PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR (MOBIL) DARI HASIL PENCURIAN DITINJAU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP.

67  13  Download (1)

Teks penuh

(1)

Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum UPN “ Veteran” J awa Timur

Oleh :

RIEZKY ARIEAWAN RINALDI

NPM : 0771010093

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIDKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM SURABAYA

(2)

iv

PERSETUJ UAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI

PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR ( MOBIL ) DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP

Disusun oleh :

RIEZKY ARIEAWAN RINALDI NPM. 0771010093

Telah diper tahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Sk r ipsi Pr ogram Studi Ilmu Huk um Fakultas Hukum

Univer sita s Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada tanggal : 16 J uni 2012

Tim Penguji : Tanda Tangan

1. H. Sutr isno, SH. M.Hum. : (...)

NIP. 19601212 198803 1 001

2. Subani S.H M.Si. : (...) NIP. 195105041983031001

3. Har iyo Sulistiyantor o, SH. MM. : (...) NIP. 19620625 199103 1 001

Mengetahui, DEKAN

Har iyo Sulistiyantoro.S.H.,MM. NIP. 19620625 199103 1 001

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(3)

PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN

KENDARAAN BERMOTOR ( MOBIL ) DARI HASIL PENCURIAN DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP

Disusun oleh :

RIEZKY ARIEAWAN RINALDI NPM : 0771010093

Telah Disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi Menyetujui,

Mengetahui, Pembimbing Utama

DEKAN,

Haryo Sulistiyantoro,SH.,MM Haryo Sulistiyantoro,SH.,MM NIP. 19 510 554 198303 1001 NIP. 19 510 554 198303 1001

(4)

iii

HALAMAN PERSETUJ UAN DAN PENGESAHAN REVISI SKRIPSI PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR

( MOBIL ) DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP Oleh:

RIEZKY ARIEAWAN RINALDI NPM. 0771010093

Telah direvisi dan diterima oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogram Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada tanggal 22 J uni 2012

Pembimbing Utama: Tim Penguji :

1.

Hariyo Sulistiyantoro, S.H, MM Sutrisno S.H M.Hum NIP. 195105041983031001 NIP. 19601212198031001

2.

Subani S.H M.Si

NIP. 195105041983031001 3.

Hariyo Sulistiyantoro, S.H, MM NIP. 195105041983031001 Mengetahui :

DEKAN

Hariyo Sulistiyantoro, S.H, MM NIP.196206251991031001

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(5)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Riezky Arieawan Rinaldi

Tempat/ Tanggal Lahir : Madiun, 23 / Maret / 1989

NPM : 0771010093

Konsentrasi : Pidana

Alamat : Desa Wonoayu, Sidoarjo

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya dengan judul :

“PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN

BERMOTOR (MOBIL) DARI HASIL PENCURIAN DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP” dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya cipta saya sendiri, yang saya buat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, bukan hasil jiplakan ( plagiat ).

Apabila dikemudian hari ternyata skripsi ini hasil jiplakan ( Plagiat ) maka saya bersedia dituntut di depan pengadilan dan dicabut gelar Kesarjanaan ( Sarjana Hukum ) yang saya peroleh.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dengan penuh rasa tanggung jawab atas segala akibat hukumnya.

Mengetahui Surabaya, 13 Juni 2012

PEMBIMBING UTAMA PENULIS

Hariyo Sulistiyantoro,SH.,MM Riezky Arieawan Rinaldi NIP. 19 510 554 198303 1001 NPM. 0771010093

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdullillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberi rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul :

“PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR (MOBIL) DARI HASIL PENCURIAN DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP ”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya penyusunan skripsi ini tidak dapat lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Hariyo Sulistiyantoro , SH., MM., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dan sekaligus Dosen Pembimbing Utama yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan selama mengerjakan skripsi.

2. Bapak Sutrisno, SH., Mhum., selaku Wadek I Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Drs. EC. Gendut Soekarno, M.S., selaku wadek II Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Subani, SH., M.Si selaku Kepala Program Studi Ilmu Hukum dan yang selalu memberikan ilmu serta nasehatnya kepada peneliti selama menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

6. Bapak Sariyanto, S.Sos., Bapak Taukhid dan segenap pegawai Tata Usaha Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(7)

Achmad Fawzi Abdillah adik saya yang selalu memberi semangat kepada saya. 8. Teman-teman seperjuangan saya yang telah menjadi saudaraku selama kuliah di sini.

Peneliti menyadari bahwa penelitian skripsi ini masih jauh dari sempurna dan penuh keterbatasan. Dengan harapan bahwa skripsi ini Insya Allah akan berguna bagi rekan-rekan di Program Studi Ilmu Hukum, maka saran dan kritik yang membangun sangatlah dibutuhkan untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Surabaya, 20 Juni 2012

(8)

viii

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR FAKULTAS HUKUM

Nama : Riezky Arieawan Rinaldi

Npm : 0771010093

Tempat Tanggal Lahir : Madiun, 23 Maret 1989 Program Studi : Pidana

Judul Skripsi :

PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR (MOBIL) DARI HASIL PENCURIAN DITINJ AU DARI

PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP

ABSTRAKSI

Penelitian Ini bertujuanuntuk mengetahui bagaimana tinjauan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana penadahan mobil serta Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengadili tindak pidana penadahan mobil. Penelitian ini mengunakan metode penelitian yuridis normatif, sumber data diperoleh dari literatur, Undang-undang dan wawancara terhadap penyidik di Polres Sidoarjo, analisa data yang digunakan mengunakan data deskriptif analisis yaitu mengkaji fakta sosial yang timbul di masyarakat, Deskriptif tersebut, meliputi isi dan struktur hukum positif yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi dan makna aturan hokum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian. Yang mana kasus tersebut diatur didalam pasal 480 ayat 1 dan 2 KUHP. hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup didalam masyarakat, dimana hakim sebelum menjatuhkan suatu putusan harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi terdakwa dan juga korban agar nilai-nilai hukum dapat berjalan sesuai dengan tujuannya.

Kata kunci: Kasus penadahan, kendaraan bermotor, tindak pidana.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(9)

Nama : Riezky Arieawan Rinaldi

Npm : 0771010093

Tempat Tanggal Lahir : Madiun, 23 Maret 1989 Program Studi : Pidana

Judul Skripsi :

PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR (MOBIL) DARI HASIL PENCURIAN DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1

DAN 2 KUHP ABSTRACT

This study aims to determine how a review of criminal law against the criminal fencing and car To find the factors into consideration what the judges hearing criminal fencing in the car. This study uses normative legal research methods, data sources obtained from the literature, laws and interviews with investigators in Sidoarjo district police, which used data analysis using descriptive data analysis examines the social facts that arise in society, descriptive, covering the content and structure of the law positive is an activity undertaken by the authors to determine the content and meaning of the rule of law is used as reference in resolving legal issues that become the object of study. In which case it is set in Article 480 paragraphs 1 and 2 of the Criminal Code. judges must explore, follow and understand the values and sense of justice which the law of life in society, where the judge before dropping a decision must consider the sense of justice for the accused and the victim to legal values can be run in accordance with its purpose.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN J UDUL ... i

HALAMAN PERSETUJ UAN MENGIKUTI UJ IAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERSETUJ UAN DAN REVISI SKRIPSI ……….. . iii

HALAMAN PERSETUJ UAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ……… vii

ABSTRAKSI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Lokasi Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

1.6 Pengertian Tindak Pidana ... 8

1.7 Pengertian Tindak Pidana Penadahan ... 10

1.8 Tindak Pidana Penadahan Yang Dilakukan Sebagai Kebiasaan... 16

1.9 Pengertian Tindak Pidana Pencurian Dalam Hukum Positif... 18

1.10 Pengertian Tindak Pidana Pencurian Dalam Perspektif Hukum Islam .... 19

1.11 Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga atau Rumah Tangga atas Delik Aduan ... 21

1.12 Pengertian Kendaraan Bermotor (Mobil, Sepeda Motor, Dll) ... 22

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(11)

