• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekoleksikal Tanaman Obat Bahasa Melayu Serdang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ekoleksikal Tanaman Obat Bahasa Melayu Serdang"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS

2.1 Kajian Pustaka

Ekolinguistik terbilang baru dalam kajian Linguistik. Dalam istilah lain, kajian ini dikenal pula dengan istilah ekologi bahasa. Istilah ekologi pertama kali dikenalkan oleh Ernest Haeckel (1834-1914). Ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antara makhluk hidup dan benda tak hidup di tempat hidupnya atau lingkungannya.

Istilah Ekolinguistik (ekologi bahasa) berhubungan dengan kata „ekologi‟ yaitu ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan bahasa. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional manusia dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.

(2)

Lingkungan bahasa adalah keseltuhan kondisi yang memungkinkan pembelajar bahasa mendapatkan berbagai masukan tentang bahasa yang hendak dipelajarinya. Masukan-masukan itu bersifat formal dan informal (alamiah). Kualitas lingkungan bahasa amat menentukan dalam mencapai keberhasilan pembelajaran bahasa baru yang dipelajari, mungkin mereka mendapatkan sedikit keterampilan membaca tetapi keterampilan mendengar dan berbicara akan tetap rendah karena berhadapan dengan bahasa yang baru. Oleh karena itu lingkungan bahasa yang baik adalah lingkungan yang dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pembelajar untuk mendapatkan pajanan yang berkaitan dengan bahasa yang sedang dipelajarinya.

Kajian Ekolinguistik memiliki parameter yaitu interrelationships (interelasi bahasa dan lingkungan), environment (lingkungan ragawi dan social budaya) dan diversity (keberagaman bahasa dan lingkungan) (Haugen dalam Fill dan Muhlhausler, 2001:1). Lebih jauh Ekolinguistik menyoroti pula sumber daya manusia, sumber daya budaya, dan kaitannya dengan simbolisasi verbal dalam bahasa-bahasa dunia. Ini mencakup penggunaan berkas-berkas lingual (kata, teks) sebagai cermin (pemahaman) tentang lingkungan social dan lingkungan alami termasuk penggunaan simbol-simbol bahasa dan budaya yang mencerminkan relasi simbolis verbal manusia dengan manusia dan manusia dengan alam di sekitarnya.

(3)

ekonomis kehidupan manusia yang terdiri atas fauna, flora, dan sumber-sumber mineral; sedangkan lingkungan sosial terdiri atas berbagai kekuatan masyarakat yang membentuk pikiran dan kehidupan setiap individu di antaranya: agama, etika, bentuk organisasi politik, dan seni.

2.1.1 Leksikal

Chaer (2008:60) menyatakan, “Makna leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabulary, kosa kata, perbendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna.” Jika leksikon dipersamakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat dipersamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil kehidupan kita.

Contohnya, kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing atau dalam kalimat Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat itu jelas merujuk kepada binatang tikus, bukan kepada yang lain, tetapi dalam kalimat yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia, yang perbuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus.

(4)

yang dilambangkan kata itu. Makna leksikal suatu kata sudah jelas bagi seorang bahasawan tanpa kehadiran kata itu dalam suatu konteks kalimat. Berbeda dengan makna yang bukan makna leksikal, yang baru jelas apabila berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain.

Contoh lain kata bangsat tanpa konteks kalimat dan konteks situasi jika kita mendengar kata bangsat maka yang terbayang di benak kita adalah jenis binatang penghisap darah yang disebut juga kata busuk atau kepinding atau orang yang berbuat jahat. Jika kita mendengar kata memotong maka yang terbayang dalam benak kita adalah pekerjaan untuk memisahkan atau menceraikan yang dilakukan dengan benda tajam. Tetapi kata bangsat yang berarti penjahat dan kata memotong yang berarti mengurangi akan terbayang dalam benak kita apabila kata-kata tersebut dipakai di dalam kalimat. Misalnya dalam kalimat Dasar bangsat uangku disikatnya juga dan kalimat Kalau mau memotong gajiku sebaiknya bulan depan saja.

Kata-kata yang dalam gramatikal disebut kata penuh (full word) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal tetapi yang disebut kata tugas (function word) seperti kata dan, dalam, dan karena tidak memiliki makna leksikal.

