BAB II
KAJIAN TEORITIS 2.1Pendidikan Pemakai
Semakin berkembangnya metode pendidikan di perguruan tinggi, kebutuhan
akan perpustakaan semakin dirasakan. Tetapi dengan demikian cepatnya
perkembangan ilmu pengetahuan, jumlah dan macam koleksi juga semakin
bertambah, sehingga pengguna perpustakaan terutama mahasiswa, makin bingung
dalam usahanya dalam menemukan informasi. Dengan demikian mereka tidak dapat
memanfaatkan perpustakaan semaksimal mungkin. Namun di lain pihak, keberadaan
suatu perpustakaan sebagai pusat pendidikan dan bahkan tempat pendidikan seumur
hidup sudah terpatri dihati pengguna.
Dalam hal inilah perpustakaan diharapkan untuk meningkatkan jasa
informasinya secara aktif salah satu langkah yang tepat untuk menanggulangi hal
tersebut adalah menyelenggarakan suatu program pendidikan pemakai pada
perpustakaan. Secara umum istilah pendidikan pemakai dalam konteks ilmu
perpustakaan adalah pengertian yang sama dengan istilah bimbingan pemakai,
pendidikan pemakai, atau User Education.
Defenisi Pendidikan Pemakai menurut Hasanah yang dikutip oleh Wahyuni
(2010 : 1) adalah sebagai berikut:
Pendidikan pemakai adalah salah satu kegiatan jasa pemanduan dari perpustakaan untuk membantu pemakai perpustakaan dalam meningkatkan keterampilan pemakai menemukan informasi yang diinginkan secara cepat dan tepat.
Selain pendapat di atas masih ada pendapat lain tentang pendidikan pemakai
Pendidikan pemakai merupakan program yang diselenggarakan perpustakaan untuk memberikan bimbingan, petunjuk, maupun pendidikan kepada calon pemakai perpustakaan dalam kegiatan mereka, memanfaatkan jasa informasi dan sarana perpustakaan. kegiatan ini di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi sudah lazim dilaksanakan baik secara formal atau pun non-formal,dan diberlakukan untuk mahasiswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan pemakai adalah
program yang diselenggarakan oleh perpustakaan kepada calon pemakai dalam
memanfaatkan jasa informasi dan sarana serta memberikan keterampilan pemakai
dalam menemukan informasi secara cepat dan tepat.
2.1.2. Fungsi Pendidikan Pemakai
Pendidikan pemakai adalah suatu proses yang paling efektif untuk
menginformasikan informasi dari satu individu keindividu lainnya. Menurut Sudarsih
(2011 : 1) menjelaskan pendidikan sebagai berikut :
Pendidikan pemakai adalah suatu proses dimana pemakai perpustakaan pertama-tama didasarkan Oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.
Pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa yang paling penting dalam proses
pendidikan adalah luasnya sumber informasi dan sumber informasi yang tersedia
dalam pendidikan pemakai dan bagaimana mengajarkan pemakai mengeksploitasi
sumber daya yang tersedia.
Menurut Sutarno (2006 : 95) menjelaskan bahwa fungsi dari bimbingan
tentang pengguna perpustakaan kepada sekelompok pengguna baru perpustakaan.
fungsi dilakukannya bimbingan pemakai bagi perpustakaan yaitu :
1. Pemakai perpustakaan dapat mengenal dan memahami serta menggunakan sistem yang dilakukan di perpustakaan tersebut.
2. Menggunakan sarana temu informasi yang tersedia seperti kude/nomor klasifikasi, kartu catalog, dan penunjuk yang lain.
3. Pemakai perpustakaan dengan cepat dan tepat menemukan apa yang diperlukan, tanpa banyak membunag waktu, tidak menemui kesulitan dan hambatan.
4. Pendidikan pemakai memperluas jangkauan pemakaian koleksi oleh pengunjung dan anggota perpustakaan.
5. Pendidikan pemakai mengembangkan citra perpustakaan sebagai bagian dari lembaga pendidikan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan pemakai memiliki
fungsi yang sangat penting dari fungsi perpustakaan. Oleh karena itu pendidikan
pemakai harus memiliki peran yang besar dalam mendukung perpustakaan yang ingin
digunakan oleh pengguna perpustakaan.
2.1.3 Tujuan Pendikan Pemakai
Perpustakaan perguruan tinggi harus memberikan suatu bimbingan kepada
pemakainya dalam hal ini mahasiswa sebagaimana dikatakan bahwa pendidikan
pemakai adalah pusat dari segala tujuan perpustakaan yang efektif dan sumber daya
informasi. Tujuan utama pendidikan pemakai memperkenalkan kepada pemakai
bahwa perpustakaan adalah suatu sistem yang didalamnya ada gedung, koleksi,
sumber daya manusia dan pengguna yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lain. Kehadiran perpustakaan dengan koleksi yang lengkap tidak ada artinya tanpa
kehadiran pemakai, demikian pula sebaliknya.
Adapun tujuan pendidikan pemakai menurut Sulistyo Basuki (2004 : 392)
Mengembangkan keterampilan pemakai yang diperlukannya untuk menggunakan perpustakaan atau pusat dokumentasi, mengembangkan keterampilan tersebut untuk mengidentifikasi masalah informasi yang dihadapi pemakai, merumuskan kebutuhan informasinya sendiri (pemakai), mengindentifikasi kisaran kemungkinan sumber informasi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya, menilai kecepatan, kekuatan dan kelemahan masing-masing sumber informasi dan yang paling penting mampu menghadapi ketidaksamaan informasi yang disediakan oleh sumber yang berlainan dan megasimilasi, mengumpulkan, menyajikan, dan menerapkan informasi.