1.13.2 Sumber Data ... 24

1.13.3 Metode Pengumpulan Data ... 25

1.13.4 Metode Pengolahan Data Atau Analisis Data ... 25

1.13.5 Sistematika Penulisan ... 26

BAB II TINJ AUAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN MOBIL DARI HASIL PENCURIAN... 28

2.1 Modus Operandi Yang Dilakukan Oleh Pelaku Tindak Pidana Penadahan Mobil Dari Hasil Pencurian ... 28

2.2 Tinjauan Hukum Bagi Si Pelaku Penadah Mobil Hasil Pencurian . 31

2.2.1 Pengertian Pelaku... 35

2.2.2 Bentuk-bentuk Pelaku... 36

2.2.3 Kasus Posisi Pelaku Tindak Pidana Penadahan Mobil... 38

2.2.4 Analisis Kasus Posisi Tindak Pidana Penadahan Mobil... 40

BAB III FAKTOR-FAKTOR YANG MENJ ADI PERTIM BANGAN HAKIM DALAM MENGADILI TINDAK PIDANA PENADAHAN MOBIL DARI HASIL PENCURIAN ... 41

3.1 Faktor-faktor Yang Meringankan Dan Memberatkan Pelaku Tindak Pidana Penadahan Mobil Hasil Pencurian ... ... 41

(12)

BAB IV PENUTUP ... 51

4.1 Kesimpulan ... 51

4.2 Saran... 52

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Krisis ekonomi yang melanda indonesia umumnya dan krisis moral masyarakat

khususnya membawa dampak dalam kehidupan masyarakat. Kejahatan baik yang

dilakukan oleh para pejabat maupun yang dilakukan oleh masyarakat dengan

berbagai modus sangat dirasakan dan meresahkan tatanan kehidupan. Korupsi,

kolusi, dan nepotisme yang terjadi yang menjadikan jurang pemisah antara si kaya

dan si miskin, sehingga ada suatu anggapan masyarakat yang bmenyatakan “mencari

uang yang haram saja susah apalagi yang halal”. Kondisi yang demikian terutama

bagi masyarakat yang pemahaman tentang agama kurnag mengambil jalan pintas

yaitu mengambil langkah untuk melakukan kejahatan, yaitu dengan berbagai macam

modus yang penting dapat berhasil dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya baik untuk foya-foya maupun memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia yang melakukan

pembangunan di segala bidang. Usaha yang dilakukan oleh negara ini meliputi

pembangunan ekonomi, perbaikan sistem publik, melakukan usaha pengembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak kalah pentingnya adalah pembangunan di

bidang hukum dari tahun ke tahun yang diusahakan pembaharuan hukum sesuai

dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Seperti yang termuat dalam

Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia

(14)

2

(machstaat), sebagai negara hukum maka Indonesia mempunyai serangkaian

peraturan atau hukum supaya kepentingan masyarakat dapat terlindungi. Alinea ke-4

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan landasan konstitusional

negara ini memuat bahwa tujuan negara salah satunya adalah menciptakan

kesejahteraan umum.

Jadi semua usaha dan pembangunan yang dilakukan negara ini harus mengarah

pada tujuan ini sehingga tercipta kesejahteraan rakyat. Di dalam pergaulan

masyarakat terdapat beraneka ragam hubungan antara anggota masyarakat, yaitu

hubungan yang timbul oleh kepentingan anggota masyarakat itu. Adanya

keanekaragaman hubungan tersebut, para anggota masyarakat memerlukan

aturan-aturan yang dapat menjamin keseimbangan dalam hubungan tersebut agar tidak

terjadi kekacauan.

Peraturan-peraturan hukum yang telah ada di masyarakat wajib untuk ditaati

karena berpengaruh pada keseimbangan dalam tiap-tiap hubungan antar anggota

masyarakat. Kurangnya kesadaran hukum dalam masyarakat menyebabkan terjadinya

ketidakpercayaan antara anggota masyarakat itu sendiri maupun ketidakpercayaan

dengan aparat penegak hukum dan pemerintah. Terlebih dengan kondisi

perekonomian negara kita yang sulit ini, mengakibatkan timbulnya kasus kriminalitas

yang terjadi dalam masyarakat yang dilatarbelakangi karena kebutuhan hidup yang

mendesak. Kondisi yang terjadi setiap hari dan dialami oleh masyarakat sebagai

contohnya, penjambretan, penodongan, pencurian, perampokan, penganiayaan,

perkosaan, pembunuhan, tawuran remaja, atau lebih dikenal dengan “kejahatan

jalanan” atau “street crime” menjadi tantangan bagi proses penegakan hukum.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(15)

Kejahatan tidak akan dapat hilang dengan sendirinya, sebaliknya kasus

kejahatan semakin sering terjadi dan yang paling dominan adalah jenis kejahatan

terhadap harta kekayaan, khususnya yang termasuk di dalamnya adalah tindak pidana

penadahan.

Bahwa kejahatan terhadap harta benda akan tampak meningkat di

negara-negara sedang berkembang. Kenaikan ini sejalan dengan perkembangan dan

pertumbuhan ekonomi. Di setiap negara tidak terkecuali negara yang paling maju

sekalipun, pasti akan menghadapi masalah kejahatan yang mengancam dan

mengganggu ketentraman dan kesejahteraan penduduknya. Hal ini menunjukkan

bahwa kejahatan tidak hanya tumbuh subur di negara miskin dan berkembang, tetapi

juga di negara-negara yang sudah maju.

Seiring dengan adanya perkembangan kejahatan seperti diuraikan di atas,

maka hukum menempati posisi yang penting untuk mengatasi adanya persoalan

kejahatan ini. Perangkat hukum diperlukan untuk menyelesaikan konflik atau

kejahatan yang ada dalam masyarakat. Salah satu usaha pencegahannya dan

pengendalian kejahatan itu ialah dengan menggunakan hukum pidana dengan

sanksinya yang berupa pidana.

Kejahatan dapat diartikan secara kriminologis dan yuridis. Kejahatan dalam arti

kriminologis yaitu perbuatan manusia yang menodai norma-norma dasar dari

masyarakat. Hal ini dimaksudkan sebagai perbuatan unsur yang menyalahi

aturan-aturan yang hidup dan berkembang di masyarakat. Kejahatan secara yuridis yaitu

(16)

4

kejahatan itu dirumuskan di dalam peraturan-peraturan pidana. Masalah pidana yang

paling sring terjadi di dalam masyarakat adalah tindak pidana terhadap harta

kekayaan (tindak pidana materiil), seperti pencurian, pemerasan, penggelapan,

penipuan, pengrusakan, dan penadahan. Salah satu tindak pidana terhadap harta

kekayaan yang masih sering menimbulkan perdebatan adalah tindak pidana

penadahan kendaraan bermotor yang berasal dari hasil pencurian.

Berbagai macam modus operandi yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana

penadahan kendaraan bermotor pada saat ini. Kalau hal ini dapat diatasi tentu

perbuatan tersebut sangat meresahkan masyarakat. Kejahatan pencurian kendaraan

bermotor merupakan kejahatan terhadap harta benda yang tidak lazim terjadi di

negara-negara berkembang, selanjutnya dikatakan bahwa kejahatan pencurian

kendaraan bermotor beserta isi-isinya merupakan sifat kejahatan yang menyertai

pembangunan.1

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab semakin

maraknya terjadi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor adalah di antaranya

semakin marak juga tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian

tersebut. Sehingga para pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) tidak

merasa kesulitan untuk memasarkan kendaraan bermotor hasil curiannya.

Selain itu juga semakin maraknya penjualan bagian-bagian (onderdil)

kendaraan bermotor bekas oleh para pedagang kaki lima, yang tidak menutup

kemungkinan onderdil kendaraan tersebut didapatkan oleh pedagang dari para pelaku

1

Soerjono Sokant o, Hart ono dan Chalimah Sut ant o, Penanggulangan Pencurian Kendaraan Berm ot or Suat u

Tinjauan Kriminologi, Penerbit : Aksar a, 1988, Jakart a, hal. 20.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(17)

curanmor, untuk itu perlu dilakukan penyelidikan terhadap para pedagang kaki lima

yang memperdagangkan onderdil kendaraan bermotor bekas tersebut.

