran Reklame) + (Ketinggian Reklame x Harga Dasar Ketinggian Reklame)

(22)

Perhitungan nilai strategis didasarkan pada besarnya ukuran reklame, dengan indicator : nilai fungsi ruang (NFR) lokasi pemasangan;nilai fungsi jalan (NFJ); dan nilai sudut pandang (NSP). Besarnya NSPR dihitung dengan rumus sebagai berikut:

NSPR = (NFR + NSP + NFJ) x Harga Dasar Nilai Strategis

NSPR = [{Fungsi Ruang (=Bobot x skor)} + {Fungsi Jalan (=Bobot x skor )} {sudut pandang (=Bobot x skor)}] x Harga Dasar Nilai Strategis

Untuk menghitung luas reklame sebagai dasar pengenaan pajak dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Reklame yang mempunyai bingkai atau batas, dihitung dari bingkai atau batas paling luar dimana seluruh gambar, kalimat atau huruf-huruf tersebut berada didalamnya b. Reklame yang tidak berbentuk persegi dan tidak berbingkai, dihitung dari gambar,

kalimat atau huruf-huruf yang paling luar dengan jalan menarik garis lurus vertical dan horizontal, sehingga merupakan empat persegi

c. Reklame yang berbentuk pola, dihitung dengan rumus berdasarkan bentuk benda masing-masing reklame.

2.2.5.2 Tarif Pajak Reklame

Pajak Reklame memiliki tarif yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Berdasarkan Peraturan Daerah Pasal 50 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 bahwa :

(23)

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada pemerintah kabupaten / kota untuk menetapkan tarif pajak yang dipandang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah kabupaten/kota.

Untuk semua objek pajak yang mempromosikan rokok, minuman beralkohol sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dikenakan tambahan sebesar 25% dari Nilai Sewa Reklame.

2.2.5.3 Perhitungan Pajak Reklame

Besarnya pokok Pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak denagn dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan Pajak Reklame adalah sesuai dengan rumus berikut :

Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak = Tarif Pajak x Nilai Sewa Reklame

2.2.6 Masa Pajak, Tahun Pajak, Saat Terutang Pajak. dan Wilayah Pemungutan Pajak Reklame.

Pada Pajak Hiburan, masa pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwin atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota. Dalam pengertian masa pajak bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh.

Tahun pajak adalah jangka waktu yang lamanya satu tahun takwin, kecuali apabila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwin.

(24)

a. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu tahun contoh pajak reklame jenis megatron, vidiotron, bilboard (neon sign, neon box), reklame berjalan/kendaraan dan reklame suara/permanen.

b. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu bulan contoh pajak reklame melekat (template,poster dan stiker), reklame udara/balon, film/slide dan reklame peragaan (permanen)

c. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu hari ditetapkan bagi pajak reklame jenis baligo dan kain/spanduk/umbul-umbul/banner.

d. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu kali penyelenggaraan ditetapkan bagi pajak reklame jenis selebaran/brosur/leaflet, reklame suara *tidak permanen) dan reklame peragaan (tidak permanen).

Pajak terutang merupakan Pajak Reklame yang harus dibayar oleh wajib pajak pada suatu saat, dalam masa pajak, atau dalam tahun pajak menurut ketentuan peraturan daerah tentang Pajak Reklame yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota setempat.Saat pajak terutang dalam masa pajak ditentukan menurut keadaan, yaitu pada saat penyeleggaraan reklame.

Pajak Reklame yang terutang dipungut di wilayah kabupaten/kota tempat reklame berlokasi. Hal ini terkait dengan kewenangan pemerintah kabupaten/kota yang hanya terbatas atas setiap reklame yang berlokasi dan terdaftar dalam lingkup wilayah administrasinya.

2.2.7 Pengukuhan, Pendaftaran dan Pendataan Pajak Reklame

2.2.7.1 Pengukuhan Wajib Pajak

Wajib Pajak Reklame wajib mendaftarkan usahanya kepada bupati/walikota

(25)

Tiga puluh hari sebelum dimulainyakegiatan usahauntukdikukuhkandandiberikan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah(NPWPD). Jangka waktu inisesuai denganjangka waktu yang ditentukan oleh bupati atauwalikotadi mana pajak reklame dipungut.

