• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permohonan Dalam Pemeriksaan di Pengadilan Agama.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Permohonan Dalam Pemeriksaan di Pengadilan Agama."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmatNya laporan hasil penelitian “Permohonan dalam Pemeriksaan di Pengadilan Agama“ dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih yang sebesar–besarnya bagi semua saja yang terlibat atas bantuan, saran dan dorongan yang diberikan, sehingga saya mampu memahami materi dengan lebih baik dan pada akhirnya mapu merampungkan penelitian ini.

Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan demi sempurnanya penelitian ini. Akhir kata, semoga penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan secara khusus bagi hukum acara perdata dan lebih khusus lagi bagi hukum acara peradilan agama.

Denpasar, 2015

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

Judul i

Lembar Pengesahan ... ii Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi iv

Abstrak ... v

I. PENDAHULUAN 1

II. RUMUSAN MASALAH 2

(5)

ABSTRAK

Peradilan Agama adalah salah satu lingkungan peradilan dibawah Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang dalam tingkat pertama dilaksanakan oleh Pengadilan Agama. Peradilan agama mempunyai kekhususan dalam subyek, yaitu peradilan yang diperuntukkan bagi penduduk yang beragama islam. Kompetensi absolutnya adalah sengketa keperdataan tertentu yang ditentukan dalam undang – undang peradilan agama. Lex generalis untuk hukum acaranya adalah hukum acara perdata, yang mengenal adanya prosedure gugatan dan prosedure permohonan, dan lex specialisnya diatur menurut ketentuan dalam undang–undang peradilan agama. Dalam hukum acara perdata kedua prosedur ini sangat berbeda. Dalam lex spesialisnya juga ditentukan adanya permohonan.

(6)

I. PENDAHULUAN

Peradilan agama adalah salah satu lingkungan peradilan dari empat

lingkungan peradilan dibawah Mahkamah Agung. Pasal 24 ayat (2) UUD NKRI

1945 menentukan bahwa kekuasaan kehakimam dilakukan oleh sebuah

Mahkamah , lingkungan peradilangung dan badan peradilan yang ada di

bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,

lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh

sebuah Mahkamah Konstitusi.

Hukum acara yang berlaku pada pengadilan agama dalam lingkungan

peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada peradilan perdata

dalam lingkungan peradilan umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam

UU peradilan agama. Dengan demikian, hukum acara perdata merupakan lex

generalis berhadapan dengan lex spesialis sebagaimana yang diatur dalam UU

peradilan agama. Kompetensi absolutnya menyangkut masalah-masalah

keperdataan, bagi subyek hukum yang terkait dengan agama Islam. Secara rinci

Ps 49 UU No. 3/2006 telah menentukan apa saja yang dapat diajukan dan

diperiksa di Pengadilam Agama.

Sebagaimana halnya dalam peradilan perdata (Sudikno Mertokusumo,

1982 : 3), demikian pula dalam peradilan agama dikenal adanya dua macam

tuntutan hak yakni: permohonan dan gugatan (Rassyid H. Roihan A., 2005 : 59).

Dalam hukum acara perdata, secara tegas dibedakan kedua macam tuntutan hak

ini. Titik tolak perbedaannya terletak pada ada atau tidak adanya sengketa yang

(7)

ini dalam pasal 142 ayat (1) RBg / pasal 118 ayat 1 HIR disebut sebagai tuntutan

perdata (burgerlijke vordering). Dalam hukum acara perdata perbedaan antara

permohonan dan gugatan berakibat lebih lanjut pada perbedaan tata cara /

prosedur dalam proses pemeriksaan di hadapan hakim. Bahkan hasil akhir dari

proses, yang berupa keputusan hakim pun berbeda. Hasil akhir dari proses melalui

gugatan adalah putusan pengadilan, dan hasil akhir dari proses melelui

permohonan adalan penetapan pengadilan.

Oleh karena ketentuan-ketentuan yang diatur secara khusus dalam UU

peradilan agama merupakan lex spesialis dari hukum acara perdata yang

merupakan lex generalis, maka perli dicermati dan diteliti pengertian tuntutan hak

tersebut khususnya penegertian permohonan dan bagaimana prosesnya .

