BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Umum
Transportasi merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan ekonomi dan kemajuan bangsa. Transportasi menyediakan jasa pelayanan kepada sektor – sektor lainnya (pertanian, perindustrian, perdagangan, pertambangan, pendidikan, kesehatan, pariwisata dan lainnya).Sektor – sektor lainnya tersebut membutuhkan jasa transportasi untuk mengangkut barang (bahan baku dan hasil produksi) dan manusia sehingga memberi nilai tambah dan nilai ekonomi (Adisasmita,2011,7)
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia. Hal ini memicu kebutuhan sarana dan prasarana untuk akses aktivitas menjadi bertambah. Sarana dan prasarana yang ada juga perlu ditingkatkan layanannya agar mampu mendukung proses aktivitas yang dilakukan. Dimana tingkat pelayanan jalan harus mampu melayani kebutuhan ruang gerak penduduk dengan optimal. Untuk mengoptimalkan pelayanan jalan perlu dilaksanakan pengkajian terhadap kinerja jaringan jalan sehingga jaringan jalan yang ada mampu melayani kebutuhan masyarakat.
II.2 Pengertian Jalan
air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan yang dimuat dalam pasal 1 ayat (4)).
Badan jalan adalah bagian jalan yang meliputi jalur lalulintas, dengan atau tanpa jalur pemisah, dan bahu jalan. Komposisi bagian potongan melintang jalan dan definisi menurut RSNI T-14-2014 terdiri dari (Hardiyatmo,2011,5) :
a) Jalur dan lajur
Jalur lalu lintas kendaraan didefinisikan sebagai bagian jalan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan yang secara fisik berupa perkerasaan jalan. Batas jalur lalu lintas dapat berupa median jalan, bahu jalan, trotoar dan pemisah/seperator jalan.
Lajur lalu lintas didefinisikan sebagai bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor yang sedang berjalan (PP RI No.43, 1993) dimana kemiringan lajur ke arah melintang umumnya sekitar 2 – 3%.
b) Jalur lalu lintas untuk kendaraan
Jalur lalu lintas untuk kendaraan adalah bagian jalur jalan yang direncanakan khusus untuk lintasan kendaraan.
c) Jalur lalu lintas untuk pejalan kaki
d) Jalur hijau
Jalur hijau adalah bagian dari jalan yang disediakan untuk penataan tanaman(pohon, perdu, atau rumput) yang ditempatkan menerus berdampingan dengan trotoar atau dengan jalur sepeda atau dengan jalur sepeda atau dengan bahu jalan atau pada pemisah jalur (median jalan)
e) Jalur tepian
Jalur tepian adalah bagian dari median yang ditinggikan atau seperator yang berfungsi memberikan ruang bebas bagi kendaraan yang berjalan pada jalur lalu lintasnya.
f) Bahu
Bahu jalan (shoulder) adalah bagian jalan yang bersebelahan dengan perkerasaan jalan. Bahu berguna untuk memberikan tempat bagi kendaraan yang berhenti dalam kondisi terpaksa. Secara struktural, bahu jalan berfungsi untuk memberikan dukungan lateral pada lapis pondasi dan lapis permukaan. Lebar bahu jalan berkisar diantara 60 cm ( untuk jalan minor) dan 3,6 m (untuk jalan raya utama). Kemiringan bahu arah melintang jalan berkisar 4 – 6% bila permukaannya dari beton atau aspal dan bila permukaannya berupa tanah berumput bisa sampai 8% (Garrabrant,2004). Sedangkan menurut RSNI T-14-2004 mengisyaratkan bahu jalan harus mempunyai kemiringan melintang 3 – 5%.
g) Kereb
h) Trotoar
Trotoar adalah jalur lalu lintas untuk pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan sumbu jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasaan jalan (untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang bersangkutan).
i) Median
Median adalah bagian dari jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan dengan bentuk memanjang sejajar jalan. Median terletak di sumbu/ tengah jalan, dimaksudkan untuk memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan. Median dapat berbentukmedian yang ditinggikan (raised), median yang diturunkan (depressed) atau median datar (flush).