Surat Keputusan Pengukuhan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pendapatan Daerahtidak merupakan dasar untuk menentukan mulai saat terutang Pajak Reklame,tetapi hanya merupakan sarana administrasi danpengawasan b agi petugas DinasPendapatan Daerah.

Apabila pengusahapenyelenggarareklametidakmendaftarkanusahanyadalamjangkawa ktuyangditentukan, maka Kepala Dinas Pendapatan Daerah akan menetapkanpengusaha tersebut sebagaiwajibpajak secara jabatan. Penetapan secarajabatandimaksudkan untuk pemberiannomorpengukuhan dan NPWPD danbukanmerupakanpenetapan besarnya pajak terutang. Tata cara pelaporandanpengukuhanwajibpajakditetapkanoleh bupati/walikota deng an suratkeputusan.

2.2.7.2 Pendaftaran dan Pendataan

Untuk mendapatkan data wajib pajak dilaksanakan pendaftaran dan pendataan terhadap wajib pajak. Kegiatan pendaftaran dan pendataan diawali dengan mempersiapkan dokumen yang diperlukan, berupa formulir pendaftaran dan pendataan, kemudian diberikan kepada wajib pajak. Setelah dokumen disampaikan kepada wajib pajak, wajib pajak mengisi formulir pendaftaran dengan jelas, lengkap, serta mengembalikan kepada petugas pajak. Selanjutnya , petugas pajak mencatat formulir pendaftaran dan pendataan yang dikemblaikan oleh wajib pajak dalam Daftar Induk Wajib Pajak berdasarkan nomor urut yang digunakan sebagai dasar untuk menerbitkam NPWPD.

2.2.8 Pelaporan Pajak dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD)

Wajib Pajak Reklame wajib melaporkan kepada Gubernur,pada umunyaadalahkepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah provinsi DKI

Jakarta,tentangpenghitungandanpembayaranPajakReklame terutang.Wajibpajakyangtelahme

milikiNPWPD setiap awal masa pajak wajib

(26)

ditandatanganiolehwajibpajakatau kuasanyadandisampaikankepadawalikota/ bupatiatau peja bat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yangditentukan.

UmumnyaSPTPDharus disampaikan selambat-lambatnya limabelas hari setelah berakhirnyamasapajak.

2.2.9 Pemungutan dan Penetapan Pajak Reklame

1. Cara Pemungutan Pajak Reklame

Seluruh proses kegiatan pemungutan Pajak Reklametidakdapatdiserahkankepada pihakketiga dengan kata lain tidak dapat diborongkan

Walaupun demikian, dimungkinkanadanyakerja sama dengan pihak ketigadalamprose spemungutan pajak,namun ada kegiatanyangtidakdapatdikerjasamakandenganpihak ketigayaitukegiatanpenghitungan besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak,dan penagihanpajak.

2. Penetapan Pajak Reklame.

Setelah SPTPD disampaikan oleh wajib pajak maka petugasDinasPendapatanDa erahmelakukanPendataansesuai dengan perintah Gubernur DKI Jakarta untuk menetapkan pajak reklame yang terutangdengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). SKPD harus dilunasiolehwajib pajak paling lama tiga puluh hari sejakditerimanyaSKPD oleh wajibpajakataujangkawaktu lain yang ditetapkanoleh gubernur. Apabilasetelahlewat jangk awaktuyang ditentukan,wajib pajak tidakatau kurangmembayarpajak terutangdalam SKP D,wajibpajak akandikenakan

sanksiadministrasiberupabungasebesar2%sebulandanditagihdenganmenerbitkan surattagihanp ajakdaerah(STPD).