Kridalaksana (1982:98) mendefinisikan leksikal sbb:

1. Komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa.

(5)

3. Daftar kata yang disusun seperti kamus tetapi dengan penjelasan yang singkat dan praktis.

a. Kata benda b. Kata kerja c. Kata sifat

2.1.2 Tanaman Obat

Indonesia adalah negara agraris yang terkenal akan kekayaan rempah-rempah dan berbagai jenis tanaman. Dari dahulu hingga sekarang tanaman herbal ataupun tanaman obat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi sayang sekali banyak warga Indonesia saat ini malah lebih memilih produk kesehatan luar negeri dibanding negeri sendiri. Padahal tak perlu jauh-jauh ke negeri orang dengan biaya yang sangat mahal sekali, di negeri kita jauh lebih kaya dan alami dalam segi pengobatan.

(6)

Penggunaan tanaman obat sebagai obat bisa dengan cara diminum, ditempel, dihirup sehingga kegunaannya dapat memenuhi konsep kerja reseptor sel dalam menerima senyawa kimia atau rangsangan.

Contoh khazanah leksikal tanaman obat Melayu Serdang adalah: Temu Putih Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe syn. Curcuma pallida Lour. (Heyne)) adalah salah satu spesies dari famili Zingiberaceae yang telah dikomersilkan penggunaan rhizomanya sebagai tanaman obat dan empon-empon. Temu putih disebut pula sebagai temu kuning. Produk alaminya banyak digunakan dalam industri parfum, pewarna untuk industri pangan, dan sebagai obat atau campuran obat. Khasiatnya bermacam-macam, namun biasanya terkait dengan pencernaan.

Lebih lengkap, rimpangnya dipakai sebagai obat kudis, radang kulit, pencuci darah, perut kembung, dan gangguan lain pada saluran pencernaan serta sebagai obat pembersih dan penguat (tonik) sesudah nifas. Penelitian menunjukkan bahwa temu putih juga memiliki aktivitas antitumor, hepatoprotektif, anti-peradangan, dan analgesik.

2.1.3 Melayu Serdang

(7)

di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatra Utara.

Awalnya Melayu Serdang hanya satu bahagian saja, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Deli Serdang dahulunya bersatu, sebelum terjadinya pemekaran pada kedua kabupaten tersebut.

(8)

Secara struktur fisik dan budaya, suku Melayu Serdang ini tidaklah berbeda dengan suku Melayu lainnya, seperti suku Melayu Deli, Melayu Langkat, Melayu Asahan, Melayu Labuhan Batu, Melayu Asahan dan Melayu Riau. Karena mereka semua berasal dan berakar dari satu budaya yang sama, hanya saja karena telah terpisah-pisah, sehingga terjadi perbedaan-perbedaan kecil yang tidak terlalu menyolok. Salah satu budaya tari dari suku Melayu Serdang yang terkenal adalah Tari Serampang Dua belas. Tarian ini merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang.

(9)

dan memperbanyak ASI. Selain itu nira juga dapat menyembuhkan penyakit diabetes. Walau begitu mereka masih memercayai berbagai hal takhyul dan hal-hal ghaib serta tempat-tempat keramat yang menurut mereka bisa memengaruhi kehidupan dan rezeki mereka.

Suku Melayu Serdang berbicara menggunakan bahasa Melayu dialek Serdang. Bahasa Melayu Serdang, berbeda dengan bahasa Melayu Deli dalam hal dialek, tapi hampir sama dengan bahasa Melayu Langkat yang menggunakan dialek "e". Salah satu tradisi budaya suku Melayu Serdang, adalah tradisi tepung tawar. Tradisi ini sebagai upacara untuk mengungkapkan rasa syukur akan sesuatu yang mereka dapatkan dengan melaksanakan upacara yang disebut tepung tawar. Tradisi ini dilaksanakan oleh MMS sejak abad ke-15 dan dirubah dan disesuaikan dengan tata cara agama Islam.

Mata pencaharian MMS adalah sebagian besar sebagai petani, nelayan, selebihnya pedagang, perajin anyaman tikar, perajin atap rumbia, dan perajin keranjang bambu. Mereka juga berdagang pisang sale. Selain itu banyak juga dari mereka yang menjadi pegawai negeri di kantor-kantor pemerintah serta menjadi wiraswasta.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Ekolinguistik

(10)

pakar bahasa dapat bekerjasama dengan pelbagai jenis ilmu sosial lainnya dalam memahami interaksi antarbahasa (Haugen dalam Fill& Mühlhäusler, 2001:57).