Sementara itu menurut Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman
(2004 : 95) menyatakan :
1. Meningkatkan keterampilan pengguna agar mampu memanfaatkan kemudahan dan sumber daya perpustakaan secara mandiri.
2. Membekali pengguna dengan teknik yang memadai dan sesuai untuk menemukan informasi secara dalam subjek tertentu.
3. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya dan layanan perpustakaan. 4. Mempromosikan layanan perpustakaan.
5. Menyiapkan pengguna agar dapat mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi.
Ada bermacam-macam tujuan yang hendak dicapai dalam program
pendidikan pemakai, antara lain:
1. Agar mahasiswa menggunakan perpustakaan secara efektif dan efesien. 2. Agar mahasiswa menggunakan sumber-sumber literatur dan dapat
menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
3. Memberi pengertian pada mahasiswa akan tersedianya informasi di perpustakaan dalam bentuk tercetak atau tidak tercetak.
4. Memperkenalkan kepada mahasiswa jenis-jenis koleksi serta cirri-cirinya. 5. Memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan
sumber-sumber informasi agar mahasiswa mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan, mempelajari dan memecahkan masalah. 6. Mengembangkan minat baca masyarakat pemakainya.
7. Memperpendek jarak antara pustakawan dengan pemakainya. 8. Menuju masyarakat informasi (Nurjanah, 2010 : 3).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan pemakai untuk
sehingga pemakai perpustakaan dapat menilai sumber informasi dan yang paling
penting mampu menghadapi ketidaksamaan informasi yang disediakan oleh sumber
yang berlainan dan megasimilasi, mengumpulkan, menyajikan, dan menerapkan
informasi tersebut dalam kehidupannya.
2.1.4 Materi Pendidikan Pemakai
Pada dasarnya materi yang diterapkan dalam pendidikan pemakai pada
perpustakaan relatif sama antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya.
Secara umum Darmono (2001 : 23) menyebutkan beberapa materi bimbingan
pemanfaatan perpustakaan antara lain adalah :
1. Pengenalan terhadap denah perpustakaan 2. Peraturan perpustakaan
3. Alat penelusuran informasi
4. Pengenalan terhadap bagian-bagian layanan perpustakaan 5. Pengenalan terhadap penempatan koleksi
6. Pengenalan terhadap ruang baca.
Menurut Rice yang dikutip oleh Sudarsih (2011 : 5) tujuan dan materi
pendidikan pemakai diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Orientasi perpustakaan
Materi yang di ajarkan berupa pengenalan terhadap perpustakaan secara
biasanya diberikan ketika siswa/mahasiswa baru memasuki suatu lembaga pendidikan
bersangkutan, materinya antara lain : Pengenalan Gedung Perpustakaan, pengenalan
Katalog dan alat penelusuran lainnya, pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk
bahan-bahan rujukan dasar. Sedangkan Tujuan yang ingin dicapai adalah:
3. Mengenal layanan- layanan khusus seperti penelusuran melalui computer, layanan peminjaman.
4. Mengenalkan kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam layanan perpustakaan.
5. Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. 6. Termotivasi untuk dating kembali dan menggunakan sumber-sumber yang
ada di perpustakaan.
2. Pengajaran Perpustakaan.
Materi yang diajarkan merupakan penjalasan lebih dalam lagi mengenai
bahan-bahan perpustakaan secara spesifik. Ini berhubungan dengan kemampuan
mahasiswa dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan
semua bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan materinya antara lain:
a. Teknik penggunaan indeks, katalog, bahan-bahan rujukan, dan alat-alat bibliografi.
b. Penggunaan bahan atau sumber pustaka sesuai dengan subjek atau jurusan.
c. Melaksanakan teknik-teknik penelusuran informasi dalam sebuah tugas penelitian atau pembuatan karya ilmiah lainnya.
Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Dapat menggunakan pedoman pembaca untuk mencari bahan-bahan artikel.
2. Dapat menemukan buku-buku yang berhubungan dengan subjek khusus melalui katalog.
3. Dapat menggunakan bentuk mikro dan alat-alat baca lainnya secara tepat.
4. Dapat menggunakan alat rujukan khusus seperti ensiklopedi, almanak, bibliografi.
5. Menemukan koleksi visual dan dapat menggunakannya.
6. Mengetahui sumber-sumber yang tersedia diperpustakaan lainnya dan dapat melakukan permintaan peminjaman.
7. Melakukan suatu penelusuran dalam layanan pengindeksan seperti pada pusat informasi sumber pendidikan dan dapat menemukan dan menggunakan hasil-hasil sitasi.
