• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

3 Universitas Kristen Petra 2.1. Pengukuran Kerja

Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas yang ditujukan untuk mempelajari prinsip dan teknik yang berguna untuk mendapatkan suatu rancangan sistem kerja yang terbaik (Wignjosoebroto, 1995). Metode pelaksanaan kerja yang efektif dan efisien sesuai dengan prinsip dari teknik pengaturan cara kerja akan menghasilkan metode kerja yang optimal. Jadi, prinsip-prinsip dan teknik kerja ini dapat digunakan untuk mengatur komponen-komponen yang ada dalam suatu sistem kerja yang terdiri dari manusia, mesin, bahan baku, dan peralatan kerja lainnya.

Suatu pekerjaan dikatakan efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan waktu baku (standard time) penyelesaian guna memilih alternatif metode kerja yang terbaik dengan menerapkan prinsip dan teknik pengukuran kerja (work measurement atau time study). Sedangkan, pengertian waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam hal ini sudah meliputi kelonggaran waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi dan kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan tersebut.

Adapun beberapa kegunaan waktu baku adalah sebagai berikut :

• Melakukan perencanaan kebutuhan tenaga kerja

• Mengestimasi biaya-biaya untuk upah karyawan

• Melakukan penjadwalan produksi dan penganggaran

• Merencanakan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan yang berprestasi

Terdapat 2 macam teknik pengukuran waktu kerja yaitu:

1. Pengukuran waktu secara langsung

Cara pengukurannya dilaksanakan secara langsung yaitu ditempat dimana pekerjaan yang diukur dijalankan. Cara pengukuran langsung ini dapat

(2)

menggunakan metode jam henti (stopwatch time-study) dan sampling kerja (work sampling).

2. Pengukuran waktu secara tidak langsung

Cara pengukurannya dengan melakukan perhitungan waktu kerja tanpa si pengamat harus berada di tempat pekerjaan yang di ukur. Aktivitas yang dilakukan hanya melakukan perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel-tabel waktu yang tersedia, dengan ketentuan mengetahui jalannya pekerjaan dari elemen-elemen gerakan. Cara pengukuran tidak langsung ini dengan menggunakan data waktu baku (standard data) dan data waktu gerakan (predetermined time system).

2.1.1. Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti

Pengukuran waktu kerja dengan jam henti merupakan metode yang dapat diaplikasikan untuk pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang (repetitive). Hasil pengukuran yang dilakukan akan memperoleh waktu baku yang digunakan untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan dimana hasil pengukuran tersrbut merupakan standar penyelesaian bagi semua pekerja.

Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pengukuran waktu kerja dengan jam henti sebagai berikut:

1. Pekerjaan yang diamati harus dilakukan secara repetitive dan uniform.

2. Macam pekerjaan harus homogen.

3. Hasil kerja (output) harus dapat dihitung secara kuantitatif baik secara keseluruhan ataupun untuk tiap-tiap elemen kerja yang berlangsung.

4. Pekerjaan tersebut cukup banyak dilaksanakan dan bersifat teratur sehingga dapat diukur dan dihitung waktu bakunya.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka dalam melakukan pengukuran waktu kerja harus mempertimbangkan banyak faktor, dengan demikian akan diperoleh suatu waktu standard untuk pekerjaan yang diukur.

Faktor-faktor yang dimaksud antara lain kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah siklus kerja yang diukur, dan lain-lain.

(3)

2.1.1.1. Penetapan Tujuan Pengukuran

Sebelum pengukuran kerja dilakukan, harus ditetapkan terlebih dahulu tujuan dari pengukuran kerja. Hal ini diharapkan agar hasil pengukuran yaitu waktu baku dapat digunakan dalam kaitannya dengan proses produksi.

2.1.1.2. Persiapan Awal Pengukuran Waktu Kerja

Persiapan awal pengukuran waktu kerja bertujuan untuk mempelajari kondisi dan metode kerja kemudian melakukan langkah perbaikan serta membakukannya. Pembakuan kondisi dan metode kerja ini dikenal dengan istilah studi gerakan (motion study). Selain mempersiapkan kondisi dan metode kerja diperlukan juga langkah dalam memilih operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur. Operator yang akan diukur hendaknya memiliki skill normal dan dapat diajak bekerja sama di dalam kegiatan pengukuran kerja. Sehingga setelah didapatkan waktu baku dapat diikuti oleh rata-rata operator lain.