Analisis dalam ekolinguistik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu analisis wacana eko-kritis dan ekologi linguistik. Wacana eko-kritis tidak terbatas pada pengaplikasian analisis wacana kritis terhadap teks yang berkenaan dengan lingkungan dan pihak-pihak yang terlibat dengan lingkungan dalam pengungkapan ideologi-ideologi yang mendasari teks tersebut, tetapi kajian ini menyertakan pula penganalisisan pelbagai macam wacana yang berdampak besar terhadap ekosistem mendatang. Misalnya, wacana ekonomi neo-liberal, ketak-terhubungan dari konstruksi konsumerisme, gender, politik, pertanian, dan alam. Disamping itu, wacana eko-kritis bukan sebatas memfokuskan pada penulusuran ideologi-ideologi yang berpotensi merusak, melainkan mencari representasi diskursif yang dapat berkontribusi terhadap keberlangsungan masyarakat secara ekologis.

Haugen (1970) dalam Mbete (2009:11-12) menyebut, ada sepuluh ruang kajian ekologi bahasa yaitu:

1. Linguistik historis komparatif, menjadikan bahasa-bahasa kerabat di suatu lingkungan geografis sebagai fokus kaji untuk menemukan relasi historis genetisnya.

(11)

3. Sosiolinguistik, yang fokus utama kajiannya atas variasi sistematik antara struktur bahasa dan stuktur masyarakat penuturnya.

4. Dialinguistik, yang memfokuskan kajiannya pada jangkauan dialek-dialek dan bahasa-bahasa yang digunakan masyarakat bahasa, termasuk di habitat baru, atau kantong migrasi dengan dinamika ekologinya.

5. Dialektologi, mengkaji dan memetakan variasi-variasi internal sistem bahasa. 6. Filologi, mengkaji dan menjejaki potensi budaya dan tradisi tulisan, propeknya, kaitan maknawi dengan kajian dan atau kepudaran budaya, dan tradisi tulisan lokal.

7. Linguistik preskriptif, mengkaji daya hidup bahasa di kawasan tertentu di kawawan tertentu, pembakuan bahasa tulisan dan bahasa lisan, pembakuan tata bahasa (sebagai muatan lokal yang memang memerlukan kepastian bahasa baku yang normatif dan pedagogis).

8. Glotopolitik, mengkaji dan memberdayakan pula wadah, atau lembaga penanganan masalah-masalah bahasa (secara khusus pada era otonomi daerah, otonomi khusus, serta pendampingan kantor dan balai bahasa).

9. Etnolinguistik, linguistik antropologi ataupun linguistik kultural (cultural linguistics) yang membedah pilih-memilih penggunaan bahasa, cara, gaya, pola pikir dan imajeri (Palmer, 1996 dalam Mbete, 2009) dalam kaitan dengan pola penggunaan bahasa, bahasa-bahasa ritual, kreasi wacana iklan yang berbasiskan bahasa lokal.

(12)

juga lingkungan sosial budaya sebagai tanda adanya relasi dan interaksi mereka dengan alam. Selaras dengan pandangan Sapir (dalam Fill dan Muhlhauser, Eds 2001:2). Khazanah kosa kata dan ungkapan-ungkapan metaforis yang kaya dan lengkap mencerminkan serta mereflesikan perbendaharaan pengetahuan komunitas penuturnya tentang lingkungan ragawinya, sosialnya, gagasan-gagasan mereka juga karakter lingkungan hidup, dan kebudayaan para pemilik bahasa itu. Terdapat tiga parameter ekolinguistik yaitu:

1. Parameter Kesalingterhubungan (Interrelationships), Interaksi (Interaction) dan Ketersalinggantungan (Interdepedensi).

Parameter kesalingterhubungan merupakan hubungan timbal balik antara makhluk di lingkungan alam tersebut dengan ekologinya yang dikodekan ke dalam bahasa dalam jangkauan yang luas. Keberadaan spesies dan kondisi kehidupan mereka tidak dapat dipandang sebagai dua bagian yang terpisah, tetapi sebagai satu bagian yang utuh.

Ketersalinghubungan antara sirih dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial masyarakat tutur BMS. Sirih digunakan sebagai tanaman obat sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu. Sirih merupakan flora khas Melayu Serdang. MMS sangat menjunjung tinggi budaya upacara makan sirih khususnya saat upacara penyambutan tamu dan menggunakan sirih sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit.