Materi yang diajarkan lebih condong sebagai langkah persiapan mengadakan
atau sebagai dasar penelitian dalam rangka menyusu karya akhir. Pada level ketiga ini
bias ditawarkan melalui mata ajar formal sebagai bagian dari kurikulum muatan
lokal. Materi yang disampaikan antara lain:
a. Informasi dan pengorganisasiannya.
b. Tajuk subyek dan defenisi suatu topik karya ilmiah. c. Macam-macam sumber untuk penelitian.
d. Membuat kerangka teknik dan perencanaan suatu karya ilmiah. e. Teknik-teknik membuat catatan dalam karya ilmiah.
f. Gaya, catatan kaki, rujukan dan sumber bahan bacaan.
g. Strategi penelitian, kesempatan dalam penelitian, dan pemakai yang tepat layananan koleksi yang diberikan perpustakaan.
h. Membuat / menulis karya ilmiah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa materi pendidikan
pemakai menekankan pada aspek yang lebih konsepsional dan sasarannya adalalah
para pemakai yang sudah memahami fisik dan memerlukan teknik penelusuran,
penyerapan dan pemanfaatan informasi yang dibutuhkannya. Melalui beberapa materi
pendidikan pemakai juga dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan
pemakai pada perpustakaan, harus mampu menginformasikan aspek-aspek penting
yang berkaitan dan dimiliki oleh perpustakaan kepada pengguna perpustakaan,
dengan harapan melalui pendidikan pemakai maka pengguna perpustakaan tidak akan
merasa asing dan lebih cepat beradaptasi terhadap tatanan sistem operasional
perpustakaan.
Sementara itu, kemungkinan terdapatnya perbedaan materi pendidikan
pemakai antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya sangat mungkin
terjadi. Hal ini sudah lumrah karena pada dasarnya peraturan mengenai pendidikan
(level) antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya juga banyak yang
memiliki perbedaan atau dengan kata lain belum seragam. Namun materi yang
menyangkut keadaan umum perpustakaan biasanya disertakan pada setiap pendidikan
pemakai di seluruh perpustakaan.
2.1.5 Metode Pendidikan Pemakai
Agar program pendidikan pemakai perpustakaan berjalan dengan baik, maka
perlu menentukan terlebih dahulu metode yang sesuai dan efektif untuk digunakan.
menurut Kosterman yang dikutip oleh Purnomo (2006 : 119) menyarankan bahwa
suatu metode pengajaran harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Dapat mengkomunikasikan tujuan-tujuan yang telah dibuat.
2. Dapat membuat seseorang tertarik untuk perhatian dan memotivasi mereka untuk perhatian penuh terhadap apa yang sedang diajarkan.
3. Dapat mendorong seseorang untuk ambil bagian dengan menolongnya untuk mempersiapkan pelajaran-pelajaran.
4. Dapat memberikan umpan balik untuk menguji efektifitas metode tersebut melalui indikator-indikator yang jelas.
Menurut Nusharee Trelowjorg yang dikutip oleh Irawan (2005 : 21) pada
dasarnya metode pendidikan pemakai terbagi 2 (dua) macam, yaitu metode
pengajaran langsung dan metode pengajaran tidak langsung.
1. Pengajaran langsung adalah pelajaran yang diberikan melalui hubungan langsung
antara pengajar dengan mahasiswa. Metode dapat bersifat resmi dan tidak resmi.
a. Pengajaran langsung bersifat resmi, yaitu pengajaran yang merupakan bagian
integral dari kurikulum perguruan tinggi yang bersangkutan, dan memperoleh
bonbot kredit semester.
b. Pengajaran langsung bersifat tidak resmi, yaitu pengajaran tersebut bukan
kredit semester.
2. Pengajaran tidak langsung yaitu pengajaran yang diberikan melalui media
tertentu.
Ada beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan dalam pendidikan
pemakai dilingkungan sivitas Perguruan Tinggi : Presentasi atau kuliah di kelas,
Wisata Perpustakaan, Penggunaan Audio Visual, Permainan dan Tugas Mandiri,
Penggnaan Buku Pedoman atau Pamflet yaitu menurut Fjallbrant (1984 : 43) adalah:
a. Lectures atau Ceramah di kelas
Yaitu memberikan ceramah secara umum, isi ceramah mengajarkan
pemakai dalam hal ini mahasiswa bagaimana cara menggunakan perpustakaan
dengan baik dalam rangka mengatasi kebutuhan-kebutuhan mereka akan
informasi.
b. The Tour of The Library atau Wisata Perpustakaan
Yaitu dengan melakukan perjalanan keliling di perpustakaan sekaligus
memperkenalkan perpustakaan secara umum. Kegiatan ini dapat dilaksanakan
pada masa orientasi mahasiswa. Beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam
memandu wisata perpustakaan, antara lain :
1. Menciptakan suasana yang bersahabat dan informal serta terbuka untuk
beberapa pertanyaan.
2. Usahakan berbicara tidak terlalu cepat dan sensitif terhadap kebingungan
yang dialami pemakai.
3. Gunakan sarana pembantu untuk memperjelas sesuatu yang didiskusikan,
4. Buatlah para peserta berperan aktif untuk mencoba menggunakan fasilitas
yang ada.
5. Waktu yang digunakan tidak terlalu lama, maksimal 45 menit.
6. Sediakan buku panduan yang dapat membantu mereka selama mengikuti
wisata perpustakaan tersebut.
c. Penggunaan Audio Visual/ Audio Visual Methods
Metode ini merupakan pengajaran tidak langsung yaitu pengajaran
yang diberikan melalui media tertentu. Media yang digunakan diantaranya
adalah kaset, televisi, slide, CD-ROM, dan lain-lain.
Pemakai perpustakaan dapat menjelajahi perpustakaan dengan
mendengarkan instruksi yang direkam dalam kaset. Mereka dapat mematikan
dan mengulang kaset tersebut sesuai dengan kemampuannya dalam
memahami instruksi yang terdapat dalam kaset.