2.1.1.3. Pengadaan Kebutuhan Alat-alat Pengukuran Kerja

Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran kerja adalah jam henti (stopwatch). Selain stopwatch, alat pendukung pengukuran kerja yaitu lembar pengamatan dimana alat ini berfungsi untuk mencatat segala informasi yang berkaitan dengan operasi kerja yang diukur. Misalnya, deskripsi elemen kerja, nama operator mesin, data waktu pelaksanaan pengukuran, lokasi kerja, dan tempat mencatat pembacaan stopwatch untuk setiap elemen kerja.

2.1.1.4. Pembagian Operasi Menjadi Elemen-elemen Kerja

Sebelum pengukuran kerja dilakukan, perlu terlebih dahulu untuk membagi operasi menjadi elemen-elemen kerja yang lebih terperinci. Oleh karena itu, ada tiga aturan yang perlu diketahui dan dilakukan yaitu:

a. Elemen-elemen kerja dibuat sedetail dan sependek mungkin, akan tetapi masih memungkinkan untuk diukur dengan teliti.

b. Handling time seperti loading dan unloading harus dipisahkan dari machining time. Handling ini terdiri dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara

(4)

manual oleh operator dan aktivitas pengukuran kerja mutlak berkonsentrasi di sini karena selanjutnya akan berkaitan dengan masalah performance rating.

c. Antara elemen kerja yang konstan dan elemen kerja variabel harus dipisahkan. Elemen kerja konstan yang dimaksud adalah elemen-elemen kerja yang bebas dari pengaruh ukuran, berat, panjang, dan lain-lain.

2.1.1.5. Cara Pengukuran dan Pencatatan Metode Kerja

Secara umum ada tiga metode yang digunakan untuk mengukur elemen- elemen kerja dengan menggunakan jam henti, yaitu pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing), pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing atau metode snap back) dan pengukuran waktu secara penjumlahan (accumulative timing).

Pada pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing), maka pengamat kerja akan menekan tombol stopwatch pada saat elemen kerja pertama dimulai, dan membiarkan jam henti berjalan terus-menerus sampai periode atau siklus kerja selesai. Waktu yang dipakai sebenarnya merupakan waktu dari masing-masing elemen kerja yang diperoleh dari pengurangan pada saat pengukuran waktu selesai dilaksanakan.

Untuk pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing atau metode snap back), jarum penunjuk stopwatch akan selalu dikembalikan ke posisi nol pada setiap akhir elemen kerja yang diukur. Setelah pencatatan pengukuran dilakukan, maka tombol ditekan lagi dan segera melakukan pengukuran untuk elemen berikutnya.

Selanjutnya, pengukuran secara akumulatif akan menggunakan dua atau tiga stopwatch yang akan bekerja secara bergantian. Metode ini memberikan keuntungan dalam hal pembacaan data akan lebih mudah dan lebih teliti karena jarum stopwatch tidak dalam keadaan bergerak pada kondisi tersebut.

(5)

2.2. Menentukan Waktu Baku

Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan pengukuran waktu:

1. Pengukuran pendahuluan, mengambil sejumlah data waktu yang diperlukan, kemudian lakukan uji kenormalan dengan menggunakan Uji Kolmogorov (pengujian dilakukan dengan software).

2. Uji keseragaman data yang diambil. Uji ini dapat dilakukan dengan metode, yaitu:

a) Secara Visual, dengan melihat data secara keseluruhan. Bila ditemukan data yang perbedaannya terlalu besar, maka data tersebut dihilangkan dan diganti dengan data yang baru.

b) Dengan menggunakan software minitab c) Dengan Peta Kontrol

σ k x

BKA= + (2.1)

σ k x

BKB= − (2.2)

Dimana :

BKA = Batas Kendali Atas, yaitu batas maksimum dimana data yang tidak lebih dari batas tersebut masih tergolong data yang normal

BKB = Batas Kendali Bawah , yaitu batas minimum dimana data yang tidak kurang dari batas tersebut masih tergolong data yang normal.

x = Mean atau rata-rata data k = Nilai z dari

2 α

σ = Standar deviasi 3. Uji Kecukupan Data.

