• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN BATAKO DENGAN SERBUK KULIT KERANG BULU (Anadara antiquata) DAN SIKACIM CONCRETE ADDITIVE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBUATAN BATAKO DENGAN SERBUK KULIT KERANG BULU (Anadara antiquata) DAN SIKACIM CONCRETE ADDITIVE"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN BATAKO DENGAN SERBUK KULIT KERANG BULU (Anadara antiquata) DAN SIKACIM CONCRETE ADDITIVE

(The Making of Brick Using Leather Shell Powder (Anadara antiquata) and Sikacim Concrete Additive)

Bobby Arisandi

1,2

, Saipul Bahri Daulay

1

, Riswanti Sigalingging

1

1)Program Studi Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3 Kampus USU Medan, 20155

2)Email : [email protected]

Diterima:08 Januari 2018 / Disetujui:29 Maret 2018

ABSTRACT

The need of bricks for building materials is increasing so that the land available for burning bricks is limited. One alternative to overcome this is the use of brick with the main components of cement, sand, water and leather shell powder(Anadara antiquata) and sikacim concrete additive that serves to improve the structure of the brick.The purpose of this study was to obtain the best composition in the manufacture of brickwork. This research was conducted using non factorial completely randomized design consisting of 3 levels i.e K1 (5%), K2 (15%) and K3 (25%). Parameters analyzed were specific gravity of aggregate, time of binding, compressive strength and absorption. The results showed that the best treatment was found in the treatment of replicates I and K1 (5%) with fine aggregate type weight including the bulk density was 2.44, saturated surface dry was 2.50, the apparent density was 2.58 and water absorption was 2.24% in accordance withBSN1970:2008; The compressive strength was 10.4 MPa and the absorption was 3.89% and according toBSN 03-0349-1989 was on grade I. However, The initial binding time was 65 minutes and the final binding time was120 minutes that was not classified as BSN 15-2049-2004.

Keywords: Brick, Anadara antiquata, Sikacim Concrete Additive

ABSTRAK

Kebutuhan batu bata untuk bahan bangunan semakin meningkat sehingga menyebabkan lahan yang tersedia untuk pembakaran batu bata terbatas. Salah satu alternatif untuk mengatasi hal tersebut yaitu penggunaan batako dengan komponen utama yaitu semen, pasir, air dan serbuk kulit kerang bulu (Anadara antiquata) dan sikacim concrete additive yang berfungsi untuk memperbaiki struktur dari batako. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh komposisi terbaik dalam pembuatan batako. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial yang terdiri dari 3 taraf yaitu K1 (5%), K2 (15%) dan K3 (25%). Parameter yang di analisis meliputi berat jenis agregat halus, waktu ikat, kuat tekan dan absorbsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada ulangan I dan K1 (5%) untuk nilai berat jenis agregat halus meliputi berat jenis curah sebesar 2,44, jenuh kering permukaan sebesar 2,50, berat jenis semu sebesar 2,58 dan penyerapan air sebesar 2,24% sesuai BSN 1970:2008; kuat tekan sebesar 10,4 MPa dan absorbsi sebesar 3,89% tergolong mutu I berdasarkan BSN 03-0349-1989; akan tetapi, waktu ikat awal sebesar 65 menit dan waktu ikat akhir sebesar 120 menit tidak tergolong BSN 15-2049-2004.

Kata kunci : Batako, Anadara antiquata, Sikacim Concrete Additive

PENDAHULUAN

Pada zaman modern ini, pembangunan konstruksi gedung di kota-kota besar berkembang dengan begitu pesat. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan bahan bangunan seperti kerikil, pasir, serta semen akan meningkat pula. Bangunan gedung terdiri atas dinding dan lantai. Dinding yang biasa digunakan yaitu batako, bata celcon (hebel) dan batu bata.

Namun karena kebutuhan yang semakin

meningkat menjadikan permintaan akan bahan bangunan berupa batu bata juga semakin meningkat, sedangkan lahan yang tersedia untuk pembakaran batu bata terbatas. Oleh karena itu, batako dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bata merah.

Batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan bahan lain. Air untuk pembuatan dan perawatan

(2)

batako tidak boleh mengandung minyak, asam alkali, garam atau bahan lain yang dapat merusak batako maupun beton. Jumlah air yang digunakan adukan beton maupun batako dapat ditentukan dengan ukuran berat dan harus dilakukan setepat-tepatnya agar tidak terjadi bleeding (Lubis, 2010).

Pembuatan batako pada umumnya dilakukan dengan mencampurkan pasir kuarsa sebagai sumber SiO2, kapur dan semen serta sejumlah agregat yang berupa kerikil atau batu kricak dalam perbandingan tertentu. Jumlah maupun ukuran bahan campuran yang berbeda dapat menyebabkan timbulnya pori dari struktur batako yang dapat menyimpan udara maupun menyerap air. Untuk mengurangi pori-pori tersebut dan meningkatkan kualitas batako yang dihasilkan dapat dicetak secara manual atau mekanik dalam bentuk dan ukuran yang diinginkan dengan pemberian tekanan (pressing) mulai dari 20 kg/cm2 sampai dengan 120 kg/cm2 untuk mendapatkan kuat tekan batako, paving maupun mortar yang konstan dan selanjutnya diletakkan atau disimpan hingga mengeras sempurna(Jumaeri dkk., 2006).

Berdasarkan data BPS (2016) jumlah limbah kulit kerang dari aktifitas ekspor Indonesia pada tahun 2015 mencapai 109.624,4 ton.

Jumlah ini belum termasuk limbah kulit kerang untuk domestik yang diperkirakan lebih besar setiap tahunnya. Limbah kulit kerang ini sangat potensial untuk dijadikan bahan campuran batako.

Serbuk kulit kerang merupakan serbuk yang dihasilkan dari pembakaran kulit kerang maupun di haluskan dengan menggunakan mesin penggiling. Serbuk ini dapat digunakan sebagai bahan campuran pada pembuatan beton, mortar maupun batako. Serbuk kulit kerang bulu mengandung senyawa kimia yang bersifat pozzolan yang mengandung zat kapur (CaO), alumina dan senyawa silika sehingga sesuai dengan bahan baku pembuatan beton, mortar maupun batako. Selain itu, serbuk kulit kerang bulu dapat dicampur dengan sikacim concrete additivekarena memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan batako (Andre, 2012).

Sikacim concrete additive adalah bahan mempercepat proses pengerasan beton.

Sikacimconcrete additive digunakan sebagai campuran beton untuk mempercepat proses pengerasan beton. karakteristik dan kelebihan sikacim concrete additive ini yaitu mempercepat pengerasan beton, mengurangi keropos dan meningkatkan daya tahan terhadap karbonasi serta memudahkan pengecoran. Hal ini dapat

dimanfaatkan dalam memperbaiki struktur dari batako yang akan diteliti.

Safi dkk. (2015) menggunakan taraf 0%, 10%, 50%, dan 100% campuran kulit kerang dengan ukuran serbuk 5 mesh menyebabkan perbedaan hasil terlalu berbeda pada kuat tekan dan nilai porositas. Dengan taraf 5%, 15%, dan 25% dan ukuran serbuk yang lebih kecil diharapkan hasil berat jenis agregat halus, kuat tekan, absorbsi dan waktu ikat dapat melengkapi penelitian sebelumnya dan melihat pengaruh penambahan sikacim concrete additive pada batako dalam memperbaiki struktur dan mempercepat waktu pengeringan dari batako.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh komposisi terbaik antara serbuk kulit kerang bulu (Anadara antiquata) dan sikacim concrete additive sebagai bahan tambahan pada pembuatan batako dengan parameter berat jenis agregat halus, kuat tekan, absorbsi dan waktu ikat.

BAHAN DAN METODE

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah serbuk kulit kerang bulu (Anadara antiquata), sikacim concrete additive, pasir, semen dan air. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah ayakan 100 mesh, cetakan batako, mesin giling tulang sapi, timbangan digital, gelas ukur, alat pengaduk (molen), vicat apparatus set, mixer elektronik, scrap, mould, stopwatch, piknometer, oven, compress mechanice, alat tulis dan komputer.

Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan taraf yaitu K1 (5%), K2 (15%) dan K3

(25%) serbuk kulit kerang bulu dengan 3 kali pengulangan di setiap perlakuannya. Sedangkan sikacim concrete additive sebagai bahan tambahan yang menyesuaikan dengan jumlah semen. model rancangannya adalah :

Yij = µ + αi + εij ... (1) dimana :

Yij = Hasil pengamatan dari perlakuan komposisi serbuk kulit kerangbulu pada taraf ke-1 pada ulangan ke-j.

µ = Nilai tengah sebenarnya.

αi = Efek faktor pada taraf ke-i.

εij = Pengaruh galat (pengacakan).

Pasir diayak dengan ayakan 4 mesh dan serbuk kulit kerang bulu diayak menggunakan ayakan 100 mesh. Bahan berupa semen dan pasir dicampur sesuai dengan perbandingan

(3)

yaitu 3:12 dengan FAS (Faktor Air Semen) 0,5/

Serbuk kerang bulu (Anadara antiquata) ditambahkan ke dalam adonan batako dengan konsentrasi K1 (5%) sikacim concrete additive sebanyak 22,3 ml, K2 (15%) sikacim concrete additive sebanyak 21,8 ml serta K3 (25%) dan sikacim concrete additive sebanyak 21 ml.

Bahan campuran dimasukkan ke dalam cetakan batako berukuran 10 cm x 20 cm x 40 cm, kemudian batako dipress menggunakan press hidraulik sebesar 100 kg/cm2 pada cetakan sampai batako padat dan merata. Setelah itu batako dilepaskan dari cetakan, diletakkan ditempat yang teduh dengan suhu 29oC selama 28 hari dan dilakukan pengujian parameter.

Parameter penelitian:

Berat Jenis Agregat Halus

Pengujian berat jenis agregat halus dapat ditentukan dengan menggunakan:

- Berat jenis curah (Sd) Sd = Bk

B+500-Bt ... (2) - Jenuh kering permukaan (Ss)

Ss = 500

B+500-Bt ... (3) - Berat jenis semu (Sa)

Sa = Bk

B+Bk-Bt ... (4) - Penyerapan air (Sw)

Sw = 500-Bk

Bk x 100% ... (5) Keterangan :

Sd : Berat jenis curah Ss : Jenuh kering permukaan Sa : Berat jenis semu Sw : Penyerapan air

Bk : Berat benda uji kering oven B : Berat picnometer + air

Bt : Berat picnometer + benda uji jenuh kering permukaan + air

(Fitrianto, 2004).

Waktu Ikat

Pengujian waktu ikat terdiri dari waktu ikat awal ditandai dengan jarum vicat apparatus set sedalam 25 mm dan waktu ikat akhir ditandai dengan tidak ada penetrasi (0 mm) pada jarum vicat apparatus set.

Kuat Tekan

Pengujian kuat tekan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan:

P = F

A ... (6) Keterangan: P= Beban maksimum (N/m2)

F =Gaya yang diberikan (N) A = Luas bidang permukaan (Hutasoit, 2010).

Absorbsi

Pengujian absorbsi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan:

WA = Mj-Mk

Mk x 100% ... (7) Keterangan :

WA = Water Absorption (%)

Mk =Massa benda dalam kondisi kering Mj =Massa benda dalam kondisi jenuh (Simbolon, 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berat Jenis Agregat Halus

Tabel 1 menunjukkan rata-rata dari setiap ulangan sesuai dengan BSN 1970:2008 dimana hasilpengujian berat jenis curah (Sd) sebesar 2,50 (maksimal 2,50), jenuh kering permukaan (Ss) sebesar 2,55 (tidak ada standar), beratjenis semu (Sa) sebesar 2,63 (tidak ada standar) dan penyerapan air (Sw) sebesar 2,03%(maksimal 5%).

Tabel 1. Data berat jenis agregat halus

Ulangan Sd Ss Sa Sw (%)

I 2,44 2,50 2,58 2,24

II 2,44 2,51 2,61 2,66

III 2,62 2,65 2,71 1,21

Rerata 2,50 2,55 2,63 2,03

Keterangan : K1, K2 dan K3 memakai 500 g agregat halus

Waktu Ikat

Pengaruh penambahan sikacim concrete additive terhadap waktu ikat semen disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan K1, K2 dan K3 telah memenuhi syarat karena sesuai standar waktu ikat awal semen (standart initial setting time) mencapai 1-2 jam.