Orientasi perpustakaan dapat juga dikakukan melalui penggunaan
televisi, para peserta dapat menyaksikan dan memperoleh penjelasan
mengenai berbagai hal, seperti: fasilitas perpustakaan, pelayanan
perpustakaan, dan fungsinya masing-masing. Slide dapat digunakan dalam
menerangkan lokasi, fasilitas dan pelayanan perpustakaan dengan
memberikan keterangan-keterangan yang diberikan oleh pemandu atau
rekaman suara.
d. Printed Guides /Penggunaan Buku Pedoman atau Pamflet.
Metode ini juga merupakan pengajaran tidak langsung. Teknik ini
perpustakaan melalui berbagai keterangan yang ada pada buku panduan atau
pamflet. Biasanya diterapkan ketika peserta melaksanakan wisata
Perpustakaan.
Dari uraian di atas menyatakan bahwa metode pendidikan pemakai
bermacam-macam, maka metode yang diterapkan pada perpustakaan sesuai dengan
keadaan perpustakaan dan kebutuhan pemakai perpustakaan itu sendiri.
2.1.6 Manfaat Pendidikan Pemakai
Seorang ilmuwan, Howard W. Dillon (1975 : 4) , menyatakan betapa vitalnya
pendidikan pemakai karena :
a. Bahwa sumber-sumber yang ada di perpustakaan merupakan komponen
penting dalam proses pendidikan, karena itu koleksi yang memadai penting
guna menunjang kurikulum resmi.
b. Bahwa sumber-sumber di perpustakaan harus merefleksikan suatu
pendekatan meltimedia terhadapa pengajaran, mencakup materi tercetak
dan materi tidak tercetak.
c. Bahwa kemampuan menggunakan perpustakaan merupakan bekal utama
dari pendidikan bebas, karena itu perpustakaan bertanggung jawab untuk
menggunakan kemampuan itu. Selain dari tujuan yang disebutkan di atas
maka terdapat pula manfaat dari pendidikan pemakai perpustakaan
perguruan tinggi.
Dalam melakukan studinya di perguruan tinggi mahasiswa dapat juga
menggunakan literatur-literatur penting yang terdapat di perpustakaan sebagai bahan
literatur tersebut adalah :
1. Literatur primer, yaitu karya asli seseorang yang belum di interpretasikan, di ringkas ataupun di evaluasi oleh orang lain.
2. Literatur sekunder, yaitu sebuah indeks yang digunakan untuk menemukan literatur primer, yang memuat karya asli yang telah dimodifikasi, diseleksi dan disusun kembali untuk tujuan tertentu.
3. Literatur tersier, berisi informasi mengenai literatur sekunder.
Sedangkan menurut Fjallbrant yang dikutip oleh Alam (2003 : 5) menyatakan
bahwa manfaat pendidikan pemakai adalah :
1. Menyadari eksistensi perpustakaan universitasnya, mengetahui kandungan isinya dan waktu layanan yang tersedia.
2. Mampu mengenai lokasi buku, diktat, ensiklopedia, kamus, penerbitan berkala dan tempat dimana bisa bahan yang diperlakukannya.
3. Mampu membedakan setiap jenis katalog.
4. Mampu menggunakan perpustakaan dan mengisi format isian yang umum digunakan di perpustakaan mereka.
5. Memiliki keinginan yang besar untuk menggunakan dan memahami cara penggunaan perpustakaan dengan percaya diri terutama bahan-bahan yang terkait langsung dengan perkuliahan yang sedang ditempuh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat pendidikan pemakai
adalah pengguna mengerti lokasi dan isi perpustakaan dan memahami perpustakaan
sebagai pusat informasi terbatas untuk menunjang tugas-tugas belajar mereka serta
dapat menggunakan perpustakaan secara mandiri.
2.1.7 Waktu Pelaksanaan Pendidikan Pemakai
Pelaksanaan pendidikan pemakai yang diadakan oleh perpustakaan perguruan
tinggi juga harus diperhatikan waktu pelaksaannya. Karena setiap pengguna
pendidikan pemakai sebaiknya dilaksanakan dengan waktu yang tidak terlalu lama
singkat, tepat dan padat.
Darmono (2001 : 168) Bimbingan perpustakaan biasanya dilakukan oleh
pustakawan atau petugas perpustakaan. Waktu yang diberikan sangat bervariasi,
tergantung, dari jenis perpustakaannya. Untuk perpustakaan besar dengan koleksi dan
jenis layanan yang sangat banyak maka waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama
bila dibandingkan dengan perpustakaan yang relatif kecil.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa waktu pelaksanaan
pendidikan pemakai dilaksanakan tergantung koleksi dan besar kecil gedung
perpustakaan.oleh karena itu sebaiknya pelaksanaan pendidikan pemakai dilakukan
saat setelah penerimaan mahasiswa baru.
2.1.8 Dampak Penerapan Pendidikan Pemakai
Dengan diterapkannya pendidikan pemakai pada perpustakaan diharapkan
memberikan dampak positif yang signifikan di kalangan pengguna perpustakaan. Hak
(2007) mengutarakan beberapa dampak yang diharapkan dari adanya pendidikan
pemakai yaitu sebagai berikut:
1. Pengetahuan, misalnya: dari yang tadinya tidak tahu penggunaan susunan klasifikasi untuk pengelola untuk pengelolaan buku-buku atau koleksi lainnya menjadi tahu makna dan manfaatnya, sehingga dapat menggunakan katalog untuk penemuan kembali buku-buku yang dibutuhkannya.