Tindak pidana penadahan sebagaimana yang diatur di dalam Pasal 480 KUHP,

dimana salah satu unsur penadahan yang sring dibuktikan oleh Jaksa Penuntut Umum

dalam praktik persidangan sehari-hari adalah unsur culpa, yang berarti bahwa si

pelaku penadahan dapat dianggap patut harus dapat menyangka asalnya barang dari

kejahatan dan jarang dapat dibuktikan bahwa si penadah tahu benar hal itu (asal-usul

barang). Dalam hal ini “maksud untuk mendapatkan untung” merupakan unsur dari

semua penadahan. Unsur kesengajaan atau culpa ini secara alternatif disebutkan

terhadap unsur lain, yaitu bahwa barangnya diperoleh dengan kejahatan. Tidak perlu

si pelaku penadahan tahu atau patut harus dapat menyangka dengan kejahatan apa

barangnya diperoleh, yaitu apakah dengan pencurian, atau penggelapan, atau

pemerasan, atau penipuan.2

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji masalah

tindak pidana penadahan dengan mengambil judul : PELAKU TINDAK PIDANA

PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR ( MOBIL ) DARI HASIL

PENCURIAN DITINJ AU DARI PASAL 480 AYAT 1 DAN 2 KUHP.

2

(18)

6

1.2 Per umu san Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana telah diuraikan di atas, maka

yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana tinjauan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana penadahan

mobil dari hasil pencurian ?

2. Faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengadili tindak

pidana penadahan mobil ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang ingin penulis capai dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana tinjauan hukum pidana terhadap pelaku tindak

pidana penadahan mobil ?

2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam

mengadili tindak pidana penadahan mobil ?

1.4 Lokasi Penelitian

Penulis menyusun penelitian skripsi yang berjudul tentang Pelaku Tindak Pidana

Penadahan Kendaraan Bermotor (Mobil) Dari Hasil Pencurian Ditinjau Dari Pasal 480 ayat

1 dan 2 KUHP ini berlokasi di Polres Sidoarjo.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(19)

1.5 Manfaat Penelitian

Seperti pada umumnya dalam setiap penulisan skripsi pasti ada manfaat yang

dapat diambil dari penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi tersebut.

Manfaat penelitian secara umum yang dapat diambil dalam penulisan skripsi ini

terdiri dari manfaat yang bersifat teoritis dan manfaat yang bersifat praktis.

1. Manfaat teoritis

Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menyumbangkan

pemikiran di bidang hukum yang akan mengembangkan disiplin ilmu hukum,

khususnya dalam disiplin ilmu hukum pidana mengenai tindak pidana

penadahan mobil.

2. Manfaat praktis

`` Dari segi praktis diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan

atau diterapkan oleh pengambil kebijakan dan para pelaksana hukum di bidang

hukum pidana khususnya mengenai tindak pidana penadahan mobil. Dengan

menetahui faktor-faktor pendorong dari dilakukannya tindak pidana penadahan

mobil, maka penegak hukum dan masyarakat dapat mengambil langkah

(20)

8

1.6 Penger tian Tindak Pidana

Pada umumnya untuk suatu kejahatan diisyaratkan bahwa kehendak pelaku

ditujukan terhadap perbuatan yang oleh undang-undang diancam dengan hukuman.

Menurut Moeljatno, tindak pidana merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu

aturan hukum larangan mana disertai ancaman atau sanksi yang berupapidana

tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa

perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan

diancam pidana, asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada

perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang),

sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menim,bulkannya

kejadian itu.3

Menurut S.R. Sianturi, pengertian tindak pidana adalah suatu tindakan pada

tempat, waktu dan keadaan tertentu yang dilarang atau diharuskan dan diancam

dengan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum serta dengan kesalahan,

dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab. Maka selanjutnya

unsur-unsur tindak pidananya adalah terdiri dari : subjek, kesalahan, bersifat melawan

hukum, tindakan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang

serta waktu dan tempat serta keadaan tertentu.

Menurut Simons, tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum yang telah

dilakukan dengan sengaja ataupun tidak disengaja oleh seseorang yang dapat

3

M oeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipt a, Jakart a, 2002.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(21)

dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah

dinyataka sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.

Dengan batasan seperti ini, maka menurut Simons, untuk adanya suatu tindak

pidana harus dipenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

1. Perbuatan manusia 2. Diancam dengan pidana

3. Melawan hukum

4. Dilakukan dengan kesalahan

5. Oleh orang yang mampu bertanggungjawab.4

Maka dari itu, para pelaku tindak pidana harus berpikir dua kali untuk

melakukan tindakannya, karena di negara ini hukum itu berlaku. Dan hukum harus

ditaati oleh masyarakat. Hukum mempunyai kekuasaan hukum. Apabila tidak, maka

peraturan itu berupa kekuatan , sebab hanya merupakan paksaan semata-mata.5

Hukum pidana bertujuan untuk mencegah atau menghambat perbuatan–

perbuatan masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum yang berlaku,

karena bentuk hukum pidana merupakan bagian dari pada keseluruhan hukum yang

berlaku di suatu negara, serta meletakkan dasar-dasar dan aturan-aturan dengan

tujuan untuk:

a. Menentukan perbuatan mana yang tidak dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sangsi yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut.

b. Menentukan kapan dan dalam hal apa, kepada mereka yang telah melanggar larangan – larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan.

4

Tongat , Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam perspekt if Pembaharuan, UM M Press, M alang, 2009, hal 105

5

(22)

10

c.“Menentukan dengan cara bagaimana penanganan itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut”.10

Hukum pidana merupakan istilah yang lebih khusus, maka perlu ada

pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri – ciri atau

sifat – sifatnya yang khas.

1.7 Penger tian Tindak Pidana Penadahan

Menurut Code Penal Perancis, yakni sesuai dengan kebanyakan perundang-undangan pidana dari berbagai negara di Eropa yang berlaku pada abad ke-18, perbuatan menadah benda-benda yang diperoleh karena kejahatan tidak dipandang sebagai suatu kejahatan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai suatu perbuatan membantu melakukan kejahatan, yakni dengan perbuatan mana pelaku dapat memperoleh benda-bendayang diperoleh karena kejahatan.

Menurut Satochid Kartanegara dalam buku Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan yang ditulis oleh P.A.F. Lamintang, tindak pidana penadahan disebut tindak pidana pemudahan, yakni karena perbuatan menadah telah mendorong orang lain untuk melakukan kejahatan-kejahatan, yang mungkin saja tidak akan ia lakukan, seandainya tidak ada orang yang bersedia menerima hasil kejahatannya.6

Unsur tindak pidana dapat dibedakan menjadi dua arti, yaitu pengertian unsur

tindak pidana dalam arti sempit dan pengertian unsur-unsur dalam arti luas. Misalnya

unsur-unsur tindak pidana dalam arti sempit terdapat pada tindak pidana penadahan

biasa, yaitu unsur yang terdapat dalam pasal 480 KUHP. Sedangkan

unsur-unsur tindak pidana dalam arti luas terdapat pada tindak pidana penadahan dengan

pemberatan, yaitu unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 481 KUHP.

Apabila kita perhatikan rumusan tindak pidana yang terdapat dalam KUHP

dapat dibedakan antara unsur-unsur obyektif dan unsur-unsur subyektif.

6

P.A.F. Lamintang, Theo lamint ang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, Sinar Grafika, Jakart a, 2009, hal 362

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(23)

1) Yang disebut unsur obyektif ialah:

a) Perbuatan manusia.

Pada umumnya tindak pidana yang diatur di dalam peraturan

perundang-undangan unsur-unsurnya terdiri dari unsur lahir atau unsur objektif. Namun

demikian adakalanya sifat melawan hukumnya perbuatan tidak saja pada unsur

objektif tetapi juga pada unsur subjektif yang terletak pada batin pelaku. Bentuk

suatu tindak pidana dengan unsur objektif antara lain terdapat pada tindak pidana

yang berbentuk kelakuan. Maka akibat yang terjadi dari perbuatan tidak penting

artinya. Dari rentetan akibat yang timbul dari kelakuan tidak ada yang menjadi inti

tindak pidana, kecuali yang telah dirumuskan dalam istilah yang telah dipakai untuk

merumuskan kelakuan tersebut. Misalnya kelakuan dalam tindak pidana penadahan

yang diatur dalam pasal 480 KUHP, dirumuskan dengan istilah mengambil barang

yang merupakan inti dari delik tersebut. Adapun akibat dari kelakuan yang kecurian

menjadi miskin atau yang kecurian uang tidak dapat belanja, hal itu tidak termasuk

dalam rumusan tindak pidana penadahan.

b) Delik materiil.

