• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN. doc"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

LISTRIK DAN KONSTRUKSI BANGUNAN

HOTEL AGRIA

Disusun Oleh : KELOMPOK III

Ketua : Ahmad Yusuf Kurniawan

Sekretaris : Rengganis Kumalasari Presenter : Kadek Herlina Pratiwi

Anggota : Alvareza S. Mustika

: Choyron Februanto : Fajar Aringgaraksa : I Made Semarajana : Muh. Irsan Santosa : Syilvester Sitorus P. : Yandri Adriadi

Objek Observasi : Listrik dan Konstruksi Bangunan Nama Perusahaan : Hotel Agria, Bogor

Lokasi : Jl. Raya Tajur, No.612

Kota : Bogor

Propinsi : Jawa Barat

Hari / tanggal : Rabu, 3 Mei 2017

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR 3

BAB I : PENDAHULUAN 4

A. LATAR BELAKANG 4

B. MAKSUD DAN TUJUAN 5 C. RUANG LINGKUP PKL 5 D. DASAR HUKUM 5 BAB II : KONDISI / FAKTA TEMPAT KERJA 6

A. GAMBARAN UMUM 6

B. TEMUAN 6

I. TEMUAN POSITIF 6

II. TEMUAN NEGATIF 8

BAB III : ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH 11

BAB IV : PENUTUP 15

A. KESIMPULAN 15

B. SARAN 15

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan YME atas segala rahmat dan hidayah Nya diberikan kepada peserta pelatihan calon Ahli K3 Umum yang diselenggarakan oleh PT SURVEYOR INDONESIA, JAKARTA yang telah menyelesaikan kegiatan observasi lapangan sebagai salah satu tugas dalam pelatihan calon Ahli K3 Umum.

Hasil observasi yang telah diperoleh merupakan gambaran singkat kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja disuatu area tempat kerja dalam komitmennya memenuhi ketentuan perundangan K3. Hasil Observasi dan Rekomendasi yang diberikan diasumsikan dengan tidak mengesampingkan resiko dan bahaya yang diluar lingkup K3.

(4)

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktek kerja lapangan adalah salah satu materi yang di wajibkan dalam pelatihan K3 Umum yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero) Kantor Pusat dan PT Surveyor Indonesia dari tanggal 25 April 2017 s/d 6 Mei 2017. Praktek kerja lapangan ini berguna untuk mengaplikasikan materi - materi yang didapat sebelumnya pada training di dalam kelas ke dalam praktek keselamatan yang dilakukan secara nyata di lokasi kerja.

Praktek Kerja lapangan yang dipilih sebagai objek observasi adalah Kelistrikan, Mekanikal dan Konstruksi di Hotel Agria, Bogor.

Hotel Agria Bogor merupakan Hotel dengan level bintang 3, dimana perusahaan tersebut mempunyai kamar 76 unit (4 kamar suit, 72 kamar superior), 1 Sky Lounge (Lantai 7), Ruang Lobby, Ruang Loket Karyawan, Ruang Makan tamu dan Karyawan, Gudang, dan fasilitas lainnya seperti kolam renang, dimana di seluruh tempat tersebut memiliki potensi bahaya.

Potensi bahaya listrik dan konstruksi bangunan di Hotel Agria, diperoleh dari faktor instalasi, pengoperasian, penempatan posisi seluruh mesin, dan peralatan listrik, serta keadaan konstruksi gedung.

Bahwa setiap tenaga kerja perlu mendapat perlindungan kesehatan keselamatan kerja Sesuai UU No. 1 tahun 1970 dimana Hotel Agria harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja untuk para karyawan dan orang lainnya yang berada di lingkungan Hotel Agria.

(5)

B. Maksud dan Tujuan

1. Pelatihan sertifikasi Ahli K3 Umum ini bertujuan untuk mencetak Ahli K3 Umum, sesuai dengan Keputusan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-02/MEN/1992 tentang tata cara penunjukan, kewajiban, dan wewenang ahli keselamatan dan kesehatan kerja. Peserta pelatihan dapat melatih kejelian dan ketelitian dalam mengamati lingkungan kerja dalam kaitannya dengan K3. 2. Para peserta diharuskan mampu menyusun dan menyajikan hasil observasi

lapangan kedalam suatu makalah yang sistematis.

