• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Psikoterapi Islam

Psikoterapi (psychotherapy) mempunyai pengertian yang cukup luas dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), kerja sosial (case work), pendidikan, dan ilmu agama.1

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.

Istilah ini mencakup berbagai teknik nyang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya, dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.2

Secara etimologi psikoterapi berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan therapy yang berarti penyembuhan. Psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.3

Firman Allah:

ب ُبوُلُقْلا ُّنِئَمْطَت ِ هاللَّ ِرْكِذِب َلََأ ِ هاللَّ ْ ِذِب ْ ُ ُبوُلُ ُّنِئَمْطَتَ اوُنَمآ َنيِذهل

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‟d: 28)4

1 Samsul Munir Amir. 2010. Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta: Sinar Grafika Offset. Hlm: 186

2 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. 2002. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta; PT Raja grafindo Persada. Hal 207

3 Samsul Munir Amin. Hlm: 186

(2)

Kata nafs dalam surah Al-A‟raf ayat 205 dapat diartikan dengan beberapa arti, seperti diri, ruh, jiwa, dan nafsu. Jadi, zikir, sebutan atau ingatan yang sempurna dilakukan oleh seorang ahli zikir, bukan hanya dilakukan secara lisan, tetapi seluruh unsur dan komponen keinsanan yang hidup, yaitu berzikir dalam diri, jasad, jiwa, nafs, nafsu, dan ruh. Adapun kata therapy (dalam bahasa Inggris) memiliki arti pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa Arab kata therapy sepadan dengan al-istisyfa’ yang berasal dari syafa-yasyfi-syifa’ yang artinya menyembuhkan.

Sebagaimana oleh Muhammad Abdul Aziz Al-Khalidiy dalam kitabnya Al-Istisyfa’

bil Qur‟an.5

James P. Chaplin lebih jauh membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari. Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama melalui pembicaraan informal atau diskusi personal dengan guru atau teman.6 Pada pengertian di atas, psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya. Tugas ahli psikoterapi adalah memberi pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang. Oleh karena itu, boleh jadi ahli psikoterapi yang di maksudkan di sini adalah para guru, orang tua, kiai di Pondok pesantren, saudara dan teman dekat yang biasa digunakan sebagai tempat curahan hati serta member nasihat-nasihat kehidupan yang baik.

Menurut Carl Gustav Jung bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif

4 QS.Ar-Ra’d; 84

5 Samsul Munir Amin. hlm: 188

6Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. hlm 207

(3)

(pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada terapis tidak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.7

B. Layanan Psikoterapi Islam

a. Bentuk-bentuk dan Teknik Psikoterapi

Setelah mempelajari teks-teks Al-Qur‟an, Muhammad Abd al-„Aziz al- Khalidi membagi obat (syifa’) dengan dua bagian: pertama, obat bissi, yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, seperti berobat dengan air, madu, buah-buahan yang disebutkan dalam Al-Qur‟an; kedua, obat ma’nawi, yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan Al-Qur‟an.8

Pembagian dua kategori obat tersebut didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu, yaitu jasmani dan ruhani. Masing-masing substansi ini memiliki sunnah (hukum) tersendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Kelainan (penyakit) yang terjadi pada aspek jasmani harus ditempuh melalui sunnah pengobatan bissin, bukan dengan sunnah pengobatan ma’nawi seperti berdoa. Tanpa menempuh sunnahnya maka kelainan itu tidak akan sembuh. Permasalahan tersebut menjadi lain apabila yang mendapat kelainan itu kepribadian (tingkah laku) manusia.9 Kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani). Aspek ruhani menjadi esensi kepribadian manusia, sedang aspek jasmani menjadi alat aktualisasi. Oleh karena kedudukan seperti ini maka kelainan kepribadian manusia tidak akan dapat disembuhkan dengan sunnah pengobatan bissi, melainkan dengan sunnah pengobatan ma’nawi. Demikian juga, kelainan jasmani seringkali disebabkan

7 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 208

8 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 209

9 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 209

(4)

oleh kelainan ruhani dan cara pengobatannyapun harus dengan sunnah pengobatan ma‟nawi pula.

