• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disusun Oleh: Nurjanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Disusun Oleh: Nurjanah"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON PENGKAJI AL-QUR’AN ATAS PEMBACAAN SURAH MARYAM AYAT 15 DAN 33 PADA PERAYAAN HARI KELAHIRAN DI DESA SUKAMAJU, SERANG-BANTEN

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana (S.Ag)

Disusun Oleh:

Nurjanah 11150340000040

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020

(2)

RESPON PENGKAJI AL-QUR’AN ATAS PEMBACAAN SURAH MARYAM AYAT 15 DAN 33 PADA PERAYAAN HARI KELAHIRAN DI DESA SUKAMAJU, SERANG-BANTEN

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana (S.Ag)

Oleh:

Nurjanah NIM: 11150340000040

Pembimbing :

Ala’i Nadjib, M.A NIP: 197112052005012004

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H/ 2020 M

(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Nurjanah.

Respon Pengkaji Al-Qur’an Atas Pembacaan Surah Maryam Ayat 15 Dan 33 Pada Perayaan Hari Kelahiran Di Desa Sukamaju, Serang- Banten. Skripsi

Perayaan hari kelahiran memunculkan berbagai respon serta cara pengkaji Al-Qur’an dalam merayakan hari kelahiran ditengah-tengah perayaan dalam hal yang paling lumrah pada saat ini. fokus penelitian ini adalah bagaiamana respon pengkaji Al-Qur’an terhadap surah Maryam ayat 33 yang ada di dalam rangkaian hari keselamatan kelahiran? Dan bagaimana pengkaji Al-Qur’an terhadap perbedaan pendapat mengenai perayaan hari kelahiran?

Penelitian ini termasuk kategori penelitian lapangan (field reseach), dengan menggunakan metode kualitatif, tehnik pengumpulan datanya melakukan observasi fenomena-fenomena yang terjadi, wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada obyek yang diteliti, dokumentasi. Penulis memilih metode ini bertujuan untuk mendapat keterangan yang lebih rinci dan lengkap dari pengkaji Al- Qur’an secara langsung.

Hasil dalam penulisan ini yaitu dalam respon surah Maryam ayat 15 dan 33 pengkaji Al-Qur’an sepakat akan maknanya yaitu tiga tempat keselamatan, tidak ada bahasan lain dalam kandungan ayat tersebut. Oleh karena itu pengkaji Al-Qur’an menggunakan pemahaman tersebut sebagai doa dalam perayaan hari kelahiran, selain itu merayakan dengan saling berbagi kebahagiaan atau rezeki, berpuasa pada saat perayaan hari kelahiran.

Kata Kunci: Hari Kelahiran, Surah Maryam 15 dan 33.

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah swt, Tuhan semesta alam, yang tiada tempat bergantung kecuali pada kekuasaan-Nya, tiada tempat bernaung kecuali rahmat-Nya, dan tiada tempat berserah kecuali pada ketentuan- Nya. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw yang dengan lisannya yang suci telah mengajarkan kebenaran Islam kepada seluruh umat manusia, sehinga dengan izin dan kuasa-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang sangat sederhana ini. merupakan suatu anugrah terindah yang dirasakan penulis saat ini. semoga apa yang penulis kerjakan ini, bermanfaat khususnya bagi penulis.

Menyadari bahwa tulisan ini tidak hadir begitu saja namun telah banyak yang ikut berkontribusi dalam penulisan ini, maka perlu kiranya penulis menyampaikan rasa terima kasih secara khusus. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan menjadi amal tersendiri untuk mengumpulkan kita bersama seluruh umat Muhammad di sisi Allah nanti, Amin. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis Lc, M.a, selaku rektot Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Yusuf Rahman, M.A, selaku dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Eva Nugraha, M.A, selaku kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Bapak Fahrizal Mahdi, Lc. MIRK, selaku sekertaris jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

4. Dosen pembimbing skripsi penulis, ibu Ala’i Nadjib, M.A, yang senantiasa membimbing mengarahkan, dan memberikan motivasi penulis dan melakukan penelitian sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

(7)

5. Dosen penasehat akademik bapak Dr. Ahzami Samiun Jazuli, M.A, (Alm) yang telah memberikan masukan kepada penulis selama studi di fakultas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

6. Seluruh Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang telah mentransfer ilmu pengetahuan serta pengalaman berharganya kepada penulis. Semoga amal kebaikan Bapak dan Ibu Dosen dibalas dengan pahala yang tidak terhingga.

Aamiin

7. Kepada keluarga yang senantiasa mendukung secara moral maupun materil. Teruntuk Abi, dan mamah yang tidak henti- hentinya memberikan doa, kasih sayang, support dan nasihat- nasihat kepada penulis agar menjadi orang yang bertaqwa dihadapan Allah SWT, menjadi orang yang bermanfaat, dan semjadi orang yang punya target sukses dunia dan akhirat.

Perjuangan Abi dan mamah selama ini, telah membulatkan tekad anakmu untuk selalu belajar dan belajar, sehingga kelak anakmu ini menjadi pribadi yang salehah, berguna bagi keluarga, agama dan bangsa. Mohon maaf karena belum bisa memberikan kebahagiaan, masih terus merepotkan kalian, dan juga masih banyak kekurangan yang belum terwujudkan. Terimakasih karena menjaga anakmu sampai saat ini. Semoga Abi dan Mamah diberikan kesehatan, berlimpah rezeki, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin

8. Kepada Teteh Adah dan Malik terima kasih atas doa dan semangat dari kalian, semoga Allah selalu memberkahi keberkahan dan kebahagiaan di setiap waktu. Aamiin

(8)

9. Teruntuk Laely dan Misyka yang sudah menemani penulis dalam satu ruangan yang bisa menjadi teman, sahabat, maupun orangtua yang saling mensupport satu sama lain. semoga teman satu ruanganku ini menjadi teman sampai akhir hayat.

10. Teruntuk sahabatku di Ushuluddin Ishma, Alida, dan Aisyah terima kasih atas suka dan duka yang telah kalian berikan. Semoga kita menjadi sahabat for ever.

11. Terima kasih kepada abi Azzam yang telah mensupport segala kegiatan janah dalam urusah keseharian maupun dibidang bisnis, semoga engkau selalu diberikan kesuksesan dan keberkahan.

12. Terimakasih untuk teman-teman Az-Zahir yang sampai saat ini masih bisa saling bersilaturrahim, semoga kalian semua diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

13. Dan terima kasih kepada seluruh teman-teman ushuluddin angkatan 2015 yang belum bisa saya sebutkan satu-persatu di dalam skripsi ini. semoga kalian semua diberikan kemudahan dalam segala urusan dan diberikan kebahagiaan. Aamiin

(9)

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam skripsi ini berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi yang terdapat dalam buku Pedoman Akademik Program Strata 1 Tahun 2017 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

a. Padanan Aksara

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

ا Tidak dilambangkan

ب B Be

ت T Te

ث Ts te dan es

ج J Je

ح h dengan garis bawah

خ Kh ka dan ha

د D De

ذ Dz de dan zet

ر R Er

ز Z Zet

س S Es

ش Sy es da ye

ص S es dengan garis di bawah

ض de dengan garis di bawah

ط te dengan garis di bawah

ظ zet dengan garis di bawah

ع koma terbali di atas hadap kanan

غ Gh ge da ha

(10)

ف F Ef

ق Q Ki

ك K Ka

ل L El

م M Em

ن N En

و W We

ه H Ha

ء ՚ Apostrof

ي Y Ye

b. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti dalam bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:

Vokal tunggal Vokal panjang Vokal rangkap Fathah : a

أ

: â

ْ ى...´

: ai

Kasrah : i

ى

: î

ْ و....´

: au

Dhammah : u

و

: û

Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي َ Ai a dan i

و َ Au a dan i

(11)

c. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang (mad), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

آى Â a dengan topi di atas

يِى Î i dengan topi di atas

وُى Û u dengan topi di atas

huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Contoh: al-rijal, bukan ar-rijal, al-diwân bukan ad-diwân.

d. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah atau tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda ( َ), dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi syaddah itu. Akan tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruh-huruf syamsiyyah. Misalnya, kata ةرور ضلا tidak ditulis aḏ- darûrah melainkan al-ḏarûrah, demikian seterusnya.

e. Ta Marbûṯah

Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbûṯah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/ (lihat contoh 1 di bawah ini). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbûṯah tersebut diikuti oleh datkata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Namun, jika huruf ta marbûṯah diikuti kata benda), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).

