10 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian ini melakukan pengujian deskriptif pada data average abnormal return dan average trading volume activity periode sebelum dan sesudah peristiwa.
Pada data average abnormal return sebelum peristiwa, nilai mean yang dihasilkan sebesar -0,0057 dengan standar deviasi sebesar 0,0072. Data dalam periode ini memiliki nilai maksimum sebesar 0,005 yang terjadi pada tanggal 6 Januari 2021 (T-5) sedangkan nilai minimumnya sebesar -0,016 yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2021 (T-4). Sementara itu, pada data average abnormal return sesudah peristiwa, nilai mean yang dihasilkan sebesar 0,0041 dengan standar deviasi sebesar 0,0183. Nilai maksimum pada periode ini adalah 0,036 yang terjadi pada tanggal 19 Januari 2021 (T+4) dan nilai minimum adalah -0,018 yang terjadi pada tanggal 20 Januari 2021 (T+5). Hasil uji deskriptif pada data average abnormal return dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3. Hasil Uji Deskriptif AAR
Sebelum
AAR Sesudah
ATVA Sebelum
ATVA Sesudah
N 7 7 7 7
Minimum -0,016 -0,018 0,001 0,001
Maximum 0,005 0,036 0,003 0,004
Mean -0,0057 0,0041 0,0020 0,0026
Std. Deviasi 0,0072 0,0183 0,0008 0,0013
Sumber: SPSS ver. 25 (diolah)
Hasil uji deskriptif pada data average trading volume activity yang terlihat pada Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa pada data average trading volume activity sebelum peristiwa diperoleh nilai mean sebesar 0,0020 dengan standar deviasi sebesar 0,0008. Pada periode ini nilai maksimum yang diperoleh adalah 0,003 yang terjadi pada tanggal 11 dan 12 Januari 2021 (T-2 dan T-1) sedangkan nilai minimumnya adalah 0,001 yang terjadi pada tanggal 5 dan 7 Januari 2021 (T-6 dan T-4). Sementara itu, pada data average trading volume activity sesudah peristiwa diperoleh nilai mean sebesar 0,0026 dengan standar deviasi sebesar 0,0013. Nilai
11
maksimum pada periode ini adalah 0,004 yang terjadi pada tanggal 14 dan 19 Januari 2021 (T+1 dan T+4) untuk nilai minimum adalah 0,001 yang terjadi pada tanggal 21 dan 22 Januari 2021 (T+6 dan T+7).
Selanjutnya, pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro Wilk karena jumlah sampel yang digunakan relatif sedikit atau kecil.
Hipotesis yang digunakan pada uji normalitas adalah Ho: data berdistribusi normal dan Ha: data tidak berdistribusi normal. Data dikatakan berdistribusi normal jika p- value > α (0,05) sedangkan data dikatakan tidak berdistribusi normal jika p-value <
α (0,05). Hasilnya menunjukkan bahwa pada variabel average abnormal return sebelum peristiwa nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,695 sedangkan pada periode sesudah peristiwa sebesar 0,781. Dengan demikian, Ho diterima dan data dinyatakan berdistribusi normal karena p-value yang dihasilkan lebih besar dari α (0,05). Sementara itu, pada data average trading volume activity sebelum peristiwa nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,144 sedangkan pada periode sesudah peristiwa sebesar 0,215. Karena p-value yang dihasilkan lebih besar dari α (0,05), maka data average trading volume activity juga dinyatakan berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas pada data average abnormal return dan average trading volume activity dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
AAR Sebelum AAR Sesudah ATVA Sebelum ATVA Sesudah
Statistic 0,946 0,956 0,858 0,877
Df 7 7 7 7
Sig. 0,695 0,781 0,144 0,215
Sumber: SPSS ver. 25 (diolah)
Setelah data dinyatakan berdistribusi normal selanjutnya, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasilnya menunjukkan bahwa pada data average abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa nilai Sig.
(2-tailed) yang dihasilkan sebesar 0,309 sehingga nilainya lebih besar dari α (0,05).
Dengan demikian, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan average abnormal return sebelum dan sesudah penggunaan vaksin Covid-19 pertama oleh Presiden Joko Widodo pada sektor transportasi yang terdaftar di BEI
12
ditolak atau tidak terdukung. Sementara itu, pada data average trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,280 sehingga nilainya lebih besar dari α (0,05). Dengan demikian, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan average trading volume activity sebelum dan sesudah penggunaan vaksin Covid-19 pertama oleh Presiden Joko Widodo pada sektor transportasi yang terdaftar di BEI ditolak atau tidak terdukung.