(13)

tanaman sirih begitu juga sebaliknya Masyarakat Melayu sangat membutuhkan sirih Sirih bukan hanya dipakai dalam adat dan istiadat tetapi juga sangat dibutuhkan MMS dalam hal pengobatan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak dan menghentikan perdarahan. Kegunaan sirih lainnya yaitu: batuk, sariawan, bronchitis, jerawat, keputihan, sakit gigi, bau mulut, asma, dan sebagainya. Untuk pemakaian luar yaitu: luka bakar, kurap kaki, bisul, sakit mata, menghilangkan gatal, mengurangi produksi ASI yang berlebihan, dan sebagainya. Oleh karena itu, Masyarakat Melayu sangat bergantung kepada sirih.

Budaya Melayu terdapat tepak yang berisikan sirih dan disajikan kepada tamu hingga sekarang masih tetap dilakukan. Biasanya tepak sirih tersebut dilengkapi permen. Bagi ibu-ibu yang memunyai anak gadis sirih dibawa pulang untuk digunakan kepada anak gadisnya yang belum mendapatkan jodoh padahal sudah berusia lanjut. Ada suatu kepercayaan dalam penutur BMS bahwa jika anak gadis memakan sirih tersebut maka anak gadis itu akan segera mendapat jodoh. Oleh karena itu pepatah Melayu mengatakan setepak sirih sejuta pesan. Hal ini membuktikan bahwa sirih berinterelasi, berinteraksi dan berinterdepedensi dengan Masyarakat Melayu. (wawancara dengan ibu nino, 60, 10 Juni 2015)

2. Parameter Lingkungan (Environment)

(14)

Muhlhauser (2003:37) bahwa klarifikasi hewan dan tumbuhan secara nyata merupakan refleksi dari lingkungan dengan keanekaragaman hayatinya tempat tinggal masyarakat tersebut.

Contohnya daun seribu guna dikenal penutur BMS daun yang agak panjang dan bewarna hijau. Daun ini dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Daun ini diyakini oleh penutur BMS dapat mengobati seperti: gangguan syaraf, gangguan pencernaan, dan dapat mengurangi nyeri haid. Daun gelinggang dikenal oleh penutur BMS untuk menghilangkan rasa gatal dengan cara digosokkan pada bagian kulit yang terasa gatal. Selain itu juga dapat menghilangkan kurap, kudis, panu dan kutu air. (lihat Faridah, 2014:138)

3. Parameter Keberagaman (Diversity)

Fill dan Muhlhauser (2001:2) mengutarakan bahwa keberagaman (diversity) perbendaharaan kosa kata sebuah bahasa memancarkan lingkungan fisik dan lingkungan sosial atau lingkungan budaya tempat bahasa itu berada dan digunakan. Lingkungan fisik dimaksud merupakan lingkungan alam, geografi yang menyangkut topografi seperti iklim, biota, curah hujan, sedangkan lingkungan kebudayaan berkaitan dengan hubungan antara pikiran dan aspek kehidupan masyarakat tersebut seperti agama, etika, politik, seni, dan lain sebagainya.

(15)

bagi penutur BMS sirih utan bukan hanya untuk dikonsumsi dan penghormatan kepada tamu. Sirih utan juga dipercaya sebagai obat dengan cara mengunyah, menyembur, dan memilis. (b) sirih merah, yakni sirih yang berwarna merah yang sering digunakan oleh penutur BMS untuk pengobatan berbagai macam penyakit (c) sirih bertemu urat yakni, dikatakan sirih bertemu urat karena urat-urat sirih bertemu.

Kajian ekolinguistik merancang sebuah teori linguistik yang dihubungkan dengan teori dialektikal praksis sosial yang dikenal sebagai The three dimensionality of praxis (Tiga dimensi praksis sosial. Teori tiga dimensi praksis sosial merupakan teori yang diaplikasikan dalam mengamati lingkungan dan isu-isu lingkungan untuk menjelaskan tentang norma-norma bahasa lingkungan yang dipresentasikan dalam bentuk kerangka teori. Menurut Lindo dan Jeppe (2000:10)(lihat Nuzwaty, 2014:32) teori tiga dimensi tersebut adalah:

1. Dimensi ideologis, yaitu hubungan individual dan mental kolektif, kognitif, dan sistem psikis seseoang yang terlefleksi pada bahasa, khasanah kebahasaan dengan kandungan maknanya/prilakunya dan adanya idelogi atau adicita masyarakat.