No Tanda Vokal Latin Keterangan

1 ةقيرط ṯarîqah

(12)

2 ة يملاسلإا ةعماجلا al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah

3 دوجولا ةدحو waẖdat al-wujûd

f. Huruf Kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), antara lain untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid Al- Ghazâlî bukan Abû Hâmid al-Ghazâlî, al-Kindi bukan Al-Kindi.

Beberapa ketentuan lain dari EBI sebetulnya juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold). Jika menurut EBI, judul buku itu ditulis dengan cetak miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya, demikian seterusnya.

Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal dari dunia nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-Palimbani, tidak ‘Abd al-Samad al-Palimbânî; Nuruddin alRaniri, tidak Nûr al-Dîn al-Rânîrî.

g. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’l) , kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara atas kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab, dengan berpedoman pada ketentuan di atas.

Kata Arab Alih Aksara

(13)

ذاتسلأا بهذ dzahaba al-ustâdzu

رجلأا تبث tsabata al-ajru

ةكرحلا

ة يرصعلا al-ẖarakah al-‘asriyyah

الله لاإ هلإ لا نا دهشأ asyhadu an lâ ilâha illâ Allâh حلاصلا كلم انلاوم maulâna Malik al-sâliẖ

الله مكرثؤي yu’atstsirukum Allâh ةيلقعلا رهاظملا Al-maẕâhir al-‘aqliyyah

Penulisan nama orang harus sesuai dengan tulisan nama diri mereka. Nama orang berbahasa Arab tetapi bukan asli orang Arab tidak perlu dialihaksarakan. Contoh: Nurcholish Madjid, bukan Nûr Khâlis Majîd; Mohamad Roem, bukan Muhammad Rûm; Fazlur Rahman, bukan Fadl al-Rahmân.

(14)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

1.Pembatasan Masalah ... 9

2. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

1. Tujuan Penelitian ... 9

2. Manfaat Penelitian ... 10

D. Tinjauan Pustaka ... 11

E. Metodelogi Penelitian ... 14

1. Waktu dan tempat penelitian ... 15

2. Sumber data ... 15

3. Teknik pengumpulan data ... 16

4. Analisis data ... 18

F. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MERAYAKAN HARI KELAHIRAN DALAM ISLAM ... 21

A. Perayaan Hari Kelahiran Sebagai Bagian Dari Living Qur’an ... 21

B. Hari Kelahiran Dalam Tradisi Masyarakat Muslim ... 25

C. Ayat Al-Qur’an Mengenai Hari Kelahiran ... 31

D. Perayaan Hari Kelahiran Dalam Fenomena Living Qur’an ... 36

BAB III PROFIL LOKASI PENELITIAN ... 37

(15)

A. Sekilas Gambaran Umum Desa Sukamaju ... 37

1. Sejarah Singkat Desa Sukamaju ... 39

2. Letak Georafis Desa Sukamaju ... 49

3. Jumlah Penduduk ... 40

4. Tingkat dan Jumlah pendidikan ... 40

5. Jumlah Pendidikan ... 41

6. Keagamaan ... 42

BAB IV RESPON PARA PENGKAJI AL-QUR’AN TENTANG SURAH MARYAM AYAT 15 DAN 33 HARI KELAHIRAN DI DESA SUKAMAJU ... 47

A. Surah Maryam Ayat 15 Dan 33 Dalam Pandangan Al-Qur’an ... 47

B. Pelaksanaan Pengkaji Al-Qur’an dalam Perayaan Hari Kelahiran ... 60

C. Tujuan dalam Peraayaan Hari Kelahiran ... 66

D. Hukum Merayakan Hari Kelahiran ... 71

BAB V PENUTUP ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran-saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85 LAMPIRAN

1. Data pengkaji Al-Qur’an (ustadz, ustadzah, sarjana) desa sukamaju, kecamatan kibin, kabupaten serang.

2. Pedoman wawancara 3. Dokumentasi

(16)
(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian Allah menjadikan tempat tinggal di mana manusia pernah tinggal di dalamnya yaitu rahim kaum wanita,1 pada saat bayi genap 120 hari. Saat itulah Allah meniupkan ruh, diberikan pendengaran, penglihatan, dan perasaan kepada jabang bayi tersebut.2. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

َش َنوُمَلْعَ ت َلَ ْمُكِتاَهَّمُأ ِنوُطُب ْنِم ْمُكَجَرْخَأ ُهَّللاَو َراَصْبَْلْاَو َعْمَّسلا ُمُكَل َلَعَجَو اًئْي

َةَدِئْفَْلْاَو َنوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل ۙ

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (al-Nahl 16: 78)3

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT mengeluarkan kalian dari perut ibu sesudah masa kehamilan sedang kalian tidak mengetahui apapun yang ada di sekitar kalian, kemudia Allah menjadikan bagi kalian sarana-sarana pengetahuan berupa pendengeran, penglihatan, dan hati.

Setelah manusia lahir ke dunia, wajar saja bila manusia akan merayakan hari kelahirannya sebagai sejarah yang tak akan terlupakan dan selalu dikenang.

Hari kelahiran atau yang akrab disebut hari ulang tahun, maulid, milad, atau sebutan lainnya adalah hal yang sudah sangat lumrah bagi masyarakat. Bahkan, sebagian masyarakat sudah lama mentradisikan

1 Kementrian agama RI, Tafsir Ilmi Penciptaan Manusia dalam Perspektif al- Quran dan Sains, 22.

2 Amin Sumawijaya, biarkan Al-Qur’an Menjawab, cet. 1 (Jakarta: Zaman, 2013), 207.

3 Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Qur’an Hafalan dan Terjemahan (Jakarta: al-Mahira, 2010), 275.

(18)

kegiatan itu dari waktu ke waktu. Dalam artikel “Birthday Traditions from Around the World” yang dimuat dalam northseattle.edu yang diambil dari skripsi Ghina Handayani dikatakan bahwa tradisi pesta hari kelahiran dilakukan pertama kali oleh orang-orang Eropa (Jerman). Tujuan perayaan ketika itu adalah untuk melindungi orang yang berulang tahun dari ancaman roh-roh jahat. Masyarakat Eropa percaya bahwa roh-roh jahat sangat senang dan tertarik pada orang yang sedang berulang tahun.4 Sehingga untuk melindungi mereka dari bahaya, orang yang berulang tahun akan mengundang teman-teman, keluarga dan kerabat terdekat untuk memberikan doa yang baik serta ucapan kepada orang yang berulang tahun.

Seiring berkembangnya zaman, banyak sekali kegiatan di dalam perayaan ini yang menjadikan mereka sebagai kebiasaan yang berhubungan dengan perayaan hari kelahiran seperti adanya kue dan tiup lilin. Kue dan tiup lilin berasal dari orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan, sehingga yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan doa mereka ke surga.5 Dalam Islam sendiri, ada tradisi milad. Yaitu Maulid Nabi, Maulid sendiri baru dilakukan jauh hari setelah nabi wafat. Peringatan maulid ini dilakukan pada abad pertengahan ke-6 Hijriah yang dikembangkan oleh penguasa Ibril dan pertama kali di lakukakan pada masa dinasti Fatimi6 tetapi maulid identik dengan kegiatan

4 Gina Handayani, “Merayakan Hari Ulang Tahun (Studi pengamalan hadis tentang hari lahir masyarakat kampung Pasir Konci kecamatan Cikarang Selatan kabupaten Bekasi)” (Skripsi S1.,UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).