Dokter sekaligus filosof Muslim yang pertama kali memfungsikan pengetahuan jiwa untuk pengobatan medis adalah Abu Bakar Muhammad Zakariah al-Razi. Menurut al-Razi, tugas seorang dokter di samping mengetahui kesehatan jasmani (al-thibb al-jasmani) dituntut juga mengetahui kesehatan jiwa (al-thibb al-ruhani). Hal ini untuk menjaga keseimbangan jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, supaya tidak terjadi keadaan yang minus atau berkelebihan. Oleh karena konsep ini maka al-Razi menyusun dua buku yang terkenal, yaitu al-Thibb al-Manshuriyah (kesehatan al-Manshur) yang menjelaskan pengobatan jasmani, dan al-Thibb al-Ruhani (kesehatan mental) yang menerangkan pengobatan jiwa.10

Kutipan di atas menunjukkan urgensinya suatu pengetahuan tentang psikis. Pengetahuan psikis ini tidak sekadar berfungsi untuk memahami kepribadian manusia, tetapi juga untuk pengobatan penyakit jasmaniah dan ruhaniah. Banyak diantara penyakit jasmani seperti kelainan fungsi pernapasan, usus perut, dan sebgainya justru diakibatkan oleh kelainan jiwa manusia.

Penyakit jiwa seperti stress, wawas, dengki, iri-hati, nifak, dan sebagainya seringkali menjadi penyebab utama penyakit jasmani. Ketika penyakit jiwa itu kambuh maka kondisi emosi seseorang labil dan tak terkendali. Kelabilan jiwa ini mempengaruhi syaraf dan fungsi organik, sehingga terjadi penyempitan di saluran pernapasan, atau penyempitan usus perut yang mengakibatkan penyakit jasmani.11

Ibnu Qayim al-Jauziyah dalam “Ighatsah al-Lahfan" lebih spesifik membagi psikoterapi dalam dua kategori, yaitu tabi’iyyah dan syar’iyyah.

Psikoterapi tabi’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap penyakit yang gejalanya dapat diamati dan dirasakan oleh penderitanya dalam kondisi

10 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 210

11 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 210

(5)

tertentu, seperti penyakit kecemasan, kegelisahan, kesedihan dan amarah.

Penyembuhannya dengan cara menghilangkan sebab-sebabnya. Psikoterapi syar’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap penyakit yang gejalanya tidak dapat diamati dan tidak dapat dirasakan oleh penderitanya dalam kondisi tertentu, tetapi ia benar-benar penyakit yang berbahaya, sebab dapat merusak kalbu seseorang, seperti penyakit yang ditimbulkan dari kebodohan, syubhat, keragu-raguan, dan syahwat. Pengobatannya adalah dengan penanaman syariah yang datangnya dari Tuhan.12 Hal itu dipahami dari QS. Yunus; 57

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus; 57)

Muhammad Mahmud, seorang psikolog muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori; pertama, bersifat duniawi, berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata; kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual, dan agama.13

Sampai saat ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Atkinson, terdapat enam teknik psikoterapi yang digunakan oleh para terapis atau psikolog.

Yaitu:14

1. Teknik terapi psikoanalisis, bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan. Konflik yang tidak disadari itu memiliki

12 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 211

13 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 212

14 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 212-215

(6)

pengaruh yang kuat pada perkembangan kepribadian individu, sehingga menimbulkan stress dalam kehidupan. Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Menurut Freud, paling tidak terdapat lima macam teknik penyembuhan penyakit mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi, hipnotis, chatarsis, asosiasi bebas dan analisis mimpi. Teknik terapi Psikoanalisis Freud pada perkembangan selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.

2. Teknik terapi perilaku, yang menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu. Teknik ini antara lain desensitisasisistematik, flooding, penguatan sistematis, pemodelan dan pengulangan perilaku yang pantas, dan teknis regulasi diri perilaku.

3. Teknik terapi kognitif perilaku, yaitu teknik modifikasi perilakudan mengubah keyakinan maladaptif. Ahli terapi membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik. Atau, membantu pengendalian reaksi emosional yang terganggu, seperti kecemasan dan depresi dengan mengajarkan mereka cara yang lebih efektif untuk menginterpretasikan pengalaman mereka.

4. Teknik terapi humanistik, yaitu teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi ahli terapi yang minimal.

Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau oleh orang lain. Carl Rogers, yang mengembangkan psikoterapi berpusat pada klien (client-centered-therapy), percaya bahwa karakteristik ahli terapi yang penting untuk kemajuan dan eksplorasi-diri klien adalah empati, kehangatan dan ketulusan.

