76
Universitas Kristen Petra
6. KONSEP TRANSFORMASI DESAIN
6.1 Konsep Perancangan
Konsep yang digunakan dalam perancangan ini adalah “The Essence of Lamin”. Kata essence atau dalam Bahasa Indonesia “esens” adalah sifat intrinsik atau kualitas sesuatu yang bersifat abstrak dan menentukan suatu karatker yang terbentuk. Sehingga konsep ini mengangkat desain yang berangkat dari nilai-nilai Rumah Lamin.
Masyarakat Suku Dayak hidup secara komunal dalam Rumah Lamin.
Rumah Lamin dapat memuat hingga 100 orang didalamnya. Rumah Lamin merupakan simbol nilai spiritual dan jati diri masyarakat Suku Dayak. Nilai intangible yaitu nilai yang menjadi roh pada Rumah Lamin adalah keseimbangan hubungan vertikal (makrokosmos) manusia dengan alam atas dan alam bawah yang menciptakan hubungan horisontal (mikrokosmos) manusia dengan sesama menjadi selaras serta harmonis.
Gambar 6.1 Problem Statements dan Goals Perancangan
Gambar 6.2 Esensi Rumah Lamin
77
Universitas Kristen Petra
6.2 Tema Perancangan
Konsep perancangan ini adalah menampilkan Pusat Kesenian Suku Dayak di Kota Samarinda sebagai rumah bagi kesenian Suku Dayak di Kota Samarinda dengan menggunakan esensi Rumah Lamin sebagai konsep dasar. Nilai intangible digunakan dalam bentuk layout dan bentukan dasar elemen interior dan elemen pengisi ruang yaitu balance dan symmetry yang menampilkan hubungan vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan hubungan horizontal (hubungan dengan sesame dan alam sekitar) masyarakat Suku Dayak. Sedangkan nilai tangible diterapkan sebagai aksen dengan tujuan agar dapat menghadirkan roh dan spirit ruang Rumah Lamin secara lebih eksplisit.
6.3 Karakter, Gaya, dan Suasana Ruang
Pusat kesenian ini menggunakan desain interior yang menampilkan elemen desain yang terdapat pada Rumah Lamin dengan sentuhan modern dengan gaya desain eksotik dengan material dominan kayu. Bentukan dasar menggunakan bentuk geometris yang simetris dengan menggunakan patra ukiran dayak sebagai aksen. Suasana yang ingin dihadirkan adalah suasana yang ramah, terbuka, dan segar.
a. Lantai
Lantai menggunakan material dominasi kayu. Penggunaan flooring linear kayu ulin pada lobby dan area galeri untuk menghadirkan suasana tradisional Rumah Lamin. Ruangan lain menggunakan flooring kayu dengan bentuk yang lebih variatif untuk menghadirkan suasana yang lebih dinamis pada ruangan.
Karpet digunakan di ruang auditorium sebagai peredam suara.
b. Dinding
Dinding bagian lobby menggunakan modul kayu dengan aksen tanaman artifisial untuk menambah estetika dan menghidupkan suasana ruang. Dinding backdrop resepsionis dan area void lantai 2 menggunakan ukiran Suku Dayak dengan warna dominan kuning untuk menghadirkan nilai tangible serta menampilkan suasana Rumah Lamin. Ruangan lain pada bangunan menggunakan material dominasi kayu.
78
Universitas Kristen Petra
c. Plafon
Plafon pada bagian lobby menggunakan desain yang terinsipirasi konstruksi atap ekspos pada Rumah Lamin untuk menghadrikan suasana Rumah Lamin yang lebih terasa. Plafon pada ruangan lain didominasi oleh material kayu serta leveling gypsum.
6.4 Sistem Interior
6.4.1 Sistem Pencahayaan/Tata Cahaya
Pencahayaan pusat keseninan ini mengoptimasi pencahayaan alami untuk bagian lobby, café, serta area lantai dua. Pada area galeri menggunakan pencahayan buatan agar distribusi cahaya merata serta lebih stabil. Karya-karya yang dipamerkan diberi cahaya dari lampu spotlight untuk menambah estetika area pameran serta menonjolkan karya. Pencahayaan pada area auditorium juga menggunakan pencahayaan buatan dengan menggunakan spotlight pada area panggung untuk mengoptimalkan stage lighting.
6.4.2 Sistem Penghawaan/Tata Udara
Pusat kesenian ini menggunakan penghawaan buatan yang menggunakan exhaust fan, AC split, serta AC central yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan pada ruangan.
6.4.3 Sistem Elektronika
Sistem elektronika pada pusat kesenian ini terpusat pada ruang panel yang ada pada setiap lantai menggunakan main switch board (MSB) sebagai pusat yang mendistribusikan listrik dari sumber listrik menuju ruangan-ruangan pada bangunan.