5 Fathurrahman, Perayaan Ulang tahun Dalam Perspektif Islam, Universitas negeri Malang, 6.

6 Zunly Nadia, “Tradisi Maulid Pada Masyarakat Milangi Yogyakarta,” STAIN Jember. ESENSIA Vol XII No. 1 (Januari 2011): 368.

(19)

doa-doa dan shalawat atas Nabi7 Ada juga perayaan kelahiran Isa yaitu tradisi Natal dalam Kristen yaitu dengan cara berpesta.8 Muslim ikut serta dalam berpesta bukanlah fenomena yang baru, orang Kristen di Cueta membuat pesta perayaan yang luar biasa, sehingga membuat orang muslim yang berada di kota itu tertarik pada perayaan tersebut, sama halnya dengan orang muslim di Andalus yang tertarik pada perayaan Natal.9 Namun jika dilihat dari kehidupan saat ini dan kebudayaan yang sekarang sepertinya perayaan ulang tahun sudah menjadi kebiasaan yang bukan hanya dilakukan di Eropa saja, atau raja-raja tetapi hampir oleh setiap orang. Maka perayaan memunculkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Adapun ulama yang melarangnya yaitu Muẖammad ibn Ṣalih al-‘Utsaimin, beliau adalah seorang ulama kerajaan Saudi Arab yang berhaluan Wahabi dan perhah menjadi ketua Hai’ah Kibarul Ulama.

Menurutnya Setiap perkara yang dijadikan id atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bidah. Dalil yang menunjukkan bid’ahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahwa pembuat syariat ini, yaitu Allah yang mewahyukannya kepada nabi-Nya Muhammad SAW. telah menetapkan acara akikah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu. Sedangkan kegiatan mereka merayakan hari hari tersebut yang berulang setiap pekan atau setiap tahun berarti menyamakannya dengan hari raya Islam. Padahal tidak ada dalam Islam kecuali tiga hari raya atau id yaitu Idul fitri, Idul Adha, dan ‘Idul Usbû’ (hari raya tiap pekan), yaitu hari Jumat. Ini bukanlah perkara adat kebiasaan belaka, karena dilakukan

7 Syukriadi, “Tradisi Membaca Shlawat Dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Oleh Muslim India Padang Persfektif Living Hadis” (Skripsi S1., Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, 2018), 34.

8 Abdul Manan, “Diskusi Fatwa Ulama Tentang Perayaan Natal.” Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.. MIQAT vol.XL, No.1 (Januari-Juni 2016): 26.

9 A. Ljamai, Ibn Hazm et lla Yolemigue Islamo-Chretienne dans I’historiel I’Islam, 103

(20)

berulang ulang. Oleh karena itu, tatkala Nabi Saw. tiba di kota Madinah dan mendapati kaum Ansar merayakan dua id, beliau bersabda: “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Adha dan

‘Idul Fitri.” (HR. An-Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syu’aib Al-Arnauth).

Padahal kedua hari yang mereka rayakan itu merupakan perkara yang biasa bagi mereka.10 Perayaan selain dari kedua itu yaitu perayaan keagamaan mereka, karena perayaan ini merupakan bagian dari kepercayaan mereka, pada dasarnya telah dibatalkan oleh agama Islam.11 Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat menjadi orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali ‘Imran 3: 85). Sebagian ulama yang memperbolehkan untuk mengucapkan serta merayakannya dan adapula ulama yang tidak memperbolehkan mengucapkan serta merayakan hari kelahiran tersebut. Adapun ulama yang memperbolehkannya adalah seorang cendikiawan muslim dan juga mufasir Indonesia yang mempunyai banyak karya, salah satu karyanya tafsir “al-Misbah” yaitu bernama Prof.

Dr. H. Muhammad Qurais Shihab, M.A. Menurutnya mengucapkan selamat ulang tahun, merayakannya itu sah-sah saja dan tidak dilarang. Ia bahkan mencontohkan jika Nabi Muhammad SAW berpuasa di hari Senin lantaran hari tersebut merupakan hari kelahirannya.12 Tak hanya membolehkan mengucapkan ulang tahun dan merayakannya, Quraish Shihab juga membolehkan masyarakat merayakan dan mengucapkan

10 Dunia Islam.com, “Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun, 2018.”

Diakses 23 Maret 2019. https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-mengucapkan- selamat-ulang-tahun. /2019/ 03- Hukum

11 Abdul Manan, “Diskusi Fatwa Ulama, 32.

12 Gina Handayani, “Merayakan Hari Ulang Tahun,” 66.

(21)

selamat hari ibu. Menurut Quraish Shibab, merayakan ulang tahun sebagai bentuk syukur terhadap kelahiran yang diberikan Allah SWT tidaklah dilarang. Demikian juga dengan memberikan hadiah kepada ibu kita.

Meski demikian, tetap ada batasan batasan dalam hal tersebut, seperti tidak boleh keluar dari substansi itu. Misalnya merayakan ulang tahun atau hari ibu dengan berlebihan, minum minuman keras, dan hal hal negatif yang dilarang oleh agama. Quraish Shihab juga mengatakan apabila ajaran islam itu diturunkan untuk memudahkan urusan manusia. Dan meski diturunkan di Makkah dan Madinah, bukan berarti islam hanya cocok untuk masyarakat di sana saja, serta pada zaman itu saja. Tuntunan islam mampu beradaptasi dengan budaya-budaya yang sudah ada di wilayah lain. Quraish Shihab juga mengatakan apabila orang orang mencoba untuk sama persis dengan ajaran nabi, berarti orang tersebut terlambat lahir.

Sementara orang orang yang dengan mudahnya melarang ini itu dengan alasan agama tanpa melihat kebenarannya, sebagai orang orang yang cenderung mengedepankan emosionalnya. Hal ini berdasarkan argumen- argumen yang menguatkannya, perayaan hari ulang tahun dibolehkan karena tidak adanya naṣ yang secara langsung melarangnya. Selama dalam perayaan tersebut tidak ada perilaku yang bertentangan dengan aturan Islam, maka hal ini diperbolehkan sebagai tanda syukur kita atas nikmat Allah SWT.13

Perbedaan-perbedaan itu sendiri adalah kegiatan yang dilarang.

Acara perayaan hari kelahiran merupakan kebiasaan orang barat yang suka berpoya-poya tentunya yang bukan beragama Islam. Orang muslim dilarang untuk mengikutinya karena dapat mengurangi kadar keimanannya

13Gayanti, Perayaan Ulang Tahun, 2017.” Diakses tanggal 21 Maret 2019.

http://Bahan/Ultah/makalah/agama/tentang/perayaan/ulang/tahun.htm. /2019/ 03- Perayaan

(22)

Kiranya para ulama itu memandang bahwa perayaan ulang tahun itu identik dengan perilaku orang-orang kafir. Karena seringkali acara ulang tahun disertai dengan banyak kemaksiatan. Seperti minuman keras, pesta musik, joget, dansa, campur baur laki-laki dan wanita.