2. Sikap, misalnya: dari yang tadinya bersikap perpustakaan hanya sebagai tempat penyimpanan buku menjadi perpustakaan sebagai tempat untuk mencari informasi (sumber belajar), sehingga selalu datang ke perpustakaan untuk memenuhi segala kebutuhan informasinya baik itu yang berhubungan langsung dengan perkuliahannya maupun untuk keperluan informasi lainnya.
cara menjaga kerapihan dan menempatkan kembali sesuai dengan susunan klasifikasi atau “call number” buku di rak atau sarana perpustakaan lainnya.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa terdapat indikasi dengan adanya
pendidikan pemakai dampak positif memberikan kemungkinan yang lebih besar.
Namun demikian, faktor yang juga perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan
pengaruh yang dapat ditimbulkan adalah faktor pendidikan ( proses dan aktivitasnya)
dan pengguna perpustakaan ( peserta didik) itu sendiri.
2.1.9 Peran Pustakawan dalam Pendidikan Pemakai
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (Salim, 2002 : 1132)
disebutkan bahwa istilah peran memiliki arti “bagian dari tugas utama yang harus
dilakukan”.
Defenisi pustakawan menurut Hasugian (2009 : 13), Pustakawan adalah
person atau orang yang bekerja di perpustakaan, akan tetapi tidak semua orang yang
bekerja di perpustakaan disebut pustakawan, melainkan hanya mereka yang memiliki
keahlihan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dalam bidang
perpustakaan dan informasi.
Pustakawan juga merupakan profesi yang mengaplikasikan pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan untuk melakukan berbagai kegiatan
di perpustakaan, dokumentasi dan pada lemabaga lain yang bergerak dalam
pengelolaan informasi.
Menurut Ikatan Pustakawan Indonesia yang dikutip oleh Hermawan (2006 :
Pustakawan adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi, dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara professional dibidang perpustakaan dan informasi.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran pustakawan adalah tugas
pustakawan dalam melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan
pelayanan kepada pengguna perpustakaan sesuai dengan tugas lembaga induknya
berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi, dan informasi. Tugasnya adalah
memberikan pendidikan, bimbingan, dan bekerjasama kepada pengguna dalam hal
mencari dan menemukan informasi dengan cepat dan tepat serta memanfaatkan
informasi tersebut.
Pustakawan memiliki peran yang paling besar dalam proses penerapan
pendidikan pemakai pada perpustakaan. Hal ini disebabkan karena pustakawanlah
yang memang seharusnya benar-benar mengetahui segala seluk beluk fasilitas dan
aktivitas jasa yang ada di perpustakaan. Oleh sebab itu, para pustakawan diharapkan
benar-benar professional dalam mengajarkan materi ketika pendidikan pemakai
dijalankan.
Kegiatan kerja professional pustakawan yang harus dilakukan pada layanan
pendidikan pengguna menurut Soedibyo (2005 : 121 ) adalah:
1. Membuat perencanaan penyampaian bahan, metode, teknik, dan sasaran usaha bimbingan pemakai.
2. Menetapkan tingkat dan sistem penyampaian bimbingan yang sesuai. 3. Menetapkan dan mengatur waktu pemberian bimbingan dan pendidikan
pemakai kepada pengguna
Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan pemakai pada perpustakaan
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pustakawan dan staf perpustakaan,
yaitu sebagai berikut:
1. Petugas perpustakaan harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan lingkungan pengguna untuk memanfaatkan sumber daya dan fasilitas perpustakaan secara optimal.
2. Materi dan metode pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
3. Petugas perlu melibatkan dosen, jurusan, dan fakultas.
4. Pendidikan dilakukan baik secara terprogram maupun sewaktu-waktu. (Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman, 2004 : 95).
Dengan demikian, peran pustakawan dalam menerapkan pendidikan pemakai
di perpustakaan pada dasarnya merupakan konribusi terbesar dan menjadi penentu
keberhasilan proses pendidikan pemakai, disamping kemauan dan minat pengguna
juga menjadi faktor pendukung. Hal ini dapat diidentifikasi dari ada atau tidaknya
peningkatan kemampuan pengguna memanfaatkan fasilitas perpustakaan setelah
mengikuti pendidikan pemakai di perpustakaan.
Sintesis:
Yang dimaksud pendidikan pemakai adalah program pelatihan bagi pemakai
perpustakaan dalam memanfaatkan perpustakaan dengan indikator : (1) tujuan
pendidikan pemakai, (2) metode pendidikan pemakai, (3) materi pendidikan
pemakai, (4) manfaat Pendidikan pemakai, (5) peran pustakawan, (6) program
2.2 Pemanfaatan Perpustakaan
Pemanfaatan merupakan salah satu bentuk usaha penggunaan fasilitas sarana
dan prasarana yang ada. Menurut sutarno (2006 : 215), “pemberdayaan atau
pendayagunaan perpustakaan adalah suatu upaya bagaimana memanfaatkan
perpustakaan dan segala fasilitas yang tersedia, baik oleh penyelenggara maupun oleh
pemakaiannya secara maksimal atau optimal”.
Dapat diketahui bahwa pemanfaatan perpustakaan merupakan proses, cara
serta perbuatan yang dilakukan oleh penyelenggara maupun pengguna perpustakaan,
dalam memanfaatkan perpustakaan dan segala yang tersedia didalamnya dengan baik
dan maksimal.
