• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.! TEORI PENUNJANG. ! Universitas!Kristen!Petra!

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2.! TEORI PENUNJANG. ! Universitas!Kristen!Petra!"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

2.! TEORI PENUNJANG

2.1! Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan ekonomi suatu negara yang diukur melalui pertumbuhan pendapatan nasional yang menggambarkan perkembangan nilai produksi barang dan jasa suatu negara dalam satu tahun tertentu (Sukirno, 2015). Saat kapasitas produksi barang dan jasa suatu negara meningkat, pendapatan negara tersebut akan bertambah, dampaknya, tingkat kemakmuran dan standar hidup masyarakat akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Sukirno, 2007).

2.1.1! Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo-Klasik

Teori pertumbuhan ekonomi Robert Solow (1956) merupakan pengembangan dari teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar. Dalam teori Harrod-Domar, terdapat asumsi bahwa output-capital ratio adalah sebuah konstanta yang tetap dan tidak dapat berubah, namun dalam kenyataannya, output- capital ratio selalu berubah mengikuti kondisi perekonomian suatu negara. Asumsi yang kedua dalam teori Harrod-Domar adalah perekonomian yang harus bertumbuh dalam laju warranted rate of growth (keadaan full capacity) agar perekonomian berada dalam keadaan yang seimbang, namun dalam kenyataannya, laju warranted rate of growth berubah mendekati laju pertumbuhan yang sebenarnya terjadi dan tidak terjadi proses yang menjauhkan perekonomian dari keadaan keseimbangannya (Boediono, 1981).

Untuk membenahi ketidakstabilan dalam teori Harrod-Domar, Robert Solow (1956) merumuskan output-capital ratio sebagai suatu koefisien yang dapat memiliki berbagai kemungkinan nilai. Setiap faktor produksi diasumsikan digunakan dalam keadaan full capacity, sehingga tidak terdapat excess capacity yang menyebabkan ketidak seimbangan dalam perekonomian suatu negara.

(2)

Teori pertumbuhan ekonomi neo-klasik yang dikembangkan oleh Robert Solow (1956) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi antara lain ketersediaan modal, tenaga kerja, serta teknologi. Persamaan pertumbuhan ekonomi neo-klasik Robert Solow dinyatakan dalam persamaan:

∆Y = f (∆K,"∆L,"∆T) (2.1)

Dimana:

•! ∆Y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi.

•! ∆K adalah tingkat pertumbuhan modal.

•! ∆L adalah tingkat pertumbuhan tenaga kerja.

•! ∆T adalah tingkat perkembangan teknologi.

Saat modal bertumbuh, bisnis dapat melakukan ekspansi yang akan meningkatkan kapasitas produksi barang dan jasa (output) sehingga meningkatkan kegiatan perekonomian. Di sisi lain, saat bisnis mendapatkan modal dan ingin melakukan ekspansi, dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja karena produktivitas dan kapabilitas perusahaan meningkat. Tenaga kerja yang dibutuhkan tentunya merupakan tenaga kerja yang terampil dan mumpuni. Penambahan permintaan tenaga kerja tersebut akan menurunkan pengangguran dan meningkatkan penghasilan masyarakat. Dampaknya, pendapatan nasional akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

Perkembangan teknologi menyebabkan perbaikan dalam teknologi barang- barang modal (physical capital) yang digunakan dimana barang modal yang digunakan dalam proses produksi akan semakin canggih, efisien, dan produktif. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menyebabkan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui peningkatan kualitas pendidikan, pengalaman kerja, dan pelatihan.

Saat perkembangan teknologi tersebut tercapai, perkembangan teknologi tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatkan produktivitas tenaga kerja (Sukirno, 1981) dan barang modal (physical capital) yang digunakan dalam proses produksi barang dan jasa (Boediono, 1981).

Produktivitas adalah jumlah barang dan jasa yang dapat dihasilkan seorang pekerja atau barang modal (physical capital) per jam kerja (Mankiw, 2003). Saat produktivitas meningkat, dengan menggunakan faktor produksi yang sama, barang

(3)

dan jasa yang dihasilkan (output) akan bertambah. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pendapatan negara sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

2.1.2! Teori Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan jumlah produksi barang dan jasa yang sama besarnya. Kapasitas produksi maksimum yang dapat dicapai suatu negara dapat digambarkan oleh kurva kemungkinan produksi atau productivity possibility curve (Sukirno, 2015), yang dijelaskan dalam Gambar 2.1. Dalam keadaan saat ini, total produksi yang dapat dicapai suatu negara berada di dalam kurva AB, namun tingkat produksi yang dicapai berada di bawah kapasitas maksimalnya, sehingga potensi pertumbuhan ekonomi tidaklah tercapai. Seiring waktu, perkembangan teknologi yang berdampak pada perkembangan produktivitas akan meningkatkan kapasitas produksi yang dapat dicapai suatu negara (Solow, 1956) dari kurva AB menjadi kurva CD. Penambahan kapasitas produksi tersebut disebut sebagai pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Gambar 2.1 Kurva Kemungkinan Produksi (Production Possibility Curve)

Sumber: Sukirno (2015)

(4)

2.1.3! Pengukuran Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi diukur melalui peningkatan pendapatan nasional dengan menggunakan indikator Gross Domestic Product (GDP) maupun Gross National Product (GNP). GDP mengukur nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir (final) yang diproduksi dalam suatu negara pada suatu periode (Mankiw, 2006), sedangkan GNP mengukur total pendapatan yang diperoleh penduduk tetap suatu negara (warga negara) pada suatu periode (Mankiw, 2006).

GDP mengukur pendapatan suatu negara di wilayah negara tersebut, baik pendapatan tersebut diperoleh melalui warga negara maupun warga negara asing, sedangkan GNP mengukur pendapatan suatu negara yang hanya berasal dari warga negaranya, baik warga negara tersebut sedang berada dalam wilayah negara tersebut maupun sedang berada di wilayah negara lain. Untuk melihat perekonomian suatu negara secara menyeluruh, diperlukan sebuah indikator yang dapat mengukur total pendapatan yang diperoleh semua orang dalam perekonomian, maka dari itu GDP merupakan indikator yang baik dalam pengukuran pendapatan suatu negara (Mankiw, 2003).