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan pasal 3 ayat (3), penyelenggaraan jalan umum diarahkan untuk mewujudkan perikehidupan rakyat yang serasi dengan tingkat kemajuan yang sama, merata, seimbang dan daya guna dan hasil guna upaya pertahanan keamanan negara.
Penyelenggara jalan adalah pihak yang melakukan pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan sesuai dengan kewenangannya. Penyelenggaraan jalan umum dilakukan dengan mengutamakan pembangunan jaringan jalan di pusat- pusat produksi serta jalan-jalan yang menghubungkan pusat-pusat produksi dengan daerah pemasaran. Penyelenggaraan jalan umum diarahkan untuk pembangunan jaringan jalan dalam rangka memperkokoh kesatuan wilayah nasional sehingga menjangkau daerah terpencil.
II.3 Peran Jalan
Peran jalan disampaikan dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan pasal 5 bagian pertama peran jalan:
(1) Jalan sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untukn sebesar-besar kemakmuran rakyat. (2) Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
(3) Jalan yang merupakan satu kesatuan sistem jaringan jalan menghubungkan dan mengikat seluruh wilayah Republik Indonesia.
II.4 Sistem Jaringan Jalan
Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan pasal 1 ayat (18), sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis. Konsep sistem jaringan jalan dalam pasal 7:
1. Sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder.
2. Sistem jaringan jalan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan.
3. Sistem jaringan jalan sekunder sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
II.5 Klasiikasi Jalan
II.5.1 Klasifikasi dan Fungsi Jalan
Pengelompokan fungsi jalan dilakukan dalam konteks efisiensi operasi dimana fungsi akses dan fungsi mobilitas dipisahkan dalam hierarki jalan yang akan bersinergi dalam sistem jaringan jalan. Secara skematis fungsi dasar transportasi dari prasarana jalan disampaikan pada Gambar II.1 berikut ini.
Mobilitas
Akses lahan
Jalan arteri
Jalan pengumpul
Jalan lokal
Gambar II.1 Pembagian Fungsi Jalan Sumber: Adisasmita (2011:131)
jalan masuk, persimpangan sebidang, bangunan pelengkap, perlengkapan jalan, penggunaan jalan sesuai dengan fungsinya, dan tidak terputus.
Persyaratan teknis setiap fungsi jalan dalam PP No.34 Tahun 2006 tentang Jalan belum menyertakan kondisi fisik jalan (tingkat kerusakan) : baik, sedang, rusak, rusak ringan, dan rusak berat. Sebagaimana diketahui jika jalan rusak, maka fungsi jalan untuk aksesibilitas maupun mobilitas tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
IV.5.1.1 Sistem Jaringan Jalan Primer
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan dalam pasal 7, sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:
- Menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan; dan - Menghubungkan antarpusat kegiatan nasional
Menurut Adisasmita (2011:135-138), Sistem Jaringan Jalan Primer adalah:
1. Jalan arteri primer dalam kota merupakan terusan arteri primer luar kota.
2. Jalan kota arteri primer melalui atau menuju kawasan primer.
3. Jalan arteri primer dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam.
4. Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 meter.
5. Lalu lintas jarak jauh pada jalan arteri primer adalah lalu lintas regional. Untuk itu, lalu lintas tersebut tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang-alik dan lalu lintas lokal, dan kegiatan lokal.
6. Kendaraan angkutan berat dan kendaraan umum bus dapat diijinkan menggunakan jalan ini.
7. Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, jarak antara jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 m.
8. Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu, sesuai dengan volume lalu lintas.
9. Mempunyai kapasitas harian rata-rata pada umumnya lebih besar dari fungsi jalan lain.
10.Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih besar dari fungsi jalan yang lain.
11.Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan ini seharusnya tidak diijinkan.
b. Jalan Kolektor Primer yaitu ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua yang lain atau ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga yang ada dibawah pengaruhnya. Untuk jalan kolektor wilayah perkotaan kriterianya adalah sebagai berikut:
1. Jalan kolektor primer kota merupakan terusan jalan kolektor primer luar kota.
2. Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri primer. 3. Dirancang untuk kecepatan rencana 40 km/jam.
4. Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 m.
5. Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien dan jarak antaranya lebih dari 400 m.
6. Kendaraan angkutan berat dan bus dapat diijinkan melalui jalan ini. 7. Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu sesuai dengan volume
lalu lintasnya.
8. Kapasitasnya sama atau lebih besar dari volume lalu lintas harian rata-rata.
9. Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak diijinkan pada jam sibuk.
10.Dilengkapi dengan perlengkapan jalan yang cukup.
11.Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari pada jalan arteri primer.
c. Jalan Lokal Primer yaitu ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang sesuai parsil, kota dengan kedua dengan serta ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang yang ada dibawah pengaruhnya sampai persil. Kriteria untuk jalan lokal primer adalah sebbagai berikut:
1. Merupakan terusan jalan lokal primer luar kota.
2. Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan primer lainnya. 3. Dirancang untuk kecepatan rencana 20 km/jam.
4. Kendaraan angkutan barang dan bus diijinkan melalui jalan ini. 5. Lebar jalan tidak kurang dari 6 m.
6. Besarnya LHR pada umumnya paling rendah pada sistem primer.
IV.5.1.2 Sistem Jaringan Jalan Sekunder
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan pasal 8, sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil.
Menurut Adisasmita (2011:138-139), Sistem Jaringan Jalan Sekunder adalah :
sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. Untuk jalan sekunder wilayah perkotaan kriterianya:
1. Dirancang untuk kecepatan rencana paling rendah 30 km/jam. 2. Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 m.
3. Lalu lintas cepat pada jalan arteri sekunder tidak boleh tergantung oleh lalu lintas lambat.
4. Akses langsung dibatasi tidak boleh lebih pendek dari 250 m.
5. Angkutan barang ringan dan bus untuk pelayanan kota diijinkan melalui jalan ini.
6. Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu sesuai dengan volume lalu lintasnya. Kapasitasnya sama atau lebih besar dari volume lalu lintasnya.
7. Lokasi berhenti dan parkir sangat dibatasi dan tidak diijinkan pada jam sibuk.
8. Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup.
9. Besarnya LHR umumnya paling besar dari sistem sekunder yang lain. 10.Dianjurkan adanya jalur khusus yang akan digunakan oleh sepeda dan
kendaraan lambat lainnya.
11.Jarak selang denga kelas jalan yang sejenis lebih besar dari jarak selang dengan kelas jalan yang lebih rendah.
1. Dirancang berdasarkan kecepatan rencana 20 km/jam. 2. Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 m.
3. Kendaraan angkutan barang berat tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di daerah pemukiman.
4. Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi.
5. Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup.
6. Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari sistem primer dan arteri sekunder.
c. Jalan Lokal Sekunder ruas jalan yang menghubungkan kawasan-kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Kriteria untuk jalan lokal sekunder adalah:
1. Dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 km/jam. 2. Lebar badan jalan tidak kurang dari 5 m.
3. Kendaraan angkutan barang berat dan bus tidak diijinkan melalui jalan ini di daerah pemukiman.
4. Besarnya LHR umumnya paling rendah dibanding fungsi jalan yang lain tentang keterkaitan antara fungsi jalan dengan fungsi kota.
II.5.2 Klasifikasi Jalan Menurut Statusnya
statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.
Pengelompokkan status jalan tersebut bertujuan agar semua ruas jalan yang ada di Indonesia akan habis terbagi ke setiap status kewenangan pembinaan jalan. Dengan kata lain, tidak ada jalan yang tidak jelas penanggungjawabannya untuk membangun, memelihara, dan mengoperasikannya.
Pelaksanaan dari fungsi setiap ruas jalan dalam kewenangan status jalan tertentu, maka diperlukan adanya sinkronisasi antara fungsi dan status jalan, sehingga setiap level pemerintahan (Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota) akan mengurus jalan dalam statusnya sesuai dengan fungsi yang memang benar–benar dibutuhkan.
II.5.3 Klasifikasi Jalan Berdasarkan Kewenangan Pembinaan
Klasifikasi jalan berdasarkan kewenangan pembinaan ini berhubungan dengan penyelenggara jalan. Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan pasal 1 ayat (9), penyelenggaraan jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembanguan, dan pengawasan jalan.
Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan pasal 13 ayat (1), penguasaan atas jalan ada pada negara. Negara selanjutnya memberikan wewenang kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk melaksanakan penyelenggaraan jalan yang lebih rinci dijelaskan dalam pasal 14, 15, dan 16 UU No.38 Tahun 2004 tentang Jalan (wewenang Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota).
penyelenggaraan jalan kota. Untuk pengaturan jalan umum, lebih rinci lagi dijelaskan dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan pasal 17, 18, 19, 20, 21, 22.
Penjelasan mengenai kewenangan pembinaan jalan umum khususnya daerah perkotaan dapat dilihat dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan pasal 21, 27, 34, 40 yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan.
Menurut Adisasmita (2011:140-141), klasifikasi berdasarkan kewenangan pembinaan:
1. Jalan nasional yaitu ruas jalan yang karena tingkat kepentingannya, kewenangan peembinaannya berada pada pemerintah pusat. Ruas jalan yang termasuk kedalam klasifikasi ini adalah:
a. Jalan Arteri Primer
b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi c. Jalan lainnya yang mempunya nilai strategis terhadap kepentingan
nasional.
2. Jalan propinsi yaitu ruas jalan yang berdasarkan tingkat kepentingannya, kewenangan pembinaannya diserahkan kepada pemerintah daerah tingkat. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah:
a. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antaribukota kabupaten, propinsi dengan ibukota kabupaten/kotamadya.
b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota.
d. Jalan yang ada di dalam daerah khusus ibukota Jakarta, kecuali yang ditetapkan sebagai jalan nasional.
3. Jalan kotamadya/kabupaten yaitu ruas jalan yang berdasarkan tiingkat kepentingan, kewenangan pembinaanya diserahkan kepada pemerintah daerah tingkat II. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah: a. Jalan Kolektor Primer yang tidak masuk ke dalam baik jalan nasional
maupun jalan propinsi. b. Jalan Lokal Primer.
c. Jalan Sekunder yang tidak masuk ke dalam baik jalan nasional maupun jalan propinsi.
d. Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis ditinjau dari segi kepentingan kabupaten atau kotamadya.
e. Jalan khusus yaitu jalan yang berdasarkan tingkat kepentingannya bersifat khusus maka kewenangan pembinaannya diserahkan kepada instansi/badan hukum atau perseorangan yang membangun dan mengelola jalan tersebut.
II.6 Pengertian Efektifitas Program Prasarana Jalan
diterjemahkan pemenuhan tujuan secara efisien yakni dengan penggunaan sumber daya seminimum mungkin.
Definisi tujuan penyelenggaraan jalan banyak disinggung dalam pasal-pasal UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan yang secara umum dapat disarikan sebagai berikut (PT. Reka Desindo Mandiri, 2004):
- Operasi jaringan jalan harus efisien/biaya transportasi serendah mungkin, - Mampu mendorong pengembangan ekonomi
- Membentuk struktur ruang dalam rangka mencapai sasaran pembangunan nasional
- Menyediakan akses yang merata diseluruh wilayah - Terpadu dengan moda transportasi lainnya
- Jaringan jalan diharapkan juga dapat memberikan fungsi sosial, fungsi hankam, dan fungsi-fungsi turunan lainnya.
Pada tugas akhir ini, penelitian yang dilakukan dengan penilaian keberhasilan penyelenggaraan jalan agar tercapai tujuan penyelenggaraan jalan seperti di atas.
Pada kajian makro, evaluasi dilakukan di setiap tahap penyelenggaraan sistem jaringan jalan sesuai dengan urutan siklus penyelenggaraan jalan: input, output, outcome, benefit/impact.
Tabel II.1 Indikator Kinerja Manfaat dan Dampak Pembangunan Jalan
Indikator Satuan
Input Pengeluaran pemerintah untuk sub sektor jalan Rp
Output
Panjang jalan kota Km
Panjang jalan dalam kondisi baik Km
Panjang jalan dalam kondisi sedang Km
Panjang jalan dalam kondisi rusak Km
Panjang jalan dalam kondisi rusak berat Km
Outcome
Volume lalu lintas Kend-Km/Thn
Kecepatan rata-rata Km/Jam
Benefit dan Impact
Kerugian material akibat kecelakaan di jalan Orang
Ekonomi PDRB
Sumber :UU no 38 tahun 2004
II.7 Kinerja Jaringan Jalan
Pemahaman mengenai kebutuhan dan efektivitas pelaksanaan program pembangunan infrastrukutur bidang Kimpraswil tersebut mutlak diperlukan agar lebih menghasilkan manfaat bukan sebaliknya. Terutama prasarana jalan yang memainkan peran penting sebagai prasarana distribusi lalulintas barang dan manusia maupun sebagai salah satu prasarana pembentuk struktur ruang wilayah.
II.8 Standar pelayanan minimal
Standar pelayanan minimal (SPM) jalan adalah ukuran teknis jalan yang harus diwujudkan oleh penyelenggara jalan agar dapat beroperasional sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Ukuran teknis yang diamanatkan pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 34 tahun 2006 tentang jalan meliputi 2 hal yakni :
1. SPM jaringan jalan dengan indikator kinerja aksesibilitas, mobilitias dan keselamatan.
2. SPM ruas jalan dengan indikator kinerja kondisi jalan dan kecepatan. Penetapan SPM jalan lebih lanjut diatur melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU). SPM jalan wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan amanat PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan pemerintah antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemerintah pusat berkewajiban mengatur penetapan SPM jalan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah. SPM jalan meliputi dasar hukum, indikator kinerja dan penetapan SPM jalan serta pertimbangannya.
II.8.1 SPM Jaringan Jalan dengan Indikator Aksesibilitas
dilayani jalan. Dievaluasi dan keterhubungan antar PK oleh jalan dalam wilayah yang dilayani jalan dan diperhitungkan nilainya terhadap luas wilayah yang dilayani.
II.8.2 SPM Jaringan Jalan dengan Indikator Mobilitas
Mobilitas adalah panjang jalan dibagi oleh jumlah orang yang dilayaninya. Dalam konteks jaringan jalan, mobilitas jaringan jalan dievaluasi dari keterhubungan antar PK dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan sesuai statusnya dan banyaknya penduduk yang harus dilayani oleh jaringan jalan tersebut. Nilai mobilitas adalah rasio antara jumlah total panjang jalan yang menghubungkan semua pusat kegiatan terhadap jumlah total penduduk yang ada dalam wilayah yang harus dilayani jaringan jalan sesuai dengan statusnya, dinyatakan dalam satuan km/(10.000 jiwa).
II.8.3 SPM Jaringan Jalan dengan Indikator Keselamatan
yang tinggi dengan biaya yang rendah) dan kenyamanan. Azas keselamatan selalu diutamakan sebagai contoh lebar lajur lalu lintas 3,5 m ditetapkan agar kendaraan-kendaraan yang berjalan dapat beriringan dengan teratur dengan kecepatan tertentu dengan selamat (safe), jalan yang lebih lebar (lebih mahal) cenderung mempengaruhi ketidakketeraturan keberiringan kendalam dalam satu alur jalan, sementara jalan sempit (lebih murah) cenderung menyebabkan kendaraan melambat atau keluar lajur yang bisa membahayakan kendaraan tersebut. Keberadaan bahu sebagai fasilitas berhenti sementara, mengamankan kendaraan yang berhenti tersebut dari kendaraan yang berjalan dibelakangnya.
Dengan demikian parameter-parameter perencanaan, azas dasarnya adalah memberikan keselamatan bagi pengguna jalan dan ini dipakai sebagai parameter kinerja keselamatan jalan. Suatu ruas jalan akan disebut memenuhi SPM keselamatan jika jalan tersebut dibangun sesuai dengan rencana teknisnya sehingga layak untuk dioperasikan kepada umum.
Keselamatan untuk jaringan jalan sebagaimana dalam PP No. 34 tahun 2006 merupakan pemenuhan kondisi fisik ruas jalan yang menghubungkan pusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan terhadap 2 hal :
1) Parameter perencanaan teknis jalan sebagaimana termuat di dalam dokumen rencana teknis dari ruas-ruas jalan yang bersangkutan.
