3
LANDASAN PERANCANGAN
2.1 Tinjauan Umum
Secara garis besar, Penulis ingin membuat sebuah website yang khusus merangkum informasi rekomendasi kuliner malam di Jakarta dengan desain dan navigasi website yang dapat memudahkan user untuk bisa mendapatkan informasi dengan lebih mudah dan nyaman saat menjelajahi keseluruhan website. Selain itu Penulis juga berharap website ini bisa membangun ketertarikan user akan kuliner malam yang memiliki experience yang berbeda dengan kuliner di siang hari.
Data dan informasi untuk mendukung proyek Tugas Akhir ini diperoleh dari berbagai sumber yaitu :
• Buku “101 Wisata Jajanan Jabodetabek” (doyanmakan.com, 2012)
• Buku “100 Makanan Tradisional Indonesia Mak Nyus” (Bondan Winarno, 2013)
• Pencarian bahan melalui artikel, dan literatur dari internet mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tema yang diangkat :
1. http://bondanwinarno.com/kuliner-jakarta-after-dark/
2. http://areamagz.com/article/read/2011/08/10/jakarta-midnight- snack
3. http://mirnaronie.blogspot.com/2012/01/kuliner-jakarta.html
• Wawancara dengan nara sumber dari pihak-pihak terkait seperti orang- orang yang berada di tempat-tempat makan malam di Jakarta, pemilik dan pegawai yang bekerja tempat makan yang bersangkutan, serta kerabat atau teman Penulis yang juga suka menjelajahi kuliner malam
• Pengamatan dan survey langsung di lapangan
Penulis melakukan survey ke 5 daerah di Jakarta, mulai dari Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.
Penulis mendapatkan banyak tempat makan mulai dari streetfood hingga rumah makan yang masih buka hingga hampir tengah malam
dan bahkan 24 jam di daerah Selatan dan Pusat. Sedangkan untuk daerah Jakarta Timur penulis hanya menemukan sedikit tempat makan yang bisa di rekomendasi. Wilayah Barat dan Utara juga memiliki beberapa tempat makan yang bisa di rekomendasi. Penulis langsung bertemu dan mewawancarai pemilik-pemilik tempat makan yang bersangkutan, dari mulai menanyakan detail seperti jam buka, kisaran harga, alamat, nomor telepon, hingga wawancara mengenai makanan rekomendasi dan mencoba langsung makanan tersebut. Berikut adalah beberapa foto survey yang diambil oleh Penulis menggunakan kamera poket :
Gambar 2.1 Gule Da’ul Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Gambar 2.2 Sate Padang Ajo Manih, Jakarta Timur
Gambar 2.3 Nasi Goreng Bang Jen Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
• Kuesioner
Penulis menyebarkan kuesioner 2 kali secara online 2. Kuesioner pertama untuk mengetahui lebih jauh tentang target audience dan juga kebiasaan target audience dalam mencari makan di malam hari diisi oleh 201 koresponden. Didapatkan 87% yakni 174 koresponden adalah mahasiswa/i diikuti 8% karyawan (16), 3% pekerjaan lainnya (6), dan 2% wirausaha (5). Dari seluruh koresponden, didapat 60% sering merasa lapar di tengah malam dan sebanyak 59% koresponden pergi bersama teman saat mencari makan di tengah malam. Jenis tempat makan yang paling sering menjadi tujuan koresponden adalah streetfood dan paling sering keluar untuk mencari makan pada Pukul 21.00 WIB-23.00 WIB dan Pukul 23.00 WIB-2.00 WIB. Daerah yang paling sering menjadi tujuan koresponden untuk mencari tempat makan, urut dari yang paling sering hingga paling jarang adalah Jakarta bagian Selatan, Barat, Pusat, Utara, Timur. Sebanyak 69% koresponden mendapat informasi tentang rekomendasi tempat makan dari teman, diikuti terbanyak kedua sebanyak 18% didapat dari artikel di website.
Sebagian besar koresponden menjawab bahwa informasi tentang tempat makan tengah malam Jakarta yang mereka pernah lihat dari artikel internet/blog/media cetak kurang menarik, karena informasi yang menyebar di jadi banyak yang dari blog pribadi dan foto seadanya, informasi yang didapatkan juga kurang detail dan susah ditemukan apabila review panjang, dan belum ada website yang mengumpulkan semua itu menjadi satu dan di desain dengan baik. Hal yang disukai para koresponden dari melihat pembahasan makanan/kuliner pertama adalah review dari makanan itu sendiri, dilanjutkan dengan foto
makanan dan suasana tempat. Saat koresponden sedang keluar / dalam perjalanan, masalah yang paling sering terjadi saat browsing informasi tempat makan malam adalah gadget yang tidak ada sinyal, gadget mati karena habis baterai, dan informasi yang itu-itu saja. Akan tetapi penulis akhirnya memutuskan untuk tetap memilih media digital, setelah mendapatkan hasil dari kuisioner kedua. Kuesioner kedua, diisi oleh 156 koresponden, dilakukan oleh penulis untuk mencari dan memantapkan dalam memutuskan media yang akan dipilih. Hampir 69% koresponden yang mengisi kuesioner kedua berumur 21-25 tahun dan 90% adalah mahasiswa. 95% sering merasa lapar di tengah malam.
