KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
PUSAT SINEMA INDONESIA
SEBAGAI WADAH REKREASI, EDUKASI, DAN PENGEMBANGAN PERFILMAN NASIONAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR METAFORA DI SURAKARTA
TUGAS AKHIR
Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Arsitektur
Universitas Sebelas Maret
Disusun Oleh:
Okie Kristina Sugiarto I0213067
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2017
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 11
Judul ... 11
Pemahaman Judul ... 11
Latar Belakang Permasalahan ... 12
I.3.1 Perkembangan Perfilman di Indonesia ... 12
I.3.2 Film sebagai Media Rekreasi ... 14
I.3.3 Film sebagai Media Edukasi... 14
I.3.4 Antusiasme Masyarakat terhadap Dunia Perfilman ... 15
I.3.5 Potensi Pengembangan Wadah Aktivitas Perfilman di Surakarta ... 17
Embrio, Permasalahan, dan Persoalan ... 19
I.4.1 Embrio ... 19
I.4.2 Permasalahan ... 19
I.4.3 Persoalan... 19
Tujuan dan Sasaran ... 20
I.5.1 Tujuan ... 20
I.5.2 Sasaran ... 20
Lingkup dan Batasan ... 21
I.6.1 Lingkup Pembahasan ... 21
I.6.2 Batasan ... 21
Strategi Desain... 22
BAB II TINJAUAN PUSTAKA PUSAT SINEMA INDONESIA SEBAGAI WADAH REKREASI, EDUKASI, DAN PENGEMBANGAN PERFILMAN NASIONAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR METAFORA DI SURAKARTA ... 23
Dinamika Perfilman sebagai Ide Dasar Perencanaan Obyek Rancang Bangun ... 23
II.1.1 Pengertian Film secara Harfiah ... 23
II.1.2 Latar Belakang Munculnya Perfilman... 23
II.1.3 Dinamika Perfilman di Dunia Internasional ... 24
II.1.4 Dinamika Perfilman Indonesia ... 25
Film sebagai Media Rekreasi ... 31
II.2.1 Pemahaman Rekreasi ... 31
II.2.2 Bioskop sebagai Sarana Rekreasi Perfilman ... 31
Film sebagai Media Edukasi... 50
II.3.1 Pengertian Edukasi ... 50
II.3.2 Museum sebagai Media Edukasi Perfilman ... 51
Rekreasi dan Edukasi sebagai Sarana Pengembangan Perfilman Nasional ... 55
II.4.1 Pengertian Rekreasi dan Edukasi ... 55
II.4.2 Komunitas Film Indonesia ... 55
II.4.3 Pengembangan Perfilman melalui Wahana Rekreasi-Edukasi ... 56
Arsitektur Metafora ... 58
II.5.1 Pemahaman Umum Metafora ... 58
II.5.2 Rancang Bangun berbasis Metafora ... 58
II.5.3 Jenis-jenis beserta Preseden Arsitektur Metafora ... 59
Studi Banding Bangunan Sejenis ORB ... 64
Arsitektur Metafora sebagai Strategi Desain Pusat Sinema yang Bersifat Rekreatif dan Edukatif 69 BAB III METODE PEMBAHASAN ... 71
Metode Pembahasan ... 71
Metode Perencanaan ... 73
Sistematika Pembahasan ... 74
BAB IV TINJAUAN KOTA SURAKARTA SEBAGAI LOKASI ORB ... 76
Tinjauan Aspek Fisik Kota Surakarta ... 76
IV.1.1 Keadaan Geografis Kota Surakarta ... 76
IV.1.2 Kondisi Topografi Kota Surakarta ... 77
IV.1.3 Tata Guna Lahan di Kota Surakarta ... 78
IV.1.4 Rencana Struktur Ruang Kota Surakarta ... 78
Potensi Aspek Non-Fisik Kota Surakarta ... 80
IV.2.1 Pembelajaran Formal terkait Perfilman di Surakarta ... 80
IV.2.2 Pembelajaran Non-Formal terkait Perfilman di Surakarta ... 82
Relevansi dan Kontribusi Kota Surakarta terhadap Obyek Rancang Bangun... 85
BAB V PUSAT SINEMA INDONESIA YANG DIRENCANAKAN ... 87
Pemahaman Pusat Sinema Indonesia sebagai ORB ... 87
Fungsi Pusat Sinema Indonesia sebagai ORB ... 87
V.2.1 Fungsi Parsial ... 87
V.2.2 Fungsi Interaktif ... 87
Peran Pusat Sinema Indonesia sebagai ORB ... 88
Lingkup Pelayanan ... 88
Sasaran Perancangan dan Misi Perancangan ... 88
1. Sasaran Perancangan ... 88
2. Misi Perancangan ... 88
Sasaran Pengguna ORB ... 89
1. Pengunjung ... 89