(7)

5. Teknik terapi eklektik dan integratif, yaitu memilih dari berbagai teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu, ketimbang mengikuti dengan kaku satu teknik tunggal. Ahli terapi mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual dan depresi.

6. Teknik terapi kelompok dan keluarga. Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi marital dan terapi keluarga adalah bentuk terapi kelompok khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan orang tua dan anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.

Berbagai teknik di atas, tak satupun menyebutkan teknik terapi ukhrawi (psikoterapi yang berpijak pada ajaran agama). Freud bahkan dalam The Future of an Illusion menganggap bahwa orang yang memeluk suatu agama berarti ia telah menderita delusi, ilusi dan perasaan menggoda pikiran (obsessional neurosis) yang berasal dari ketidakmampuan manusia (belplesness) dalam menghadapi kekuatan alam di luar dirinya dan juga kekuatan insting dari dalam dirinya sendiri. Agama merupakan kumpulan neurosis atau kekacauan mental yang disebabkan oleh kondisi serupa dengan kondisi yang menimbulkan neurosis pada anak-anak.15 Hal itu menunjukkan bahwa satu-satunya psikoterapi yang dikembangkan dalam psikoterapi psikoanalisis adalah psikoterapi duniawi, sebab teori-teorinya didasarkan atas paradigma antroposentris, yang tidak mengenal dunia spiritual atau agama.

Al-Qur‟an dalam syair tersebut dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab di dalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan pasien. Sugesti yang

15 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 215

(8)

dimaksud dapat diraih dengan mendengar dan membaca, memahami dan merenungkan, serta melaksanakan isi kandungannya. Masing-masing tahapan perlakuan terhadap Al-Qur‟an tersebut dapat menghantarkan pasien ke alam yang dapat menenangkan dan menyejukkan jiwanya.16

C. Perilaku Kenakalan Remaja terhadap Orang Tua

Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.17

Dilihat dari bahasa inggris "teenager", remaja artinya yakni manusia berusia belasan tahun. Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.18 Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.19

Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak- anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun.20 Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis,

16 Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir. Hlm 219

17 Syamsu Yusuf. 2004. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Hlm 184

18 Opcit. John W Santrock. Hlm 205

19 Loc.cit. Hlm 205

20 Ibid. Hlm 199

(9)

perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.21

Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua.

Seperti yang dikemukakan oleh Monks dkk bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.22 Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa.Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.23

Sedangkan menurut Zakiah Darajat remaja adalah masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.24

Menurut Abin Syamsudin menuliskan batasan remaja awal berkisar antara 11-13 tahun sampai 14-15 tahun. Dari batasan usia remaja awal tersebut, usia remaja awal merupakan usia remaja SMP.25 Conger dalam Abin Syamsudin, memberikan penafsiran sebagai ciri dari remaja sebagai suatu masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan tipe of time and the worst of time. Kalau individu mampu mengatasi

21 Ibid. Hlm 220

22 Opcit. John W Santrock. Hlm 120

23 Sri Rumini & Siti Sundari. 2004. Perkembangan Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Hlm 54

24 Zakiah Darajat. 1990. Remaja. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm 23

25 Abin Syamsudin Makmun. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung; Remaja Rosdakarya. Hlm 130

(10)

berbagai tuntutan yang dihadapinya secara integratif, ia akan menemukan identitasnya yang akan dibawa menjelang masa dewasanya. Sebaliknya, kalau gagal ia akan berada pada kritis identitas yang berkepanjangan.26

Menurut Monks, Knoers dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, rentang waktu usia remaja ini yaitu:27

 Masa pra-remaja, 10 – 12 tahun

 Masa remaja awal, 12 - 15 tahun

 Masa remaja pertengahan, 15 – 18 tahun

 Masa remaja akhir, 18 – 21 tahun

Seperti yang sudah dijabarkan di atas, fase remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.

a. Kenakalan Remaja terhadap Orang Tua

Secara naluriah orang tua akan menganggap anaknya sebagai bagian paling penting dalam hidupnya. Dalam posisi tersebut orang tua akan berusaha mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan anak. Dengan perspektif yang demikian seharusnya konflik orang tua-anak tidak akan terjadi, karena orang tua akan senantiasa berkorban untuk anaknya. Namun dalam hubungan orang tua-anak sering kali juga mengandung perspektif kekuasaan dan kewenangan. Selain terdapat aspek ketanggapan dalam merespons kebutuhan anak, juga terdapat

