No. 47/8/ 13/Th. XIX, 03 Agustus 2016
I NDEKS D EMOKRASI I NDONESIA (IDI) 2015
INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) SUMATERA BARAT 2015 SEBESAR 67,46 DARI SKALA 0 SAMPAI 100, ANGKA INI NAIK 3,47 POIN DIBANDINGKAN DENGAN IDI 2014 SEBESAR 63,99.
1. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia Sumatera Barat 2015
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Sumatera Barat 2015 sebesar 67,46 dari skala 0 sampai 100, angka ini naik 3,47 poin dibandingkan dengan IDI Sumatera Barat 2014 sebesar 63,99. Dengan kenaikan ini, maka tingkat demokrasi di Sumatera Barat pada tahun 2015 masih berada pada tingkat yang “sedang”.
Perkembangan IDI dari 2009 hingga 2015 mengalami fluktuasi (2009 sebesar 60,29; 2010 sebesar 63,04, 2011 sebesar 65,02, 2012 sebesar 60,82, 2013 sebesar 54,11, 2014 sebesar 63,99 dan 2015 sebesar 67,46). Meskipun demikian, tingkat demokrasi Indonesia berdasarkan penghitungan Indeks yang tahun 2009 hingga 2012 yang masih berada pada kategori “sedang”, pada tahun 2013 jatuh ketingkat yang “buruk”, tahun 2014 dan 2015 naik menjadi “sedang” kembali. Hal ini menunjukkan IDI sebagai sebuah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia, memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi. Karena IDI disusun berdasarkan evidence based (kejadian) sehingga potret yang dihasilkan IDI merupakan refleksi realitas yang terjadi.
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Sumatera Barat 2015 sebesar 67,46 dari skala 0 sampai 100, angka ini naik 3,47 poin dibandingkan dengan IDI Sumatera Barat 2014 sebesar 63,99. Dengan Indeks sebesar 67,46 ini, maka tingkat demokrasi di Sumatera Barat masih dalam kategori
“sedang”, sama dengan tahun sebelumnya. Tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).
Kenaikan angka yang merupakan indeks komposit tersebut dipengaruhi perubahan tiga aspek demokrasi yang diukur yakni Kebebasan Sipil (Civil Liberty) yang naik 5,78 poin dari 47,21 pada 2014 menjadi 52,99 pada 2015, Hak-Hak Politik (Political Rights) naik 7,95 poin dari tahun 2014 sebesar 61,82 menjadi 69,77 pada tahun 2015, dan Lembaga-lembaga Demokrasi (Institution of Democracy) yang turun 6,55 poin dari 88,56 pada 2014 menjadi 82,01 pada 2015.
Secara metodologis dalam pengumpulan data digunakan 4 sumber data berupa : (1) review surat
kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4)
wawancara mendalam.
Grafik 1. Perkembangan IDI Sumatera Barat, 2009-2015
2. Perkembangan Indeks Aspek-Aspek IDI
Angka IDI 2015 merupakan indeks komposit yang disusun dari skor beberapa aspek yakni aspek kebebasan sipil dengan rata-rata Sumatera Barat 52,99; aspek hak-hak politik sebesar 69,77;
dan aspek lembaga demokrasi sebesar 82,01.
Secara lebih rinci, pada 2015 distribusi indeks dalam ketiga aspek demokrasi yang diukur terlihat aspek kebebasan sipil, mengalami kenaikan 5,78 poin, dan aspek hak-hak politik juga meningkat 7,95 poin. sedangkan lembaga demokrasi turun sebesar 6,55 poin. Dengan demikian, pola sebaran nilai di atas sama dengan tahun pengukuran sebelumnya. Dari data IDI 2015 diperoleh informasi pada aspek kebebasan sipil masuk kategori buruk karena masih banyaknya jumlah tindakan atau pernyataan pejabat pemerintah yang membatasi kebebasan atau mengharuskan masyarakat menjalankan ajaran agamanya.
