PERUSAHAAN ROKOK YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Progam Studi Ilmu Administrasi Bisnis pada FISIP UPN “Veteran”
Jawa Timur
Oleh :
Rizky Maghfiroh Nanda Setyahafiz NPM. 0742010075
YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Berkat
dan Rahmat-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan skripsi ini
dengan judul “Penggunaan Gross Profit Margin (GPM), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin dalam memprediksi pertumbuhan laba pada Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Penulisan laporan skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar S1 Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Eddy Poernomo, Drs, SE, MM selaku dosen pembimbing utama, yang telah meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk dan pengarahan serta dorongan sejak awal hingga akhir
penyusunan laporan skripsi ini.
Penyusunan laporan skripsi ini juga tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak sehingga dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Hj. Suparwati, Dra, M.Si, sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
3. Bapak Nurhadi, Drs, M.Si, sebagai sekertaris Progdi Ilmu Administrasi
Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak dan Ibu Dosen jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang tidak dapat disebutkan
satu persatu.
5. Semua keluarga yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik
materiil maupun spiritual.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun sehingga terjadi kesempurnaan dalam penulisan laporan skripsi ini.
Surabaya, Juni 2011
HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
ABSTRAKSI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Landasan Teori... 9
2.2 Teori Manajemen Keuangan ... 9
2.2.1 Manajemen Keuangan ... 9
2.2.2 Manajemen Investasi ... 10
2.2.3 Laporan Keuangan ... 11
2.2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 11
2.2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 13
2.2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan ... 17
2.2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan ... 18
2.2.4.3 Metode Analisis Laporan Keuangan ... 19
2.2.5 Rasio Keuangan ... 20
2.2.5.1 Pengertian Rasio Keuangan ... 20
2.2.5.2 Jenis-Jenis Rasio Keuangan ... 21
2.2.5.3 Keunggulan Rasio Keuangan ... 25
2.2.5.4 Keterbatasan Rasio Keuangan ... 26
2.2.6 Laba ... 27
2.2.6.1 Pengertian Laba ... 27
2.2.6.2 Karakteristik Laba ... 28
2.2.6.3 Relevansi Konsep Laba ... 28
2.2.7 Arti Penting Pertumbuhan Laba ... 29
2.2.8 Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba ... 30
2.2.9 Pengaruh Gross Profit Margin Terhadap Pertumbuhan Laba 31 2.2.10 Pengaruh Return On Assets Terhadap Pertumbuhan Laba ... 32
2.2.11 Pengaruh Return On Equity Terhadap Pertumbuhan Laba ... 33
2.2.11 Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Pertumbuhan Laba .. 33
2.3 Kerangka Berpikir ... 34
3.2.1 Populasi ... 40
3.2.2 Sampel ... 40
3.2.3 Teknik Penarikan Sampel ... 40
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 41
3.3.1 Jenis Data ... 41
3.3.2 Sumber Data ... 42
3.3.3 Pengumpulan Data ... 42
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 42
3.4.1 Teknik Analisis ... 42
3.4.1.1 Uji Normalitas ... 42
3.4.1.2 Uji Asumsi Klasik ... 43
3.4.1.3 Teknik Analisis Linier Berganda ... 46
3.4.2 Uji Hipotesis ... 47
3.4.2.1 Uji F ... 47
3.4.2.2 Uji T ... 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 52
4.1.1 PT Gudang Garam Tbk ... 52
4.1.2 PT HM Sampoerna Tbk... 54
4.3.2 Uji Multikolinieritas ... 63
4.3.3 Uji Heterokedastisitas ... 64
4.3.4 Uji Autokorelasi ... 65
4.4 Hasil Analisis ... 66
4.4.1 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 66
4.4.2 Analisis Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi ... 68
4.5 Pengujian Hipotesis ... 69
4.5.1 Uji F (Uji Simultan)... 69
4.5.2 Uji t (Uji Parsial) ... 71
4.5.3 Uji Parsial Antara Variabel Gross Profit Margin (X1) Terhadap Variabel Pertumbuhan Laba (Y) ... 71
4.5.4 Uji Parsial Antara Variabel Return On Asset/ROA (X2) Terhadap Variabel Pertumbuhan Laba (Y) ... 73
4.5.5 Uji Parsial Antara Variabel Return On Equity (ROE) (X3) Terhadap Variabel Pertumbuhan Laba (Y) ... 74
4.5.6 Uji Parsial Antara Variabel Net Profit Margin (X4)Terhadap Variabel Pertumbuhan Laba (Y) ... 76
4.5.7 Koefisien Korelasi Parsial ... 77
4.6 Pembahasan... 78
Tabel 1.1 Tabel Laba Bersih Perusahaan Rokok tahun 2005-2010 ... 6
Tabel 3.1 Tabel Autokorelasi ... 44
Tabel 4.1 Tabel Gross Profit Margin Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Periode Tahun 2005-2010 ………...58
Tabel 4.2 Tabel Return On Assets Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Periode Tahun 2005-2010 ………...59
Tabel 4.3 Tabel Return On Equity Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Periode Tahun 2005-2010 ………...60
Tabel 4.4 Tabel Net Profit Margin Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Periode Tahun 2005-2010 ………...61
Tabel 4.5 Tabel Pertumbuhan Laba Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Periode Tahun 2005-2010 ………...62
Tabel 4.6 Tabel Hasil Uji Normalitas Model ………...63
Tabel 4.7 Tabel Variance Inflation Factor Variabel Bebas ……….64
Tabel 4.8 Tabel Nilai Durbin Watson ……….…………..……...66
Tabel 4.9 Tabel Hasil Analisis Linear Berganda ……….…….66
Tabel 4.10 Tabel Koefisen Korelasi dan Koefisien Determinasi ………..68
Tabel 4.11 Tabel Hasil Perhitungan Uji F ……….…………...69
Gambar 2.1 Bagan Kerangka berpikir...35
Gambar 3.1 Kurva Uji F...48
Gambar 3.2 Kurva Uji t...50
Gambar 4.1 Terjadi Tidaknya Heterokedastisitas……….…65
Gambar 4.2 Daerah Penerimaan dan Penolakan H0 Uji F...70
Gambar 4.3 Kriteria Daerah Penerimaan Atau Penolakan Variabel X1...72
Gambar 4.4 Kriteria Daerah Penerimaan Atau Penolakan Variabel X2...73
Gambar 4.5 Kriteria Daerah Penerimaan Atau Penolakan Variabel X3...75
EQUITY (ROE), NET PROFIT MARGIN (NPM) DALAM MEMPREDIKSI
PERTUMBUHAN LABA PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Aktivitas ekonomi senantiasa berputar dalam dua kelompok pasar. Pasar yang pertama disebut pasar barang, yang terdiri dari pasar barang dan jasa. Pasar yang kedua disebut pasar faktor produksi, yang terdiri dari pasar lahan, pasar tenaga kerja dan pasar keuangan. Keberadaan pasar faktor produksi ini tentu saja adalah untuk mendukung keberadaan pasar barang. Namun, dalam perkembangan sistem ekonomi kapitalisme, terdapat pasar yang merupakan salah satu dari pasar faktor produksi yang mengalami perkembangan teramat pesat.
