• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 4 KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL 4 KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah I

KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN

MODUL 4

(2)

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN ...

II. PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN ...

III. BAHAN PERALATAN DAN PERLENGKAPAN K3L ...

IV. PENETAPAN KETENTUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN KERJA PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI ...

(3)

1. PENDAHULUAN

Pendahuluan

Setiap proyek konstruksi selalu melibatkan berbagai sumber daya yang meliputi material dengan berbagai macam volumenya, peralatan dengan berbagai jenis dan kapasitasnya,serta tenaga kerja mulai dari tenaga ahli, tenaga terampil, tenaga setengah terampil sampai tenaga tidak terampil. Semua tenaga kerja tersebut memiliki berbagai macam latar belakang sosial,tingkat pendidikan, karakter kepribadian yang berbeda satu dengan lainnya. Dengan demikian wajar jika dalam pelaksanaan proyek tersebut mungkin terjadi kesalahan - kesalahan yang bisa mengganggu kesehatan dan keselamatan kerja.

Sejak dulu pepatah "Biar Lambat Asal Selamat" dalam melakukan suatu pekerjaan memang sudah populer dalam masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi pertanda adanya kesadaran budaya akan timbulnya bahaya karena kesalahan, kelengahan atau kelalaian akibat faktor manusia dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Sehingga kecelakaan kerja misalnya tidak semata - mata dianggap musibah atau nasib buruk.

Dewasa ini tidak cukup hanya dengan bekerja secara lambat untuk bisa menghindari kecelakaan kerja . Pekerjaan di bidang konstruksi pada satu sisi juga digolongkan jenis pekerjaan 3 - D atau kotor,sulit dan berbahaya ("dirty", "

difficult", dan " dangerous"). Pada sisi lain kemajuan teknologi juga telah mengubah sistim, peralatan, peralatan dan bahan yang digunakan serta lingkungan tempat kegiatan itu berlangsung. Sehingga ancaman bahayanya lebih besar dan bersifat lebih fatal.

Itulah sebabnya perlu penguasaan faktor - faktor penyebab kecelakaan itu, sehingga kecelakaan ataupun penyakit akibat hubungan kerja bisa dihindari.

Pengetahuan itu dinamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk bidang konstruksi atau disebut K3 - Konstruksi. Dan karena akibat kecelakaan kerja itu

(4)

keluarganya, maka risiko kecelakaan itu juga dikategorikan risiko sosial sehingga sisim perlindungannya diatur oleh Pemerintah.

Dengan demikian pemahaman dan penerapan tentang K3 Konstruksi bukan hanya berhubungan dengan cara mengerjakan, akan tetapi juga mcncukup scjuk pckcrju yung bcrsungkutun bcrangkat menuju tempat kerja, lingkungan kerja maupun proses produksi dan distribusi itu sendiri.

Maksud dan Tujuan

Maksud K3 Konstruksi adalah merupakan upaya menyediakan lingkungan serta suasana kerja yang nyaman dan aman. Sehingga K3 Konstruksi juga sekaligus meningkatkan pengawasan 4 M, yaitu Manusia (Man ), Material, Mesin /Peralatan ( Machine), .dan Metoda (Method), agar ke empat faktor tersebut berfungsi secara Iancar dan aman.

Adapun tujuan K3 adalah:

a. Memenuhi ketentuan Undang - undang tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

b. Menjamin Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi setiap orang yang berada di tempat kerja.

c. Perlengkapan dan perlengkapan produksi perlu dijaga agar dapat berfungsi dengan lancar dan tidak mengganggu kelancaran pekerjaan.

Sasaran

a. Mencoba pemakaian peralatan, perlengkapan atau alat bantu atupun mesin serta instalasi yang kemungkinan mengandung bahaya bagi pemakainya.

b. Diperlihatkan sumber- sumber potensi bahaya yang bisa timbul c. Ditunjukkan kemungkinan penyebaran suhu, kelembaman

debu,kotoran, sinar, radiasi,suara maupun getaran.

d. Ditunjukkan cara kerja dengan cara yang keliru seperti bekerja pada ketinggian yang melebihi ketentuan, tidak menggunakan pengaman, tidak memasang tanda pengaman.

(5)

2. PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN

Peraturan perundang - undangan yang berlaku dalam penerapan K -3 antara lain:

1. Keputusan bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri tenaga Kerja nomor Kep. 174/Men/1986 dan Kep. 104/KPTS /1986 tentang pedoman keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi.

2. Pcruturun Mcntcri tcnaga Kcrja No: 01/Men/1980, tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan konstruksi bangunan.

3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No: 98/KPTS/1979, tentang penggunaan suarat ijin mengemudi peralatan,poster, dan buku keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum

4. SE Menteri PU No 03/SE/M /2005 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi untuk instansi pemerintah TA 2005

5. Undang - undang Keselamatan Kerja No: 1 tahun 1970 yang memuat ketentuan umum tentang keselamatan kerja dalam usaha mencegah dan mengurangi kecelakaan bahaya lainnya.