26 Opcit. Abin Syamsudin Makmun. Hlm 132

27 Opcit. Deswita. Hlm 192

(11)

aspek tuntutan yang mencerminkan harapan orang tua terhadap sikap dan perilaku anak. Akhirnya hubungan orang-tua anak pun biasanya diwarnai dengan berbagai perbedaan dan konflik. Sumber utama konflik pada umumnya adalah ketidakcocokan antara perspektif anak dan perspektif orang tua.28

Kita telah melihat bagaimana harapan remaja dan orang tua mereka sering kali seperti terlanggar ketika remaja berubah secara dramatis selama masa pubertas. Banyak orang tua melihat remaja mereka berubah secara dramatis selama masa pubertas. Banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari patuh menjadi seseorang yang tidak patuh, melawan, dan menentang standar- standar orang tua.29

Pada umumnya masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sulit dalam tahap perkembangan individu. Para psikolog selama ini memberi lebel masa remaja sebagai masa storm and stress, untuk menggambarkan masa yang penuh gejolak dan tekanan. Istilah storm and stress bermula dari psikolog permulaan Amerika, Stanley Hall, yang menganggap bahwa storm and stress merupakan fenomena universal pada masa remaja dan bersifat normatif.

Fenomena tersebut tersebut terjadi karena remaja menjalani proses evolusi menuju kedewasaan. Setelah memasuki masa dewasa, ibarat badai akan berlalu dan langit menjadi cerah kembali.30

Menurut Brook sesuai dengan tahap perkembangannya, interaksi remaja dengan orang tua memiliki kekhasan tersendiri. Interaksi antara remaja dan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga tindakan (three-act-drama). Drama tindakan pertama (the first act drama), interaksi remaja dengan orang tua berlangsung sebagaimana yang terjadi pada interaksi antara masa kanak-kanak dengan orang tua. Mereka memiliki ketergatungan kepada orang tua dan masih sangat dipengaruhi oleh orang tua. Namun, remaja sudah mulai semakin

28 Sri Lestari. 2012. Psikologi Keluarga. Jakarta; Kencana. Hlm 78

29 John W Satrock. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta; Erlangga. Hlm 184

30 Opcit. Sri Lestari. Hlm 79

(12)

menyadari keberadaan dirinya sebagai pribadi daripada masa-masa sebelumnya.

Drama tindakan yang kedua (the second act drama), disebut dengan istilah

“perjuangan untuk emansipasi”. Pada masa ini, remaja juga memiliki perjuangan yang kuat untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan dengan orang tuanya sebagaimana pada masa anak-anak untuk mencapai dewasa. Selanjutnya, drama tindakan ketiga (the third act drama), remaja berusaha menempatkan dirinya berteman dengan orang dewasa dan berinteraksi secara lancar dengan mereka.31

Menurut Steinberg masa awal remaja adalah waktu di mana konflik orang tua-remaja meningkat lebih dari konflik orang tua-anak. Karena beberapa faktor yang telah dibicarakan yang melibatkan pendewasaan remaja dan pendewasaan orang tua seperti; perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif termasuk meningkatnya idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berpusat pada kebebasan dan jati diri, harapan yang tak tercapai, dan perubahan fisik, kognitif dan sosial orang tua sehubungan dengan usia paruh baya.32

Menurut Brook dkk, konflik yang tinggi menandai beberapa hubungan orang tua-remaja. Konflik orang tua-remaja yang serius dan berat sagatlah membuat stress dan berkepanjangan yang berkaitan dengan beberapa masalah remaja seperti pindah dari rumah, kenakalan remaja, dikeluarkan dari Sekolah, kehamilan dan pernikahan dini, keanggotaan dalam pemujaan religius dan penyalah gunaan obat-obatan.33

Konflik remaja dengan orang tua merupakan salah satu hal yang banyak mengundang perhatian para peneliti. Area yang menjadi perhatian pada umumnya adalah frekuensi terjadinya konflik, topik yang menjadi konflik dan cara yang digunakan untuk melakukan resolusi konflik. Beberapa penelitian menunjukkan pola kurvalinier pada intensitas konflik orang tua-anak, yaitu meningkat pada remaja awal, mencapai puncaknya pada remaja tengah, dan