Paling banyak koresponden merasa lapar di tengah malam saat berada di rumah / kosan / kantor yakni sebanyak 59% dan 41% koresponden merasa lapar saat berada diluar (jalan). Bagi koresponden yang sering merasa lapar saat berada di rumah, media yang paling efektif untuk mereka gunakan mencari info rekomendasi tempat makan tengah malam 96% adalah media digital dan 4% media cetak, dengan alasan media digital lebih simple, praktis, cepat, dan mudah diakses baik dari laptop maupun gadget, karena 2 hal itu yang paling sering digunakan saat berada di rumah dan gadget saat dibawa bepergian oleh target audience. Sebanyak 77% lebih suka penyampaian review yang to the point langsung menyebutkan detail tentang lokasi, jam buka, harga, dan review singkat tentang makanan rekomendasi serta suasana tempat makan. Jadi setelah itu langsung ingin mencoba ke lokasi. Bagi koresponden yang sering merasa lapar saat berada diluar, 73%
mengatakan bahwa walaupun ada masalah tentang sinyal lemah dan gadget yang sering mati saat berada di jalan, mereka tetap memilih media digital sebagai media yang efektif untuk menyediakan informasi, karena gadget adalah satu hal yang selalu mereka bawa kemana saja mereka bepergian, dan menurut koresponden kejadian seperti gadget mati dan tidak ada sinyal tidak selalu terjadi, karena masalah sinyal hanya terjadi di beberapa tempat saja, dan gadget mati bisa ditangani dengan portable charger, banyak juga berpendapat bahwa tidak berarti karena masalah sinyal dan batere gadget habis, maka solusi nya adalah dengan buku, justru dengan buku, akan lebih mempersulit mereka,
karena harus dibawa-bawa, dan dari segi informasi tidak up to date dan tidak bisa secara berkala diperbaharui, sedangkan para target audience sangat mengedepankan informasi yang up to date. Sebanyak 70%
koresponden ini juga memilih penyampaian review yang to the point.
2.1.1 Data Target
• Consumer Behaviour
Anak muda (Mahasiswa dan pekerja muda ( first jobber ) yang sering hang out dan nongkrong dengan teman-teman di luar jam kuliah/kantor, dan biasanya dilakukan di malam hari agar tidak mengganggu aktivitas di siang hari.
• Psikografi (Kepribadian)
1. Suka mencari informasi di internet 2. Up to date
3. Suka mencoba makanan baru / kuliner 4. suka mencoba hal baru
5. Suka hang out dengan teman
• Demografi
Kelamin : Wanita - Pria
Usia : 20-30 tahun
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Mahasiswa, Pekerja muda Kelas Sosial : A-B
• Geografi
1. Geografis
Domisili : Seluruh wilayah DKI Jakarta 2. Psikologi
Anak muda yang suka mencari berbagai informasi di media digital (internet), banyak kegiatan, memiliki banyak teman, dan
suka mencari hal-hal baru diluar kegiatan kerja/kuliahnya, suka mencoba makanan baru, sering merasa iseng dan tidak bisa diam.
2.2 Tinjauan Khusus
2.2.1 Website Dinamis (Jenis website berdasarkan sifat)
adalah website dimana pemilik (owner) dapat memperbaharui dan menambahkan konten baru ke dalam situs. Website dinamis banyak memberikan keuntungan seperti lebih fungsional, lebih mudah untuk diperbaharui, konten yang terus diperbaharui membuat orang secara berkala kembali untuk mencari informasi yang terkini, memungkinkan kolaborasi antara admin dengan user, dan juga memberikan pengalaman (experience) yang menarik bagi user. (Venton, Static vs Dynamic Website, Akses tanggal 25 Maret 2014 http://www.edinteractive.co.uk/article/?id=4 )
2.2.2 Website Ulasan (Review) (Jenis website berdasarkan tujuan) Website ulasan (review) digunakan user untuk meneliti jenis produk tertentu. Jenis ini ditujukan untuk user yang tertarik dengan suatu hal dan ingin mencari tahu ulasan tentang produk-produk yang berkaitan dengan hal tersebut. Selain navigasi pencarian (search) ada juga navigasi lain yang sama pentingnya pada website ulasan, yakni navigasi pencarian dengan kategori karena itu memungkinkan user untuk menemukan berbagai produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. (Chapman, 2011, Navigation Patterns for Ten Common Types of Websites, Akses tanggal 25 Maret 2014, http://www.webdesignerdepot.com/2011/11/navigation-patterns-for-ten- common-types-of-websites/)
2.2.3 Pedoman Web Design
Beberapa hal yang menjadi fokus utama dalam web design adalah memiliki strategi konten, menarik user (pengunjung), dan bisa digunakan di sebanyak mungkin browser yang ada.