Kebutuhan informasi mengenai pertumbuhan laba bagi investor semakin meningkat, hal ini disebabkan investor ingin memperoleh laba dalam investasinya. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui dan menganalisa secara simultan dan parsial penggunaan Gross Profit Margin, Return on Assets, Return on Equity, Net Profit Margin dalam memprediksi pertumbuhan laba.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan rokok yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode tahun 2005-2010. Sedangkan sampel yang diambil sebagai obyek penelitian yaitu sebanyak tiga perusahaan dengan menggunakan teknik sampel purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia.
Data analisis menggunakan model regresi linier berganda dan untuk uji hipotesis menggunakan uji F sebagai uji simultan serta uji t sebagai uji parsial terhadap variabel penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan setelah dilakukan penelitian, bahwa keempat variabel bebas yaitu Gross Profit Margin, Return on Assets, Return on Equity, Net Profit Margin tidak dapat digunakan sebagai predictor
(alat untuk memprediksi) terhadap variabel terikat yaitu pertumbuhan laba pada perusahaan rokok. Secara parsial, hanya variabel Return on Assets, Return on Equity
yang memiliki pengaruh signifikan, sehingga Return on Assets, Return on Equity ini dapat digunakan sebagai predictor (alat untuk memprediksi) terhadap variabel terikat yaitu pertumbuhan laba pada perusahaan rokok
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Aktivitas ekonomi senantiasa berputar dalam dua kelompok pasar.
Pasar yang pertama disebut pasar barang, yang terdiri dari pasar barang dan
jasa. Pasar yang kedua disebut pasar faktor produksi, yang terdiri dari pasar
lahan, pasar tenaga kerja dan pasar keuangan. Keberadaan pasar faktor
produksi ini tentu saja adalah untuk mendukung keberadaan pasar barang.
Namun, dalam perkembangan sistem ekonomi kapitalisme, terdapat pasar
yang merupakan salah satu dari pasar faktor produksi yang mengalami
perkembangan teramat pesat. Pasar tersebut tidak lain adalah pasar keuangan
atau yang biasa dikenal dengan financial market. Pesatnya perkembangan
pasar ini bahkan sampai mengakibatkan pasar ini terlepas dari induknya,
kemudian menjadi pasar yang berkembang sendiri. Keberadaan pasar ini
kemudian dikenal dengan pasar non riil, sebagai lawan dari pasar riil atau
pasar barang.
Keberadaan pasar keuangan ini berkembang dengan sangat luas dan
sangat kompleks, sehingga menjadi sebuah pasar yang berjalan dengan
mekanisme atau sistem yang teramat rumit. Sistem ini kemudian dikenal
Pasar menurut teori ekonomi pasar adalah segala hal yang mencakup
berbagai pertemuan antara permintaan dan penawaran. Jika dalam pasar secara
umum mencakup semua transaksi, maka di dalam pasar uang, yang
ditransaksikan adalah hak untuk menggunakan uang (untuk dibelanjakan
barang dan jasa) untuk jangka waktu tertentu.
Pasar sendiri di bedakan menjadi tiga yaitu pasar barang, pasar jasa
dan pasar uang. Pasar barang adalah pasar yang menjual produk dalam bentuk
barang.Pasar Jasa / Tenaga Pasar jasa adalah pasar yang menjual produknya
dalam bentuk penawaran jasa atas suatu kemampuan. Jasa tidak dapat
dipegang dan dilihat secara fisik karena waktu pada saat dihasilkan bersamaan
dengan waktu mengkonsumsinya.Pasar Modal merupakan pertemuan pihak
yang memerlukan dana (borrower) dengan pihak yang bisa menyediakan dana
atau yang mempunyai kelebihan dana (lender). Kehadiran pasar modal
memperbanyak pilihan sumber dana bagi perusahaan. Manfaat lebih lanjut
dari adanya pasar modal adalah meningkatnya kemampuan perusahaan untuk
menentukan struktur modal yang optimal. Sementara itu, bagi para investor,
pasar modal merupakan wahana yang dapat dimanfaatkan untuk
menginvestasikan dananya sebagai sumber pendapatan.
Salah satu produk dari pasar modal adalah saham, saham adalah bukti
penyertaan modal di suatu perusahaan atau merupakan bukti kepemilikan atas
Pada umumnya para investor mengharapkan dua bentuk
pengembalian dari pembelian saham yaitu yang pertama dalam bentuk
Capital Gain yang merupakan keuntungan yang di peroleh dari selisih harga
saham pada saat dia beli dengan harga pasar saham pada saat dia menjual dan
yang kedua dalam bentuk dividen. Deviden adalah bagian laba perusahaan
yang akan dibagikan kepada pemegang saham.
Oleh karena itu informasi laba bagi para investor merupakan
informasi yang sangat penting bagi investor, tidak hanya informasi laba di
masa lalu dan sekarang tetapi juga prediksi laba masa yang akan datang. Hal
ini dikarenakan investor memerlukan perkiraan jumlah kas dari deviden yang
mungkin diterimanya yang besarnya sangat tergantung pada jumlah laba
yang diperolah perusahaan di masa yang akan datang.
Laba adalah selisih positif antara jumlah yang diterima dari pelanggan
atas barang atau jasa yang dihasilkan dengan jumlah yang dikeluarkan untuk
membeli sumber daya alam dalam menghasilkan barang atau jasa tersebut.
Economic decision theory menjelaskan bahwa tujuan pertama
pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat kepada
investor, kreditor dan pemakai lainnya baik yang sekarang maupun yang
potensial dalam pembuatan investasi, kredit dan keputusan sejenis secara
rasional.
Theory of investment menjelaskan bahwa tujuan kedua dari pelaporan
baik maupun yang potensial dalam menilai jumlah, waktu, ketidakpastian
penerimaan kas dari deviden dan bunga dimasa yang akan dating, sehingga
dengan kata lain investor dapat memprediksi besar laba yang diperoleh
perusahaan di masa yang akan datang melalui laporan keuangan,yaitu dengan
menggunakan rasio keuangan.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memprediksi laba adalah
dengan menggunakan rasio keuangan.
Penelitian ini untuk mengetahui apakah rasio profitabilitas dapat
memprediksi pertumbuhan laba. Rasio profitabilitas ini disebut juga sebagai
rasio rentabilitas, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu
perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal
yang menghasilkan laba tersebut. Rasio profitabilitas akan memberikan
jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini memberi
gambaran tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan. Rasio-rasio
yang tergabung dalam rasio profitabilitas antara lain :
Gross Profit Margin (GPM), rasio ini menggambarkan efisiensi
pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan
kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.
Return on Assets (ROA), merupakan salah satu rasio profitabilitas
yang digunakan untuk mengukur efektivitas kegiatan operasional manajemen
keuntungan bagi investor. Rasio ini juga merupakan indikator keberhasilan
manajemen dalam menjalankan kegiatan operasional. Semakin tingginya
ratio ROA maka semakin baik posisi keuangan perusahaan.
Return on Equity (ROE), rasio ini memperlihatkan sejauh manakah
perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur
tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri
atau pemegang saham perusahaan.
Net Profit Margin (NPM), Merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukar laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume
penjualan.