Peningkatan GDP tidak selalu mengindikasikan kinerja yang baik dari perekonomian suatu negara karena GDP dapat meningkat disaat terjadi peningkatan jumlah barang dan jasa yang diproduksi (output) maupun disaat terjadi peningkatan harga (Mankiw, 2006). Untuk membedakan peningkatan GDP yang didasarkan atas peningkatan output atau peningkatan harga, pengukuran GDP dibedakan menjadi (Mankiw, 2003):

1.! GDP riil, yang mengukur total produksi barang dan jasa menggunakan harga konstan pada suatu tahun dasar.

2.! GDP nominal, yang mengukur total produksi barang dan jasa menggunakan harga-harga yang tengah berlaku.

Perubahan pada GDP riil mencerminkan perubahan kuantitas produksi yang tidak dipengaruhi oleh perubahan harga, sedangkan perubahan pada GDP nominal mencerminkan perubahan kuantitas produksi yang disertai dengan perubahan harga (Mankiw, 2003). Suatu negara tentunya ingin mengalami peningkatan GDP yang disebabkan oleh peningkatan jumlah produksi barang dan jasa dibandingkan dengan peningkatan harga, oleh karena itu pengukuran pertumbuhan ekonomi

(5)

seharusnya didasarkan atas perhitungan pertumbuhan GDP rill. Persamaan pertumbuhan ekonomi menggunakan perhitungan GDP riil adalah:

g = #$%"&''(")*#$%"&''("()*,)

#$%"&''(()*,) "."100% (2.2)

g = pertumbuhan ekonomi

2.1.4! Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Gambar 2.2 Grafik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 1992-2016

Sumber: World Bank

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1992-1997 sebelum masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999 berada di kisaran 6,88% setiap tahunnya, dimana pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun yaitu sebesar 8,22%.

Pada masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999 pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah pada tahun 1998 sebesar -13,13%. Setelah masa krisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik pada tahun 2000, dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2000-2016 bergerak stabil di kisaran 5,29% setiap tahunnya. Hal yang menarik adalah pertumbuhan ekonomi pada masa sebelum Asian Financial Crisis menunjukkan performa lebih tinggi dari pada masa

!15.00%

!10.00%

!5.00%

0.00%

5.00%

10.00%

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pertumbuhan+Ekonomi

(6)

setelah krisis. Hal tersebut menunjukkan bahwa Asian Financial Crisis pada tahun 1998-1999 berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga sekarang.

2.2! Modal Asing

Modal asing telah menjadi bagian dari sumber pendanaan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Modal asing menurut Salvatore (2004) dibagi menjadi:

1.! Portfolio investments, yaitu aset keuangan berupa surat utang yang termasuk dalam bagian utang luar negeri, dimana investor menanamkan modalnya untuk mendapat pembayaran kupon (bunga) secara berkala dan menerima face value dari surat utang tersebut pada saat jatuh tempo.

2.! Direct investments, yang biasa disebut Foreign Direct Investment (FDI) yang berupa investasi pada aset riil seperti pembangunan pabrik, modal, tanah, persediaan, dimana modal dan manajemen dilibatkan dan investor memiliki kontrol akan penggunaan foreign direct investment tersebut.

Utang luar negeri merupakan sumber dana yang penting untuk mendukung perkembangan perekonomian suatu negara (Siddique, Selvanathan E. A., &

Selvanathan S., 2015). Utang luar negeri tersebut dibutuhkan untuk menutupi kesenjangan antara tabungan dan investasi domestik (saving gap), untuk menutupi kekurangan valuta asing dalam kegiatan ekonomi (defisit transaksi berjalan), dan untuk menutupi defisit anggaran pemerintah yang tercermin dalam APBN (Sukirno, 2007). Selain itu, utang luar negeri juga bermanfaat sebagai salah satu sumber pelengkap pembiayaan pembangunan di berbagai bidang seperti infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain, yang berguna sebagai sumber pembiayaan proyek strategis di dalam negeri, sehingga pada akhirnya, utang luar negeri diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan pertumbuhan ekonomi (Bank Indonesia, 2016).

Foreign direct investment berfungsi untuk membawa modal asing yang berguna untuk menutupi kekurangan dana dalam negeri. Tidak hanya modal, foreign direct investment juga membawa tenaga manajemen, jiwa kewirausahaan, keahlian teknik, dan pengetahuan mengenai pasar dan strategi pemasaran dari barang dan jasa yang dihasilkan sehingga perusahaan dapat beroperasi secara efisien dan dapat mencapai keuntungan yang diharapkan (Sukirno, 2007). Dalam jangka panjang, foreign direct investment dapat melatih warga negara untuk

(7)

mendapatkan keahilan di bidang usahakan yang dilakukan oleh perusahaan asing.

Melalui foreign direct investment, perusahaan asing dapat mempercepat proses alih teknologi baru (transfer of technology) ke negara berkembang karena menggunakan teknologi yang lebih canggih dari pada teknologi yang digunakan oleh perusahaan nasional di negara berkembang.

2.2.1! Utang Luar Negeri

Utang luar negeri adalah utang penduduk Indonesia kepada bukan penduduk baik dalam valuta asing dan/ atau rupiah, termasuk di dalamnya pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang mencakup utang luar negeri pada sektor publik (pemerintah dan bank sentral) dan sektor swasta dalam bentuk antara lain pinjaman (loan agreement), utang dagang (trade credit), surat utang (debt securities), kas dan simpanan (currency and deposits), dan kewajiban lainnya (Bank Indonesia, 2016).

Menurut Sukirno (2007), utang luar negeri memiliki ciri sebagai berikut:

1.! Tidak ditujukan untuk mencari keuntungan.

2.! Diberikan atau dipinjamkan kepada negara penerima dengan syarat yang lebih ringan daripada syarat yang berlaku dalam pasar internasional.

Utang luar negeri dapat digolongkan sebagai pemberian (grant) secara cuma-cuma maupun sebagai pinjaman (loan) yang mewajibkan pembayaran kembali atas pokok dan bunga pinjaman utang (Sukirno, 2007). Besarnya unsur bantuan dalam utang luar negeri tergantung pada syarat-syarat pembayaran kembali, yaitu:

1.! Tenggang waktu (grace period) atau jangka waktu cicilan pembayaran kembali pinjaman tidak perlu dilakukan.

2.! Jangka waktu pembayaran kembali (maturity atau amortization period).

3.! Tingkat bunga pinjaman yang diberikan.