3. Para peserta pelatihan didorong untuk mampu dan berani tampil mempresentasikan serta mempertahankan argumentasi atau pendapat dan analisanya dalam suatu forum resmi dan terbuka.

C. Ruang Lingkup PKL 1. Instalasi Listrik.

2. Konstruksi Bangunan pada gedung.

D. Dasar Hukum

a. Undang – Undang

1. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja b. PERATURAN MENTERI

 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-01/MEN/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan.

 SKB Kep 174 MEN 1986 Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi.

 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-02/MEN/1989 tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir.

 Permen ESDM RI No.36 tahun 2014 mengenai pemberlakuan SNI No. 0225:2011 mengenai PUIL 2011 dan SNI 0225/Amd1:2013 mengenai PUIL 2011 Amd 1 sebagai standar wajib.

(6)

BAB II

KONDISI / FAKTA TEMPAT KERJA A. Gambaran Umum

Hotel Agria Bogor merupakan Hotel dengan level bintang 3, dimana perusahaan tersebut mempunyai kamar 76 unit (4 kamar suit, 72 kamar superior), 1 Sky Lounge (Lantai 7), Ruang Lobby, Ruang Loket Karyawan, Ruang Makan tamu dan Karyawan, Gudang, dan fasilitas lainnya seperti kolam renang. Dengan jumlah Karyawan 53 orang dan ditunjang dengan sarana dan prasarana yang sesuai Peraturan Perundangan K3. Hotel Agria Bogor belum melaksanakan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).

B. Temuan

Temuan-temuan positif maupun negatif kami dapatkan berdasarkan fakta dilokasi PKL khususnya Bidang Listrik dan Konstruksi Bangunan. Temuan-temuan dibawah ini bersifat Observasi bukan Audit dan berdasarkan peraturan perundangan tentang K3.

I. TEMUAN POSITIF

NO LOKASI

TEMUAN DESKRIPSI TEMUAN DASAR HUKUM

1 Hotel - Instalasi Listrik telah memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO)

- Pintu Darurat tersedia

- Penyediaan Generator Set

- Peraturan Menteri

Ketenagakerjaan RI No. 12 Tahun 2015 Tentang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Listrik di Tempat Kerja (Pasal 12)

- Permenaker No.

Per-01/MEN/ 1980 tentang Konstruksi Bangunan (Pasal 5 ayat 1)

- PUIL 2011 (8.21 tentang

instalasi generator darurat/genset)

2 Basement dan Area Parkir

- Pemasangan Instalasi Kabel memakai kabel Tray

- Grounding penyalur petir memakai material

tembaga diameter 50 (nilai 0,7 ohm)

- PUIL 2011 (Klausal 444.7.3)

- Permenaker No.

(7)

- Telah terpasang Emergency Lamp

- Terdapat exhaust fan untuk generator set yang berfungsi sebagai

pertukaran udara segar dan pembuangan udara panas

Penyalur Petir (Pasal 2 & 54)

- Permenaker No.

Per-01/MEN/ 1980 tentang Konstruksi Bangunan (Pasal 65 point 2)

- Permenaker No.

Per-04/MEN/1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi (Pasal 31).

3 Lobi dan Ruang Meeting

- Stop kontak di dekat R. Meeting sudah sesuai ketinggiannya

- PUIL 2011 (Bab 5.10.4.4)

4 Lantai 1

- Penerangan di daerah tangga dan tangga darurat

- Sisi tangga yang terbuka sudah diberi pagar atau pengaman yang kuat

- Permenaker No.

Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 5 ayat 2)

- Permenaker No.

Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 8)

5 Lantai 2, 3, 5, 6 (Ruang Kamar)

- Jumlah stop kontak sudah banyak dan

penempatannya sesuai pemakaian sehingga tidak perlu ada percabangan kabel

- Jendela menghadap alam terbuka sehingga

penerangan cukup dan ada sumber udara dari luar

- PUIL 2011 (Klausul

510.4.1.9.3)

- Permenaker No.

Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi

Bangunan (Pasal 5 ayat 2 dan 3)

6 Lantai 7 (Sky Lounge)

- Konduktor pembumian memiliki luas penampang 50 mm2 dan memiliki warna hijau - kuning.