31 Mohammad Ali & Mohammad Asrori. 2008. Psikologi Remaja. Jakarta; PT. Bumi Aksara. Hlm 111

32 Opcit. John W Santrock. 2003. Hlm 187

33 Ibid. Hlm 87

(13)

menurun pada remaja akhir. Sementara beberapa penelitian lain mengungkapkan kecenderungan menurun secara linear denga intensitas konflik lebih tinggi terjadi pada remaja awal dan menurun pada remaja akhir.34

Konflik orang tua dengan remaja pada umumnya bersifat hierarkis dan berkenaan dengan kewajiban. Orang tua berada di posisi yang lebih tinggi yang harus dipatuhi, dan anak dipandang memiliki kewajiban terhadap orang tua.

Berbeda dengan konflik yang dialami dengan teman sebaya yang bersifat setara dan fakultatif. Konflik orang tua dengan remaja juga cenderung memancing tindakan koersif, yang merupakan kombinasi antara afeksi negatif, resolusi yang bersifat mendominasi dan akibat yang tidak setara pada masing-masing yang berkonflik.35

Galambos dan Almeida menemukan lima area yang menjadi sumber konflik orang tua dan remaja. Kelima area tersebut adalah tugas rumah tangga, penampilan, kesopanan, keuangan dan penyalahgunaan zat terlarang. Dengan pendekatan teori domain sosial, penelitian Sorkhabi mengungkap bahwa konflik remaja dengan orang tua lebih banyak terjadi, karena adanya pengaturan yang dilakukan oleh orang tua pada domain personal, misalnya penampilan diri, waktu untuk tidur pada malam hari, hubungan romantis, dan pilihan karir. Menurut teori domain sosial, control yang dilakukan oleh orang tua terhadap remaja dapat dikelompokkan ke dalam ranah moral, konvensional, prudensial, dan personal.36

Dalam Al-Qur‟an surat Al-Isra‟:23 menjelaskan tentang larangan seorang anak apabila mengatakan “ah” kepada orang tua yang bunyinya:

34 Opcit. Sri Lestari. Hlm 90

35 Ibid. Hlm 92

36 Loc.cit. Hlm 92

(14)

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”37

Selanjutnya Firman Allah (QS. Al-Isra‟:24):

Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka (ibu-bapak) berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”38

Dalam ayat di atas telah dijelaskan bahwa bagaimana cara kita memperlakukan orang tua, yang dimaksud dengan berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya adalah berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepadanya. Dan yang dimaksud dengan membentak mereka adalah berbicara secara kasar di saat keduanya memasuki masa tua mereka. Seyogyanyalah kita berkhidmat kepada keduanya sebagaimana mereka telah mengurus kita.

37 (QS. Al-Isra‟:23) Juz 15. Terjemahan Departement Agama Republik Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an. Hlm 427

38 (QS. Al-Isra‟:24) Juz 15. Terjemahan Departement Agama Republik Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an. Hlm 428

(15)

Bagaimanapun mereka tetap yang lebih baik. Dan bagaimana bisa kita biarkan keduanya menderita karena kita.

a.a Penyebab Kenakalan Remaja terhadap Orang Tua

Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Erikson, pemicu kenakalan remaja diantaranya:39

a) Identitas : masa remaja ada pada tahap dimana krisis identitas versus difusi identitas harus diatasi. Perubahan biologis berupa pubertas menjadi awal dari perubahan yang terjadi bersamaan dalam harapan sosial yang dimiliki keluarga, teman sebaya, dan Sekolah terhadap remaja.

b) Kontrol diri : kenakalan remaja yang dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku.

Kebanyakan orang muda telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal itu.

c) Proses keluarga : tergantungya atau ketiadaan penerapan pemberian dukungan

Masalah yang menjadi pemicu konflik antara remaja dan orang tua mencakup tujuh area, yaitu terlambat pulang baik dari sekolah maupun dari bermain; penampilan terutamamenyangkut cara berpakaian dan modelnya, serta gaya rambut; karakteristik teman sepergaulan; prestasi belajar;

keterlibatan dalam tugas pekerjaan rumah; penggunaan telepon, terutama ponsel; dan keterlibatan dalam hubungan romantis atau pacaran.40

Keterlambatan remaja pulang ke rumah terjadi karena pada masa remaja kebutuhan remaja untuk bersosialisai dengan teman sebayanya demikian kuat. Bahkan mereka cenderung memilih teman sebaya daripada

39 Opcit. John W Santrock. 2003. Hlm 522-525

40 Opcit. Sri Lestari. Hlm 96

(16)

orang tuanya untuk berbagi perasaanya, terutama pada remaja yang merasa kurang dekat dengan orang tua. Mereka merasa kurang dimengerti oleh orang tuanya dan sering mengalami kesalahpahaman dalam relasi dengan orang tua.