Maka terdapat beberapa masyarakat di desa Sukamaju masih mempermasalahkan mengenai ucapan beserta merayakan hari kelahiran atau yang disebut ulang tahun, salah satunya adalah bapak Kabir yang berpendapat bahwa “Dari zaman Nabi Muhammad tidak pernah adanya perayaan hari kelahiran, perayaan itu pertama kali dilakukan oleh orang- orang kafir, jadi saya tidak mau mengikuti seperti orang kafir itu, ulang tahun itu menimbulkan banyak mudaratnya, seperti buang-buang uang”14 sesuai dengan ayat suci Al-Qur’an sebagai berikut :

ِنيِد َيِلَو ْمُكُنيِد ْمُكَل

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS. Al-Kafirun 109:

6). 15

Dan adapula yang berpendapat bahwa, mengucapkan serta merayakan hari kelahiran tersebut diperbolehkan, yaitu bapak H. Nabhani, beliau adalah seorang sarjana lulusan dari fakultas keguruan IAIN Jakarta, menurutnya “Saya selalu merayakan hari kelahiran anak-anak saya, selain hari ulang tahun saya juga merayakan maulid atau hari-hari lainnya.

14 Kabir (Masyarakat desa Sukamaju), diwawancarai oleh Nurjanah, Serang, 17 April 2019, Banten.

15 Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Qur’an Hafalan dan Terjemahan, 603.

(23)

Karena bagi saya semua itu ucapan rasa syukur, dan berbagi kebahagiaan untuk orang lain”16

Terdapat dalil yang menjelaskan Nabi berpuasa pada hari Senin yakni hari kelahiran beliau sebagai mana berikut ini :

ُهْنَع ُهَّللا َيِضَر َةَداَتَ ق ْيِبَا ْنَع ِمْوَ ي ِمْوَص ْنَع َلِئُس َمَّلَسَو ِهيَلَع للها ىَّلَص ِللها َلْوُسَر َّنَا

َلَاقَف ؟ ِنْيَ نْ ث ِلَْا ِهْيِف َّيَلَع َلزْنٌا ْوَا ُتْثِعُب ٌمْوَ يَو ِهْيِف ُتْدِلُو ٌمْوَ ي َكِل َذا

Artinya: “Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Senin, maka beliau menjawab: “Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus, atau hari mulai diturunkan wahyu”. (HR. Muslim).17

Selanjutnya terdapat firman Allah yang mengucapkan atas keselamatan untuk Nabi Yahya dan Isa. Dalam firmannya:

ْ بُ ي َمْوَ يَو ُتوُمَي َمْوَ يَو َدِلُو َمْوَ ي ِهْيَلَع ٌم َلََسَو اًّيَح ُثَع

Artinya: “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam 19:

15)18

اًّيَح ُثَعْ بُأ َمْوَ يَو ُتوُمَأ َمْوَ يَو ُتْدِلُو َمْوَ ي َّيَلَع ُم َلََّسلاَو

Artinya: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam 19: 33)19

16 Drs. H. Nabhani, (Tokoh Agama dan Sarjana S.Ag IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta), diwawancarai oleh Nurjanah, Serang, 16 April 2019, Banten.

17 al-Mundhirī, Ringkasan Hadis Shahih Muslim, Bab Puasa (Jakarta: Pustaka Amani, 2003), 340.

18 Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Qur’an Hafalan dan Terjemahan, 306.

19 Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Qur’an Hafalan dan Terjemahan, 307.

(24)

Ayat di atas dipahami masyarakat desa sukamaju mengenai ucapan

“Selamat” bila datang dari manusia berarti doa, dan bila datang dari Allah berarti bahwa Allah akan memberi surga. Dan karena ucapan di atas datang dari Nabi Isa sendiri untuk dirinya. Maka hal itu mengandung kepastian bahwa beliau memperoleh keselamatan dari lahir sampai meninggal, dan diakhirat nanti mendapat surga.20 Sebab dengan itulah masyarakat melihat ayat ini dari sisi praktisnya. Dengan adanya doa meminta selamat kepada Allah maka semakin kita terlindungi oleh-Nya.

Kebiasaan itulah yang bisa dijadikan sebagai Living Qur’an. Karena pada kebiasaan mereka dalam kegiatan perayaan hari kelahiran secara langsung memfumgsikan salah satu ayat dalam Al-Qur’an melalui doa, shalawat, tasyakuran. Dari sini penulis tertarik untuk meneliti mengenai perayaan hari kelahiran serta menulusuri secara langsung melalui metode penelitian lapangan dalam rangka penyusunan skripsi yang berjudul: “RESPON PENGKAJI AL-QUR’AN ATAS PEMBACAAN SURAH MARYAM AYAT 15 DAN 33 PADA PERAYAAN HARI KELAHIRAN DI DESA SUKAMAJU, SERANG-BANTEN.”

Penelitia ini akan melibatkan Ustadz, Ustadzah, dan Sarjana muslim di desa Sukamaju.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan judul yang akan dibahas dalam tulisan ini, berkaitan dengan:

20 Prof. Dr. Salman Harun, Mutiara Al-Qur’an, cet. 1 (Jakarta: PT. Qaf Media, 2016), 183-184.

(25)

1. Adanya perbedaan pandangan mengenai boleh atau tidak bolehnya perayaan hari kelahiran di desa Sukamaju, kecamatan Kibin, Serang.

2. Terdapat kontroversi ulama dalam hal perayaaan hari kelahiran.

3. Percampuran budaya keislaman dengan tradisi-tradisi masyarakat ikut mengubah atau memodifikasi serta menerapkan budaya perayaan hari kelahiran pada masyarakat Islam di desa Sukamaju, kecamatan Kibin, Serang.

2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi masalah tersebut, maka untuk lebih memperjelas dan terarah maka diberikannya batasan masalah yang sesuai dengan judul yang ada. Penulis membahas fokus masalah yang diteliti adalah “Melihat respon pengkaji kajian Al-Qur’an (Ustadz, Ustadz dan Sarjana) pada surah Maryam ayat 15 dan 33 mengenai hari kelahiran.”

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana respon pengkaji Al-Qur’an (Ustadz, Ustadzah, dan Sarjana) di desa Sukamaju, kecamatan Kibin, kabupaten Serang mengenai surah Maryam ayat 15 dan 33.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti adalah:

(26)

a. Untuk mengetahui bagaimana respon pengkaji Al-Qur’an (Ustadz, Ustadzah dan Sarjana muslim) di desa Sukamju, kecamatan Kibin, kabupaten Serang terhadap surah Maryam ayat 15 dan 33.

b. Mengetahui apa yang menjadi latar belakang masyarakat desa Sukamaju dalam merayakan hari kelahirannya.

c. Dan selanjutnya adalah untuk menambah wawasan keilmuan penulis yang berkaitan dengan hari kelahiran.

2. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat yaitu:

1. Bagi Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan serta kebijaksanaan kelak. Terutama untuk memberikan tambahan wawasan dan informasi serta tempat untuk mengaspirasikan saran yang membangun dan bermanfaat bagi fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bagi Penulis

Dapat memberikan pengetahuan yang cukup spesifik tentang perayaan hari kelahiran.

3. Bagi Pengkaji Al-Qur’an

Dari hasil penelitian ini dapat memberikan ilmu yang lebih luas lagi, meningkatkan pemahaman dalam mengkaji Al-Qur’an, serta sebagai motivasi untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Allah SWT.

4. Bagi masyarakat desa

(27)

diharaapkan berkurangnya permasalahan mengenai perayaan hari kelahiran dan dari hasil penelitian ini bermanfaat.

5. Bagi peneliti lain

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan untuk rujukan dalam penelitian yang akan dilakukan.