Undang - undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang tenaga kerja

6. Undang - undang No: 14 tahun 1969, yang memuat ketentuan pokok mengenai tenaga kerja dalam mencegah, mengenal obat,perawatan, mempertinggi derajat kesehatan, menagtur hygiene, dan kesehatan kerja.

7. Undang - undang No: 3 tahun 1969 tentang persetujuan konvensi organisasi perburuhan internasional No 120 mengenai hygiene dalam perniagaan dan kantor - kantor

8. Peraturan Menteri Perburuhan tahun 1964, tentang syarat - syarat kebersihan dan kesehatan tempat kerja

9. Undang - undang kerja No 21 tahun 1954, tentang perjanjian perburuhan

(6)

10. Undang - undang kerja tahun 1948 - 1957, yang antara lain mengatur mengenai jam kerja, cuti tahunan, peraturan tentang kerja bagi anak - anak, persyaratan tempat kerja dll

11. Undang - undang kecelakaan tahun 1947 - 1957, yang memuat ketentuan mengenai ganti rugi kepada buruh yang mendapat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.

12. Undang - undang ganguan tahun 1927, mengenai hubungan akibat sampingan terhadap lingkungan dan sebagai akibat sampingan terhadap lingl<ungan dan sebagai usaha penecegahan terhadap ganguan hygiene dan kesehatan masyarakat

(7)

3. BAHAN PERALATAN DAN PERLENGKAPAN K3L

Perlengkapan dan peralatan K3L

Perlengkapan dan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Pelindung Badan

Pelindung badan berfungsi untuk melindungi diri agar tidak mengulumi cidera akibat kerja. Dalam rangka menghindarkan dan memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja, maka tenaga kerja perlu melengkapi dirinya dengan pelindung badan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang ditekuninya serta persyartan yang berlaku

Pelindung badan yang harus digunakan pada pekerjaan konstruksi adalah seperti:

- Sabuk pengaman (safety belt)

Sabuk pengaman merupakan perlengkapan yang sangat penting dan harus digunakan terutama pada saat melakukan pekerjaan pada ketinggian lebih dari 3 m.

Sabuk pengaman dipasang pada pinggang seperti ikat pinggang biasa dan mengikatkan bagian talinya kepada bagian konstruksi yang diperkirakan cukup kuat dan dapat menahan beban manusia, sehingga jika pekerja tergelincir/terpeleset tidak akan langsung jatuh akan tetapi dapat tertahan oleh sabuk pengaman sehingga terhindar dari kecelakan yang lebih fatal.

(8)

- Topi keras (helm)

Topi keras sangat berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda - benda yang mungkin jatuh, untuk itu topi keras harus dipilih yang baik mutunya.

- Sarung tangan

Sarung tangan digunakan untuk menghindarkan kulit tangan dari luka akibat serpihan besi, batu - batu tajam atau cairan semen dari adukan . Penggunaan sarung tangan harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan

- Sepatu kerja

Sepatu kerja digunakan untuk melindungi kaki dari luka akibat terjepit, benda - benda tajam dan sejenisnya . penggunaan sepatu juga harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.

- Penutup hidung (masker)

Penutup hidung (masker) digunakan pada saat bekerja pad a daerah yang berdebu atau yang mengandung unsur kimia seperti debu semen yang dapat menimbulkan gangguan pada pernapasan

- Kaca mata

Kaca mata harus digunakan pada saat melakukan pekerjaan khusus seperti: memecah batu, mengelas, menggerinda dsb

- Pelindung telinga

Pelindung telinga harus digunakan pada lingkungan pekerjaan yang bising yang dapat menimbulkan gangguan pendengaran

- Pakaian yang terpilih

Pakaian yang dikenakan juga harus dipilih yang kira - kira tidak terlalu ketat juga tidak terlalu longgar, sehingga tidak menyulitkan pada saat bekerja ..Pada pekerjaan khusus seperti las biasanya digunakan pakaian khusu (apron) yang melindungi badan dari percikan api akibat las.

Alat dan Bahan Pemadam Kebakaran

Bahaya kebakaran adalah bencana api yang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian baik terhadap harta benda maupun jiwa

(9)

manusia. Kebakaran bisa terjadi dimana saja, dilingkungan perumahan, pusat perbelanjaan, bahkan pada proyek pembangunan yang sedang dikerjakan sekalipun. Dengan demikian pengetahuan tentang alat - alat dan pemadam kebakaran perlu dikuasai oleh para pelaksana pekerjaan lapangan dalam rangka mengantisipasi terjadinya bahaya kebakaran

Pengetahuan minimal yang harus dikuasai antara lain:

a. Batang pengait, digunakan untuk merobohkan bagian - bagian bangunan yang dekat dengan api tetapi belum terbakar, dengan tujuan agar api tidak menjalar lebih luas lagi ke bagian lain.