Objek dalam penelitian ini adalah pada perusahaan rokok dan
menggunakan variabel dependen yaitu pertumbuhan laba dimaksudkan untuk
menguji apakah apakah rasio keuangan dapat memprediksi pertumbuhan
laba, khususnya dengan menggunakan rasio profitabilitas, yaitu Gross Profit
Margin (GPM), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit
Margin (NPM).
Didalam pasar modal terdapat banyak pilihan perusahaan bagi
investor untuk berinvestasi. Dalam ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada
perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia yang bergerak di sektor
industri rokok. Terdapat 3 perusahaan yang berada dalam industri rokok yang
sampai saat ini terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yaitu : PT Gudang Garam
Perusahaan rokok banyak memberikan kontribusi bagi negara yaitu
berupa penyerapan tenaga kerja, beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa,
sponsorship program lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat, dan
pembinaan atlet olahraga. Rokok mempunyai efek negative bagi kesehatan,
berdasarkan statistik yang ada dari tahun ke tahun jumlah pengkonsumsi
rokok semakin lama semakin meningkat. Untuk mengatasi hal itu pemerintah
telah mengeluarkan himbauan serta larangan terhadap masyarakat. Meskipun
pemerintah telah mengeluarkan berbagai bentuk himbauan namun masih
banyak penduduk Indonesia yang masih merokok, sehingga himbauan
tersebut terkesan kurang efektif dalam menekan angka perokok di Indonesia.
Hal ini dapat dilihat dari laba bersih yang diperoleh perusahaan rokok
selama 5 tahun terakhir sebagai berikut :
Tabel 1.1 Laba Bersih Perusahaan Rokok tahun 2005-2010
(Dalam jutaan Rupiah)
Nama
perusahaan/Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 2010
PT.Gudang Garam Tbk 1.889.864 1.007.822 1.443.585 1.880.492 3.455.702 415.000
PT.H.M Sampoerna 108.166 3.530.490 215.083 439.516 281.766 2.186.200
PT.Bentoel Investama Tbk.
2.383.066 145.510 242.917 239.138 25.165 642.000
(Sumber Bursa Efek Indonesia Tahun 2010)
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pertumbuhan laba pada
fluktuatif, baik secara meningkat maupun menurun. Oleh karena itu
walaupun pemerintah telah melakukan himbauan terhadap para perokok
ternyata tidak terdapat pengaruh yang berarti, pertumbuhan laba perusahaan
lebih banyak di pengaruhi oleh faktor-faktor selain himbauan tersebut, dari
sekian banyak faktor-faktor yang mungkin berpengaruh, peneliti mencoba
untuk ingin mengetahui apakah rasio profitabilitas yang terdiri dari Gross
Profit Margin (GPM), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net
Profit Margin (NPM.) dapat mempengaruhi pertumbuhan laba tersebut,
sehingga dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan laba pada
periode berikutnya.
Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul di bawah ini.
“Penggunaan Gross Profit Margin (GPM), Return on Assets
(ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dalam
memprediksi pertumbuhan laba pada Perusahaan Rokok yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apakah Gross Profit Margin (GPM), Return on Assets (ROA), Return on
Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dapat memprediksi secara
2. Apakah Gross Profit Margin (GPM), Return on Assets (ROA), Return on
Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM)dapat memprediksi secara parsial
terhadap pertumbuhan laba ?
1.3Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisa secara simultan Gross Profit Margin
(GPM), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit
Margin (NPM.)dalam memprediksi pertumbuhan laba.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa secara parsial Gross Profit Margin
(GPM), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit
Margin (NPM.) dalam memprediksi pertumbuhan.
1.4Manfaat Penelitian
1. Praktis :
Diharapkan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan
serta pertimbangan bagi bagi investor dalam melakukan pembelian
saham, sehingga dapat memperoleh laba di kemudian hari dari pembelian
saham tersebut.
2. Teoritis :
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi
diperpustakaan dan dapat digunakan bagi penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.2 Teori Manajemen Keuangan
2.2.1 Manajemen Keuangan
Menurut Suad Husnan ( 2004 : 4 ) manajemen keuangan
merupakan semua kegiatan yang menyangkut kegiatan perencanaan,
analisis dan pengendalian kegiatan keuangan. Orang yang melaksanakan
kegiatan tersebut sering disebut sebagai manajer keuangan.
Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi
-fungsi keuangan. Fungsi - -fungsi keuangan tersebut meliputi
bagaimana memperoleh dana ( raising of fund ) dan bagaimana
menggunakan dana tersebut. Manajer keuangan berkepentingan dengan
penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva
dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjakan aktiva
tersebut. Untuk memperoleh dana, manajer keuangan bisa memperolehnya
dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal
dari pasar modal, bisa berbentuk hutang atau modal sendiri.
Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan dapat di definisikan dari tugas dan
antara lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan
usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan, dengan demikian tugas
manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksi mumkan nilai
perusahaan. Kegiatan penting lai nnya yang harus dilakukan manajer
keuangan menyangkut empat aspek yaitu :
1. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya
yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
2. Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai
keputusan investasi dan pembiayaan , serta segala hal yang
berkaitan dengannya.
3. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di
perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin.
4. Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan
pasar keuangan, di mana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat
berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
2.2.2 Manajemen Investasi
Investasi dalam arti luas merupakan pengorbanan sejumlah uang
saat ini untuk memperoleh sejumlah uang di masa akan datang. Menurut
Sunariyah ( 2004 : 4 ) investasi adalah penanaman modal untuk satu atau
lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan
harapan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Sedangkan
menurut M. Fakhrudin ( 2001 : 195 ) dikatakan bahwa, investasi adalah
satu periode waktu, yang biasanya dalam bentuk arus kas periodic dan atau
nilai akhir.
Definisi berikutnya adalah menurut Tandelilin ( 2001 : 37 ),
investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya
yang dilakukan saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan
di masa yang akan datang. Menurut Suad Husnan ( 2004 : 18 )
menyatakan investasi adalah setiap penggunaan uang dengan maksud
untuk memperoleh penghasilan.
Menurut bentuknya investasi dibedakan menjadi investasi dalam
aktiva finansial ( financial investment ) dan investasi dalam aktiva riil (
real investment ). Investasi dalam aktiva financial lebih merupakan
kepemilikan hak klaim atau aktiva yang diwujudkan dalam bentuk
dokumen legal yang kemudian disebut sebagai sekuritas ( surat berharga ,
sedangkan untuk investasi Dalam aktiva riil berupa aktiva berwujud yang
tampak nyata ( bangunan, tanah ). Seorang investor yang menghendaki
tingkat pengembalian yang tinggi, tentu akan menghadapi resiko yang
tinggi pula. Untuk menyikapi hal tersebut, maka salah satu caranya adalah
dengan menggunakan upaya diversifikasi yang tepat di antara bermacam –
macam bentuk pilihan investasi yang ada.
2.2.3 Laporan Keuangan
2.2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sarana utama melalui mana
Laporan ini memberikan suatu sejarah yang berkesinambungan yang
dikuantifikasikan dalam satuan uang berkenaan dengan sumber daya
ekonomi dan kewajiban dari suatu perusahaan bisnis dan aktivitas yang
mengubah dan sumber daya kewajiban ini. (Kieso, 2002:6).