3. Ketetapan Pajak.

(27)

4. Surat Tagihan Pajak Daerah

GubernurProvinsiDKI Jakartaakan menerbitkanSuratTagihanPajakDaerah(STPD)jika PajakReklamedalam tahunberjalantidakataukurangbayar.BilahasilpenelitianSPTPDterdapatke kuranganpembayaranakibatdari salahtulis atau salahhitung, makawajib pajakakan dikenakans anksi administrasi berupa bunga ataudenda.Sanksiadministrasi berupabungadikenakankepad awajibpajakyangtidakataukurangmembayarpajakyangterutangdansanksiadministrasiberupade nda dikenakan bagi wajibpajak yang tidak memenuhi ketentuan formal.

2.2.10 Pembayaran dan Penagihan Pajak Reklame

1. Pembayaran Pajak Reklame.

Pembayaran dan penyetoran Pajak Reklame ditetapkan oleh GubernurProvinsiDKI Jak arta,pembayarandilakukanpalinglama 30hari sejaktanggalditerbitkannyaSuratKetetapanPajak Daerah (SKPD).Apabila bataswaktu pembayaranjatuh padahari libur makabatas waktupemba yaranjatuhpadaharikerjaberikutnya.PembayaranPajakReklame yang

terutangdilakukankekantor PerbendaharaandanKasDaerahatau Bankatau tempatlainyangditunj ukolehGubernur.Pembayaran pajak dilakukandenganmenggunakanSurat SetoranPajakDaerah( SSPD).

2. Penagihan Pajak Reklame.

Penagihanpajakdilakukanterhadap pajakterutang dalam SKPD,SKPDKB,SKPDKBT,S TPD,SuratKeputusanPembetulan,Surat

KeputusanKeberatandanPutusanBandingyang menyebabkanjumlahpajakyangharus dibayarbe rtambah.Penagihanpajakdilakukandenganterlebih

dahulumemberikanSurat Teguran atauSurat PeringatanatauSurat lain yang sejenis sebgaiawal tindakanpenagihanpajak. Suratteguran atau surat peringatandikeluarkantujuhhari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak dandikeluarkanolehGubernurProvinsiDKI Jakarta. Selanjutnya,bila

(28)

2.2.11 Pembetulan, Pembatalan,Pengurangan, Ketetapan, danPenghapusanatauPengurangann SanksiAdministrasi.

Karena jabatan atau atas permohonan wajibpajak dapat melakukan:

1. PembetulanSKPD,SKPDKB,SKPDKBTatauSTPDyangdalampenerbitannyaterdapa tkesalahantulis,kesalahan hitung,dankekeliruandalampenerapanperaturanperundan g–undanganperpajakandaerah.

2. Pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar.

3. Penguranganataupenghapusansanksiadministrasiberupabunga,denda, dankenaikan pajakyangterutangjikasanksitersebutdikenakankarenakekhilafandanbukankarenake salannya.

2.2.12 Keberatan dan Banding.

1. Keberatan

Bila wajibPajakReklametidakpuasataspenetapanpajakyangdilakukan,makadapatmenga jukankeberatanhanyakepadaGubernuratau pejabatyangmenerbitkan suratketetapanpajakterseb ut.Keberatandilakukansesuaidengan ketentuan yangdiaturdalamperaturan daerah tentang Paja k Reklame. Setelahmelakukanpemeriksaandalamjangka waktutertentumakaGubernur atau kepala daerahakanmengeluarkankeputusanataspengajuankeberatantersebut.Gubernuratau

kepala daerah harus

memberikankeputusanataskeberatandalamjangkawaktupalinglama12bulansejaktanggal surat k eberatan diterima.

2. Banding

(29)

2.2.13 Pemeriksaan Pajak Reklame

Bupati/.walikota atau pejabat yang ditunjuk berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan tujuan lain dalam rangka melaksanakan peraturan daerah tentang Pajak Reklame.

Pelaksanaan pemeriksaan dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh bupati / walikota atau pejabat yang berwenang. Untuk keperluan pemeriksaan, petugas pemeriksa harus dilengkapi dengan tanda pengenal pemeriksa dan surat perintah pemeriksaan serta harus memperlihatkannya kepada WP yang diperiksa. Ketentuan tentang pemeriksaan dalam pajak reklame mengacu pada ketentuan yang telah dibahas pada ketentuan umum pajak daerah.