b. Tangga digunakan untuk membantu merobohkan bagian bangunan yang tidak terjangkau oleh batang pengait.

c. Pasir digunakan untuk memadamkan api yang relatif masih kecil, yakni dengan cara menuangkan pada sumber api yang terbakar. Sebagai tindakan pencegahan biasanya pasir dimasukkan ke dalam drum dengan volume lebih kurang 0,25 m3 dan ditempatkan pada lokasi tertentu

d. Karung yang telah dibasahi/dimasukkan ke dalam air, digunakan untuk memadamkan air yang relatif masih kecil.

e. Hidran, didaerah perkotaan biasanya dipasang fasilitas hidran yang sumber airnya disuplai dari PDAM sehingga selalu ada dalam keadaan siap pakai.

Hidran digunakan untuk memadamkan api kebakaran yang telah membesar yakni dengan cara:

- Menyambungkan pipa airnya (water hose) dengan memotong hidran - Membuka katup air (water valve) pada hidran

- Menyemburkan air pada bagian yang belum terbakar, untuk mencegah api supaya tidak meluas.

f. Tabung pemadam kebakaran ( fire extingusher), alat ini dibuat dalam bentuk tabung yang diisi cairan kimia atau bubuk kimia kering. Kondisi tabung harus diperiksa secara berkala bahkan isinya harus digunti dalam batas waktu tertentu sesuoi ciP.ngan petunjuk pabrik.

(10)

Rambu- rambu K-3

Rabu - rambu K-3 merupakan bagian penting dalam penerapan K-3 dilingkungan proyek konstruksi dan harus dipasang pada tempat - tempat yang strategis, dalam arti mudah dilihat dan sesuai dengan situasi kerja.

Rambu- rambu yang diperlukan pada peketjaan konstruksi:

- Wajib menggunakan topi pengaman (helmet) pada daerah yang berdekatan

- Dilarang merokok atau menyalakan api pada daerah yang berdekatan dengan tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar seperti bensin, bahan kimia dan sejenisnya.

- wajib menggunakan penutup/pelindung telinga pada daerah yang bising akibat bunyi mesin seperti mesin ketam,mesin gergaji dsb

- Rambu lainnya sesuai dengan karakteristik bidang peketjaannya.

Menyimpan,merawat bahan dan peralatan .

- Simpanlah kunci dan alat perkakas di dalam laci atau lemari dan susunlah secara teratur dan rapi, agar tidak banyak waktu terbuang untuk mencarinya.

- Jangan sembarangan meletakkan perkakas atau alat dilantai, bawalah alat tersebut dalam kotak atau tas.

- Selama bekerja simpanlah perkakas atau alat yang tajam dan runcing di tempat aman,agar tidak jatuh menimpa orang

- Rawatlah semua peralatan dengan baik, karena seringkali kecelakaan terjadi diakibatkan oleh peralatan yang rusak dan tidak terawat.

Menata tempat kerja

Usahakan agar temput l<crja dalam keadaan rapi dan bersih. letakkan potongan - potongan bahan,lap atau potongan kain yang berminyak, kertas tak terpakai dan sampah lainnya di tempat - tempat yang disediakan.

(11)

Jagalah agar lantai tempat bekerja selalu senantiasa dalam keadaan bersih.

Letakkan barang - barang yang sekiranya dapat menyebabkan tergelincir seperti paku, pecahan kaca, kayu dsb di tempat yamg disediakan

Harus diupayakan agar pengaturan tempat kerja,lingkungan kerja dan tata cara kerja sedemikian rupa sehingga dapat membuat para pekerja dengan tenang melaksanakan pekerjaannya karena merasa terlindung dari resiko bahaya kecelakaan.

Manual/prosedur kerja peralatan dan penempatan bahan

- Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja selayaknya para pekerja harus berpedoman atau memahami kepada manual /prosedur kerja setiap jenis peralatan

- Sebelum menggunakan peralatan, bacalah lebih dahulu buku pedoman untuk mengoperasikannya

- Pelajari manual dengan tenag

- Cocokkan manual dengan peralatan sebenarnya untuk mendapatkan keyakinan dalam bekerja.

(12)

4. PENERAPAN KETENTUN

PENGELOLAAN LINGKUNGAN KERJA PADA PELAKSANAAN KERJA

KONSTRUKSI

Pengenalan jenis dan penyebab Kecelakaan Kerja

Jenis kecelakaan dan penyebab kerja yang sering terjadi pada pekerjaan konstruksi pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Terjepit

kecelakaan ini sering terjadi misalnya sewaktu mengangkat benda berat bersama pekerja lainnya tanpa dikomando. Pada waktu menurunkan benda tersebut tidak pada waktu yang bersamaam sehingga mengakibatkan tangan atau kaki terjepit oleh benda tsb. Kecelakaan terjepit juga bisa terjadi pada waktu menyambung pipa berdiameter ukuran besar 1 karena kurang hati - hati 1 jari - jari bisa terjepit. Pekerjaan ini juga memerlukan komando sewaktu menyambung atau menggeser pipa itu.