Agar pemanfaatan perpustakaan dapat tercapai secara maksimal perlu
dilakukan suatu kegiatan pembinaan pengguna agar membantu pengguna dalam
memanfaatkan perpustakaan. Menurut Mufid (2008 :2) yang dikutip Meliala (2010
:33) menyatakan bahwa:
Salah satu cara optimalisasi pemanfaatan layanan di perpustakaan adalah melalui pendidikan pemakai, pendidikan pemakai adalah mendidik pemakai perpustakaan apakah itu mahasiswa, staf dan anggota masyarakat umum, tentang bagaimana memanfaatkan perpustakaan dan layanan-layanannya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa agar pemanfaatan perpustakaan
dapat tercapai secara optimal, maka cara yang dilakukan adalah melalui kegiatan
pendidikan pemakai, yaitu mendidik, mengarahkan serta member pengetahuan dan
keterampilan kepada pengguna mengenai bagaimana cara memanfaatkan
perpustakaan, kemudian perpustakaan melakukan kegiatan sosialisasi, publikasi dan
2.2.1 Pengguna Perpustakaan
Pada sebuah perpustakaan pengguna merupakan faktor yang mempengaruhi
perpustakaan tersebut berhasil atau tidak., karena perpustakaan yang banyak
dikunjungi dan dimanfaatkan seluruh fasilitas dan layanannya dapat dikatakan
perpustakaan yang berhasil.
Menurut Reitz (2004 : 527) mengatakan “User is any person who the
resources and sevices of library”. Yang artinya pengguna perpustakaan adalah setiap
orang yang menggunakan fasilitas dan layanan yang ada perpustakaan.
Jadi jelas dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang menggunakan jasa,
fasilitas dan layanan perpustakaan adalah pengguna perpustakaan.
2.2.2 Pemanfaatan Perpustakaan oleh Pemakai
Kata pemanfaatan berasal dari kata manfaat yang berarti guna, faedah. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005 : 711) disebutkan bahwa “Pemanfaatan
mengandung arti, proses, cara pembuatan memanfaatkan” berarti dapat disimpulkan
bahwa pemanfaatan adalah proses atau cara, perbuatan untuk memanfaatkan suatu
yang kita butuhkan.
Menurut Handoko seperti yang dikutip oleh Handayani (2007 : 28), bahwa
dari segi pengguna pemanfaatan bahan pustaka di perpustakaan dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal.
a. Faktor internal meliputi: 1. Kebutuhan
Yang dimaksud dengan kebutuhan disini adalah kebutuhan akan informasi 2. Motif
Motif merupakan suatu yang melingkupi semua penggerak, alas an, atau dorongan yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
Minat adalah kecendrungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. b. Faktor eksternal meliputi:
1. Kelengkapan koleksi
Banyaknya koleksi referensi yang dapat di manfaatkan informasinya oleh mahasiswa
2. Keterampilan pustakawan dalam melayani pengguna
Keterampilan pustakawan dalam melayani mahasiswa dapat dilihat melalui kecepatan dan ketepatan mereka member layanan
3. Keterbatasan fasilitas dalam pencarian kembali
Dari uraian di atas dapat menyatakan bahwa ada 2 (dua) faktor yang
mempengaruhi pengguna memanfaatkan bahan pustaka yaitu faktor internal yang
meliputi kebutuhan, motif dan minat, faktor eksternal yang meliputi kelengkapan
koleksi, keterampilan pustakawan dalam melayani pengguna dan keterbatasan dalam
pencarian kembali.
2.2.3 Pemanfaatan Fasilitas Penelusuran
Pemanfaatan Fasilitas penelusuran yang paling utama di perpustakaan adalah
katalog. Melalui pemanfaatan katalog perpustakaan, pengguna dapat menelusuri
informasi yang tersedia pada suatu perpustakaan. perpustakaan juga dapat
mempromosikan keadaan koleksi yang dimilikinya kepada pengguna melalui katalog.
Menurut Suhendar (2007 : 1), “Katalog adalah daftar bahan pustaka baik
berupa buku maupun non buku seperti majalah, surat kabar, microfilm, slide dan
lain-lain yang dimiliki yang tersimpan pada suatu atau kelompok perpustakaan”. Selain-lain
pendapat di atas Taylor dalam Hasugian (2009 : 150) memberikan defenisi katalog
yaitu:
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa katalog perpustakaan adalah
adalah daftar seluruh koleksi perpustakaan yang tersusun secara sistematis dimana
mempresentasikan inti-inti isi koleksi yang tersedia di perpustakaan. Dengan
demikian pemanfaatan fasilitas penelusuran adalah menggunakan katalog
perpustakaan secara cepat dan tepat untuk temu balik informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna perpustakaan.