2.2.14 Keringanan dan Pembebasan Pajak Reklame

Berdasarkan permohonan wajib pajak, bipati/walikota dapat memberikan pengurangan, keringanan, dan pembebasan Pajak Reklame. Tata cara pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan Pajak Reklame ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota. Ketentuanmengenai hal ini diatur pada Ketentuan Umum Pajak Daerah.

2.2.15 Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak Reklame

Proses pengenaan dan pemungutan pajak daerah memungkinkan terjadi kelebihan pembayaran Pajak Reklame, apabila ternyata wajib pajak membayar pajak, tetapi sebenarnya tidak ada pajak yang terutang, dikabulkannya permohonan keberatan atau banding wajib pajak sementara WP telah melunasi utang pajak tersebut, ataupun sebab lainnya. Atas kelebihan pembayaran Pajak Relame, WP dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk oleh bupati/walikota. Pembahan tentang tata cara pengajuan dan penyelesain pengembalian kelebihan pajak adalah sebagaimana yang telah dibahas pada Ketentuan Umum Pajak Daerah.

2.2.16 Bagi Hasil dan Biaya Pemungutan Pajak Reklame

(30)

Hasil penerimaan Pajak Reklame merupakan pendapatan daerah yang harus disetorkan seluruhnya kepada kas daerah kabupaten/kota. Khusus Pajak Reklame yang dipungut oleh pemerintah kabupaten sebagian diperuntukan bagi desa di wilayah daerah kabupaten tempat pemungutan Pajak Hiburan. Hasil penerimaan pajak reklame tersebut diperuntukan paling sedikit 10% bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan. Bagian desa yang berasal dari pajak kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memperhatikan aspek dan potensi antardesa.

2. Biaya Pemungutan Pajak Reklame

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemungutan dan pengelolaan Pajak Reklame, diberikan biaya pemungutan sebesar 5% dari hasil penerimaan pajak yang telah disetorkan ke kas daerah kabupaten/kota. Biaya pemungutan adalah biaya yang diberikan kepada aparat pelaksana pemungutan dan aparat penunjang dalam rangka kegiatan pemungutan. Alokasi biaya pemungutan Pajak Reklame ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota.

2.2.17 Kadaluwarsa Penagihan Pajak Relame dan Penghapusan Piutang Pajak Reklame

1. Kadaluwarsa Penagihan Pajak Reklame

Hak bupati/walikota untuk melakukan penagihan Pajak Reklame kadaluwarsa telah melampaui jangka waktu 5 tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan daerah. Walaupun demikian, dalam keadaan tertentu kadakuwarsa penagihan Pajak Reklame dapat ditangguhkan, yaitu apabila kepada wajib pajak diterbitkan surat teguran dan Surat Paksa atau ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak langsung,.

2. Penghapusan Piutang Pajak Reklame

(31)

olehbupati/walikota . Ketentuan lebih lanjut mengenai penghapusan piutang pajak diatur pada Ketentuan Umum Pajak Daerah.

2.2.18 Kewajiban Pejabat, Ketentuan Pidana, dan Penyidikan Pajak Reklame. 1. Kewajiban Pejabat

Setiap Pejabat yang ditunjuk oleh bupati/walikota untuk mengelola Pajak Relame dilarang memberitahu pihak lain tentang segala sesuatu yang diketahui/diberitahukan oleh WP kepadanya dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. Selain untuk petugas pajak, ketentuan ini berlaku juga bagi mereka yang melakukan tugas dibidang perpajakan daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian akan hak WP bahwa setiap keterangan dan dokumen yang disampaikannya kepada kepala daerah atau pejabat pajak yang ditunjuk hanya untuk kepentingan pengenaan dan pemungutan Pajak Reklame.