Grafik 2. Perkembangan Indeks Aspek IDI Sumatera Barat, 2009-2015
60,29 63,04 65,02 60,82
54,11
63,99 67,46
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
100
80
60 Baik Sedang
Buruk
0
63,06
58,34 59,21
57,10
54,88
47,21 52,99 53,57
63,90 60,57
50,85
38,97
61,82 69,77
67,48 67,59 79,83 81,32
72,24
88,56
82,01
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
100
80
60
Baik
Sedang
Buruk
0
Lembaga Demokrasi
Hak-hak Politik
Kebebasan Sipil
3. Perkembangan Indeks Variabel IDI
Dari sisi variabel, pada IDI 2015 terdapat lima variabel yang mengalami peningkatan skor yakni kebebasan berkumpul dan berserikat (naik 10,00 poin dari 90,00 tahun 2014 menjadi 100,00 tahun 2015), kebebasan berkeyakinan (naik 2,57 poin dari 24,06 pada tahun 2014 menjadi 26,63 tahun 2015), kebebasan dari diskriminasi (naik 21,91 poin dari 71,47 pada tahun 2014 menjadi 93,38 tahun 2015), hak memilih dan ,dipilih, (naik 0,08 poin dari 73,63 pada tahun 2014 menjadi 73,71 tahun 2015), partisipasi politik dalam pengambilan keputusan dan pengawasan (naik 15,83 poin dari 50,00 tahun 2014 menjadi 65,83 tahun 2015. Sementara itu, terdapat tiga variabel yang mengalami penurunan skor diantaranya kebebasan berpendapat yang turun 19,42 poin dari 91,65 pada tahun 2014 menjadi 72,23 tahun 2015, peran DPRD yang turun 19,39 poin dari 41,92 pada 2014 menjadi 22,53 pada 2015, serta peran birokrasi pemerintah daerah turun 12,03 poin dari 100,00 pada tahun 2014 menjadi 87,97 pada tahun 2015 Kemudian sisanya tidak mengalami perubahan atau relatif sama.
Grafik 3. Perkembangan Indeks Variabel IDI Sumatera Barat, 2014-2015
4. Perkembangan Skor Indikator IDI
Dari sisi indikator, pada IDI 2015 terdapat 15 indikator yang mengalami kinerja baik (merupakan indikator yang memiliki skor di atas 80) diantaranya yaitu indikator 1, 2, 4, 7, 8, 9, 10, 11, 18, 19, 23, 24, 26, 27 dan 28 (lihat Tabel 2 perkembangan skor indikator 2014 dan 2015), Kendati demikian, masih terdapat masalah kronis yang ditunjukkan melalui indikator 5, 6, 15, 17, 20, 21 dan 22 (merupakan indikator yang memiliki skor di bawah 60), diantaranya adalah aturan tertulis yang membatasi kebebasan atau mengharuskan menjalankan ibadah agama, tindakan/pernyataan pejabat
0 20 40 60 80 100
Kebebasan Berkumpul dan Berserikat
Kebebasan Berpendapat
Kebebasan Berkeyakinan
Kebebasan dari Diskriminasi
Hak memilih dan Dipilih Partisipasi Politik dalam
Pengambilan Keputusan dan Pengawasan Pemilu yang Bebas dan
Adil Peran DPRD Peran Partai Politik
Peran Birokrasi Pemerintah Daerah
Peran Peradilan yang Independen
2014 2015
membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama
,persentase perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Propinsi, pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan, besaran alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan, Perda yang merupakan inisiatif DPRD dan rekomendasi DPRD kepada eksekutif. Oleh karena itu, indikator tersebut memerlukan perhatian khusus agar nilainya dapat membaik.