D. Tinjauan Pustaka

Permasalahan seputar hari kelahiran merupakan permasalahan yang selalu menarik untuk dikaji dan diperbincangkan karena menyangkut pada tradisi masyarakat yang dilestarikan. Penulis menemukan beberapa karya yang dapat dijadikan sebagai pembanding karena memiliki kemiripan dengan penelitian ini. Beberapa karya tersebut adalah:

Karya pertama adalah sebuah karya ilmiah berbentuk Jurnal yang ditulis oleh Banny Adam Wibowo Universitas Brawijaya. Jurnal tersebut berjudul Perayaan Ulang Tahun Di Mc Donald’s Sebagai Pola Konsumtif Orang Tua (Studi deskriptif eksploratif pada orang tua yang merayakan ulang tahun anak di Mc Donald’s) Dalam Jurnalnya ia membahas perubahan budaya masyarakat dalam merayakan hari ulang tahun.21

Karya yang kedua adalah Skripsi yang ditulis oleh Gina Handayani. Skripsi tersebut berjudul Merayakan Hari Ulang Tahun (Studi pengamalan hadis tentang hari lahir masyarakat kampung Pasir Konci kecamatan Cikarang Selatan kabupaten Bekasi) Dalam skripsinya ia membahas hadis ه يف تد لو مو ي ك لاد لا ق ني نثلَا مو ي مو ص ن ع لئ سو yang artinya: “Dan ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Ia adalah hari

21 Banny Adam Wibowo, “Perayaan Ulang Tahun Mc Donald’s Sebagai Pola Konsumtif Orang tua (Studi deskriptif eksploratif pada orang tua yang merayakan ulang tahun anak di Mc Donald’s)”. Jurnal Universitas Brawijaya.

(28)

kelahiranku” Yang tujuannya adalah untuk mengetahui apakah masyarakat di kampung tersebut memahami akan kandungan hadis ini dan apakah mereka mengetahui hukum Islam merayakan hari ulang tahun.22

Karya ketiga yang ditulis oleh Irwani. Skripsi tersebut berjudul kelahiran Nabi Isa A.S Dalam Tinjauan Al-Qur’an. Dalam skripsi ini ia mencoba memaparkan kembali tentang tapak tilas dalam kelahiran Nabi Isa di dalam Al-Qur’an,23 yang khususnya pada surah maryam.

Karya keempat yang ditulis oleh Nana Khairul Bariyah tentang Studi Hadis-Hadis Puasa Sunnah Senin Kamis (Kajian tematik hadis.) Dalam skripsinya ia mengumpulkan hadis-hadis tentang anjuran puasa senin kamis24

Karya keliama yang ditulis oleh Elliya Narullitha tentang Konsep Pendidikan Karakter Dalam Surah Maryam (Kajian kritis surah maryam ayat 12-20). Dalam skripsinya ia memaparkan dalam Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang konsep pendidikan karakter seperti halnya pada surah Maryam.25 Di dalam surah ini khususnya ayat 12-20 menjelaskan tentang sosok kepribadian Nabi Yahya yang dapat menjadi teladan bagi kita, kemudian juga diceritakan tentang kisah Maryam yang sangat taat kepada Allah dan selalu menjaga kehormatannya.

22 Gina Handayani, “Merayakan Hari Ulang Tahun (Studi pengamalan hadis tentang hari lahir masyarakat kampung Pasir Konci kecamatan Cikarang Selatan kabupaten Bekasi)” (Skripsi S1.,UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).

23 Irwani, “Kelahiran Nabi Isa A.S dalam Tinjauan Al-Qur’an” (Skripsi S1., Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru Riau, 2014).

24 Nana Khairul Bariyah, “Studi Hadis-hadis puasa senin kamis (kajian hadis tematik)” (Skripsi S1., fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009).

25 Elliya Narullitha, “Konsep Pendidikan Karakter Dalam Surat Maryam (Kajian kritis surat maryam ayat 12-20)” (Skripsi S1., Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrohim, Malang, 2015).

(29)

Karya keenam yang ditulis oleh Nurul Nadihah tentang Keteladanan Maryam Dalam Kisah Al-Qur’an. Dalam skripsinya mencoba memaparkan mengenai keistimewaan Maryam dan Keteladanannya dalam menghadapi ujian dan ketentuan Allah, dan membahas mengenai putranya Nabi Isa dalam ayat 16-33.

Karya ketujuh yang ditulis oleh Dwi Cahya Ningsih dalam judul skripsinya yaitu Slametan Wetonan Pada Masyarakat Gedongrejo, Kaliwuluh, Kebakkramat, Karanganyar. Dalam skripsinya memaparkan slametan wetonan, yang paling utama adalah sebagai ucapan rasa syukur terhadap tuhan yang telah melimpahkan rezeki, keselamatan, kesehatan, dan sebagai sarana untuk memberikan sedekah kepada masyarakat sekitar, walaupun selametan wetonan tidak ada dalam hadis dan Al-Qur’an.

Namun yang melaksanakan dan yang diundang beragama Islam karena Islam tidak melarang umatnya untuk bersedekah.26

Karya kedelapan yang ditulis oleh Nurul Lailiyyah membahas tentang Kearifan Lokal Dalam Memetri Weton (Hari lahir) Di Kabupaten Nganjuk. Dalam penulisannya menunjukkan deskripsi bentuk simbol, makna simbol, dan fungsi simbol yang meliputi: tumpeng, jajanan pasar, bubur tujuh rupa dalam kearifan lokal dalam memetri weton (hari lahir)27 yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat luar untuk kembali menjunjung nilai kebudaayaan kearifan lokal dalam memetri weton yang sebenarnya.

26 Dwi Cahya Ningsih, ‘Slametan Wetonan Pada Masyarakat Gedongrejo, Kaliwuluh, Kebakkramat, Karanganyar”, (Skripsi S1., Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011).

27 Nurul Lailiyyah, “Kearifan Lokal Dalam Memetri Weton (Hari lahir) Di Kabupaten Nganjuk” (Skripsi S1., Universitas Nusantara PGRI Kediri, 2018).

(30)

Karya selanjutnya yang ditulis oleh Windri Hartika yang berjudul Makna Selapanan Pada Masyarakat Jawa Di Gedung Agung Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Skripsi ini memaparkan makna- makna tradisi selapanan yang diketahui oleh masyarakat Jawa di desa Gedung Agung Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Karya terakhir yang ditulis oleh Nico Captain berjudul Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan Penyebaran Awalnya;

Sejarah Di Maghrib dan Spanyol Muslim Sampai Abad Ke-10/Ke-16.28 Latar belakang disertasi ini sebagaimana ia menuturkan bahwa beberapa cendikiawan barat yang mengkaji masalah yang sama dengan ini tetapi menurutnya pengkajian mereka belum tuntas. Dalam disertasi ini, Captain menyajikan secara lugas sangat kritis dan analitis seputar sejarah maulid nabi, kontroversi memperingatinya di Maghrib dan Spanyol Muslim (kalangan sunni) hingga akhirnya diterima.

Dari beberapa temuan karya ilmiah di atas tentunya sangat berbeda dengan apa yang ingin diteliti oleh penulis.

E. Metodelogi Penelitian 1. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya prilaku, resepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu mengungkap serta memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang

28 Nico Kaptein, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan Penyebaran Awalnya; Sejarah Di Maghrib dan Spanyol Muslim Sampai Abad Ke-10/Ke- 16, Seri INIS XXII, Jakarta:INIS, 1994.

(31)

khas dan unik yang dialami oleh individu hingga pada keyakinan individu yang bersangkutan. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap dan memahami suatu pengalaman individu atau subjek yang diteliti terhadap suatu fenomena melalui penelitian yang mendalam.29 Hal ini dikarenakan penedekatan ini lebih sesuai dengan pokok permasalahan dalam penelitian serta mengungkap fenomena yang terjadi di lapangan.

2. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat penelitian

Tempat dalam penelitian ini dilakukan di Desa Sukamaju, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

b. Waktu penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun 2019 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Sumber Data

Adapun sumber data penelitian ini terbagi dalam dua subjek peneliti, diantanya:

a. Sumber Premier

Subjek penelitian sekaligus sumber data primer atau informan dalam penelitian ini adalah para pengkaji Al-Qur’an (2 Ustadz, 4 Ustadzah dan 5 Sarjana muslim) dan masyarakat yang merayakan hari kelahiran ditunjuk peneliti sebagai informan lainnya.

b. Sumber Sekunder

29 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial (Jakarta: Salemba, 2010), 9.