Hasil uji hipotesis Paired Sample T-Test dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini:
Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis Paired Sample T-Test T df Sig. (2-tailed) AAR Sebelum - AAR Sesudah -1,111 6 0,309 ATVA Sebelum - ATVA Sesudah -1,188 6 0,280 Sumber: SPSS ver 25 (diolah)
Pembahasan
Hasil uji deskriptif menunjukkan adanya peningkatan nilai mean pada variabel average abnormal return. Nilai mean yang dihasilkan pada periode sebelum peristiwa sebesar -0,0057 sedangkan pada periode sesudah peristiwa sebesar 0,0041. Peningkatan sebesar 0,0016 atau 0,16% ini dapat diartikan bahwa pelaku pasar dari sektor transportasi menerima penggunaan vaksin Covid-19 sebagai berita baik (good news). Namun, berita baik tersebut belum memiliki kandungan informasi yang kuat yang mampu membuat pasar bereaksi. Terlihat dari ditolaknya H1 sehingga menunjukkan tidak terdapat perbedaan average abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa penggunaan vaksin Covid-19 pertama oleh Presiden Joko Widodo pada sektor transportasi.
Sementara itu, hasil pengujian juga menolak H2 dan menunjukkan tidak terdapat perbedaan average trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa penggunaan vaksin Covid-19 pertama oleh Presiden Joko Widodo pada sektor transportasi. Para pelaku pasar cenderung tidak melakukan transaksi perdagangan saham yang begitu ekstrim sehingga mengakibatkan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada aktivitas perdagangan saham. Oleh karena itu, nilai mean yang dihasilkan pada uji deskriptif menunjukkan bahwa pada periode sebelum dan sesudah peristiwa hanya diperoleh perbedaan 0,0006 atau sebesar 0,06%.
13
Tidak adanya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak bereaksi terhadap penggunaan vaksin Covid-19. Pasar menilai peristiwa tersebut tidak memiliki kandungan informasi yang kuat sehingga tidak menghasilkan sinyal yang berarti bagi pasar. Peristiwa penggunaan vaksin Covid-19 diduga tidak memiliki kandungan informasi karena pasar tidak lagi terkejut dengan peristiwa tersebut.
Penggunaan vaksin Covid-19 telah dijadwalkan dan telah disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI satu minggu sebelum presiden menerima penyuntikan vaksin Covid- 19 (Franedya, 2021). Berdasarkan data pada Grafik 1 juga menunjukkan bahwa pada T-5 dan T-1 terjadi peningkatan abnormal return yang mengindikasikan adanya kebocoran informasi atau pasar telah mengantisipasi penggunaan vaksinasi Covid-19 sebelum tanggal peristiwa.
Grafik 1. Average Abnormal Return selama Periode Pengamatan
Selain itu, pelaku pasar juga masih memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan penggunaan vaksin Covid-19 karena penggunaannya masih belum mencapai kalangan masyarakat secara merata. Pelaku pasar juga masih berhati-hati dalam membuat keputusan investasinya karena masyarakat masih dihimbau untuk beraktivitas dari rumah serta masih diterapkannya kegiatan pembatasan mobilitas masyarakat. Untuk itu, para pelaku pasar menilai kinerja sektor transportasi masih mengalami perlemahan sehingga peristiwa penggunaan vaksin Covid-19 tidak mempengaruhi harga saham dan aktivitas perdagangan sektor transportasi.
-0,011 -0,007
0,005
-0,016
-0,007 -0,006 0,002
-0,011 0,009
0,017
-0,008 0,036
-0,018 -0,009
0,002 T-7 T-6 T-5 T-4 T-3 T-2 T-1 T-0 T+1 T+2 T+3 T+4 T+5 T+6 T+7
14
Berdasarkan situs berita Tempo (2021), perusahaan sektor transportasi berkode saham LRNA masih memilih untuk melakukan defensive mode sambil melihat dan menunggu perkembangan pasar atas pemberlakuan vaksinasi bagi masyarakat. Selain itu, kinerja saham sektor transportasi juga masih mengalami perlemahan hingga akhir bulan Januari 2021. Masih menurunnya kinerja saham tersebut dapat dilihat pada indeks saham sektor transportasi dan logistik atau IDXTRANS yang mengalami pelemahan sebesar -10,83% YtD dan menjadi sektor terlemah dalam indeks IDX-IC (IDX-Industrial Classification). Selain itu, berdasarkan data pada Grafik 2 juga menunjukkan bahwa saham-saham dari sektor transportasi didominasi tren penurunan dan hanya terdapat tiga saham yang mencatatkan kenaikan, yaitu saham dari perusahaan dengan kode ASSA, TRJA dan SAFE. Kenaikan tersebut dipimpin oleh perusahaan dengan kode ASSA sebesar 20,1% yang merupakan perusahaan dibidang jasa penyewaan transportasi yang pertumbuhan kinerjanya tersebut ditopang dari jasa logistik (Nanda, 2021).
Grafik 2. Kinerja Saham Sektor Transportasi - Januari 2021 (YtD)
Sumber: www.idx.co.id
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka penelitian ini mendukung teori hipotesis efisiensi pasar bentuk setengah kuat karena tidak ada investor yang memperoleh abnormal return dengan menggunakan informasi yang dipublikasikan yang dalam penelitian ini adalah informasi yang berasal dari peristiwa penggunaan vaksin Covid-19.
-28,2%
-19,7%
-17,3%
-11,0%
-5,0%
-2,9%
2,2%
6,3%
20,1%
-10,8%
GIAA WEHA LRNA BIRD BPTR HELI SAFE TRJA ASSA IDXTRANS