Tabel 1: Perkembangan Skor Variabel IDI Sumatera Barat, 2014-2015
No Nama Variabel 2014 2015 Selisih
1 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat
90,00 100,00 10,002 Kebebasan Berpendapat
91,65 72,23 -19,423 Kebebasan Berkeyakinan
24,06 26,63 2,574 Kebebasan dari Diskriminasi
71,47 93,38 21,915 Hak Memilih dan Dipilih
73,63 73,71 0,086 Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan
50,00 65,83 15,83
7 Pemilu yang Bebas dan Adil
100,00 100,00 0,008 Peran DPRD
41,92 22,53 -19,399 Peran Partai Politik
100,00 100,00 0,0010 Peran Birokrasi Pemerintah Daerah
100,00 87,97 -12,0311 Peran Peradilan yang Independen
100,00 100,00 0,005. Penjelasan Teknis
Pembangunan demokrasi dan politik merupakan hal yang penting dan terus diupayakan oleh pemerintah, Namun, untuk mengukur pencapaiannya baik di tingkat daerah maupun pusat bukan sesuatu hal yang mudah, Pembangunan demokrasi memerlukan data empirik untuk dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan dan perumusan strategi yang spesifik dan akurat, Untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan demokrasi politik di Indonesia maka sejak tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama stakeholder lain seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (KEMENKOPOLHUKAM), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI), United Nations Development Programme (UNDP) dan Tim Ahli yaitu Prof, Maswadi Rauf (UI), Prof, Musdah Mulia (UIN Syarif Hidayatullah), Dr, Syarif Hidayat (LIPI), dan Dr, Abdul Malik Gismar (Universitas Paramadina) merumuskan pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia (IDI),
IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia, Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu Kebebasan Sipil (Civil Liberty), Hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga- lembaga Demokrasi (Institution of Democracy),
IDI bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat perkembangan demokrasi, Dari indeks
tersebut akan terlihat perkembangan demokrasi sesuai dengan ketiga aspek yang diukur, Di samping
level nasional, IDI juga dapat memberikan gambaran perkembangan demokrasi di provinsi-provinsi
seluruh Indonesia, IDI merupakan indikator yang tidak hanya melihat gambaran demokrasi yang
berasal dari sisi kinerja pemerintah/birokrasi saja, Namun, juga melihat perkembangan demokrasi dari
aspek peran masyarakat, lembaga legislatif (DPRD), partai politik, lembaga peradilan dan penegak
hukum, Oleh karena itu, perkembangan IDI merupakan tanggung jawab bersama semua stakeholder, tidak hanya pemerintah saja,
Komponen Penghitungan IDI 2009 - 2015
Catatan: *) = rincian indikator dapat dilihat pada Tabel 1
Pengumpulan data IDI mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sebagai tahapan yang saling melengkapi, Pada tahap pertama data kuantitatif dikumpulkan dari koding surat kabar dan dokumen tertulis seperti Perda atau peraturan dan surat keputusan kepala daerah, yang sesuai dengan indikator-indikator IDI, Temuan-temuan tersebut kemudian diverifikasi dan dielaborasi melalui focus group discussion (FGD) sebagai tahap pengumpulan data kedua, sekaligus menggali kasus- kasus yang tidak tertangkap di koding surat kabar/dokumen, Pada tahap ketiga data-data yang telah terkumpul tersebut diverifikasi melalui wawancara mendalam dengan nara sumber yang kompeten memberikan informasi tentang indikator IDI, Semua tahapan pengumpulan data dilakukan oleh BPS Provinsi, diolah di BPS RI, dan diverifikasi oleh Dewan Ahli beserta mitra kerja lain pada semua tahapannya