2. Terjatuh.

Untuk menghindari kecelakaan terjatuh dari bangunan bertingkat (dari data statistik mencapai angka 10%).disarankan supaya selalu enggunakan alat pengaman. Kecelakaan transportasi juga menduduki angka tertinggi (menurut data statistik mencapai 30% )

biasanya kendaraan masih bergerak penumpang sudah meloncat turun sehingga hilang keseimbangan karena itu jangan turun selama kendaraan

(13)

masih beergerak. Terjatunh dari tiang listrik sewaktu memanjat juga sering terjadi penyebabnya adakalanya terpeleset atau tersenngat arus listrik.

Disini disarankan agar selalu menggunakan ikat pinggang.

3. Terpukul

kecelakaan terpukul biasanya terjadi juga sewaktu mengangkat sesuatu tanpa memperhitungkan daya tahan kawat pengikat tiba - tiba kawat tersebut putus dan memukul apa saja yang berada dalam jangkauan kawat yang putus tersebut. Disini perhitungan daya tahan kawat itu yang tidak cermat dan menjadi penyebab kecelakaan.

4. Tergelincir,

kecelakaan tergelincir (menurut data statistik mencapai angka 26%) sering terjadi ditempat- tempat yang sering berminyak seperti sentral listrik, bengkel, tangga dsb. Tempat- tempat seperti ini harus sering dibersihkan.

5. Terkena percikan

kecelakaan ini bisa terjadi sewaktu menggerinda yang bisa menimpa mata atau muka. Yang IP.hih berbahaya ialah dalam pekerjaan las yang bisa menimpa mata, muka atau badan. Itu sebabnya disarankan untuk memakai kaca mata pengaman,baju khusus dan sarung tangan untuk mengelas.

6. Tertimbun tanah

kecelakaan ini bisa terjadi karena terjadinya longsor sebab tinggi front kerja melebihi yang seharusnya, yaitu lebih kurang 6 m. Keadaan ini juga bisa disebabkan jenis tanah yang mudah longsor . Dalam hal ini tinggi dan jenis tanah selalu harus diperhatikan, sehingga mengenai anggota badan.

Dalam pekerjaan ini diperlukan sakelar pengaman atau dilarang memindah - mindahkan lampu sorot.

(14)

7. Terkena aliran listrik

Kecelakaan ini biasanya terjadi sewaktu memindahkan lampu sorot di lubang galian pada waktu memindahkan, ternyata ada kabel yang sudah terkelupas atau terkena air, sehingga terkena air, sehingga mengenai anggota badan. Dalam pekerjaan ini diperlukan sakelar pengaman atau dilarang memindah - mindahkan lampu sorot.

8. Terbakar.

kebakaran bisa terjadi akibat membuang puntung rokok tidak pada tempatnya sehingga mengenai tumpukan kertas atau benda cair yang mudah terbakar. Bisa juga terjadi pada alat pemasak (kompor) yang meledak.Api juga bisa timbul dari kawat listrik yang terbakar karena sikring pa.lsu digunakan. Ini semuanya menghendaki keahit - hatian dalam membuang puntung rokok, menggunakan kompor masak yang aman dan menggunakan sikring asli. Menurut data statistik kecelakaan yang disebabkan kebakaran mencapai 5%

9. Terbelit

kecelakaan ini biasa terjadi karena poros yang berputar. Hal ini disebabkan lupa memasang tutup pengaman poros. Untuk ini selalu disarankan agar memasang pagar pengaman atau tutup pengaman pada setiap alat yang berputar sebab kecelakaan dapat berakibat fataI.

10. Kejatuhan benda

kejatuhan benda juga banyak terjadi seperti jatuhnya baut 1 mur1kunci atau alat kerja tangan yang dipakai pada waktu bekerja pudu su1:1tu l<ctinggiun (menurut data statistik mencapai 29%). Itu sebabnya disarankan agar setiap pekerja selalu memakai alat pengaman sewaktu bekerja.

(15)

11. Terkena debu atau gas

pekerjaan konstruksi banyak sekali berlangsung di lingkungan yang berdebu atau gas tertentu. Akibat hal ini banyak menimbulkan penyakit akibat hubungan kerja dan baru diketahui setelah jangka waktu tertentu.

Itu sebabnya diperlukan memakai penutup hidung dan mulut (masker) guna mencegah kecelakaan tersebut..

12. Tenggelam

kecealakaan ini terjadi sewaktu menggunakan perahu atau sampan waktu menuju atau pulang dari tempat kerja. Pekerja yang harus bekerja diatas air atau harus menaiki perahu seharusnya bisa berenang atau menggunakan alat pelampung.