2.2.4 Pemanfaatan Layanan Perpustakaan
Pemanfaatan layanan yang dimaksud dalam konteks penelitian ini yaitu
keseluruhan jenis layanan yang disediakan oleh perpustakaan, baik layanan yang
langsung atau tidak langsung yang ditujukan untuk mempermudah pengguna untuk
menemukan informasi yang dibutuhkan. Pemanfaatan layanan perpustakaan dapat
dilakukan oleh pengguna apabila pengguna tersebut mengetahui cara
memanfaatkannya serta mengetahui manfaat dari setiap layanan tersebut. Akan tetapi
adakalanya pengguna tidak memanfaatkan layanan perpustakaan dengan alasan tidak
lengkapnya fasilitas untuk memanfaatkannya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bermanfaat atau
tidaknya suatu layanan tergantung dari upaya perpustakaan yang bersangkutan untuk
memperkenalkan kepada penggunanya tentang cara penggunaan dan manfaat dari
masing-masing layanan tersebut. Kegiatan pelayanan perpustakaan menurut
Muchydin (1980 : 1) adalah:
Pada umumnya pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan menurut Buku
Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi (1979 : 4) dapat dikelompokkan ke
dalam empat bagian, yaitu :
1. Kelompok kegiatan kerja pelayanan teknis, yaitu kegiatan kerja yang dilakukan untuk melaksanankan pelayanan informasi dalam program pelayanan teknis, yang terdiri atas kegiatan kerja pengadaan, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, dan pemeliharaan koleksi.
2. Kelompok kegiatan kerja pelayanan pemakai, yaitu kegiatan kerja yang dilakukan untuk melaksanakan pelayanan informasi dalam program pemakai, yang terdiri atas kegiatan kerja sirkulasi koleksi, pelayanan referensi, pendidikan pemakai, dan penyebarluasan informasi.
3. Kelompok kegiatan kerja pelayanan administrasi, yaitu kegiatan-kegiatan kerja yang dilaksanakan untuk mendukung secara administratif kelancaran seluruh kelompok kegiatan meliputi kegiatan-kegiatan administratif ketatausahaan, administtrasi kerumahtanggaan, dan administrasi kepegawaian.
4. Kelompok kegiatan kerja pengelolaan, yaitu kegiatan kerja yang dilakukan untuk menyelaraskan semua kelompok kegiatan kerja sehingga berjalan harmonis dan terpadu.
Pengguna yang dapat memanfaatkan pelayanan perpustakaan dengan baik,
diharapkan dapat memperoleh manfaat yang maksimal. Untuk itu pendidikan
pengguna merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan berbagai layanan
perpustakaan ini.
2.2.5 Tujuan Pemanfaatan
Sebagai pusat informasi, perpustakaan dituntut untuk selalu memberikan
pelayanan kepada pengguna. Untuk itu perpustakaan terus berusaha untuk
menyediakan berbagai sumber informasi dan bahan-bahan yang relevan bagi
penggunanya sehingga pengguna lebih efektif dalam pemanfaatan koleksi. Sebagai
pusat pemanfaatan informasi perpustakaan harus mampu menyebarluaskan informasi
kepada pengguna sehingga tujuan pemanfaatan koleksi perpustakaan dapat tercapai.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1216),”Tujuan bermakna arahan,
haluan (jurusan), yang dituju, maksud, tuntutan (yang dituntut)”. Sedangkan menurut
pemanfaatan. Dari kedua pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan
pemanfaatan adalah sebagai proses, cara dan perbuatan pengguna dalam kegiatan
pemanfaatan koleksi perpustakaan.
Pengguna yang datang ke perpustakaan belum tentu memanfaatkan
perpustakaan, karena setiap pengguna tentu saja membaca buku atau meminjam buku
saja. Menurut Soedibyo (1987 : 71), tujuan kunjungan ke perpustakaan adalah:
1. Keperluan tugas sekolahnya 2. Tugas studi di fakultasnya 3. Tugas research dan
4. Recreactional reading
Selain itu, menurut Sutarno (2006 : 123) tujuan pengguna ke perpustakaan
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Tahu arti dan manfaatnya
2. Mereka membutuhkan sesuatu di perpustakaan 3. Tertarik dengan perpustakaan
4. Merasa senang dengan perpustakaan 5. Dilayani dengan baik
Dari pendapat di atas dapat diketehui bahwa pengguna memiliki tujuan
masing-masing dalam berkunjung ke perpustakaan. Tujuan kunjungan tersebut antara
lain untuk keperluan tugas sekolah, tugas kuliah, tugas penelitian, dan hanya untuk
membaca, dimana tujuan tersebut dipengaruhi beberapa faktor yaitu pengguna
mengetahui arti dan manfaat dari kunjungannya, pengguna membutuhkan sesuatu di
perpustakaan, tertarik dengan perpustakaan, senang dengan perpustakaan.
2.2.6 Frekuensi Pemanfaatan
Tingkat kunjungan pengguna ke sebuah perpustakaan tergantung bagaimana
perpustakaan mampu memberikan informasi yang relevan kepada pengguna. Semakin
baik perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan penggunanya maka semakin sering
pengguna tersebut datang ke perpustakaan karena mereka merasa informasi yang
Indonesia (2005: 322), “Arti frekuensi pengguna adalah kekerapan”. Sedangkan
menurut Salim (2002: 425), dijelaskan bahwa “Frekuensi adalah sejumlah
pengulangan kejadian tertentu yang teratur”.
Setiap pengguna perpustakaan pasti memiliki frekuensi kunjungan yang
berbeda-beda dalam memanfaatkan perpustakaan baik itu dari memanfaatkan
layanan, koleksi dan semua fasilitas yang ada di perpustakaan. perpustakaan dapat
dikatakan berhasil apabila perpustakaan tersebut dikunjungi oleh penggunanya. Jadi
jelas bahwa keseringan pemanfaatan perpustakaan merupakan suatu rutinitas
pengguna perpustakaan, dimana frekuensi pemanfaatan perpustakaan berhubungan
dengan kebutuhan pengguna sehingga frekuensi pemanfaatan dapat menjadi tolak
ukur pemanfaatan perpustakaan.