Menurut Harahap (2002 : 105), laporan keuangan menggambarkan
kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau
jangka waktu tertentu. Bagi para analis, laporan keuangan merupakan
media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis
suatu perusahaan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan sarana
informasi bagi analis dalam proses pengambilan keputusan. Laporan
keuangan bias menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha
perusahaan dalam suatu periode, dan arus dana perusahaan dalam periode
tertentu.
Menurut Badirwan (2000 : 17), laporan keuangan merupakan suatu
ringkasan dari transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang
bersangkutan.
Laporan keuangan merupakan sumber informasi keuangan yang
dihasilkan melalui suatu proses akuntansi untuk suatu periode atau tanggal
tertentu. (Lukviarman, 2006 : 13)
Pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
laporan keuangan adalah hasil akhir dari sebuah proses akuntansi yang
berkepentingan dalam hal pengambilan keputusan serta untuk melihat
kondisi keuangan perusahaan.
2.2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Baridwan (2000 : 17), laporan keuangan ini dibuat oleh
manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas yang
dibebankan kepadanya oleh pemilik perusahaan.
Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.(SAK, 2007 : 3).
Laporan keuangan memiliki tujuan umum (Baridwan, 2000 : 4)
dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya
mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal
suatu perusahaan.
2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai
perubahan dalam sumber-sumber ekonomi netto (sumber dikurangi
kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari aktivitas-aktivitas
usaha dalam rangka memperoleh laba.
3. Untuk memberikan informs keuangan yang membantu para
pemakai laporan keuangan didalam mengestimasi potensi
4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan
dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi
mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman.
5. Untuk mengungkap sejauh mungkin informasi lain yang
berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk
kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai
kebijaksaan akuntansi yang dianut perusahaan.
2.2.3.3 Pemakai Laporan Keuangan
Menurut SAK (2007 : 2), pengguna laporan keuangan meliputi
investor sekarang dan investor potensial, pemasok dan kreditor usaha
lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan
masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi
beberapa kebutuhan yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi :
a) Investor. Penanam modal beresiko dan penasihat mereka
berkepentingan dengan resiko yang melekat serta hasil
penggembangan dari investasi tersebut.
b) Karyawan. Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka
tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas
perusahaan.
c) Pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi
keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah
d) Pemasok dan kreditor usaha lainnya. Pemasok dan kreditor usaha
lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apabila jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh
tempo.
e) Pelanggan. Para pelanggan berkepentingan untuk informasi mengenai
kelangsungan hidup perusahaan.
f) Pemerintah. Mereka membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas
perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, sebagai dasar unuk
menyususn statistic pendapatan nasional dan statistic lainnya.
g) Masyarakat. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan
menyediakan informasi kecenderungan (tren) dan perkembangan
terakhir kemakmuran, serta rangkaian aktivitasnya.
2.2.3.4 Unsur-unsur Laporan Keuangan
2.2.3.4.1 Neraca
Menurut Baridwan (2000 : 18), neraca adalah laporan keuangan
yang menunjukkan usaha pada tanggal tertentu, keadaan keuangan ini
ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan
jumlah kewajiban perusahaan yang pasiva. Atau dengan kata lain aktiva
adalah investasi di dalam perusahaan dan pasiva merupakan
2.2.3.4.2 Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan
pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu
periode tertentu. Selisih antara pendapatan-pendapatan dari biaya
merupakan laba yabg diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan.
(Baridwan, 2000 : 30).
2.2.3.4.3 Laporan Perubahan Ekuitas
Perubahan ekuitas perusahaan menggambarkan peningkatan atau
penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan
berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus
diungkapkan dalam laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas, kecuali
untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham
seperti setoran modal dan pebayaran deviden, menggambarkan jumlah
keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama
periode yang bersangkutan. (SAK, 2007 : 1.13).
2.2.3.4.4 Laporan Arus Kas
Menurut Baridwan (2000 : 43), tujuan utama aliran kas adalah
untuk menyajikan informasi relevan tentang penerimaan dan pengeluaran
kas suatu perusahaan selama satu periode, untuk mencapai tujuan ini,
aliran kas d klasifikasikan dalam tiga kelompok yang berbeda yaitu
penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi,
2.2.3.4.5 Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasann naratif atau
rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus
kas, dan laporan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban
kontijensi dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup
informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam
PSAK serta pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. (SAK, 2007 :
1.13)
2.2.4 Analisis Laporan Keuangan
2.2.4.1 Pengertian Analisis Keuangan
Menurut Astuti (2004 : 29), analisis laporan keuangan merupakan
segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk
membuat keputusan bisnis dan investasi.
Analisis keuangan dirancang bagi pengusaha, investor dan kreditor
dimana kaharusan memahami bagaimana mengartikan serta menanalisis
laporan keuangan. Laporan keuangan melaporkan posisi keuangan
perusahaan pada suatu waktu tertentu maupun selama beberapa periode
yang lalu.
Analisis laporan keuangan (financial statement analiysis) adalah
umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dari
kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis.(Wild, dkk, 2005 : 3)
2.2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2002 : 195), analisis laporan keuangan yang
dilakukan dimaksudkan untuk menambah informasi yang ada dalam suatu
laporan. Secara lengkap kegunaan analisis laporan keuangan dikemukakan
sebagai berikut :
a. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada
yang terdapat dalam laporan keuangan biasa.
b. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata
(eksplisit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik
laporan keuangan (implisit).
c. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan
keuangan.
d. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan
komponen intern lapoan keuangan meupun kaitannya dengan
informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
e. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan
model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan sperti untuk
f. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh pengambil
keputusan.
g. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut criteria
tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
h. Dapat membandinkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain
dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau
standar ideal.
i. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami
perusahaan,baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan
sebagainya.
j. Bias juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan
dimasa yang akan datang.
2.2.4.3 Metode Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sawir (2005 : 45), teknik analisis laporan keuangan ada
dua yaitu Analisis Horizontal (Perbandingan laporan keuangan) dan
Analisis Vertikal (per komponen).
Analisis horizontal adalah analisis dengan cara membandingkan
Neraca dan Laporan Laba Rugi beberapa tahun terakhir secara berurutan.
Maksudnya memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang
terjadi baik dalam Neraca maupun Laporan Laba Rugi, sehingga dapat
diperoleh gambaran selama bebrapa tahun terakhir apakah terjadi kenaikan
Analisis vertikal adalah analisis yang dilakukan dengan jalan
menghitung proporsi pos-pos dalam neraca dengan suatu jumlah tertentu
dari Neraca atau proporsi dari unsur-unsur tertentu Laporan Laba Rugi
dengan jumlah tertentu dari laporan laba rugi.
2.2.5 Rasio Keuangan
2.2.5.1 Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2002 : 297), rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil membandingkan dari pos laporan keuangan dengan
pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.
Teknik ini sangat lazim digunakan para analis keuangan. Rasio keuangan
sangat penting dalam melakukan analisa terhadap kondisi keuangan
perusahaan.
Rasio keuangan ini menyederhanakan informasi yang
menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Dengan
penyederhanaan ini dapat dinilai secara tepat hubungan antara pos tadi dan
dapat membandingkan dengan rasio lain sehingga dapat diperoleh
informasi dan dapat memberikan penilaian.
Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan
(mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah
yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan
dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada penganalisa tentang
terutama apabila angka rasio tersebut dibandinkan dengan angka ratio
pembanding yang digunakan sebagai standard. (Munawir,2002 : 64)
2.2.5.2 Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Menurut Sawir (2005 : 7), jenis-jenis rasio keuangan dibedakan
menjadi lima kelompok dasar, yaitu :
1. Analisis Likuiditas Perusahaan
Analisis Likuiditas Perusahaan merupakan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo. Dan analisis
likuiditas pada umumnya menjadi perhatian pertama dari Analis
Keuangan. Terdapat tiga macam rasio keuangan dalam analisis ini,
yaitu :
a. Rasio Lancar
Rasio Lancar = Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar
b. Rasio Cepat
Rasio Cepat = (Akativa Lancar-Persediaan) / Hutang Lancar
c. Rasio Kas
Rasio Kas = (Kas + Sekuritas yang dapat dipasarkan) / Hutang
Lancar
Analisa struktur keuangan merupakan bagaimana perusahaan
mendanai aktivitasnya. Aktiva perusahaan yang pendanaannya dari
hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang
saham, sehingga seluruh sisi kanan dari neraca memperlihatkan
struktur keuangan. Dalam analisis ini terdapat empat macam rasio
keuangan, yaitu :
a. Rasio Hutang
Rasio Hutang = Total Hutang / Total Aktiva
b. Rasio Hutang terhadap Ekuitas atau DER (Debt Equity Ratio)
DER = Total Hutang / Total Ekuitas
c. Rasio Laba terhadap Beban Bunga atau TIE (Time Interest
Earning)
TIE = Earning Before Interest Taxes / Beban Bunga
d. Rasio Penetapan Beban Tetap = (laba sebelum pajak + beban
bunga + kewajiban lease) /
(beban bunga + kewajiban
lease)
3. Analisis Aktivitas Perusahaan
Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan
rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan
dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Dalam analisis ini terdapat
lima macam rasio keuangan, yaitu :
a. Rasio Perputaran Persediaan
Rasio Perputaran Persediaan (at cost) = Harga Pokok Penjualan /
persediaan rata-rata
Rasio Perputaran Persediaan (at market) = penjualan / persediaan
b. Periode Penagihan Rata-Rata
Periode Penagihan Rata-Rata = Piutang / Penjualan Per Hari
c. Rasio Perputaran Modal Kerja
Rasio Perputaran Modal Kerja = Penjualan / Modal Kerja Bersih
d. Rasio Perputaran Aktiva Tetap
Rasio Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan / Aktiva Tetap
e. Rasio Perputaran Total Aktiva
Rasio Perputaran Total Aktiva = Penjualan / Total Aktiva
4. Profitability Ratio (Rasio Profitabilitas)
Rasio profitabilitas ini disebut juga sebagai rasio rentabilitas, yaitu
rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut. Rasio profitabilitas akan memberikan
jawaba akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini
memberi gambaran tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan.
Menurut Rasio-rasio yang tergabung dalam rasio profitabilitas antara
lain :
a. Gross profit Margin (Margin Laba Kotor)
Rasio ini mengukur efisiesi pengendalian harga pokok atau biaya
produksinya, mengindikasikan kemarnpuan perusahaan untuk
berproduksi secara efisien. Rasio ini menggambarkan laba kotor yang
dapat dicapai dari jumlah penjualan.
b. Return on Investment atau Return on Total Asset (Hasil
Pengembalian atas Total Aktiva)
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba atas penggunaan seluruh aktivanya dalam kegiatan operasinya.
c. Return on Equity (Hasil Pengembaiian atas Ekuitas)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari
modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang
saham. baik saham biasa maupun saham preferen.
d. Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukar laba bersih sesudah
5. Analisis Penilaian Pasar
Rasio penilaian merupakan ukuran yang paling komprehensif
untuk menilai hasil kerja perusahaan, dikarenakan rasio penilaian pasar
mencerminkan kombinasi pengaruh resiko-resiko dan rasio
pengembalian. Dalam analisis ini terdapat dua macam rasio keuangan,
yaitu :
a. Rasio Harga terhadap Laba atau PER (Price Earning Ratio)
PER = Harga Saham / Laba per saham
b. Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku atau Market to Book Ratio
Harga Pasar terhadap Nilai Buku = Harga Pasar / Nilai buku per
saham
2.2.5.3 Keunggulan Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2000 : 298), analisis laporan keuangan memiliki
keunggulan dibandingkan teknik analisis lainnya. Keunggulan tersebut
adalah :
a. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistic yang lebih mudah
dibaca atau ditafsirkan.
b. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang
disajikan laporan keuangan yang sangat risi dan rumit.
d. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model
pengambilan keputusan dan model prediksi.
e. Menstandarisir size perusahaan.
f. Laba modal membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau
melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau “time series”.
g. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi
dimasa yang akan datang.
2.2.5.4 Keterbatasan Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2002 : 298), analisis laporan keuangan memiliki
beberapa keterbatasan yang diharuskan untuk diketahui dalam penggunaan
perhitungan. Keterbatasan tersebut ntara lain :
a. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk
kepentingan pemakainya.
b. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atas laporan keuangan juga
menjaga keterbatasan teknik seperti :
1. Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu hanya
mengandung taksiran dan judgement yang dapat dinilai bias atau
subyektif.
2. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah
3. Klasifikasi dalam laporan keuangan bias berdampak pada angka
rasio.
4. Metode pencatatan yang tergambar dalam standart akuntansi bias
diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
c. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan
menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio.
d. Sulit jika ada data yang tidak singkron.
e. Jika dua perusahaan dibandingkan bias saja teknik dan standar
akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan
perbandingan bisa terjadi kesalahan.
2.2.6 Laba
2.2.6.1 Pengertian Laba
Menurut Baridwan (1992 : 31), laba merupakan kenaikan modal
yang berasal dari transaksi yang jarang terjadi dar suatu badan usaha, dan
dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha
selama satu periode.
Laba adalah selisih antara jumlah yang diterima dari pelanggan
atas barang atau jasa yang dihasilkan dengan jumlah yang dikeluarkan
untuk membeli sumber daya alam dalam menghasilkan barang atau jasa
2.2.6.2 Karakteristik Laba
Menurut Belkaoui (1987 : 233), laba akuntansi memiliki
karakteristik yaitu :
a. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan.
b. Laba akuntansi didasarkan pada postulate periode hubungan dengan
prestasi keuangan perusahaan itu selama periode waktu tertentu.
c. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip pendapatan dan membutuhkan
definisi, pengukuran, dan pengukuran pendapatan.
d. Laba akuntansi membutuhkan pengukuran biaya dalam bentuk biaya
historis bagi perusahaan, yang melahirkan kepatuhan yang ketat pada
prinsip biaya.
e. Laba akuntansi mensyaratkan agar pendapatan yang direalisasi dari
periode itu dikaitkan pada biaya relevan yang tepat dan sepadan.