Sedangkan pada perlakuan K1, K2 dan K3 untuk waktu ikat akhir tidak tergolong BSN 15-2049- 2004 karena kurang dari 4 jam. Standar waktu ikat akhir (standart final setting time) mencapai 4-6 jam. Adanya perbedaan dalam pengujian waktu ikat dapat disebabkan oleh tipe semen portland, suhu pada saat pengujian dan komposisi dari sampel waktu ikat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Retno dkk. (2013) bahwa standard initial setting time mencapai 1-2 jam dan apabila initial setting time kurang dari 1 jam berarti semen portland tersebut kurang baik karena cepat mengeras sedangkan standart final setting time mencapai 4-6 jam, apabila final setting time kurang dari 4 jam berarti semen portland kurang baik karena cepat mengeras.

(4)

Tabel 2. Waktu ikat semen dengan penambahan sikacim concrete additive

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% dengan uji DMRT

Kuat Tekan

Dari hasil penelitian diperoleh hasil kuat tekan dengan penambahan sikacim concrete additive pada Tabel 3.

Tabel 3. Data kuat tekan dengan penambahan sikacim concrete additive

Perlakuan Rerata beban maksimum (kN)

Rerata kuat tekan (Mpa) K1 (5%) 294 10,4a,A

K2(15%) 246 8,7b,B

K3(25%) 210 7,4b,B

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% dengan uji DMRT

Tabel 4 menunjukkan rata-rata nilai kuat tekan tertinggi terdapat pada K1 yaitu 10,4 MPa dan terendah terdapat pada K3 yaitu7,4 MPa.

Berdasarkan BSN 03-0349-1989 pada rata-rata penelitian ini untuk K1 termasuk pada batako mutu I, K2 dan K3 termasuk batako mutu II.

Kekuatan batako bertambah sesuai dengan bertambahnya umur batako atau dengan kata lain semakin tua umurnya maka makin tinggi kekuatannya. Pada penelitian ini batako dikeringkan di Laboratorium Beton Universitas Sumatera Utara dengan waktu pengeringan 28 hari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihombing (2009) bahwa campuran batako kemudian dicetak dan dikeringkan secara alami, dengan waktu pengeringan (agieng) selama 7, 14, 21 dan 28 hari.

Pada proses pembuatan batako diberikan tekanan (pressing) menggunakan alat press hidrolik sebesar 100 kg/cm2. Dengan pemberian tekanan (pressing) yang konstan akan mendapatkan hasil kuat tekan dan kualitas batako yang semakin meningkat. Kualitas dari batako sangat ditentukan oleh beberapa variabel

yakni pemberian tekanan yang tepat, komposisi campuran batako dan serta umur penyimpanan batako. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jumaeri dkk. (2006) bahwa tekanan (pressing) mulai dari 20 kg/cm2 sampai dengan 120 kg/cm2 mendapatkan kuat tekan batako, paving, maupun mortar yang konstan.

Kandungan bahan dasar semen yang terdiri atas kapur, silika, alumina, besi, magnesia, sulfur dan potash. Kandungan serbuk kerang bulu (Anadara antiquata) telah diuji di Laboratorium Fisika Universitas Negeri Medan.

Dalam 0,01 g kulit kerang bulu (Anadara antiquata) mengandung kapur (CaO), oksida (O), kalsium (Ca), karbon (C), natrium (Na), alumina (Al2O3), magnesium (Mg), silika (SiO2) dan kalium (K). Dari kandungan tersebut terdapat kapur, alumina dan silika yang bersifat mengikat dan adanya penambahan sikacim concrete additive dapat meningkatkan kualitas dan mempercepat pengerasan pada batako. Hal ini sesuai dengan pernyataan Andre (2012) bahwa serbuk kulit kerang bulu mengandung senyawa kimia yang bersifat pozzolan yang mengandung zat kapur (CaO), alumina dan senyawa silika sehingga sesuai dengan bahan baku pembuatan beton, mortar maupun batako.