II. RUMUSAN MASALAH.

1. Bagaimana pengertian permohonan dalam peradilan agama?

2. Bagaimana prosedur beracara di pengadilan agama dalam tuntutan

yang berupa permohonan?

III. TUJUAN PENELITIAN.

Penelitian “Permohonan dalam pemeriksaan di pengadilan agama” ini

mengandung beberapa tujuan, yaitu:

1. Untuk mengetahui secara mendalan tentang pengertian permohonan di

(8)

2. Untuk mengetahui bagaimana prosedur beracara pemeriksaan permohonan

di pengadilan agama.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Peradilan agama pada dasarnya adalah peradilan perdata yang bersifat

spesifik karena faktor agama dan obyek tuntutan hak keperdataan tertentu yang

diserahkan kepadanya untuk diperiksa dan diputus, sedangkan peradilan umum

adalah juga peradilan perdata secara umum disamping peradilan pidana. Peradilan

agama dikhususkan bagi penduduk beragama Islam. Obyek tuntutan hak yang

menjadi kompetensi absolut pengadilan agama adalah ( pasal 49 UU No. 3 /

2006 ) di bidang:

a. perkawinan ;

b. waris;

c. wasiat ;

d. hibah ;

e. wakaf ;

f. zakat ;

g. infaq ;

h. shadaqah ; dan

i. ekonomi syaria’ah .

Bidang perkawinan mencakup hal yang sangat luas, sebagaimana yang dimaksud

dan diatur dalam undang-undang perkawinan ( UU No. 1 / 1974 ), yaitu :

(9)

( 2 ). Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 tahun,

dalam hal orang tua atau wali atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan

pendapat ;

( 3 ). Dispensasi kawin ;

( 4 ). Pencegahan perkawinan ;

( 5 ). Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah ;

( 6 ). Pembatalan perkawinan ;

( 7 ). Gugatan kelalaian atas kewajiban suami atau istri ;

( 8 ). Perceraian karena talak ;

( 9 ). Gugatan perceraian ;

( 10 ). Penyelesaian harta bersama ;

( 11 ). Mengenai penguasaan anak-anak ;

( 12 ). Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana

bapak yang seharusnya bertanggungjawab tidak memenuhinya;

( 13 ). Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada

bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri;

( 14 ). Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak ;

( 15 ). Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua ;

( 16 ). Pencabutan kekuasaan wali ;

(17 ). Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan

seorang wali dicabut ;

( 18 ). Menunjuk seorang wali dalam hal seorang yang belum cukup umur 18

(10)

ada penunjukan wali oleh orang tuanya ;

( 19 ). Pembebanan kewajiban ganti kerugian terhadap wali yang telah

menyebabkan kerugian atas harta benda anak yang ada dibawah

kekuasaannya ;

( 20 ). Menetapkan asal usul seorang anak ;

( 21 ). Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan

perkawinan campuran ;

( 22 ). Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum UU No. 1 /

1974 tentang perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain.

Permasalahan perkawinan memang menjadi permasalahan paling banyak

dan paling populer yang diajukan ke pengadilan agama. Sebagian dari

permasalahan perkawianan tersebut diajukan dalam bentuk permohonan dan

sebagian dalam bentuk gugatan. Hukum acara perdata yang menjadi lex generalis

dalam proses beracara di pengadilan agama telah memberikan batas yang pasti

dan tegas antara gugatan dan permohonan. Sudikno Mertokusumo menguraikan

perbedaan gugatan dan permohonan dengan bertitik tolak dari mengandung atau

tidak mengandung sengketa (Sudikno Mertokusomo, 1977 : 3 – 4). Tuntutan hak

yang mengandung sengketa disebut gugatan, dimana terdapat sekurang-kurangnya

dua pihak dan tuntutan yang tidak mengandung sengketa yang disebut

permohonan, dimana hanya terdapat satu pihak saja. Sejalan dengan itu, peradilan

lazim dibagi pula menjadi dua yaitu peradilan sukarela atau peradilan volunter

(11)

“tidak sesungguhnya”, dan peradilan contentieus ( contentieuse jurisdictie /

jurdictio dictio contentiosa ) atau sering pula disebut peradilan “sesungguhnya”.