2.2.6.3 Relevansi Konsep Laba
Menurut Belkaoui (1987 : 230), laba merupakan suatu pos dasar
Laba adalah dasar bagi perpajakan dan pembagian kembali kekayaan
dikalangan pribadi, dikatakan laba kena pajak dihitung sesuai dengan
a. Laba dianggap sebagai pedoman bagi kebijakan dividend an penahan
laba perusahaan, namun pengakuan alaba tidak menjamin bahwa
dividen akan dibayar, karena perusahaan bias mengakui laba pada saat
bersamaan tidak mempunyai dana untuk membayar dividen.
b. Laba pada umunya dipandang sebagai suatu investasi dan pedoman
pengambilan keputusan, telah umum di hipotesakan bahwa para
investor berusaha untuk memaksimaisasi pengambilan atas modal
yang diinvestasikan, yaitu sepadan dengan tingkat resiko yang dapat
diterima.
c. Laba dipandang sebagai suatu peralatan prediktif yang
membantudalam peramalan laba mendatang dan peristiwa ekonomi
yang akan datang. Kenyataannya nilai laba di masa lalu, yang
didasarkan pada biaya historis dan nilai berjalan, terbukti berguna
dalam meramalkan nilai mendatang dari kedua versi laba.
d. Laba bias dipandang sebagai suatu ukuran efisiensi. Laba adalah suatu
ukuran kepengurusan manajemen atas sumber daya suatu kesatuan dan
ukuran efisiensi manajemen dalam menjalankan usaha suatu
perusahaan.
2.2.7 Arti Penting Pertumbuhan Laba
Sebagaimana halnya seorang dokter mencoba mengetahui kondisi
pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam kaitannya dengan kondisi keuangan
perusahaan. (Sawir, 2005 : 1)
Laba adalah kenaikan modal yang berasal dari transaksi sampingan
atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua
transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu
periode kecuali yang timbul dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.
(Baridwan, 2000 : 31)
Laba sebagai suatu pengukuran kinerja dan bagian dari laporan
keuangan perusahaan, merefleksikan telah terjadinya proses peningkatan
atau penurunan ekuitas dari berbagai sumber transaksi kecuali transaksi dari
pemegang saham dalam suatu periode tertentu. Konsep laba sama halnya
dengan pendapatan bersih (net income), yaitu memasukkan hamper seluruh
kejadian yang tercakup dalam pendaptan bersih dengan penekanan pada
periode sekarang (present). Sehingga dapat dilakukan suatu penelitian dalam
memprediksi perubahan laba dengan menggunakan rasio keuangan.
(Takarini, 2003 : 254).
2.2.8 Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba
Economic decision theory menjelaskan bahwa tujuan pertama
pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat kepada
investor, kreditor dan pemakai lainnya baik sekarang maupun yang potensial
dalam pembuatan investasi, kredit dan keputusan sejenis secara rasional.
Theory of investment menjelaskan bahwa tujuan kedua pelaporan
keuangan adalah untuk membantu investor, kreditor dan pemakai laporan
yang lainnya baik sekarang maupun potensial dalam menilai jumlah,
waktu, ketidakpastian penerimaan kas dari deviden dan bunga di masa
yang akan datang. (Zainuddin, 1999 : 68)
Menurut Harahap (2008 : 298), rasio keuangan sangat bermanfaat
untuk bahan dalam mengisi model pengambilan keputusan dan model
prediksi. Salah satu cara memprediksi laba perusahaan adalah dengan
menggunakan rasio keuangan. (Zainuddin, 1999 : 68). Rasio keuangan
mempunyai tingkatan prediksi yang tinggi, maka tingkat kesalahannya
kecil. (Meythi, 2005 : 260).
2.2.9 Pengaruh Gross Profit Margin Terhadap Pertumbuhan Laba
Rasio dalam Gross Profit Margin ini menunjukkan kemampuan
perusahaan melahirkan laba yang akan menutupi biaya-biaya tetap atau
biaya operasi lainnya. Dengan pengetahuan atas rasio ini kita dapat
mengontrol pengeluaran untuk biaya tetap atau biaya operasi sehingga
perusahaan dapat menikmati laba. (Harahap, 2002 : 306).
Seperti halnya Entity Theory yang dijelaskan oleh Harahap (2007 :
71). Entity Theory berorientasi pada income oriented atau income
statement oriented. Pertanggung jawaban pada pemilik dilakukan dengan
cara mengukur prestasi kegiatan dan prestasi keuangan yang ditujukan
Construct rasio keuangan capital, assets, earning, dan liquidity
signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba untuk periode satu tahun
kedepan. (Zainuddin, 1999 : 82).
Gross Profit Margin dalam rasio keuangan, menurut peneliti
adalah salah satu cara dalam mengontrol pengeluaran biaya tetap dan
biaya operasi serta menunjukkan kemampuan perusahaan mendapatkan
laba yang akan menutupi biaya tetap atau biaya operasi lainnya.
2.2.10 Pengaruh Return on Assets Terhadap Pertumbuhan Laba
Adanya aktiva yang lebih besar dan pengelolaan yang produktif
dimaksudkan untuk memperoleh laba, seperti halnya Fund Theory
(Harahap, 2007 : 72) yang menjadi perhatian adalah sekelompok aset yang
ada dan kewajiban yang harus ditunaikan yang disebut fund yang
masing-masing pos memiliki aturan dalam penggunaannya, dengan demikian teori
fund menganggap bahwa unit usaha merupakan sumber ekonomi (funds)
dan kewajiban yang ditetapkan kepada pembatasan-pembatasan terhadap
penggunaan aset.
Construct rasio keuangan capital, assets, earning, dan liquidity
signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba untuk periode satu tahun
kedepan. (Zainuddin dan Jogiyanto, 1999 : 82).
Peneliti dalam penelitian yang sekarang ini menyebutkan bahwa
Return on Assets mempunyai tinkat prediksi pertumbuhan laba yang baik,
pengelolaan asset secara efektif dan efisien maka akan mempengaruhi
tingkat pertumbuhan laba pada perusahaan.
2.2.11 Pengaruh Return on Equity Terhadap Pertumbuhan Laba
Menurut Harahap (2002 : 304), rasio profitabilitas menggambarkan
kemampuan perusahaan mendapatkan laba, rasio yang menggambarkan
laba disebut Operating Ratio. Dapat disimpulkan bahwa Return on
Investment, Return on Equity dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam
memprediksi laba pada perusahaan.
Construct rasio keuangan capital, assets earning, dan liquidity
signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba untuk periode satu tahun
kedepan. (Zainuddin dan Jogiyanto, 1999 : 82).
Return on Equity adalah salah satu dari beberapa cara dalam rasio
keuangan untuk memprediksi pertumbuhan laba yang signifikan dan selalu
digunakan sebagai tolok ukur untuk menggambarkan kemampuan
perusahaan mendapatkan laba.
2.2.11 Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Pertumbuhan Laba
Net Profit Margin, merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukar laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume
2.3 Kerangka Berpikir
Penelitian sekarang meneliti tentang prediksi untuk mengukur
pertumbuhan laba perusahaan pada umumnya dengan menggunakan
rasio-rasio profitabilitas yang terdiri : Gross Profit Margin, Return On Assets,
Return On Equity dan Net Profit Margin.
Gross profit Margin (Margin Laba Kotor)
Rasio ini mengukur efisiesi pengendalian harga pokok atau biaya
produksinya, mengindikasikan kemarnpuan perusahaan untuk berproduksi
secara efisien. Rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai
dari jumlah penjualan.
Return on Investment atau Return on Total Asset (Hasil Pengembalian atas
Total Aktiva)
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba atas penggunaan seluruh aktivanya dalam kegiatan
operasinya.