Absorbsi

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil absorbsi batako dengan penambahan sikacim concrete additive pada Tabel 4.

Tabel 4. Data absorbsi dengan penambahan sikacim concrete additive

Perlakuan Taraf (%) Absorbsi (%) K1 (5%) 5 3,89b,B K2(15%) 15 4,56ab,AB

K3(25%) 25 5,48a,A

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% dengan uji DMRT

Tabel 4 menunjukkan nilai absorbsi tertinggi terdapat pada K3 yaitu 5,48% dan terendah terdapat pada K1 yaitu 3,89%.

Berdasarkan absorbsi rata-rata maksimal batako BSN 03-0349-1989 untuk batako pejal mutu I adalah 25%, pada penelitian absorbsi terbesar adalah 5,48% sehingga untuk pengujian absorbsi batako dapat dikategorikan masuk mutu I. Nilai absorbsi terkecil terdapat pada perlakuan K1 ini membuktikan bahwa batako pada perlakuan K1

memiliki nilai absorbsi yang lebih baik. Hal ini disebabkan oleh ukuran butiran serbuk kerang Perlakuan

Rerata waktu Ikat

Awal (menit)

Rerata waktu Ikat

Akhir (menit)

Rerata waktu ikat

semen (menit)

K1 (5%) 65 120 55b,B

K2(15%) 110 180 70b,AB

K3(25%) 115 210 95a,A

(5)

bulu (Anadara antiquata) yang lebih besar dari semen sehingga membuat air dapat masuk ke dalam melalui celah-celah kecil yang terbentuk sehingga membuat penyerapan air semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lubis (2010) bahwa jumlah air yang digunakan adukan batako dapat ditentukan dengan ukuran berat dan harus dilakukan setepat-tepatnya agar tidak terjadi bleeding.

Penyerapan atau absorbsi adalah kemampuan batako untuk menyimpan atau menyerap air yang lebih dikenal dengan batako yang jenuh air. Pada saat pembuatan batako sering terdapat lubang pori-pori yang dapat menyimpan air dan udara. Adanya penambahan larutan sikacim concrete additive akan mengurangi keropos dari pori-pori yang dapat mengikat udara dan menyerap air. Dari hasil penelitian batako dengan tambahan serbuk kerang bulu dengan perlakuan K3 (25%) lebih banyak menyerap air jika dibandingkan pada K2

(15%) dan K1 (5%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Jumaeri dkk. (2006) bahwa jumlah maupun ukuran bahan campuran yang berbeda dapat menyebabkan timbulnya pori dari struktur batako yang dapat menyimpan udara maupun menyerap air.

KESIMPULAN

1. Hasil pengujian rata-rata ulangan berat jenis

agregat halus telah memenuhi BSN 1970:2008 meliputi berat jenis curah

(Sd) sebesar 2,50(maksimal 2,50), jenuh kering permukaan (Ss) sebesar 2,55 (tidak ada standar), berat jenis semu (Sa) sebesar 2,63(tidak ada standar) dan penyerapan air (Sw) sebesar 2,03%(maksimal 5%).

2. Waktu ikat terbaik terdapat pada pelakuan K1

waktu ikat awal sebesar65 menit dan waktu ikat akhir 120 menit. Akan tetapi, tidak tergolong BSN 15-2049-2004.

3. Kuat tekan tertinggi terdapat pada perlakuan K1 dengan serbuk kerang bulu 5% dan sikacim concrete additive sebesar 10,4 MPa merupakan mutu I dan kuat tekan terendah terdapat pada perlakuan K3 25% sebesar 7,4 MPa merupakan mutu II sesuai BSN 03- 0349-1989.

4. Absorbsi tertinggi terdapat pada perlakuan K3

dengan pemberian serbuk kerang bulu 25%

dan sikacim concrete additive sebesar sebesar 5,48% dan absorbsi terendah terdapat pada perlakuan K1 5% sebesar 3,89% merupakan mutu I sesuai BSN 03- 0349-1989.

5. Komposisi terbaik pembuatan batako dari serbuk kulit kerang bulu (Anadara antiquata)

dan sikacim concrete additive terdapat pada K1 (5%) untuk pengujian kuat tekan dan absorbsi.