Uji kecukupan data adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah jumlah data yang digunakan dalam pengujian mencukupi atau tidak.

a. Jika jumlah data kurang dari 30 (N < 30)

2

. ' . 

 

= x k

t

N s (2.3)

Dimana : N = Jumlah data yang diambil N’ = Jumlah data yang mencukupi s = Standar deviasi

(6)

t = Distribusi t pada 2

α Æ v = N-1

k = Prosentase penerimaan xx = Rata-rata

b. Jika jumlah data lebih dari 30 (N > 30)

( )

2 2 2

2

'

















 −





=

∑ ∑

Xi

Xi Xi

N Z

N

α

α

(2.4)

Dimana : N = Jumlah data yang diambil N’ = Jumlah data yang mencukupi

2

Z = Nilai pada distribusi Normal dengan α = 5% α

Xi = Nilai data yang diambil 4. Menghitung Waktu Baku

a) Rata-rata ( X ) dari data yang diambil

N

X =

Xi (2.5)

b) Waktu Normal (Wn), yaitu waktu yang diberikan sebagai acuan kepada pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan memperhatikan performance rating (p). Performance rating meliputi kemampuan (skill), usaha (effort), kondisi (condition), dan konsistensi (consistency).

xP X

Wn= (2.6)

Dimana: p = faktor penyesuaian (performance rate)

c) Waktu Baku (Wb), yaitu waktu yang diperlukan oleh pekerja normal dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Yang dimaksud dengan allowance disini adalah kelonggaran yang diberikan kepada pekerja, yaitu berupa:

1) Istirahat untuk kebutuhan perorangan (Personal Needs) 2) Kelelahan (Fatique)

(7)

3) Keterlambatan yang tak terhindarkan (Unavoidable Delay)

Allowance

%

% 100

% x 100

Wn

Wb= − (2.7)

d) Output Baku (Ob)

Wb

Ob= 1 (2.8)

2.3. Menentukan Performance Rating dan Allowances

Berikut ini merupakan performance rating dan allowance untuk setiap operator pada tiap elemen produk yaitu:

2.3.1. Performance Rating

Performance rating merupakan konsep bekerja wajar dimana operator bekerja secara normal yaitu jika seorang operator yang dianggap berpengalaman ini bekerja tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari bekerja, menguasai cara bekerja yang ditetapkan, dan menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaannya. Nilai dari performance rating yaitu

• p = 1 atau p = 100 % berarti normal

• p < 1 atau p < 100 % berarti lambat

• p > 1 atau p > 100 % berarti cepat

Banyak cara atau metode yang dapat digunakan dalam menentukan performance rating yaitu metode Shumand, Bedaux & Sintesa, Synthetic Rating, obyektif dan Westing House. Dalam metode Shumand, pengukur diberi patokan untuk menilai performance kerja operator menurut kelas-kelas superfast, fast +, fast -, excellent dan seterusnya.

Metode Westing House, metode ini mempertimbangkan 4 faktor dalam mengevaluasi performance (kinerja) operator yaitu keterampilan (skill), usaha (effort), kondisi (condition), konsistensi (consistency). Keterampilan atau skill didefinisikan sebagai kecakapan dalam mengerjakan metode yang diberikan dan lebih lanjut berhubungan dengan pengalaman, ditunjukkan dengan koordinasi yang baik antara pikiran dan tangan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai tingkat tertentu saja. Secara psikologis, keterampilan merupakan kemampuan untuk pekerjaan yang bersangkutan. Keterampilan juga

(8)

dapat menurun yaitu bila telah terlampau lama tidak menangani pekerjaan tersebut, atau karena sebab-sebab yang lain seperti karena kesehatan yang terganggu, kelelahan yang berlebihan, pengaruh lingkungan dan sebagainya.