Delik materiil dimana dalam perumusannya tindak pidana hanya disebutkan

akibat tertentu sebagai akibat yang dilarang. Apabila kita jumpai delik yang hanya

dirumuskan akibatnya yang dilarang dan tidak dijelaskan bagaimana kelakuan yang

menimbulkan akibat itu, harus menggunakan ajaran hubungan kausal, untuk

manggambarkan bagaimana bentuk kelakuan yang menurut logika dapat

(24)

12

perbuatan materiil dari tindak pidana yang menyebabkan timbulnya akibat yang

dilarang. Tanpa diketahui siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itu, tidak

dapat ditentukan siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan dengan akibat yang

dilarang tersebut.

c) Delik formil.

Delik formil ialah delik yang dianggap telah terlaksana apabila telah

dilakukan suatu perbuatan yang dilarang. Dalam delik formil hubungan kausal

mungkin diperlukan pula tetapi berbeda dengan yang diperlukan dalam delik

materiil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa delik materiil tidak dirumuskan

perbuatan yang dilarang sedang akibatnya yang dirumuskan secara jelas, berbeda

dengan delik formil yang dilarang dengan tegas adalah perbuatannya.

2) Yang disebut unsur subyektif ialah :

a) Dilakukan dengan kesalahan.

Delik yang mengandung unsur memberatkan pidana, apabila pelaku

penadahan itu dengan keadaan yang memberatkan seperti yang tertera pada pasal

481 ayat 1, 2, 3 dan 4 KUHP. Maka pelaku penadahan ini dapat dikenakan

pencabutan hak seperti yang tertera dalam pasal 336 KUHP yang berbunyi; Dalam

pemidanaan karena salah satu perbuatan yanmg diterangkan dalam pasal 480dapat

dijatuhkan pencabutan hak tersebut .

b) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

Menurut pengertian Simons yang dikutip dalam bukunya Sudarto tentang

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(25)

adanya unsur-unsur pada tindak pidana apabila : “perbuatan manusia, diancam

dengan pidana, melawan hukum, dilakukan, dengan kesalahan, oleh orang yang

mampu bertanggung jawab”.

Pengertian kemampuan bertanggung jawab, banyak yang telah

mengemukakan pendapat antara lain Simons berpendapat bahwa : “kemampuan

bertanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu keadaan psikis, yang

membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya suatu pemidanaan, baik dilihat dari

sudut umum maupun dari orangnya.

Tindak pidana penadahan dalam bentuk pokok oleh pembentuk

undang-undang telah diatur dalam Pasal 480 ayat 1 KUHP terdiri atas :

a. Unsur-unsur subjektif, yang terdiri dari :

1. Yang ia ketahui atau waarvan hij weet

2. Yang secara patut harus dapat ia duga atau warn hij redelijkerwijs moet

vermoeden

b. Unsur-unsur objektif, yang terdiri dari :

1. Kopen atau membeli

2. Buren atau menyewa

3. Inruilen atau menukar

4. In pand nemen atau menggadai

5. Als geschenk aannemen atau menerima sebagai hadiah atau sebagai pemberian

6. Uit winstbejag atau didorong oleh maksud untuk memperoleh keuntungan

7. Verkopen atau menjual

8. Verhuren atau menyewakan

(26)

14

10. Vervoeren atau mengangkut

11. Bewaren atau menyimpang dan

12. Verbergen atau menyembunyikan.7

Dari penjabaran ke dalam unsur-unsur mengenai tindak pidana penadahan seperti

yang diatur dalam Pasal 480 ayat 1 KUHP tersebut dapat diketahui bahwa untuk

subjektif pertama dari tindak pidana penadahan ialah unsur waarvan hij weet atau

yang ia ketahui.8

Tindak pidana penadahan diatur dalam Pasal 480 KUHP yang berbunyi sebagai

berikut :

1. Barang siapa membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena ingin mendapat keuntungan, menjual, menukarkan, menggadaikan, membawa, menyimpan atau menyembunyikan, menyewakan, suatu benda yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan

2. Barang siapa menarik keuntungsn dari hasil suatu benda, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa diperoleh dari kejahatan.

Karena tindak pidana penadahan yang diatur dalam Pasal 480 ayat 1 KUHP

mempunyai dua macam unsur subjektif, masing-masing yakni unsur kesengajaan

atau unsur dolus dan unsur ketidaksengajaan atau unsur culpa atau dengan kata lain

karena tindak pidana penadahan yang diatur dalam Pasal 480 ayat 1 KUHP

mempunyai unsur subjektif yang pro parte dolus dan pro parte culpa, maka di dalam

surat dakwaannya penuntut umum dapat mendakwakan kedua unsur subjektif

tersebut secara bersama-sama terhadap seorang terdakwa yang didakwa telah

7

Ibid, hal 364

8

Ibid, hal. 365

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(27)

melakukan tindak pidana penadahan seperti yang dimaksud dalam Pasal 480 ayat 1

KUHP.

Di samping itu pula unsur-unsur tindak pidana yang diatur dalam Pasal 480 ayat 2 KUHP terdiri dari :

a. Unsur-unsur subjektif, yang terdiri dari :

1. Yang ia ketahui

2. Yang secara patut harus dapat diduga

b. Unsur-unsur objektif, yang terdiri dari :

1. Barangsiapa

2. Mengambil keuntungan dari hasil suatu benda

3. Yang diperoleh karena kejahatan.9

Perbuatan mengambil keuntungan dari hasil suatu benda yang diperoleh karena

kejahatan itu tidak perlu selalu diartikan sebagai perbuatan mengambil keuntungan

dari hasil suatu benda yang diperoleh karena kejahatan, yakni jika benda tersebut

dijual, melainkan jika benda yang diperoleh karena kejahatan itu telah disewakan,

digadaikan, dipertunjukkan, bahkan juga jika benda itu telah dibudidayakan,

diternakkan, dan lain-lainnya.

Bahwa kejahatan terhadap harta benda, khususnya perampokan bersenjata akan

meningkat. Juga pencurian mobil,karena mobil merupakan lambang dunia industri

modern.10

9

Ibid, hal. 383

10

(28)

16

1.8 Tindak Pidana Penadahan Yang Dilakukan Sebagai Kebiasaan

Tindak pidana penadahan yang dilakukan sebagai kebiasaan oleh pembentuk

undang-undang telah diatur dalam Pasal 481 KUHP yang berbunyi sebagai berikut :

1. Barang siapa yang membuat sebagai kebiasaan pekerjaan dengan sengaja membeli, menukar, menerima gadai, menyimpan atau, menyembunyikan benda-benda yang diperoleh karena kejahatan, dipidana dengan dipidana penjara selama-lamanya tujuh tahun.

2. Orang yang bersalah dapat dicabut hak-haknya dan dapat dicabut pula haknya untuk melakukan pekerjaan, dalam pekerjaanya kejahatan itu telah dilakukan.11

Jika membandingkan perbuatan-perbuatan yang dilarang didalam rumusan

tindak pidana yang diatur dalam pasal ayat (1) KUHP dengan perbuatan yang

terlarang di dalam rumusan tindak pidana yang diatur dalam pasal 480 ayat 1 KUHP,

dapat diketahui bahwa antara keduanya tidak terdapat perbedaan sama sekali, tetapi

jika kemudian orang melihat pada pidana yang diancamkan bagi pelaku tindak pidana

pendahan seperti yang dimaksud dalam Pasal 481 ayat (1) KUHP, maka segera juga

dapat diketahui bahwa pidana yang diancamkan bagi pelaku tindak pidana penadahan

seperti yang dimaksud dalam Pasal 481 ayat 1 KUHP adalah lebih berat daripada

yang diancamkan bagi pelaku tindak pidana penadahan dalam Pasal 480 ayat 1

KUHP.