Dalam kehidupan sosial MMS setiapanak-anak yang demam dapat diobati dengan bunga raya merah dan bunga raya putih, karena kedua tanaman obat ini dipercaya bagi MMS dapat menghilangkan panas pada sakit demam.

(16)

daun bunga raya ini disapu-sapukan di atas kepala, yang disebut oleh MMS adalah „jaram‟. Hal ini berguna untuk melenyapkan penyakit panas atau demam pada tatanan dimensi ideologis. Waktu yang diperbolehkan untuk melakukan penjaraman sejak sore menjelang malam dan atau sampai pada pagi hari. Jika penjaraman dilakukan pada saat siang hari MMS memercayainya sebagai sesuatu yang tidak baik bagi kesehatan.

Bunga raya putih digunakan untuk mengobati panas atau demam dengan hanya penggunaan akarnya. Akar bunga raya putih ini diambil beberapa ikat yang dalam BMS disebut kecak. Kemudian akar ini direndam dengan air masak. Diamkan beberapa jam, setelah itu air rendaman tersebut diminum. MMS meyakini bahwa apabila hal ini dilakukan dapat mengobati penyakit cacar.

2. Dimensi sosiologis, yaitu tentang cara seseorang mengorganisasi hubungan antara sesama untuk membangun, menjalin, dan memelihara keharmonisan hubungan individual secara kolektif.

Kebiasaan atau tradisi „jaram‟ masih digunakan di dalam kehidupan sosial dalam tatanan dimensi sosiologis, budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Kedekatan relasi MMS dengan leksikon bunga raya atau derajat kedekatan (degree of familiriaty) tercermin pada derajat keakraban dan pengetahuannya yang dipahami sebagai tradisi dan budaya dengan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman berinteraksi, berinterelasi, dan berinterdepedensi. 3. Dimensi biologis, yaitu yang bertautan dengan lingkungan alam dan hidup

(17)

Bunga raya merupakan bunga yang cantik dengan warna yang bermacam-macam, seperti merah, putih, merah muda, dan orange. Bunganya besar, keras, dan tidak berbau. Pohon bunga raya merupakan tumbuhan yang mudah ditanam dan dibudidayakan. Bunga raya biasanya ditanam oleh MMS di pekarangan rumah mereka. Kedekatan relasi itu tampak pada pemahaman dan perkembangan biologis tanaman tersebut dalam tatanan dimensi biologis yang diidentifikasi dengan warna yang beragam, selanjutnya oleh penutur MMS menjadikannya sebagai salah satu tanaman obat yang dapat menghilangkan panas atau demam yang terekam secara verbal di dalam kognitif MMS dalam tatanan dimensi ideologis dan dimensi sosiologis pada kehidupan sosial MMS.

2.2.2 Relasi Semantis

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, sering ditemui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya. Pendekatan semantik leksikal yang digunakan pada kajian ini adalah ranah relasi semantis. Teori yang digunakan untuk memaparkan relasi semantis ekoleksikal tanaman obat BMS adalah teori Saeed (2000:63). Teori relasi semantis menurut Saeed adalah:

1. a. Homonim

(18)

Contoh: kata „bisa‟ berarti : 1. dapat atau mampu 2. racun ( bisa ular)

b. Homograf yaitu tulisan sama tetapi pelafalan dan makna berbeda. Contoh: kata „apel‟ berarti : 1. nama buah

2. upacara

c. Homofon yaitu bunyi sama tetapi tulisan dan makna berbeda. Contoh : kata „bang‟ berarti: panggilan untuk laki-laki yang lebih tua

kata „bank‟ berarti: badan usaha di bidang keuangan. 2. Polisemi

Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh: kata „kepala‟ berarti:

1. Bagian tubuh dari leher ke atas

2. Bagian dari suatu berbentuk bulat seperti kepala, seperti pada kepala paku dan kepala jarum.

3. Pemimpin atau ketua seperti kepala sekolah, kepala kantor dsb.

3. Sinonim

Sinonim adalah nama lain untuk benda atau hal yang sama. Contoh: kata „pandai‟ dan „pintar‟

(19)

4. Antonim

Antonim merupakan relasi leksikal yang menggambarkan makna yang bertentangan. Maksudnya adalah suatu ungkapan yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Contoh: kata „besar‟ dan„kecil‟

Kata besar dan kecil termasuk kata yang berantonim karena memiliki arti yang berlawanan.