Utang luar negeri yang memiliki unsur bantuan rendah dimana grace periode dan jangka waktu pembayaran panjang, serta memiliki tingkat bunga rendah dinamakan soft loan. Sedangkan utang luar negeri yang memiliki unsur bantuan tinggi dimana grace periode dan jangka waktu pembayaran lebih pendek, serta memiliki tingkat bunga yang lebih tinggi dinamakan hard loan.

(8)

Sumber-sumber utang luar negeri Indonesia menurut laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (Bank Indonesia, 2017) berasal dari negara lain, organisasi internasional seperti ADB (Asian Development Bank), IDA (International Development Association), IDB (Islamic Development Bank), IMF (International Monetary Fund), dan EIB (European Investment Bank), dan lembaga internasional lainnya. Alasan yang mendorong negara maju maupun lembaga internasional untuk meminjamkan dananya pada negara berkembang antara lain untuk mempercepat pembangunan ekonomi, serta mempererat hubungan ekonomi dan politik (Sukirno, 2007).

Utang luar negeri tidak selalu diterbitkan dalam mata uang asing, namun dapat juga diterbitkan dalam mata uang domestik (Pilbeam, 1998). Saat obligasi utang luar negeri diterbitkan dalam mata uang domestik, akan terdapat resiko inflasi dimana inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasinya akan menurunkan nilai dari obligasi tersebut. Sebaliknya, saat obligasi utang luar negeri diterbitkan dalam mata uang asing, negara penerbit akan mengalami resiko kebangkrutan (default risk) jika negara tersebut tidak dapat membayar utang luar negerinya.

Beberapa hal yang harus dipastikan negara peminjam agar dapat membayar kembali utang luar negerinya antara lain (Sukirno, 2007):

1.! Memastikan bahwa proyek yang dibiayai dengan utang luar negeri berhasil.

2.! Kegiatan perekonomian mengalami perkembangan dan tabungan domestik mengalami peningkatan, sehingga dapat membayar cicilan.

3.! Memastikan bahwa jumlah ekspor berkembang melebihi jumlah impor, sehingga pendapatan valuta asing dari selisih eskpor dengan impor dapat digunakan untuk pembayaran kembali.

Jika negara peminjam gagal untuk memastikan beberapa hal diatas, negara tersebut beresiko mengalami resiko kebangkrutan (default) seperti yang terjadi di Yunani pada tahun 2015 (Sari, 2015). Default adalah suatu keadaan dimana suatu negara mengumumkan bahwa negara tersebut tidak dapat memenuhi pembayaran pokok (principal) dan atau pembayaran bunga yang ditetapkan dalam kontrak utang dan negara tersebut tidak memiliki niatan untuk melunasi utangnya di kemudian hari (Pilbeam, 1998). Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang baik tehadap resiko yang dapat ditimbulkan oleh utang luar negeri tersebut.

(9)

Untuk memitigasi berbagai risiko yang ditimbulkan oleh utang luar negeri, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.16/22/PBI/2014 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa dan Pelaporan Kegiatan Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Non Bank agar kontinuitas kegiatan usaha dan kegiatan investasi tetap terjaga, sedangkan Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No.36/PMK.08/2017 tentang Transaksi Lindung Nilai dalam Pengelolaan Utang Pemerintah agar melindungi posisi nilai suatu aset atau kewajiban akibat fluktuasi harga di pasar keuangan.

2.2.1.1!Pertumbuhan Utang Luar Negeri Indonesia

Utang luar negeri terdiri atas private non-guaranteed debt, public debt, dan publicly guaranted debt (Pilbeam, 1998). Utang luar negeri sektor swasta yang tidak dijamin pemerintah disebut private non-guaranteed debt, utang luar negeri pada pada sektor pemerintah maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut public debt, sedangkan utang luar negeri sektor pemerintah yang dijamin oleh pemerintah disebut sebagai publicly guaranted debt.

Gambar 2.3 Pertumbuhan Utang Luar Negeri Indonesia Periode 1992-2016

Sumber: World Bank

Pertumbuhan utang luar negeri Indonesia menunjukkan angka teringgi pada tahun 1994 yaitu sebesar 1497%. Pada tahun 2000, satu tahun setelah masa Asian Financial Crisis periode 1998-1999, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia

!3000.00%

!2500.00%

!2000.00%

!1500.00%

!1000.00%

!500.00%

0.00%

500.00%

1000.00%

1500.00%

2000.00%

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pertumbuhan+Utang+Luar+Negeri

(10)

menurun sebesar -2510%. Setelah masa krisis, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia cenderung bergerak lebih stabil. Pertumbuhan utang luar negeri Indonesia yang berfluktuasi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.3 disebabkan oleh nominal utang luar negeri Indonesia yang rendah, sehingga penambahan maupun penurunan pada utang luar negeri Indonesia akan mempengaruhi pertumbuhan utang luar negeri Indonesia secara signifikan, sehingga nampak berfluktuasi.

2.2.2! Foreign Direct Investment

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2007, foreign direct investment adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri. Foreign Direct Investment (FDI) adalah investasi langsung dari luar negeri yang mencerminkan investasi dalam aset-aset riil di negara asing (Madura, 2001). International Monetary Fund (IMF) mendefinisikan foreign direct investment sebagai kepemilikan 10% atau lebih ekuitas perusahaan oleh investor (IFCFIAS, 1997).

Foreign direct investment merupakan penanaman modal asing yang berguna untuk membeli barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa (Sukirno, 2015), yang melibatkan transfer tangible maupun intangible assets dari satu negara ke negara lainnya dengan tujuan meningkatkan keuntungan melalui kontrol kepemilikan aset tersebut (Sornarajah, 2004). Foreign direct investment menjadi pilihan investasi yang populer bagi perusahaan multinasional karena memberikan kepemilikan dan kontrol atas bisnis yang mereka jalankan. Foreign direct investment juga dianggap sebagai jenis arus modal masuk (capital inflow) yang mencerminkan investasi jangka panjang dan citra yang baik dari negara penerima (Pilbeam, 1998).

Menurut Bayar (2017), bentuk foreign direct investment di suatu negara dapat dibedakan menjadi:

1.! Greenfield. Perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan baru di negara tujuan investasi, dimana perusahaan anak tersebut merupakan

(11)

perusahaan baru yang dibangun dari tahap awal perencanaan, pembangunan pabrik, hingga berjalannya usaha.

2.! Brownfield. Perusahaan multinasional bekerja sama atau mengambil kepemilikan perusahaan dalam negeri yang memiliki pengalaman akan pengetahuan pemasaran dan legalitas hukum di negara tujuan investasi melalui merger dan akuisisi.