2. Ketentuan Pidana

Wajib Pajak Reklame yang karena sengaja atau karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah, dapat dipidana dengan pidana penjara/kurungan dan atau denda sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu lima tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak atau berakhirnya bagian tahun pajak yang bersangkutan. Sanksi pidana kurungan atau penjara dan atau denda juga dikenakan terhadap pejabat yang terkena kealpaan ataupun dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban merahasiakan keterangan tentang wajib pajak yang disampaikan kepadanya. Ketentuan pidana ini dimaksudkan agar WP dan pejabat (fiskus) menjalankan hak dan kewajibannya dengan benar.

3. Penyidikan Pajak Reklame

(32)

menurut ketentuan yang diatur dalam undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.. Ketentuan ini mengacu pada ketentuan yang telah dibahas pada Ketentuan Umum Pajak Daerah.

(33)

PEMBAHASAN

3.1 Undang – Undang Pajak Daerah Pemerintah Kota Bandung PERATURAN DAERAHKOTA BANDUNG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

(Kajian Perda Kota Bandung Perihal Pajak Hiburan dan Pajak Reklame)

3.1.1 Pajak Hiburan

Bagian Ketiga Pajak Hiburan Pasal 13, sebagai berikut :

(1) Dengan nama pajak hiburan dipungut pajak atas penyelenggaraan hiburan.

(2) Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran. (3) Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah:

a. tontonan film;

b. pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana; c. kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; d. pameran bersifat komersil;

e. diskotik, karaoke, klab malam, pub dan sejenisnya; f. sirkus, akrobat, dan sulap;

g. permainan bilyar, golf driving, golf lapangan, dan boling;

h. pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan;

i. panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness centre); dan j. pertandingan olah raga.

(4) Tidak termasuk obyek Pajak Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah: a. penyelenggaraan hiburan kesenian rakyat/tradisional Indonesia, musik dan tari

tradisional Indonesia;

b. penyelenggaraan hiburan dalam pernikahan, khitanan, upacara keagamaan dan di lingkungan pendidikan;

c. pertandingan olah raga atau jenis hiburan lain yang diselenggarakan untuk kegiatan amal;

d. momen khusus yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah; dan e. penyelenggaraan pameran karya pendidikan, produk kerajinan tradisional, budaya

(34)

Pasal 14

(1) Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menikmati hiburan.

(2) Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan.

Pasal 15

(1) Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan.

(2) Jumlah uang yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa hiburan.

Pasal 16

(1) Tarif pajak ditetapkan sebesar: a. tontonan film:

1. harga tiket masuk dengan harga di atas Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen);

2. harga tiket masuk mulai harga Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sampai dengan Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen); dan 3. harga tiket masuk di bawah Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) ditetapkan sebesar

7,5% (tujuh koma lima persen).

b. pagelaran kesenian, musik, tari modern dan/atau busana ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

c. binaraga dan sejenisnya ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

d. pameran yang bersifat komersil ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

e. diskotik, karaoke, klab malam, pub, dan sejenisnya ditetapkan sebesar 35% (tigapuluh lima persen) dari jumlah pembayaran atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

f. sirkus, akrobat, dan sulap ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

(35)

h. pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan dewasa ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

i. panti pijat, refleksi dan mandi uap/spa ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah uang yang seharusnya diterima;

j. Khusus pusat kebugaran (fitness centre) ditetapkan sebesar 10% (Sepuluh persen) dari jumlah uang yang seharusnya diterima;

k. pertandingan olah raga ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima.

(2) Khusus untuk kontes kecantikan ditetapkan sebesar 35% (tigapuluh lima persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

(3) Khusus untuk golf, baik golf driving maupun golf lapangan ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).

(4) Khusus untuk permainan ketangkasan anak ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;

Pasal 17

Besaran pokok Pajak Hiburan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

3.1.2 Pajak Reklame

Pajak ReklamePasal 18, sebagai berikut :

(1) Dengan nama pajak reklame dipungut pajak atas setiappenyelenggaraan reklame. (2) Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan reklame.

(3) Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah sebagaiberikut: a. reklamepapan/billboard/videotron/megatrondansejenisnya;

b.reklame kain;

c.reklame melekat atau stiker; d.reklame selebaran;

(36)

g.reklame film/slide; h.reklame peragaan; dan i.reklame tembok/dinding.