2. Pengelola ... 90
Kegiatan yang Diwadahi dalam ORB ... 91
Fasilitas yang Diwadahi dalam ORB ... 91
1. Fasilitas Rekreasi ... 91
2. Fasilitas Edukasi ... 92
3. Fasilitas Pengembangan Perfilman Nasional ... 92
4. Fasilitas Pengelola ... 93
5. Fasilitas Penunjang ... 94
Kriteria Perencanaan Obyek Rancang Bangun ... 94
1. Kriteria Lokasi dan Site ... 94
2. Penataan Ruang dan Sirkulasi Kegiatan ... 94
3. Desain Obyek Rancangan ... 94
Aplikasi Arsitektur Metafora pada Pusat Sinema Indonesia yang Direncanakan ... 95
BAB VI ANALISIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT SINEMA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR METAFORA ... 96
Dasar Pendekatan Umum Arsitektur Metafora ... 96
Analisis Konsep Peruangan ... 98
Analisis Konsep Site ... 121
Analisis Konsep Bentuk dan Tampilan Bangunan ... 129
Analisis Konsep Struktur ... 134
Analisis Konsep Utilitas ... 136
BAB VII KEPUTUSAN DESAIN PUSAT SINEMA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR METAFORA ... 144
Keputusan Desain Pengguna dan Peruangan Pusat Sinema Indonesia ... 144
VII.1.1 Keputusan Desain Pengguna dan Kegiatan ... 144
VII.1.2 Keputusan Desain Kebutuhan Ruang ... 146
VII.1.3 Keputusan Desain Pola Hubungan Ruang ... 149
VII.1.4 Keputusan Desain Besaran Ruang ... 152
Keputusan Desain Site Pusat Sinema Indonesia ... 157
VII.2.1 Keputusan Desain Penentuan Lokasi Site ... 157
VII.2.2 Keputusan Desain Pencapaian Site ... 161
VII.2.3 Keputusan Desain View dan Orientasi Site ... 163
VII.2.4 Keputusan Desain Kebisingan pada Site ... 165
VII.2.5 Keputusan Desain Sirkulasi pada Site ... 167
VII.2.6 Keputusan Desain Zoning pada Site ... 169
Keputusan Desain Massa dan Tampilan Bangunan Pusat Sinema Indonesia ... 171
VII.3.1 Keputusan Desain Bentuk Dasar Bangunan ... 171
VII.3.2 Keputusan Desain Tampilan Bangunan ... 172
Keputusan Desain Struktur Bangunan Pusat Sinema Indonesia ... 174
Keputusan Desain Utilitas Pusat Sinema Indonesia ... 175
DAFTAR GAMBAR Gambar I.1 Rumusan Latar Belakang untuk Menemukan Embrio Permasalahan ... 18
Gambar I.2 Embrio Permasalahan ... 19
Gambar I.3 Diagram Strategi Desain ... 22
Gambar II.1 Phenakistoscope & Zoetrope ... 23
Gambar II.2 Still camera oleh George Eastman ... 24
Gambar II.3 Phonograph oleh Edison ... 24
Gambar II.4. Poster Pemutaran Film Loetoeng Kasaroeng ... 26
Gambar II.5. Film Laskar Pelangi sebagai Tanda Kebangkitan Perfilman Nasional ... 30
Gambar II.6. Bioskop dalam Museum ... 32
Gambar II.7. Lobby dan Box Office pada Bioskop ... 34
Gambar II.8. Ruang Tunggu pada Gedung Bioskop ... 34
Gambar II.9. Layout Standar Ruang Kontrol ... 37
Gambar II.10 Suasana Ruang Kontrol ... 37
Gambar II.11. Contoh F&B pada Gedung Bioskop ... 38
Gambar II.12. Galeri pada Gedung Bioskop ... 38
Gambar II.13. Gambar Dimensi-dimensi penentu garis pandang vertikal ... 43
Gambar II.15. Gambar Garis penentu sudut pandang horizontal penampil. ... 43
Gambar II.14. Gambar Garis penentu sudut pandang horisontal penonton. ... 43
Gambar II.16. Gambar Pengaturan sumbu lampu proyektor ... 44
Gambar II.17 Gambar Layout Proyektor dan Layar Bioskop ... 44
Gambar II.18. Gambar Raut ruang yang terbentuk dari pemilihan aspek rasio layar proyeksi ... 45
Gambar II.19. Gambar Aspek Rasio Layar Proyeksi ... 45
Gambar II.20. Gambar Dimensi dan standar tempat duduk ... 45
Gambar II.21. Gambar Kemiringan lantai bioskop ... 46
Gambar II.22. Gambar sirkulasi kondisi darurat ... 48
Gambar II.23. Gambar Tangga darurat ... 49