Tipe strategi usaha yang dapat dipilih oleh investor menurut Pearce II &

Robinson, Jr. (2013) antara lain:

1.! Vertikal. Perusahaan melakukan ekspansi bisnis pada sisi usaha yang berbeda, namun dalam jalur produksi yang sama untuk menurunkan biaya produksi dan transportasi. Contoh: Perusahaan pembuatan mie instan membeli perusahaan pembuatan tepung.

2.! Horizontal. Perusahaan melakukan ekspansi bisnis pada jenis usaha yang sama agar dalam rantai pasok sehingga perusahaan dapat memiliki sumber daya yang lebih besar dalam usaha yang sama. Contoh: Membuka cabang baru di lokasi yang berbeda.

3.! Konglomerasi. Perusahaan melakukan ekspansi bisnis pada jenis usaha yang sama sekali berbeda dengan usaha awalnya.

Faktor penentu tingkat investasi menurut Sukirno (2015) antara lain:

1.! Tingkat keuntungan yang diproyeksikan akan diperoleh 2.! Suku bunga

3.! Prospek ekonomi kedepan 4.! Kemajuan teknologi

5.! Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya 6.! Keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Foreign direct investment memberikan manfaat kepada masyarakat, pemerintah, dan perusahaan dalam negeri (Sukirno, 2007). Foreign direct investment oleh perusahaan asing akan menambah kesempatan kerja masyarakat dan mengurangi tingkat pengangguran, meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga meningkatkan pendapatan nasional. Perusahaan asing yang menggunakan teknologi yang lebih canggih memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi dari perusahaan dalam negeri, sehingga mampu memberikan gaji yang lebih tinggi dari

(12)

yang sanggup dibayar oleh perusahaan dalam negeri. Teknologi yang lebih canggih juga memungkinkan masyarakat untuk dapat memperoleh barang-barang dengan harga yang lebih murah dan berkualitas. Manfaat bagi pemerintah, foreign direct investment dapat berfungsi sebagai sumber pendapatan, dimana perusahaan asing akan menyetor pajak dari penghasilan yang dihasilkan di dalam negeri. Keuntungan yang diterima oleh perusahaan dalam negeri adalah kemungkinan untuk menggunakan teknologi yang lebih baik serta dapat memperoleh bahan baku dan dapat menjual hasil usahanya pada perusahaan asing.

Sekalipun memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa resiko dari foreign direct investment yang harus diperhatikan oleh negara penerima. Dalam jangka panjang, foreign direct investment dapat mengurangi tingkat tabungan masyarakat apabila keuntungan dari investasi tersebut tidak diinvestasikan kembali pada perusahaan dalam negeri, namun digunakan untuk kegiatan konsumsi masyarakat karena banyaknya barang konsumsi yang tersedia (Sukirno, 2007). Foreign direct investment juga dapat memperburuk defisit neraca perdagangan apabila:

1.! Hasil produksi barang dan jasa tidak diekspor atau tidak menggantikan barang-barang impor.

2.! Perusahaan asing mengimpor bahan mentah dari luar negeri dan mengirimkan keuntungan yang diperoleh kepada perusahaan induk di luar negeri.

Selain itu, untuk menambah minat perusahaan asing dalam melakukan foreign direct investment, pemerintah harus menyediakan infrastruktur yang memadai, namun hal tersebut memerlukan biaya investasi yang tinggi yang seharusnya dapat dialokasikan pada sektor perekonomian yang lain. Pemerintah juga dapat menawarkan beberapa keringanan fiskal seperti pembebasan pajak dan bea impor atas alat-alat modal dari peralatan yang digunakan, namun hal tersebut dapat menurunkan potensi pendapatan pemerintah.

Perusahaan asing dapat menghambat perkembangan perusahaan dalam negeri yang bergerak dalam bidang usaha yang sama karena memiliki pengetahuan teknologi, keahilan manajemen, dan teknik pemasaran yang lebih baik dari perusahaan dalam negeri. Jika perusahaan dalam negeri tidak dapat bersaing dengan perusahaan asing, maka dapat mengalami resiko kebangkrutan karena

(13)

kehilangan pelanggan akibat memutuskan untuk membeli produk dari perusahaan asing. Saat perusahaan dalam negeri bangkrut dan memutuskan untuk menutup usahanya, banyak pekerja akan kehilangan pekerjaan sehingga menyebabkan tingkat pendapatan masyarakat akan menurun.

Oleh karena manfaat dan kekurangan dari foreign direct investment tersebut, pemerintah harus dapat menciptakan kebijakan foreign direct investment yang saling menguntungkan antara pemerintah dengan perusahaan asing, sehingga foreign direct investment dapat meningkatkan kegiatan ekonomi negara namun tidak menghancurkan industri dalam negeri, dan perusahaan asing dapat mendapatkan keuntungan yang tinggi dari investasinya di negara tersebut.

Di Indonesia, badan yang diberi mandat untuk mendorong investasi langsung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

BKPM bertugas untuk melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan perundang-undangan, dimana BKPM bertujuan untuk mendapatkan investasi yang bermutu yang dapat memperbaiki kesenjangan sosial dan mengurangi penggangguran (BKPM, 2017).

2.2.2.1!Pertumbuhan Foreign Direct Investment Indonesia

Foreign direct investment net inflow mengukur arus modal asing bersih pada perekonomian, dimana foreign direct investment net inflow akan meningkatkan kompetisi, transfer modal, teknologi, skill manajemen, serta akses pasar dalam hal perluasan perdagangan internasional (Sornarajah, 2004).

(14)

Gambar 2.4 Grafik Pertumbuhan Foreign Direct Investment (Net Inflow) Indonesia Periode 1992-2016

Sumber: World Bank

Pada masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999, pertumbuhan foreign direct investment (net inflow) Indonesia mengalami penurunan sebesar -674% pada tahun 1999. Pada tahun 2004, pertumbuhan foreign direct investment (net inflow) Indonesia menunjukkan angka tertinggi yaitu 417,64%. Pertumbuhan foreign direct investment (net inflow) Indonesia yang berfluktuasi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.4 disebabkan oleh nominal foreign direct investment (net inflow) Indonesia yang rendah, sehingga penambahan maupun penurunan pada foreign direct investment (net inflow) Indonesia akan mempengaruhi pertumbuhan foreign direct investment (net inflow) Indonesia secara signifikan, sehingga nampak berfluktuasi.