Sementara ketika bersama teman sebaya, mereka merasa dimengerti oleh teman sebayanya dan memiliki masalah-masalah yang tidak jauh berbeda sehingga dapat saling berbagi dengan nyaman. Keasyikan remaja dalam melakukan aktivitas bersama teman sebayanya dapat mengakibatkan mereka pulang ke rumah melebihi batas waktu yang ditetapkan, seperti pulang larut malam.41

Penampilan remaja dalam berpakaian maupun dalam memilih model rambut juga menimbulkan konflik anatara remaja dan orang tuanya. Sebagai contoh, orang tua yang melarang anaknya remaja puteri memakai model tank top bila pergi keluar rumah, namun masih menoleransi apabila dipakai di dalam rumah. Pada umumnya orang tua mengharapkan anak-anaknya berpakaian sopan dalam penampilannya dan tidak menyimpang dari norma umum di masyarakat.42

Kriteria remaja dalam memilih teman akrab adakalanya tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan orang tua sehingga menimbulkan konflik.

Remaja yang relasinya dengan orang tua kurang baik, cenderung memilih teman akrab dengan mengutamakan kecocokannya dalam berinteraksi dengan teman akrab tersebut, namun mengabaikan perilaku temannya seperti suka mabuk, pernah mencuri, atau putus sekolah. Menurut remaja, orang tua menunjukkan sikap tidak sukanya apabila mereka bermain dengan remaja lain yang berpakaian yang pendek-pendek (seronok), sering mengajak pergi bermain, dan bersikap tidak tahu aturan (kurang punya tata krama). Orang tua

41 Opcit. Sri Lestari. Hlm 97

42 Loc.cit. Hlm 97

(17)

juga tidak suka apabila remaja berteman dengan orang yang suka mabuk, merokok, pernah mencuri, dan teman yang putus sekolah.43

Prestasi belajar yang dicapai anak yang kurang sesuai dengan harapan orang tua menjadi penyebab konflik orang tua-anak yang berikutnya. Apabila prestasi belajar remaja menurun, maka orang tua ada yang menasihati anak, ada pula yang menegur dan memarahinya. Nasihat yang disampaikan orang tua dalam menghadapi situasi ini adalah belajar lebih rajin. Prestasi belajar yang menurun dipandang orang tua sebagai akibat terlalu banyak bermain dan menonton televisi sehingga lupa belajar.44

Keterlibatan remaja dalam melakukan tugas-tugas rumah yang telah menjadi tanggung jawabnya juga dapat menimbulkan konflik dengan orang tua. Remaja menyatakan bahwa di rumah mereka memiliki tugas membantu pekerjaan orang tua, seperti mencuci baju sendiri, menyetrika pakaian, mencuci piring, menyapu, atau mengisi bak air. Adakalanya remaja merasa senang membantu pekerjaan orang tua, tetapi hal ini juga menjadi konflik, yakni ketika remaja sedang “asyik” melakukan suatu kegiatan, misalnya mendengarkan musik, SMS-an, tiba-tiba disuruh orang tua untuk melakukan tugas-tugas rumah. Mereka memaknai perintah orang tua tersebut sebagai gangguan. Orang tua kemudian dianggap tidak dapat memahami kesenangan anak.45

Penggunaan ponsel pada remaja menjadi penyebab timbulnya konflik orang tua-anak yang berikutnya. Remaja biasa menggunakan ponsel untuk menelepon atau mengirim SMS dengan teman-temannya. Pulsa yang dihabiskan untuk ponsel berkisar dari Rp.10.000 hingga Rp.25.000 per minggu. Akan tetapi, pada remaja yang sedang jatuh cinta atau memiliki pacar, remaja bisa menghabiskan pulsa Rp.20.000 sehari untuk menelepon

