• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1. Area Beresiko Tinggi dan Permasalahan Utamanya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "5.1. Area Beresiko Tinggi dan Permasalahan Utamanya"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

55 5 .. . II I nn n dd d ii i kk k aa a ss s ii i PP P ee e rr r m m m aa a ss s aa a ll l aa a hh h aa a nn n D D D aa a nn n O O O pp p ss s ii i PP P ee e nn n gg g ee e m m m bb b aa a nn n gg g aa a nn n SS S aa a nn n ii i tt t aa a ss s ii i

5.1. Area Beresiko Tinggi dan Permasalahan Utamanya

5.1.1. Study EHRA

EHRA (Enveriommental Healt Risk Assessment) atau Penilaian Resiko Kesehatan lingkungan merupakan studi singkat dengan bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang memiliki resiko pada kesehatan warga, Studi sanitasi yang diteliti mencakup :

 Kondisi kesehatan meliputi ; sistem penyedian air bersih, layanan pembuangan sampah, ketersedian jamban dan saluran pembuangan limbah.

 Prilaku dengan higenitas dan sanitasi meliputi ; cuci tangan pakai sabun, buang air besar, pembuangan kotoran anak dan pembuangan sampah.

Dalam Pelaksanaan EHRA yang menjadi tanggung jawab serta pelaksana adalah Pokja AMPL Kota Makassar. Untuk kegiatan pelaksanaannya dimulai bulan Agustus 2011 dan Pokja Kota Makassar melibatkan pihak ke-tiga untuk merekrut kader-kader dari kelurahan yang diambil dari kader posyandu sebagai tenaga enumerator EHRA dengan pertimbangan antara lain :

 Kader-kader memiliki akses yang leluasa untuk dating kerumah-rumah dan diterima oleh RT/RW atau warga yang menghuni rumah.Pertimbangan ini terkait erat karesterstik responden yang merupakan ibu berusia 18-60 tahun dan juga pertanyaan-pertanyaan di dalam kuiseoner yang banyak menyangkut kesehatan pribadi, seperti BAB dan prilaku BAB.

 Kader umumnya sudah memahami wilayah kelurahan sehingga mempermudah pemilihan rumah yang dilakukan secara random

Hasil EHRA ini di harapkan untuk memberikan kontrobusi bagi pengembangan Buku Putih dan Perencanan program-program sanitasi di tingkat kota. Serta mengamodasi variabel- variabel yang muncul dari kondisi kota di 143 kelurahan dan 14 kecamatan.

1. Persampahan

Untuk bagian persampahan, studi yang dilakukan adalah menelusuri sejumlah aspek yang mencakup 1) cara pembuangan sampah utama di rumah tangga, 2) frekuensi & pendapat tentang ketepatan pengangkutan sampah bagi mereka yang mendapat layanan pengangkutan sampah, dan 3) praktik pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

Cara pembuangan sampah yang dilakukan rumah tangga di kota Makassar cukup beragam, dan yang paling umum dilakukan rumah tangga di Makassar adalah dengan membuangnya ke

(2)

Tabel 5.1 Cara Penanganan Sampah Menurut Hasil Survey

No. Cara Penanganan Sampah Presentase

1. Diangkut Petugas 40,9

2. Ditimbun 1,4

3. Dibuat Kompos 0,01

4. Dibakar 6,1

5. Dibuang ke selokan/kanal 1,2

6. Dibuang sembarangan 1,8

7. Dibuang ke TPS 47

8. Lainnya 1,6

Sumber : Hasil Analisis EHRA 2011

Terkait dengan sampah, studi menjumpai sangat sedikit rumah tangga yang melakukan pemisahan sampah atau pembuatan kompos. Seperti terbaca pada tabel di atas hanya satu rumah tangga yang sudah melakukan pengomposan sekitar 0,01%.

2. Air limbah Rumah Tangga (Domestik)

Praktik buang air besar dapat menjadi salah satu faktor risiko bagi tecemarnya lingkungan termasuk sumber air, khususnya bila praktik BAB itu dilakukan di tempat yang tidak memadai.

Yang dimaksud dengan tempat yang tidak memadai bukan hanya tempat BAB di ruang terbuka seperti di sungai/kali/got/kebun, tetapi bisa juga termasuk sarana jamban yang nyaman di rumah. Bila pun BAB di dilkaukan di rumah dengan jamban yang nyaman, namun bila sarana penampungan dan pengolahan tinjanya tidak memadai, misalnya karena tidak kedap air, maka risiko cemaran patogen akan tetap tinggi. Selain itu, kondisi jamban juga mempengaruhi resiko kejadian penyakit, semakin bersih kondisinya, tentunya semakin kecil resiko kejadian penyakitnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.2 Kondisi Jamban Menurut Hasil Survey

No. Kondisi Jamban Presentase

1. Bersih dan tidak berbau 70,6

2. Kurang/tidak bersih 29,4

Sumber : Hasil Analisis EHRA 2011

Dari tabel di atas dapat digambarkan bahwa kondisi jamban di sebagian masyarakat masih tidak bersih (29,4%). Hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit. Di samping itu, terdapat 70,6% responden kondisi jambannya bersih dan tidak berbau. Hai ini juga dipengaruhi oleh sarana buang air besar itu sendiri yang dapat dilihat pada diagram berikut ini:

(3)