(4) Tidak termasuk sebagai objek Pajak Reklame adalah sebagaiberikut:

a. penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio,wartaharian,wartamingguan,wart abulanan,dansejenisnya;

b. label/merek produk yang melekat pada barang, yangdiperdagangkan,yangberfungsiuntukme mbedakan dariproduk sejenis lainnya;

c.nama pengenal profesi, perusahaan, produk usaha yangdihasilkanyangdipasangmelekatpad abangunanataudiatas tanahdalampersil dan diselenggarakan sesuaidengan

ketentuanyang mengatur nama pengenal tersebut, denganketentuantidakmelebihi2 m2(dua meter persegi);

d.reklameyangdiselenggarakanolehPemerintahatauPemerintah Daerah; dan

e.reklame yang dipasang untuk kegiatan-kegiatan amal dansosialpadalokasiyangdiperbolehkan.

Pasal 19, sebagai berikut :

(1) Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yangmenggunakan reklame. (2) Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yangmenyelenggarakan reklame. (3) Dalam hal reklame diselenggarakan sendiri secara langsungoleh orangpribadiataubadan,

wajib Pajak Reklame adalahorang pribadi atau badan tersebut.

(4) Dalam hal reklame diselenggarakan melalui pihak ketiga, pihakketigatersebutmenjadiWajibPaj akReklame.

Pasal 20, sebagai berikut :

(1) Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah NSR.

(2) NSR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan atasNJOR dan NSPR.

(3) Terhadap NSR di dalam ruangan (indoor) ditetapkan sebesar75%dariNilaiSewaReklamedi luar ruangan (outdoor).

(4) Dalam hal Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, NSRsebagaimanadimaksudpadaay at(1)ditetapkanberdasarkan nilai kontrak Reklame.

(37)

(6) Dalam hal NSR sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidakdiketahuidan/ataudianggaptida kwajar,NSR ditetapkandengan menggunakan faktor-faktorsebagaimanadimaksudpada a yat (5).

(7) PerhitunganNSRsebagaimanadimaksudpadaayat(5)dengancaramenambahkanNilaiJualObj ekReklamedenganNilaiStrategisPemasanganReklame.

(8) HasilPerhitunganNSRsebagaimanadimaksuddalamayat(7)ditetapkan denganPeraturanWalikota.

Pasal 21, sebagai berikut :

(1) NJOR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2),dihitungberdasarkanukuranreklame ,hargadasarukuranreklame, ketinggian, dan harga dasar ketinggian reklame.

(2) Harga dasarukuran dan harga dasar ketinggian seluruhjenisreklamesertacaraperhitunganny adiaturdenganPeraturanWalikotadan khusus untuk naskah reklamerokokditetapkanlebihbe sar dibandingkan harga dasarnaskah reklame lainnya.

Pasal 22, sebagai berikut :

(1) NSPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2)dihitungberdasarkanNilaiF ungsiRuang(NFR)pada lokasipemasangan,Nilai SudutPandang(NSP)danNilai FungsiJalan (NFJ).

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang harga dasar NSPR serta tatacaraperhitungannyadiaturdenga nPeraturanWalikota.

Pasal 23, sebagai berikut :

Tarif Pajak Reklame ditetapkan sebesar 25% (dua puluh limapersen).

(38)

BesaranpokokPajakReklameyangterhutangdihitungdengancaramengalikantarif

sebagaimanadimaksuddalam Pasal23dengandasarpengenaanpajaksebagaimanadimaksuddalamP asal 20

Pasal 25, sebagai berikut :

(1) Dengan nama pajak penerangan jalan dipungut pajak atas setiappenggunaantenagalistrik,baik yangdihasilkan sendiri maupunyang diperoleh dari sumber lain.

(2) Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenagalistrik,baikyangdihasilkanse ndirimaupunyangdiperoleh darisumber lain.

(3) Listrik yang dihasilkan sendiri sebagaimana dimaksud padaayat(2)meliputiseluruhPemba ngkitlistrik.