Gambar II.24. Transformers the Ride ... 56
Gambar II.25. Wahana The Wizarding of Harry Potter ... 57
Gambar II.26. Pengunjung menaiki Kereta saat dalam Wahana Studio Tour ... 57
Gambar II.27. Atraksi dalam Water World ... 58
Gambar II.28. Pengunjung Menyaksikan Atraksi di Lokasi Syuting ... 58
Gambar II.29. Intangible metaphor pada Entrance Nagoya Art Museum ... 59
Gambar II.30. Intangible metaphor pada Eksterior New Louvre Museum ... 60
Gambar II.31. Intangible metaphor pada Interior New Louvre Museum ... 60
Gambar II.32. Tangible metaphor bentuk burung pada Eksterior Stasiun TGV ... 60
Gambar II.33. Tangible metaphor pada Eksterior Sydney Opera House ... 61
Gambar II.34. Tangible metaphor Rumah Aceh pada Eksterior Museum Tsunami ... 62
Gambar II.35. Combined Metaphor pada Museum Tsunami ... 62
Gambar II.36. Tangible Metaphor pada Museum of Fruit ... 63
Gambar II.37. Intangible Metaphor pada Museum of Fruit ... 63
Gambar II.38 Ruang The Premiere Solo Paragon ... 64
Gambar II.39 Interior Cinema XXI Solo Paragon ... 64
Gambar II.40 Keunikan Ruang Bioskop pada Blitz Megaplex Grand Indonesia ... 65
Gambar II.41 Grafis interior Teater Keong Mas ... 65
Gambar II.42 Bentuk eksterior Bangunan Keong Mas di TMII ... 65
Gambar II.43 Interior Teater Keong Mas ... 66
Gambar II.44 Fasad bangunan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail ... 66
Gambar II.45 Interior Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail ... 66
Gambar II.48 Fasad Busan Cinema Center ... 67
Gambar II.46 Fasad Busan Cinema Center ... 67
Gambar II.47 Ceiling yang menggunakan teknologi LED ... 67
Gambar II.49 Bioskop outdoor di Busan Cinema Center ... 68
Gambar II.50 Fasad ACMI... 68
Gambar II.51 Lobby ACMI ... 69
Gambar II.52 Ruang Pemutaran Film pada ACMI ... 69
Gambar III.1 Kutub Perancangan Pusat Sinema Indonesia ... 73
Gambar IV.1 Letak Kota Surakarta pada Peta Provinsi Jawa Tengah ... 76
Gambar IV.2. Batas-batas Kota Surakarta ... 77
Gambar IV.3. Pembagian Wilayah Pusat Pelayanan Kota Surakarta ... 79
Gambar IV.4 Persebaran Lokasi Pembelajaran Formal Perfilman di Surakarta ... 81
Gambar IV.5 Persebaran Lokasi Wahana Perfilman di Surakarta ... 85
Gambar V.1 Struktur Organisasi Pusat Sinema Indonesia ... 90
Gambar VI.1 Contoh Ruang yang Mengaplikasikan Unsur Perfilman ... 96
Gambar VI.2 Aplikasi Metafora Struktur Tiga Babak pada Site ORB ... 97
Gambar VI.3 Struktur Tiga Babak pada Perfilman ... 97
Gambar VI.4 Inspirasi Bentuk Rol Film sebagai Metafora pada ORB ... 97
Gambar VI.5 Contoh Aplikasi Metafora Negatif Film pada Fasad ... 98
Gambar VI.6 Pola Kegiatan Pengunjung Bioskop ... 99
Gambar VI.7 Pola Kegiatan Apresiator Film ... 99
Gambar VI.8 Pola Kegiatan Pengunjung Museum ... 99
Gambar VI.9 Pola Kegiatan Produser Film... 100
Gambar VI.10 Pola Kegiatan Anggota Komunitas Film ... 100
Gambar VI.11 Pola Kegiatan Pengunjung Wahana Perfilman ... 100
Gambar VI.12 Pola Kegiatan Pengelola... 100
Gambar VI.13 Konfigurasi Jalur Horizontal ... 129
Gambar VI.14 Contoh Bentuk Geometris ... 130
Gambar VI.15 Contoh Bentuk Lengkung ... 130
Gambar VI.16 Contoh Bentuk Majemuk ... 130
Gambar VI.17 Bentuk rol film yang diaplikasikan pada ORB ... 131
Gambar VI.18 Letak tangga yang terekspos ... 137
Gambar VI.19 Contoh bentuk ramp yang diaplikasikan pada ORB ... 137
Gambar VI.20 Gambaran eskalator yang akan diaplikasikan pada ORB ... 138
Gambar VI.21 Jenis lift yang digunakan pada ORB ... 138