5. Hiponim

Secara harfiah berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Hiponim kata yang ruang lingkupnya lebih khusus atau disebut kata khusus. Untuk kata ruang lingkupnya yang lebih luas disebut hipernim atau kata umum.

Contoh: kata anggrek, melati, mawar merupakan hiponim dari hipernim kata „bunga‟

6. Meronim

Meronim adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan hubungan leksikal. Contoh:

pohon

batang daun cabang ranting akar

2.2.3 Semantik Leksikal

(20)

semantik leksikal adalah makna kata yang dianggap sebagai satuan yang mandiri bukan makna kata dalam kalimat (lihat Pateda, 2001:74). Sibarani (1997:7) mengatakan “Setiap kata memiliki makna sesuai dengan lingkungan budaya bahasa yang bersangkutan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa makna kata sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita disebut semantik leksikal. Contoh: cekur referennya „kencur‟ halia referennya „jahe‟ betik referennya „pepaya‟.

Dalam pembahasan semantik leksikal kata merupakan tumpuan. Sebagaimana yang dikemukakan Sweet dalam Palmer (1976:37) yang membagikan kata ke dalam tiga bagian, yaitu kata penuh (full words), kata tugas, dan partikel (form words). Kata penuh mengandung makna tersendiri. Kata ini bebas konteks kalimat sehingga mudah dianalisis. Misalnya: nomina, verba, adjektiva, dan adverbial.

2.2.4 Semantik Kognitif

Istilah “Cognitif” berasal dari kata “Cognition” yang padanannya

“Knowing”, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan (Neissser, 1976).

(21)

Kognitivisme mengacu pada teori linguistik yang berdasar pada pandangan tradisional tentang arah hubungan sebab akibat antara bahasa dan pikiran (Lyions 1995: 97). Ini mendasari ilmu pengetahuan yang menurut kognitifist dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi dengan lingkungan yang berkesinambungan. Proses ini tidak terpisah-pisah, tetapi merupakan proses yang mengalir serta sambung-menyambung, dan menyeluruh. Seperti halnya proses membaca, bukan sekedar menggabungkan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah; tetapi menggabungkan kata, kalimat atau paragraf yang di-serap dalam pikiran dan kesemuanya itu menjadi satu, kemudian membentuk sebuah makna/arti, mengalir total secara bersamaan. (tps://id.wikipedia.org/wiki/Semantik)

(22)

2.3 Penelitian Relevan

2.3.1 Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tanaman Obat Tradisional di Kabupaten Buleleng dalam Rangka Pelestarian Lingkungan: Kajian

Ekolinguistik (Rasna, 2010)

Penelitian yang dilakukan oleh Rasna dengan judul “Pengetahuan dan

Sikap Remaja Terhadap Tanaman Obat Tradisional di Kabupaten Buleleng dalam Rangka Pelestarian Lingkungan: Sebuah Kajian Ekolinguistik”. Penelitian ini membahas secara ekolinguistik adanya penyusutan bentuk leksikal tumbuhan/ tanaman obat para remaja sehingga para remaja tidak mengenal leksikal tanaman obat, contohnya beluntas. Hal ini terjadi karena (a) adanya perubahan sosiokultural, (b) perubahan sosioekologis secara fisik, dan (c) faktor sosioekonomis.

Persamaan penelitian Rasna dengan penelitian ini sama-sama meneliti tentang leksikal tanaman obat, tetapi penelitian yang dilakukan oleh Rasna membahas pengetahuan dan sikap para remaja di Kabupaten Buleleng terhadap tanaman obat tradisional beserta faktor-faktor apa saja yang membuat para remaja tidak mengenal leksikal tanaman obat tradisional di Kabupaten Buleleng. Penelitian ini diteliti dari segi semantik, yaitu meneliti relasi semantis yang terbentuk pada ekoleksikal tanaman obat BMS.