II.8.4 SPM Ruas Jalan dengan Indikator Kondisi Jalan
Kondisi jalan merupakan resultante dari seluruh konstruksi jalan mulai dari subgrade, pondasi jalan, lapisan perkerasan jalan sampai ke lapis permukaan jalan. Jalan yang lapis bawahnya tidak mantap, cenderung tidak rata. Jalan yang rata diindikasikan memiliki konstruksi yang baik. SPM kondisi jalan diukur dari kerataan permukaan perkerasan jalan yang harus dicapai sesuai dengan persyaratan teknis yang ditentukan. Kondisi kerataan permukaan jalan dinyatakan dengan nilai IRI yang dapat diukur dengan menggunakan alat ukur Roughometer NAASRA. Disamping itu dapat dievaluasi secara visual dengan hasil nilai Road Condition Index (RCI).
Grafik II.2: Hubungan antara Kondisi Fisik Jalan dan Kebutuhan Penanganan Jalan
Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan Rutin
BATAS MASA PELAYANAN
JIKA TANPA PROGRAM PENINGKATAN JALAN
TIDAK MAMPU LAGI MELAYANI LOS YANG ADA
Pt Po
Keterangan:
Po : Service Ability Indeks Awal (PHO)
Pt : Service Ability Indeks Akhir (Batas Umur
Pelayanan)
Nilai Po dan Pt tergantung pada klasifikasi Jalan (N, P, K) dan LHR Iri < 4,5 Iri < 4,5 Iri < 4,5
Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan Rutin
BATAS MASA PELAYANAN
JIKA TANPA PROGRAM PENINGKATAN JALAN
TIDAK MAMPU LAGI MELAYANI LOS YANG ADA
Pt Po
Keterangan:
Po : Service Ability Indeks Awal (PHO)
Pt : Service Ability Indeks Akhir (Batas Umur
Pelayanan)
Tabel II.2: Syarat Minimal Kondisi Jalan Menurut Fungsi Jalan
II.8.5 SPM Ruas Jalan dengan Indikator Kecepatan
tersebut sesuai dengan kecepatan rencana ruas jalan yang ada dalam dokumen teknis jalan yang bersangkutan. Kecepatan rencana ruas jalan jika tidak ditetapkan dalam dokumen rencana teknis atau tidak ada informasi yang tersedia tentang kecepatan rencana suatu ruas jalan maka penetapan kecepatan rencana bagi ruas jalan yang ada dapat mengacu kepada kecepatan rencana ruas jalan sesuai PTJ yang berlaku.
Tabel II.3: Klasifikasi Kualitas Pelayanan Jalan
V/C
Tingkat Pelayanan
Keterangan
< 0,60 A Arus lancar, volume rendah, kecepatan tinggi
0,6–0,7 B
Arus stabil, volume sesuai untuk jalan luar kota, kecepatan terbatas
0,7-0,8 C
Arus stabil, volume sesuai untuk jalan kota, kecepatan dipengaruhi oleh lalu-lintas
0,8-0,9 D Mendekati arus tidak stabil, kecepatan rendah
0,9-1,0 E
Mendekati arus tidak stabil, volume pada/mendekati kapasitas, kecepatan rendah
> 1,00 F
Perhitungan mengenai kecepatan operasi minimal dan rekomendasi SPM untuk aspek Kecepatan operasi disampaikan pada Tabel 2.3.
Grafik 3: Hubungan antara Kualitas Pelayanan Jalan dengan Kecepatan Operasi dan V/C
Tabel II.4: Syarat Minimal Kecepatan Operasi setiap Fungsi Jalan
Primer km/jam Lokal
Primer
6,5 m 63 km/jam 40 km/jam 20 km/jam 20 km/jam 20 km/jam
Arteri Sekunder
11 m 51 km/jam 34 km/jam 30 km/jam 17 km/jam 20 km/jam
Kolektor Sekunder
9 m 48 km/jam 32 km/jam 20 km/jam 16 km/jam 20 km/jam
Lokal Sekunder