Klasifikasi dari kelas keterampilan dibagi menjadi 6 kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas yang dikemukakan berikut ini :

Super skill :

• Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya

• Bekerja dengan sempurna

• Tampak seperti telah terlatih dengan baik

• Gerakannya halus tapi sangat cepat sehingga sulit sekali untuk diikuti

• Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen pekerjaan lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya.

• Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencanakan tentang apa yang akan dikerjakan (sudah sangat otomatis)

Excellent skill :

• Percaya pada diri sendiri

• Tampak cocok dengan pekerjaannya

• Terlihat telah terlatih dengan baik

• Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan

• Menggunakan peralatan dengan baik

• Gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa kesalahan Good Skill :

• Kualitas hasil baik

• Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya lebih rendah

• Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap

• Gerakan terkoordinasi dengan baik

• Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya

• Tidak memerlukan banyak pengawasan

(9)

Average Skill :

• Gerakannya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat

• Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang direncanakan

• Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya

• Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik

• Bekerjanya cukup teliti

• Secara keseluruhan cukup memuaskan Fair Skill :

• Tampak terlatih tetapi belum cukup baik

• Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum memulai pekerjaannya

• Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup sehingga mengetahui apa yang harus dilakukannya tetapi tampak tidak selalu yakin

• Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri

• Sepertinya tidak cocok dengan pekerjaannya, tetapi telah ditempatkan di pekerjaan itu sejak lama

• Jika tidak bekerja sungguh-sungguh, outputnya akan sangat rendah Poor Skill :

• Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran

• Gerakan-gerakannya kaku

• Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya

• Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri

• Sering melakukan kesalahan-kesalahan

• Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri

Secara keseluruhan tampak pada kelas-kelas di atas bahwa yang membedakan kelas keterampilan seseorang adalah keragu-raguan, ketelitian gerakan, kepercayaan diri, koordinasi, irama gerakan, dan hal-hal lain yang serupa. Dengan pembagian ini, pengukur akan lebih terarah dalam menilai kewajaran pekerja dilihat dari segi keterampilan (skill). Karenanya faktor penyesuaian yang nantinya diperoleh dapat lebih objektif.

(10)

Usaha atau effort menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara efektif.

Hal ini ditunjukkan oleh kecepatan pada tingkat kemampuan yang dimiliki dan dapat dikontrol pada tingkat yang tinggi oleh operator. Untuk usaha atau effort ini, metode Westinghouse membagi juga atas kelas-kelas dengan ciri masing-masing.

Berikut ini ada 6 kelas usaha dengan ciri-cirinya.

Excessive Effort :

• Kecepatan sangat berlebihan

• Usahanya sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatan

• Kecepatan yang ditimbulkan tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja Excellent Effort :

• Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi

• Gerakan yang lebih “ekonomis” daripada operator biasa

• Penuh perhatian pada pekerjaannya

• Banyak memberi saran

• Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari

• Bekerjanya sistematis Good Effort :

• Bekerja berirama

• Waktu untuk menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada

• Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari

• Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang

• Penuh perhatian pada pekerjaannya Average Effort :

• Tidak sebaik good, tetapi lebih baik dari poor

• Bekerja dengan stabil

• Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya

• Set up dilaksanakan dengan baik

• Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan Fair Effort :

• Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal

(11)

• Kurang sungguh-sungguh

• Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku

• Gerakan-gerakannya tidak terencana

• Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya

• Terlampau hati-hati Poor Effort :

• Banyak membuang-buang waktu

• Tidak memperlihatkan adanya minat bekerja

• Tidak mau menerima saran-saran

• Tampak malas dan lambat dalam bekerja

• Set up kerjanya terlihat tidak baik

Dari uraian di atas terlihat adanya korelasi antara keterampilan dengan usaha. Dalam prakteknya banyak terjadi kejadian dimana pekerja yang mempunyai keterampilan rendah bekerja dengan usaha yang lebih sungguh- sungguh sebagai imbangannya. Kadang-kadang usaha ini begitu besarnya sehingga tampak berlebihan dan tidak banyak menghasilkan. Sebaliknya seseorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi tidak jarang bekerja dengan usaha yang yang tidak mendukung dihasilkannya performance yang lebih baik.