Penghitungan IDI melalui tiga tahapan proses yakni pertama, menghitung skor akhir untuk setiap indikator; kedua, menghitung indeks provinsi; dan ketiga, menghitung indeks keseluruhan atau IDI Nasional, Ketiga tahapan ini secara hierarkhis terkait satu dengan yang lain, Skor masing-masing indikator IDI (28 indikator) di setiap provinsi memberikan kontribusi dalam penghitungan indeks 11 variabel IDI, selanjutnya indeks 11 varibel memberikan kontribusi terhadap penghitungan indeks tiga aspek IDI, Komposit indeks ketiga aspek IDI inilah yang merefleksikan indeks demokrasi di masing- masing provinsi, Dan pada akhirnya komposit indeks provinsi menentukan IDI Nasional,
Untuk menggambarkan capaian tingkat demokrasi dalam IDI digunakan skala 0 – 100, Skala ini
merupakan skala normatif di mana 0 adalah tingkat terendah dan 100 adalah tingkat tertinggi, Tingkat
terendah (nilai indeks = 0) secara teoretik dapat terjadi bila semua indikator mendapatkan skor yang
paling rendah (skor 0), Sebaliknya, tingkat tertinggi (nilai indeks = 100) secara teoritik dimungkinkan
apabila seluruh indikator memperoleh skor tertinggi, Selanjutnya, untuk memberi makna lebih lanjut
dari variasi indeks yang dihasilkan, skala 0 – 100 tersebut dibagi ke dalam tiga kategori tingkat demokrasi, yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60),
Pada 2015 sejalan dengan dinamika demokrasi dan agar sensitif dengan kondisi lapangan terkini maka diterapkan dua indikator baru yakni indikator 25 “Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN” dahulu “Laporan dan berita penggunaan fasilitas pemerintah untuk kepentingan calon/parpol tertentu dalam pemilu legislatif” dan indikator 26 yakni
“Upaya penyediaan informasi APBD oleh pemerintah daerah” dahulu “Laporan dan berita keterlibatan
PNS dalam kegiatan politik parpol pada pemilu legislatif”,
Tabel 2: Perkembangan Indeks Aspek, Variabel dan Skor Indikator IDI 2014-2015
o ASPEK / VARIABEL / INDIKATOR 2014 2015
INDEKS DEMOKRASI INDONESIA 63,99 67,46
A, KEBEBASAN SIPIL (CIVIL LIBERTIES) 47,21 52,99
I, Kebebasan berkumpul dan berserikat 90,00 100,00
1 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berkumpul dan berserikat
90,00 100,00 2 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berkumpul dan berserikat
90,00 100,00
II, Kebebasan berpendapat 91,65 72,23
3 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat
100,00 66,67 4 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berpendapat
50,00 100,00
III, Kebebasan berkeyakinan 24,06 26,63
5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan atau mengharuskan masyarakat dalam menjalankan agamanya
8,70 4,35 6 Tindakan atau pernyataan pejabat Pemerintah yang membatasi kebebasan atau
mengharuskan masyarakat untuk menjalankan ajaran agamanya
0,00 50,00 7 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan dari satu kelompok masyarakat terhadap
kelompok masyarakat lain terkait dengan ajaran agama
100,00 100,00
IV, Kebebasan dari diskriminasi 71,47 93,38
8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
83,33 83,33 9 Tindakan atau pernyataan pejabat pemerintah daerah yang diskriminatif dalam hal gender,
etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
100,00 100,00 10 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender,
etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
33,33 100,00
B, HAK-HAK POLITIK (POLITICAL RIGHTS) 61,82 69,77
V, Hak memilih dan dipilih 73,63 73,71
11 Hak memilih atau dipilih masyarakat terhambat 100,00 100,00
12 Kejadian yang menunjukkan ketiadaan/kekurangan fasilitas sehingga kelompok dengan keterbatasan akses tidak dapat menggunakan hak memilih
60,00 60,00
13 Kualitas daftar pemilih tetap (DPT) 76,31 76,31
14 Penduduk yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan yang memiliki hak untuk memilih dalam pemilu (voters turnout)
68,43 68,43
15 Perempuan terpilih di DPRD provinsi 30,77 30,77
VI, Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan 50,00 65,83
16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 68,26 78,26
17 Pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 31,74 53,39 C, LEMBAGA-LEMBAGA DEMOKRASI (DEMOCRATIC INSTITUTIONS) 88,56 82,01