Return on Equity (Hasil Pengembaiian atas Ekuitas)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang
saham. baik saham biasa maupun saham preferen.
Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukar laba bersih
Berdasarkan uraian diatas, kerangka pikir dapat dirumuskan
[image:47.595.175.539.265.751.2]sebagai berikut :
Gambar 2.1 : Bagian Kerangka Berpikir
Gross Profit Margin
(X1)
ROA Pertumbuhan
(X2) Laba (Y)
ROE
(X3)
NPM
(X4)
2.4 Hipotesis
Hipotesis pada dasarnya adalah kesimpulan yang bersifat
sementara dan masih harus diuji kebenarannya. Berdasarkan pada
perumusan masalah, tujuan penelitian, dan landasan teori diatas maka
dapat disusun hipotesis sebagai berikut :
1. Diduga Gross Profit Margin, Return On Assets, Return On Equity dan
Net Profit Margin dapat memprediksi pertumbuhan laba secara
simultan.
2. Diduga Gross Profit Margin, Return On Assets, Return On Equity dan
Net Profit Margin dapat memprediksi pertumbuhan laba secara secara
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional digunakan untuk memberikan gambaran yang
lebih jelas pada suatu penelitian didasarkan pada judul, permasalahan dan
hipotesis yang diajukan, maka variabel-variabel yang dianalisis terdiri atas
variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
Gross Profit Margin (X1), Return On Assets(X2), Return On Equity (X3), Net
Profit Margin (X4) sedangkan variabel terikatnya adalah Pertumbuhan Laba
Perusahaan (Y).
Untuk mempermudah dalam melakukan pengukuran terhadap variabel
tersebut, maka lebih baik kita mengulas masing-masing variabel yang ada
dalama penelitian ini :
a. Variabel Bebas (X)
1. Gross Profit Margin atau gross margin rasio, yaitu rasio atau
pertimbangan antara gross profit (laba kotor) yang diperoleh
perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang
sama.
Sales – Cost of Good Sold Gross Profit Margin =
Skala yang digunakan skala rasio, sedangkan satuan pengukurannya
adalah prosentase.
2. Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur efektivitas kegiatan operasional manajemen dalam
mendayagunakan seluruh aktiva perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan bagi investor dan merupakan indikator keberhasilan
manajemen dalam menjalankan kegiatan operasionalnya Variabel ini
diukur dengan menggunakan skala rasio dan satuan pengukurannya
adalah persen (%).
Return On Assets dapat diformulasikan sebagai berikut:
Return On Assets 100%
Assets Total
Tax After Earning
× =
(Brigham dan Houston, 2006: 109)
3. Return On Equity (ROE), rasio ini memperlihatkan sejauh manakah
perusahaan mengelola modal sendiri (net equity) secara efektif,
mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan
pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan.
Pengukurannya dalam prosentase dan pengukurannya memakai skala
Net Income
ROE =
Net Equity
(Syafri, 2008 : 305)
4. Net Profit Margin (NPM)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukar laba bersih sesudah
pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan. Rasio ini dapat
dihitung dengan rumus, yaitu :
Earning After Tax
Net Profit Margin =
Sales (Munawir, 2007 : 99)
b. Variabel Terikat (Y)
Pertumbuhan laba (sebagai variabel Y) diproduksi dengan earning
before tax yang merupakan laba usaha sebelum dikurangi bunga modal
dan pajak. Dihitung dalam skala rasio dengan teknik perhitungan.
Laba n – Laba n-1
Pertumbuhan Laba = x 100 %
Laba n-1 (Munawir, 2007 : 99)
3.2 Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Sampel
3.2.1Populasi
Menurut Sumarsono (2000 : 44), populasi merupakan kelompok yang
memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakterisitik tertentu yang berbeda
dengan kelompok subyek / obyek yang lain, dan kelompok tersebut akan
dikenai generalisasi dari hasil penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan dari Perusahaan
Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.2.2Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan
karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itulah sebuah
sampel harus merupakan representatif dari sebuah populasi (Sumarsono,
2002 : 44).
3.2.3Teknik Penarikan Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan
karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itulah sebuah
sampel harus merupakan representatif dari sebuah populasi (Sumarsono,
2002 : 44).
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Menurut
Sumarsono (2002 : 52), purposive sampling adalah teknik penarikan sampel
khusus yang dimiliki oleh sampel tersebut yang merupakan representatif dari
populasi. Adapun kriteria pengambilan sampel ini adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan Rokok yang go public di Bursa Efek Indonesia.
b. Data laporan keuangan perusahaan Rokok yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia pada periode tahun 2005 sampai 2010..
c. Batas laporan keuangan menggunakan data yang berakhir pada tanggal
31 Desember 2010.
Peneliti tidak menggunakan data laporan keuangan perusahaan Rokok
pada periode 2011 karena pada saat pengambilan data, data periode tersebut
belum terbit.
Berdasarkan kriteria diatas, terdapat 3 perusahaan yang dijadikan
sampel. Perusahaan rokok yang listing di BEI dari tahun 2005 sampai 2010
(selama 5 tahun ) yaitu :
1. PT Gudang Garam Tbk
2. PT H.M Sampoerna Tbk
3. PT Bentoel Investama Tbk
3.3Teknik Pengumpulan Data
3.3.1Jenis Data
Jenis data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan data
sekunder. Peneliti menggunakan data dari PT Bursa Efek Indonesia. Data
sekender merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek
3.3.2Sumber Data
Sumber data berasal dari laporan keuangan perusahaan yang menjadi
obyek penelitian. Data laporan keuangan diperoleh dari PT Bursa Efek
Indonesia.
3.3.3Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara dokumentasi yaitu melihat,
mempelajari, mengutip catatan dari dokumen yang ada pada laporan
keuangan perusahaan Rokok yang go public di Bursa Efek Indonesia,
kemudian dilakukan rekapitulasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Data
yang digunakan berupa laporan keuangan mulai tahun 2005 sampai 2010
(selama 5 tahun).
3.4Teknik Analisis dan Uji Hipotesis
3.4.1 Teknik Analisis
3.4.1.1 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi
normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distibusi data
normal atau mendekati normal.
Pedoman dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi
data mengikuti distribusi normal adalah :
a. Jika dari nilai signfikansi (dari probabilitasnya) lebih kecil dari 5 %
b. Jika dari nilai signfikansi (dari probabilitasnya) lebih besar dari 5 %
maka distribusi adalah normal. (Sumarsono, 2004 : 43).
3.4.1.2 Uji Asumsi Klasik
Syarat suatu persamaan regresi linear adalah bersifat BLUE (Best
Linear Unbiased Estimator) artinya pengambilan keputusan melalui uji
hipotesis tidak boleh bias., untuk menghasilkan keputusan yang BLUE,
Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus dipenuhi
diantaranya 4 (empat) asumsi dasar (klasik) yaitu :
a. Uji normalitas
b. Uji autokolerasi.
c. Uji multikolinieritas.
d. Uji heterokedastisitas.
a. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam
sebuah model regresi variabel independen, variabel dependen dan
keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Apabila data
menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti diagonal, maka model
tersebut memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari
garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal maka model
regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Autokorelasi
Tujuan uji autokorelasi adalah untuk mengetahui apakah dalam
ini dengan periode tahun sebelumnya, untuk mengetahui apakah terjadi
autokorelasi atau tidak, dapat digunakan uji Durbin Watson. (Ghozali,
2006 : 95).