43 Ibid. Hlm 98

44 Opcit. Sri Lestari. Hlm 99

45 Loc.cit. Hlm 99

(18)

atau ber-SMS. Saat-saat meminta uang untuk membeli pulsa menjadi pemicu konflik remaja dengan orang taunya. Besarnya pulsa yang dihabiskan remaja dianggap orang tua sebagai pemborosan.46

Pada remaja perempuan yang memiliki pacar juga mengalami masalah dengan orang tua, karena pada waktu pacarnya “apel” dan mengajak jalan- jalan mereka pulang terlalu malam. Hal ini memicu kemarahan pada orang tua. Orang tua mengharapkan remaja pulang ke rumah tidak melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Menurut penuturan mereka, aktivitas yang dilakukan bersama pacar adalah jalan-jalan, makan bersama, mengobrol, bercanda, dan berciuman.47

a.c Solusi dalam Mengatasi Perilaku Kenakalan Remaja terhadap Orang Tua Solusi orang tua dalam mengatasi perilaku kenakalan remaja terhadap orang tua adalah orang tua hendaknya memberikan kesibukkan dan mempercayakan sebagai tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja, pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan paksaan maupun mengada-ngada. Si remaja diberikan pengertian yang jelas sekaligus diberikan teladan. Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan masa depan si remaja, mereka diarahkan agar dapat memilih sekolah yang diharapkan serta mengembangkan bakat yang ada, untuk pemilihan study lanjut tidak semata-mata karena keinginan orang tua dan pilihan orang tua. Orang tua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih.48

Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja, orang tua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antara pengawasan dengan kebebasan. Orang tua memberikan suasana nyaman di rumah, orang tua tidak berlaku otoriter dan anak merasakan kedamaian dan kasih sayang di rumah

46 Opcit. Sri Lestari. Hlm 99

47 Ibid. Hlm 101

48 Kartini Kartono. 2003. Patologi Sosial, Kenakalan Remaja. Jakarta; Raja Grafindo Persada. Hlm 23

(19)

komunikasi terjalin dengan baik antara orang tua dengan anak, serta penanaman nilai agama diberikan sejak dini.49

D. Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Perilaku Kenakalan Remaja terhadap Orang Tua

Hampir setiap hari baik media massa cetak maupun elektronik memberitakan tentang perilaku kenakalan remaja. Sebagai orang tua pasti sangat prihatin melihat dan memperhatikan hal tersebut. Tentu harapan semua orang tua menginginkan agar kelak di kemudian hari setelah dewasa remajanya bisa menjadi seorang manusia yang kuat serta tangguh dalam menghadapi segala tantangan zaman, patuh terhadap orang tua, pandai di dalam sekolahnya, bisa menjaga sopan santun, serta selalu rendah hati pada sesama. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tentu tidak mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Berbagai cara dilakukan orang tua agar remajanya tidak sampai terpengaruh kemudian hanyut dan terjerumus pada perilaku yang negatif.

Namun alangkah terkejutnya bila para orang tua melihat remajanya mempunyai perilaku yang berubah, mungkin yang tadinya penurut dan patuh tiba- tiba suatu hari menjadi remaja nakal dan susah diatur. Pertama yang harus dilakukan adalah mencari solusi jangan sampai menyalahkan atau memvonis remaja. Dalam hal ini, pasti ada sebab dan juga faktor yang melatarbelakanginya sehingga remaja yang dibanggakan menjadi nakal. Berikut ini ada tiga hal penting yang harus diketahui yang menjadi faktor dari perilaku kenakalan remaja.

a. Faktor keluarga

Pada dasarnya, keluarga adalah tempat di mana seorang remaja bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna baik jasmani maupun rohani. Remaja bisa

49 Opcit. Kartini Kartono. Hlm 24

(20)

mendapatkan perhatian, kasih sayang, juga dukungan moral dari orang tua.