6.4.4 Sistem Akustik/ Tata Suara
Sistem tata suara yang digunakan adalah central speaker yang digunakan untuk menciptakan suasana dari lagu-lagu tradisional Suku Dayak yang diputar pada area lobby dan galeri. Pada ruang auditorium menggunakan dinding akustik berupa panel diffuser dan absorber serta pada plafon digunakan sound reflector dan absorber untuk mengoptimalkan distribusi ruangan pada ruangan.
79
Universitas Kristen Petra
6.4.5 Sistem Proteksi Kebakaran
Sistem proteksi kebakaran menggunakan smoke detector, sprinkler, dan APAR. Pada ruang auditorium menggunakan material panel yang tahan api serta pada auditorium yang menampung orang banyak seluruh pintu menghadap keluar sehingga pada saat terjadi kejadian darurat seluruh pengguna ruangan dapat dengan mudah keluar.
6.5 Skematik Desain
Pada area lobby terdapat resepsionis dan cafe yang menyatu. Teritori cafe ditandai dengan leveling pada lantai dan perbedaan material.
Area resepsionis menggunakan backdrop kayu dengan finish ekspos. Unsur line digunakan pada lantai sebagai pendukung konsep. Area giftstore dibatasi dengan
material kaca.
Gambar 6.3 Area lobby view 1
Gambar 6.4 Area lobby view 2
80
Universitas Kristen Petra
Resepsionis dibatasi dengan teritori yang diciptakan oleh pola lantai.
Galeri mengunakan warna dominan putih untuk menonjolkan karya yang dipajang.
6.6 Transformasi Desain
Tahap transformasi desain merupakan tahap setelah evaluasi kedua dimana konsep dan sketsa kasar desain dijadikan kedalam desain digital dengan produk denah, rencana lantai, rencana plafon, rencana mekanikal elektrikal, potongan, main entrance, dan gambar 3 dimensi. Transformasi desain inilah yang kemudian akan melewati tahap revisi untuk sampai kedesain akhir.
Gambar 6.5 Area resepsionis
Gambar 6.6 Area galeri
81
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.7 Denah lt.1
82
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.8 Denah lt.2
83
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.9 Pola plafon lt.1
84
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.10 Pola plafon lt.2
85
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.11 Mekanikal elektrikal lt.1
86
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.12 Mekanikal elektrikal lt.2
87
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.13 Potongan AA
Gambar 6.14 Potongan BB
Gambar 6.15 Potongan CC
88
Universitas Kristen Petra
Gambar 6.16 Potongan DD
Gambar 6.17 Main entrance
89
Universitas Kristen Petra
Pada area lobby dinding yang menghadap keluar menggunakan ornamen ukiran agar dapat menggambarkan aktivitas pada pusat kesenian ini. Material yang digunakan dominan material kayu gelap. Kayu ulin digunakan sebagai material pada dinding dan plafon.
Gambar 6.18 Perspektif lobby
Gambar 6.19 Perspektif lobby
Gambar 6.20 Area tunggu lantai 2
90
Universitas Kristen Petra
Area tunggu lantai dua merupakan area untuk para pengunjung auditorium menunggu pertunjukan. Pada area ini juga terdapat galeri foto untuk para pengunjung dapat melihat karya sambil menuunggu. Area void dibuat terbuka tanpa sekat agar memudahkan sirkulasi dari dan menuju auditorium.
Gambar 6.21 Area tunggu lantai 2
Gambar 6.22 Area tunggu lantai 2
Gambar 6.23 Galeri seni
91
Universitas Kristen Petra
Galeri seni menyimpan karya 2 dimensi dan 3 dimensi. Karya 2 dimensi berupa anyaman dan kain Ulap Doyo sedangkan karya 3 dimensi yaitu ukiran kayu. Material dominan yang digunakan adalah kayu untuk menimbulkan suasana
“Lamin” pada galeri.
Gambar 6.24 Galeri seni
Gambar 6.25 Auditorium
Gambar 6.26 Auditorium
92
Universitas Kristen Petra
Pada auditorium material dominan yang digunakan adalah kayu dengan panggung menggunakan backdrop ukiran dayak agar membangun suasana seperti saat berkumpul pada Rumah Lamin.
Pada ruang workshop A yang digunakan untuk kegiatan seminar dan talk show, digunakan material lantai karpet untuk meredam suara dari dalam dan luar ruangan.
Pada ruang workshop B yang digunakan untuk kegiatan kelas privat terdapat storage yang sekaligus berfungsi untuk layar projektor.
Gambar 6.27 Workshop A
Gambar 6.28 Workshop B
93
Universitas Kristen Petra
Studio tari menggunakan material dominan kaca agar para penari dapat dengan mudah melihat penampilan mereka. Lantai yang digunakan adalah lantai vinyl bermotif kayu yang tahan getaran. Terdapat 2 area pada studio tari ini yaitu area loker dan area latihan.
Gambar 6.29 Studio tari
Gambar 6.30 Studio tari