- PUIL tahun 2011 (Klausa

(8)

TEMUAN NEGATIF

NO TEMUANLOKASI DESKRIPSITEMUAN DASAR HUKUM REKOMENDASISARAN & 1 Basement

dan Area Parkir

- Ada perbaikan rembesan air

- Agar dilakukan pemasangan tirai pada lobi ada kabel rol - Peletakan dan

pemasangan

- Kondisi kabel rol tersebar di lantai

(9)

menyebabkan terporosok

- Dimensi lebar tangga kurang

- Isolasi kabel yang tidak

- Pada sisi bagian lantai yang

(10)

30 cm dari lantai

(11)

BAB III

ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH

I. LISTRIK 1. Masalah:

Stop kontak dengan ketinggian yang < 1,25 m tidak menggunakan penutup. PUIL 2011 klausul 510.4.4 “Kotak kontak pasangan dinding di instalasi listrik domestik (rumah tangga) harus dipasang dengan ketinggian sekurang-kurangnya 1,25 m dari lantai, kecuali kotak kontak dari jenis putar atau tutup.”

Pemecahan masalah:

Untuk stop kontak dengan ketinggian < 1,25 m dari lantai agar memakai stop kontak jenis tutup atau putar.

2. Masalah:

Proteksi pada instalasi listrik yang terpasang kurang standar.

PUIL 2011 (klausul 14 MOD halaman 38-39) Tentang Selungkup proteksi (secara listrik) “selungkup listrik yang mengelilingi bagian internal perlengkapan untuk mencegah akses ke bagian aktif berbahaya dari

sembarang arah.” Tentang separasi (listrik) “tindakan proteksi dengan

bagian aktif berbahaya diinsulasi dari semua sirkit dan bagian listrik lain dari bumi setempat dan dari sentuhan”

PUIL tahun 2011 (klausa 134.1.11.6 MOD 2546) “Sambungan puntir hanya dapat dilaksanakan : a) dengan menggunakan kontak sambung dengan pita insulasi dan/ atau lasdop.

PUIL tahun 2011 (klausa 510.3.4.2) “setiap kotak sambung harus dilengkapi dengan penutup kecuali jika sudah tertutup oleh kap armature, fitting lampu, kotak kontak, roset, atau gawai yang sejenis.”

Pemecahan masalah:

(12)

3. Masalah:

Penangkal petir hanya mempunyai 1 (satu) buah penghantar penurunan. Permenaker No. Per-02/MEN/1989 (Pasal 19 ayat 1) “Instalasi penyalur petir dari suatu bangunan paling sedikit harus mempunyai 2 (dua) buah penghantar penurunan.”

Pemecahan Masalah :

Menambah jumlah penghantar penurunan menjadi minimal 2 (dua) buah.

4. Masalah:

Penempatan kabel rol dekat dengan tirai (bahan mudah terbakar) dan kabelnya berserak di lantai.

PUIL 2011 (Klausul 421.1 bagian 3.23.2.1) “Perlengkapan listrik tidak boleh menimbulkan bahaya kebakaran pada bahan yang berada di sekitarnya.”

Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 6) “Kebersihan dan kerapihan di tempat kerja harus dijaga sehingga bahan yang berserakan, bahan-bahan bangunan, peralatan dan alat-alat kerja tidak merintangi atau menimbulkan kecelakaan.”

Pemecahan Masalah :

Peletakan dan pemasangan kabel harus memperhatikan estetika dan harus dijauhkan dari potensi bahan yang mudah terbakar dan kecelakaan.

II. KONSTRUKSI GEDUNG 1. Masalah:

Ada perbaikan rembesan air pada Gudang menggunakan bambu. Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Konstruksi Bangunan

(Pasal 81) “Untuk melindungi tenaga kerja sewaktu melakukan pekerjaan konstruksi, harus dibuatkan lantai kerja sementara yang kuat.”

Pemecahan Masalah :

(13)

2. Masalah:

Adanya retakan pada dinding bangunan menunjukkan indikasi adanya kelebihan beban dan kurang kuatnya dinding menahan beban.

Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 11) “Tindakan harus dilakukan untuk mencegah bahaya terhadap orang yang disebabkan oleh runtuhnya bagian yang lemah dari bangunan darurat atau bangunan yang tidak stabil.”

Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 72) “Pembangunan konstruksi beton harus direncanakan dan dihitung dengan teliti untuk menjamin agar konstruksi dan penguatnya dapat memikul beban dan tekanan lainnya sewaktu membangun tiap-tiap bagiannya.”

Pemecahan Masalah :

Kekuatan dinding disesuaikan dengan beban yang akan diterima agar tidak menimbulkan keretakan yang berpotensi runtuh dan menimbulkan bahaya.

3. Masalah:

Pada salah satu sisi tangga darurat terdapat celah yang bisa menyebabkan terporosok dan dimensi tangga tamu kurang lebar.

Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 8) “Semua peralatan sisi lantai yang terbuka, lubang- lubang di lantai yang terbuka, atap-atap atau panggung yang dapat dimasuki, sisi-sisi tangga yang terbuka, semua galian-galian dan lubang-lubang yang dianggap berbahaya harus diberi pagar atau tutup pengaman yang kuat.”

Permenaker No. Per-01/MEN/ 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan (Pasal 27) “Tangga rumah harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menahan dengan aman beban yang harus dibawa melalui tangga tersebut dan harus cukup lebar untuk pemakaiannya secara aman.”

Pemecahan Masalah :

(14)

4. Masalah:

Kabel duct overload oleh kabel.

SNI No. 0225 2011, klausul 444.7.2 bagian catatan “Kedalaman rak sebaiknya sekurangnya dua kali diameter kabel terbesar yang akan dipertimbangkan.”

Pemecahan Masalah :

(15)

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil observasi pada Hotel Agria Bogor, Kelompok 3 (tiga) menyimpulkan bahwa :

• Generator Set sudah dilakukan pemeriksaan dan perawatan secara berkala (1 kali dalam seminggu).

• Generator set sudah memiliki izin pemakaian, exhaust fan, ruang yang cukup untuk 1 mesin genset, label, dan alat peredam suara.

• Hantaran turunan untuk penangkal petir sudah menggunakan material tembaga dengan luas penampang 50 mm2 dan nilai tahanan pembumian sebesar 0,7

ohm.

• Instalasi kabel listrik di Hotel Agria Bogor sudah memiliki sertifikat laik operasi (SLO).

• Masih kurang lengkapnya rambu-rambu K3 pada tempat-tempat dengan akses terbatas.

B. SARAN

• Hotel Agria Bogor diharapkan dapat memenuhi standart/ undang-undang/ peraturan baku yang sudah ditetapkan oleh pemerintah mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.

• Bagian konstruksi bangunan yang belum selesai perlu diberikan pengawasan dan rambu untuk tidak digunakan.

• Perlu adanya penambahan hantaran turunan menjadi minimal 2 buah hantaran. • Perlu ditambahkan rambu-rambu K3 pada tempat-tempat dengan akses

terbatas dan tempat berpotensi bahaya listrik.

• Kabel kompresor AC dapat diganti dengan bahan yang kuat terhadap kondisi outdoor.

(16)

• Tangga darurat yang belum selesai dikerjakan agar dibuatkan tanda keterangan.

• Ruang meeting perlu diperbaiki jalur instalasi stop kontaknya pada setiap meja sehingga lebih aman dan tidak berantakan kabelnya.

• Wiring kabel di panel listrik perlu diperbaiki agar memudahkan pemeliharaan. • Perlu penggantian jenis lampu LED agar penerangan lampu di beberapa titik

dapat diperbaiki.

• Untuk warna panel pada lantai 7 agar tidak dicat warna hitam (sama dengan warna tembok) karena menjadi tidak terlihat dan membahayakan sehingga tidak terlihat jika itu adalah panel listrik.

• Stop kontak di tempat rendah agar diganti dengan stop kontak jenis tutup atau putar.

• Perlu pemasangan dinding penyekat antara ruang genset dan peralatan motor untuk pemadam kebakaran.

• Konstruksi pada kamar mandi dengan toilet agar disekat dengan tirai atau ditambahkan penyekat kaca agar pada saat mandi air tidak tersebar ke bagian toilet yang mengakibatkan lantai licin karena air.

• Safety menjadi budaya tidak hanya di tempat kerja, namun dimana saja, kapan saja dan siapa saja.