Perbedaan yang jelas antara juridictio contentiosa dengan juridictio voluntaria

dapat digambarkan dari beberapa segi ( Abdulkadir Muhamah, 2008 :12 -13 ),

yaitu :

a. Pihak yang berperkara.

Pada juridictio contentiosa ada dua pihak yang berperkara, sedangkan pada

juridictio voluntaria hanya ada satu pihak yang berkepentingan.

b. Aktivitas pengadilan yang memeriksa perkara.

Pada juridictio contentiosa aktivitas pengadilan terbatas pada yang

dikemukkan dan diminta oleh pihak-pihak, sedangkan pada juridictio

voluntaria aktivitas pengadilan dapat melebihi apa yang dimohonkan

karena tugas pengadilan bercorak administratif yang bersifat mengatur

( administrative regulation ).

c. Kebebasan pengadilan.

Pada juridictio contentiosa, pengadilan hanya memerhatikan dan menerapkan

apa yang telah ditentukan oleh undang-undang dan tidak berada di bawah

pengaruh atau tekanan pihak manapun. Pengadilan hanya menerapkan

ketentuan hukum positif. Sedangkan pada juridictio voluntaria, pengadilan

selalu memiliki kebebasan menggunakan kebijaksanaan yang dipandang perlu

(12)

d. Kekuatan mengikat keputusan pengadilan.

Pada juridictio contentiosa, putusan pengadilan hanya mempunyai kekuatan

mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Sedangkan pada juridictio voluntaria,

putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat terhadap semua orang.

Berkaitan dengan permohonan, pengadilan negeri Jakarta Selatan dalam

Penetepan Pengadilan Negeri Selatan No. 1193 / Pdt.P /2012 / PN.Jak.Sel. tanggal

16 Juli 2013 telah menyimpulkan dalam pertimbangannya bahwa unsur-unsur

yang harus dipenuhi suatu perkara yang diajukan melalui permohonan adalah :

a. Masalah yang diajukan bersifat kepentingan sepihak semata ( for the benefit of

one party only);

b. Permasalahan yang dimohonkan penyelesaian kepada Pengadilan Negeri, pada

prinsipnya tanpa sengketa dengan pihak lain (without disputes or differences

with another party);

c. Tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan, tetapi

bersifat ex parte artinya benar-benar murni dan mutlak satu pihak tanpa

menarik pihak lain sebagai lawan ;

d. Kewenangan itu hanya terbatas sampai pada hal-hal yang ditentukan oleh

peraturan perundang-undangan yang bersangkutan;

e. Tidak menimbulkan akibat hukum baru.

Sudikno Mertokusumo (1982: 4) menambahkan: perbuatan hakim dalam

peradilan yang “tidak sesungguhnya” lebih merupakan perbuatan di bidang

administratif, sehingga putusannya merupakan suatu penetapan ( ps. 272 RBg , ps.

(13)

pembuktian dari BW buku IV. Demikian pula, RBg dan HIR pada umumnya

hanya disediakan untuk peradilan contentieus. Penyelesaian perkara dalam

peradilan contentieus disebut putusan, sedangkan penyesaian perkara peradilan

volunter disebut penetapan. Demikian juga yang dikemukakan oleh Asep Iwan

Iriawan ( 2010 : 6 ), permohonan ( Juridictio voluntaria ) adalah tuntutan hak yang

tidak mengandung sengketa diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan

penetapan. Penetapan atas permohonan merupakan keputusan pengadilan tingkat

pertama dan terakhir, yang tidak dapat dimohonkan banding (Yahya Harahap,

2008 : 42 – 43).

Keputusan Pengadilan Agama yang berbentuk penetapan yang berawal

dari adanya permohonan yang sesuai dengan pengertian permohonan dan

penetapan sebagai diuraikan di muka, sangat jelas pada penetapan-penetapan

Pengadilan Agama, sebagai contoh berikut:

a. Penetapan Pengangkatan Anak .