Jadi walaupun hubungan antara kelas tinggi pada keterampilan dengan usaha tampak erat sebagaimana juga dengan kelas-kelas rendah (misalnya excellent dengan excellent atau fair dengan fair), kedua faktor ini adalah hal-hal yang dapat terjadi secara terpisah di dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, metode Westing house memisahkan faktor keterampilan dari usaha dalam rangka penyesuaian.

Untuk faktor kondisi (condition) merupakan prosedur performance rating yang berakibat pada operator dan bukan pada operasi. Yang dimaksud dengan kondisi kerja (condition) adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, temperatur, dan kebisingan ruangan. Bila 3 faktor lainnya yaitu keterampilan, usaha dan konsistensi merupakan apa yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja ini merupakan sesuatu diluar operator yang diterima apa adanya oleh operator tanpa banyak kemampuan merubahnya. Oleh sebab itu faktor kondisi sering disebut sebagai faktor manajemen, karena pihak inilah yang

(12)

dapat dan berwenang merubah atau memperbaikinya. Kondisi kerja dibagi menjadi enam kelas yaitu Ideal, Excellent, Good, Average, Fair, dan Poor. Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap pekerjaan karena berdasarkan karakteristiknya, masing-masing pekerja membutuhkan kondisi ideal sendiri- sendiri. Suatu kondisi yang dianggap good untuk suatu pekerjaan dapat dirasakan sebagai fair atau poor bagi pekerjaan yang lain. Pada dasarnya, kondisi ideal adalah kondisi yang paling cocok untuk pekerjaan yang bersangkutan, yaitu yang memungkinkan performance maksimal dari pekerja. Sebaliknya kondisi poor adalah kondisi lingkungan yang tidak membantu jalannya pekerjaan bahkan sangat menghambat pencapaian performance yang baik. Sudah tentu suatu pengetahuan tentang keadaan bagaimana yang disebut ideal, dan bagaimana pula yang disebut poor perlu dimiliki agar penilaian terhadap kondisi kerja dalam rangka melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan seteliti mungkin.

Faktor berikutnya yang harus diperhatikan adalah konsistensi atau consistency. Faktor ini perlu diperhatikan karena kenyataan bahwa pada setiap pengukuran waktu, angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama dan selalu berubah dari satu siklus ke siklus lainnya, dari jam ke jam bahkan dari hari ke hari. Selama masih dalam batas-batas kewajaran masalah tidak akan timbul, tetapi jika variabilitasnya tinggi maka hal tersebut harus diperhatikan.

Sebagaimana halnya dengan faktor-faktor yang lain, konsistensi juga dibagi menjadi 6 kelas yaitu : Perfect, Excellent, Good, Average, Fair, Poor. Seseorang yang bekerja sempurna adalah yang dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang boleh dikatakan tepat dari saat ke saat.

(13)

Tabel 2.1. Performance Rating Metode Westing House SKILL EFFORT

Kelas Kode Nilai Kelas Kode Nilai Super skill

Excellent

Good

Average Fair

Poor

A1 A2 B1 B2 C1 C2 D E1 E2 F1 F2

+ 0.15 + 0.13 + 0.11 + 0.08 + 0.06 + 0.03 0.00 - 0.05 -0.10 - 0.16 - 0.22

Super skill

Excellent

Good

Average Fair

Poor

A1 A2 B1 B2 C1 C2 D E1 E2 F1 F2

+ 0.13 + 0.12 + 0.10 + 0.08 + 0.05 + 0.02 0.00 - 0.04 -0.08 - 0.12 - 0.17 CONDITION CONSISTENCY

Kelas Kode Nilai Kelas Kode Nilai

Ideal Excellent Good Average Fair Poor

A B C D E F

+ 0.06 + 0.04 + 0.02 0.00 - 0.03 - 0.07

Ideal Excellent Good Average Fair Poor

A B C D E F

+ 0.04 + 0.03 + 0.01 0.00 - 0.02 - 0.04 Sumber: Barnes, Ralph M. Motion and Time Study, Design and Measurement of work (7th ed). (1980)

(14)

2.3.2. Allowance

Kelonggaran waktu yang diberikan untuk personal needs ditujukan untuk kebutuhan yang bersifat pribadi seperti untuk makan, minum, dan lain-lain.