Pencegahan Kecelakaan kerja.

Faktor penyebab kecelakann

Beberapa faktor yang juga turut menyebabkan kecelakaan antara lain:

1. Keadaan lingkungan (working environment)

Keadaan lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap moral para pekerja. Lingkungan kerja yang memenuhi syarat dapat mempertinggi effisiensi kerja dan mengurangi kelelahan 1 sehingga dengan demikian meningkatkan produktivitas . Faktor lingkungan kerja yang perlu mendapatkan perioritas antara lain:

- tata ruang yang tidak memenuhi syarat1 penempatan bahan baku dan peralatan yang tidak pada tempatnya 1 pekarangan dan lantai yang kotor

- Ventilasi udara yang tidak sempurna, menyebabkan kurangnya pertukaran udara segar diari luar ruangan, sehingga ruangan menjadi lembab.

- Penerangan, penerangan kurang atau menylaukan akan menggaanggu aktifitas kerja. Penyinaran yang memenuhi syarat sungut bcsur pcranannya bagi pekerja dalam menekan angka kecelakaan kerja.

(16)

2. Keadaan peralatan dan perlengkapan.

- Penempatan dan fungsi peralatan

Kecelakaan bisa terjadi karena faktor peralatan dan perlengkapan (mesin dan alat kerja) biasanya karena cara penempatan atau letak yang salah, juga bisa terjadi karena tidak ada atau tidak difungsikannya alat pengaman atau juga karena peralatan tua yang dalam keadaan rusak.

- Peralatan angkut dan alat berat

Peralatan angkut yang akan diuraikan disini berhubungan dengan keselamatan kerja antara lain forklift, truck, crane

3. Keadaan pekerja

Keadaan pekerja ini memerlukan perhatian yang lebih banyak dan lebih teliti, karena hal ini berhubungan dengan watak dan tingkah laku manusia,kecakapan dan keterampilan serta kesehatan fisik dan mentel pekerja.

Sehari - hari ditemukan pekerja yang bersikap tidak wajar, misalnya ceroboh, terlalu berani, tidak mengindahkan instruksi,lalai, sering melamun,tidak mau memakai pelindung kerja, tidak bersedia bekerja sama, kurang sabar dsb.

Pencegahan kecelakaan kerja.

Menyingkirkan bahaya. Apabila dalam suatu situasi kerja adanya bahaya yang diperkirakan bisa menimbulkan kecelakaan, maka seorang pelaksana harus segera menghentikan pekerjaan tersebut dan memberikan peringatan kepada pekerja yang bersangkutan untuk memperbaiki cara kerja atau perlengkapan kerja yang digunakan. Misalnya jika ada pekerja yang melakukan pekerjaan tepat dibawah para pekerja lain di atasnya, maka seorang pelaksana harus segera menghentikan pekerjaan tersebut, dan memindahkan pekerja yang bersangkuran

(17)

Penggunaan alat pelindung. Pada situasi kerja yang riskan

terhadap kecelakaan, kontraktor harus menyediakan dan mewajibkan para pekerjanya untuk menggunakan alat pelindung badan seperti topi pengaman (helmet), sabuk pengaman (safety belt) dll

Pemasangan rambu - rambu K-3.

Rambu - rambu K-3 harus dipasang pada tempat - tempat kerja yang bisa menimbulkan kecelakaan kerja dan dipasang di setiap sudut dan pintu masuk ke area kerja. Demikian pula rambu -rambu penggunaan sabuk pengaman (safety belt).

Memberikan anjuran dan sanksi. Setiap akan memulai pekerjaan sebaiknya dilakukan penjelasan singkat tentang pentingnya cara kerja yang aman dan penggunaan alat pengaman kepada semua pekerja dan menyampaian hasil evaluasi terhadap pelaksanaan K-3 sebelumnya. Apabila ini sudah disampaikan maka jika ada pekerja yang melakukan pelanggaran selayaknya perlu diberi sanksi, hal ini guna meningkatkan dispilin kerja.

Menguasai tindakan yang tidak aman (unsafe action)

Untuk dapat menguasai dan mengendalikan sebab - sebab tindakan tidak aman (unsafe action) dari seseorang perlu penelitian dan perbaikan dengan seksama dalam hal:

- pengawasan - Analisis jabutun - Disisplin kerja - latihan kerja

- Penempatan pekerja.

- Kesehatan pekerja.

(18)

Tindak lanjut akibat kecelakaan kerja

Pertolongan pertama pada kecelakaan di lingkungan kerja

Jika tenaga kerja mengalami kecelakaan kerja atau diserang penyakit pada saat sedang bekerja maka sebaiknya segera menghubungi dokter atau membawa penderita ke rumah sakit terdekat. Namun sebaikknya tindakan pertolongan diberikan kepada si penderita sambil menubggu kedatangan dokter atau ambulans untuk membawa penderita ker rumah sakit.