1). Penetapan Pengadilan Agama Slawi Nomor 0070 / Pdt.P / 2010 /

PA.Slw tertanggal 29 Desember 2010.

2). Penetapan Pengadilan Agama Pasuruan Nomor 08 / Pdt.P /2011 /PA.

Pasuruan tertanggal 15 Maret 2013.

3). Penetapan Pengadilan Agama Baturaja Nomor 15 /Pdt.P /2011 /

PA.BTA tertanggal 27 Juni 2011.

4). Penetapan Pengadilan Agama Kotamobagu Nomor 01 / Pdt. P / 2012 /

PA.Ktg tertanggal 20 Pebruari 2012.

(14)

PAD tertanggal 30 Maret 2011.

b. Penetapan dispensasi nikah / perkawinan.

1). Penetapan Pengadilan Agama Wonosobo Nomor 234 /Pdt.P / 2011 /

PA Wns tertanggal 15 Maret 2011.

2). Penetapan Pengadilan Agama Pangkalan Kerinci Nomor 01 /Pdt.P /

2012 / PA.Pkc tertanggal 2 Februari 2012.

3). Penetapan Pengadilan Agama Bandung Nomor. 14 / Pdt,P /2014 /

PA.Badg tertanggal 6 Februari 2014.

c. Penetapan ahli waris.

1). Penetapan Pengadilan Agama Sekayu Nomor 03 / Pdt.P / 2011 /

PA.Sky tertanggal 9 Mei 2011.

2). Penetapan Pengadilan Agama Denpasar Nomor. 0006 / Pdt.P / 2014 /

PA.Dps tertanggal 30 Januari 2014.

3). Penetapan Pengadilan Agama Badung Nomor. 0010 / Pdt.P / 2014 /

PA.Bdg tertanggal 2 Juni 2014.

d. Penetapan wali.

1). Penetapan Pengadilan Agama Jakarta Pusat Nomor. 11 / Pdt.P /2010 /

PA.JP tertanggal 1 Maret 2010.

2). Penetapan Pengadilan Agama Jakarta Pusat Nomor. 54 /Pdt.P / 2010

/PA.JP tertanggal 28 Juli 2010.

3). Penetapan Pengadilan Agama Tanjung Balai Karimun Nomor. 002 /

Pdt.P / 2012 / PA.TBK tertanggal 29 Februari 2012.

(15)

PA.Dps tertanggal 28 Maret 20113.

5). Penetapan Pengadilan Agama Banyuwangi Nomor. 0130 / Pdt.P /

2015 / PA.Bwi tertanggal 17 Juni 2015.

Namun demikian, terdapat keputusan – keputusan pengadilan agama

dalam bentuk penetapan, sebagai hasil akhir dari suatu proses beracara di

pengadilan agama yang diawali dengan permohonan, yang tidak memenuhi

kriteria sebagaimana terurai di atas.

Pengadilan Agama mengenal dua macam penyelesaian perceraian, yaitu

cerai gugatan cerai dan cerai talak. Gugatan cerai diajukan oleh pihak perempuan /

istri, sedangkan cerai talak diajukn oleh laki-laki / suami. Kalau dicermati secara

mendalam, baik gugatan cerai maupun cerai talak yang diterima, diperiksa dan

diputus oleh pengadilan agama sama-sama mengandung sengketa. Dalam

prosesnya gugatan cerai diajukan melalui gugatan, sedangkan cerai talak diajukan

melalui permohonan.

Dalam proses beracara, dalam cerai talak yang diajukan melalui

permohonan tersebut terdapat dua pihak, yaitu pihak pemohon dan termohon yang

saling berhadapan. Padahal, secara teori proses pemeriksaan permohonan adalah

secara ex parte, yaitu hanya ada satu pihak saja. Dalam pembuktian yang

membuktikan hanya pemohon saja, namun dalam cerai talak kedua pihak dapat

mengajukan pembuktian. Dalam pemohonan, tidak seluruh asas beracara perdata

perlu ditegakkan, seperti asas memberi kesempatan yang sama (to give the same

opportunity) dan asas audi et alteram partem (to hear other side), karena hanya

(16)

ditegakkan. Dalam penetapan pengadilan sebagai hasil akhir proses persidangan

tidak tersedia upaya hukum banding. Namun bagi penetapan sebagai hasil akhir

proses persidangan, tetap tersedia upaya hukum banding.