Demikian laporan hasil observasi ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kami selaku peserta seminar. Disamping itu kami ucapan terima kasih kepada bapak-bapak instruktur dari KEMENAKERTRANS, yang telah memberikan ilmunya kepada kami, mudah-mudahan dapat kami Aplikasikan di tempat kerja kami. Terkait itu, kami ucapkan pula terima kasih kepada Direksi yang telah mempercayakan kepada kami untuk mengikuti pelatihan Ahli K3 umum di PT Surveyor Indonesia

(17)

Lampiran 1

DOKUMENTASI TEMUAN I. TEMUAN POSITIF

NO LOKASI

TEMUAN DESKRIPSI TEMUAN DOKUMENTASI

1 Hotel - Pintu Darurat tersedia

- Penyediaan Generator Set

2 Basement dan Area Parkir

- Pemasangan Instalasi Kabel memakai kabel Tray

- Grounding memakai material tembaga diameter 50 (nilai 0,7 ohm)

- Telah terpasang Emergency Lamp

(18)

generator set yang berfungsi sebagai pertukaran udara segar dan pembuangan udara panas

3 Lobi dan Ruang Meeting

- Stop kontak di dekat R. Meeting sudah sesuai ketinggiannya

4 Lantai 1 (Restoran, Kolam Renang, Ruang Meeting)

- Penerangan di daerah tangga dan tangga darurat

- Sisi tangga yang terbuka sudah diberi pagar atau pengaman yang kuat

5 Lantai 2, 3, 5,

6 (Ruang

Kamar)

(19)

6 Lantai 7 (Sky Lounge)

- Konduktor pembumian memiliki luas penampang 50 mm2 dan memiliki warna hijau - kuning.

II. TEMUAN NEGATIF

NO TEMUANLOKASI DESKRIPSI TEMUAN DOKUMENTASI 1 Basement

dan Area Parkir

- Ada perbaikan rembesan air pada Gudang

menggunakan bambu

3 Lobi dan Ruang Meeting

- Stop kontak di dekat sofa letaknya terlalu rendah

- Di belakang tirai pada lobi ada kabel rol yang tidak rapi

4 Lantai 1 (Restoran, Kolam Renang, Ruang Meeting)

- Kondisi kabel rol tersebar di lantai

(20)

- Pada salah satu sisi tangga darurat terdapat celah yang bisa

menyebabkan terporosok

- Dimensi lebar tangga kurang

- Isolasi kabel yang tidak sesuai standar

- Kabel duct overload oleh kabel

(21)

5 Lantai 2, 3, 5, 6 (Ruang Kamar)

- Pada Lorong lantai terdapat stop kontak dengan jarak 30 cm dari lantai

- Kabel instalasi di lorong evakuasi terbuka

6 Lantai 7 (Sky Lounge)

- Penangkal petir hanya mempunyai 1 (satu) buah penghantar penurunan.

- Sambungan Kabel power untuk lampu outdoor tidak menggunakan kotak sambung

- Kotak sambung (T-Dos) tidak tertutup.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari pelaksanaan konstruksi adalah untuk mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana, dengan biaya

 Pada pekerjaan proyek, peralatan dan bahan konstruksi adalah dua sumber utama penyebab bahaya dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Setiap peralatan dan bahan yang digunakan

1) Persiapkan semua peralatan dan bahan pada tempat yang aman. 2) Selanjutnya lubangi catrid printer anda dengan bor 3.5mm atau anda bisa juga menggunakan solder. Ingat jangan

Kriteria zero accident menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: PER-01/MEN/I/2007 tentang Pedoman Pemberian Penghargaan Keselamatan

 Pada pekerjaan proyek, peralatan dan bahan konstruksi adalah dua sumber utama penyebab bahaya dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Setiap peralatan dan bahan yang digunakan

Melaksanakan pengelolaan sumber daya air yang meliputi Perencanaan, Pelaksanaan Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan dalam rangka konservasi sumber daya air, pengembangan sumber daya

01/1980 tentang K3 pada Konstruksi Bangunan Pada Bab I pasal 3 ayat 1,2,3, isinya antara lain; pada pekerjaan konstruksi diusahakan pencegahan kecelakaan atau sakit akibat kerja,

Laporan Kerja Praktik tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT MC PET Film Indonesia, fokus pengendalian bahaya dan