Pengetahuan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan yang sangat penting dan perlu dikuasai minimal adalah cara:

- Melakukan pernapasan buatan

Bila pernapasan penderita berhenti, maka dapat diatasi dengan memberikan pernapasan buatan dari mulut ke mulut dengan cara:

• Membuka mulut penderita dengan jari untuk menghindarkan hambatan dari mulut

• Memegang tengkuk atau leher penderita dengan hati - hati dan menelentangkannya sambil kepalanya ditekan kebawah.

• Menekan sudut rahangnya ke depan dari belakang untuk meyakinkan

• bahwa lidahnya terjulur dan jalan napasnya bebas.

• Membuka mulut kita Iebar - Iebar sambil menarik napas dalam dalam.

Pijit lubang hidung penderita dan tempelkan mulut kita kemulutnya kemudian tiaup dengan keras ke dalam paru - parunya samapi penuh . lepaskan mulut kita dan perhatikan gerakan si penderita . Ulangi tiupan sampai si penderita bernapas kembali.

• Pernapasan buatan dari mulut ke mulut ini bisa diikuti dengan pijitan jantung dengan cara Berlutut di samping penderita dekat dada penderita

• Meletakkan tangan kanan pada tulang rusuk /dada penderita

• Menekan kedua tangan dengan kuat ke depan sedemikian rupa sehingga berat badan menekan si penderita kira - kira 5 em ( tidak boleh lebih dari 5 em)

(19)

• Ulangi pijitan sampai lima kali selang satu detik. Untuk memperoleh keterampilan ini sebaiknya perusahaan/ badan hukum yang memperkerjakan karyawan sebaiknya mengundang ahli yang mempunyai kompetensi di bidang ini untuk memberi pelatihan kepada karyawannya.

- Menghentikan pendarahan

Jika penderita luka banyak mengeluarkan darah sehingga makin lama makin lemah, maka harus diusahakan supaya pendarahannya eepat berhenti.

Pendarahan biasanya akan segera berhenti jika bagian anggota sebelah atas yang berdarah ditekan selama kurang lebih lima menit atau lebih sedikit.

Berikut ini adalah cara menghentikan pendarahan akibat luka:

• Baringkan penderita dengan kepala bersandar

• Angkat bagian yang luka sehingga rata dengan badan ( jika memungkinkan)

• Tempelkan kain yang bersih pada lukanya, kemudian tekan sampai darahnya membeku

- Mengatasi penderita pingsan

Pingsan keadaan tidak sadarkan diri untuk beberapa waktu, karena jantung seketika menjadi lemah sehingga darah yang mengalir ke otak berkurang akibat terlalu letih atau bekerja pada tempat yang panas. cara mengatasi penderita pingsan adalah:

• Baringkan penderitu dengun bugiun kcpulu lcbih rcnduh, ugur duruh yang mengalir ke otaknya lebih banyak

• Buka atau longgarkan baju penderita

• Gosok kaki tangannya

• Rendam kakinya dalam air hangat (suam kuku)

• Setelah siuman beri minum air hangat

• Biarkan istirahat

(20)

- Mengangkat dan memindahkan penderita

Mengangkat orang yang luka parah atau sakit berat harus dalam keadaan berbaring dan badannya tidak boleh terkulai. pengangkatan dilakukan oleh dua orang dengan menggunakan usungan ( brancai').

Memindahkan penderita keatas brancar (usungan) harus dilakukan oleh tiga orang,dengan cara seperti berikut:

• Berlutut pada bagian kepala, badan dan kaki penderita

• Mengangkat penderita perlahan - lahan dan hati - hati secara bersamaan

• Menarik badan penderita dalam posisi miring

• Menarik kaki kanan ke belakang dan berlutut bersama - sama kemudian membaringkan penderita diatas usungan (brancar) dengan hati- hati

• Mengangkat usungan (brancar) oleh dua orang bersama- sama

Jika penderita tidak terlalu parah dapat dipapah oleh dua orang dengan cara seperti berikut:

• Berdiri pada bagian kiri dan kanan penderita

• Membelitkan tangan kiri dan tangan kananya pada bahu kita

• Memegang tangan penderita dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang pinggang penderita

• Berjalan memapah penderita dengan perlahan dan berhati - hati .

• Pada saat memapah kaki diatur agar tidak beradu dengan kaki penderita sehingga tidak saling mengganggu

• Istirahat jika penderita menghendakinya.