Kelonggaran ini biasanya berkisar antara 0 – 2,5 % untuk pria dan 2-5 % untuk wanita. Sedangkan kelonggaran untuk fatigue diberikan karena kelelahan fisik maupun mental setelah bekerja beberapa waktu. Beberapa faktor yang mengakibatkan kelelahan ini antara lain yaitu kondisi kerja, sifat dari pekerjaan, dan kesehatan pekerja baik fisik maupun mental. Faktor kelonggaran yang ketiga yaitu unavoidable delay, kelonggaran ini diberikan untuk elemen-elemen usaha yang berhenti karena hal-hal yang tidak dapat terhindarkan seperti interupsi oleh supervisor, analisis, ketidak tersediaan bahan, gangguan mesin, mengasah peralatan potong dan lain-lain.

Tabel 2.2. Allowance

Faktor Contoh pekerjaan Kelonggaran (%)

A.Tenaga yang dikeluarkan Ekivalen beban Pria Wanita 1. Dapat diabaikan Bekerja di meja, duduk Tanpa beban 0,0 - 6,0 0,0 - 6,0 2. Sangat ringan Bekerja di meja, berdiri 0,00 - 2,25 kg 6,0 - 7,5 6,0 - 7,5 3. Ringan Menyekop, ringan 2,25 - 9,00 7,5 - 12, 0 7,5 - 16,0

4. Sedang Mencangkul 9,00 - 18,00 12,0 - 19,0 16,0 -

30,0 5. Berat Mengayun palu yang berat 19,00 - 27,00 19,0 - 3,0

6. Sangat berat Memanggul beban 27,00 - 50,00 30,0 - 50,0 7. Luar biasa-berat Memanggul karung berat Diatas 50 kg

B. Sikap kerja

1. Duduk Bekerja duduk, ringan 0,0 - 1,0

2. Berdiri diatas dua kaki Badan tegak, ditumpu dua

kaki 1,0 - 2,5

3. Berdiri diatas satu kaki Satu kaki mengerakan alat

kontrol 2,5 - 3,0

4. Berbaring Pada bagian sisi, belakang,

atau depan badan 2,5 - 4,0

5. Membungkuk Badan dibungkukkan

bertumpu pada kedua kaki 4,0 - 10

C. Gerakan kerja

1. Norma Ayunan bebas dari palu 0

2. Agak terbatas Ayunan terbatas dari palu 0 - 5

3. Sulit Membawa beban berat

dengan satu tangan 0 - 5

4. Pada anggota-anggota badan teratas

Bekerja dengan tangan diatas

kepala 5 - 10

5.Seluruh anggota badan

terbatas Bekerja di lorong

pertambangan yang sempit 10 - 15

(15)

Tabel 2.2. Allowance (Sambungan)

Faktor Contoh pekerjaan Kelonggaran (%)

D. Kelelahan mata Pencahayaan

baik

Buruk 1. Pandangan yang terputus-putus Membawa alat ukur 0,0 - 6,0 0,0 - 6,0 2. Pandangan yang hampir terus-menerus Pekerjaan-pekerjaan yang

teliti 6,0 - 7,5 6,0 - 7,5

3.Pandangan yang terus-menerus dengan

fokus berubah-ubah Memeriksa cacat pada kain 7,5 - 12,0 7,5 - 16,0 4. Pandangan terus-menerus dengan fokus