2.3! Pertumbuhan Tenaga Kerja

Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Tenaga kerja merupakan gabungan dari usaha fisik, mental, dan sosial yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa dalam perekonomian, yang

!800.00%

!600.00%

!400.00%

!200.00%

0.00%

200.00%

400.00%

600.00%

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pertumbuhan+Foreign(Direct(Investment(

(Net(Inflow)

(15)

menawarkan keahlian, tenaga, dan jasa yang diperlukan untuk mengubah barang dan jasa mentah menjadi barang dan jasa akhir (Amadeo, 2017). Perekonomian berjalan dengan efisien saat seluruh tenaga kerja bekerja menggunakan keahlian terbaik dan mendapatkan upah yang sesuai dengan hasil kerja mereka.

Penggolongan tenaga kerja berdasarkan tingkat keahlian menurut Amadeo (2017) adalah:

1.! Tenaga kerja tidak terampil, tidak memerlukan pelatihan terlebih dahulu untuk dapat bekerja.

2.! Tenaga kerja semi terampil, memerlukan pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu untuk dapat bekerja.

Berdasarkan hubungan dengan penyedia kerja, penggolongan tenaga kerja menurut Amadeo (2017) adalah:

1.! Pekerja tetap yang mendapatkan gaji tetap dan tunjangan.

2.! Pekerja lepas yang mendapatkan komisi.

World Development Report (World Bank, 2013), menyatakan bahwa investasi yang tepat dalam kebijakan dan program ketenagakerjaan dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja. Kebijakan ketenagakerjaan dapat memberi perlindungan bagi tenaga kerja terhadap resiko volatilitas ekonomi dan dapat membantu tenaga kerja untuk mendapatkan pekerjaan setelah tidak aktif bekerja atau menganggur, dari pekerjaan dengan tingkat produktivitas tinggi sampai rendah. Selain itu, program pelatihan, pendampingan pencarian kerja, dan dukungan dapat membantu tenaga kerja mencapai keahlian yang dibutuhkan untuk memeroleh pekerjaan.

Sejak 1919, International Labour Organization (ILO) mengembangkan sistem International Labour Standards yang bertujuan untuk mempromosikan peluang bagi pria dan wanita untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan produktif, dalam kondisi kebebasan, kesetaraan, keamanan, dan bermartabat, untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

(16)

2.3.1! Pertumbuhan Tenaga Kerja Indonesia

Menurut Badan Pusat Statistik, penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun atau lebih, dimana dibagi menjadi penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja maupun bukan angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan penduduk usia kerja, yang bekerja, memiliki pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan pengangguran, sementara bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang masih bersekolah, mengurus rumah tangga, atau melaksanakan kegiatan lainnya selain kegiatan pribadi.

Pertumbuhan angkatan kerja yang pesat merupakan peluang untuk melakukan ekspansi dalam perekonomian dan meningkatkan output, sehingga pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat tercapai (Madsen, 2011). Pendapatan nasional yang diukur melalui output barang dan jasa yang dihasilkan, merupakan kontribusi dari angkatan kerja yang memproduksi barang dan jasa tersebut.

Peningkatan pendapatan nasional akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Gambar 2.5 Grafik Pertumbuhan Angkatan Kerja Indonesia Periode 1992-2016

Sumber: World Bank

Pertumbuhan angkatan kerja Indonesia menunjukkan angka tertinggi pada tahun 1992, yaitu sebesar 4,13% dan setelah itu berangsur-angsur menurun. Pada masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999, pertumbuhan angkatan kerja Indonesia meningkat disebabkan oleh banyaknya penduduk yang pulang kembali

!1.00%

!0.50%

0.00%

0.50%

1.00%

1.50%

2.00%

2.50%

3.00%

3.50%

4.00%

4.50%

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pertumbuhan+TenagaKerja (Angkatan+Kerja)

(17)

ke Indonesia karena rupiah mengalami depresiasi yang sangat tinggi terhadap US dollar. Asian Financial Crisis pada tahun 1998-1999 menyebabkan angka fertilitas yang menurun drastis pada tahun 2000 (BPS, 2014), sehingga pada tahun 2015, ketika penduduk kelahiran tahun 2000 telah berusia 15 tahun masuk dalam perhitungan angkatan kerja, pertumbuhan angkatan kerja mengalami penurunan disebabkan oleh penurunan angka kelahiran yang drastis pada tahun 2000.

2.4! Perkembangan Teknologi

Menurut World Bank (2008), perkembangan teknologi adalah peningkatan dalam proses produksi, pemasaran, dan penyediaan barang dan jasa kepada publik yang memberikan peran penting dalam memacu peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan masyarakat.

Perkembangan teknologi dapat memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian dalam hal penurunan biaya, peningkatan kualitas, produksi barang dan jasa baru, akses pasar yang baru, peningkatan standar hidup, serta meningkatkan persaingan domestik (World Bank, 2008). Sebaliknya, jika difusi teknologi yang dialami suatu negara tidaklah merata, akan menyebabkan dampak negatif terhadap perekonomian karena perkembangan teknologi tidak dirasakan secara merata oleh seluruh tenaga kerja dan menyebabkan kerugian terhadap perusahaan yang masih menggunakan teknologi lama (World Bank, 2008).

Perkembangan teknologi membedakan negara dengan tingkat pendapatan tinggi maupun rendah, dimana negara dengan perkembangan teknologi yang lebih baik memiliki pendapatan yang lebih tinggi karena mampu membiayai teknologi dan memiliki tenaga kerja serta perusahaan dengan kemampuan yang mumpuni (World Bank, 2008). Hal tersebut menyebabkan perkembangan teknologi tidak dirasakan secara merata antar negara.

Di negara berkembang seperti Indonesia, perkembangan teknologi hanya dirasakan akibat penggunaan dari teknologi lama, dimana akses terhadap teknologi tersebut bervariasi antar negara tergantung kapasitas negara dalam menyerap teknologi dan keterjangkauan teknologi tersebut (World Bank, 2008). Intermediasi keuangan oleh bank melalui sistem perbankan, pasar modal, dan pasar obligasi privat tidak berjalan dengan baik sehingga perusahaan yang ingin mencoba

(18)

teknologi baru cenderung tidak mendapatkan pembiayaan yang baik sehingga menanggung biaya modal yang tinggi.