Penyelidikan sebab- sebab terjadinya kecelakaan

Sebagai penanggung jawab pekerjaan sebelum melaporkan kejadian kecelakaan terlebih dahulu harus menyelidiki sebab - sebab yang

(21)

mengakibatkan terjadinya kecelakaan tersebut . Prosedur penyelidikan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

- Mendatangi tempat /lokasi terjadinya kecelakaan

- Mengumpulkan data tentang terjadinya kecelakaan dengan cara bertanya kepada saksi saksi yang melihat kejadian meliputi:

• Waktu kejadian

• jenis pekerjaan yang sedang dilakukan /dilaksanakan

• Jumlah dan jabatan /posisi orang-orang yang melakukan pekerjaan

• Jenis dan cara menempatkan bahan - bahan yang digunakan

- Mencatat semua data .yang diperoleh:

• Menyimpulkan penyebab terjadinya kecelakaan

• Menghitung kerugian akibat kecelakaan

• Pembuatan laporan kejadian kecelakaan

Penyakit Akibat Hubungan Kerja dan Jaminan Kecelakaan kerja 1. Umum

Secara umum penyakit akibat kerja disebut juga penyakit jabatan yang berarti penyakit yang diakibatkan pekerjaan atau pada waktu menjalankan pekerjaan. Menurut undang - undang kecelakaan disebutkan bahwa penyakit akibat kerja adalah penyakit yang timbul karena hubungan kerja.

Hal ini berarti tidak hanya penyakit yang ditimbulkan langsung karena aktivitas mengerjakan suatu pekerjaan . Contoh konkrit ialah kecelakaan yang menimpa pekerja dalam perjalanan menuju atau pulang dari tempat kerja.

Penyakit akibat hubungan kerja harus mendapat perhatian khusus karena:

- Penyakit yang terjadi sebenarnya bisa dicegah. Untuk ini diperlukan

(22)

- Penyakit yang terjadi dapat menimbulkan kelainan atau cacat yang tak dapt dipulihkan.

- Kemungkinan cacat mempunyai frekwensi yang lebih besar.

- Hilangnya waktu kerja dan perlu mendapatkan tenaga pengganti - Penyakit yang timbul kebanyakan akibat kelalaian manusia itu

sendiri

Etimologi Penyakit

Faktor - faktor penyebab terjadinya penyakit akibat hubungan kerja dapat dibagi dalam beberapa golongan

- Golongan fisik, antara lain:

• Suara gaduh atau bisisng dapat mengakibatkan bisu dan tuli

• Tekanan udara yang berubah - ubah dapat mengakibatkan penyakit " caissori'

• Suhu yang tinggi dapat menyebabkan "heat stroke', "heat cramps" ata u " Hyperpirexia''

• Suhu terlalu rendah dapat mengakibatkan " frostbite'" White fingel'

• Sinar infra merah dapat menyebabkan kekeruhan lensa mata (katarak)

• Sinar ultra violet dapat menyebabkan peradangan pacta mata

• Radiasi sinar radio aktif dapat menyebabkan tumor ganas pada kulit dan darah, leukemia dan " aplastik anemia"

- Golongan Kimia, antara lain:

• gas seperti Co,H2S,HCN Amoniak dapat mengakibatkan keracunan

• Uap, diantaranya uap logam dapat menyebabkan peradangan kulit,keracunan dan " metal fume fever "

• Larutan zat kimia dapat menyebabkan penyakit kulit Dermatitis dan luka bakar

(23)

• Debu dapat menyebabkan penimbunan debu dalam paru - paru yang menyebabkan penyakit antara lain:

• Silocosis yang disebabkan SR02 bebas

• Byssinosis yang disebabkan debu kapas

• Asbestosis yang disebabkan debu asbes

• Stenosis yang disebabkan debu buji timah

• Siderosis yang disebabkan oleh debu yang mengandung Fe203

- Golongan Hayati, antara lain :

• Cacing dapat menyebabkan "anky lostomiasis" atau "

Sehitosomiasis"

• Serangga misalnya lebah,kutu,pinjai atau nyamuk dapat menularkan penyakit malaria,filiriasis dan lain- lain.

• Bakteri, antara lain penyakit antrax yang ditularkan hewan kepada manusia

• Getah tumbuh - tumbuhan dapat menyebabkan penyakit kulit

- Golongan Faal

• Sikap badan yang kurang tepat maupun beban yang terlalu berat dapat menimbulkan keluhan pada pinggang.

• Kesalahan pada konstruksi peralatan seperti mesin bisa menyebabkan kelelahan fisik, bahkan dapat menyebabkan perubahan fisik tubuh

• Bekerja dengan berdiri terus menerus dapat mengakibatkan varises pada tangkai bawah atau

"platfoot"

(24)

- Golongan Mental Psikologik

• Gangguan mental psikologik bisa datang dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat dan pendidikan

• Bisa pula pula disebabkan beban tanggung jawab yang berat diluar kemampuan ( " mangerial illness")

• Tidak mampu menyesuaikan diri dengan kawan sekerja, bawahan atau atasa n.