[image:56.595.151.516.229.532.2]Menurut Ghozali (2006 : 96), deteksi adanya autokorelasi adalah :
Tabel 3.1 Tabel Autokorelasi
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif
Tidak ada autokorelasi positif
Tidak ada autokorelasi negatif
Tidak ada autokorelasi negatif
Tidak ada autokorelasi positif,
atau negatif
Tolak
No Decision
Tolak
No decision
Tidak ditolak
0 < d < dl
dl ≤ d ≤ du
4 - dl < d < 4
4 – du ≤ d ≤ 4 – di
du < d < 4 - du
(Sumber : Ghozali (2006 :96))
c. Multikolinieritas
Tujuan uji multikolinieritas adalah menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas, karena dalam model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel
bebas. Untuk mendeteksi apakah terjadi multikolinieritas atau tidak,
dapat dilakukan uji multikolinieritas. (Ghozali, 2006 : 91).
Menurut Ghozali (2006 : 91), deteksi adanya multikolinieritas
adalah multikolinieritas dapat dilihat (1) nilai tolerance dan lawannya
setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel
independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel
dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya.
Tolerance mengukur nilai variabilitas variabel independen yang dipilih
yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai
tolerance yang rendah sama nilainya dengan VIF tinggi (karena VIF =
1 / tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan
adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan
nilai VIF > 10.
d. Heterokedastisitas
Tujuan uji heterokedastisitas adalah menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan
yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut
heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.
Uji yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya
heterokedastisitas adalah uji Glejser. Adapun langkah-langkah uji
Glejser :
a) Lakukanlah regresi keputusan = f (GPM, ROA, ROE, NPM)
b) Dapatkan variabel residual (Ut)
d) Regresikan variabel (AbsUt) sebagai variabel terikat dan variabel
kualitas GPM, ROA, ROE, NPM sebagai variabel bebas.
(Ghozali, 2001 : 72)
Apabila tidak satupun variabel bebas yang signifikan secara
statistic mempengaruhi variabel terikat (AbsUt) yang ditandai dengan
tingkat signifikan (sig) diatas 5%, maka model regresi tidak
mengandung adanya heterokedastisitas (Ghozali, 2001 : 73)
3.4.1.3 Teknik Analisis Linear Berganda
Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis dalam bentuk
regresi linier berganda dengan tiga variabel bebas dan satu variabel terikat
dengan rumus sebagai berikut :
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 ++ b4X4 + e
(Sumber : Suharyadi, 2004: 508)
Keterangan :
Y = Pertumbuhan Laba
X1 = Gross Profit Margin (GPM)
X2 = Return On Assets (ROA)
X3 = Return On Equity (ROE)
X4 = Net Profit Margin (NPM)
b1, b2, b3, b4 = Koefisien regresi
e = Standart Error
3.4.2 Uji Hipotesis
3.4.2.1 Uji F
Uji statistik F digunakan untuk menguji apakah semua variabel
independen mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan)
terhadap variabel dependen. Prosedur dilakukannya uji F adalah sebagai
berikut :
a. H0 : b1 = b2 = b3 = b4= 0 tidak terdapat pengaruh antara X1, X2,
X3 X4 terhadap pertumbuhan laba.
b. Dalam penelitian ini dugunakan tingkat signifikansi 0,05 (5%)
dengan derajat bebas (n – k - 1) dimana n = jumlah pengamatan
dan k = jumlah variabel independen.
Gambar 3.1 Kurva Uji F
F tabel Sumber : Sugiyono, 2008
d. Dengan F hitung sebesar :
Fhit=
Keterangan :
R2 = koefisien korelasi berganda K = banyaknya variabel bebas
e. Menarik kesimpulan H0 ditolak :
-. Jika F hit > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti X1,X2,
X3 dan X4memiliki pengaruh signifikan secara simultan terhadap Y. Daerah
penerimaan Ho
-. Jika F hit ≤ F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti
X1,X2,X3 dan X4 tidak memiliki pengaruh signifikan secara simultan
terhadap Y.
3.4.2.2 Uji T
Uji t dilakukan untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen
terhadap variabel dependen secara individu. Untuk mengetahui pengaruh
secara parsial antara variabel-variabel bebas dengan variabel terikat
digunakan uji t dengan kriteria sebagai berikut :
a. H0 : b1 = b2 = b3 = b4= 0 tidak terdapat pengaruh antara X1,X2,X3
dan X4 terhadap pertumbuhan laba.
b. H1 : b1≠ b2≠ b3≠ b4≠0 terdapat pengaruh antara X1,X2,X3 dan X4
terhadap pertumbuhan laba.
Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 0,05 (5%)
dengan derajat bebas (n – k - 1), dimana n = jumlah pengamatan
dan k = jumlah variabel.
Gambar 3.2
Kurva Uji T
Daerah penerimaan Ho
-t table t table
Sumber : Sugiyono, 2008
d. Perhitungan nilai t dengan menggunakan uji thitung dengan rumus :
thit=
Keterangan :
Bi = Koefisien regresi
S ( bi ) = Standart error
e. Menarik kesimpulan H0 diterima atau H0 ditolak :
-. Jika t hit > t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti
X1,X2,X3 dan X4 memiliki pengaruh signifikan secara parsial
terhadap Y.
Daerah penolakan Ho
-. Jika t hit ≤ t tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti
X1,X2,X3 dan X4 tidak memiliki pengaruh signifikan secara parsial
terhadap Y.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1 PT Gudang Garam Tbk
Perseroan semula bernama PT Perusahaan Rokok Tjap “Gudang
Garam” Kediri,didirikan dengan akte Suroso SH, wakil notaries yang
sementara di Kediri, tanggal 30 Juni 1971 No. 10, diubah dengan akte-akte
ini disetujui oleh Mentri Kehakiman dengan No. 31/1971 dan No 32/1971
tanggal 26 November 1971, dan diumumkan dalam tambahan No. 586 pada
Berita Negara No. 104 tanggal 28 Desember 1971. Anggaran dasar
Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan terakhir
dalam rangka penyesuaian dengan Undang- Undang No. 1 tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas dilakukan dengan akte Wachid Hasyim SH,
notaris Surabaya, tanggal 19 Juni 1997 No. 58 yang antara lain perubahan
nama Perseroan menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam Tbk
(PT Gudang Garam Tbk). Akte ini disetujui oleh Menteri Kehakiman
dengan No. C2.1873 HT.01.04.th.98 tanggal 19 Maret 1998, didaftarkan
dengan No. TDP 13111300014 pada Kantor Pendaftaran Perusahaan Kota
Madya Kediri, agenda No.17/BH.13.11/VI/1998 tanggal 4 Juni 1998, dan
diumumkan dalam tambahan No. 4426 pada Berita Negara No. 62 tanggal 4
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasarnya, Perseroan bergerak
dibidang Industri Rokok dan yang terkait dengan industri rokok. Perseroan
merupakan kelanjutan dari perusahaan perseorangan yang didirikan tahun
1958. Pada tahun 1969 berubah status menjadi Firma dan pada tahun 1971
menjadi Perseroan Terbata