Grafik 5.1 Sarana Buang Air Besar Masyarakat di Kota Makassar Tahun 2011

Berdasarkan hasil Survei EHRA Kota Makassar Tahun 2011, sebagian besar masyarakat menggunakan jamban siram sebesar 89,13 %. Di sisi lain, masih ditemukan masyarakat yang buang air besar di sungai/kanal dan menggunakan kantong plastic seperti yang terlihat pada grafik 3.1 dan grafik di bawah ini dapat dilihat presentase tempat pembuangan akhir tinja masyarakat:

Grafik 5.2 Saluran Pembuangan Akhir Tinja Masyarakat di Kota Makassar Tahun 2011

Pembuangan akhir tinja masyarakat di Kota Makassar sebagian besar menggunakan tangki septic tank, sebagian lagi langsung dibuang ke kanal/laut dan lubang galian. Kondisi septik tank yang dimiliki rumah tangga belum bisa dianggap standar karena dalam pembuatannya tidak memenuhi kelayakan teknis yang telah distandarkan.

Septic tank yang sebagian besar dimiliki masyarakat di Kota Makassar dapat dilihat pada gambar 5.1.

(4)

Gambar 5.1 Salah satu Desain septic tank rumah tangga di Kota Makassar pada umumnya Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tangki septik pernah disedot. 46,6% responden menyatakan pernah mengosongkan tangki septic tank-nya, 46,6% menyatakan tidak pernah, dan sebesar 6,8% menyatakan tidak tahu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.3 Kondisi Septic Tank Hasil Survey

No. Apakah Tangki Pernah Dikosongkan %

1. Ya 46,6%

2. Tidak Pernah 46,6%

3. Tidak Tahu 6,8%

Sumber : Hasil Analisis EHRA 2011

3. Saluran Limbah dan Kebanjiran

Saluran limbah merupakan objek yang perlu dimasukan dalam studi karena saluran air limbah yang tidak memadai memungkinkan berkembangnya binatang pembawa patogen penyakit.

Saluran air limbah yang memadai ditandai dengan lancarnya aliran air di saluran, warnanya yang cenderung bening, dan tidak adanya tumpukan sampah di dalamnya. Kebanjiran/

genangan air adalah topik kedua yang akan dipaparkan di bagian ini. Ha ini perlu diangkat sebab air banjir merupakan salah satu faktor risiko penyakit. Seperti yang diketahui luas, warga di daerah banjir/genangan umumnya terancam sejumlah penyakit seperti penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare, serta penyakit-penyakit yang disebabkan oleh binatang seperti leptospirosis.

Air limbah non tinja rumah tangga mengandung berbagai bahan organik dan non-organik yang dapat mencemari air tanah, oleh karena itu air limbah harus dibuang pada sarana yang tidak menimbulkan pencemaran tersebut. Untuk daerah yang belum ada sistem saluran pembuangan air limbah maka sebaiknya air limbah dialirkan ke tempat pembuangan berupa sumur peresapan agar air kotor tersebut tidak mengalir sembarang. Pembuangan air limbah ke dalam selokan terbuka tidak dianjurkan apalagi selokan tersebut tidak mengalir. Limbah cair non tinja di Kota Makassar sebagian besar langsung dibuang di got/kanal/laut (73,8%).

Penampungan terbuka di pekarangan merupakan tempat pembuangan limbah cair non tinja yang masih digunakan oleh masyarakat yaitu sebesar 17,64%, pembuangan limbah cair non

(5)

tinja yang dibuang di penampungan tertutup di pekarangan sebesar 7,14% dan sebagian kecil (1,42%) penampungan di luar pekarangan. Hal ini da[at dilihat pada grafik berikut:

Grafik 5.3 Pembuangan Limbah Cair Non Tinja Rumah Tangga di Kota Makassar

Banjir berpotensi menjadi sebab penyebaran penyakit-penyakit, khususnya yang dikategorikan sebagai waterborne disease seperti penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare atau penyakit kolera. Risiko ini bisa muncul karena berbagai hal. Yang umum adalah karena banjir mencemari sumber-sumber air minum warga dengan patogen. Seringkali, risiko terkena penyakit menjadi semakin besar ketika praktik higinitas diri warga memburuk selama atau pascabanjir. Dalam studi, data mengenai pengalaman banjir diperoleh melalui laporan atau jawaban verbal dari responden.

Tabel 5.4 Data Banjir Hasil Survey

No. Kejadian Banjir/air tergenang %

1. Ya 42,4

2. Tidak Pernah 56,2

3. Tidak Tahu 1,5

Sumber : Hasil Analisis EHRA 2011

Seperti terbaca pada tabel di atas, banjir/air tergenang tampaknya bukan pengalaman mayoritas rumah tangga di Kota Makassar. Dari semua rumah yang di survei, sekitar 42,4%

yang melaporkan pernah mengalami banjir/air tergenang, baik yang sampai masuk ke dalam rumah atau sebatas hanya di lingkungan tempat tinggal.

Frekuensi banjir/air tergenang dalam satu tahun dapat dilihat pada diagram berikut ini:

(6)

Grafik 5.4 Frekuensi Banjir / Air Tergenang dalam Setahun di Kota Makassar

4. Air Minum

Pada dasarnya keempat aspek yang dikaji memiliki hubungan yang erat dengan tingkat risiko kesehatan suatu keluarga. Dalam 6athogen6 internasional, diakui bahwa sumber-sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri. Ada jenis-jenis sumber air minum yang secara global dinilai sebagai sumber yang 6athogen aman, seperti air ledeng/ PDAM, sumur bor, sumur gali terlindungi, mata air terlindungi dan air hujan (yang disimpan secara terlindungi). Namun, ada juga yang dipandang membawa risiko transmisi 6athogen ke dalam tubuh manusia. Air dari sumur atau mata air yang tidak terlindungi dikategorikan tidak aman.

Studi menemukan mayoritas rumah tangga di Kota Makassar memanfaatkan ledeng/PDAM sebagai sumber air minum utama. Ada sekitar 53,4% rumah tangga yang mengandalkan ledeng/PDAM,sedangkan rumah tangga yang mengandalkan sumur terdiri dari sumur bor sebesar 18,8% dan sumur gali 5,7%. Selain itu, masyarakat memilih menggunakan air dalam kemasan untuk sumber air minumnya sebanyak 22%. Sebagian kecil lainnya menyatakan sumber air bersihnya berasal dari mata air terlindung sebesar 0,1%, yang dimaksud dengan mata air terlindung ini, dalam satu kawasan terdapat sumber air yang mirip dengan mata air, berasal dari tanah dangkal yang kemudian dianggap mata air oleh mayarakat.

Grafik 5.5 Sumber Air Minum yang ada di Kota Makassar

(7)

Dibandingkan dengan ledeng/PDAM, penggunaan sumber-sumber air lain relatif lebih banyak.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah prosentase tersebut tidak menggambarkan cakupan koneksi PDAM pada rumah tangga di Kota Makassar. Indikator yang digunakan adalah apa sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga? Karenanya, bisa saja sebuah rumah tangga yang terkoneksi dengan PDAM memilih sumber air lain seperti air kemasan atau isi ulang sebagai sumber air minum utama. Bisa saja sebuah rumah menggunakan air PDAM hanya untuk mandi atau membersihkan perabot rumah.

Suplai air yang memadai merupakan salah satu faktor yang mengurangi resiko penyakit yang berhubungan dengan diare. Kecenderungannya, suplai air yang memadai akan lebih mudah melakukan segala kegiatan higienitas. Terkait dengan itu, studi juga mempelajari kelangkaan air yang dialami rumah tangga dalam rentang waktu dua minggu terakhir. Kelangkaan diukur dari tidak tersedianya air dari sumber air minum utama rumah tangga atau tidak bisa digunakannya air yang keluar dari sumber air minum utama. Data ini diperoleh dari pengakuan verbal responden dalam kurun waktu 2 minggu terakhir dari pelaksanaan survei.

Dari beberapa sumber air tersebut, sebagian besar air bening/jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbusa, dan tidak berbau. Presentasenya sebesar 88,8%. Sedangkan sisanya, masih ditemukan air yang berwarna, berbau, berbusa sebesar 11,2%.

Tabel 5.5 Kondisi Air Minum Yang ada di Kota Makassar 2011

No. Air Bening/jernih, tidak berwarna, tidak berasa,

tidak berbau, dan tidak berbusa Presentase

1. Ya 88,8

2. Tidak 11,2

Sumber : Hasil Analisis EHRA 2011

Aspek lain yang penting dipelajari terkait dengan sumber air adalah kelangkaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, yang dimaksud dengan kelangkaan air adalah tidak tersedianya atau tidak bisa digunakannya air sumber air minum utama paling tidak sehari satu malam. Di tingkat kota, dijumpai sekitar 22,12% rumah tangga di Makassar yang melaporkan pernah mengalami kelangkaan air. Mayoritas, sekitar 76,15% melaporkan tidak pernah mengalaminya.

Daftar Grafik 5.6 Kejadian Kelangkaan Air Dalam 2 Minggu Terakhir

(8)

Selain mengamati bangunan sumur, risiko (tercemarnya sumur) juga perlu dilihat dari sisi keberadaan bangunan lain di sekitarnya, khususnya tangki septik. Jarak yang relatif aman antara kedua bangunan itu adalah sekitar 10 meter. Semakin jauh tentu saja membuat sumur gali semakin aman dari pencemaran pathogen yang berasal dari tinja manusia.

Jarak septic tank dan sumber air berpengaruh terhadap kualitas sumber air. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2398-2002 mengenai perencanaan septic tank jarak minimum antara septic tank dan sumber air bersih minimal 10 m. Dari survey yang telah dilakukan, pada umumnya letak septic tank terlalu dekat dengan sumber air bersih dengan jarak kurang dari 10 m (75,34%).

5.1.2. Skroring Kondisi Sanitasi Kecamatan di Kota Makassar

Tujuan perencanaan sanitasi skala kota yang terkoordinasi adalah untuk membentuk kerangka kerja yang berkelanjutan bagi perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan dan evaluasi yang terkoordinasi dan pro-poor melalui penyusunan kebijakan yang efektif dan terkoordinasi, penguatan kelembagaan, perencanaan strategis dan peningkatan kesadaran.

Sebagai langkah awal perencanaan strategis sektor sanitasi bagi Kota Makassar, Pokja Sanitasi Kota akan menyusun Buku Putih yang akan memetakan kondisi sanitasi kota Makassar saat ini. Dokumen ini mencakup tidak hanya profil sanitasi kota, fasilitas yang ada, cakupan dan penyediaan layanan serta informasi mengenai kelembagaan dan keuangan tetapi juga analisis awal mengenai pemetaan area berisiko dan penetapan kawasan

“urban”, “peri-urban”, dan “rural”.

Penilaian area berisiko ini diperlukan untuk pemilihan dan pelaksanaan intervensi-intervensi yang diperlukan oleh pemerintah kota dalam menetapkan usulan prioritas program/kegiatan.

Kesalahan untuk menciptakan sebuah proses penentuan area yang menjadi target kegiatan telah banyak menyebabkan pendanaan bagi pembangunan sektor sanitasi tidak dapat digunakan secara efektif bagi area-area yang memiliki tingkat risiko sanitasi tinggi.

Ada beberapa alasan, yaitu:

• Pembangunan sanitasi hanya didasarkan pada supply- driven yang membawa dampak rendahnya efektivitas sarana dan prasarana yang terbangun.

• Pengambil keputusan tidak waspada terhadap masalah- masalah di luar batas administratif mereka, khususnya dampak secara langsung maupun tak langsung dari masalah sanitasi di wilayah mereka terhadap daerah disekitarnya.

• Proses pengambilan keputusan sering dipengaruhi oleh faktor-faktor kepentingan pribadi, atau organisasi, pemberi dana, budaya dan kondisi setempat.

Sementara itu, penetapan kelurahan /Kecamatan sebagai kawasan “urban”, “peri-urban”, atau

“rural” dilakukan untuk memberikan arahan zona pelayanan dan pemilihan teknologi saat penyusunan rencana strategi sanitasi kota (SSK) dan rencana tindak.

1. Proses Penilaian

Data/informasi baik yang berasal dari data sekunder tahun 2010, studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) tahun 2011, dan persepsi SKPD digunakan sebagai kriteria untuk menentukan pilihan area berisiko. Proses penilaian, penetapan dan pemetaan terdiri dari beberapa tahap. Pada tahap awal, proses penilaian, penetapan, dan pemetaan area

(9)

berisiko dan penetapan kawasan dilakukan menggunakan data sekunder tahun 2010 sebagai kriteria. sebagaimana disajikan dalam gambar berikut.

Gambar 5.2 Tahapan Penetapan Kawasan Beresiko

Setelah kriteria ditetapkan, tahap berikutnya adalah analisis awal atas opsi/pilihan area berisiko menggunakan pendekatan multi criteria analysis dengan mempertimbangkan aspek kemudahan, transparan, serta kebutuhan sumberdaya manusia dan waktu untuk menganalisis.

(10)

Tabel 5.6 Kriteria dan Sumber (data sekunder)

No Data Sumber

1 Kepadatan Penduduk BPS Daerah

2 Angka Kemiskinan BPM, BPS Daerah

3 IR Penyakit Diare Dinas Kesehatan

4 SR dan HU Air Bersih PDAM

5 Jamban Keluarga BPM, Dinas Kesehatan

6 Timbulan Sampah DPK

7 Wilayah Terbangun BAPPEDA

8 Luas Area Rob/Genangan PU

9 Luas kawasan Kumuh BPM, PU, BAPPEDA

Dalam menilai pilihan, kinerja setiap kelurahan atas kriteria diberi skor dan pembobotan yang ditetapkan sesuai kesepakatan seluruh angg ota Pokjasan Kota Makassar sebagaimana diperlihatkan dalam gambar berikut dan Tabel 5.6.

Gambar 5.3 Skor untuk menentukan pilihan

1 4

Sangat baik sangat buruk

Untuk membantu mendefinisikan zona-zona layanan, jenis layanan dan pemilihan opsi teknologi yang akan diterapkan di suatu kawasan kota, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, telah disepakati kawasan-kawasan ‘urban’, ‘peri-urban’ dan ‘rural’

berdasarkan kepadatan penduduk dan fungsi lahan kota.

Tabel 5.7 Alternatif pembobotan

No Data

Pembobotan

Alt.1 Alt. 2 Alt. 3

1 Kepadatan Penduduk 20% 15% 12%

2 Angka Kemiskinan 15% 15% 11%

3 IR Penyakit Diare 20 % 15 % 11%

4 SR dan HU Air Bersih 5 % 10 % 11%

5 Jamban Keluarga 10 % 9 % 11%

(11)

Sambungan Tabel 5.7

6 Timbulan Sampah 9 % 9 % 11%

7 Wilayah Terbangun 8 % 9 % 11%

8 Luas Area

Rob/Genangan 5 % 9 % 11%

9 Luas kawasan Kumuh 8 % 9 % 11%

Tahap berikutnya adalah penilaian, penetapan dan pemetaan area berisiko dengan menggunakan data EHRA 2011. Data dari studi EHRA ini memperlihatkan kondisi fasilitas sanitasi dan air bersih, dan perilaku-perilaku terkait higienitas dan sanitasi yang memiliki resiko pada kesehatan warga. Proses penilaian terhadap data EHRA, diperlihatkan dalam Gambar 3, kemudian akan dilanjutkan dengan menggabungkan hasil analisis data sekunder dan persepsi SKPD yang tergabung dalam pokja sanitasi kota untuk menetapkan area berisiko. Anggota Pokja (kelompok kerja) memberikan persepsi atau pandangan terhadap area-area yang berpotensi terkena risiko kesehatan masyarakat berdasarkan pengamatan, pengetahuan praktis dan keahlian profesi yang dimiliki setiap individu. Hasil analisis kemudian dicheck dengan melakukan observasi di lapangan.