Ada 2 Pedoman / aturan untuk membuat sebuah website design, yakni User Interface (UI) dan User Experience (UX). Pedoman User Interface yang digunakan dalam mendesain sebuah website :
- menjaga agar logo tetap menonjol
- menggunakan maksimal 3 warna untuk tema (theme) website
- menciptakan judul halaman yang informatif, header, area logo, footer, dan navigasi yang konsisten
- Jaga keseimbangan antara konten, grafis, dan white space pada halaman web, dengan kontras background yang baik
- Struktur navigasi jelas
Pedoman User Experience yang digunakan dalam mendesain sebuah website :
- fokus pada kinerja website
- Bisa di support pada beberapa browser
- menarik user menggunakan forum, suggestion, dan feedback
- opsi pencarian (search) harus menonjol dan memberikan peringatan apabila ada kata yang salah pengejaan
- hindari pop-up windows, frames, dan plug-ins (Lal, 2013: 52)
2.2.4 Pengertian Homepage
Homepage adalah halaman pertama yang akan terbuka saat user mengunjungi website. Homepage digunakan untuk menyambut dan menyediakan informasi untuk user, dengan kata lain homepage menjadi indeks untuk semua konten yang ada pada website tersebut. Dimana konten yang disediakan baik informasi, produk ataupun jasa, bisa dimanfaatkan user.
Beberapa pedoman desain UI yang bisa diterapkan untuk menciptakan homepage website yang baik antara lain :
- menggunakan desain yang unik dengan hirarki visual pada halaman web - ciptakan user-centered design dengan emphasis pada konten yang relevan
dengan user
- gunakan konten yang clear dan mudah dimengerti. Hindari kata-kata yang disingkat dan menggunakan all-caps (semua huruf besar)
- Pertahankan konten yang penting diatas scrollable area - hindari browser plug-in files seperti PDF dan flash (Lal, 2013: 54)
2.2.5 Teori Fotografi makanan
Untuk menghasilkan foto makanan yang baik, ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan, antara lain :
- pencahayaan / lighting
Pastikan cahaya di lokasi pemotretan cukup terang, untuk bantuan bisa dengan memantulkan flash ke arah langit-langit untuk menyeimbangkan cahaya
- proporsi
Perhatikan dimana makanan tersebut akan disajikan baik mediumnya seperti piring, mangkuk hingga sekitar meja dimana makanan itu akan ditaruh. Beri tambahan elemen lain seperti gelas, sendok dan garpu tetapi bukan untuk focus utama
- tidak memotret terlalu lama
Makanan tidak tahan lama bisa terlihat sama menggiurkan nya dengan awal makanan itu disajikan. Pastikan mampu memotret sesegera mungkin setelah makanan baru selesai dimasak
- memberi style pada makanan
Atur bagaimana makanan akan disusun di dalam piring, perhatikan keseimbangan dari warna, bentuk, dll serta beri sedikit ruang
- memberi tambahan
Jika diperlukan, berikan tambahan sentuhan seperti mengoleskan minyak sayur pada permukaan makanan agar lebih mengkilat
- angle rendah
Foto makanan akan terlihat lebih maksimal saat diambil dari angle rendah - makro
Fokus pada satu bagian penyajian makanan bisa menjadi salah satu cara untuk menonjolkan elemen-elemen makanan
- Uap
Uap memberikan kesan bahwa makanan tersebut dimasak dengan baik, dan terasa masih baru dimasak.