DAFTAR PUSTAKA

Andre. 2012. Studi Sifat Mekanik Paving Block Terbuat dari Campuran Limbah Adukan Beton dan Serbuk Kerang. Skripsi.

Universitas Indonesia, Depok.

Badan Pusat Statistika (BPS). 2016. Ekspor Kepiting dan Kerang-kerangan Menurut Negara Tujuan Utama 2002-2015.

http//bps.go.id[22 Maret 2016].

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 1989. Bata Beton untuk Pasangan Dinding SNI 03- 0349-1989. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2004.

Semen Portland SNI 15-2049-2004.

Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2008. Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus SNI 1970:2008. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.

Fitrianto. 2004. Analisa Mutu Mortar COCs dan Mortar COCs Treatment dari Tanah Terkontaminasi Minyak Mentah. Skripsi.

Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau, Pekanbaru.

Hutasoit, F. 2010. Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan dengan Memanfaatkan Limbah Padat Pulp Biosludge dari PT TPL Porsea. Skripsi.

Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan.

Jumaeri, W. Sumarni dan Latifah. 2006.

Karakteristik Abu Layang Industri Ban dan Pemanfaatannya untuk Pembuatan Batako.

Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah (4):3-7.

Lubis, M. 2010. Pemanfaatan Ampas Tebu dalam Pembuatan Batako Ringan yang Direncanakan Sebagai Konstruksi Dinding Kedap Suara. Tesis. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara, Medan.

(6)

Retno, A., Ristinah dan S. Nurlina. 2013.

Pengaruh Variasi Penambahan Bottom Ash dalam Pasta Semen Terhadap Waktu Ikat Awal dan Akhir. Jurnal Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (7):1978-5658.

Safi, B., M. Saidi, A. Daoui, A. Bellal, A.

Mechekak dan K. Toumi. 2015. The use of Seashells as a Fine Aggregate (by Sand Substition) in Selfcompacting Mortar (SCM). Construction Building Materials (78):430-438.

Sihombing, B. 2009. Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan yang terbuat dari Limbah Padat Industri Kertas Semen.

Tesis. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Simbolon, T. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan yang Terbuat dari Styrofoam dan Semen. Tesis. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Gambar

Tabel  1  menunjukkan  rata-rata  dari  setiap  ulangan  sesuai  dengan  BSN  1970:2008  dimana   hasilpengujian  berat  jenis  curah  (Sd)  sebesar  2,50  (maksimal  2,50),  jenuh  kering  permukaan  (Ss) sebesar 2,55 (tidak ada standar), beratjenis  semu

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah Luar Biasa pada umumnya memberikan pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dari anak-anak yang berkebutuhan khusus dengan tujuan untuk memberikan sistem pengajaran

Untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan antara tingkat inflasi, jumlah tempat hiburan dan pendapatan perkapita sebelum dan sesudah krisis moneter terhadap penerimaan

Dari pengamatan awal penulis pada database Emerald, ProQuest ABI/INFORM dan Springerlink dengan bidang kajian yang sama mengenai manajemen dan ekonomi, terdapat jurnal yang

Universitas Sriwijaya Penggunaan cangkang sawit sebagai pengganti bahan kayu dalam pembuatan partikel komposit diduga akan mempengaruhi mutu silinder partikel

Kesimpulan kegiatan sosialisasi adalah: (a) diketahui bahwa kebutuhan benih padi di Kabupaten Bengkulu Utara pada tahun 2012 sebesar 288.750 kg yang terdiri atas

Dua puluh delapan aksesi yang terdiri dari 16 varietas, satu spesies, serta 11 calon galur harapan padi terdeteksi mengandung alel-alel SSR yang berasosiasi dengan ketahanan

Jika generalisasi merupakan rumusan atau temuan penelitian yang dapat berlaku dan diperlakukan secara umum untuk semua populasi yang diteliti, maka transferabilitas artinya

(Sumber: diadaptasi dari Dewan Kehormatan Kode Etik PRSSNI. Standar Profesional Radio Siaran ,. Jakarta: Pengurus Pusat PRSSNI).. Di setiap radio tentu mempunyai nama mata acara