tetap

Pemeriksaan yang sangat teliti

12,0 - 19,0 16,0 - 30,0

19,0 - 30,0 30,0 - 50,0

E. Keadaan temperatur tempat kerja Temperatur (°C) Kelemahan normal Berlebihan

1. Beku Dibawah 0 Diatas 10 Diatas 12

2. Rendah 0 - 13 10 - 0 12 - 5

3. Sedang 13 - 22 5 - 0 8 - 0

4. Normal 22 - 28 0 - 5 0 - 8

5. Tinggi 28 - 38 5 - 40 8 - 100

6. Sangat tinggi Diatas 38 Diatas 40 Diatas 100

F. Keadaan atmosfer

1. Baik Ruangan yang berventilasi

baik 0

udara segar

2. Cukup Ventilasi kurang baik, ada

bau-bauan

0 - 5

3. Kurang baik Adanya debu beracun, atau

tidak beracun atau banyak

5 - 10

4. Buruk Adanya bau-bauan yang

berbahaya yang mengharuskan menggunakan

alat pernapasan

10 - 20

G. Keadaan lingkungan yang baik

1. Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan rendah

0

2. Siklus kerja berulang-ulang antara 5 - 10 detik

0 -1

3. Siklus kerja berulang-ulang antara 0 - 5

detik 1 - 3

4. Sangat bising 0 - 5

5.Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas

0 - 5

6. Terasa adanya getaran lantai 5 - 10

7. Keadaan yang luar biasa (bunyi, kebersihan, dll)

5 - 15

Sumber: Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. 1995.

(16)

2.4. Penghitungan Produktivitas tiap Operator

Produktivitas adalah perbandingan dari output untuk beberapa atau semua dari sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output.

Produktivitas dapat dituliskan sebagai berikut:

Produktivitas = output / input (2.9)

Sedangkan, produktivitas tenaga kerja dapat didefinisikan sebagai

output per unit dari waktu” atau “output per jam kerja”. Dapat dirumuskan sebagai berikut:

Produktivitas tenaga kerja = unit yang diproduksi / jam kerja (2.10) Penghitungan produktivitas ini sangat diperlukan dalam mengetahui berapa persen kinerja dari seorang operator dalam melakukan pekerjaannya secara produktif sehingga bila didapatkan penghitungan produktivitas ini rendah maka dapat disimpulkan bahwa kinerja operator belum maksimal dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Oleh karena itu, berdasarkan rumus (2.9) maka dalam melakukan penghitungan produktivitas dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yaitu sebagai berikut:

Produktivitas/shift = x100%

dtk 3600 x jam 7

hift produksi/s hasil

rata rata x

wb − (2.11)

2.5. Pengujian Two-Sample t

Adapun pengujian yang dilakukan dalam membandingkan ada tidaknya perbedaan antara shift I, II, dan III yaitu melalui beberapa tahap sebagai berikut:

• Uji Variance

Pada pengujian variance ini menggunakan hipotesa sebagai berikut:

H0 : σ12 = σ22 H1 : σ12 ≠ σ22

Data dikatakan memiliki variance yang berbeda bila tolak H0, yaitu ketika Pvalue < α (0.05).

(17)

• Uji 2-sample t

Pada pengujian 2-sample t ini menggunakan hipotesa sebagai berikut;

H0 : µ1 = µ2

H1 : µ1 ≠ µ2

Data dikatakan memiliki mean yang berbeda bila tolak H0, yaitu ketika Pvalue <

α (0.05).

Referensi

Dokumen terkait

Waktu tempuh ideal adalah waktu tempuh yang dibutuhkan oleh tower crane yang didapat dengan membagi jarak tempuh dengan kecepatan ideal tower crane yang didapat dari

Satuan kuantitas yang digunakan dalam membuat jadwal LSM untuk pekerjaan saluran dapat menggunakan satuan meter panjang (m) untuk setiap aktivitas sehingga konversi

Kontraktor akan menerima dokumen tender dari pemilik yang berisi dokumen-dokumen tender, antara lain: latar belakang proyek; keterangan mengenai pemilik, konsultan perencana,

Kadang-kadang pemenuhan permintaan tersebut digunakan untuk membantu perusahaan dalam mengambil tindakan yang harus dilakukan dalam menanggapi pesanan pelanggan.. Terdapat

Keputusan Menteri ini sebagai Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan Panas Bumi, dengan koordinat dan peta sebagaimana tercantum dalam Lampiran II A sampai dengan

Biaya ini akan sulit diprediksi karena terdapat beberapa jenis roda yang digunakan dengan jenis pekerjaan dilapangan yang berbeda-beda, selain itu keahliaan

Carbon footprint primer adalah jumlah dari emisi karbon dioksida langsung pembakaran bahan bakar fosil, seperti konsumsi domestik energi dengan tungku dan pemanas air,

Sebagai contoh pada lembar dimensi, sub pekerjaan dari kolom baja adalah perhitungan berat dari profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan maka dilakukan perkalian antar angka yang