VII, Pemilu yang bebas dan adil 100,00 100,00
18 Kejadian yang menunjukkan keberpihakan KPUD dalam penyelenggaraan Pemilu 100,00 100,00 19 Kejadian atau pelaporan tentang kecurangan dalam penghitungan suara 100,00 100,00 VII
I,
Peran DPRD 41,92 22,53
20 Besaran alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan 57,55 28,80
21 Perda yang berasal dari hak inisiatif DPRD 8,33 14,29
22 Rekomendasi DPRD kepada eksekutif 14,29 7,14
IX, Peran Partai politik 100,00 100,00
23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan parpol peserta pemilu 100,00 100,00
24 Perempuan dalam kepengurusan parpol tingkat provinsi 100,00 100,00
ASPEK / VARIABEL / INDIKATOR 2014 2015
X, Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 100,00 87,97
25 Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN Laporan dan berita penggunaan fasilitas pemerintah untuk kepentingan calon/parpol tertentu
dalam pemilu legislatif
100,00 73,68 26 Upaya penyediaan informasi APBD oleh pemerintah daerah/
Laporan dan berita keterlibatan PNS dalam kegiatan politik parpol pada pemilu legislatif 100,00 100,00
XI, Peran Peradilan yang independen 100,00 100,00
27 Keputusan hakim yang kontroversial 100,00 100,00
28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100,00 100,00
Tabel 3: Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Aspek dan Provinsi, 2014-2015
Provinsi
IDI 2014 IDI 2015
IDI
Aspek Kebebasan
Sipil
Aspek Hak-hak Politik
Aspek Lembaga Demokrasi
IDI
Aspek Kebebasan
Sipil
Aspek Hak-hak Politik
Aspek Lembaga Demokrasi
Aceh 72,29 69,76 63,94 88,73 67.78 74.81 63.98 64.97
Sumatera Utara 68,02 79,86 61,97 62,75 69.01 82.02 62.17 63.52 Sumatera Barat 63,99 47,21 61,82 88,56 67.46 52.99 69.77 82.01
Riau 68,40 74,35 59,74 74,69 65.83 66.46 66.61 63.80
Jambi 71,15 78,23 54,01 89,48 70.68 75.89 62.12 77.72
Sumatera Selatan 74,82 86,09 63,57 78,53 79.81 96.06 78.79 61.00
Bengkulu 71,70 79,49 63,98 74,16 73.60 78.50 68.45 75.61
Lampung 71,62 72,06 63,69 83,66 65.95 71.99 63.19 62.74
Kep. Bangka Belitung 75,32 89,80 56,48 87,01 72.31 81.25 66.95 69.60 Kepulauan Riau 68,39 82,47 58,35 66,61 70.26 80.16 65.01 66.13
DKI Jakarta 84,70 91,72 73,94 92,97 85.32 89.64 83.19 83.26
Jawa Barat 71,52 83,95 65,22 65,89 73.04 79.10 81.89 51.37
Jawa Tengah 77,44 87,87 67,08 80,77 69.75 79.44 67.28 61.48
D.I.Yogyakarta 82,71 86,25 76,07 88,82 83.19 90.41 77.98 82.38
Jawa Timur 70,36 81,62 56,29 78,54 76.90 85.26 67.44 81.39
Banten 75,50 81,10 63,68 87,22 68.46 74.28 63.72 68.66
Bali 76,13 92,16 61,27 79,56 79.83 94.42 77.42 65.31
Nusa Tenggara Barat 62,62 58,73 62,08 68,38 65.08 51.59 61.11 88.36 Nusa Tenggara Timur 68,81 85,92 65,13 53,12 78.47 93.19 71.69 70.73 Kalimantan Barat 80,58 98,44 63,12 85,84 76.40 96.81 65.57 67.95 Kalimantan Tengah 79,00 92,93 66,42 81,48 73.46 85.07 68.31 67.05 Kalimantan Selatan 70,84 58,43 76,45 77,53 74.76 54.15 85.77 83.17 Kalimantan Timur 77,77 93,28 70,42 69,94 81.24 93.07 82.74 63.99
Kalimantan Utara - - - - 80.16 98.10 83.65 52.05
Sulawesi Utara 83,94 93,56 80,89 76,68 79.40 86.71 77.92 72.53 Sulawesi Tengah 74,36 86,56 59,01 83,42 76.67 94.60 68.85 66.53 Sulawesi Selatan 75,30 86,27 73,99 63,58 67.90 69.38 64.25 71.84 Sulawesi Tenggara 70,13 90,89 53,20 70,92 69.44 91.14 56.95 61.99
Gorontalo 73,82 82,19 63,67 79,41 76.77 81.35 69.97 81.81
Sulawesi Barat 76,69 90,22 63,64 80,39 68.25 81.88 61.16 62.37
Maluku 72,72 90,85 60,03 70,09 65.90 76.04 63.20 57.43
Maluku Utara 67,90 76,90 60,61 68,16 61.52 73.53 61.00 47.25
Papua Barat 65,65 97,93 39,29 66,93 59.97 92.33 39.48 51.81
Papua 62,15 85,69 42,51 63,75 57.55 82.72 41.81 50.87
INDONESIA 73,04 82,62 63,72 75,81 72.82 80.30 70.63 66.87
Informasi lebih lanjut hubungi:
Dody Herlando, M.Econ
Kepala BPS Propinsi Sumatera Barat Telepon: 0751 442158-59
E-mail [email protected]