Contoh-contoh permohonan dalam cerai talak :

1). Penetapan Mahkamah Syari’ah Bireun Nomor. 314 /Pdt.G / 2010 /MS –

Bir tertanggal 2 November 2010.

2). Penetapan Pengadilan Agama Bontang Nomor. 59 /Pdt.G / 2012 / PA. Btg

tertanggal 28 Februari 2012.

3). Penetapan Pengadilan Agama Slawi Nomor. 1769 / Pdt. G / 2012 /

PA.Slw tertanggal 31 Agustus 2012.

4). Penetapan Pengadilan Agama Kuala Kapuas Nomor. 287 / Pdt.G / 2012 /

PA. K Kps tertanggan 15 APRIL 2012.

5). Penetapan Pengadilan Agama Banjar Baru Nomor. 0030 / Pdt.G / 2015 /

(17)

V. SIMPULAN

Dari penetapan – penetapan Pengadilan Agama dapat disimpulkan bahwa

ada dua macam permohonan di Pengadilan yang bermuara pada Penetapan

Pengadilan Agama, dengan prosedur yang berbeda yaitu:

1). Permohonan yang tidak mengandung sengketa, jalannya pemeriksaan

secara ex parte, tanpa perlu memperhatikan asas memberi kesempatan

yang sama dan asas audi et alteram partem, serta pembuktian secara

sepihak. Proses berlangsung searah, dengan tidak ada proses

jawab-menjawab antar pihak, yang dilanjutkan dengan pembuktian sepihak yang

diakhiri dengan penetapan Pengadilan Agama. Terhadap penetapan

pengadilan sebagai hasil akhir dari proses pemeriksaan di Pengadilan

Agama tidak tersedia upaya hukum banding.

2). Permohonan yang mengandung sengketa, jalannya pemeriksaan dengan

dua pihak yang saling berhadapan, dengan menerapkan semua asas-asas

yang dituntut dalam suatu peradilan yang baik. Proses berlangsung dengan

dua pihak, yang dimulai dengan jawab menjawab, dilanjutkan dengan

pembuktian dengan memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk

mengajukan pembuktian yang diakhiri dengan penetapan Pengadilan

Agama. Terhadap penetapan pengadilan sebagai hasil akhir dari proses

pemeriksaan di Pengadilan Agama tersedia upaya hukum banding.

Referensi

Dokumen terkait

Efektifitas pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Medan pada dasarnya adalah kewajiban bagi para pihak yang bersengketa, oleh karena itu di dalam hukum acara perdata diatur

a) Surat permohonan yang diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat (untuk permohonan, permohonan eksekusi, maupun permohonan somasi) atau surat gugatan (untuk gugatan).

Permohonan pengangkatan anak dapat dilakukan secara lisan atau tertulis berdasarkan ketentuan hukum acara yang berlaku. Surat permohonan pengangkatan anak dapat ditandatangani

peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada pengadilan dalam.. Iingkungan peradilan umum, kecuali yang telah diatur secara khusus

karena asas hukum acara perdata dalam hal pembiayaan menyebutkan “ tidak ada biaya tidak ada perkara” bagaimana masyarakat yang miskin secara finansial dapat beracara di

berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum,.. kecuali yang telah diatur

Kajian, penelitian dan pembahasan untuk penyelesaian secara cepat, biaya murah, efisien seperti diatur dalam hukum acara peradilan niaga terhadap gugatan perdata

Sedangkan dalam penelitian ini membahas mengenai penggunaan Perma nomor 2 Tahun 2015 Tantang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana sebagai hukum acara di Indonesia 2 Penerapan Hukum