(32)

Pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku Al-Qur’an dan Hadis, skripsi, artikel, majalah dan yang lainnya yang ada relevansinya dengan masalah yang sedang penulis teliti.

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam hal ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah sebuah metode ilmiah berupa pengamatan dan pencatatan secara sistematik mengenai fenomena- fenomena yang diselidiki.30 Jenis observasi yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah observasi partisipan yaitu peneliti menjadi bagian dari objek penelitian dan ikut terlibat dalam mengkuti kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi ini akan dilakukan secara langsung dilingkungan pengkaji Al-Qur’an desa Sukamaju, kecamatan Kibin, kabupaten Serang.

b. Wawancara

Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden. Inti dan metode wawancara ini bahwa disetiap penggunaan metode ini selalu muncul beberapa hal yaitu pewawancara, responden, materi wawancara dan pedoman wawancara (yang terakhir ini

30 Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 83.

(33)

tidak mesti ada).31 Wawancara ini akan dilakukan pada para pengkaji Al-Qur’an (Ustadz, Ustadzah, dan Sarjana) yang mempunyai pemahaman dalam mengenai hari kelahiran.

Adapun model-model wawancara yaitu:

1. Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat pertanyaan dan kemudian menyusun pertanyaan dalam bentuk daftar-daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan.

2. Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara tidak terstruktur dilakukan pada awal penelitian, karena terkadang informan memberikan keterangan kadang muncul jawaban yang tidak terduga yang tidak akan mucul pada saat wawancara terarah dilakukan, dan hal itu bisa menambah informasi yang diperoleh terkait informasi yang akan diteliti.

c. Dokumentasi

Teknik Dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen yang bisa diberikan informasi tentang judul yang bersangkutan, alat pengumpulan datanya disebut form pencatatan dokumen dan sumber datanya berupa catatan atau dokumen yang tersedia.32 tehnik mencari data dengan jalan melakukan telaah dan analisis terhadap buku, kitab, majalah, dokumen, foto, dan lain-lain.33

31 Burhan Bungin Metode Penelitian sosil & Ekonomi Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif Untuk Studi Sosiologi, Kebijakan Publik, Komuniksi, Manajemen, dan Pemasaran, Cet.1 (Jakarta: Kencana, 3013), 48.

32 Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 53.

33 Iskandar, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta, GP Press, 2009), 134.

(34)

5. Analisis Data

Analisis data merupakan penyederhanaan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami dan diinterpretasikan, yang nantinya dapat memudahkan penyusun dalam mengadakan penelitian. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan dianalisis. Dalam penelitian ini penulis akan mengumpulkan data dari hasil wawancara yang di dapat dari informan para pemerhati kajian Al-Qur’an dan masyarakat yang telah ditentukan peneliti, selain itu data yang di dapat dari hasil pengamatan kegiatan perayaan hari lahir pada masyarakat desa Sukamaju, kecamatan Kibin, kabupaten Serang. Setelah data-data sudah terkumpul peneliti akan menganalisis data-data tersebut agar dapat memudahkan dalam menyimpulkan hasil penelitian yang dilakukan.

6. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan masalah dalam penelitian ini, penulis berusaha membuat sistematika khusus dengan jalan mengelompokkan berdasarkan kesamaan dan hubungan masalah yang ada. Sistematika penelitian ini dalam penulisannya akan dibagi menjadi 5 (Lima) bab, dan masing-masing bab akan dibagi lagi menjadi sub-sub bab, yaitu sebagai berikut:

Bab pertama, membahas pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi, batasan dan rumusan masalah, tujuaan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodelogi penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua akan memaparkan pembahasan tinjauan umum tentang perayaan hari lahir dalam Islam: perayaan hari kelahiran sebagai bagian dari Living Qur’an, Hari kelahiran dalam tradisi masyarakat

(35)

muslim, ayat Al-Qur’an mengenai hari kelahiran, perayaan hari kelahiran dalam fenomena Living Qur’an.

Bab ketiga penulis akan memaparkan gambaran umum desa Sukamaju yang memuat pengkaji Al-Qur’an (Ustadz, Ustadzah dan Sarjana)

Bab keempat akan membahas seputar respon para pemerhati kajian Al-Qur’an desa Sukamaju terhadap surah maryam ayat 15 dan 33, terjemah dan tafsir ayat, pemahaaman tentang hari kelahiran (Pelaksanaan perayaan, tujuan perayaan, dan hukum perayaan).

Sementara bab kelima penulis akan menyimpulkan dari rumusan masalah yang menjadi skripsi ini dan saran-saran, disertai dengan daftar pustaka yang menjadi sumber referensi, dan lampiran-lampiran dokumentasi.

(36)
(37)

21 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG MERAYAKAN HARI KELAHIRAN DALAM ISLAM

Pada bab ini penulis akan meguraikan tentang hari kelahiran bagian dari Living Qur’an, pengertian Living Qur’an, pengertian hari kelahiran, Hari Kelahiran dalam Tradisi Masyarakat Muslim, ayat Al- Qur’an mengenai hari kelahiran yang di dalamnya terdapat tafsiran para ulama, perayaan hari kelahiran dalam fenomena Living Qur’an.

A. Perayaan Hari Kelahiran Sebagai Bagian dari Living Qur’an 1. Pengertian Living Qur’an

Dari segi bahasa, Living Qur’an adalah gabungan dari dua kata yang berbeda yaitu Living yang berarti hidup dan Qur’an yang berarti kitab suci umat islam. Secara sederhana living Qur’an bias diartikan dengan teks Al-Qur’an yang hidup di masyarakat.1 Sementara pelembagaan hasil penafsiran tertentu dalam masyarakat dapat disebut dengan the living tafsir”. Apa yang dimaksudnya dengan “Teks al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat”? Tidak lain adalah “respon masyarakat terhadap teks Al-Qur’an dan hasil penafsiran seseorang. Termasuk dalam pengertian ‘respon masyarakat’ adalah resepsi mereka terhadap teks tertentu dan hasil penafsiran tertentu. Resepsi sosial terhadap al-Qur’an dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti pentradisian bacaan surat atau ayat tertentu pada acara dan seremoni sosial keagamaan tertentu.2 M. Mansur, berpendapat bahwa pengertian The Living Qur’an

1 Didi Junaidi, “Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Al-Qur’an, Studi Kasus di Pondok Pesantren al-Siraj al-Hasan Desa Kalimukti, Kec. Pabedilan, Kab. Cirebon”.

Ilmu Ushuluddin, vol.5, no.2 (Juli 2015): 169.

2 Putra Ahimsa dan Heddy Shri “The Living Al-Qur’an: Beberapa Perspektif Antropologi,” Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Vol. 20, no. 1 (Mei 2012): 238.

(38)

sebenarnya bermula dari fenomena Qur’an in Everyday Life, yang tidak lain adalah “makna dan fungsi Al-Qur’an yang riil dipahami dan dialami masyarakat Muslim.”3 Living Qur’an juga dapat diartikan sebagai

“fenomena yang hidup di tengah masyarakat Muslim terkait dengan Qur’an ini sebagai objek studi-nya.” Oleh karena itu, kajian tentang Living Qur’an dapat diartikan sebagai kajian tentang “berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran Qur’an atau keberadaan Qur’an di sebuah komunitas Muslim tertentu.”4 Dengan pengertian seperti ini, maka “dalam bentuknya yang paling sederhana” The Living Qur’an tersebut “pada dasarnya sudah sama tuanya dengan Qur’an itu sendiri.” Meskipun demikian, praktek-praktek tersebut belum menjadi objek kajian penelitian mengenai al-Qur’an, sampai ketika para ilmuwan Barat ter-tarik untuk meneliti fenomena Living Qur’an tersebut.5 dari sini penulis menyimpulkan bahwa Living Qur'an berarti segala bentuk fenomena yang terjadi di masyarakat dalam menghidupkan ayat Al Qur'an, baik secara lisan, tulisan, maupun budaya.