2. Hasil Penilaian

Penilaian awal area berisiko disajikan dalam tabel matriks kinerja dan disusun berdasarkan

‘overal weighted scores’. Hasil akhir penilaian terhadap area berisiko untuk Kota Makassar telah ditetapkan oleh Pokja AMPL setelah dilakukan serangkaian observasi (kunjungan lapangan) pada kelurahan- kelurahan yang dinilai berisiko sangat buruk/tinggi (mendapat skor 4 pada hasil yang disepakati) berada di 22 kelurahan yang tersebar pada 8 Kecamatan seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini :

(12)

Tabel 5.8 Kelurahan Beresiko buruk/tinggi berdasarkan hasil yang disepakati

No. Kecamatan Kelurahan

1 Mariso 1 Panambungan

2 Tamalate 2 Barombong

3 Makassar 3 Macini Gusung

4 Macini Parang

5 Maradekaya Utara

4 Ujung Tanah 6 Pattingalloang

7 Pattingalloang Baru

8 Cambaya

9 Camba Berua

10 Pulau Barrang Lompo

11 Pulau Barrang Caddi

12 Pulau Kodingareng

13 Totaka

14 Ujung Tanah

15 Gusung

5 Tallo 16 Rappokalling

17 Tallo

18 Kaluku Bodoa

19 Lembo

6 Manggala 20 Tamangapa

7 Biringkanaya 21 Untia

8 Tamalanrea 22 Parang Loe

Gambar 5.4. Proses penilaian data EHRA

(13)

Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

1 Mariso 1 Mariso 3 3 2 2 3 3 Sedang

2 Lette 4 4 2 2 3 3 Sedang

3 Kampung Buyang 4 3 2 3 3 3 Sedang

4 Mattoanging 3 3 2 3 3 3 Sedang

5 Bontorannu 4 4 2 3 3 3 Sedang

6 Tamarunang 3 3 2 3 3 3 Sedang

7 Panambungan 4 4 4 4 3 4 Tinggi

8 Kunjung Mae 1 2 4 4 2 3 Sedang

9 Mario 3 3 3 4 3 3 Sedang

Total Kec. Mariso 3 3 3 3 3 3

2 Mamajang 1 Mamajang Luar 3 3 2 3 2 3 Sedang

2 Bonto Biraeng 4 3 2 3 2 3 Sedang

3 Labuang Baji 3 3 3 3 2 3 Sedang

4 Mamajang Dalam 3 3 2 3 1 2 Sedang

5 Mandala 4 4 2 3 2 3 Sedang

6 Maricaya Selatan 4 4 2 3 2 3 Sedang

7 Sambung Jawa 4 4 3 2 3 3 Sedang

8 Karang Anyar 3 3 3 2 2 3 Sedang

9 Tamparang Keke 3 3 4 2 3 3 Sedang

10 Baji Mappakasunggu 2 2 3 2 2 2 Sedang

11 Parang 4 4 4 2 3 3 Sedang

12 Pa'batang 1 2 4 2 2 2 Sedang

13 Bontolebang 4 3 4 2 3 3 Sedang

Total Kec. Mamajang 3 3 3 2 2 3

(14)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

3 Tamalate 1 Parang Tambung 3 3 2 3 2 3 Sedang

2 Maccini Sombala 4 4 2 3 3 3 Sedang

3 Balang Baru 4 4 2 3 3 3 Sedang

4 Tanjung Merdeka 4 4 2 3 3 3 Sedang

5 Pa'baeng - baeng 3 3 2 2 2 2 Sedang

6 Jongaya 3 3 2 2 2 2 Sedang

7 Bongaya 3 3 2 2 2 2 Sedang

8 Barombong 4 4 4 4 3 4 Tinggi

9 Mannaruki 2 2 2 2 2 2 Rendah

10 Mangasa 2 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Mamajang 3 3 2 3 3 3

4 Rappocini 1 Gunung Sari 1 2 2 2 1 2 Rendah

2 Balla Parang 4 3 2 2 2 3 Sedang

3 Rappocini 4 4 2 2 3 3 Sedang

4 Buakana 1 2 2 2 1 2 Rendah

5 Banta - bantaeng 4 3 2 2 3 3 Sedang

6 Tidung 4 4 2 2 3 3 Sedang

7 Bonto Makkio 1 2 2 2 2 2 Rendah

8 Kassi - kassi 2 2 2 2 2 2 Rendah

9 Mappala 2 2 2 2 2 2 Rendah

10 Karunrung 4 3 2 2 3 3 Sedang

Total Kec. Rappocini 3 3 2 2 2 2

(15)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

5 Makassar 1 Bara - baraya 4 4 3 2 3 3 Sedang

2 Bara - baraya Timur 4 4 3 2 3 3 Sedang

3 Bara - baraya Selatan 4 4 3 2 3 3 Sedang

4 Bara - baraya Utara 4 4 3 2 3 3 Sedang

5 Lariang Bangngi 2 2 3 2 2 2 Rendah

6 Barana 4 4 3 2 3 3 Sedang

7 Maccini 4 3 3 3 3 3 Sedang

8 Macini Gusung 4 4 3 4 3 4 Tinggi

9 Macini Parang 4 4 3 4 3 4 Tinggi

10 Maricaya 1 2 2 2 2 2 Rendah

11 Maricaya Baru 4 4 2 2 3 3 Sedang

12 Maradekaya 2 2 2 2 2 2 Rendah

13 Maradekaya Selatan 4 3 1 2 3 3 Sedang

14 Maradekaya Utara 4 4 2 4 4 4 Tinggi

Total Kec. Makassar 4 3 3 3 3 3

6 Ujung Pandang 1 Baru 1 2 2 2 2 2 Rendah

2 Bulogading 1 2 2 2 2 2 Rendah

3 Lae - lae 2 2 2 2 2 2 Rendah

4 Maloku 1 2 2 2 2 2 Rendah

5 Losari 1 1 2 2 2 2 Rendah

6 Mangkura 1 1 2 2 2 2 Rendah

7 Sawerigading 1 1 2 2 2 2 Rendah

8 Pisang Selatan 1 1 2 2 2 2 Rendah

9 Pisang Utara 2 2 2 2 2 2 Rendah

10 Lajangiru 2 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Ujung Pandang 1 2 2 2 2 2

(16)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

7 Wajo 1 Melayu 2 2 2 3 2 2 Rendah

2 Melayu Baru 1 1 3 4 2 2 Rendah

3 Ende 1 1 3 4 2 2 Rendah

4 Pattunuang 1 1 3 4 2 2 Rendah

5 Malimongan 1 1 2 2 2 2 Rendah

6 Malimongan Tua 1 2 2 2 2 2 Rendah

7 Mampu 1 1 2 2 2 2 Rendah

8 Butung 1 1 2 3 2 2 Rendah

Total Kec. Wajo 1 1 2 3 2 2

8 Bontoala 1 Layang 3 2 2 4 3 3 Sedang

2 Bunga Ejaya 1 2 2 4 2 2 Rendah

3 Parang Layang 1 2 2 4 2 2 Rendah

4 Bontoala 2 2 2 4 3 3 Sedang

5 Bontoala Tua 3 3 2 4 3 3 Sedang

6 Gaddong 1 2 2 4 2 2 Rendah

7 Bontoala Parang 2 2 2 4 3 3 Sedang

8 Baraya 2 2 2 2 3 2 Sedang

9 Timungan Lompoa 4 3 2 2 3 3 Sedang

10 Wajo Baru 2 2 2 2 3 2 Rendah

11 Tompo Balang 3 3 3 3 3 3 Rendah

12 Malimongan Baru 3 2 2 2 3 2 Rendah

Total Kec. Bontoala 2 2 2 3 3 3

(17)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penila

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

9 Ujung Tanah 1 Pattingalloang 4 4 2 4 4 4 Tinggi

2 Pattingalloang Baru 4 4 2 4 4 4 Tinggi

3 Cambaya 4 4 2 4 4 4 Tinggi

4 Camba Berua 4 4 2 4 4 4 Tinggi

5 Pulau Barrang Lompo 4 4 4 4 4 4 Tinggi

6 Pulau Barrang Caddi 4 4 4 4 4 4 Tinggi

7 Pulau Kodingareng 4 4 4 4 4 4 Tinggi

8 Tabaringan 3 3 3 4 3 3 Sedang

9 Totaka 4 3 3 4 4 4 Tinggi

10 Ujung Tanah 4 4 2 4 4 4 Tinggi

11 Tamalabba 1 2 3 4 3 3 Sedang

12 Gusung 4 4 3 4 3 4 Tinggi

Total Kec. Ujung Tanah 4 4 3 4 4 4

10 Tallo 1 La'latang 3 2 2 2 2 2 Rendah

2 Wala - walaya 1 2 2 2 2 2 Rendah

3 Rappojawa 3 3 2 2 3 3 Sedang

4 Kalukuang 2 2 2 2 3 2 Rendah

5 Pulau Lakkang 4 4 2 2 3 3 Sedang

6 Rappokalling 3 3 4 4 4 4 Tinggi

7 Tammua 2 2 4 4 3 3 Sedang

8 Tallo 4 3 4 4 3 4 Tinggi

9 Buloa 4 4 2 2 3 3 Sedang

10 Kaluku Bodoa 4 4 4 2 4 4 Tinggi

11 Lembo 4 4 4 2 4 4 Tinggi

(18)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

12 Suwangga 3 3 4 2 2 3 Sedang

13 Ujungpandang Baru 1 2 3 2 2 2 Rendah

14 Panampu 4 4 3 2 2 3 Sedang

15 Bungaeja Beru 3 3 3 2 3 3 Sedang

Total Kec. Tallo 3 3 3 2 3 3

11 Panakukang 1 Karuwisi 4 4 2 2 2 3 Sedang

2 Sinri Jala 4 4 2 2 3 3 Sedang

3 Karuwisi Utara 4 4 2 2 3 3 Sedang

4 Tamamaung 3 2 2 2 2 2 Rendah

5 Pandang 1 2 2 2 2 2 Rendah

6 Masale 3 3 2 2 3 3 Sedang

7 Pampang 3 2 2 2 2 2 Rendah

8 Panaikang 1 2 2 2 2 2 Rendah

9 Karampuang 1 2 2 2 2 2 Rendah

10 Tello Baru 2 2 2 2 2 2 Rendah

12 Paropo 2 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Panakukang 2 2 2 2 2 2

12 Manggala 1 Antang 3 3 2 2 3 3 Sedang

2 Manggala 1 2 2 2 2 2 Rendah

3 Tamangapa 4 4 4 2 4 4 Tinggi

4 Bangkala 3 3 4 2 2 3 Sedang

5 Batua 2 2 2 2 2 2 Rendah

6 Borong 2 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Manggala 3 3 3 2 3 2

(19)