(4) Dikecualikan dari obyek Pajak Penerangan Jalan sebagaimanadimaksudpadaayat(2)adalahse bagai berikut:

a. penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah atauPemerintah Daerah; b.

penggunaantenagalistrikpadatempat-tempatyangdigunakanolehkedutaan,konsulat,danperwakilanasingdengan asas timbal bali k;

c. penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri dengankapasitastertentuyangtidakme merlukanizindariinstansiteknis terkait;

d. penggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLNdengankapasitastidakmelebih i200(dua ratus) kVA;

e. penggunaan tenaga listrik untuk kepentingan sosial dengandayalistriksampaidengan200(d ua ratus)kVA;

f. penggunaan tenaga listrik untuk kepentingan rumah tanggadengandayalistriksampaideng an450 (empat ratus limapuluh) VA.

Pasal 26, sebagai berikut :

(1) SubjekPajakPeneranganJalanadalah orangpribadi ataubadanyangdapatmenggunakantenagal istrik.

(39)

(3) Dalam hal tenaga listrik disediakan oleh sumber lain, WajibPajakPeneranganJalanadala hpenyediatenagalistrik.

Pasal 27, sebagai berikut :

(1) Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai JualTenaga Listrik. (2) Nilai Jual Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)ditetapkan:

a.Dalam hal tenaga listrik berasal dari sumber lain denganpembayaran,

NilaiJualTenagaListrikadalah jumlahtagihanbiayabeban/tetapditambahdenganbiayapema kaiankWh/variabelyangditagihkan dalamrekeninglistrik;

b.dalam hal tenaga listrik dihasilkan sendiri, Nilai Jual TenagaListrikdihitungberdasarkankep asitastersedia,tingkatpenggunaanlistrik, jangka waktu pemakaian listrik, danharga satua n listrik yang berlaku di Daerah.

Pasal 28, sebagai berikut :

(1) Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan untuk penggunaan:

a. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolonganS3ditetapkansebe sar3%(tiga persen);

b. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolongan R1dengandaya 9 00(sembilan ratus)VA keatas sertagolongan R2dan R3ditetapkansebesar6%(enam pers en);

c. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolonganB1sampaidengan B2ditetapkansebesar6%(enam persen);

d. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolonganB3ditetapkansebesar6 % (enam persen);

e. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolonganI.1ditetapkansebe sar2,5%(dua koma limapersen); dan

f. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN untukgolonganI.2sampaidenganI.4di tetapkansebesar3%(tiga persen).

(40)

Pasal 29, sebagai berikut :

(1) Besaran pokok Pajak Penerangan Jalan yang terutang dihitungdengancaramengalikantarif s ebagaimanadimaksuddalamPasal28dengandasarpengenaanpajaksebagaimanadimaksuddala m Pasal 27.

(2) Hasil penerimaan Pajak Penerangan Jalan sebagian dialokasikanUntukpenyediaanpeneranga njalan.

3.1.3 Kajian atas Pajak Hiburan

(41)

“Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh lima persen).”

Perda Kota Bandung No. 20 Tahun 2011 Pasal 16 ayat (1) e, dan i dan ayat (2) :

(1) “ e. diskotik, karaoke, klab malam, pub, dan sejenisnya ditetapkan sebesar 35% (tigapuluh lima persen) dari jumlah pembayaran atau jumlah uang yang seharusnya diterima;”

“ i. panti pijat, refleksi dan mandi uap/spa ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah uang yang seharusnya diterima;”

(2)“ Khusus untuk kontes kecantikan ditetapkan sebesar 35% (tigapuluh lima persen) dari harga tiket masuk atau jumlah uang yang seharusnya diterima;”

(42)

 Peraturan Daerah (Perda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung sudah ditetapkan. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sudah menyetujui APBD ini.

 Dalam putusannya, pemerintah menganggarkan pendapatan sekira Rp 4,732 triliun dan belanja sekira Rp 5,16 triliun. Artinya, pemerintah memperkirakan terjadi defisit sebesar Rp 427,4 miliar. Namun, defisit ini akan tertutupi melalui sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) tahun anggaran sebelumnya.