2.3.2 Pergeseran Leksikon Kuliner Melayu Serdang Terhadap Remaja Perbaungan Kabupaten serdang Bedagai ( Sinar, T, S, 2011)

(23)

dan mengetahui dengan baik kuliner modern yang identik dengan kuliner khas barat seperti: pizza, humberger, spaghetty, kentucky dan makanan lain yang cepat saji dan praktis (fast food). Metode yang digunakan dalam penelitian Sinar ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen untuk pengumpulan data dilakukan di Kec. Perbaungan yang berada dalam lingkungan Kesultanan Serdang masa lalu di Kabupaten Serdang Bedagai.

Penelitian ini menemukan kuliner khas Melayu Serdang yang sudah tidak dikenal lagi oleh penutur remaja Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai seperti: botok kampung, bubur lambuk, gulai darat atau terung sembah, gulai pisang

emas, gulai kacang hijau, pekasam kepah, emping padi, senat, kueh makmur, kue

pakis, dan sebagainya.

Perbedaan penelitian Sinar dengan penelitian ini adalah penelitian Sinar menganalisis mengenai leksikon kuliner Melayu Serdang yang terletak di Perbaungan Kecamatan Serdang Bedagai, sedangkan penelitian ini membahas tentang ekoleksikal tanaman obat Melayu Serdang.

2.3.3 Keterkaitan Metafora dengan Lingkungan Alam pada Komunitas Bahasa Aceh di Desa Trumon Aceh Selatan: Kajian Ekolinguistik. (Nuzwaty, 2014)

(24)

Metode yang digunakan pada penelitian Nuzwaty adalah metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori ekolinguistik dengan tiga parameter ekolingustik yaitu, kesalingterhubungan (interrelationship), lingkungan (environment), keberagaman (diversity), dan juga teori metafora konseptual kognitif linguistik.

Perbedaan dengan penelitian Nuzwati dengan penelitian ini adalah penelitian Nuzwaty membahas mengenai keterkaitan metafora dengan lingkungan alam di Desa Trumon Aceh Selatan, sedangkan penelitian ini membahas ekoleksikal tanaman obat Melayu Serdang.

2.3.4 Khazanah Ekoleksikal, Sikap, dan Pergeseran Bahasa Melayu Serdang: Kajian Ekolinguistik (Faridah, 2014)

Penelitian Faridah ini membahas tentang khazanah ekoleksikal bahasa Melayu Serdang, sikap dan pengetahuan Melayu Serdang terhadap leksikalnya, serta membahas faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran bahasa Melayu Serdang. Metode yang dipakai pada penelitian Faridah adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah ekolinguistik. Beberapa sikap bahasa oleh penutur BMS yang akan diuji adalah bangga, sadar, dan setia.

(25)

penutur tua yang masih setia menggunakan BMS sehingga BMS mengalami pergereran ke bahasa Indonesia. Perbedaan penelitian Faridah dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Faridah membahas tentang ekoleksikal BMS, sikap pada penutur BMS, dan faktor-faktor yang menyebabkan BMS telah mengalami pergeseran, sedangkan penelitian ini membahas tentang ekoleksikal tanaman obat BMS dan relasi semantis pada leksikal tanaman obat.

2.4 MODEL PENELITIAN

BAHASA MELAYU SERDANG (BMS)

Leksikal Tanaman Obat BMS

Relasi Semantis yang Terbentuk Khazanah

Ekoleksikal Tanaman Obat MS

Homonim, Polisemi, Sinonim, Antonim, Hiponim dan Meronim Leksikal Daun, Buah

Rempah-rempah

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses pemaknaan paduan leksem bahasa Prancis, beberapa idiom dan semi-idiom bergantung sepenuhnya pada konteks kalimat karena tidak ada makna leksikal dari

Berbeda dengan makna idiomatik, kata idiom berarti satuan-satuan bahasa (bisa berupa kata, frase maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna

Dapat ditanyakan dalam hal ini (1) bagaimana sikap warga pada umumnya terhadap bahasa mereka ; (2) apakah mereka menganggap bahasa mereka lebih rendah daripada bahasa lain;

makna yang jelas, pasti, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan makna kata dan

Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat. Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata – kata

15) Makna Idiom : Satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan. 16) Makna Peribahasa : Suatu kiasan / bunga bahasa dalam menggambarkan

Kedua verba di atas dikatakan tidak total dan tidak komplet karena tidak dapat bertukar pada konteks kalimat seperti pada contoh, selain itu keduanya tidak memiliki makna

Makna kata adalah makna yang menjadi jelas jika kata itu berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Contoh: adik jatuh dari sepeda. Dia jatuh