Sambungan Tabel 5.9 Hasil Akhir Penilaian EHRA

No. Kecamatan Kelurahan Skor Data Sekunder

Skor EHRA Skor SKPD Skor Yang disepakati

Kategori Resiko Sanitasi Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3

13 Biringkanaya 1 Sudiang 1 2 3 4 3 3 Sedang

2 Pai 1 2 4 4 3 3 Sedang

3 Bulurokeng 2 2 4 4 3 3 Sedang

4 Untia 4 4 4 4 3 4 Tinggi

5 Daya 2 2 2 2 2 2 Rendah

6 Sudiang Raya 2 2 2 2 2 2 Rendah

7 Paccerakkang 1 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Biringkanaya 2 2 3 3 3 3

14 Tamalanrea 1 Tamalanrea Jaya 1 2 2 2 2 2 Rendah

2 Tamalanrea Indah 2 2 2 2 2 2 Rendah

3 Bira 1 2 4 4 3 3 Sedang

4 Parang Loe 3 3 4 4 4 4 Tinggi

5 Kapasa 1 2 3 3 2 2 Rendah

6 Tamalanrea 1 2 2 2 2 2 Rendah

Total Kec. Biringkanaya 2 2 3 3 3 2

(20)

Gambar 5.5: Peta luasan Kawasan Kumuh di Kota Makassar

(21)

Gambar 5.6 Peta Resiko Sanitasi Kota Makassar

(22)

3. Klasifikasi Kelurahan

Untuk menentukan pilihan teknologi sanitasi yang akan diterapkan, seluruh kelurahan diidentifikasi berdasarkan area urban, peri-urbandan rural. Saat ini tidak ada standar yang membedakan area urban dari peri urban dan area rural. Sebuah dokumen terakhir dari World Bank Policy Research Paper mengusulkan definisi operasional dari rurality dapat didasarkan kepadatan populasi. Berdasarkan karakteristik kepadatan populasi maka setiap kelurahan akan dikategorikan sebagai area urban bila kepadatan lebih dari 125 orang/Ha, peri- urban bila kepadatan berkisar antara 25 – 125 orang/Ha, atau rural bila kepadatan kurang dari 25 orang/Ha. Hasil awal identifikasi area berdasarkan

kepadatan populasi ini kemudian disesuaikan dengan zoning dari pemanfaatan detil ruang Kota Makassar sebagaimana tercantum dalam Revisi RTRW tahun 2010 -2030 untuk mendapatkan hasil akhir klasifikasi setiap kelurahan.

5.2. Kajian dan Opsi Partisipasi Masyarakat dan Gender di Area Prioritas

Masyarakat yang merupakan komponen dalam suatu komunitas dan mempunyai posisi penting dalam pengelolaan sanitasi. Namun sejauh ini partisipasi mereka belum mendapat perhatian yang proporsional dari pihak pemerintah. Oleh karena itu perlu disusun suatu studi penilaian mengenai partisipasi masyarakat dan peran jender dalam pengelolaan sanitasi, baik dalam skala kota maupun dalam skala nasional. Studi ini melibatkan masyarakat sebagai subyek secara langsung dan partisipatif akan sangat berguna dalam menyusun strategi pembangunan sistem sanitasi. Untuk mendapatkan sebuah penilaian yang kredibel dibutuhkan data dan informasi yang valid dan kredibel pula.

Untuk itu diperlukan serangkaian survey dan observasi langsung yang terencana dan komprehensif terhadap kondisi partisipasi masyarakat dan jender dalam penanganan sistem sanitasi dalam skala kota beserta prospek pengembangannya di masa depan.

Masyarakat diharapkan mampu mengenali permasalahan terkait dengan sanitasi rumah tinggal dan lingkungan mereka, merencanakan kegiatan, melaksanakan melalui kerjasama dengan berbagai pihak, serta melakukan evaluasi dan pengembangan kegiatan program secara mandiri. Sementara itu pelaksanaan program sanitasi juga diharapkan dapat secara partisipatif, tanpa harus menunggu “perintah” dari pemerintah. Untuk memampukan masyarakat agar memiliki kemampuan seperti di atas, penilaian tentang kondisi sanitasi masyarakat dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif yang mengadopsi Methodology for Participatory Assessment (MPA). MPA merupakan metodologi yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam berpartisipasi yang dikembangkan dari metodologi partisipatif yang sudah ada sebelumnya Participatory Rural Assessment (PRA) yang dapat digunakan untuk tujuan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi p rogram, termasuk di dalamnya program air bersih dan sanitasi, di tingkat komunitas. MPA terbukti sangat bermanfaat untuk pembangunan di berbagai sektor, yang mengaitkan keberlanjutan pelayanan program dengan kegiatan peka jender, berpihak pada kaum miskin, pendekatan tanggap kebutuhan (Demand Responsive Approach = DRA), menyatakan pola asosiasi antara pelayanan yang baik bisa dimanfaatkan dan berkelanjutan, hingga munculnya berbagai institusi dan pengambil kebijakan mendukung pendekatan ini.

Studi tentang Partisipasi Masyarakat dan Jender (PMJ) dilakukan dengan tujuan:

(23)

 Terkumpulnya informasi sanitasi secara kuantitatif-sistematis dengan menggunakan alat-alat partisipatori, untuk menilai kesinambungan dan ketanggapan terhadap kebutuhan;

 Teridentifikasinya pengalaman masyarakat dalam kegiatan/proyek perbaikan sanitasi, baik yang dilakukan secara swadaya atau gotong royong maupun bantuan dari instansi lain.

 Teridentifikasinya kebutuhan dan kesanggupan masyarakat untuk berkontribusi dalam perbaikan sanitasi

 Teridentifikasinya peran perempuan pada tahap perencanaan pembangunan sarana sanitasi dan beberapa perubahan tugas antara perempuan dan laki-laki.