Selain itu, rendahnya kemampuan teknik yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan serta difusi teknologi yang tidak merata menyebabkan rendahnya kemampuan negara berkembang dalam menyerap teknologi baru. Difusi teknologi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan teknologi. Untuk mewujudkan difusi teknologi, diperlukan bisnis yang menggunakan teknologi tinggi, produk dan jasa yang berasal dari perdagangan luar negeri, foreign direct investment, serta kontak dengan diaspora (World Bank, 2008).

Pemerintah memegang peran yang penting dalam perkembangan teknologi yang cepat dan berkelanjutan bagi suatu negara. Beberapa kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan perkembangan teknologi menurut World Bank (2008) adalah :

1.! Menjaga keterbukaan perdagangan, foreign direct investment, dan diaspora.

2.! Meningkatkan iklim investasi agar perusahaan dapat berinovasi, bertumbuh, dan berkembang.

3.! Memperkuat infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan telepon.

4.! Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan.

5.! Memperkuat sistem diseminasi dan orientasi pasar dalam program riset dan pengembangan.

Perkembangan teknologi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja (Sukirno, 1981) dan barang modal (physical capital) yang digunakan dalam proses produksi barang dan jasa (Boediono, 1981), sehingga dengan menggunakan faktor produksi yang sama, barang dan jasa (output) yang dihasilkan akan jauh lebih besar.

Perkembangan teknologi akan memudahkan proses produksi barang dan jasa, sehingga dengan keahlian tenaga kerja yang meningkat dan tersedianya barang modal berteknologi tinggi, tenaga kerja dan barang modal yang digunakan dalam proses produksi dapat menjadi lebih produktif dan menghasilkan output yang semakin besar.

Tingkat produktivitas suatu negara akan menentukan tingkat pertumbuhan ekonominya. Negara yang lebih produktif akan memiliki pendapatan yang lebih tinggi (Amadeo, 2017). Suatu negara digolongkan dalam kategori negara maju,

(19)

negara berkembang, dan negara miskin berdasarkan perbedaan produktivitasnya, dimana negara yang lebih produktif akan memiliki standar hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang kurang produktif.

Peningkatan produktivitas pada negara berkembang akan meningkatkan kualitas tenaga kerja dan barang modal (physical capital) secara signifikan karena negara berkembang memiliki kualitas tenaga kerja dan barang modal (physical capital) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan negara maju, sehingga negara berkembang dapat mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju. Suatu fenomena dimana negara berkembang cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pada negara maju disebut sebagai catch-up effect (Mankiw, 2003).

2.4.1! Perkembangan Teknologi Indonesia

Menurut World Bank (2008), pertumbuhan teknologi (technology, selanjutnya diberi simbol TECH) dalam penelitian ini diukur menggunakan pertumbuhan total factor productivity (TFP) dengan persamaan:

TFP = GDP Growth – Labor Quantity Contribution – Labor Quality Controbution – Total Capital Contribution (2.3)

Labor Quantity Contribution = Contribution of Labour Quantity to GDP Growth Labor Quality Controbution = Contribution of Labor Quality to GDP Growth Total Capital Contribution = Contribution of Total Capital Services to GDP

Growth

Menurut Solow (1956) setiap faktor produksi, yaitu pertumbuhan modal, pertumbuhan tenaga kerja, dan perkembangan teknologi bersifat constant return to scale, dalam artian apabila terjadi peningkatan pada input, maka akan menyebabkan peningkatan pada output dengan tingkat yang sama. Saat terjadi peningkatan output (pertumbuhan ekonomi) yang melebihi peningkatan pada input modal dan tenaga kerja, maka hal tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi, sehingga perkembangan teknologi diukur dengan cara mengurangi pertumbuhan GDP dengan kontribusi modal dan tenaga kerja terhadap perekonomian suatu negara.

(20)

Total Factor Productivity (TFP) adalah efisiensi relatif barang dan jasa yang dihasilkan dengan tenaga kerja dan modal tertentu (World Bank, 2008). TFP merupakan pengukuran tidak langsung atas perkembangan teknologi karena menghubungkan teknologi dengan pertumbuhan pendapatan yang tidak dapat dijelaskan secara keseluruhan oleh peningkatan modal dan tenaga kerja akibat kesulitan dalam pengukuran perkembangan teknologi.

Gambar 2.6 Grafik Total Factor Productivity Indonesia Periode 1992-2016

Sumber: World Bank

Perkembangan teknologi Indonesia pada masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999 mengalami penurunan yang drastis, yaitu sebesar -15,57% pada tahun 1998. Setelah masa sebelum dan setelah krisis, perkembangan teknologi Indonesia menunjukkan pola yang hampir sama, namun perkembangan teknologi sebelum krisis dengan rata-rata sebesar 0,77% menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari pada masa setelah krisis yaitu dengan rata-rata sebesar 0,75%. Sebuah pola yang sama yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

!20.00%

!15.00%

!10.00%

!5.00%

0.00%

5.00%

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Perkembangan*Teknologi*

(Total'Factor'Productivity)

(21)

2.5! Financial Crisis

Selama periode penelitian, terjadi dua masa krisis di Indonesia, yaitu Asian Financial Crisis periode 1998-1999 dan Global Financial Crisis pada tahun 2008.

Pada masa Asian Financial Crisis, terjadi penurunan drastis dalam tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sebesar -13,13% dan 0,79% pada tahun 1998 dan 1999, sedangkan pada masa Global Financial Crisis, terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 sebesar 6,01%, menjadi hanya sebesar 4,63%, pada tahun 2009.

Pada masa Asian Financial Crisis terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih drastis jika dibandingkan dengan masa Global Financial Crisis. Hal tersebut dapat dilihat dari Gambar 2.2, yaitu pada masa Asian Financial Crisis, terjadi structural break dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, dimana hal tersebut tidak terjadi pada masa Global Financial Crisis. Oleh karena itu, Financial Crisis yang diteliti dalam penelitian ini hanyalah Asian Financial Crisis.

2.5.1! Asian Financial Crisis

Pertumbuhan ekspor di kawasan Thailand dan sekitarnya menyebabkan tingginya tingkat foreign direct investment, yang menyebabkan meningkatnya nilai-nilai real estate, pembelanjaan perusahaan yang lebih agresif, dan proyek infrastruktur publik yang didanai oleh pinjaman besar dari bank (Kuepper, 2018).