Gambar VII.1 Dasar Pertimbangan Kebutuhan Ruang ... 146
Gambar VII.2 Zoning Vertikal menurut Zona Kegiatan ... 157
Gambar VII.3 Letak Alternatif Site Pusat Sinema Indonesia... 159
Gambar VII.4 Batas-batas pada site ... 160
Gambar VII.5 Analisis Pencapaian Site ... 162
Gambar VII.6 Keputusan Desain Pencapaian Site ... 162
Gambar VII.7 Penambahan Jalur Lambat pada Main Entrance ... 163
Gambar VII.8 Contoh Bentuk yang akan Diaplikasikan pada Entrance ORB ... 163
Gambar VII.9 Analisis View ke Dalam Site ... 164
Gambar VII.10 Potensi View ke Luar Site... 164
Gambar VII.11 Keputusan Desain Orientasi & View pada Site ... 165
Gambar VII.12 Analisis Kebisingan dari Luar Site ... 166
Gambar VII.13 Keputusan Desain Sumber Kebisingan dalam Site ... 167
Gambar VII.14 Respon Zoning pada Site terhadap Kebisingan ... 167
Gambar VII.15 Keputusan desain sirkulasi pada site ... 168
Gambar VII.16 Keputusan Desain Zoning pada Site ... 170
Gambar VII.17 Rol Film sebagai inspirasi Bentuk Dasar Bangunan ... 171
Gambar VII.18 Metafora Bentuk Rol Film pada Massa Bangunan ORB ... 172
Gambar VII.19 Bentuk Negatif Film yang akan Diaplikasikan pada Tampilan Bangunan ... 173
Gambar VII.20 Patung Oscar sebagai Elemen Tampilan Bangunan ... 173
Gambar VII.21 Gubahan massa ORB ... 173
Gambar VII.22 Sistem Kelistrikan Pusat Sinema Indonesia ... 176
Gambar VII.23 Sistem Air Bersih Pusat Sinema Indonesia ... 176
Gambar VII.24 Sistem Pengolahan Grey Water di Pusat Sinema Indonesia ... 176
Gambar VII.25 Sistem Pengolahan Black Water di Pusat Sinema Indonesia ... 176
Gambar VII.27 Wet Sprinkler System ... 176
Gambar VII.26 Dry Sprinkler System ... 176
DAFTAR TABEL Tabel II.1 Standar Lebar Jalur Sirkulasi Ruang Parkir ... 41
Tabel II.2. Standar Pergantian Udara Ruang ... 42
Tabel II.3. Standar Temperatur dan Pengudaraan Auditorium ... 42
Tabel II.4. Tabel jenis auditorium dan volume per tempat duduk penonton... 46
Tabel II.5. Tabel Tingkat kebisingan ... 47
Tabel IV.1. Luas Penggunaan Tanah Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2014 (ha) ... 78
Tabel IV.2 Daftar Instansi yang Memiliki Jurusan yang Berkaitan dengan Perfilman ... 81
Tabel IV.3 Komunitas Film Di Kota Surakarta ... 84
Tabel IV.4 Bioskop di Kota Surakarta ... 85
Tabel V.1 Tabel Kegitan yang Diwadahi dalam ORB ... 91
Tabel VI.1 Pelaku Kegiatan pada ORB... 99
Tabel VI.2 Analisis Kriteria Ruang Penerimaan ... 104
Tabel VI.3Analisis Kriteria Ruang Pengelola ... 104
Tabel VI.4 Analisis Kriteria Ruang Bioskop ... 105
Tabel VI.5 Analisis Kriteria Ruang Auditorium Apresiasi ... 105
Tabel VI.6 Analisis Kriteria Ruang Museum ... 105
Tabel VI.7 Analisis Kriteria Ruang Studio Produksi Film ... 106
Tabel VI.8 Analisis Kriteria Ruang Komunitas Film ... 106
Tabel VI.9 Analisis Kriteria Ruang Penunjang ... 106
Tabel VI.10 Analisis Kriteria Ruang Service ... 106
Tabel VI.11 Tabel Besaran Ruang Bioskop ... 111
Tabel VI.12 Tabel Besaran Ruang Auditorium Apresiasi ... 112
Tabel VI.13 Tabel Besaran Ruang Museum ... 113
Tabel VI.14 Tabel Besaran Ruang Komunitas Film ... 114
Tabel VI.15 Tabel Besaran Ruang Wahana Perfilman ... 116
Tabel VI.16 Tabel Besaran Ruang Penerimaan ... 116
Tabel VI.17 Tabel Besaran Ruang Pengelola... 117
Tabel VI.18 Tabel Besaran Ruang Kegiatan Penunjang ... 118
Tabel VI.19 Tabel Besaran Ruang Kegiatan Service ... 120
Tabel VI.20 Kesan dalam Bentuk Elemen Ruang ... 133
Tabel VII.1 Kelompok Zona Kegiatan pada ORB ... 157
Tabel VII.2 Analisis Kesesuaian Kriteria Site ... 159