2.2.6 Tingkat Kunjungan
Kunjungan dapat diartikan berkunjung, datang atau pergi, atau dapat juga
diartikan menjenguk. Jadi tingkat kunjungan adalah tingkat berkunjung atau juga
dapat disebut dengan frekuensi berkunjung. Setiap pengguna perpustakaan pasti
memiliki frekuensi kunjungan yang berbeda-beda dalam memanfaatkan koleksi dan
layanan perpustakaan.
Di dalam perpustakaan kunjungan adalah faktor penentu keberhasilan
perpustakaan. Seperti halnya yang diketahui bahwa perpustakaan yang berhasil
adalah perpustakaan yang dikunjungi oleh penggunanya. Jadi agar dapat
dimanfaatkan dan dikunjungi dengan baik perpustakaan haruslah menyediakan
fasilitas dan layanan yang baik kepada pengguna, misalnya dengan koleksi yang
memadai dan mutakhir atau tidak ketinggalan zaman.
2.2.8 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Perpustakaan
Dalam sebuah penelitian yang dijelaskan oleh Neneng Komariah yaitu :
“indikator suatu perbuatan adalah seberapa sering seseorang melakukan perbuatan
Jadi faktor frekuensi seseorang memanfaatkan perpustakaan dan tujuan dia
memanfaatkan perpustakaan merupakan indikator dalam pemanfaatan perpustakaan”
(Komariah, 2009: 10). Sedangkan sebuah penelitian mengenai pemanfaatan
perpustakaan yang dijelaskan oleh Ninis Agustini dijelaskan bahwa “ada beberapa
indikator dalam pemanfaatan perpustakaan diantaranya frekuensi dan intensitas”
(Agustini, 2003). Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk
mengetahui tingkat pemanfaatan perpustakaan tidak terlepas dari peran perpustakaan
itu sendiri. Jadi kualitas penggunaan perpustakaan dapat dilihat dari frekuensi
pemanfaatan, intensitas pemanfaatan perpustakaan, dan motif atau tujuan pengguna
memanfaatkan perpustakaan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemanfaatan perpustakaan
menurut Prayantini (2012: 6) antara lain adalah:
1. Ruangan perpustakaan 2. Suasana perpustakaan 3. Pelayanan perpustakaan 4. Tujuan ke perpustakaan
5. Rata-rata jumlah peminjaman buku 6. Frekuensi kunjungan ke perpustakaan 7. Durasi kunjungan ke perpustakaan 8. Pemanfaatan koleksi
Adapun beberapa faktor lain yang mempengaruhi terhadap pemanfaatan
perpustakaan adalah:
1. Minat Baca
Faktor minat pengguna sangat menentukan terhadap pemanfaatan perpustakaan, karena adanya kesadaran pribadi pengguna sebagai pendorong jiwanya untuk memanfaatkan perpustakaan, Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang. Dengan adanya minat pengguna terutama dalam hal membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan maka dengan sendirinya perpustakaan tersebut turut membantu terhadap pemanfaatan sumber informasi. Karena bagaimanapun kelengkapan, baik sarana dan fasilitas yang ada pada suatu perpustakaan tidak akan bermanfaat sebagaimana yang diinginkan kalau tidak ada minat pengguna untuk memanfaatkannya.
2. Tenaga Pengelola
penyelenggara bisa menyadari akan kepentingan dan kedudukan perpustakaan bagi masyarakat luas. Menurut Larasati (1991;76), Seorang pengelola perpustakaan tidak cukup hanya dibekali keahlian teknis dan pengetahuan yang memadai tentang ilmu keperpustakaan, melainkan harus memiliki kemampuan mental tertentu. Seorang petugas perpustakaan harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pengelolaan perpustakaan agar misi yang ditanggung oleh perpustakaan dapat dicapai. Seorang pustakawan yang sejati tidak akan senang melihat ruang perpustakaan sunyi, sepi dan buku-buku perpustakaan rapi dan teratur dan bersih yang berarti tidak pernah dimanfaatkan. Untuk menjadi pustakawan perlu memenuhi persyaratan tertentu, antara lain menguasai kurikulum dengan kegiatan perpustakaan. Pustakawan hendaknya mampu menyebarluaskan misi dan pencapaian tugas perpustakaan serta membina dan meningkatkan minat baca.
3. Koleksi Perpustakaan
Menurut Larasati (1991;55), bahwa fungsi perpustakaan adalah berusaha memberikan pelayanan kepada masyarakat luas. Bahan-bahan yang diperlukan untuk koleksi perpustakaan selain buku-buku adalah majalah, surat kabar, kliping, bahan-bahan stensilan, pamplet-pamplet dan alat peraga. 4. Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong untuk melakukan sesuatu. Menurut Donald dalam Sardiman (1998;73), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Ada dua jenis motivasi, yaitu:
a. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu.
b. Motivasi Intrinsik.
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemampuan sendiri.
5. Gedung dan Fasilitas Perpustakaan
perpustakaan, juga pemakai perpustakaan pada umumnya
Sintesis:
Yang dimaksud dengan pemanfaatan perpustakaan adalah proses atau cara,
perbuatan untuk menggunakan semua layanan dan fasilitas yang tersedia di
perpustakaan. dengan indikator : (1) tujuan pemanfaatan, (2) frekuensi
pemanfaatan, (3) cara pemanfaatan, (4) faktor kunjungan