Tingginya suku bunga domestik Thailand mendorong perusahaan dalam negeri untuk meminjam dana luar negeri dengan suku bunga rendah untuk mendanai investasi yang agresif dan kurang diawasi (The Economist, 2007).

Di sisi lain, The Federal Reserve Amerika Serikat mulai meningkatkan suku bunga Amerika untuk menahan laju inflasi, sehingga menyebabkan Amerika menjadi tujuan investasi yang lebih menarik bagi investor. Hal tersebut menyebabkan investor asing mulai menarik dananya dari Thailand dan menyebabkan depresiasi pada mata uang bath (Kuepper, 2018).

Asian Financial Crisis dimulai dengan serangkaian assets bubbles pada di Thailand, yang dikonfirmasi oleh kebangkrutan Finance One (perusahaan keuangan terbesar di Thailand) pada awal 1997 (Kuepper, 2018).

Pada 2 Juli 1997, bank sentral Thailand menerapkan kebijakan free floating

(22)

exchange rate terhadap mata uang bath, setelah tidak dapat menahan tekanan dolar Amerika terhadap bath karena habisnya cadangan devisa, dan menyebabkan depresiasi nilai tukar bath terhadap dolar Amerika yang semakin besar sehingga Thailand dinyatakan default karena menanggung beban utang luar negeri yang sangat besar (The Economist, 2007).

Keadaan tersebut menyebabkan kepanikan investor asing sehingga menyebabkan capital flight, yaitu penarikan dana asing dari dalam negeri ke luar negeri, yang semakin memperparah depresiasi mata uang dan memicu resesi di negara-negara lain di kawasan Thailand seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina (The Economist, 2007).

Pada masa Asian Financial Crisis, pertumbuhan ekonomi Malaysia menurun drastis sebesar -7,4% pada tahun 1998 setelah mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 9,6% dalam lima tahun sebelum masa krisis (The Economist, 2007). Sementara pertumbuhan ekonomi Filipina pada tahun 1998 menurun menjadi -0,6% setelah mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% dalam empat tahun sebelum masa krisis. Setelah masa krisis, rata-rata pertumbuhan ekonomi Malaysia dan Filipina pada tahun 2000-2016 berturut-turut adalah 5,07% dan 5,22%.

2.6!Hubungan Antar Konsep

2.6.1! Pertumbuhan Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Solow (1956), pertumbuhan modal merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Modal digunakan untuk membeli barang modal (physical capital) yang dibutuhkan untuk mendukung proses produksi barang dan jasa di suatu negara. Modal tersebut didapat dari investasi masyarakat atas barang modal (physical capital). Setiap produksi barang dan jasa (output) yang dihasilkan dapat digunakan untuk dikonsumsi maupun ditabung, dimana setiap tabungan akan diinvestasikan kembali untuk pembelian barang modal (physical capital).

Sangatlah sulit bagi negara berkembang untuk dapat memenuhi kebutuhan permodalan untuk mendanai pertumbuhan ekonomi jika hanya mengandalkan sumber modal dari dalam negeri (Azeez, et al., 2015). Oleh karena itu, dibutuhkan

(23)

sumber modal asing melalui utang luar negeri dan foreign direct investment untuk dapat mendanai kebutuhan permodalan untuk membeli barang modal (physical capital) yang dibutuhkan untuk proses produksi barang dan jasa.

Salah satu fungsi dari utang luar negeri adalah untuk menutupi kesenjangan antara tabungan dan investasi pemerintah, sehingga utang luar negeri merupakan jawaban dari masalah permodalan di negara berkembang (Sukirno, 2015). Selain itu, utang luar negeri juga berfungsi untuk menutupi defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran pemerintah. Di sisi lain, foreign direct investment merupakan kunci dalam pewujudan integrasi ekonomi. Foreign direct investment (net inflow) yang semakin besar memberikan keuntungan yang besar bagi perekonomian negara berkembang karena meningkatkan efisiensi jangka panjang dari host country melalui kompetisi yang lebih ketat, transfer modal, teknologi, skill manajemen, serta akses pasar dalam hal perluasan perdagangan internasional (Sornarajah, 2004). Jika foreign direct investment dapat dikelola dengan baik, stabilitas keuangan, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan tercapai (OEDC, 2008).

Pertumbuhan modal asing hanya akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, yaitu saat pertumbuhan modal asing melalui utang luar negeri dan foreign direct investment yang digunakan untuk membeli barang modal (physical capital) memiliki nilai yang sama dengan depresiasi barang modal (physical capital), yang berarti setiap pertumbuhan modal asing untuk pembelian barang modal (physical capital) hanya digunakan untuk membiayai depresiasi barang modal (physical capital) yang digunakan, sehingga kapasitas produksi tidak bertambah dan output tidak meningkat.

Saat suatu negara hanya memiliki level barang modal (physical capital) yang rendah, pertumbuhan modal asing melalui utang luar negeri dan foreign direct investment yang digunakan untuk membeli barang modal (physical capital) akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Seiring waktu, ketika jumlah barang modal (physical capital) suatu negara bertambah, pertumbuhan modal asing melalui utang luar negeri dan foreign direct investment yang digunakan untuk membeli barang modal (physical capital) tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebut sebagai diminishing return dari

(24)

pertumbuhan modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan modal asing hanya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Penelitian yang dilakukan oleh Anwar (2014) menyatakan bahwa defisit anggaran yang dibiayai melalui utang luar negeri akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2009-2013. Hal tersebut didukung oleh Simi, Suhadak,

& Hidayat (2015) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2003-2009.

Penelitian yang dilakukan oleh Wu & Hsu (2008) menyatakan bahwa FDI berpengaruh signifikan positif terhadap perrtumbuhan ekonomi di 62 negara periode 1975-2000. Hal serupa ditemukan oleh Mun, Lin, & Man (2008) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan positif antara FDI terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia periode 1970-2005.

2.6.2! Pertumbuhan Tenaga Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu negara juga ditentukan oleh pertumbuhan sumber daya manusia (tenaga kerja) (Solow, 1956). Tenaga kerja dibutuhkan untuk melakukan proses produksi barang dan jasa dan berfungsi untuk merubah barang dan jasa mentah menjadi barang dan jasa akhir. Pertumbuhan modal asing akan meningkatkan ekspansi usaha, saat bisnis memutuskan untuk melakukan ekspansi, dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk dapat memenuhi pertambahan kapasitas dan kapabilitas perusahaan tersebut. Saat lebih banyak tenaga kerja yang bekerja, tingkat pengangguran akan menurun dan pendapatan negara meningkat, sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Serupa dengan pertumbuhan modal asing, pertumbuhan tenaga kerja juga mengalami diminishing return. Saat jumlah tenaga kerja rendah, pertumbuhan tenaga kerja akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun seiring waktu, saat jumlah tenaga kerja sudah mencapai level yang tinggi, pertumbuhan tenaga kerja tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tenaga kerja juga dapat mengalami depresiasi karena pertambahan usia, memutuskan untuk pensiun, dan setelah itu meninggal dunia.