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa perbuatan melakukan sebagai

kebiasaan itu merupakan unsur yang memberatkan pidana dalam tindak pidana

penadahan.Tentang apa sebabnya pelaku tindak pidana penadahan yang diatur dalam

11

P.A.F. Lamint ang, Theo lamintang, Delik-Delik Khusus Kej ahat an Terhadap Hart a Kekayaan, Sinar Gr afika, Jakart a, 2009, hal 389

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(29)

Pasal 481 ayat 1 KUHP diancam dengan pidana yang lebih berat dari pelaku tindak

pidana penadahan yang diatur dalam Pasal 480 ayat 1 KUHP yakni, karena tindak

pidana penadahan yang dimaksud dalam Pasal 481 ayat 1 KUHP telah dilakukan oleh

pelaku sebagai kebiasaan.

Tindak pidana penadahan yang diatur dalam Pasal 481 ayat 1 KUHP

sebenarnya sama dengan tindak pidana penadahan dalam bentuk pokok yang diatur

dal;am Pasal 480 ayat 1 KUHP, tetapi didalamnya terdapat unsure yang

memberatkan pidana, maka tindak pidana tersebut didalam doktrin juga sering

disebut sebagai tindak pidana penadahan dengan kualifikasi atau gequalificeerde

heling.

Unsur subjektif dari tindak pidana penadahan seperti yang dimaksud didalam

rumusan tindak pidana penadahan yang diatur dalam Pasal 481 ayat 1 KUHP iala

unsure dengan sengaja atau unsur opzettelitjk.

Ditinjau dari unsur dengan sengaja tersebut didalam rumusan tindak pidana

penadahan yang diatur Pasal 481 ayat 1 KUHP, diketahui bahwa unsur dengan

sengaja oleh pembentuk undang-undang telah ditempatkan didepan unsur-unsur

objektif: membeli, menukar, menerima gadai, menyimpan, menyembunyikan, dan

benda-benda yang diperoleh karena kejahatan, sehingga karena unsur-unsur objektif

(30)

18

jelas merupakan unsur-unsur yang oleh undang-undang yang telah disyaratkan

sebagai harus diliputi oleh unsure kesengajaan dari pelaku.12

Untuk dapat menyatakan seorang terdakwa terbukti memenuhi unsur dengan

sengaja seperti yang disyaratkan oleh undang-undang didalam rumusan tindak pidana

penadahan yang diatur Pasal 481 ayat 1 KUHP, penuntut umum dan hakim harus

dapat membuktikan di depan siding pengadilan yang memeriksa dan mengadili

perkara terdakwa tersebut,bahwa terdakwa:

a.Menghendaki untuk melakukan perbuatan seperti yang didakwakan oleh penuntut umum, dan harus merupakan salah satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan: membeli, menukar, menerima gadai, menyimpan, atau menyembunyikan;

b.Mengetahui tentang keadaan benda-benda yang ia beli, tukar, dan lain-lainnya itu sebagai benda-benda yan diperoleh karena kejahatan;13

1.9 Penger tian Tindak Pidana Pencur ian Dalam Hukum Positif

Pencurian adalah mengambil barang orang lain untuk memilikinya.Tindak

pidana ini diatur oleh Pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai : mengambil barang,

seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan tujuan memilikinya secara

melanggar hukum.14

Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok seperti yang diatur Pasal 362 KUHP terdiri atas unsur subjektif dan unsur objektif sebagai berikut:

1. Unsur subjektif :

dengan maksud untuk mengusai benda tersebut secara melawan hukum.

2. Unsur objektif : a. Barangsiapa

b. Mengambil

12

P.A.F. Lamintang, Theo lamint ang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, Sinar Grafika, Jakart a, 2009, hal 390

13

Ibid, hal 391 14

Wirjono Prodj odikoro, Tindak-Tindak Pidana Tert entu di Indonesia, Refika Adit ama, Bandung, 2003, hal 14

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(31)

c. Sesuatu benda

d. Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.15

Agar seorang dapat dinyatakan terbukti telah melakukan tindak pidana

pencurian, orang tersebut harus terbukti telah memenuhi semua unsur dari tindak

pidana pencurian yang terdapat didalam rumusan Pasal 362 KUHP.

Walaupun pembentuk undang-undang tidak menyatakan dengan tegas bahwa

tindak pidana pencurian seperti yang dimaksud dalam Pasal 362 KUHP harus

dilakukan dengan sengaja, tetapi tidak dapat disangkal lagi kebenarannya bahwa

tindak pidana pencurian tersebut harus dilakukan dengan sengaja, yakni karena

undang-undang pidana kita yang berlaku tidak mengenal lembaga tindak pidana

pencurian yang dilakukan dengan tidak sengaja.

Kesengajaan atau opzet pelaku itu meliputi unsur-unsur:

1. Mengambil,

2. Sesuatu benda,

3. Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain,

4. Dengan maksud untuk menguasai benda tersebut secara melawan hukum.

1.10 Penger tian Tindak Pidana Pencur ian Dalam Per spek tif Hukum Islam

Pengertian pencurian secara Etimologis yaitu, pencurian asal kata dari saraqa

yasriqu-saraqan. Wa sariqan wa saraqatan, wa sariqatan wa sirqatan, yang berarti

mengambil sesuatu secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan.

15

(32)

20

Ulama mengkategorikan pencurian kepada 2 macam yaitu, pencurian yang

diancam dengan hukuman ta`zir adalah pencurian yang tidak terpenuhi syarat-syarat

pelaksanaan hukuman Had. Ulama juga mengkategorikan pencurian yang diancam

dengan hukuman Had, kepada 2 bagian yaitu pencurian kecil dan pencurian besar.16

Adapun yang dimaksud dengan pencurian kecil secara terminologis adalah

menurut Abd al Qadir Audah pencurian kecil adalah mengambil harta orang lain

secara sembunyi-sembunyi, sedangkan menurt al Sayid Sabiq yaitu, pencurian kecil

yaitu pencurian yang wajib divonis dengan potongan tangan. Sedangkan yang

dimaksud dengan pencurian besar secara terminologis menurut Abd al Qadir Audah

dan Al Sayid Sabiq yaitu mengambil harta orang lain dengan kekerasan dan ini

disebut juga dengan merampok atau begal.

Seorang pencuri ketika meniatkan perbuatannya, maka sebenarnya ia

menginginkan agar usahanya ( kekayaan ) ditambah dengan kekayaan orang lain, dan

ia meremehkan usaha-usaha halal. Ia tidak mencukupkan dengan hasil usahanya

sendiri, melainkan mengharapkan hasil usaha orang lain, agar dengan demikian ia

bertambah daya nafkahnya atau tidak bersusah-susah bekerja atau dapat terjamin hari

depannya. Dengan perkataan lain, tambahnya usaha atau kekayaan itulah yang

menjadi faktor pendorong adanya tindak pidana pencurian.

16

M ardani, Sanksi Pot ong Tangan Bagi Pelaku Tindak Pidana Pencurian Dalam Perspekt if Hukum Islam, Jur nal Hukum No. 2 Vol. 15, April 2008, Hal 240

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(33)

1.11Tindak Pidana Pencur ian dalam Keluar ga atau Rumah Tangga atas Delik

Aduan.

Tindak pidana pencurian dalam keluarga atau rumah tangga diatur dalam Pasal

367 KUHP yang berbunyi :

(1).jika pelaku atau orang yang membantu melakukan salah satu kejahatan yang diatur dalam bab ini ialah seorang suami istri yang tidak bercerai meja makan dan tempat tidur atau bercerai harta kekayaan dengan orang, terhadap siapa kejahatan itu telah dilakukan, maka tidak dapat dilakukan penuntutan pidana terhadap pelaku atau orang yang membantu melakukan kejahatan tersebut.