 Ketua Pansus APBD Eko Sesotyo di Kota Bandung (25/12/2013) mengatakan pendapatan dalam anggaran ini terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD) Rp 1,7 triliun, dana perimbangan Rp 1,9 triliun, dan pendapatan daerah lainnya yang sah Rp 1,02 triliun. Sementara itu, belanja terdiri dari belanja tidak langsung Rp 2,5 triliun dan belanja langsung Rp 2,6 triliun.

 Dalam pembahasan, dewan meminta pemerintah eksekutif memaksimalkan potensi yang ada. Meski ada prediksi peningkatan PAD, menurut Eko masih ada potensi yang bisa dioptimalkan.

 Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengapresiasi persetujuan dewan atas perda APBD. Dia juga berharap bisa segera realisasikan APBD sesuai kerja yang sudah direncanakan. (A-199/A-88)***

(Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/263695)

3.1.3 Pertanyaan :

Kenapa pajak hiburan di Perda Kota Bandung berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak Hiburan ditetapkan sebesar 35%, padahal Undang – Undang PDRD memberikan tarif setinggi tingginya 75% ? Padahal APBD Kota Bandung untuk tahun 2014 mengalami defisit, kenapa Pemkot Bandung tidak menaikan tarif sehingga menggunakan tarif maksimal untuk Pajak Hiburan?

(43)

No Aspek yang dikaji Keterangan

( diposisikan sebagai tax planner kota Bandung) 1. Economics/Ekonomi -Untuk menghindari pekerja di sektor ini akan dibayar lebih rendah

karena perusahaan dibebani pajak hiburan yang relatif tinggi -Untuk menghindari penurunan pendapatan pengusaha diskotik,

karoke dan sejenisnya, yang pada akhirnya akan menurunkan pendapatan pajak untuk Pemkot Bandung.

-Sebagai stimulus kepada investor untuk menanamkan investasi di Kota Bandung dibidang usaha diskotik, karoke dan sejenisnya. -Pengusaha diskotik,karoke dan sejenisnya yang telah ada (exsting)

dapat mengembangkan usahanya dengan membuka cabang – cabang baru di Kota Bandung, dan dapat menyerap tenaga

5. Services/ Pelayanan Menghindari meningkatnya biaya pelayanan

6. Taxes/ Perpajakan - Menghindari penggelapan pajak oleh Wajib Pajak. - Optimalisasi pajak daerah lainnya.

- Pajak diskotik, karoke dan sejenisnya di Kota besar lainnya seperti Surabaya 35%, Yogyakarta 25%, Jakarta 20% (berita terkini akan naik 10% sd. 35%), dan Denpasar 10%.

No Aspek yang dikaji Keterangan

(44)

7. Community Attitude/ Perilaku Masyarakat

Masyarakat kota Bandung dapat menikmati sarana hiburan diskotik, karoke dan sejenisnya yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat strees masyarakat Kota Bandung.

BAB IV

(45)

Kesimpulan dan saran dapat kami berikan Rekomendasi atas tarif pajak diskotik , karoke dan sejenisnya :

 Pajak diskotik dan sejenisnya dapat dinaikan dengan sistim cluster berdasarkan usia pengunjung sebagai berikut :

No .

Usia Tarif Pajak

1. Usia 17thn- usia 30thn 75%

2. Usia 31thn- usia 40thn 50%

3. Usia 41thn- usia 55thn 40%

4. Usia 56thn keatas 35%

Sistim cluster tarif pajak dilakukan untuk menekan pengunjung usia muda menikmati hiburan jenis ini, dikarenakan pengunjung usia muda belum dapat menyaring dengan baik dampak negatif dari hiburan jenis ini.

DAFTAR PUSTAKA

(46)

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor. 20 Tahun 2011.

Republik Indonesia. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009.

Undang – Undang Nomor 22 tahun 2011 pasal 79 Tentang Pajak Asli Daerah. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 42, Tentang Pajak Hiburan.

M.P. Siahaan. 2013. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Rajawali Pers Penerbit. Jakarta. http://www.pikiran-rakyat.com/node/263695.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...