Oleh karena itu, pertumbuhan tenaga kerja hanya akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

(25)

Penelitian yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) (2003) menyatakan bahwa negara yang memiliki pertumbuhan tenaga kerja yang lebih tinggi akan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pula. Hal tersebut didukung dengan penemuan Raleva (2014), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi secara positif dipengaruhi oleh peningkatan tenaga kerja.

2.6.3! Perkembangan Teknologi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Perkembangan teknologi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan barang modal (physical capital), sehingga mampu menghasilkan output yang lebih tinggi (Solow, 1956). Tingkat produktivitas tersebut akan menentukan pendapatan negara dan seberapa besar negara akan mengalami pertumbuhan ekonomi.

Pada pertumbuhan modal asing, setiap output yang dihasilkan dapat digunakan untuk ditabung dan akan diinvestasikan kembali pada pembelian barang modal untuk mendukung proses produksi. Perkembangan teknologi menyebabkan peningkatan produktivitas sehingga output yang dihasilkan akan semakin besar.

Saat jumlah investasi yang digunakan untuk pembelian barang modal meningkat, pertambahan jumlah barang modal (physical capital) akan melebihi depresiasinya, sehingga perekonomian akan mendapatkan tambahan barang modal (physical capital) yang digunakan untuk proses produksi dan kapasitas produksi akan meningkat, sehingga output yang dihasilkan akan semakin besar dan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh seberapa cepat terjadi perkembangan teknologi serta seberapa besar pengaruh perkembangan teknologi terhadap peningkatan produktivitas (Solow, 1956). Perkembangan teknologi menyebabkan perekonomian suatu negara dapat bertumbuh dalam jangka panjang (long-term growth). Hal tersebut dijelaskan melalui kurva kemungkinan produksi atau productivity possibility curve.

Penelitian yang dilakukan oleh Auzina-Emsina (2014) menyatakan bahwa peningkatan produktivitas pada masa krisis ekonomi di negara yang tergabung dalam Uni Eropa akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada periode tertentu.

Penelitian yang dilakukan oleh Jajri & Ismail (2010) menyatakan bahwa

(26)

perkembangan produktivitas sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Malaysia periode 1981-2007. Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Gerdin (2001) menyatakan bahwa perkembangan produktivitas yang diukur menggunakan total factor productivity berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kenya periode 1964-1973 dan 1988-1996.

2.6.4! Asian Financial Crisis Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Dampak dari Asian Financial Crisis terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah krisis keuangan yang diperburuk dengan adanya musibah nasional, yaitu kegagalan panen padi dan kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan, dan krisis politik, yaitu kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998 (Tarmidi, 1999).

Pada masa tersebut, kurs nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika sebesar 600%, dimana nilai tukar semula sebesar Rp. 2.350,- menjadi Rp. 16.000,- per dolar Amerika dalam kurun waktu kurang dari satu tahun (Bank Indonesia, 1999), sehingga menyebabkan perusahaan dalam negeri yang memiliki utang luar negeri dalam mata uang dolar Amerika, menghadapi beban utang luar negeri yang sangat besar, jika dihitung dalam mata uang rupiah (The Economist, 2007).

Pertumbuhan ekonomi sebelum masa Asian Financial Crisis tahun 1998- 1999 memiliki rata-rata 6,88% setiap tahunnya. Pada masa Asian Financial Crisis 1998-1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki rata-rata -6.17%, dimana pada tahun 1998 dan 1999, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun drastis menjadi -13,13%, dan 0,79%. Setelah masa Asian Financial Crisis tahun 1998- 1999, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik pada tahun 2000 sebesar 4,92%, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000-2016 sebesar 5,29% setiap tahunnya.

Pertumbuhan ekonomi pada masa Asian Financial Crisis tahun 1998-1999 menurun tajam dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada masa sebelum dan sesudah Asian Financial Crisis, sehingga akan diteliti apakah Asian Financial Crisis tahun 1998-1999 berpengaruh signifikan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan menggunakan variabel dummy.

(27)

2.7! Kerangka Berpikir

Gambar 2.7. Kerangka Berpikir

2.8! Hipotesa Penelitian

Hipotesa yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:

1.! Pertumbuhan utang luar negeri berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1992-2016.

2.! Pertumbuhan foreign direct investment berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1992-2016.

3.! Pertumbuhan tenaga kerja berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1992-2016.

4.! Perkembangan teknologi berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1992-2016.

5.! Asian Financial Crisis berpengaruh signifikan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1998-1999.

6.! Pertumbuhan utang luar negeri, pertumbuhan foreign direct investment, pertumbuhan tenaga kerja, dan perkembangan teknologi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1992-2016.

Pertumbuhan Modal Asing - Utang Luar Negeri

- Foreign Direct Investment

Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Tenaga Kerja

Perkembangan Teknologi Asian Financial Crisis

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN ANTARA KONTRAK PSIKOLOGIS DENGAN WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN KONTRAK SALAH SATU PERUSAHAAN JASA KURIR DI KOTA BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Langkah awal kita dalam mengelola autoresponder adalah dengan membuat grup. Anda bisa langsung klik menu Tambah Grup atau klik Icon Tambah Grup Anda juga bisa menggunakan drop down

Selain itu juga terlihat beberapa bagian tubuh yang berbeda yang mengalami perubahan diantaranya scirrhous atrophy pada Kasus Pertama (P/11/09), dehidrasi, subkutis ikterus,

Sasaran promosi kesehatan pada tingkat pelayanan promotif adalah kelompok orang sehat merupakan upaya kesehatan dari.. Masyarakat sosial ekonomi lemah , rentan dan berisiko terhadap

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility yang telah dijalankan oleh perusahaan, menentukan pendistribusian biaya-biaya sosial

Pemungutan Pajak Parkir Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan” ini disusun untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat menyelesaikan studi di Program.. Studi Diploma III

[r]