(2).jika mereka itu merupakan suami istri yang bercerai meja makan dan tempat tidur atau bercerai harta kekayaan atau merupakan saudara sedarah atau karena perkawinan baik dalam garis lurus maupun dalam garis menyamping sampai derajat kedua dari orang, terhadap siapa kejahatan itu telah dilakukan, maka penuntutan terhadap mereka hanya dapat dilakukan jika ada pengaduan terhadap mereka dari orang, terhadap siapa telah dilakukan kejahatan.

(3).jika berdasarkan lembaga-lembaga keibuan, kekuasaan bapak itu dilakukan oleh orang lain daripada seorang ayah, maka ketentuan dalam ayat yang terdahulu itu juga berlaku bagi orang lain tersebut.17

Delik-delik aduan seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 367 ayat (2) dan ayat

(3) KUHP itu merupakan relatieve klacht delicten atau delik-delik aduan relative,

yakni delik-delik yang adanya suatu pengaduan itu hanya merupakan suatu

voorwaarde van vervolgbaarheid atau hanya merupakan suatu syarat agar terhadap

pelaku-pelakunya dapat dilakukan penuntutan,18

17

P.A.F. Lamintang, Theo lamint ang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, Sinar Grafika, Jakart a, 2009, hal 63

18

(34)

22

Apabila suami atau istri tidak dibebaskan dari kewajiban tinggal bersama,

maka menurut Pasal 367 ayat (1), sama sekali tidak boleh dilakukan penuntutan.19

1.12 Penger tian Kendar aan Ber motor (Mobil, Sepeda Motor , Dll)

Kendaraan bermotor, baik itu yang beroda dua atau lebih adalah alat

transportasi bagi manusia yang bernilai ekonomis dan memiliki kegunaan, sehingga

kendaraan bermotor dijadikan sebagai bagian dari harta benda. Menyadari bahwa

kendaraan bermotor merupakan bagian dari harta kekayaan yang bernilai mewah,

maka setiap orang ingin memilikinya, baik itu dengan cara membeli, mengangsur

atau kredit, mencuri, merampas, menadah dan sebagainya. Memiliki kendaraan

bermotor dengan cara mencuri memang tidak mengeluarkan biaya / uang, dan lebih

mudah, cepat memperolehnya serta mempunyai resiko yang kecil untuk diketahui

oleh pihak yang berwajib, oleh karena biasanya oleh si pelaku identitas pemilik

kendaraan bermotor terebut secepatnya dirubah.

Demikian juga memiliki kendaraan bermotor dengan cara menadah dengan

mengeluarkan biaya yang begitu kecil dan tidak sebagaimana mestinya, dan

komponen-komponen kendaraan tersebut dapat diperjualbelikan kepada orang lain

dengan suatu keuntungan yang cukup besar.

19

Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana Tert ent u di Indonesia, Refika Adit am a, Bandung, 2003, hal 26

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(35)

1.13 Metode Penelitian

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya, kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian menguasahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala bersangkutan.20

Penelitian merupakan suatu saran (ilmiah) bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka metodologi penelitian yang diterapkan harus senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.21

1.13.1 J enis Penelitian

Menggunakan pendekatan normatif, tinjauan yuridis normatif yang dengan melakukan identifikasi terhadap isu-isu hukum yang sedang berkembang dalam masyarakat, mengkaji penerapan-penerapan hukum dalam masyarakat, mengkaji pendapat para ahli-ahli hukum terkait dan analisa kasus dalam dokumen-dokumen untuk memperjelas hasil penelitian kemudian ditinjau aspek praktis dan aspek akademis keilmuan hukumnya dalam penelitian hukum.

20

Bambang Sunggono, M et odologi Penelit ian Hukum, Rajaw ali Pers, Jakart a, 2010, hal. 38

21

(36)

24

1.13.2 Sumber Data

1. Sumber bahan hukum primer

Yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari lapangan yaitu Polres Sidoarjo.

2. Sumber bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. Bahan hukum primer, yaitu berupa Undang-Undang yang mengatur atau berkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas. Dalam permasalahan ini yang digunakan adalah Pasal 480 KUHP tentang Penadahan atau disebut Pemudahan Dalam Tindak Pidana.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu berupa referensi dari para ahli yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Bahan hukum yang diambil dari pendapat atau tulisan para ahli dalam bidang pidana untuk digunakan dalam membuat konsep-konsep hukum yang berkaitan dengan penelitian ini dan dianggap sangat penting.

c. Bahan hukum tersier, yaitu berupa jurnal hukum.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(37)

1.13.3 Metode Pengumpulan Data

Metode ini bisa dibagi menjadi dua yaitu :

1. Primer yaitu berupa data yang diambil dengan cara observasi, wawancara dengan anggota Kepolisian Polres Sidoarjo atau kuisioner.

2. Sekunder yaitu berupa data yang diambil dengan cara studi pustaka yang dilakukan dengan melakukan penelusuran bahan hukum melalui alat bantu catatan untuk dapat digunakan sebagai landasan teoritis berupa pendapat atau tulisan para ahli sehingga dapat diperoleh informasi dalam bentuk ketentuan formal dan resmi oleh pihak yang berkompeten dalam bidang Penadahan.

1.13.4 Metode Pengolahan Data atau Analisis Data

(38)

26

1.13.5 Sistematika Penulisan

Skripsi berjudul “Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Penadahan Mobil” ini terbagi dalam empat bab, dan untuk lebih memudahkan maka penulis akan memberikan gambaran umum dari tiap-tiap babnya.

Bab Pertama merupakan pendahuluan yang bersifat uraioan pokok-pokok dari penulisan skripsi atau tulisan yang harus dikembangkan. Di dalam bab pertama ini mengulas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

Bab Kedua pada skripsi ini mengulas tentang tinjauan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana penadahan mobil dari hasil pencurian. Dalam bab ini terdiri dari 2 sub bab. Sub bab pertama mengulas tentang modus operandi yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana penadahan mobil. Sub bab kedua mengulas tentang tinjauan hukum bagi si penadah mobil hasil pencurian..

Bab ketiga membahas tentang faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengadili tindak pidana penadahan mobil dari hasil pencurian. Dalam bab ini terdiri dari 2 sub bab. Sub bab pertama mengulas tentang faktor-faktor yang meringankan dan memberatkan pelaku tindak pidana penadahan mobil dari hasil pencurian. Sub bab kedua mengulas tentang penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana penadahan mobil dari hasil pencurian.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(39)
(40)

28

BAB II

TINJ AUAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN MOBIL DARI HASIL PENCURIAN

2.1 Modus Oper andi Yang Dilakukan Oleh Pelaku Tindak Pidana Penadahan Mobil Dar i Hasil Pencur ian.

Pengertian modus sendiri adalah cara atau teknik yang berciri khusus dari seorang penjahat atau pelaku tindak pidana dalam melakukan perbuatan melawan hokum. Modus operandi yang digunakan oleh pelaku kejahatan penadahan adalah yang pertama, dengan cara memesan barang terlebih dahulu kepada sipencuri.Disini sipencuri beraksi ketika ada konsumen yang memesan barang kepadanya atas kemauan konsumen.Pencuri tidak beraksi sendiri melainkan mempunyai banyak jaringan-jaringan khusus untuk melakukan aksi-aksi kejahatannya.

Dalam kejahatannya sipencuri sudah terorganisir dalam melakukan modus operandinya, sehingga mereka tidak kesulitan dalam melakukan perbuatannya. Yang kedua, melakukan penawaran ketika barang sudah ada ditangan sipencuri. Kendaraan bermotor hasil pencurian sering kali tanpa dilengkapi surat-surat kendaraan bermotor, seperti STNK dan BPKB. Disamping itu harga juga lebih relatif murah,dibanding harga pasaran.

Para pelaku pencuri kendaraan bermotor melakukan pemalsuan surat-surat kendaraan bermotor agar konsumen tidak ragu akan keabsahan dan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(41)

keaslian kendaraan bermotor tersebut. Mereka membuatkan STNK palsu demi meraup keuntungan dengan cara sipencuri melepas mesin kendaraan bermotor lalu membuat nomor palsu dengan cara mengetiknya dibagian rangka dan mesin kendaraan bermotor tersebut. Hasil kejahatan tersebut telah dilindungi oleh surat palsu dan dijual kepada para penadah.

Tindak pidana penadahan dalam kejahatan curanmor dilakukan secara berkelompok atau sindikat. Melakukan kejahatan secara berkelompok atau suatu sindikat merupakan modus operandi yang paling sering digunakan oleh para pelaku kejahatan curanmor. Sindikat tersebut juga melibatkan para penadah atau pemesan yang biasa menadah barang kejahatan. Dalam menjual kepada seorang penadah, para pelaku menjual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga sebenarnya. Modus penadahan lain adalah pelaku tidak hanya menjual secara utuh sepeda motor, melainkan mereka mempreteli atau mencopot bagian onderdil sepeda motor untuk dijual terpisah. Pelaku menjual onderdil tersebut kepada penadah yang khusus menerima onderdil sepeda motor yang terpisah.

(42)

30

transportasi yang mempunyai mobilitas tinggi, maka pelaku kejahatan ini merupakan kejahatan yang memiliki mobilitas tinggi juga dampak negatifnya terhadap masyarakat. Selain itu kejahatan pencurian kendaraan bermotor sudah merupakan kejahatan terorganisir, bersindikat, dan ada pihak-pihak yang di lapangan (pencuri) serta ada pihak-pihak yang menampung barang-barang curian ( penadah ). Penadah juga dapat dikatakan sama buruknya dengan pencuri, namun dalam hal ini penadah merupakan tindak kejahatan yang berdiri sendiri. Menurut Simons perbuatan “penadahan itu sangat erat hubungannya dengan kejahatan-kejahatan seperti pencurian, penggelapan, atau penipuan. Justru karena adanya orang yang mau melakukan penadahan itulah, orang seolah-olah dipermudah maksudnya untuk melakukan pencurian, penggelapan, atau penipuan.

Para pelaku kejahatan curanmor bisanya sudah memiliki penadah tetap yang menadah barang hasil kejahatan mereka. Kejahatan yang dilakukan oleh pelaku sindikat kejahtan curanmor dapat dikategorikan sebagai penyertaan atau penggabungan tindak pidana dan dikenal istilah concursus. Concursus adalah dua atau lebih tindakan yang dilakukan secara aktif atau pasif oleh seseorang yang dengan itu telah terjadi dua atau lebih tindak pidana sebagaimana dirumuskan kedalam perundangan. Penggabungan tindak pidana terjadi ketika pelaku pencurian kendaraan bermotor menjual barang hasil kejahatan kepada penadah sehingga terjadilah proses penadahan yang merupakan suatu tindak pidana sebagaimana diatur oleh Undang-Undang.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(43)

2.2 Tinjauan Hukum Bagi Si Pelaku Penadah Mobil Hasil Pencur ian

Tindak pidana penadahan atau disebut juga tindak pidana pemudahan ini diatur dalam Bab XXX KUHPidana. Tindak pidana penadahan atau tindak pidana pemudahan ini merupakan tindak pidana yang erat kaitannya dengan tindak pidana terhadap harta kekayaan orang lain.

Kejahatan dalam bentuk pencurian terhadapa harta benda tidak akan tumbuh subur apabila tidak ada yang menampung hasil curian itu. Benda-benda curian itu tidak mungkin untuk selalu dimiliki dan disimpan sendiri. Maka disinilah peranan seorang penadah hasil pencurian terhadap harta benda terutama kendaraan bermotor sangat diperlukan.

Adanya penadah sebagai penampung barang hasil kejahatan pencurian memberikan kemudahan bagi pelaku pencuri untuk memperoleh keuntungan, sebab barang hasil curian itu akan dijualnya lagi kepada sipenadah dengan harga yang relative lebih murah. Jadi sipelaku tidak harus menjual sendiri hasil curiannya ke konsumen, tetapi dapat ia salurkan melalui penadah yang berkedok sebagai pedagang di pasar loak. Mungkin yang dijual oleh pelaku tidak hanya kendaran bermotor yang masih utuh, tetapi onderdil-onderdil yang sudah diperotoli satu per satu yang nantinya akan dijual eceran oleh pedagang di pasar loak.

(44)

32

Termasuk dalam pengertian perbuatan dengan harapan memperoleh keuntungan mengangkut suatu benda yang diperoleh karena kejahatan yakni perbuatan mengangkut benda seperti itu karena terdorong oleh pengharapan untuk diizinkan untuk menahan sebagian dari benda tersebut untuk dirinya sendiri.

Jika pada suatu hari sesorang itu mengetahui ada orang lain menyembunyikan hasil kejahatannya disuatu tempat, dan dengan harapan untuk mendapat keuntungan telah membiarkan benda tersebut tetap berada ditempatnya, yakni dengan perhitungan apabila orang yang menyembunyikan benda itu ditangkap dan ditahan oleh alat-alat Negara, maka ia akan dating ke tempat tersebut untuk mengambil benda yang bersangkutan dan menguasainya bagi dirinya sendiri.22

Para pelaku penadahan akan dijerat hukum dengan tindak pidana penadahan diatur dalam ketentuan Pasal 480 KUHPidana yang menyatakan :

Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah karena penadahan.

Ke-1 barang siapa menjual, menawarkan, menukar, menerima gadai, menerima hadiah, atau untuk menarik keuntungan, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa diperoleh dari kejahatan

Ke-2 barang siapa menarik keuntungan dari hasil sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa diperoleh dari kejahatan.

22

P.A.F. Lamintang, Theo Lamintang, Delik-delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, jakarta, Sinar Grafika, 2009, hal 378

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(45)

Bahwa apabila diperhatikan, maka tindak pidana yang diatur dalam Pasal 480 KUHPidana ini meliputi dua macam bentuk tindak pidana penadahan, yaitu :

a. Membeli,menyewa, menukar, menerima sebagai gadai dan menerima sebagai hadiah sesuatu benda yang berasal dari kejahatan.

b. Karena ingin menarik keuntungan telah menjual, menyewakan, menukarkan, memberikan sebagai gadai, mengangkut, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu benda yang berasal dari kejahatan.

Adapun jenis tindak pidana penadahan ini dapat dibagi kedalam dua bentuk, yaitu :

1. Penadahan sebagai kebiasaan

Tindak pidana ini diatur dalam ketentuan Pasal 481 KUHPidana yang menyatakan :

(1) Barang siapa menjadikan sebagai kebiasaan untuk sengaja membeli, menukarkan, menerima gadai, menyimpan atau menyembunyikan barang, yang diperoleh dari kejahatan, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Yang bersalah dapat dicabut hanya tersebut dalam Pasal 35

Nomor 1 dan haknya untuk melakukan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.

(46)

34

Pasal 481 KUHPidana tetapi dikenai dengan pasal 480KUHPidana sebagai tindak pidana penadahan biasa.

2. Penadahan r ingan

Jenis tindak pidana ini diatur dalam pasal 482 KUHP yang menyatakan :

Diancam karena penadahan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak enam puluh rupiah, jika jika kejahatan dan mana benda diperoleh adalah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 364, 373, dan 379.

Berdasarkan ketentuan pasal 482 KUHP di atas tersimpul bahwa penadahan yang diatur dalam pasal 482 KUHP itu akan menjadi penadahan ringan, apabila perbuatan yang diatur dalam pasal 480 KUHP itu dilakukan terhadap barang-barang hasil dari tindak pidana pencurian ringan, berasal dari tindak pidana penggelapan ringan atau dari penipuan ringan.

Yang dimaksud dengan kejahatan yang diatur dalam pasal 364 KUHP didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 482 KUHP tersebut berbunyi :

Perbuatan-perbuatan yang diatur dalam pasal 362 dan 364 No.4 demikian juga jika diatur dalam pasal 363 No.5 itu tidak dilakukan dalam suatu tempat kediaman atau diatas suatu perkarangan tertutup yang diatasnya terdapat sebuah tempat kediaman dan apabila nilai dari benda yang dicuri itu tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, dipidana sebagai pencurian ringan dengan pidana penjara selama-lamanya tiga bulan atau dengan pidana denda setinggi-tingginya Sembilan ratus rupiah.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(47)

Yang dimaksud dengan kejahatan yang diatur dalam pasal 373 KUHP didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 482 KUHP adalah kejahatan penggelapan ringan yang rumusannya berbunyi :

Jika benda yang digelapkan bukan berupa ternak dan nilainya tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, dipidana sebagai penggelapan ringan dengan pidana penjara selama-lamanya tiga bulan atau dengan pidana denda setinggi-tingginya Sembilan ratus rupiah.

Yang dimaksud dengan kejahatan yang diatur dalam pasal 379 KUHP didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 482 KUHP adalah kejahatan penipuan ringan yang rumusannya berbunyi :

Jika benda yang diserahkan bukan berupa ternak dan nilai benda, utang atau piutang tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, dipidana sebagai penipuan ringan dengan pidana penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Sembilan ratus rupiah.

2.2 Tinjauan Hukum Bagi Si Pelaku Penadah Mobil Hasil Pencur ian 2.2.1 Penger tian Pelaku

Jika orang mendengar perkataan pelaku, juga dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, yang artinya dari orang yang mengerjakan sesuatu. Pelaku adalah salinan dari dader.

(48)

36

pidana dimana orang itu tidak melakukan perbuatan yang diharuskan oleh undang-undang atau sebagai kewajiban.

Didalam perkembangannya, tindak pidana tidak lagi hanya dilakukan oleh manusia pribadi. Organisasi, lembaga atau badan usaha juga dapat menjadi pelaku tindak pidana. Oleh karena itu saat ini telah terjadi perluasan pengertian siapa yang dapat menjadi pelaku tindak pidana.

2.2.2 Bentuk-bentuk Pelaku

Pelaku langsung adalah orang itu sendiri yang melakukan kejahatan. Rumusan undang-undang pidana menggunakan kata “barang siapa” berarti yang melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh undang-undang, berarti orang itu sendiri yang melakukan kejahatan.

Adapun bentuk-bentuk pelaku tindak pidana diatur dalam Pasal 55 KUHP, yaitu :

1. Mereka yang melakukan tindak pidana

2. Mereka yang menyuruh orang lain untuk melakukan tindak pidana 3. Mereka yang ikut serta dalam suatu tindak pidana

4. Mereka yang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana.

Ad.1. Mereka yang melakukan tindak pidana.

Jadi orang tersebut yang melakukan sendiri semua unsure tindak pidana. Pelaku yang dimaksud disini yakni hanya mereka yang melakukan tindak pidana.

Ad.2. Mereka yang menyuruh orang lain untuk melakukan tindak pidana.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(49)

Dalam bentuk ini terdapat seseorang yang ingin melakukan suatu tindak pidana, akan tetapi dia tidak melakukan sendiri. Dia menyuruh oprang lain untuk melakukannya.

Ad.3. Mereka yang ikut serta dalam suatu tindak pidana Dalam bentuk ini ikut serta dan dalam hal ini penulis ingin menjelaskan judul yang ditulis berdasarkan pelaku yang ikut serta dalam suatu tindak pidana, tetapi sering terjadi kekacauan pengertian antara penyerta dan ikut serta.

Syarat yang diperlukan adanya penyertaan yang berbentuk ikut serta adalah :

a. Harus ada kesadaran kerja sama dari setiap peserta b. Kerja sama dalam tindak pidana harus secara

fisik.23

Ad.4. Mereka yang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana

Terdapat macam-macam istilah untuk menerjemahkan “uitlokking” ke dalam bahasa Indonesia. Ada yang menerjemahkan dengan istilah menganjurkan. Dalam uraian ini uitlokking

ditrjemahkan dengan menggerakkan. Karena dengan dipakai istilah menggerakkan lebih menunjukan sebelum digerakkan orang tersebut belum mempunyai kehendak untuk melakukan tindak pidana.

Syarat bentuk penyertaan “menggerakkan” ini adalah sebagai berikut :

a. Ada seorang yang berkehendak untuk melakukan suatu tindak pidana.

(50)

38

d. Menggerakkan orang lain untuk melaksanakan tindak pidana yang dikehendaki.

e. Orang yang digerakkan dalam melakukan tindak pidana adalah orang yang dapat dipertanggungjawabkan.24

Jadi dalam “menggerakkan” terdapat dua kategori pelaku yang menggerakkan yaitu :

Yang pertama adalah mereka yang mempunyai kehendak melakukan tindak pidana. Mereka ini disebut “auctor

intelectualis”. Yang kedua, mereka yang melaksanakan

tindak pidana seperti kehendak orang yang menggerakkan. 2.2.3 Kasus Posisi Pelaku dalam Tindak Pidana Penadahan Mobil

Pada awalnya Bambang Setiawan menyewa satu unit mobil jenis isuzu panther warna biru tua No. Pol W 2387 T kepada Yoyok A. Fourdiyanto selama jangka waktu satu hari, kemudian Yoyok A. Fourdiyanto menyuruh istrinya yaitu, Kartika Ningtyas agar menyerahkan mobil tersebut beserta STNK dan kunci kontaknya kepada Bambang Setiawan. Pada keesokan harinya Bambang Setiawan tidak mengembalikan mobil yang disewanya tersebut kepada pemiliknya yaitu Yoyok A. Fourdiyanto, bahkan pada tanggal 27 Oktober 2005istri Bambang Stiawa dating kerumah Yoyok A. Fourdiyanto untuk mengatakan bahwa mobil tersebut masih disewa

24

Ibid

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(51)

selama enam hari dan menyerahkan uang sebesar Rp. 1.200.000 (satu juta dua ratus ribu rupiah) sebagai uang sewa.

Selanjutnya sampai tanggal 29 Oktober 2005 Bambang Setiawan belum mengembalikan yang telah disewanya tersebut sehingga Yoyok A. Fourdiyanto mencari keberadaan Bambang Setiawan akan ntetapi tidak ketemu. Karena mersa curiga dan khawatir terhadap mobilnya, maka Yoyok A. Fourdiyanto melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Prambon.

Kemudian pada tanggal 12 November 2005 petugas Polsek Krian berhasi menemukan isuzu panther biru tua No. Pol W 2387 T tersebut sedang melintas dijalan Prambon-Krian dan kemudian mengamankan mobil tersebut yang selanjutnya diserahkan kepada pihak Polsek Prambon untuk diproses lebih lanjut.

(52)

40

isuzu panther warna biru tua No. Pol W 2387 T tersebut tanpa terlebih dahulu melakukan pengecekan tentang siapa pemilik mobil tersebut sebenarnya, apalagi pada saat itu Bambang Setiawan tidak menunjukkan BPKB asli dari mobil tersebut.

Perbuatan Hadi Sumarsono tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 40 ayati 1 KUHP. Memperhatikan kasus diatas dapat dijelaskan bahwa posisi Bambang Setiawan dalam penggadaian mobil dalam status sewa yang berarti hasil dari kejahatan adalah sebagai pihak melakukan tindak pidana menggadaikan mobil hasil kejahatan sebagaimana diatrur dalam pasal 480 KUHP, karena semuanya terpenuhi.

2.2.4 Analisis Kasus Posisi Tindak Pidana Penadahan Mobil

Pada kasus posisi di atas, bahwa pelaku telah melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 480 ayat 1 KUHP, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut :

1. Barang siapa :

Yang dimaksud dengan unsur barang siapa adalah setiap subyek hokum sebagai pelaku tindak pidana, yang dianggap mampu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya secara hokum. Dalam perkara ini yang dimaksud dengan unsure tersebut adalah tersangka Hadi Sumarsono dengan identitas lengkap sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan, dengan demikian unsur barang siapa telah terpenuhi.

2. Dengan sengaja membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena mau mendapat untung, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan, membawa, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang yang

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(53)

diketahuinya atau patut disangkanya, bahwa barang itu diperoleh karena kejahatan :

a. Bahwa tersangka pada hari minggu tanggal 23 Oktober 2005 telah menerima gadai sebuah mobil isuzu panther dengan harga dua puluh dua juta rupiah.

b. Bahwa tersangka tanpa terlebih dahulu mengecek tentang siapa pemilik mobil tersebut sebenarnya dan tersangka tidak mengetahui kalau BPKB asli tidak ada sesuai dengan identitas mobil panther tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...