Jaminan Kecelakaan

Setiap pekerja borongan dan harian lepas secara khusus jaminan kecelakaannya telah diatur dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja pada setiap proyek.Iuran dibayar oleh kontraktor dalam persentase tertentu atas dasar besarnya nilai kontrak/proyek. Jaminan pada dasarnya berlangsung selama mengerjakan proyek yang bersangkutan, terkecuali ditemukan penyakit akibat bekerja pada proyek tersebut walaupun jangka waktu pekerjaan telah selesai. Program jaminan ini dilaksanakan oleh PT. Jamsostek. Program ini baru mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja termasuk penyakit karena hubungan kerja. Program yang lebih lengkap meliputi Jaminan hari Tua (JHT), Jaminan Pemeliharaan Kesehataan (JPK) dan Jaminan Kematian (JK). Jaminan kematian ini bukan kematian akibat hubungan kerja. Jaminan kematian akibat kecelakaan termasuk Jaminan Kecelakaan Kerja.

Pelayanan Santunan

Menurut ketentuan apabila ada yang mengalami kecelakaan, tenaga kerja atau siapa saja harus secepatnya memberitahukan ke perusahaan atau pengusaha, dalam hal ini kepada kontraktor. Pengusaha wajib memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan, termasuk membawa korban ke rumah sakit atau klinik terdekat. Hal ini juga berlaku pada pekerja yang tertimpa penyakit akibat hubungan kerja.

(25)

Tahap berikutnya Kontraktor harus melaporkan baik kepada PT Jamsostek dan kepada kantor Depnaker setempat dalam jangka waktu sesuai ketentuan yang berlaku.

Realisasi pelayanan selanjutnya menjadi tanggung jawab PT Jamsostek. Dalam upaya perlindungan terhadap pekerja telah diatur lebih lengkap tcntung pcnyukit ukibut hubungun kerja. Ketentuan ini hendakny11 diketahui oleh pekerja borongan maupun harian lepas yang bekerja di proyek. Penyakit yang dimaksud disini bukan saja yang diakibatkan langsung oleh pekerjaan tetapi juga akibat lingkungan kerja.

Patut diketahui bahwa penyakit bisa saja memperlihatkan gejala setelah suatu jangka waktu tertentu terkena suatu penyakit. Karena itu andaikata dalam 3 tahun setelah selesai bekerja di suatru proyek, dan dokter membuktikan penyebabnya adalah akibat dari pekerja atau lingkungan kerja itu; maka hal itu tetap berarti akibat kecelakaan kerja atau penyakit akibat hubungan kerja. Artinya penderita masih berhak atas Jaminan Kecelakaan Kerja yang diprogramkan Pemerintah.

Daftar penyakit yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden No 22 Tahun 1993

Referensi

Dokumen terkait

Dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan kerja alat pelindung diri merupakan alternatif yang terakhir. Namun APD ini sangat berperan dalam meminimumkan kecelakaan

Proses-proses produksi tersebut banyak menggunakan peralatan produksi yang mempunyai resiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sehingga

Dengan melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja dari risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi

Kecelakaan kerja ialah suatu kejadian yg tidak dikehendaki dan tdk diduga semula yg menimpa tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja.. Penyakit akibat kerja ialah penyakit

Pemakaian APD bertujuan untuk melindungi tenaa kerja dan juga merupakan salah satu upaya mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja oleh

Tenaga kerja absen disebabkan penyakit, kecelakaan, dll sebanyak 5% dari seluruh waktu kerjanya.. “Safety Health

Keamanan, Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) adalah bidang yang penting dalam manajemen perusahaan yang bertujuan untuk melindungi dan memastikan kesejahteraan karyawan serta menjaga kelestarian lingkungan tempat kerja. Konsep K3L mencakup serangkaian praktik dan kebijakan yang dirancang untuk mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, serta kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan. Keamanan: Fokus pada upaya perlindungan terhadap karyawan dari potensi bahaya fisik dan kejahatan di tempat kerja. Ini meliputi penerapan sistem keamanan, pelatihan untuk tindakan darurat, penggunaan peralatan pelindung diri, dan penegakan aturan keselamatan di tempat kerja. Kesehatan: Berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan fisik dan mental karyawan. Ini meliputi pencegahan penyakit akibat kerja, akses terhadap layanan kesehatan, program kesehatan dan kesejahteraan, serta promosi gaya hidup sehat. Keselamatan Kerja: Berfokus pada identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko di tempat kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan cedera. Ini termasuk pembangunan budaya keselamatan, pelatihan keselamatan, audit keselamatan, dan penerapan prosedur kerja yang aman. Lingkungan: Melibatkan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat kerja dan mencegah polusi serta kerusakan lingkungan. Ini termasuk pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, penggunaan energi yang efisien, dan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan. Dengan menerapkan praktik K3L yang baik, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya akibat cedera dan penyakit, serta membangun citra perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Selain itu, pemenuhan kriteria K3L juga seringkali menjadi persyaratan hukum dan regulasi yang harus dipatuhi oleh perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan upaya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja serta orang lain di tempat kerja dengan tujuan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat