• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh IAA dan BAP Terhadap Induksi Tunas Mikro Dari Eksplan Bonggol Pisang Kepok (Musa paradisiaca L)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh IAA dan BAP Terhadap Induksi Tunas Mikro Dari Eksplan Bonggol Pisang Kepok (Musa paradisiaca L)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Klasifikasi botani tanaman pisang kepok menurut Tjitrosoepomo (2009)

adalah sebagai berikut : Regnum : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub divisi :

Angiospermae Classis : Monocotyledoneae Ordo : Musales Familia : Musaceae

Genus : Musa Spesies : Musa paradisiaca L.

Pisang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, yaitu berasal dari

Semenanjung Malaysia dan Filipina. Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa

pisang berasal dari Brasil dan India. Dari sini kemudian menyebar hingga ke daerah

Pasifik. Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah penghasil

pisang. Tumbuhan pisang banyak terdapat dan tumbuh baik di daerah tropis dan sub

tropis. 10 Pisang adalah salah satu jenis buah-buahan yang dapat tumbuh di daerah

yang beriklim, yang banyak mengandung vitamin A, B1, B2,B6 dan C. Pisang

merupakan tanaman terna yang tidak mengenal musim. Pisang merupakan salah satu

tanaman unggulan lokal. Pengembangan pisang secara komersial dihadapkan pada

kesulitan mendapatkan bibit yang bermutu baik dalam jumlah besar dan dalam waktu

singkat. Secara konvensional pisang ini dapat diperbanyak dengan teknik pemisahan

anakan dan perbanyakan bonggol (Satuhu dan Supriyadi, 2000).

Tanaman pisang merupakan tanaman herba tahunan yang mempunyai sistem

perakaran dan batang di bawah tanah. Pohon pisang berakar rimpang yang

berpangkal pada umbi batang. Batang yang berdiri tegak di atas tanah dan terbentuk

dari pelepah daun yang saling menelungkup dan disebut batang semu. Tinggi batang

(2)

Daun pisang letaknya tersebar dengan helaian daun berbentuk lanset

memanjang, dan mudah sekali robek oleh hembusan angin yang keras karena tidak

mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun. Bunga

berkelamin satu, berumah satu dan tersusun dalam tandan. Daun pelindung berukuran

panjang 10 – 25 cm, berwarna merah tua, berlilin, dan mudah rontok. Bunga tersusun

dalam dua baris yang melintang. Bakal buah berbentuk persegi, sedangkan bunga

jantan tidak ada. Setelah bunga keluar, bunga membentuk sisir pertama, kedua

danseterusnya (Satuhu dan Supriyadi, 2000).

Pisang kepok di Filipina dikenal dengan nama pisang saba, sedang di

Malaysia dikenal dengan nama pisang nipah. Buahnya enak dimakan setelah diolah

terlebih dahulu. Bentuk buahnya agak pipih, sehingga kadang disebut pisang gepeng.

Beratnya pertandan dapat mencapai 14 sampai 22 kg dengan jumlah sisir 10 sampai

16. Setiap sisir terdiri dari 12 sampai 20 buah. Bila matang warna kulit buahnya

kuning penuh (Torres, 1989).

Pisang kepok banyak jenisnya, yang terkenal antara lain pisang kepok kuning

dan putih. Pisang kepok putih warna dagingnya putih, dan pisang kepok kuning

warna dagingnya kuning. Pisang kepok kuning mempunyai rasa yang lebih enak

dibandingkan dengan pisang kepok putih, karenanya pisang kepok kuning lebih

disukai (Widyastuti, 2002).

Kultur Jaringan

Metode kultur jaringan pisang juga mempunyai keunggulan-keunggulan lain

seperti dapat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dengan waktu singkat, relative

(3)

Teknik kultur jaringan dilakukan sebagai alternative perbanyakan tanaman,

bukan dengan menggunakan tanah, melainkan dalam medium buatan di dalam tabung

(botol). Teknik ini sudah berkembang luas sehingga bagian tanaman yang digunakan

sebagai bahan awal perbanyakan tidak hanya berupa jaringan melainkan juga dalam

bentuk sel sehingga dikenal teknik sel. Oleh karena itu teknik ini secara umum

disebut sebagai teknik in-vitro (Yuwono, 2006).

Kultur jaringan itu sendiri dapat diartikan suati metode untuk mengisolasi

bagian tanaman serta menumbuhkannya dalam kondisi yang aseptik. Sehingga bagian

tersebut dapat memeperbanyak diri dan beregenarasi menjadi tanaman lengkap

(Hartman et al., 2002).

Teknik kultur jaringan yaitu suatu cara menumbuhkan organ tanaman seperti

tunas pucuk, batang, daun, akar, dan biji dalam suatu wadah/botol yang berisi media

dalam keadaan aseptil/steri. Beberapa kegunaan dari teknik kultur jaringan adalah

untuk perbanyakan tanaman, memeperbaiki sifat-sfat tanaman, utnuk produksi

metabolit sekunder dan untuk melakukan konservasi tanaman secara in vitro. Dalam

hal perbanyakan tanaman, beberapa kelebihan dapat diperoleh anatara lain calon bibit

dapat disimpan dalam botol secara efisien dalam penggunaan tempat dan ruang, bibit

dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan seragam, sehingga menghasilkan buah

yang ukurannya seragam pula. Selain waktunya cepat, serta bebas penyakit, bibit

yang diperbanyak melalui kultur jaringan, akan mempunyai sifat yang sama sma

dengan induknya dan tersedia sepanjang tahun. Walaupun biaya untuk peralatan,

bahan kimia dan listrik relative mahal, akan tetapi karena bibit yang produksi

(4)

teknik ini tetap dapat diperhitungkan. Demikian pula kelemahan lain seperti

terjadinya kontaminasi dapat diatasi dengan pengelolaan yang intensif mulai dari

penanganan calon bahan eksplan dirumah kaca sampai kepada penanganan subkultur

yang cermat dan pengelolaan ruang media dan ruang kultur yang tepat. Secara garis

besar perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri dari 5 tahap yaitu

1.Persiapan bahan eksplan dan media, 2.Perlakuan sterilisasi dan isolasi tunas untuk

bahan eksplan , 3.Pada media multiplikasi tunas, 4. Penanaman pada media

perakaran, dan 5. Aklimatisasi (Inovasi teknologi hortikultura).

Eksplan

Penyedian bibit Perbanyakan tanaman pisang biasanya dilakukan secara

vegetatif yaitu dengan pemisahan anakan (sucker) yang tumbuh dari bonggolnya, dan

dengan bonggol tanaman pisang. Bibit anakan yang digunakan adalah bibit anakan

dewasa karena paling cepat menghasilkan buah diikuti bibit anakan sedang, anakan

muda, dan tunas anakan. Bibit pisang dipilih yang sehat dan baik (Satuhu dan

Supriyadi, 2000).

Tanaman pisang terdiri dari akar, bonggol, batang, daun, bunga dan buah.

Akarnya berupa akar serabut yang berpangkal pada umbi batang (bonggol). Akar

terbanyak terdapat di bagian bawah tanah yang tumbuh sampai kedalaman 75

sampai 150 cm di dalam tanah. Akar yang berada di bagian samping umbi batang

(bonggol) tumbuh ke samping atau mendatar (Satuhu dan Supriyadi, 2000).

Bonggol pisang dapat dimanfaatkan untuk diambil patinya, pati ini

(5)

dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar yaitu, bioetanol (Yuanita et al., 2008)

Media Kultur Jaringan

Media merupakan salah satu faktor yang penting dalam kultur jaringan. Media

tumbuh pada sistem kultur jaringan harus dapat memenuhi kebutuhaneksplan.

Umumnya, media dalam kultur jaringan merupakan campuran air danhara yang

mengandung garam-garam anorganik, dan zat pengatur tumbuh.

Garam-garam anorganik menyediakan unsur-unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg,

dan Na) dan unsur-unsur hara mikro (B, Co, Mn, I, Fe, Zn, dan Cu) (Abidin, 1994).

Media kultur jaringan dibedakan menjadi 2 yaitu media dasar dan media

perlakuan. Media dasar yang sering digunakan untukteknik kultur jaringan adalah

media dasar Murashige dan Skoog (1962). Media Murashige dan Skoog yang sering

digunakan mengandung unsur-unsur haramakro dan mikro yang diperlukan tanaman

untuk pertumbuhan danperkembangannya. Media untuk kultur jaringan selain

memerlukan unsur harajuga memerlukan bahan organik lain seperti gula, vitamin,

asam amino, myoinositol, zat pengatur tumbuh, dan bahan organik kompleks alami

(Gunawan, 1992).

Keberhasilan dalam teknologi serta penggunaan metode in vitro terutama

disebabkan pengetahuan yang lebih baik tentang kebutuhan hara sel dan jaringan

yang di kulturkan. Hara terdiri dari komponen yang utama dan komponentambahan.

Komponen utama meliputi garam mineral, sumber karbon, vitamin dan pengatur

(6)

metabolik dan ekstra tambahan tidak mutlak, tetapi dapat menguntungkan ketahanan

sel dan perbanyakannya (Wetter dan Constabel, 1991).

Jenis dan komposisi media sangat memerlukan biaya produksi dan

keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro. Teknik perbanyakan bibit secara

in vitro dapat dilakukan setiap waktu tanpa dipengaruhi oleh musim. Walaupun

demikian, biaya produksi bibit denagan teknik kultur jaringan sangat mahal, karena

pada umumnya digunakan Murrashige dan Skoog yang merupakan media

petumbuhan denagn bahan pemadat agar yang diperkaya dengan berbagai senyawa

organik, vitamin dan zat pengatut tumbuh (Sutarto et al., 2003)

Lingkungan In Vitro

Lingkungan tumbuh merupakan salah satu faktor pendukung dalam kultur

jaringan. Lingkungan tumbuh yang dibutuhkan tanaman yang ditumbuhkan secara

kultur in vitro dapat berbeda dengan tanaman yang ditumbuhkan secara in vivo. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangankultur

secara in vitro adalah cahaya, temperatur, kelembaban, CO2 dan O2. Unsur cahaya yang perlu diperhatikan adalah kualitas cahaya,panjang penyinaran dan intensitas

cahaya (Wetherell, 1982).

Cahaya yang baik untuk pertumbuhan kultur adalah cahaya putih. Lampu

fluoresent sangat baik dan sangat efisien dalampenggunaan energi bila dibandingkan dengan lampu pijar.Bentuk lampu fluoresen memungkinkan penyebaran cahaya yang

lebih baikdengan panas yang dikeluarkan relatif rendah (Gunawan, 1992).

Tahap persiapan eksplan dan tahap penggandaan membutuhkan penyinaran

(7)

footcandle. Suhu pada kultur jaringan biasanya dipertahankan konstanpada 24-26°C. Kelembaban ruang kultur yang terlalu tinggi menyebabkanterjadinya pertumbuhan

mikroba di luar kultur. Hal ini dapat menaikkan derajatkontaminasi (Wetherell,

1982).

Zat Pengatur Tumbuh

Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik bukan hara yang dalam

konsentrasi rendah (< 1 mM) dapat mendorong, menghambat atau secara kualitatif

mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengaruh sitokinin di dalam in vitro berhubungan dengan proses pembelahan sel, proliferasi tunas ketiak, dan menghambat pertumbuhan akar tanaman, sedangkan peranan auksin dalam kultur in vitro terutama untuk pertumbuhan kalus, suspensi sel dan pertumbuhan akar (Widyastuti dan Donowati, 2008).

Dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat

penting adalah sitokinin dan auksin. IAA adalah zat pengatur tumuh yang tergolong

auksin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin

dapat meningkatkan sintesa protein. Dengan adanya kanaikan sintesa protein, maka

dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan. Adapun kinetin

tergolong zat penugatur tumbuh dalam kelompok sitokinin. Kinetin adalah kelompok

sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam

pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh

interaksi terhadap deferensiasi (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Auksin adalah sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang

(8)

Indole3-acetid acid). Pierik (1997) menyatakan bahwa pada umumnya auksin meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dam pembentukan akar adventif. Auksin

berpengaruh pula untuk menghambat pembentukan tunas adventif dan tunas aksilar,

namun kahadirannya dalam medium kultur dibutuhkan untuk meningkatkan

embryogenesis somatic pada kultur suspense sel. Konsentrasi auksin yang rendah

akan meningkatkan pembentukan akar adventif, sedangkan konsentrasi merangsang

tinggi merangsang pembentukan kalus dan menekan morfogenesis

(Zulkarnain, 2009).

Sitokinin merupakan nama kelompok hormone tumbuh yang sangat penting

sebagai pemacu pertumbuhan dan morfogensis dalam kultur jaringan. Seperti halnya

pada auksin, selain sitokinin alami juga terdapat sintesisnya yang tergolong dalam

zat pengatur tumbuh. Kinetin adalah merupakan sitokinin yang pertama kali

ditemukan oleh mahasiswa professor Skoog’s bernama Carlos Miller (1954) pada

laboratotrium di Universitas Wisconsin, yaitu senyawa yang sangat aktif yang

terbentuk dari hasil penguraian sebagian DNA tua sperma ikan hering atau DNA

yang diautoklaf yang menyebabkan terus tumbuhnya kalus tembakau

(Santoso dan Nursandi, 2001).

Sitokinin yang paling banyak digunakan pada kultur in vitro adalah kinetin,

benziladenin (BA atau BAP), san zeatin. Zeatin adalah sitokinin yang disintesis

secara alamiah, sedangkan kinetin dan BA adalah kinetin sintetik (Zulkarnain, 2009).

Menurut (Santoso dan Nursandi 2001) beberapa penelitian yang utama dan

sesuai dengan namanya jelas mempunyai kaitan erat dengan sel, secara lebih luas

(9)

1. Sitokinin berperan dalam memacu pembentangan sel, pembesaaran dan

pembelahan sel.

2. Sitokinin berperan dalam penundaan senessen (penuaan),

3. Sitokinin berperan mengarahkan transport zat hara, yaitu member peran signal

kearah mana zat hara akan dibawa atau ditransport,

4. Peran sitokinin yang lain adalah mendorong proses morfogenesis, pertunasan,

pembentukan kloroplas, pembentukan umbi pada kentang, pemecahan dormansi,

pembukaan stomata, pembungaan dan pembentukan buah partenokarpi,

5. Dalam kultur jaringan sitokinin telah terbukti dapat menstimulir terjadinya

pembelahan sel, proliferasi kalus, pembentukan tunas, mendorong proliferasi

meristem ujung, menghambat pembentukan akar, mendorong pembentukan

klorofil pada kalus

Terdapat kisaran ineraksi yang luas antara kelompok auksin dengan kelompok

sitokinin. Kedua kelompok zat pengatur tumbuh tersebut berineraksi pula dengan

senyawa-senyawa kimia lainnya dan dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan,

seperti cahaya dan suhu. Pada kondisi tertentu auksin dapat bereaksi dengan

menyerupai sitokinin, atau sebaliknya (Kyte,1983). Meskipun demikian, baik auksin

maupun sitokinin , keduanya sring kali diberikan secara bersamaan pada medium

kultur intuk menginduksi pola morfogenesis tertentu, walaupun ratio yang dibutuhkan

untuk induksi perakaran maupun pucuk tidak selalu sama, terdapat keragaman yang

tinggi antargenus, antarspesiesbahkan antar kultivar dalam hal jenis takaran auksin

(10)

Umumnya sitokinin paling banyak terdapat di organ muda (biji,buah,daun)

dan di ujung akar. Daun, buah dan biji muda, tidak mudah memindahkan sitokininnya

ketempat lain, baik melalui xylem maupun floem. Sitokininnya eksogen menghambat

pertumbuhan in vitro jika konstrasi zpt dalam jaringan menjadi berlebihan. Tidak

mudah untuk mengatasi masalah ini tanpa mengukur konsentrasi dalam sitokinin

pada irisan jaringan, terutama pada sel epidermis yang diduga mmenghalangi

keseluruhan laju pemanjangan (Salisbury dan Ross, 1992). Auksin terutama untuk

pertumbuahn kalus suspense sel dan pertumbuhan akar. Bersama-sama sitokinin

dapat mengatur tipe morfogenesis yang dikehendaki. Pemilihan konsentrasi dan jenis

auksin ditentukan oleh kemampuan dari jaringan yang di kultur (eksplan) untuk

mensintesis auksin secara alamiah. Pada sitokinin dengan konsentrasi tinggi yang

mendorong proliferasi tunas sebaliknya menghambat penghambat akar. Zat penagtur

pada eksplan tergantung dari zat penagtur tumnuh endogen dan zat pangatur pada

eksplan tergantung dari zat pengatur eksogen yang diserap dari media tumbuh.

Konsentrasi yang diperlukan dari masing-masing ZPT auksin dan sitokinin

tergantung dari jenis eksplan, genotip, kondisi kultur serta jenis aukssin dan sitokinin

yang dipergunakan (Wattimena et al, 1992).

Perbanyakan Tanaman Pisang Secara Konvensional

Perbanyakan pisang di tingkat petani dilakukan secara konvensional. terdapat

4 cara perbanyakan, yaitu dengan anakan langsung, anakan semai, bit anakan (mini

bit), dan bit bonggol. Anakan langsung merupakan bibit pisang yang berasal dari

pemisahan anakan untuk langsung ditanam di kebun. Bibit yang paling baik

(11)

yang berasal dari anakan rebung atau anakan yang memiliki bonggol terlalu kecil.

Untuk menghindari stres lingkungan, anakan ini disemai terlebih dahulu di polybag

sebelum ditanam di kebun. Bit anakan (mini bit) merupakan bibit yang berasal dari

anakan yang terlebih dahulu diinduksi untuk menumbuhkan tunas aksilar. Setelah

tunas aksilar muncul, barulah bonggol dibelah untuk kemudian ditanam kembali

sebanyak tunas yang muncul. Bit bonggol merupakan perbanyakan dengan cara

membelah bonggol dengan ukuran 10 cm x 10 cm. sesuai dengan jumlah mata tunas

yang ada kemudian hasil belahan langsung ditanam di kebun. Kelemahan teknik

konvensional adalah sulit mendapatkan bibit yang seragam dan benar-benar sehat

dalam waktu singkat (Santoso, 2013)

Kajian Kultur Jaringan Tanaman Pisang

Kultur jaringan merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan kembangkan

bagian tanaman in vitro secara aseptik dan aksemik pada media kultur berisi hara lengkap dan kondisi lingkungan terkendali untuk tujuan tertentu. Prinsip yang

mendasari kultur jaringan adalah teori totipotensi sel, konsep Skoog dan Miller, dan

adanya sifat kompeten, dediferensiasi, dan determinasi tanaman. Teori totipotensi sel

dikemukakan oleh Schwann dan Shcleiden pada tahun 1838 menyatakan bahwa

setiap sel tanaman hidup mempunyai informasi genetic untuk dapat tumbuh dan

berkembang menjadi tanaman utuh jika kondisinya sesuai. Teori ini baru terbukti

berkat penemuan hormone auksin dan percobaan yang dilakukan oleh Skoog dan

miller pada tahun 1957. Skoog dan Miller menyebutkan bahwa reggenerasi tunas dan

(12)

kompeten, dediferensiasi, dan determinasi eksplan tanaman. Eksplan yang kompeten

akan memberi respon dengan terbentuknya organ ataupun embrio. Proses ini di kenal

sebagai inductive event. Pada inductive event inilah akan terjadi proses

dediferensiasi, yaitu perubahan sel tanama nyang sudah terspesialisasi menjadi

bentuk yang tidak terspesialisasi dan kembali ke kondisi meristematik. Pada kondisi

meristematik ini signal lingkungan (hormonal) mengarahkan sel-sel eksplan untuk

membentuk organ tunas maupun akar (organogenesis) dan embrio (embryogenesis).

Determinasi terjadi apabila eksplan yang sudah terinduksi tetap berkembang menjadi

organ atau embrio meskipun berada di lingkungan yang sudah tidak di beri signal

hormonal.

Menurut Yusnita (2003), terdapat lima tahapan dalam perbanyakan tanaman secara

kultur jaringan, yaitu:

1. Tahap 0 merupakan tahap pemilihan dan persiapan tanaman induk untuk

eksplan. Tanaman yang akkan dikulturkan harus jelas jenis dan varietasnya,

serta terbebas dari hama dan penyakit tanaman. Sumber eksplan juga penting

diperhatikan seperti bagian diambil sebagai eksplan,umur fisiologis tanaman

dan ukuran eksplan hal ini akan menetukan tingkat sterilisasi eksplan.

2. Tahap 1 merupakan inisiasi kultur. Tahapan ini bertujuan untuk mendapatkan

kultur yang aseptic dan aksenik. Sterilisasi merupakan salah langkah yang

harus dilakukan untuk mendapatkan kultur yang bebas kontaminan. Sterilisasi

induk eksplan dapat dilakukan dengan karantina tanaman induk di rumah baca

disertai dengan pemberian perlakuankhusus terhadap tanaman induk.

(13)

sperti NaOCL, CaOCL, etanol, dan HgCl2.peningkatan efektifitas sterilisasi

dapat dilakukan dengan penambahan tween 20 sebanyak 2 tetes/100 ml.

Menurut Sandra (2013), Tween-20 dapat merendahkan tegangan permukaan

bahan desinfektan sehingga bahan desinfektan htersebut dapat menyentuh

lekukan-lekukan maupun rongga-rongga kecil seperti celah di anatara

bulu-bulu halus nyang ada di eksplan sehingga eksplan benar-benar steril. Setiap

bahan tanaman sumber eksplan morfologi permukaan,lingkungan

tumbuh,musim pengambilan eksplan,umur tanaman, dan kondis tanaman. Hal

terpenting dalam sterilisasi adalah bagaiman menjaga agar eksplan

benar-benar steril dengan tetap menjaga tidak terjadi kerusakan jaringan eksplan

akibat tingginya konsentrasi desinfektan. Selain sterilisasi,masalh yang sering

muncul pada tahap ini adalah terjadinya pencoklatan. Senyawa ini bersifat

toksik sehingga mengganggu pertumbuahnn bahkan dapat mematikan

jaringan eksplan.

3. Tahap 2 merupakan tahap multiplikasi propagul, Multiplikasi propagul

merupakan perbanyakan tunas maupun embrio tanaman. Tahap ini dilakukan

dengan mengkondisikan eksplan pada lingkungan hormonal yang sesuai.

Setelah diperoleh banyak tunas,subkultur dapat dilakukan yang terlalu banyak

dapat menurunkan mutu tunas karena terjadi vitrifikasi (kandungan air dalam

tanaman tinggi,sukulensi dan penyimpangan genetic.

4. Tahap 3 merupakan tahap persiapan untuk transfer propagul kelingkungan

(14)

5. Tahap 4 merupakan tahap aklimatisasi planlet ke lingkungan eksternal.

Konsep dasar aklimatisasi adalah memindahkan planlet ke media aklimatisasi

denahgn intensitas cahaya rendah dan kelembaban nisbi tinggi kemudian

berangsur-angsur intensitas cahaya dinaikkan dan kelembabapan diturunkan.

Media kultur termasuk hal penting dalam pembiakan tanaman dengan kultur

jaringan. Salah satu jenis media kultur yang paling sering dilakukan adalah media

hasil percobaan Murashige dan Skoog pada tahun 1962 yang dikenal sebagai media

MS. MS sering digunakan karena cocok untuk berbagi jeins tanaman. Terdapat media

lain yang dikembangkan seperti Lin dan Staba untuk kultur wortel,Nitsch dan Nitsch

untuk kultur anther, Gamborg untuk kultur suspense kedelai, Schenk dan Hidebrant

(SH) untuk kultur monokotil dan dikotol dan WPM untuk tanaman berkayu atau

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian induksi tunas pisang barangan ( Musa acuminata L.) dengan pemberian NAA dan BAP berdasarkan pada sumber eksplan yang telah dilaksanakan di Laboratorium

PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF PISANG BARANGAN ( Musa acuminata L.) DENGAN KONSENTRASI BAP DAN POSISI BONGGOL.. EKSPLAN YANG BEBEDA SECARA

Pemberian auksin yang lebih tinggi dibandingkan dengan sitokinin akan memacu pembentukan akar, sedangkan pemberian sitokinin yang lebih tinggi akan memacu pertumbuhan

Perlakuan pemberian BAP tunggal dan kombinasi dengan kinetin berpengaruh nyata terhadap persentase pembentukan tunas dan waktu terbentuknya tunas eksplan bonggol

Hasil penelitian mengenai induksi tunas in vitro dari eksplan tunas buah ( slip ) tanaman nanas ( Ananas comosus (L.) Merr.) asal Kampar dengan penambahan BAP, dapat

Hasil pengamatan persentase terbentuknya akar yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian berbagai konsentrasi BAP pada media belum mampu untuk memacu pembentukan akar

Penelitian induksi tunas pisang barangan ( Musa acuminata L.) dengan pemberian NAA dan BAP berdasarkan pada sumber eksplan yang telah dilaksanakan di Laboratorium

Larutan NAA merupakan salah satu kelompok hormon dari golongan auksin yang membantu merangsang pembelahan dan pembesaran serta berperan dalam pertumbuhan pucuk-pucuk baru atau tunas