Namun sebaliknya, jika di dalam keluarga seorang remaja tidak bisa mendapatkan hal tersebut yang terjadi adalah pelampiasan di luar rumah. Maka tidak mengherankan jika mereka akhirnya akan mencari perhatian dan kasih sayang dari pihak lain.50

Untuk itu, kewajiban sebagai orang tua agar selalu memberikan perhatian, rasa aman, nyaman, dan selalu melindungi remajanya. Namun demikian, orang tua tidak dianjurkan memberikan suatu harapan yang berlebihan. Berikan kesempatan kepada remaja Anda untuk menentukan jati dirinya dalam berkreasi, dan juga bisa belajar hidup mandiri. Jangan memanjakan remaja karena hal tersebut hanya akan melemahkan karakter juga pribadinya.51

b. Faktor sekolah

Kewajiban dan tanggung jawab orang tua harus selalu memberikan arahan juga wawasan terhadap remajanya dalam memilih tempat sekolahnya, sebab tempat belajar yang berkualitas sangat besar dampak positifnya. Selain itu, sekolah yang baik adalah salah satu jaminan dan sangat berpengaruh pada masa depan. Jika kondisi sekolah tidak mendukung dalam materi atau proses belajar, pada gilirannya dapat memberikan peluang pada remaja untuk berperilaku kenakalan.52

Meskipun tidak terlalu signifikan, faktor sekolah juga dapat menjadi penyebab terjadinya kenakalan pada remaja. Dalam hal ini, kualitas sekolah harus baik dan semua elemen sekolah yang ada agar senantiasa bertanggung jawab kepada anak didiknya. Kemampuan para guru sangat diperlukan dan juga peran pemerintah adalah harus cepat tanggap terhadap gejolak masyarakat, khususnya para remaja sedini mungkin, sebab hal ini jika tidak diantisipasi dengan cepat tanpa campur

50 Opcit. Zakiyah Daradjat. 1983. Hlm 187

51 Loc.cit. Hlm 187

52 Ibid. Hlm 188

(21)

tangan semua komponen pemerintah sangat mustahil sebuah bangsa dan negara akan memiliki generasi yang kuat dan tangguh.53

c. Faktor lingkungan

Lingkungan atau tempat tinggal adalah salah satu penyebab terjadinya sebuah karakter. Jika seorang remaja hidup dalam lingkungan yang keras atau lingkungan tersebut kurang peduli terhadap sesama maka yang terjadi adalah remaja akan meniru komunitas tersebut. Salah satunya adalah merokok, hal ini bukan rokoknya yang disalahkan namun alangkah prihatinnya jika kita melihat seorang remaja yang belum cukup umur sudah terbiasa merokok, bahkan dilakukan di tempat umum.54

Namun beberapa fakta mengatakan bahwa keberadaan orang dalam lingkungan tersebut tidak ada yang peduli dengan kejadian itu. Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa "karena nilai setitik, rusak susu sebelangga". Setiap anak pada dasarnya dilahirkan seperti kertas putih bersih tidak ada coretan atau noda yang melekat. Anak juga dilahirkan dengan penuh kepolosan dan tidak ada dosa. Namun jika lingkungan tempat mereka tinggal tidak mendukung, pada akhirnya seorang remaja yang tumbuh di dalam lingkungan tersebut cepat atau lambat akan terpengaruh dengan kondisi lingkungan sekitarnya.55

53 Opcit. Zakiyah Daradjat. 1983. Hlm 188

54 Ibid. Hlm 190

55 Loc.cit. Hlm 190

Referensi

Dokumen terkait

Rekayasa Perangkat Lunak adalah suatu disiplin ilmu yang membahas semua aspek produksi dari perangkat lunak, mulai dari tahap awal yaitu analisa kebutuhan pengguna,

Tahap pendukung atau pemeliharaan dapat mengulangi proses pengembangan mulai dari analisis spesifikasi untuk perubahan perangkat lunak yang sudah ada, tapi tidak untuk

Pada tahap perumusan strategi balanced scorecard digunakan untuk memperluas cakrawala dalam menafsirkan hasil penginderaan terhadap trend perubahan lingkungan macro dan

Menurut Aswin (1982) dalam Menur (2006), lemak tubuh berperan penting dalam inisiasi menarche, hal ini dapat dilihat pada remaja putri yang mengalami menarche lebih awal

Identitas dan kekacauan identitas yaitu perkembangan yang terjadi selama tahun tahun masa remajaPada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti

10 hanya berarti kematangan fisik, tetapi terutama kematangan sosial-psikologis (Hurlock, 1999). Remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang

Formalisasi merupakan tahap belajar dimana siswa membuktikan rumus dari permainan yang digunakan pada awal pembelajaran tersebut. Kelebihan tahapan belajar teori Dienesa. a)

Dalam tahap kelima dari siklus hidup pengembangan sistem, penganalisis bekerja bersama-sama dengan pemogram untuk mengembangkan suatu perangkat lunak awal yang