 Teridentifikasi keberadaan, manfaat, peranan dan hubungan berbagai lembaga yang ada di kelurahan

Sementara itu, hasil yang diharapkan dari studi PMJ adalah:

 Peningkatan kesadaran masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah kota baik laki-laki dan perempuan mengenai kondisi dan seriusnya masalah sanitasi dan kebersihan.

 Munculnya kebutuhan masyarakat laki-laki dan perempuan disertai dengan kemauan untuk berkontribusi dalam pelaksanaan program sanitasi.

 Teridentifikasinya daerah setingkat Kelurahan yang berpotensi untuk pelaksanaan program program sanitasi berbasis masyarakat secara berkelanjutan.

Dari kegiatan Observasi & Survei PMJ di kelurahan-kelurahan yang termasuk area beresiko tinggi dengan melibatkan masyarakat secara langsung diperoleh hasil seperti yang tercantum pada Tabel 5.10. Hasil analisa data dapat digunakan dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) dan Rencana Tindak untuk kelurahan-kelurahan tersebut oleh Pokja AMPL Kota Makassar.

(24)

Tabel 5.10 Hasil Temuan dan Analisa Data Survei Partisipasi Masyarakat & Jender di Area Beresiko Tinggi

No. Kelurahan/

Kecamatan

Topik

1 2 3

A B A B A B 4

a b a b c

1. Panambun gan - Mariso

Untuk sarana jamban dan jalan

Pembanguna n berhasil ¾ dan hanya dapat dimanfaatka n oleh ½ masyarakat (Skor 2 = 50) Untuk sarana air bersih → Pembangunan berhasil penuh dan member manfaat penuh pada masyarakat (Skor 4 =100)

Pernah dilakukan dan masyarakat berkontribus i berupa tenaga kerja, konsumsi, iuran dan uang tunai.

(Skor 3 = 75)

Masyarakat tidak mau berkontribus i dlm bentuk material lokal

Pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal teknis umumnya masih didominasi dan dilakukan oleh laki-laki,

sedangkan perempuan mengerjakan pekerjaan domestik/rumah tangga.

Sudah ada pembagian tugas dan bertukar peran antara laki-laki dan perempuan untuk banyak jenis pekerjaan/kegiatan di rumah tangga yang dilakukan bersama oleh laki- laki dan prp..

Pekerjaan dengan ketrampilan dikerjakan hanya oleh laki-laki ( kaya

& miskin), sedangkan perempuan mengerjakan pekerjaan yang tidak membutuhka n ketrampilan (Skor 1=25))

Pekerjaan yang dibayar hanya dilakukan oleh laki- laki (kaya &

miskin), perempuan hanya melakukan pekerjaan yang sifatnya sukarela (Skor 1=25)

Ciri-ciri yang sangat membedaka n diantar masyarakat yang termasuk golongan Kaya, Sedang dan Miskin dalam hal kepemilikan asset, kondisi rumah, jenis pekerjaan, pendidikan dan akses terhadap pelayanan publik.

Jumlah masyarakat yang tergolong

Antara ¼ dan

½

masyarakat telah memiliki jamban dan sebagian besar golongan masyarakat menengah &

kaya (Skor 1=25)

Semua rumah tangga mempunyai akses ke sarana drainase lingkungan.

(Skor 4=100)

Akan tetapi kondisi saluran sering mampet/tidak mengalir dengan baik. Hal ini disebabkan muka air sungai lebih tinggi dari letak bangunan saluran, sehingga air akan membalik dan tidak bisa mengalir dg baik.

Semua rumah tangga TIDAK mempunyai akses ke sarana pengelolan/peng u mpulan sampah (Skor 0=0)

Sampah dibuang ke rawa-rawa atau tanah kosong di sekitar rumah.

Ada lembaga lokal yang

penting/bermanf aat untuk sebagian besar warga, rutin berinteraksi dengan

masyarakat, dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah (Skor 3=75) 6 lembaga yang mempunyai manfaat besar dan hubungan dekat dengan masyarakat serta ada pengakuan resmi dari yaitu Kelurahan, PKK, PAUD, BKD, Posyandu dan Puskesmas Pembantu. Ada 1

(25)

tetap ada walaupun fungsi laki-laki lebih dominan dalam perencanaan dan pembangunan fisik sanitasi

sementara yang tergolong menengah 23,33% dan yang miskin 66,67%.

Angka ini berkorelasi tinggi dengan ciri- ciri yang telah disebutkan di atas.

mempunyai manfaat besar dan mempunyai hubungan dekat dengan

masyarakat, tetapi tidak mempunyai pengakuan resmi dari pemerintah yaitu

Pengajian/Yasina n.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang dikatakan oleh Baktiar Budi Satrio yang menjabat sebagai ketua di Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam WANALA Universitas Airlangga Surabaya, “Di

Penelitian ini mencakup tiga tahapan penelitian, semua dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan dan memvalidasi metoda pengukuran kadar air menggunakan alat

Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Informasi SiLPA, Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah terhadap Belanja Modal Pemerintah Provinsi di Indonesia

memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan

Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Pembelajaran yang menekankan pada kognitif ini menjadi sebuah tindak lanjut dari harapan orangtua bahwa anak harus belajar dengan mengerjakan LKA agar mampu calistung

Setelah melakukan refleksi kekurangan yang terjadi disiklus I dan merancang pembelajaran kembali dengan memperbaiki kelemahan pada siklus I maka hasil temuan penelitian

Dari studi yang telah dilakukan dapat ditunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung pada musim panen yang diamati adalah luas lahan, tenaga kerja, bibit,