(Piskha, 2012, Teknik Fotografi, Akses tanggal 25 Maret 2014, http://www.infotografi.com/2012/07/ceritakan-rasa-makanan-lewat-
food.html)
2.2.6 Teori Tipografi
Legibility dalam tipografi adalah suatu kualitas huruf dalam tingkat kemudahannya untuk bisa dibaca dalam suatu rangkaian kalimat, keterbacaan tersebut tergantung dari tampilan fisik, ukuran, dan penataan dalam sebuah kalimat. (Sihombing, 2001: 58)
Hal-hal yang memiliki dampak cukup besar terhadap legibility salah satunya adalah interval ruang antar huruf. Susunan huruf yang terlalu rapat dapat mengaburkan bentuk huruf sedangkan susunan huruf yang terlalu renggang mempengaruhi kecepatan membaca. Selain itu, interval ruang antarbaris juga memiliki pengaruh besar karena membantu kecepatan dan kenyamanan membaca. Bila interval ruang terlalu sempit atau terlalu besar, akan memakan waktu lebih lama bagi mata dalam menemukan dan melanjutkan kalimat pada baris selanjutnya. (Sihombing, 2001: 61)
2.2.7 Teori Warna
Mata dan otak manusia merasakan suatu warna secara fisik, mental, dan emosional. Sebagai hasilnya, warna-warna itu sendiri memiliki makna yang beragam. Simbolisme warna biasanya terjadi akibat persetujuan kebudayaan, dan opini yang objektif dan bervariasi yang kadang ada yang bertentangan. (Morioka, 2006: 25)
Beberapa contoh psikologi warna, Warna oranye diasosiasikan dengan kehangatan alam, bersifat muda, kreatif, ber-energi, menstimulasi, dan aktif. Warna-warna gelap seperti hitam diasosiasikan dengan malam hari, memberikan kesan kuat. (Dameria, 2007: 33)
2.2.8 Teori Layout
Ada 4 prinsip dasar layout, antara lain : - sequence (hierarki/flow/aliran)
Menciptakan prioritas urutan informasi yang harus dibaca pertama oleh pembaca sampai yang terakhir. Jika semua informasi ditampilkan sama
kuat, maka pembaca akan kesulitan menangkap pesan. Sequence bisa dicapai dengan adanya emphasis.
- emphasis (penekanan)
Dapat diciptakan dengan memberi ukuran yang jauh lebih besar dari elemen layout lainnya, memberikan warna yang kontras/berbeda dengan background dan elemen lainnya, meletakkan di posisi yang eye catchy / menarik perhatian, menggunakan style yang berbeda dengan elemen lainnya, selain itu bisa juga diciptkan dari elemen yang mengandung pesan yang emosional / kontroversial sehingga lebih menarik orang untuk membaca
- balance (keseimbangan)
Menghasilkan kesan yang seimbang dengan meletakkan elemen-elemen yang digunakan pada tempat, ukuran, arah, warna dan atribut yang tepat - unity (kesatuan)
Teks, gambar, warna, ukuran, posisi, style, dan lainnya harus disusun secara tepat agar dapat memberikan efek yang lebih kuat kepada pembaca, berbagai elemen tersebut dipadu padankan agar saling cocok dan memberikan kesan unity / kesatuan
(Rustan, 2008: 74)
2.2.9 Teori Komunikasi
Komunikasi adalah suatu kegiatan penyampaian informasi untuk mendorong dan mempengaruhi orang lain untuk mengartikan sesuatu dengan cara yang diinginkan oleh pengirim informasi. Tujuan komunikasi menurut maksud dan caranya dibedakan menjadi 4 yakni :
- identifikasi - informasi
- promosi ( provokasi, persuasi ) - ambience ( penggarapan lingkungan ) ( Safanayong, 2006: 10)
Dalam pembuatan website ini, penulis menggunakan tujuan komunikasi informasi dan promosi (persuasi). Tahap dan peran komunikasi ada 5 dan digunakan dalam pembuatan website oleh penulis, antara lain :
- Ketidaksadaran
Menciptakan kesedaran akan keberadaan sesuatu - Kesadaran
Meningkatkan kesadaran yang ada - Pemahaman
Memberikan dan membina suatu persepsi di benak pembaca - Tindakan
Membangkitkan respon / keinginan untuk mencoba ( Safanayong, 2006: 17)
2.2.10 Analisa SWOT
Analisa lain yang mendukung pengumpulan data-data sehingga semakin meyakinkan bagi website ini adalah secara analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) sehingga dapat dihasilkan beberapa kesimpulan yakni :
Strength
• Spesialisasi dalam merangkum informasi dan mengangkat experience kuliner malam di Jakarta
• Bentuk yang berupa website memudahkan siapapun dapat mengakses baik di computer, laptop, maupun gadget selama memiliki fitur browser
Weakness
• Cakupan daftar hanya kuliner malam Jakarta yang buka hingga hampir tengah malam / 24 jam
• Karena sudah dikurasi, tidak semua tempat makan di tampilkan di website ini
• Media digital hanya bisa dibuka lewat perangkat elektronik (computer, laptop, smartphone, tablet, dll)
Opportunity
• Belum ada website yang khusus merangkum informasi rekomendasi kuliner malam di Jakarta.
• Pembahasan menyebar di blog-blog pribadi di internet dan banyak yang tidak jelas karena hanya mencantumkan alamat / hanya review tulisan.
Threat
• Sudah ada website yang membahas tempat-tempat kuliner, walaupun belum ada satupun yang konsen di kuliner malam. Jadi masyarakat memiliki standar bagaimana website kuliner yang dinilai baik bagi mereka
• Beberapa kalangan masyarakat masih mengandalkan media cetak sebagai sumber informasi