2. Pengertian Perayaan Hari Kelahiran dan Sejarahnya.

Hari lahir (juga kadang kala disebut hari ulang tahun) dalam bahasa Arab; Maulid, Maulud dan juga Milad. Maulid merupakan bentuk Mashdar Mim yang berasal dari kata: walada, yalidu wilaadatan, maulidun, waldatun, wildatun, fahuwa walidun, wadzaaka mauludun, lid, laa ta’lid, maulidun, mauladun, miladun. Kata Maulud merupakan bentuk Isim Maf’ul dari Fi’il Madhi walada yang berarti sesuatu yang dilahirkan.

Sedangkan kata Milad merupakan Isim Mashdar dari Fi’il Madhi yang

3 M. Mansyur, dkk., Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: TH. Press, 2007), 5.

4 M. Mansyur, dkk., Metodologi Penelitian, 9.

5 Putra Ahimsa dan Heddy Shri “The Living Al-Qur’an, 238-239.

(39)

sama.6 Dalam bahasa Ibrani; yom hulledet, Yunani; ta genesia. Secara eimologi adalah “kelahiran” atau yang berarti memperlahirkan, yang dimaksud memperlahirkan ialah awal pertama seseorang lahir ke muka Bumi,7 pengertian hari lahir secara istilah adalah merupakan sebuah peristiwa penting terjadi dan merupakan peringatan hari kelahiran seseorang serta berdirinya suatu perkumpulan atau kelompok.8 Sama halnya dengan hari besar dalam islam, dunia Muslim menyebutnya Maulid, Maulud, Mevlut, Milad dan sebutan lainnya. Semuanya bermakna sama yaitu hari kelahiran yakni memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kaum muslim di seluruh dunia memperingatinya dengan gegep-gempita dan dengan penuh sukacita. Ini semata-mata ungkapan syukur kepada Tuhan atas kelahiran manusia terbesar dan paripurna ini.9 Tujuan yang paling penting sebenarnya dari peringantan ini adalah bagaimana kehidupan pribadi Rasulullah kita dapat meneladani dan mengikutinya secara istikamah bukan hanya sebatas kegiatan seremonial belaka.10

Uang tahun atau Milad (dalam bahasa arab) pertama kali dimulai di Eropa (Jerman). Apa yang akan terjadi ketika seseorang sedang berulang tahun, untuk menjaganya dari hal-hal yang jahat dari hal-hal jahat, teman-teman dan keluarga diundang datang saat seseorang berulang tahun untuk memberikan doa serta pengharapan yang baik bagi yang berulang tahun. Memberikan kado juga dapat dipercaya dapat memberikan

6 Syarif Mursal al-Batawy, keagungan Maulid Nabi Muhammad Saw (Jakarta:

al-Syarifiyyah, 2006), 13.

7 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Munawwir, Cet. XVI (Surabaya:

Progressif, 1997), 1580.

8 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama, 2012), 1521.

9 H. Husein Muhammad, Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi (Jakarta:

PT Qaf Media Kreatif, 2017), 15-16.

10 Gina Handayani, “Merayakan Hari Ulang Tahun,” 17.

(40)

rasa gembira bagi orang yang berulang tahun sehingga dapat mengusir roh-roh tersebut.11

Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang-orang jaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka, karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan musim. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender.

Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.

Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit penjelasan mengenai perayaan ulang tahun harus menggunakan kue, Artemis Diana12 salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, artemis mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang mempresentasikan bulan purnama. Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin di atas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakkan lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala seperti bulan (gibbons, 1986).13 Saat ini banyak orang hanya mengucapkan pengharapan di dalam hati sambil meniup lilin. Mereka percaya bahwa meniup semua lilin yang ada dalam

11 Ahmed. “sejarah merayakan ulang tahun atau milad, 2016”, Diakses pada tanggal 29 April 2020, https://insanurssalam.com/index.php/2016/08/02/sejarah- merayakan-ulang-tahun-atau-milad/. /2020/04-Sejarah.

12 Artemis adalah salah satu dari yang paling banyak dihormati dari para dewa dewi yunani kuno. Ia seorang dewi kesucian, perlindungan alam, perburuan hewan liar, pelindung hewan padang gurun, melahirkan, keperawanan, dan pelindung gadis-gadis muda, membawa dan menghilangkan penyakit pada wanita, dan ia sering digambarkan sebagai pemburu wanita yang membawa busur dan anak panah. Dikutip dari carlojournal.weebly.com

13 Gibbons, 1986. Di kutip dari Fathurrahman, Perayaan Ulang Tahun Dalam Perspeftif Islam, 14

(41)

satu hembusan akan membawa nasib baik. Pesta ulang tahun biasanya diadakan supaya orang yang berulang tahun dapat meniup lilinnya. Pada pesta ulang tahun pertama kalinya, pesta diadakan karena orang menduga akan adanya roh jahat yang mengganggu mereka. Jadi mereka mengundang teman dan kerabat untuk menghadiri pesta ulang tahun mereka sehingga roh-roh jahat tidak jadi mengganggu yang berulang tahun.14 Dalam pesta-pesta selajutnya banyak dari keluarga dan teman yang membawa kado atau bunga utuk yang berulang tahun. Saat ini kebanyakan pesta ulang tahun diadakan untuk bersenang-senang. Jika orang yang diundang tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun, biasanya mereka akan mengucapkan secara pesan atau mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun.

B. Hari Kelahiran dalam Tradisi Masyarakat Muslim

Secara etimologi, kata tradisi atau tradisional berarti tatanan, budaya atau adat yang hidup dalam sebuah komunitas masyarakat (Mastuhu. 1994 : 55) karenanya, tradisi diartikan konsesnsus bersama untuk ditaati serta dijunjung tinggi oleh sebuah komunitas masyarakat setempat. Kata tradisional juga selalu menunjuk pada hal-hal yang bersifat peninggalan kebudayaan klasik, kuno dan konservatif.15

Istilah maulid atau maulud dipergunakan bagi peringatan dan perayaan hari jadi seseorang yang dianggap suci, laki-laki atau perempuan, Muslim, Kristen atau Yahudi.16Maulid sendiri pertama kali digunakan islam yaitu sebagai kelahiran maulid Nabi Muhammad. Sebagian ahli sejarah

14 Gina Handayani, “Merayakan Hari Ulang Tahun,” 22.

15 Hasani Ahmad Said, “Meneguhkan Kembali Tradisi Pesantren Di Nusantara”.

IAIN Raden Intan Lampung, vol. 9, no. 2 (Juli-Desember 2011): 180.

16 Hasani Ahmad Said, “Islam Dan Budaya Di Banten: Menelisik Tradisi Debus Dan Maulid.” Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, vol.10, no.1 (Juni 2016): 126.

(42)

berpendapat bahwa fenomena maulid berakar dari tradisi-tradisi kuno, seperti yang berlangsung di Mesir untuk menghormati dewa-dewa setiap tahun pada saat panen, sebagian ahli sejarah lainnya merunut maulid dari pengaruh pharisaisme (sebuah sekte Yahudi kono) dan perayaan kaum Yahudi pada masa Yahudi awal serta masa Kristen awal. Sedangkan bentuk modern maulid berakar dari tradisi sufi atau syi’ah yang muncul dari kawasan maghribi (Maroko) dan berkembang di Mekkah yang identik dengan praktik-praktik serupa dikalangan masyarakat Kristen dan Yahudi di Timur Tengah.17

Pada perkembangan selanjutnya, di kalangan sebagian muslim perayaan hari jadi itu bukan saja ditujukan untuk memperingati Nabi Muhammad dan “Orang saleh”, namun bagi berbagai peristiwa yang dianggap paling penting oleh masing-masing, seperti hari kelahiran dan kematian, berdirinya suatu suatu golongan atau organisasi, hari kemenangan golongan, kemerdekaan dan sebagainya. Istilah yang dipergunakan untuk peringatan dan perayaan itu pun menjadi beragam seperti milad, dies nataliesm, ulang tahun, maupun syukuran.18 Pada saat ini, Hari kelahiran adalah hari yang spesial bagi kebanyakan orang.

Karena spesial, hari kelahiran seseorang ini sering kali dirayakan dengan mewah. Selain merayakan hari kelahiran, banyak juga kerabat yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada kerabatnya yang sedang berulang tahun. Dalam islam sendiri perayaan hari kelahiran tidak ada ayat yang melarangnya namun dengan tidak adanya ayat yang melarang bukan juga sesuatu yang wajib untuk dirayakan. Melainkan hanya sebagai amal untuk melakukan sesuatu yang positif yang perlu rasa syukur terhadap

17 Lihat, John L Esposito, Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, (Jakarta:

Djambatan, 2002), Jilid 3, h. 75-76; lihat pula, Jilid. 4, h. 22-24 dan Jilid. 5. H. 228-229.

18 Hasani Ahmad Said, “Islam Dan Budaya 128.

(43)

Allah SWT. Selain untuk mensyukuri nikmat Allah, perayaan hari kelahiran dilakukan juga untuk menunjukkan kebahagiaan atas semua nikmat Allah.19 Firman Allah Swt:

ِهِتَمْحَرِبَو ِهَّللٱ ِلْضَفِب ْلُق اوُحَرْفَ يْلَ ف َكِلََٰذِبَف ۦ

ْ يَخ َوُه ۙ َنوُعَمَْْي اَّممم ٌر

Artinya: Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus 10 : 58).

Dalam islam, perayaan hari kelahiran harus menggunakan cara yang sesuai dengan cara ajaran agama islam, bukan dengan cara memejamkan mata sambil memohon sesuatu untuk masa depan. Jelas hal itu mirip dengan tradisi kaum Majusi yang menyembah api dan memohon sesuatu untuk api. Maka perayaan yang tidak berlebihan yaitu:

1. Menjadikan perayaan hari kelahiran sebagai muhasabah (intropeksi) diri

Momen perayan hari lahir adalah momen bertambahnya umur. Itu berarti bahwa jatah hidup di dunia semakin berkurang. Seharusnya semakin bertambahnya umur, maka harus semakin sadar dan semakin kuat mengintrospeksi diri, tentang apa yang sudah dan belum dilakukan di umur sebelumnya.20 Adapun hadis yang menjadikan seseorang untuk berintropeksi adalah HR. Tirmidzi berikut:

ْمُكْيَلَع ُنَوْهَأ ُهَّنِإَف ،اوُنَزوُت ْنَأ َلْبَ ق ْمُكَسُفْ نَأ اوُنِزَو ، اوُبَساَحُت ْنَأ َلْبَ ق ْمُكَسُفْ نَأ اوُبِساَح ًدَغ ِباَسِحْلا يِف ٍذِئَمْوَ ي ،ِرَبْكَلْا ِضْرَعْلِل اوُنَّ يَزَ تَو ،َمْوَ يْلا ُمُكَسُفْ نَأ اوُبِساَحُت ْنَأ ،ا

ةَيِفاَخ ْمُكْنِم ىَفْخَت لَ َنوُضَرْعُ ت

19 Annisa Nurlianita, Merayakan Ulang Tahun, Seperti ini Pemilihan Islam, https://umroh.com/blog/merayakan-ulang-tahun/ diakses pada tanggal 09 Juli 2020

20 Siti Shahilatul Arasy, “Urgensi Muhasabah (Intropeksi Diri) Di Era Kontemporer (Studi Ma’anil Hadis)”, (Skripsi S1., Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2014), 8.

(44)

Artinya: “Hisablah dirimu semua sebelum (nanti) dihisab. Dan timbanglah diri kamu semua sebelum (nanti) ditimbang. Karena nanti hisabmu akan lebih mudah jika engkau evaluasi dirimu sekarang. Dan hiaslah dirimu untuk pertemuan akbar (besar). Di hari akan ditampakkan semua dari kamu dan tidak ada yang tersembunyi.”21

Hadis tersebut melakukan evaluasi dan koreksi terhadap apa yang pernah diperbuat, mengambil hikmah dan pelajaran darinya, serta mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dan bermanfaat untuk masa depan.22 Oleh karena itu sudah menjadi keharusan bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat untuk tidak lalai melakukan muhasabah terhadap jiwanya.23

2. Meminta doa atau ucapan kepada saudara atau sahabat

Saat bertambahnya umur, banyak dari saudara atau sahabat yang memberikan doa ataupun ucapan. Memberikan ucapan selamat ini (Sepanjang tidak menyalahi aturan syariat) merupakan tradisi yang sangat mulia (Shifat al-‘ulya) yang dicontohkan oleh Allah sendiri.24 Senantiasa memberikan ucapan selamat kepada para hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

َن اَهيِف ْمُهَل ٍتاَّنَجَو ٍناَوْضِرَو ُهْنِم ٍةَمْحَرِب ْمُهُّ بَر ْمُهُرمشَبُ ي ٌميِقُم ٌميِع

Artinya: “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (Q.S At-Taubah,9: 21)25

21 HR. Ibnu Abi Dunya di Muhasabatun Nafsi, hal. 22. Ahmad di ‘Zuhud, hal.

120. Abu Nu’aim di ‘Hilyah, (1/52). Dilemahkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Adh- Dhaifah, no. 1201. Abu Ishq huwaini di ‘Takhrij Litafsīr Ibnu Katsīr, (1/478).

22 Siti Shahilatul Arasy, “Urgensi Muhasabah ,” 9

23 Sa’id Hawwa, Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil-Anfus, (Jakarta: Darus Salam 2015), 148.

24 Nabiel F. Almusawa, Ir.M.Sc, The Islam Way (25 Solusi Islam untuk Permasalahan Masyarakat Modern), (Bandung: Arkan Publishing, 2008), 95.

25 Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Qur’an Hafalan dan Terjemahan, 190.

Gambar

Tabel 3.1: Jumlah Penduduk Desa Sukamaju 6
Tabel  3.3:  jumlah  jiwa  berdasarkan  Agama  yang  dianut  pada data tahun 2019 10
Tabel di atas menunjukan bahwa masjid di desa Sukamaju  terdapat  3  buah  yang  bernama  masjid  Baiturrahman,  Baiturrahim,  dan  Nurul  Jannah

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian dapat diketahui Naskah drama tersebut sebagai sistem struktur tanda semiotik dibangun atas mitos-mitos, konteks sosial masyarakat yang masih

Keempat tentang alur proses pengiriman / rujukan pecandu narkoba dari Kabupaten Bulungan ke Balai Besar Rehabilitasi LIDO Badan Narkotika Nasional dan ke Kabupaten Bulungan

a. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. Dalam hal ini adalah masalah-masalah yang terdapat pada pengaruh dari vertex color terhadap efek angin pada animasi

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa S1 UNY program kependidikan karena orientasi utamanya adalah kependidikan. Dalam

• Seputar  kegiatan  Pollycarpus  pada  tanggal  6  –7  september    berdasarkan  laporan  yang  diberikan  Karmal  dan  Ronggo  kepada  saksi  Ramelgia. 

Sehingga kemungkinan yang dapat terjadi adalah tidak ada sampel bakteri yang diberikan pada saat pengujian pada media LJ yang telah berisi konsentrasi obat,

Kemudian karena dinilai sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan untuk mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral sebagai

Satrio Pamungkas, 2017, Pengaruh Displin Kerja dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan “X” Yogyakarta,